"Aaaa manusia bangke!" tangan kanan Hinata terangkat menarik surai perak Toneri sedangkan tangan yang lain menarik telinga Naruto dengan sangat kuat membuat mereka mendesis kesakitan.
"Sakit Hinata!"
"Mengapa menarik rambutku?"
"Aaaa jangan gerak kalian rambutku jadi ketarik!" kepala Hinata mengikuti gerak tangan Toneri agar rambutnya tak tertarik dengan kuat
"Lepaskan dulu kami."
.
.
.
"Maaf maaf aku tak sadar kau di sana, Hinata." Ucap Toneri menyesal sambil mengelus lembut surai indigo Hinata tapi Hinata malah menepis kasar tangannya.
"Huh! Padahal kelas kita ber-AC mengapa tanganmu selengket itu?!" marah Hinata.
"Tidak, tadi di dekat sini aku menabrak seseorang airnya tumpah mengenai tanganku dan aku langsung lari kemari karena mendengar suaramu." Toneri menjelaskan tapi tetap saja Hinata masih memasang wajah marahnya.
"Sudah bicaranya? Aku harus bawa Hinata pulang." Naruto menyela membuat dua pasang mata menoleh.
"Aku akan mengantarnya. Tak akan kubiarkan Hinata bersama orang yang telah membuatnya menangis." Jawab Toneri menatap tak senang. Selain tak senang pada lelaki ini, tak senang juga pada sok akrabnya mau mengantar Hinata pulang.
"Hinata, jelaskan pada temanmu apa yang terjadi tadi." Pinta Naruto malas. Tampaknya akan percuma dirinya menjelaskan, lebih bagus lelaki itu mendengarnya sendiri dari teman tercinta.
"Aku meneriakinya jadi tangannya tak sengaja mengenai wajahku. Aku tak menangis hanya mataku pedih tadi." Jelas Hinata apa adanya. "Tapi! Itu salahnya! Dia bodoh masa tak bisa lihat wajahku sedekat itu! Pokoknya dia salah!" lanjutnya cepat membuat Naruto menghela nafas.
"Iya, aku akui aku melukaimu tapi aku tak sengaja itu karena kau tiba-tiba berteriak di telingaku. Jadi, kau tak bisa sepenuhnya menyalahiku." Naruto membela diri.
"Tidak! Itu salahmu karena kau buta! Apa kau tak liat wajahku di sana?!"
"Kau yang salah! siapa suruh tiba-tiba berteriak? Tak tahukah kau apa itu reflek?" Naruto berargumen tak terima di salahkan. Gadis kecil itu terus saja melototinya. Padahal Naruto sudah mengaku salah, dia masih saja tak senang. Sebenarnya apa yang dia mau?
"Kau salah!"
"Kau salah, bocah aneh! Kau kira kau apaan tiba-tiba berteriak di telinga seseorang?!"
"Kau yang aneh! Punya mata besar tapi masih buta!" balas Hinata tak mau kalah.
"Sudah Hinata, biarkan saja dia."
.
.
.
Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.
WILD KIDDO
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
WILD KIDDO by authors03
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 4
.
.
"Minta maaf."
"Tak mau!" Pipinya mengembung, matanya menatap tak senang ke samping mengabaikan siapa yang duduk di samping dan berdiri di depannya.
"Hinata Hyuuga, ayah bilang"
"Hinata Hyuuga tak mau minta maaf! Jangan memaksaku!" gadis itu berdiri dan pergi begitu saja menuju lantai dua dengan menghentakkan kaki.
"Hah~" ayahnya, Hiashi hanya bisa menghela nafas frustasi. Tak tahu bagaimana cara berbicara dengan putrinya sendiri.
"Tak apa, aku akan bicara lagi padanya." Suara Naruto membuat Hiashi menatapnya.
"Apakah sulit?" Naruto menatap dengan tatapan bertanya.
"Tidak, pasti sulit menjaganya." Ucap Hiashi yakin. Jika saja mudah, banyaknya pekerja yang ia sewa untuk menjaga Hinata secara terus menerus takkan berhenti semua.
"Dia hanya pembangkang. Tak apa, aku bisa mengatasinya." Naruto tersenyum. Bohong kalau ia bilang ia bisa mengatasi Hinata, hanya saja ia merasa tak enak membiarkan raut wajah frustasi menempel begitu lama di wajah Hiashi.
"Iya, kuharap begitu."
.
.
.
"Oh no no no no no!" baru saja melewati pintu rumah, gadis itu menggeleng hebat. Hari apa ini? Mentari baru saja meninggi, cuaca begitu cerah dengan suara kicauan burung tapi apa yang ia lihat di perkarangan rumah tepat di depan pintu rumah?
Seseorang lelaki bersurai kuning bersandar di kap mobil merah dan menatapnya malas.
"Untuk apa kau ke sini?!" pekik Hinata menunjuk Naruto dengan satu jarinya.
"Ayahmu memintaku mengantarmu mulai dari sekarang."
"TIDAAAAAAAAAAAAAAKKKK!" teriakan nyaring Hinata menbuat burung-burung di dahan pohon berhamburan pergi.
"Kau kira kau siapa hah?! Pergi kau hush hush!" kedua tangan Hinata membuat gerakan mengusir. Ayahnya benar-benar menyebalkan, mengapa membuat manusia ini terus di dekatnya? Ia sama sekali tak menyukai lelaki itu!
"Aku?" Naruto melangkah menghampiri sang putri Hyuuga tercinta di depan pintu. "Aku bodyguard dan guru BP-mu atas perintah ayah tercintamu." Ia berhenti di depan Hinata tapi sebelum itu telapak tangannya mendorong menjauh wajah Hinata. Apakah Hinata punya kebiasaan menatap seseorang dari dekat? Dia bahkan sampai berjinjit hanya agar bisa melototi Naruto langsung ke matanya.
"Hentikan kebiasaanmu ini." Ucap Naruto menjauhkan tangannya dari wajah Hinata ketika tapak sepatu Hinata menyentuh lantai.
"Tak bisa! Kau menyebalkan. Aku harus melototimu terus." Jawab Hinata tak senang. Ingin rasanya ia melototi Naruto sampai matanya terjatuh supaya Naruto sadar betapa menyebalkan dirinya.
"Ayo pergi." Ajak Naruto mengabaikan Hinata yang masih saja melotot.
"Tak bisa, Toneri dalam perjalanan ke sini." Tolak Hinata membuang wajah.
"Hei, jalan atau aku angkat." Ancam Naruto membuat Hinata menatapnya marah. Apakah dia tuli atau apa? Tidakkah dia dengar Hinata bilang Toneri dalam perjalanan ke sini?
"Kau tahu kakek paling sayang padaku. Kalau aku beri tahu dia, kau akan langsung di-Kyaaah lepas! Apa yang kau lakukan?!" Hinata memberontak ketika Naruto mengendongnya ala beras di pundak.
"Kau sebaiknya menurut sebelum kuberi tahu ayahmu bahwa Toneri salah satu alasan mengapa kau menjadi sangat manja." Naruto membuka pintu mobil dan menurunkan Hinata di dalam sana."
"Toneri tidak!" menutup pintu, Naruto pergi ke kursi pengemudi di sebelah Hinata.
"Iya, dia memanjakanmu makanya kau jadi begini." Jawab Naruto apa adanya.
"Tidak! Dia begitu karena dia sayang aku!" timpal Hinata tak terima Naruto menyalahkan Toneri.
"Karena dia sayang kau makanya dia membuatmu jadi anak manja tak berguna." Mulut Hinata terbuka menatap tak percaya perkataan kasar yang baru saja keluar dari bibir Naruto.
"Kejam!" punggungnya ia sandarkan dengan kasar ke sandaran kursi. "Manusia kejam tak berotak." Naruto menahan tawa. Manusia kejam?
"Kau kejam, kau pun tak berotak. Ingat betapa jahatnya kau pada ayahmu semalam padahal dia sangat menyayangimu." Hinata melipat kedua tangannya di depan dada sambil terus melotot lurus ke atas langit.
"Dia tak sayang aku lagi." Jawab Hinata.
"Seperti apa sayang menurutmu? Memanjakanmu seperti Toneri hah?" Naruto ingin membungkam Hinata tapi Hinata tak berniat menanggapinya.
"..."
"Sudahlah, pakai sabuk pengamanmu." Naruto menghidupkan mesin mobil tapi Hinata hanya diam sambil terus melototi langit seolah ingin meruntuhkan langit dengan matanya.
"Aku bilang pakai sabuk pengaman." suara Naruto naik seoktaf tapi Hinata ikut menaikkan suaranya dan bersuara layaknya anjing kesakitan membuat Naruto menahan rasa kesal.
"Hei, kau sebaiknya baik-baik padaku di saat aku berbicara baik-baik." Terselip ancaman di kata-katanya tapi lagi-lagi Hinata mengabaikan apa yang ia pinta.
"Hentikan kebiasaan melototmu." Telapak tangan Naruto mengacak geram wajah Hinata membuat Hinata menepis tangannya dan langsung melototinya.
"Aku bilang jangan melotot seperti itu. Astaga kau ini." Naruto mengacak wajahnya lagi guna menghentikan lototan Hinata.
"Aaaa mana ada bodyguard yang mengganggu majikannya!" akhirnya Hinata bersuara karena tak tahan lagi pada tangan Naruto yang tak mau melepas wajahnya.
"Mana ada juga murid yang melototi guru BPnya!" timpal Naruto tak mau kalah dan lagi-lagi Hinata mendiamkannya.
"Aku bilang pasang sabuk pengaman atau kugelitik kau!" alis Hinata berkerut.
"Kau kan bisa lakukan untukku!" jawab Hinata tak senang. Toneri selalu melakukan apa saja untuk Hinata bahkan memasangkan sabuk pengaman sekalipun.
"Aku bukan pembantumu. Lakukan sendiri, kau punya tangan." Hinata menghela nafasnya kasar secara berkali-kali dan akhirnya ia melakukan apa yang Naruto pinta. Malas berteking lebih jauh lagi.
"Nah! Dari tadi harusnya begitu!" akhirnya mobil Naruto bisa keluar dari perkarangan rumah dan pergi ke sekolah.
.
.
.
Kaki kecil itu berjalan memasuki daerah sekolah dengan menghentak tanah sangat kasar dan laju. Nafasnya ia hela dengan kasar dan matanya terus menatap tak senang seolah ia akan memakan siapa saja yang mencoba bicara padanya.
"Lelaki menyebalkan!" geramnya menaiki tangga dengan kasar menuju kelas. Apa dosanya sampai ia bertemu dan berurusan dengan lelaki seperti itu?
.
.
"Hah~" Naruto hanya bisa menghela nafas melihat tingkah Hinata. "Dasar bocah aneh." Gumannya berjalan menuju cafetaria.
.
.
"Aaaaaaaaaaaaa sialan! Menyebalkan! Naruto laknat!" beberapa orang menatap terkejut manusia yang tiba-tiba memasuki kelas, melempar tas ke atas meja dan berteriak.
Matanya melototi bangku belakang, tempat Naruto duduk. Mengingat seperti apa lelaki itu memperlakukannya membuat darahnya mendidih.
"Hanya karena ayah membelamu hah?" geramnya. Dia hanya beruntung karena sang ayah berada di pihaknya tapi.
"Aku ini Hinata." Giginya terkatup erat. Jika ayahnya saja menyerah dengan sikapnya, tak mungkin lelaki itu tak menyerah.
"Akan kubuat kau menjauh dariku."
.
.
.
"Aaaa maafkan aku." raut wajah Hinata murung. "Maaf, Neri aku terpaksa datang lebih dulu karena ayah." Lanjutnya sedih.
"...'
Memilih mengabaikan, Naruto duduk di tempatnya dan meletakkan tas ke atas meja. Bahkan di sela-sela wajah murung, dia masih saja sempat melototi Naruto secara sekilas di saat Naruto lewat di antara bangkunya dengan bangku Toneri. Dia sungguh aneh membuat Naruto kehabisan kata-kata.
"Hm besok hari minggu. Bagaimana kalau kita pergi jalan?" tawar lelaki yang adalah Toneri, bersemangat.
"Waaah aku sangat mau sekali!" mata bulan itu berbinar dan dia tersenyum sangat senang.
"Hei, Bodyguard. Ikut aku besok." Perintah Hinata selain mengejutkan Toneri, Naruto juga ikut terkejut.
Mata Naruto mengamati mata Hinata seolah mencari apa maksud dari perintahnya untuk ikut. Apa niatnya dengan meminta Naruto ikut? Tapi sebaiknya ia menolak untuk berjaga-jaga pada niat tersembunyi Hinata.
"Mengapa dia harus ikut?" tanya Toneri heran dan tentu saja tak setuju.
"Besok hari libur, aku ikut libur." Jawab Naruto mengambil buku dari dalam tas dan fokus padanya.
"Tak ada hari libur untuk bodyguard." Hinata merebut buku dari tangan Naruto dan melemparkannya ke depan.
"Hah!" Naruto menatap kesal tapi ia memilih bersabar. Ia beranjak ingin mengambil bukunya tapi.
"..." mengapa Naruto tak bisa mengangkat bokong? Celananya seperti lengket ke kursi.
"Pffft kenapa? Ambil bukumu." Hinata memasang wajah datar dan menunjuk buku Naruto dengan dagu.
"Hinata!" Hinata mengendikan bahu, mengacuhkan apa maksud dari tatapan marah Naruto. "Ambil sana, kenapa malah menatapku?" jika saja ia boleh memukul perempuan, habis sudah gadis menyebalkan ini.
"Kesini kau!"
"Kyaaah bwahahaha!" Hinata berdiri dan menjauh ketika Naruto mencoba menangkapnya. "Mampus kau. Ngahahahaha!"
"..." Toneri menatap Hinata dan Naruto secara bergantian. Ia tak suka Hinata tertawa karena lelaki lain apapun alasannya. Memikirkannya saja ia sudah tak suka apalagi melihatnya langsung. Rasanya menyebalkan.
"..." Kepala Naruto menunduk. Ia menopang kening dengan satu tangan. Hinata menyebalkan. Dia membuat semua murid yang ada menertawakannya.
.
.
.
"Kau bilang tak mau datang?" senyum mengejek hadir di bibir peach gadis dengan dress selutut berwarna baby pink. Flat shoes hitam menjadi alas kakinya dan rambutnya diikat satu ringan di bagian kanan. Jujur saja, dia sangat cantik tapi senyum dan cara matanya menatap tampak menyebalkan.
Padahal hari ini adalah hari minggu. Mengapa Naruto harus keluar dari rumah? Ditambah jam segini sungguh membosankan.
"Ayahmu memintaku menemanimu." Naruto menyandar di kap mobil. Pasti Hinata mengatakan sesuatu pada Hiashi itu mengapa Hiashi meminta Naruto pergi bersamanya dan mau tak mau, di sinilah ia berada.
18.35
"Toneri! Ayo pergi. Sudah hampir jam makan malam!" Hinata memekik dari depan pintu dan tak lama siapa yang ia panggil keluar dari dalam rumah.
Dan hal pertama yang Toneri lakukan adalah menatap tak suka Naruto.
"Ayo, Hinata." Toneri menyodorkan tangan dan Hinata meraihnya.
"Aku mau pakai mobil Naruto." Ucap Hinata membuka pintu belakang mobil. Toneri ingin menolak tapi demi Hinata ia mau menaiki mobil Naruto.
"Aku bukan supirmu," Ucap Naruto ketika ia membuka pintu bagian belakang tempat Hinata duduk. "Duduk depan." Perintahnya tapi Hinata menolaknya tanpa berpikir.
"Tak mau, aku mau di sini." Seandainya bisa Naruto tunjukkan betapa kesal ia pada gadis ini. "Jangan memperlakukanku seenaknya, kau benar-benar menyebalkan, Hinata."
"Hei cepat jalan. Aku lapar ini!" mengabaikan ucapan Naruto, Hinata berkata apa yang ia mau, tak sadar sama sekali, tepatnya tak perduli pada wajah kesal Naruto.
"Oke, baiklah kalau kau mau seperti itu." Ucap Naruto malas. Ia menutup kasar pintu mobil dan pergi menuju bangku pengemudi. Berbicara saja ia sebenarnya malas tapi gadis ini sungguh menguji kesabarannya. Sampai kapan ia harus bersabar menghadapinya? Ugh! Sungguh ia menyesal mengiyakan permintaan Hiashi tapi akan memalukan kalau ia mundur hanya karena seorang gadis kecil.
.
.
.
"Aaaa. Aaamm" Toneri tersenyum setelah melahap makanan yang Hinata suapkan begitupun Hinata tersenyum tapi lelaki di depan mereka meletakkan sendok dan menghela nafas.
Dia, Naruto menyandarkan punggung ke sandaran kursi dan menatap heran dua manusia di depannya. "Kalau mau pacaran mengapa mengajakku?" tanyanya kesal. Apa bagusnya dengan menjadikan dirinya nyamuk di antara mereka? Lebih bagus lagi Naruto duduk manis di rumah menikmati beberapa lagu.
"Aaaaa lagi." Hinata mengabaikan Naruto dan Toneri mengurunkan niatnya menjawab karena ia harus menerima suapan dari Hinata. Jujur saja iapun tak senang Naruto ada di antara mereka. Karena ia merasa perhatian Hinata seperti tertuju pada Naruto tapi melihat bagaimana Hinata memperlakukannya dan mendiamkan Naruto, ia bahagia.
"Hinata, kaupun harus makan. Aaaaaa" Naruto menghela nafas. Mereka berdua sungguh membuat Naruto tak nafsu makan.
"Aamm enak sekali." Naruto merasa seperti halimunan, tak terlihat. Mereka terus mengabaikannya dan asyik beromantis.
"Aku mau ke toilet." Naruto pergi setelah ucapannya, lagipula untuk apa menunggu jawaban. Mereka tak menghiraukannya juga.
.
.
.
"..." Toneri tersenyum di saat Hinata menggandeng tangannya dan berjalan dengan semangat ditambah tak ada Naruto di antara mereka.
"Kau mau kemana?" tanya Toneri menghentikan nyanyian kecil Hinata.
"Jalan keliling saja." Oh omong-omong mereka berada di dalam sebuah mall.
"Bagaimana kalau kita ke Timezone?" tanya Toneri teringat. Hinata akan senang bermain di sana.
"Mauuu!" benar bukan? Matanya berbinar.
.
.
"Emang benar-benar ugh!" Naruto ingin mengumpat. Kalau saja tak ada siapapun di tempat makan ini, ugh! Menyebalkan! Ia kembali dari toilet dan coba tebak? Dua manusia itu meninggalkannya!
"Persetan aku akan pulang!" syukur saja Naruto mengendarai mobilnya jadi ia bisa pergi dengan mudah.
"Maaf, anda harus membayar dulu." Seorang pelayan menghalang jalan Naruto dengan sopan membuat Naruto menatapnya heran.
"Hah?"
"Dua orang tadi mengatakan anda akan membayarnya setelah kembali dari toilet."
Naruto menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan. Sabar Naruto. Sabar. Ia mencoba bersabar. Hinata sengaja mengerjainya.
Ia harus bersabar agar niat untuk menggaruk wajah gadis itu menghilang.
"Berapa?"
.
.
.
21.52
Seperti apa ia bernafas tetap saja ia kesal mengingat kejadian tadi. Gadis itu kira dia siapa hah? Memaksa Naruto pergi, mengerjai dan meninggalkannya? Dia benar-benar membuat Naruto habis kesabaran. Naruto tak pernah merasa sekesal ini sebelumya. Seumur hidupnya tak ada siapapun pernah memperlakukannya seperti ini!
"Aku sampai tak bisa membaca dengan tenang karena kesal." Meletakkan buku di tangan ke atas meja kecil di samping ranjang, Naruto memilih berbaring dan menutup matanya dengan lengan, mencoba menenangkan diri.
.
.
.
"Yaah hujan!" setelah keluar dari dalam mall, Toneri dan Hinata baru menyadari ternyata hujan deras di luar. Apalagi jam segini sudah pasti tak ada lagi taxi.
"Dimana Naruto?" tanya Hinata. Bagaimana cara mereka pulang sekarang? Mereka datang menggunakan mobil Naruto tadi.
"Telepon dia." Ucap Toneri. Ini sudah malam, ia harus mengantar Hinata pulang karena hujan tampaknya takkan reda dengan cepat.
"Aku tak ada nomornya." Jawab Hinata. "Sepertinya dia sudah pulang." Tebaknya kemudian. Kalau saja tidak, dia mungkin telah menemukan mereka tapi Naruto tak muncul sama sekali.
"Mall akan tutup, kita tak bisa masuk." Ucap Toneri khawatir. Hinata bisa kedinginan kalau terus di luar sini.
"Aduh bagaimana caranya pulang sekarang?"
.
.
.
Triinngggggg
Naruto meraih ponselnya di atas kasur.
"Aaissh apa lagi?" gumannya malas ketika ia melihat nama yang tercetak di layar tapi mau tak mau ia mengangkatnya.
"Halo Hiashi-san?"
.
.
.
"Jangan! Kau akan kedinginan!" Hinata menarik tangan Toneri. Toneri sudah memberinya jaket yang dia pakai dan sekarang dia mau menerobos hujan untuk pergi mencari taxi. Romantis sih tentu saja Hinata terharu dia mau melakukan apa saja agar Hinata tak kedinginan tapi Hinata menolaknya. Bagaimana juga ia khawatir pada Toneri dan ia takut sendirian di sini.
"Tunggu sebentar saja, aku tak akan lama ne?"
"Ta-tapi" Toneri pergi begitu saja membuat Hinata hanya bisa terdiam. Toneri selalu baik padanya. Selalu menjaganya kadang hal itu membuatnya sangat terharu.
Tapi
"..." Hinata menatap sekitarnya yang gelap dan sepi. Ia memeluk badannya. Rasanya dingin dan menakutkan.
"Bagaimana bisa dia tega sekali pergi begitu saja?!" celoteh Hinata tak senang. "Bagaimana kami pulang sekarang?" Hinata menatap ke gelapnya langit, hujan sangat deras.
.
.
"Achi!" Hinata berjongkok memeluk lutut."Toneri lama sekali." Hal itu membuatnya khawatir. Mungkin sebaiknya ia menyusul Toneri? Bagaimana kalau Toneri terpeleset di jalan?
"Aku harus mencarinya." Pikir Hinata membulatkan niat. Ia berdiri dan melangkah pergi tapi belum dua langkah kakinya keluar dari atap yang melindunginya dari deras hujan, seseorang dari belakang menarik lengannya membuatnya termundur.
"KAU?!" Hinata menatap terkejut siapa yang menariknya. Wajah itu begitu dingin dan menyebalkan tapi fokus Hinata ada apa mengapa dia tiba-tiba muncul menahannya dari deras hujan yang akan menghantam tubuhnya?
"Kau mau mati kedinginan hah?" ucap lelaki itu sedikit kesal.
"Mengapa kau di sini?!" tanya Hinata lagi. Ia sangat yakin lelaki ini pasti sudah pulang meninggalkan mereka.
Naruto pov
"Apakah kau masih bersama Hinata?" Badanku yang baring tadi menjadi duduk. Mereka belum pulang? Sedang hujan deras sekarang, apa bisa mendapatkan taxi?
"Ah iya kami akan pulang sebentar lagi." Bohongku tak ingin Hiashi khawatir karena mungkin tak mau kuakui akulah yang khawatir.
"Baik, hati-hatilah." Dia mematikan panggilannya. Tamat riwayatnya kalau putri tercinta itu kenapa-kenapa.
Naruto pov end
.
.
.
"Achi!"
"Ayo ke mobil," Naruto menarik lengan Hinata tapi Hinata menepis tangannya kasar. Bahkan sekilas Naruto bisa merasakan dingin lengan Hinata.
"Tak mau! Aku sangat marah kau meninggalkanku!" ujarnya mengerutkan alis dan mengembungkan pipi menandakan ia sedang marah.
.
.
.
"Aku harus kembali ke Hinata!" sudah cukup lama ia mencari taxi tapi tak ia dapatkan satupun jadi satu-satunya pilihan yang ia punya hanyalah kembali. Ia sudah terlalu khawatir meninggalkan Hinata sendiri.
"Dingin sekali!" bibirnya bergetar karena kedinginan tapi ia tetap melajukan acara lari, secepat yang ia bisa kembali pada Hinata.
.
.
.
Ceklik
Perhatian Hinata teralih karena suara jepretan kamera.
"Lihatlah wajah menyebalkanmu yang seperti bola." Naruto memberi Hinata lihat jepretannya dari layar ponsel. "Kau jelek sekali seperti itu, berhenti melakukannya!" bahkan Naruto kesal melihat wajah bola Hinata, mengapa dia terus melakukannya? Ingin rasanya menendang wajah putih itu.
"Menyebalkan?!" Hinata merebut ponsel Naruto dan menekan-nekannya sebentar.
"Nah sudah kujadikan wallpaper biar kau kesal tiap kali kau lihat hpmu!" Hinata menempelkan ponsel tadi ke dada Naruto dan Naruto mengambilnya sebelum terjatuh.
Naruto melihat hpnya sejenak dan ia menahan tawa. Bukan karena wajah bola Hinata di layar hpnya tapi karena Hinata kembali memasang wajah bola itu. "Akan kuganti, kau jelek sekali." mata Hinata melotot karena ucapan Naruto.
"Aku cantik dan aku imut. Kau kalau berani ganti, aku akan duduk dilantai dan merenggek." Naruto terkekeh karena ancaman Hinata. Jujur saja ucapan itu membuatnya tampak manis tapi tetap saja dia menyebalkan.
"Sebenarnya kalau kulihat-lihat wajah bola ini lebih cantik dari wajah normalmu." Saat itu juga raut wajah Hinata berubah. Apakah Naruto baru saja memujinya cantik? Mengapa seperti ada jari-jari kecil menggelitik perutnya?
"Halah pembohong!"
Plaaaaak!
"Aaa sakit bocah!" tamparan di punggung Naruto membuatnya mendesis kesakitan tapi yang memukulnya diam-diam terkekeh.
"Makanya jangan bohong!" marah Hinata memasang wajah kesal.
"Iya aku tak bohong, kau sangat jelek! Jelek sekali!" Hinata mendelik tajam.
Plaaaakkk
"Hei sakit bodoh!"
"Aku tak jelek, menyebalkan!" Hinata melanjutkan. "Aku akan memukulmu kalau wajahku menghilang dari hpmu." Ancam Hinata membuat Naruto menatapnya tak percaya.
"Inikan hpku. Suka-suka aku mau ganti apa tidak." Jawabnya tak setuju pada kalimat Hinata.
"Bodo! Suka-suka aku kau mengambil gambarku jadi kau harus bertanggung jawab!"
"Aku menyesal memotretmu." Timpal Naruto cepat.
"APA HAH?!" Hinata menatap kesal. Sudah bagus dia memiliki foto cantik Hinata, mengapa menyesal?!
"Tidak ada!"
"Katakan sekali lagi kau kalau berani hah!" teriak Hinata di telinga Naruto membuat Naruto menjauh selangkah darinya.
"Tidak ada apa-apa, cerewet!" geramnya.
"Bicara lagi kau!"
"..." Naruto diam.
"Aku bilang bicaraaaaaaa!" Hinata menarik-narik baju di bagian lengan Naruto karena dia hanya diam tak berkata apa-pun dan tak melakukan apapun.
"..."
"Jawab akuuuu, menyebalkan!"
"Apa?"
"Diam!" Naruto memasang wajah malas. Sudah bicara disuruh diam. Ketika diam disuruh bicara. Ugh! Mengesalkan sekali gadis ini!
"Ahahahaha aku bilang bicara!" mata Hinata menyipit karena tertawa. Ia tak bisa menahan tawa ketika melihat wajah malas ditambah kesal Naruto. Dia seperti sudah sangat muak tapi hanya bisa pasrah.
.
.
"..."
"..."
Toneri masih terdiam, membeku tak tahu harus bereaksi seperti apa ketika ia menyaksikan semuanya menggunakan mata kepalanya sendiri. Hinata tertawa. Dia menarik lelaki itu dan tertawa.
Toneri seolah lupa pada dinginnya air hujan yang terus mengenai tubuhnya. Semua fokusnya tertuju pada Hinata.
Mengapa rasanya sakit melihat mereka begitu dekat?
.
.
"Aaaaa bicara!" paksa Hinata lagi menggoyangkan lengan Naruto, membuat kerutan tercipta di dahi Naruto.
"Dasar bocah mesum aneh yang nakal dan cerewet! Berhenti mengangguku."
"HAAAAAH?! APA KATAMU TADI, SIALAN?!"
PLAAAAAKKK
"Iittaaaaaaaaaaaaii!"
"Pffttahahahahahhaah"
.
.
.
To be continue
Selesai sudah!
Maaf kalai ga bagus
Semoga suka
Byeee
