Sakusa Kiyoomi x Atsumu Miya
Haikyuu disclaimer to Haruichi Furudate
Nyebat disclaimer to Nema
.
.
.
'Hanya obrolan singkat Atsumu bersama Sakusa di malam hari.'
Atsumu membuka matanya spontan. Rasa kantuknya tiba-tiba menghilang. Dilihatnya jam dinding yang berdetak, menampakkan telah pukul 1 dini hari.
Malam masih panjang jadi Atsumu mencoba untuk kembali tidur. Matanya ia rapatkan kembali, tapi dia tetap tidak bisa tidur.
Ia menggeram kesal. "Merepotkan," dan menyibak selimut lantas terduduk. Rambutnya ia usak-usak sebentar sebelum akhirnya Atsumu memilih pergi menuju dapur.
"Barangkali aku hanya haus."
Lorong menuju dapur sangat gelap. Semua lampu memang di matikan saat malam.
Sesampainya disana, Atsumu langsung saja meraih gelas dan meneguk dua sampai tiga gelas air. Benar saja, tenggorokannya terasa kering.
"Ah," dia meletakkan gelas dengan lega.
"Dengan begini sepertinya aku akan bisa kembali tidur."
Sekembalinya menuju kamar, Atsumu tak sengaja menoleh ke arah balkon di lantai dua. Pintunya terbuka, dan ada manusia bertelanjang dada disana; Sakusa.
Alih-alih kembali tidur, Atsumu malah berbelok ke arah balkon.
"Omi omi," sapanya.
Sakusa hanya menoleh santai dan kembali menghisap rokoknya. Dia terus saja menatap bulan, seperti sedang memikirkan sesuatu.
Atsumu yang sudah biasa di diamkan Sakusa seperti ini santai-santai saja. Dia mengambil tempat dan ikut memandang bulan seperti yang Sakusa lakukan.
"Tidak tidur?" ia mulai berbasa-basi.
"Kau sendiri tidak tidur?"
Atsumu menggeleng pelan. "Tidak bisa tidur. Mungkin jika aku kembali ke kamar pun rasanya aku hanya akan melamun sampai mengantuk."
Sakusa mengangguk saja. Namun Atsumu kembali mengoceh. "Kau belum jawab pertanyaanku."
Sakusa menoleh, bertanya 'Apa?' dengan hanya mengangkat alisnya.
"Kenapa kau tidak tidur?" ulangnya.
"Ohh, sama sepertimu." Asap tebal keluar dari mulut Sakusa, rokoknya sudah hampir habis.
"Rokokmu sudah hampir habis, tuh."
Sakusa berdecak. "Tanpa kau beritahu pun aku sudah tau."
Atsumu tertawa lantas menggapai sebungkus rokok di antara keduanya, mengambil satu dan mengapitnya di belahan bibirnya.
Sambil kepalanya sibuk berputar mencari keberadaan korek api, Sakusa sudah bergerak mendekat, mempersempit jarak keduanya. Kini mata mereka bertemu. Tanpa pikir panjang tangannya menarik kaos Atsumu, menyuruhnya lebih mendekat.
Itu membuat rokok yang terapit di bibir masing-masing saling bergesekan. Bara api sekilas terlihat, asap mengepul.
Sakusa menghisap rokoknya dan menghembuskan asap tebal ke wajah Atsumu. Atsumu menggeram lantas melakukan hal yang sama.
Dia tertawa setelahnya, "terima kasih."
Sakusa mengangguk pelan dan kembali menikmati rokoknya. Sedang tangan kanannya masuk ke dalam saku celananya, berusaha menyembunyikan korek api di sana.
Sakusa mematikan rokoknya, berniat mengambil yang baru. Disaat yang bersamaan, Atsumu kembali menyeletuk.
"Kau tau, Omi? Selama ini kupikir kau membenciku."
Sakusa berhenti.
"Tapi setelah apa yang kau lakukan tadi, aku jadi berpikir apa yang aku kira selama ini itu salah."
"Membencimu? Untuk apa?" Sakusa menyeletuk.
Atsumu sekilas terdiam namun dengan cepat ia menjawab. "Iya, kan? Aku tau aku ini adalah orang yang paling berisik. Tak jarang aku menggodamu jadi kupikir kau terusik oleh hal-hal semacam itu dan jadi membenciku."
Atsumu berhenti sejenak untuk sekedar menghirup asap masuk ke dalam tenggorokannya dan menghembuskannya kembali.
Kemudian dia melanjutkan;
"Apalagi kau tipe orang yang senang menyendiri begitu. Jadi pastinya kau membenci aku. Tapi dengan tetap duduk disini mendengarkan celotehanku seperti ini rasa-rasanya dugaanku itu salah besar, ya kan Omi?"
Sakusa mengalihkan pandangan, menatap Atsumu. Dia kembali meletakkan rokoknya, tidak jadi menyalakannya lantas mendekati Atsumu.
"Kau berpikir begitu?"
Atsumu mengangguk. "Dari kelihatannya sih, seperti itu."
"Yah, awalnya sih iya. Tapi setelah di pikir-pikir agaknya kau itu tidak buruk juga."
Atsumu tersenyum lebar, merasa senang. Jadi Sakusa serius tidak membencinya kan? Kalau memang begitu, akhirnya dia bisa mengobrol leluasa dengannya seperti ini. Tanpa perlu khawatir Sakusa akan terusik atau tidak.
"Kau serius? Kau tidak membenciku?"
Sakusa memutar bola matanya malas. "Kau butuh bukti?"
"Huh?"
Sakusa kembali menepis jarak. Kali ini bukan untuk menyalakan rokok, tapi justru menyingkirkan rokok dari mulut Atsumu.
Dia melemparnya dalam sekali hentakan dan semakin mempersempit jarak.
Tanpa diduga, diraupnya bibir Atsumu, sekaligus. Ada respon canggung dari si pemilik bibir tapi Sakusa dapat mengatasinya. Cukup lama ia menikmati bibir Atsumu, menikmati rasa manis nikotin dan pahit asap dari mulut Atsumu; dan mulutnya juga tentu saja.
Karena ia menciumnya dengan lembut dan hati-hati, jadi ketika Sakusa ingin mengakhirinya pun dia lakukan dengan lembut. Membuat Atsumu sedikit bergetar dengan sensasinya, dan Sakusa dapat merasakannya.
Sesuai dugaan, Atsumu memerah sedang bibirnya ia buka sedikit dan dadanya naik turun karena kekurangan oksigen. Dahinya sedikit berkeringat dan tangannya gemetar.
Sakusa hanya tersenyum tipis. "Kau canggung ya, Tsumu. Lain kali aku akan mengajarimu bagaimana caranya berciuman."
"—Selain suka sendiri, aku bukan tipe orang yang suka berciuman dengan orang yang pasif."
Sakusa meraih bungkus rokoknya dan merogoh saku celananya, mengambil korek api yang sempat ia simpan tadi lalu melemparnya pada Atsumu.
"Selamat malam."
Dengan begitu dia pergi meninggalkan Atsumu yang kaku.
Tak lama, seperti tersadar dari lamunan panjang, Atsumu menengok dan menemukan Sakusa sudah tidak ada disekitarnya; barangkali sudah pergi ke kamarnya.
Ia panik, lantas berteriak nyaring. "JADI MAKSUDMU KAU BUKANNYA MEMBENCIKU TAPI JUSTRU MENCINTAIKU KAN OMI?!?!?!"
