"Apa? Apa? Apa?" pertanyaan yang sama terus gadis itu ulang. Matanya menatap menantang dan kesal lelaki di depannya setelah keluar dari dalam kelas dengan menutup pintu.
"Apa hah? Mau membuangku dari jendela lagi hah? Hah? Hah?" matanya terus melebar seolah akan terjatuh dari tempatnya.
"Aku hanya ingin bicara." Naruto mendorong pelan kening Hinata yang hanya berjarak sejengkal dari wajahnya tapi Hinata malah meloncat sekali ke belakang dengan membuat gerakan pencat silat.
"Apa hah? Kau mencoba membuangku dari sini? Sini kau!" tantangnya membuat Naruto terdiam melihatnya. Gadis ini aneh. Apakah dia menjadi trauma karena kejadian kemarin?
"Ayo kita bicara dengan santai sambil duduk. Sepertinya kepalamu capek karena terus berdiri." Naruto meraih tangan Hinata dan menariknya pergi. Alasannya membawa Hinata pergi karena ia menghindari beberapa mata yang sedang mengintip dari balik jendela kelas.
"Aaaa tidak! Lekaki ini mencoba menculikku. Lepaskan aku!" Hinata memberontak sambil menarik-narik tangannya tapi tak bisa terlepas. Kakinya juga tak kuat mempertahankan tubuhnya untuk tak bergerak. "Tolong, badan kecilku tertarik!" sangat dramatis tingkah termasuk ekspresi wajahnya membuat Naruto menghela nafas.
"Hentikan, kau memalukan." Bisik Naruto malu karena beberapa orang yang lewat menatap aneh Hinata tapi Hinata mengabaikannya.
"Aaaaaaraaargggaaa tolong akuuh!"
.
.
.
Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.
WILD KIDDO
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
WILD KIDDO by authors03
Uzumaki Naruto x Hyuuga Hinata
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 3
.
.
"Nah dinginkan kepalamu. Kau memalukan sekali berteriak seperti itu." Naruto menempelkan ice cream yang ada di tangannya ke kening Hinata membuatnya berteriak kedinginan.
"Aaaaa otakku membeku!" Hinata merebut ice cream di keningnya dan menyentuh keningnya yang terasa dingin. Bibirnya berkedut dan ia menatap kesal Naruto.
"Hah~" Naruto menghela nafas ketika ia melihat Hinata duduk ke tanah dengan alas rumput hijau yang rapi di bawah pohon, membuka bungkus ice cream dan menikmati makanan dingin itu dengan senang hanya saja matanya tak berhenti melotot ke arah Naruto.
Naruto mengamati sekitar sebelum ia mengambil tempat di depan Hinata. Halaman belakang sekolah sedang sepi, jadi takkan memalukan kalau Hinata berdrama tak jelas.
"Umurmu berapa hah? Mengapa bertingkah seperti anak kecil?" tanya Naruto heran ketika ia melihat Hinata sangat menikmati ice cream coklatnya seolah dia lupa pada dunia.
"Empat" jawab Hinata di sela-sela menggigit ice creamnya yang tinggal sedikit.
"Kepalamu empat." Naruto menggeleng heran.
"Hah?! Dimana ice creamku?!" Hinata menatap kaget stick bekas ice cream di tangan membuat Naruto menghela nafas.
Naruto mengeluarkan sapu tangan dari saku baju dan kemudian mengelap kasar bibir Hinata yang belepotan sisa-sisa coklat "Ini ice-creammu." Naruto melempar sapu tangan putihnya ke Hinata dan sapu tangan itu jatuh di atas pahanya yang tertutup rok.
"Ahh habis makan ice-cream jadi ingin yang pedas-pedas." Mata Hinata terpejam, membayangkan beberapa makanan pedas yang sangat nikmat.
"Hei, bukan itu kenapa aku di sini." Ucap Naruto berusaha kembali ke alasan mengapa ia membawa Hinata.
"Ayahmu memintaku untuk menjagamu."
"Aku tak perlu dijaga. Aku sudah besar." Hinata berbicara tapi dengan lagak anak kecil.
"Nah! Itu kau tahu kau besar. Mengapa kau bilang kau hanya empat tahun." Hinata tersentak.
"Maksudku aku cukup besar untuk tidak dijaga tapi aku masih saja anak kecil." Hinata menjelaskan keadaannya. Ia masih kecil dan akan selalu menjadi kecil. Tidak ada yang namanya tumbuh dewasa.
"Dewasa itu menyenangkan kau tahu?"
"Nope." Hinata membantah dengan cepat bahkan tanpa berpikir terlebih dahulu.
"Iya, baiklah tidak." Balas Naruto tak ingin berdebat. "Tapi kau tak seharusnya memukul seseorang seperti tadi. Ayahmu akan sangat marah." Jelasnya pada inti permasalahan.
"Toneri sangat menyayangiku, dia tak akan marah padaku ataupun mengadu." Jawab Hinata tak perduli sedikitpun.
"Ini bukan soal mengadu atau tidak, ini soal benar atau salah." Naruto menjelaskan. "Seorang perempuan tak boleh memukul lelaki seperti itu apalagi tanpa sebab yang jelas." Perkataan Naruto masuk ke telinga kanan Hinata dan keluar dari telinga yang lain. Hinata hanya mendengar tapi perkataan itu tak melewati otaknya sama sekali. Mengapa juga ia harus perduli? Toneri saja tak masalah.
"Bodo, jangan ikut campur urusanku." Hinata berdiri, menyapu rok di bagian bokong dan melangkah pergi tapi Naruto mengekorinya. Berjalan di sebelahnya dengan tatapan lurus ke depan.
"Hati hati." Alis Hinata naik sebelah, apa maksudnya dengan Hati-hati?
"Cowok itu mungkin akan mengambil sesuatu yang berharga darimu sebagai gantinya." Naruto terus melangkah meninggalkan Hinata yang berhenti berjalan.
Satu sudut bibirnya terangkat karena ekpresi yang Hinata tunjukan sangat lucu sekali.
.
"Aah apa yang aku pikirkan?!" Hinata menyapu atas kepalanya dengan tangan, mencoba menghilangkan pemikiran yang ada. Mengapa ia jadi memikirkan sesuatu yang mesum?
Blussssh!
"Ah aku benci pikiranku!" memilih mengabaikan, ia berlari pergi menuju kelas.
.
.
.
Teng
Tong
Jam istirahat akhirnya tiba membuat para murid berhamburan keluar dari kelas.
Begitupun sang pemeran, menutup buku di atas meja dan berniat beranjak tapi sepasang manusia muncul di depan mejanya.
Seorang lelaki bersurai perak dengan seorang gadis yang memeluk manja tangan kekar itu.
"Apa yang kau katakan pada Hinata?" tanya lelaki itu, dingin sedangkan yang disebut memanjangkan bibir dan menatap tak suka ke arah Naruto.
"Dasar pengadu." Naruto tak berniat meladeni. Ia beranjak tapi kaki panjang Toneri menendang meja yang ada membuat meja itu menghalang jalan Naruto.
"Mengaku kau, kau bilang Toneri akan mengambil sesuatu yang berharga dariku. Kau kira dia cowok apaan hah?!" Naruto hampir saja memuncratkan tawa tapi ia menahannya sekuat tenaga. Ia tak menyangka Hinata bisa berbicara seperti itu di depan lelaki. Padahal biasanya perempuan sangat malu membahasnya bahkan hanya sekedar menyinggung.
"Aku bilang hatimu."
"Hah?" Hinata tampak mencerna apa maksud perkataan Naruto.
"Aku bilang dia mungkin akan mencuri hatimu. Mengapa pikiranmu kemana-mana?" ucap Naruto mendiamkan kedua manusia yang ada.
"Haaizzz" Naruto menghela nafas dan melangkah pergi setelah menyingkirkan meja di depannya.
"Tidak! Aku yakin maksudnya tak begitu tadi!" Hinata membela diri. Memalukan sekali ia telah mengatakan sesuatu yang sangat memalukan di depan Toneri! Lelaki itu sungguh membuatnya tak punya muka!
"Haha iya aku percaya kau."
.
.
.
"Huh!" Hinata membuang muka setelah dengan sengaja menabrak pundak lelaki yang tengah bersandar di dinding dekat anak tangga. Ia berlalu pergi tapi kata-kata dari suara yang menyebalkan menghentikan acara jalannya.
"Hei, mesum." Hinata memutar badan dan menghampiri lelaki itu.
"Aku tak mesum!" geramnya.
"Lalu mengapa pikiranmu kemana-mana waktu itu? Wah, kau sungguh anak kecil yang nakal." Ucap Naruto sengaja menggoda Hinata membuatnya malu. Anggap saja ia kesal karena gadis kecil ini menabraknya dengan sengaja. Dia mencari gara-gara.
"Aku bilang aku tak mesum dan aku tak nakal!" Hinata menekan kata-katanya sambil terus menatap kesal Naruto.
"Oh kau tak mesum lalu mengapa melihat seorang cowok sedekat ini?" tanya Naruto santai. Lihatlah betapa dekat wajah mereka, kau bisa mengukur jaraknya dengan tangan. Hinata bahkan bersusah payah berjinjit hanya agar wajahnya bisa sedekat ini.
"Itu karena wajahmu sangat menyebalkan." Jawab Hinata menggembungkan pipi. Ia berusaha membungkam Naruto dengan wajah cantiknya tapi Naruto tampak tak terpukau sama sekali dan itu membuatnya kesal.
"Kau yang menyebalkan. Ayahmu membayarku untuk menjagamu, tapi kau sangat pembangkang. Aku tak menyukai gadis sepertimu." Naruto memasukkan tangan ke saku celana. Sejujurnya Hiashi memang berniat membayarnya hanya saja ia menolak tapi karena itu juga ia tak bisa berpura-pura bahwa ia telah menyetujui untuk menjaga Hinata.
"Oh, aku tak perduli." Hinata memasang wajah bodo.
"Dasar bocah aneh." Telapak tangan Naruto mendorong wajah Hinata agar menjauh darinya. "Biar kau tahu saja, aku ini orang yang sabar tapi jangan dengan sengaja cari masalah denganku, kau akan menyesal." Ucapannya terdengar seperti ancaman tapi lihat siapa ini. Yang mendapat ancaman itu adalah Hinata! Ucapan Naruto hanya numpang lewat di telinganya bahkan tak mendekati otaknya.
"Hinata!" yang dipanggil menoleh ke asal suara yang tiba-tiba muncul.
Tak diperlukan waktu lama senyum di bibirnya mengembang. "Toneri!"
Dengan cepat ia berlari menghampiri siapa yang ia panggil tapi sebelum itu ia melempar ranselnya ke wajah Naruto sebelum ditangkap olehnya.
"Ayahku membayarmu 'kan? Bawakan itu ke tempatku." perintahnya sinis tanpa menyadari Naruto menghela sangat kasar nafasnya. Padahal baru saja diingatkan tapi dia benar-benar cari gara-gara.
.
.
.
.
Bel masuk akhirnya berbunyi. Sekarang hanyalah menunggu guru untuk masuk ke dalam kelas tapi gadis bersurai indigo itu menatap meja dan bangkunya yang kosong.
"Hoi, dimana tasku?" tanyanya pada lelaki yang terduduk sambil baca buku di bangku belakangnya.
Lelaki bersurai kuning itu tak menjawab hanya menaikkan pundaknya menandakan ia tak tahu.
"Kau yang membawanya tadi." Ucap Hinata merebut buku yang terus Naruto perhatikan.
"Itu maksudmu?" Naruto menatap ke depan diikuti oleh Hinata.
"Wah apa kau sudah gila?!" pekik Hinata kaget pada tasnya yang di sangkutkan ke pengait papan tulis di bagian atas. Pekikkannya membuat semua mata yang ada menontonnya.
Hinata membuang buku Naruto ke depan dan berlari ke arah papan tulis. Ia melompat-lompat mencoba meraih tasnya tapi tak cukup tinggi untuk mengapai.
Naruto pergi ke arah bukunya dan memungut sebelum ia mendekati Hinata dan berbisik di telinganya. "Jangan pernah memperlakukanku sesukamu, aku pastikan akan membalasnya." Bisiknya dan kemudian melangkah kembali menuju tempatnya duduk. Hinata sangat menjengkelkan. Bagaimanapun Naruto adalah seorang pria, ia takkan hanya berpura-pura bodoh membiarkan Hinata meremehkannya.
Dan Hinata?
Hinata mengepal erat kedua tangan sambil menatap marah.
"Akan aku aduin kau ke ayah!" pekiknya merogoh hp dari saku rok dan tanpa basa-basi ia menghubungi siapa yang dia sebut tadi.
Tuttt
Tutt
Klik
"AYAH! Naruto membullyku huaaaaaaaaa dia menggantung tasku di atas dia jahat ayah huaaaa!" bahkan yang menerima telepon belum bersuara tapi Hinata sudah menangis sambil berteriak-teriak.
"..." ekpresi Hinata berubah.
"TAPI AYAH DIA"
Tut
Panggilan dimatikan sepihak membuat Hinata terbengong. Apakah ayahnya baru saja mematikan panggilannya? Dia tak pernah begitu sebelumnya. Apakah ini menandakan bahwa dia sangat serius menuntut Hinata untuk jangan kekanakan lagi?
.
Drrrzzztt
Naruto mengambil barang yang bergetar di saku celana.
Ia memamerkan layar ponsel sambil menggoyangnya pelan sebelum mengatakan. "Kau dalam bahaya, Hyuuga." Ucapnya kemudian mengangkat panggilan itu.
"Ada apa, Hiashi-san?" hp itu menempel di telinga kirinya membuat Hinata menatapnya penasaran. Sepertinya ayahnya menelepon Naruto, ia tak bisa melihat nama yang tercetak tadi karena jaraknya yang jauh.
"..."
"Iya, maafkan aku. Aku memberinya pelajaran karena dia sangat tak sopan melempariku dengan tasnya."
"..."
"Tidak, dia tak apa-apa. Dia hanya merengek karena tak bisa mengapai tasnya."
"..." mengapa di mata Hinata mereka tampak sangat akrab dan sepertinya sang ayah tak membelanya?
"Tak apa, aku yang harusnya minta maaf. Tolong jangan khawatir, Hiashi-san."
"..."
"Baiklah." Naruto tersenyum singkat sebelum menjauhkan ponsel itu dari telinga.
"Putri kecil yang malang." Ejeknya menyamankan punggungnya ke sandaran kursi. "Ayahmu memintaku mengantarmu pulang hari ini, dia akan memarahimu." Yah begitulah perintahnya sebelum dia mengakhiri panggilan.
"Tapi kalau kau minta maaf karena sikapmu tadi, aku akan membelamu." Tawar Naruto tapi jika saja gadis itu memikirkannya dengan kepala dingin, maka bukan Hinata namanya.
"Hiks Huaaaaaaaaa Toneri!" lihat saja. Dia memekik kesal dengan sangat keras tak perduli ada yang sedang menonton. "Huaaaaaaaaaaaaa Toneri!" pekiknya lagi. Sangat sangat kesal dan marah pada perlakukan lelaki tadi. Ditambah mengingat sang ayah yang tak akan membelanya semakin membuatnya marah.
"Hei mengapa kau menangis?" padahal Toneri hanya sebentar meninggalkan Hinata untuk pergi kantor guru tapi mengapa dia menangis di depan kelas seperti ini?
Toneri bergegas meletakkan tumpukan buku di tangan ke atas meja dan menghampiri Hinata. "Mengapa kau menangis?" Toneri menghapus air mata Hinata dengan kedua tangannya.
"Dia mengangguku! Dia mengantung tasku di atas huaaaaa!" ngadu Hinata menunjuk ke arah Naruto yang terduduk sangat nyaman dan menatapnya tanpa ekpresi.
.
.
"Hah~" Naruto menghela nafas. Gadis itu benar-benar tak pikir dua kali untuk mengadu. Dia benar-benar seperti anak tujuh tahun yang sangat manja.
"Sialan kau sebaiknya jangan mengganggu Hinata!" lelaki itupun tak berpikir dua kali untuk membela Hinata. Dia datang dan menarik kerah seragam Naruto, tentu saja hal ini membuat heboh satu kelas. Dua pria tampan tampaknya akan bertengkar tapi yang lebih menakutkan adalah aura dingin mereka.
"Tegur dulu dia sebelum bicara padaku." Ucap Naruto dingin. "Dia seenaknya melempar tasnya ke waajahku, terserah padaku mau ku letak di mana tasnya." Lanjutnya mendorong tangan Toneri membuat tangan itu terlepas.
"Dasar dua manusia tak punya akal." Naruto berdiri membuat setara tinggi mereka. Matanya menatap lantang mata Toneri. "Kau kira aku sepertimu lelaki tak punya harga diri yang membiarkan seorang gadis memukulnya?" tambahnya membuat darah Toneri mendesir hebat. Ia tak perduli seperti apa Naruto menilainya. Setidaknya ia tak membuat seorang gadis menangis.
"Apa kau selalu sebelagu ini, anak baru?"
"Anggap saja aku punya harga diri." Timpal Naruto cepat.
"Hoi hoi Sensei datang." Bisik seseorang yang mendapati wali kelasnya berjalan mendekati ruangan kelas. Para murid berlari kembali ke tempat duduk masing-masing.
"Sensei datang. Cepat duduk." Mau tak mau mereka berdua harus memutuskan kontak mata.
"Jangan berani ganggu Hinata." Naruto duduk mengabaikan apa yang ia dengar sedangkan Toneri pergi menuju Hinata mengambil tasnya dan membawa Hinata ke bangkunya.
.
.
.
Teng
Tong
Bel pulang berbunyi jam telah menunjuk pukul 12.32
"Baiklah sekian untuk hari ini."
"Terima kasih, Sensei." Sang guru pergi setelah merapikan bukunya diikuti oleh murid-murid yang berhamburan pergi.
"Hinata, tunggu aku. Aku akan mengantar buku ini ke kantor dan ke sini lagi." Ucap Toneri dengan tumpukan buku di tangan. Ia pergi setelah Hinata mengangguk.
"Ayo." Baru saja siap menyimpan bukunya ke dalam tas, seseorang menarik lengannya membuat badannya yang tadi terduduk menjadi berdiri.
"Sakit sial!" umpat Hinata tanpa sadar, dengan cepat ia menarik tangannya dan menyentuh lengannya yang barusan di genggam dengan kuat.
"Aku minta maaf aku tak sengaja menyakitimu." Naruto berharap ia tak harus mengatakannya tapi dari raut wajah Hinata, dia tak sedang berpura-pura Naruto menyakitinya. Naruto tak ingin menjadi pecundang yang menyakiti seorang gadis dan berpura-pura tak tahu.
"Ayo, ayahmu memintaku mengantarmu pulang." Ajaknya pelan tapi Hinata malah menatapnya tak senang. Pipinya mengembung dan alisnya mengerut membuat wajahnya tampak bulat seperti bola. Bola putih yang imut.
"Sini telingamu." Alis Naruto naik sebelah menandakan ia heran. "Aku mau bicara." Ucap Hinata dan Naruto melakukan apa yang dia pinta, menurunkan badan dan mendekatkan telinga kanannya ke arah Hinata.
"Aku TAK MAUUUU!" pekik Hinata sangat kuat sampai membuat telinga Naruto berdeging.
"Kau gila!" ucap Naruto syok. Dengan cepat ia menjauhkan telinganya. Tangannya ia angkat untuk menyentuh telinga tapi salah satu jarinya malah tak sengaja mengenai mata Hinata.
"Iitaaai mataku!" mata kiri Hinata perlahan berair membuat ia terpaksa memejamkan matanya. "Aaaa sakit." Ketika ia membuka mata itu rasanya pedih jadi ia memilih terus memejamkannya. Pedih membuat matanya semakin berair.
"Astaga maafkan aku! aku sungguh tak sengaja!" ucap Naruto syok. Dua telapak tangannya menekan kedua pipi Hinata untuk mendiamkan wajahnya agar ia bisa memperhatikan intens mata Hinata yang terus tangannya sentuh.
"Kau tak apa? Apakah sakit? Awas tanganmu! Biarkan aku lihat." Ucap Naruto cepat. Hidupnya akan langsung tamat kalau ia meninggalkan luka di tubuh putri Hyuuga tercinta.
"Aaaa pedih." Ucap Hinata masih dengan menekan pelan kelopak mata menggunakan punggung jari. Ia tak sempat menjauh saat Naruto mengangkat tangannya, itu kenapa ia terluka. Tangan Naruto yang mengenai matanya mungkin tak cukup untuk membutakan matanya tapi tetap saja rasanya sangat pedih.
"Maaf maaf aku benar-benar minta maaf!" Ucap Naruto panik. Ia bahkan lupa pada telinganya yang masih berdeging karena sangat panik mengawatirkan mata Hinata.
"Sialaaan apa yang kau lakukan pada Hinata?!" suara itu menyaring di ruangan kelas yang kosong. Tapi sebelum Naruto menyadarinya, sebuah bogem mendarat di pipinya membuat badannya termundur beberapa langkah..
"Toneri?"
"Hinata?! Apa yang terjadi mengapa kau menangis?!" tanyanya khawatir sambil mengamati wajah Hinata tapi tak lama perhatiannya teralih.
"Jangan salah paham." Naruto mencoba menjelaskan tapi Toneri menghampiri dan langsung melayangkan tinju padanya.
Naruto mungkin merasa bersalah bagaimanapun ia tak sengaja menyakiti Hinata tapi tidakkah Toneri yang langsung memukulnya sangat keterlaluan? Naruto bersumpah ia tak sengaja.
"Toneri, hentikan."
"Sialan!" Naruto melayangkan bogem mentah ke pipi Toneri untuk membalasnya.
"Kau kira kau siapa boleh memukulku hah?!" mereka saling menarik kerah seragam lawan dan menatap lantang. Seolah ada api di atas kepala mereka.
"Apa yang kau lakukan pada Hinata sampai dia menangis hah?!" hanya itu yang ingin Toneri tahu saat ini. Tak akan ia maafkan siapapun yang menyakiti Hinata. Berani sekali lelaki yang baru saja muncul membuat Hinata menangis.
"Hentikan hentikan." Hinata mencoba memisahkan kedua tangan kekar itu tapi tak ada yang memedulikannya bahkan sepertinya tak menyadari ada dirinya di sana.
"Hentikan. Ugh!" Tak perduli seperti apa ia mencoba menarik tangan kekar itu bahkan sampai rambutnya berkibar sana-sini tetap saja tak ada yang mau memutuskan kontak mata yang sedang membara.
"Kau siapa mau tahu sebanyak itu sampai memukulku hah?!" Naruto menarik semakin kuat kerah seragam Toneri.
"Aaaa iitaai rambutku sangkut." Gerakan Naruto barusan membuat surai panjang Hinata tesangkut di antara lengket tangannya dan Toneri.
"Kau yang siapa berani menyakitinya?" Tak mau kalah, Toneri melakukan hal yang sama tanpa sadar semakin menarik helaian indigo Hinata yang tersangkut di kulit tangannya.
"Aaa hoi hentikan rambutku sangkutt aaa!
"Kau yang siapa!"
"Liat aku di sinii! Aaa rambutku!"
.
.
.
To be xontinue
Ok pertama maaf kalau keluar alur ga bagus dll.
Kedua ayo selesaikan fic ini!
Semoga suka bye bye!
