"Kau benar-benar ugh!" Naruto mendelik tajam, tangannya menangkap tangan Hinata yang mencoba memukulnya lagi tapi belum sempat ia menyentuh tangan itu Hinata menjauh darinya dan malah lari pergi menjauh dari area mereka berteduh.

"Kyaaahh!" pekiknya terkejut ketika Naruto mencoba menangkapnya. Tubuhnya basah karena terkena derasnya air hujan.

"Jangan lari ke sana, kau akan sakit." Naruto terpaksa berlari ke arah Hinata ingin menariknya kembali berlindung di bawah atap tapi Hinata malah menariknya dan menahannya tetap berada di bawah hujan.

"Hahahaha mampus! Blueeekk!" ejek Hinata menjulurkan lidah membuat Naruto yang sudah terlanjur basah kuyup hanya bisa menghela nafas.

"Kau benar-benar!"

"Kyaaaah lepaskan aahahaha geli! Aahahahaa gelii!" kedua tangan Hinata mendorong dada bidang Naruto tapi tangan Naruto yang menggelitik pinggangnya terus menariknya mendekat, tak membiarkan Hinata terlepas tak perduli seperti apa ia mencoba membuat jarak.

"Dasar menyebalkan!" perut Naruto seperti tergelitik oleh jari-jari mungil tapi tak ia perdulikan. Lihat tawa Hinata, dia sangat cantik dan lucu dengan tawa indahnya.

Naruto perlahan tersenyum tapi senyum itu tak bertahan lama. Matanya berpindah ke seseorang tak jauh di belakang Hinata dan ia terdiam, menjeda acara mengelitik Hinata.

"..."

Hinata yang menyadari perubahan sikap Naruto turut menoleh dan menatap apa yang Naruto tatap dan saat itu juga, iapun terdiam.

Ia memutar badan menghadap lelaki itu. Entah mengapa ia merasa seperti kepergok selingkuh.

.

.

.

"Toneri..." Hinata memanggil Toneri yang masih saja tak bersuara. Toneri hanya terdiam di sana dengan wajah tanpa ekspresi.

"Sejak kapan kau di sana?" tanya Hinata sesuai apa yang ada di kepalanya.

"..." Toneri tak menjawab tapi ia menghampiri Hinata. "Kau akan kedinginan." Ucapnya kuat melawan suara hujan agar Hinata bisa mendengar suaranya. Ia kemudian mengambil tangan Hinata dan membawanya kembali berteduh ke bawah atap mall tadi.

"..." Naruto mengekori. Ia bisa membaca arti dari sorotan mata Toneri.

"Kau harus mengeringkan badanmu." Ucap Toneri khawatir ketika mereka kembali berteduh. Mengabaikan badan dinginnya ia membungkus kedua tangan Hinata dengan tangannya dan sesekali meniupnya, mencoba menghangatkan tangan Hinata dan Toneri menjaga wajahnya tetap tertunduk, entah karena apa ia tak mau menatap Hinata.

"Aku tak dingin, kau yang sepertinya kedinginan." Ucap Hinata khawatir. Tangan Toneri yang menariknya tadi sedingin air es tapi yang Toneri pikirkan malah Hinata yang kedinginan. "Aku tak apa. Jangan pedulikan aku." Toneri tak mendengar sama sekali. Ia sibuk menghangatkan tangan Hinata.

"..." Naruto hanya diam dan memperhatikan dua manusia di depannya.

"Ayo, aku akan antar kalian pulang." Naruto berlalu pergi setelah ucapannya.

.

.

.

"Ughh dingin sekali." Hinata keluar dari dalam mobil ketika Toneri membukakan pintu mobil dengan payung di tangannya. Meski Naruto tak membuka pendingin tapi di dalam mobil masih terasa dingin, ditambah hujan yang belum reda dan pakaian yang belum kering di badannya. Ia menggigil kedinginan.

"Aku memintamu untuk menungguku mengapa kau malah main air dengannya?" terselip sedikit nada tak suka di suaranya. Ia meletakkan payung di lantai ketika mereka tiba di depan pintu.

Toneri membuka pintu itu untuk mempersilahkan Hinata masuk. "Aku tadi berniat mencarimu."

"Bohong." Batin Toneri merespon. Ia percaya pada Hinata tapi entah mengapa ia tak menerima kalimat Hinata tadi.

"Masuklah dan hangatkan dirimu." Ucapnya mengalihkan topik yang ia buat.

"Kau juga masuklah dulu. Aku akan mencarikan pakaian kering untukmu." Tawar Hinata tapi Toneri menolaknya.

"Tidak, ini sudah malam. Kau harus segara istirahat." Toneri mengambil payung yang ia letakkan tadi.

"Sampai besok." Ia tersenyum sebelum melangkah pergi masuk ke dalam mobil.

.

.

.

Naruto membawa mobilnya keluar dari perkarangan rumah ketika Toneri duduk di sebelahnya dengan wajah datar. Senyumnya tadi hilang dalam waktu kurang dari satu detik setelah memasuki mobil.

Selama di perjalanan tak ada suara sama sekali di antara mereka. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Naruto sibuk menyetir, Toneri sibuk menatap lurus ke depan.

Tak lama setelah belokan, akhirnya tiba di depan rumah Toneri. Naruto menghentikan mobilnya tepat di depan pagar rumah dan saat itu juga Toneri bersuara.

"Jauhi Hinata." Naruto menoleh ke arah Toneri yang masih duduk di sebelahnya sambil menatap lurus ke depan.

"Jangan pernah mendekatinya." terdapat banyak ancaman di suara bahkan matanya ketika dia menatap tajam ke arah Naruto.

"Aku takkan membiarkanmu kalau kau mencoba mendekatinya."

"Camkan itu baik-baik."

"..."

.

.

.

Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.

WILD KIDDO

(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)

WILD KIDDO by authors03

Please.. Dont like dont read.. Thanks.

.

.

Chapter 5

.

.

"Hah~" coklat hangat yang menyenangkan melewati tenggorokan Hinata membuatnya tersenyum senang tapi bukan coklat hangat yang membuatnya tersenyum melainkan seseorang yang tengah muncul di kepalanya.

Ia meletakkan cangkir coklat itu ke atas meja tapi senyum tak kunjung meninggalkan bibirnya.

"Ada apa, Hinata? Kau tampak sangat senang...?" yang melihatnya turut tersenyum. Dia tampak sangat bahagia pagi ini seolah melupakan ada siapa yang tengah duduk bersamanya di atas meja makan ini.

"Nee Aabaaa" panggil Hinata manja sambil menatap ayahnya. "Aku berpikir." Kepala Hinata sedikit miring menandakan ia tengah berpikir.

"Wah kau berpikir." Ucap Hiashi sedikit terkejut dan bangga.

"Aku berpikir hm tepatnya aku mengingat. Ketika aku bersikap jahat, orang itu juga jahat tapi ketika aku...-

-Eh tidak." Hinata terdiam dan kembali memikirkan ulang kejadian kemarin. Ketika ia jahat, Naruto membalasnya tapi mengapa semalam Naruto terlihat sangat manis padahal Hinata memukulnya terus. Mengapa begitu...?

Hinata berpikir dengan sangat keras sampai alisnya berkerut. Mengapa semalam Naruto sangat baik sekali? Dia bahkan tersenyum dan tak menatap muak pada Hinata. Mengapa?

"Tidak, aku salah." Ucap Hinata menelan kembali semua yang ingin ia katakan tadi. Apanya yang baik? Dia bahkan hanya duduk manis di dalam mobil dan tak mengantar Hinata sampai ke dalam rumah dan juga dia pergi tanpa melihat Hinata menutup pintu rumah. Bagaimana kalau tiba-tiba Hinata diculik? Bodyguard macam apa itu? Menyebalkan!

Raut wajah Hinata berubah seketika membuat Hiashi menatap heran.

"Ne ayahku tersayang." Hinata mencondongkan badan ke depan dan menatap serius sang ayah. "Aku benar-benar benar-benar tak suka Naruto, pecat dia ya?" bujuknya memasang wajah memelas.

"Melihat dari responmu, sepertinya Naruto melakukan kerjaannya dengan bagus." Hiashi melanjutkan acara melahap nasi gorengnya. Melihat Hinata yang tampak risih sepertinya tak sia-sia Naruto hadir di kehidupannya. Jika saja hal itu membawa perubahan positif, syukurlah, Hiashi merasa senang.

"Tidak, aku hanya tak suka dia. Baru kenal saja, dia sudah membuatku kesal." Jelas Hinata. "Naruto itu terlalu jahat untuk anak kecil yang lembut sepertiku ini." Hinata membujuk dengan bibir bebek dan tatapan bak kucing kelaparan. Bayangkan saja, biar Hinata jelaskan. Waktu baru saja ketemu, Naruto hampir melemparnya dari jendela, membuatnya menangis dan kemudian dia mengatakan hal yang menyebalkan dan mengantung tas Hinata, dia berkelahi dengan Toneri dan kemudian dia pergi tanpa menunggu Hinata menutup pintu rumah, ah bonusnya dia juga tak keluar dari dalam mobil. Dia terlalu jahat di mata Hinata.

"Naruto itu jahat, ayah." Hinata berbicara seolah berbisik seolah orang yang dia singgung mungkin saja akan tiba-tiba muncul. Naruto sering mendelik tajam padanya, menghela kasar nafasnya dan cara bicaranya juga menyebalkan. Dia sama sekali bukan tipe yang ramah dan baik yang menyenangkan seperti Toneri.

Hiashi menatap heran. Hinata mengatakan dia tak suka Naruto tapi tak memberi alasan sama sekali. Tapi apa yang sebenarnya terus dipikirkan gadis ini? Dia tampak sedikit kebingungan.

"Mengapa juga aku jadi memerhatikan dia begitu detail?" Hinata menggeleng cepat tak suka ketika menyadari Naruto memenuhi kepalanya. Naruto menyebalkan. Tak pantas berada di dalam kepala kecilnya.

"Kasihani anakmu ini, ayah." Hinata kembali memasang wajah memelas bahkan ia menyatukan kedua telapak tangan di depan dada menandakan ia memohon.

"Jauhi Naruto jahat itu dariku nee?

.

.

.

Kebetulan mempertemukan dua lelaki itu di tempat parkir, tak lama setelah mereka keluar dari mobil masing-masing dan ketika mata mereka bertemu, entah tatapan apa yang saling mereka lemparkan.

"..." Naruto mengantung ransel di tangannya ke pundak dan pergi dengan memutuskan kontak matanya.

Sedangkan Toneri hanya berdiri dan melihat kepergian Naruto.

"Hinata tak bersamanya hari ini." Pikir Toneri. Akan sangat bagus kalau Hinata tak harus berangkat bersama Naruto lagi. Harapan kecil itu membuatnya senang, ia melangkah masuk ke area gedung tapi mengapa.

Langkahnya terhenti ketika ia melihat ayah dari seseorang yang sangat ia kenal memanggil akrab Naruto membuat lelaki itu menghampirinya.

.

.

"Maaf, aku lupa menjemput Hinata." Naruto membungkuk hormat. Sejujurnya ia hanya menghindari masalah dengan Toneri, itu mengapa ia tak menjemput Hinata tapi mengapa Hiashi malah muncul di sekolah?

"Tak apa, aku juga sedang ingin mengantar Hinata." Yang disebut menatap sinis bahkan sedikit membuang muka. Bagaimana bisa ia tak sangat sinis melihatnya? Baru saja pagi ini ia komplain pada sang ayah untuk menjauhkan Naruto tapi dia malah sengaja mengantarnya untuk menemui Naruto. Dia ingin tahu apa yang terjadi diantara Hinata dan Naruto dengan matanya sendiri.

"Omong-omong bagaimana kalau kita pergi makan siang bersama sehabis sekolah?" ajak Hiashi dengan senyuman di bibir.

"Tidak boleh. Tidak mau. Naruto itu sangat sibuk, jadi tak boleh mengganggunya, ayah!" jawab Hinata cepat tak setuju dengan ajakan sang ayah. Tidakkah ayahnya keterlaluan? Mengapa sampai harus mengajak Naruto makan bersama?

"Ah maaf tapi"

"Jangan menolak." Hiashi menepuk sekali lengan Naruto seolah mengatakan ia tak mau ditolak.

"Ayah, aku bilang tidak. Big noo, super noo, super big size nooo. Why yu don listennn?!" Hinata mengembungkan pipi kesal karena sang ayah mengabaikan dirinya terus dan sibuk tersenyum pada Naruto.

"..." Naruto tak tahu harus menjawab apa. Jika saja ia menolak lagi, sepertinya Hiashi akan memaksanya lagi.

"Kalau begitu sampai jumpa. Akan kukirim alamatnya nanti. Pergilah bersama Hinata." Hiashi memutar badan dan pergi setelah ucapannya.

"Apa ini?" Hinata menatap penuh curiga.

"Apa?" tanya Naruto yang risih pada tatapan Hinata.

"Mengapa ayah bersikap sok akrab padamu? Apa yang kau katakan padanya hah?!" tanya Hinata menuntut jawaban. Seperti biasa, ia berjinjit dan menatap Naruto dari jarak yang sangat dekat. Tapi kali ini ia mencari jawaban di mata biru langit Naruto.

"..."

"..." sorot mata Hinata sedikit berubah ketika ia bisa merasakan nafas Naruto dari jarak dekat ini. Mengapa ia baru bisa merasakannya sekarang? Padahal ini bukan pertama kalinya Hinata menatap Naruto dari jarak sedekat ini. Dan mengapa baru saja Hinata sadari Naruto memiliki tatapan mata yang nampak tegas tapi juga lembut? Singkat kata mendebarkan.

"Aku tak tahu." Jawab Naruto jujur. Ia juga merasa Hiashi seperti ada niat tersembunyi.

"Ka"

Deg!

Hinata tersentak ketika tangannya ditarik kuat. Kakinya yang berjinjit oleng membuat badannya terjatuh ke belakang tapi seseorang yang menariknya tadi dengan sigap menahan badannya.

"Toneri?!" mata Hinata terbuka dan ia menatap kaget siapa yang menangkap badannya.

"Selamat pagi." Entah apa yang ada di kepala Naruto ketika ia melihat Toneri menampilkan senyum untuk Hinata.

"Kau buat aku kaget." Hinata memperbaiki posisi berdiri tapi Toneri malah menarik tangannya membuat Hinata masuk ke dalam dekapannya. Hinata terdiam karena terkejut.

Wajah Toneri menoleh ke samping, tepatnya ke arah Naruto yang masih diam di posisinya.

"..." perbuatan dan tatapan mata itu. Naruto tahu Toneri sedang memastikan bahwa dirinya tahu Hinata adalah milik Toneri.

Naruto memutar badan dan melangkah pergi tak ingin berurusan dengannya.

.

"Hei, apa yang kau lakukan?!" Hinata mendorong Toneri dan menjauh selangkah darinya.

"Aku hanya mengecek suhu badanmu." Jawab Toneri tersenyum manis.

"Kau ini. Kita jadi dilihatin orang-orang tahu!" bisik Hinata malu ketika ia menyadari ada orang-orang yang mengamatinya tadi mulai tertawa dan berbisik-bisik.

Toneri menaiki kedua bahunya mengatakan ia tak perduli. "Ayo." Ia kemudian menarik lengan Hinata dan membawanya memasuki daerah sekolah.

.

.

.

Teng

Tong

Seorang sensei memasuki kelas tak lama setelah bel masuk berbunyi.

"Selamat pagi, Sensei." Sapa semua murid dikala sang sensei berdiri di depan kelas.

"Baiklah, simpan buku kalian semua. Kita akan ulangan."

"Haaahh?!" para murid menatap syok. Pagi tampak sangat cerah tapi berita apa ini?

"Iruka sensei apaan ini?! Sensei harus beritahu kami sebelum ulangan!" gadis itu yang pastinya Hinata berdiri dan berkomentar dengan keras.

"Kalian akan membawa contekan kalau Sensei beritahu." Jawab Iruka mulai membagikan tumpukan kertas yang ia bawa tadi.

"Kau tak bisa begitu, Sensei! Ini adalah penyiksaan!" balas Hinata tak terima. Ia bahkan tak belajar apapun, bisa-bisa ulangan mendadak ini, ia akan mendapat nilai 0 besar.

"Tentu aku bisa, aku adalah Sensei. Bwuahahaha!" Iruka tertawa iblis sambil menyodorkan selembar kertas ke arah Hinata membuat Hinata menatapnya tak percaya.

"Empat puluh lima menit dari sekarang. Mulai." Hinata masih menatap tak percaya sang Sensei yang kini sudah terduduk di bangku guru di depan kelas.

"Duduk Hinata dan kerjakan soalmu." Hinata menatap asal suara dari lelaki di belakangnya. Dia berbicara tanpa menatap.

"..." Hinata menurut. Ia mendudukkan dirinya dan menatap frustasi kertas ulangan di atas meja. Fisika, Hinata pasti sudah gila karena ia memilih jurusan ipa. Ia bahkan tak paham sama sekali pada tulisan yang ada di atas kertas HVS ini.

"Hiks menyedihkan." Ia terhisak tanpa air mata. Seandainya saja ia bisa mengadu dan membuat sang ayah membantunya. Sayang sekali ia tak bisa.

"Bla bla bla." kepala Hinata berdenyut ketika ia selesai membaca soal nomor satu tapi ia tak paham sama sekali.

"Oh tidak, tamat riwayatku." Gumannya frustasi menempelkan kepalanya ke atas meja tapi kemudian kepala itu kembali terangkat.

"Eh nilai nol kalau dipikirkan lumayan cantik juga sih." Ia tersenyum seolah mencoba menyemangati diri sendiri.

"Pfft!" Naruto hampir saja memuncratkan tawa. Gadis di depannya berbicara semaunya saja. Nilai nol cantik? Dia pasti sudah gila.

.

.

.

35 menit kemudian.

"Oh tidak. Aku tamat. Aku mati. Help meee Kami-sama, turunkan malaikatmu untukku." kepala Hinata menempel di atas meja. Ia mengetuk kepala bodohnya dengan tangan. Tamat sekarang, ia tamat. Nilai nol keluar, tanduk ayahnya juga akan keluar ditambah ia pasti akan mendapat kelas tambahan dan remedial. Tidakkkk! Hinata tak mau menerimanya!

Sepuluh menit tersisa dan ia tak mengerjakan apapun. Padahal lihat sekitarnya. Semua orang begitu fokus dengan pena dan pensil masing-masing. "50 pun jadi tapi jangan nol, pleasee." Hinata mencekik kertas ulangan tadi berharap jawaban akan tertulis dengan sendirinya.

"Apakah ada yang sudah siap?" Iruka bertanya dan seseorang di belakang Hinata mengangkat tangan.

"Sensei, bolehkah aku minta kertas ujian lagi?" Hinata menatap lelaki itu.

"Ambillah." Naruto berdiri dan menghampiri Iruka Sensei di depan.

Hinata terdiam, menjadi patung sambil terus menatap lelaki yang baru saja kembali ke mejanya.

Tunggu

Hinata mencoba mencerna apa yang terjadi barusan.

Tadi ketika Naruto lewat, dia meletakkan kertas ujian yang dia sembunyikan di belakang punggung ke atas meja Hinata.

Hinata menoleh ke atas mejanya. Ia melihat jelas kertas ujian yang Naruto letakkan tadi lengkap dengan jawaban dan namanya.

Mulut dan Hinata melebar ketika ia menyadarinya. Dengan cepat ia menatap Naruto.

"Kau berhutang pada malaikat tampan ini." Satu sudut bibir Naruto tertarik. Tanpa melihat ia tahu seperti apa raut wajah Hinata sekarang tapi ia sedang buru-buru menyalin jawaban yang ada di otaknya ke kertas ulangannya, jadi ia tak punya waktu untuk melihat Hinata.

.

.

.

Jam istirahat, jam yang paling ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Semua murid berhamburan keluar tapi Hinata malah berdiri di depan pintu mengabaikan murid-murid yang berlari melewatinya.

"Ehem."

Hei, batuk itu untuk menghentikan laju kaki siapa yang baru saja lewat. Mengapa lelaki itu mengabaikannya dan pergi begitu saja?

"Ehem ehem hem ehemmm!" batuk super duper panjang Hinata disaat ia mengekori Naruto.

"Aduh!" Hinata menyentuh keningnya yang membentur punggung Naruto karena dia tiba-tiba berhenti berjalan.

"Namaku Naruto bukan ehem." Ucap Naruto di saat ia membalik badan dan menatapnya malas.

"Iya, hm mengapa kau membantuku tadi?" tanya Hinata to the point. Ia menyelipkan surai indigonya ke belakang telinga. Entah mengapa ia merasa gugup pada kebaikan hati Naruto.

"Aku tak mau kau merenggek di depan ayahmu dengan kertas ujian nilai nol besar di tanganmu." Jawab Naruto. Hm, Hinata tak puas akan jawabannya. Tapi memangnya jawaban seperti apa yang ia harapkan?

"Hm hany"

"Hinata! Ayo makan." Untung saja Naruto sempat menyingkir karena ia melihat Toneri muncul dan dia berlari dengan menarik lengan Hinata. Toneri sepertinya sangat berniat tak membiarkan Hinata dan Naruto dekat bahkan sekedar bicarapun.

"Huaaaaaaa jangan mengagetkanku!" Hinata terpaksa ikut berlari karena terus tertarik.

"Tapi aku tak melakukan apapun?" Naruto menatap heran. Mengapa Toneri merasa Naruto tengah mendekati Hinata?

Padahal ia merasa biasa saja?

.

.

.

"Maaf ne aku ada janji dengan ayah. Ayah bilang aku harus datang bersama Naruto." Ucap Hinata apa adanya ketika Toneri mengatakan akan mengantarnya pulang.

Toneri melirik ke arah Naruto. Ia tak pernah tenang ketika lelaki itu berada di dekat Hinata. Ia tak percaya pada Naruto tapi apa boleh buat?

"Baiklah." Toneri tersenyum dan kemudian mengelus lembut surai indigo Hinata. "Bagaimana kalau ke rumahku setelah itu?" Hinata mengangguk sebagai jawaban.

.

.

"Apakah kau..." Hinata menoleh ke Naruto di sampingnya.

"Tak jadi." Lanjut Naruto memarkirkan mobilnya di area parkiran restoran. Ia ingin bertanya mungkinkah Hinata sadar Toneri sepertinya jatuh hati padanya? Tapi jika saja dia tahu, dia takkan bersikap seolah memberi harapan pada Toneri, bukan? Jelas sekali Hinata tak menyadarinya.

"Aku apa?" tanya Hinata penasaran. Apa yang ingin Naruto katakan?

"Tidak ada." Ucap Naruto tak berniat tahu urusan orang lain.

Plaaaaaak

Naruro terkejut bukan main ketika tamparan mendarat di pipinya secara tiba-tiba. Memang tak sakit tapi atas dasar apa seseorang pantas menamparnya? Apalagi yang menamparnya adalah seorang gadis ini.

"Apa yang kau lakukan?!" suara Naruto naik seoktaf menatap syok Hinata yang memasang wajah tak berdosa.

"Jangan menaikan suaramu." Hinata akui memang ia mencari masalah terlebih dahulu tapi ia tak pernah suka seseorang menaikan suara padanya alasan apapun itu. Nyalinya ciut seketika tapi tak mau ia perlihatkan. "Aku tak suka."

Naruto keluar dari dalam mobil, menghampiri pintu mobil di bagian Hinata duduk. Ia membuka pintu itu dan menarik Hinata keluar.

"Kau sebaiknya jelaskan perbuatanmu tadi atau aku bersumpah kau benar-benar akan menyesalinya." Ucap Naruto murka setelah ia membanting pintu mobil dan menatap marah Hinata.

"Aku bilang jangan menaikan suaramu. Aku tak suka dimarahi." Ucap Hinata cemberut.

Braackk!

Naruto memukul kasar badan mobil dengan kedua tangan dan membiarkan tangannya di sana, mengurung Hinata di depannya.

"Kau tak suka dimarahi tapi kau dengan sengaja menciptakan perkara. Kau kira itu masuk akal hah?!" kalau saja manusia di depannya tak tampak seperti perempuan, Naruto pastikan akan langsung menghajarnya tanpa berpikir panjang.

"Maaf, kadang aku tak bisa mengontrol diriku." Ucap Hinata takut. Ia sedikit menunduk untuk menghindari tatapan maut Naruto. Mungkin karena kebiasaan, kadang Hinata merasa risih tak melayangkan tangan ke seseorang. Ia biasa melakukannya dengan Toneri tapi ia bersungguh-sungguh tak bermaksud begitu. Melihat amarah Naruto membuatnya takut dan juga terkejut. Seumur hidupnya ia paling takut dimarahi. Ia mengaku dirinya memang menyebalkan tapi ia tetap saja tak pernah suka ataupun tak pernah bisa menerima seseorang menaikkan suaranya dengan alasan apapun.

"Kau benar-benar menyebalkan." Tak ada yang bisa Naruto lakukan selain mencubit kesal kedua pipi chubby Hinata. Jika saja dia tak minta maaf, tamat sudah riwayat Hinata, Naruto ingin membawanya ke atas gedung dan mendorongnya.

"Aaaaaa sakit." Hinata mendesis kesakitan. Cukup lama hingga Naruto mau melepaskan pipinya yang sudah memerah.

"Karena kau minta maaf akan kumaafkan tapi jangan pernah melakukannya lagi." Ucap Naruto memperingati. Meski ia sangat tak mau memaafkan Hinata tapi sekali saja ia akan melupakannya.

"Kau jahat sekali, sangat kasar padaku. Aku ini hanyalah anak kecil tak berdosa." Hinata cemberut sambil menyentuh kedua pipinya yang terasa panas.

"Dengar sini, kau gadis kecil." Naruto menarik geram daun telinga Hinata. "Aku ini pria yang tak punya kesabaran dan aku bukan Toneri. Jangan harap aku akan memaklumi sikap tak tahu aturanmu. Apa kau paham, bocah?" rasanya seperti tengah mengajari seorang anak yang keluar dari jalur kebenaran. Tapi lihat dia. Hinata bukan lagi anak kecil, mengapa dia bersikap seenaknya saja?

"Naru, aku hanyalah gadis kec"

BUUM!

"Kyaaah ban meledak!" badan Hinata terloncat karena terkejut pada suara keras layaknya ban besar meledak yang entah muncul dari mana.

Reflek kedua tangan Naruto menahan pinggang Hinata agar badannya yang tertabrak kuat oleh Hinata tak termundur, tetap pada tempatnya.

Apakah badan Hinata bergetar? Naruto bisa merasakan tangan Hinata yang menarik sisi baju di kedua pinggangnya bergetar.

Hinata mengatur nafas dan detak jantungnya yang langsung menggila. Ia tak berani bergerak karena takut. Suara seperti bom itu membuatnya sangat takut ia bahkan tak berani menggerakkan wajahnya yang ia sembunyikan di dada bidang Naruto.

"Mengapa kau takut?" tanya Naruto ingin tahu. Ketakutan Hinata bisa ia rasakan jelas dan hal itu membuatnya penasaran.

"Aku takut." Hinata semakin menyembunyikan wajahnya, matanya terpejam. Badannya masih tak bisa berhenti bergetar. Hinata tak pernah bisa melupakan ia pernah menonton rekaman cctv badan orang-orang yang hancur karena ledakan bom waktu masih kecil. Semenjak itu, setiap kali ia mendengar suara kuat layaknya bom ia menjadi ketakutan karena apa yang pernah ia tonton menghantuinya. Semua pemikiran buruk hadir di kepalanya, takut bahwa suara besar itu benaran bom yang akan menghancurkan tubuhnya ataupun ada bom yang meledak disuatu tempat. Ia bahkan mudah ketakutan hanya karena suara petir yang terlalu keras. Apakah kau tahu bagaimana rasa takutnya ketika kau tidur di malam hari tanpa selimut menutup kedua kakimu? Mirip seperti itulah rasa takutnya sekarang. Biasanya jika hal seperti ini terjadi. Ia perlu waktu untuk menenangkan dirinya dari rasa takut.

"..." Naruto tak berniat lagi bertanya karena Hinata tak menjawab rasa ingin tahunya. Ia memperbaiki posisinya dan melingkari kedua lengan Hinata, memeluknya erat. Menyamakan dagunya di pucuk kepala Hinata. Hinata sedang ketakutan. Dia seperti gadis kecil yang sangat lemah berbanding terbalik dengan Hinata bar-bar yang ia kenal.

"Kau baik-baik saja." Naruto mengelus lembut lengan Hinata guna menenangkannya. Hinata yang ketakutan.

"Jangan takut."

.

.

.

To be continue