Hangat
Nyaman
Menenangkan
Menyenangkan
Senyuman hadir dan mengembang di bibir Hinata. Matanya terpejam menambah nikmatnya aroma maskulin yang melewati hidungnya.
Tapi tunggu.
Maskulin?
Hinata mengingat apa yang terjadi sebelumnya dan matanya terbuka.
Naruto?
Senyumnya perlahan memudar ketika ia merasakan jelas tangan Naruto mengelus lembut daerah pundaknya.
Mata hinata berkedip beberapa kali sebelum ia mengangkat kepala dan menatap ke atas. Ia melihat Naruto yang menatap ke arahnya.
"..."
Blusshh!
"Apa yang kau lakukan?!" Hinata mendorong Naruto membuat jarak di antara mereka. Jantungnya berdebar sangat kencang ketika matanya bertemu dengan mata Naruto.
"Kau bilang kau takut."
"Hah?!" Hinata tersentak ketika ingatan dimana ia meloncat ke arah Naruto teringat olehnya tapi ia berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya dengan cara tertawa. "Ahahaha takut? Tidak! Aku tak takut ahahaha."
"Ahahaha!"
Krik
Krik
"..." Hinata berhenti tertawa gugup karena Naruto terus saja menatapnya dengan sangat datar.
Wajah Hinata semakin memerah.
"Ayo, ayah sedang menunggu." Hinata menggaruk tengkuknya yang tak gatal sebelum berlalu pergi meninggalkan Naruto.
Meninggalkan Naruto yang langsung menahan tawanya dengan cara tersenyum sangat manis, menampilkan deretan gigi rapinya. Hatinya seperti digelitik oleh banyaknya jari-jari kecil ketika wajah malu Hinata melintasi kepalanya. Dia sangat manis.
.
.
.
"Bagaimana sekolah kalian hari ini?"
"Tanyakan saja aku, mengapa dia juga?" Hinata cemberut tak suka sang ayah begitu memperhatikan Naruto.
"Baik-baik saja, Hiashi-san. Hinata juga dia sangat baik dan tak membuat masalah apapun." Apakah yang Naruto ucapkan itu adalah pujian?
"Ehem" Hinata memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih tegap dan menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, tak lupa memamerkan senyum manisnya seolah mengatakan 'aku memang anak yang baik.'
"Benarkah?" tanya Hiashi ragu. "Hinata membuat masalah setiap hari sekali. Jarang-jarang dua hari sekali." Lagi-lagi Hinata cemberut. Meskipun benar, ia tetap saja tak suka dibicarakan seperti itu.
Naruto tersenyum. "Mungkin saja dia diam-diam melakukannya." jawabnya lucu. Apakah kau lihat betapa masam wajah Hinata sekarang? Naruto bertanya-tanya soal sumpah serapah apa yang bibir kecil itu lakukan.
"Hahaha sebenarnya Hinata sangat manis meski menyebalkan."
"Ayah, jangan mengosipku di depanku!"
.
.
15.32
Tak terasa mereka telah menghabiskan lebih dari dua jam berbincang-bincang dan beberapa menit yang lalu baru saja mereka meninggalkan restoran.
"Padahal kami serumah, mengapa kau yang harus mengantarku?" komplain Hinata melipat kedua tangannya ke depan dada. Ayahnya sengaja membuatnya berduaan dengan Naruto.
"Antarkan aku ke rumah Toneri." Perintah Hinata membuat Naruto menatapnya sebentar.
"Tapi kau bilang sedang mengantuk?" tanya Naruto memastikan. Bahkan Hiashi sendiri yang mengatakan Hinata selalu tidur siang dan juga Hinata menguap terus sedari 20 menit yang lalu.
"Emang, aku akan tidur di rumah Toneri."
"Apa kau gila?" Naruto tersentak, ia bahkan tak tahu mengapa ia sangat terkejut? "Mana boleh seorang perempuan tidur di rumah seorang cowok." Tambahnya menghentikan mobil karena lampu merah.
"Dia selalu menjagaku." Jawab Hinata apa adanya. Toneri tak pernah melakukan sesuatu yang aneh pada Hinata dan juga ini bukan pertama kalinya.
"Tak mau. Aku akan mengantarmu ke rumah." Jawab Naruto menjalankan mobil. "Kalau kau mau pergi, pergi saja sendiri." Tambahnya.
"Baiklah, aku akan pergi sendiri nanti." Naruto menatap tak percaya apa yang Hinata katakan.
"Mengapa kau harus tidur di sana? Kau tak punya rumah hah?"
"Tadikan aku sudah bilang padanya akan ke sana setelah selesai makan."
"Tak boleh! Cewek apaan tidur di rumah cowok yang hanya teman?" Naruto tak tahu apa alasannya tapi kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. Pasti karena Hiashi. Iya, itu benar. Naruto tak mau Hiashi khawatir.
"Lah? Kau siapa larang-larang?" timpal Hinata tak senang. Naruto sudah cukup menyebalkan tadi, mengapa tiba-tiba melarangnya?
"Hm tapi aku akan berubah pikiran kalau kau menemaniku." Tiba-tiba saja Hinata berubah pikiran. "Sebenarnya aku hanya suka seseorang memerhatikanku ketika aku sedang tidur." Ucap Hinata jujur. Ia suka ketika seseorang menjaganya.
"Kau benar-benar aneh." Naruto tak paham. Bagaimana dia bisa tahu seseorang memerhatikannya ketika dia sedang tidur?
"Mau atau tidak?!" tanya Hinata ingin jawaban. Ia sudah lumayan mengantuk, rasanya agak malas harus mengendarai mobil dan pergi ke rumah Toneri tapi ia juga tak mau membuatnya mudah.
"..." Naruto tak menjawab. Ia sibuk fokus pada jalan raya. Tepatnya ia tak tahu ingin menjawab apa. Jika saja ia ingin menolak pasti sudah ia lakukan, jadi mengapa ia hanya diam?
"Hoaaaaaaaaammm" Hinata menguap panjang sambil menyandarkan punggung ke sandaran kursi. Lelah menunggu jawaban yang tak kunjung diberi.
"Tidurlah." Hinata menoleh.
"Kau mau mengendongku?" Naruto enggan menjawab tapi ia mengangguk sekali sebagai jawaban dan Hinata tersenyum. Menyusahkan seseorang rasanya menyenangkan tapi menyusahkan Naruro jauh lebih membuat hatinya riang.
"Baiklah" mengapa ia merasa lebih senang dari biasanya? Ia memutar wajahnya ke arah jendela mobil dan memejamkan mata.
.
.
Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.
WILD KIDDO
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
WILD KIDDO by authors03
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 6
.
.
.
"Bagaimana bisa wajahnya berbeda hanya karena dia sedang tidur?" Naruto seolah terpesona oleh wajah tidur Hinata. Dia tampak sangat manis, imut, lucu, cantik dan sangat tampak seperti malaikat. Sangat tenang dan hangat. Berbeda sekali dengan biasanya.
Naruto menyelimuti Hinata dan ia menatap sekitar. Untuk ukuran anak bar-bar, kamarnya lumayan rapi dan indah. Dekorasinya seperti kamar para putri dengan warna baby pink.
Tok
Tok
Tok
Naruto menoleh ke arah pintu. Seseorang berpakaian maid masuk setelah mengetuk pelan pintu kamar.
Dia meletakkan sesuatu di atas meja kecil di samping kasur tempat Hinata tidur, membungkuk sopan pada Naruto dan keluar.
"..." mata Naruto kembali menatap apa yang maid tadi letak. Ia mengambilnya dan menatapnya tak percaya.
"Apa dia kira Hinata anak bayi?" tanya Naruto entah pada siapa. Maid tadi meletakkan botol susu bayi lengkap dengan isinya, sungguh membuat Naruto tercengang. Tapi bisa jadi Hinata tak menintanya.
"Kau harus minum sekarang apa nanti?" tanya Naruto pada Hinata yang masih tampak tertidur pulas. Apakah dia minum ini sebelum tidur? Tapi dia sudah tertidur.
Naruto memutuskan menyodorkan ujung dot ke bibir Hinata dan dia mulai menghisapnya. Lagi-lagi Naruto tercengang tapi menit berikutnya, ia tersenyum.
"Dia seperti bayi gede." Gumannya lucu sambil membelai lembut pucuk kepala Hinata dan kemudian mendudukkan dirinya di pinggir ranjang. Rasanya seperti tengah merawat anak bayi. Jika saja besok-besok Hinata memiliki seorang anak, suaminya akan punya dua bayi sekaligus. Satu bayi kecil dan satu bayi besar.
Naruto menahan tawa atas apa yang ia pikirkan.
Tapi lagi-lagi mata Naruto terpana pada wajah bak malaikat Hinata. Dia sangat cantik dan Naruto baru saja menyadarinya. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Selain sikap bar-bar, sejujurnya Hinata sangat manis dan juga lucu. Mungkinkah Toneri menyukainya karena menyadari hal itu?
Naruto tersadar dari lamuan ketika tangan Hinata menyapu botol susu yang masih ia pegang.
"Kau tak mau lagi?" Naruto menyodorkan kembali susu yang hanya tinggal sedikit tapi bibir Hinata menolaknya.
Apakah baik berbaring setelah minum susu? Setelah minum susu, seorang bayi biasa di tepuk-tepuk punggungnya. Naruto tak tahu cerita apa itu tapi begitulah yang ia tahu. Ia enggan melakukannya tapi mengapa ia merasa harus?
Tak ingin berpikir terlalu banyak, Naruto mengangkat lembut badan Hinata membuatnya dalam posisi duduk, memeluknya dan ia mulai mengelus punggung Hinata.
"Hinata menyebalkan. Dia membuatku terlihat aneh." Wajah Naruto memerah karena malu. Padahal tak ada siapapun yang melihatnya seperti ini tapi tetap saja ia merasa malu karena melakukan hal aneh ini.
"Errgg" Naruto terkejut karena sendawa Hinata.
Ia menghentikan acara mengelus punggung Hinata dan kembali membaringkan Hinata.
"..." ia terdiam karena wajahnya dan Hinata berada dalam jarak dua jengkal. Ia menjadi paham tak akan heran Toneri mau memperhatikan Hinata yang tengah tertidur karena wajahnya sangat ayu dan nyaman untuk di pandang, sangat menghipnotis.
.
.
"Nggggg!" Hinata berguman ketika badannya berputar ke samping. Kaki yang berat menimpa kedua kakinya di balik selimut membuat wajahnya tampak risih.
Tangannya yang menyentuh guling menarik guling keras itu ingin memeluknya tapi guling itu tak bisa bergerak.
Tunggu
Guling berat?
Sejak kapan guling berat?
Mata Hinata perlahan terbuka dan detik itu juga langsung terbuka lebar. Ia berhenti bernafas karena wajah yang sangat dekat ini membekukan dirinya.
Mata itu berkedip sekali diikuti oleh mata Hinata. Mengapa suasanya menjadi sangat tenang, mengapa tak ada suara sedikitpun? Mengapa hanya suara detakan jantung masing-masing yang kedengaran?
"Na-Naruto?" suara Hinata berbisik, ingin memastikan apa yang ia lihat nyata atau tidak.
"Hinata..."
Mengapa wajah itu mendekat?
Alarm di kepala Hinat mengeluarkan sinyal bahaya tapi mengapa ia tak bisa bergerak? Mengapa ia membeku?
5cm
4cm
3cm
"Huaaaaaaaa huaaaaaaaaaaaa!"
Deg!
Naruto panik seketika ketika Hinata menangis histeris.
"Sssst maaf maaf aku menganggu tidurmu." Dengan cepat Naruto menyingkirkan kakinya di atas kaki Hinata dan ia menepuk-nepuk pelan pundak Hinata.
"Huaaaaamppphh!"
"sssst jangan nangis." Naruto terpaksa membekap mulut Hinata dengan telapak tangannya, tak ingin ada yang tahu Hinata menangis. "Maaf maaf aku menganggumu, jangan menangis lagi, Hinata."
"Hiks" Hinata terisak ketika ia sudah lelah memekik di telapak tangan Naruto.
"Ssst jangan nangis. Tidurlah lagi." Naruto kembali membelai surai indigo Hinata ketika dia akhirnya berhenti memekik.
Mata Hinata perlahan terpejam tapi detik berikutnya mata itu terbuka lebar. Tentu saja matanya terbuka! Mana mungkin ia bersikap biasa saja ketika ada seseorang lelaki di atas kasurnya!
"Naruto, apa kau sudah gila berani naik ke atas singgasanaku?" Hinata mendudukkan dirinya dan masih menatap syok Naruto yang juga mendudukkan dirinya.
"Jangan salah paham. Aku tadi hanya duduk dan kau berbalik jadi aku hanya ikut tertarik makanya aku jatuh." Naruto menjelaskan kejadian tadi tentu saja tidak menceritakan bagian ia menyusui Hinata seperti bayi.
"Mengapa juga kau duduk di dekatku?" tanya Hinata penuh curiga, matanya memicing.
"Itu emm" Naruto mencari jawaban di kepala. "Itu karena kau bilang aku harus memerhatikanmu yang sedang tidur." Hinata berpikir sejenak. Ada benarnya juga itu yang ia pinta tapi.
"Tapi aku tak menyuruhmu duduk di atas kasurku." Naruto lagi-lagi mencari jawaban.
"Ya aku kira kau akan suka aku menjagamu dari dekat." Alasan apa saja ia berikan untuk lolos dari tatapan curiga Hinata. Semoga saja Hinata tak ingat Naruto mencoba menciumnya tadi.
"Kau menyukaiku." Mata Hinata semakin memicing, menuntut jawaban.
"Hah?!" Naruto tersentak, entah mengapa rasanya seperti baru saja tepergok.
"Mana mungkin aku menyukai orang aneh sepertimu!" bantah Naruto tapi Hinata masih menatapnya curiga.
"Buktinya tadi kau coba menmmhpp!" Naruto segera membekap bibir Hinata. Wajahnya merona hanya dengan memikirkan kejadian tadi. Jantungnya jadi menggila tanpa bisa ia kontrol.
"Aku tak akan pernah suka padamu. Jadi jangan kegeeran, bocah aneh." Hinata memasang wajah kesal. Ia segera menepis tangan Naruto.
"Halah! Aku juga tak mengharapkannya! Bagus kau tak suka aku! Karena aku juga tak akan pernah suka kamu! Naruto sialan!" marah Hinata bangkit dari atas kasur dan ia menarik tangan Naruto. "Pergi kau manusia jelek! Keluar dari rumahku!" mengapa rasanya kesal sekali? Tidakkah kata tak akan pernah terlalu kejam? Bagaimanapun Hinata cantik, tak menutup kemungkinan siapa saja akan menyukainya, mengapa Naruto berkata seolah tak mungkin akan ada yang menyukainya karena dirinya aneh?
"Kau tak harus sekasar itu." Naruto menepis pelan tangan Hinata ketika ia sudah dalam posisi berdiri.
"Awas saja kau. Aku takkan menyukaimu kalau nanti kau menyukaiku." Hinata membuang wajah dengan memasang wajah bolanya lagi.
"Hilih, aku sudah punya orang yang aku suka. Aku takkan suka kau." Detik itu juga Hinata melototinya.
"KELUAR KAU, UZUMAKI NARUTO!"
.
.
.
"Apa kau hah?! hah?! Berani sekali kau menabrakku!" gadis itu mendorong lelaki yang menabraknya tadi sebagai balasan dan pergi begitu saja. Pagi ini hancur moodnya. Hancur rasanya, tak ingin tersenyum. Ia marah! Sangat marah! Dan alasan mengapa ia marah karena lelaki bernama UZUMAKI NARUTO!
Hinata tak tahu alasan spesifik mengapa ia marah pada lelaki itu, intinya ia sangat marah sekali! Akan ia cari lelaki itu dan menonjoknya!
.
.
.
"Aloha Naru sayang." Naruto menoleh ke atas ke siapa yang baru saja menepuk pucuk kepalanya dengan telapak tangan.
"Karin?" panggilnya dan gadis bersurai merah itu tersenyum.
Braackk!
"Iittaaii!" Naruto terperanjat kaget, dengan cepat ia menghampiri Karin yang tersungkur karena seseorang mendorongnya dari belakang.
"Hinata! Apa kau sudah gila?!" marah Naruto setelah membantu Karin berdiri.
"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir. Syukur saja lutut Karin yang menggesek tanah dengan alas rumput hijau tak meninggalkan bekas luka.
"Ini sekolah! Bukan tempat kalian untuk bersentuhan!" amarah Hinata mengingat gadis itu menyentuh Naruto. Amarah seketika naik di atas kepala.
"Kau!" Naruto mengeram. "Kau sebaiknya minta maaf padanya." Ucap Naruto seolah memperingati tapi pastinya Hinata takkan menghiraukan amarahnya.
"Kau kira ini sekolah bapakmu hah tidak pakai seragam?!" Karin terbengong-bengong tak tahu apa yang tengah terjadi. Seorang gadis kecil yang sangat kasar baru saja mendorong dan meneriakinya.
"Dia siapa, Naru? Pacarmu?" tanya Karin penasaran.
"Pacar? Tak mungkin." Seperti ada kilat menjalur dari mata Hinata dan Naruto. Kilat itu saling menyambar di udara. Sama-sama marah dengan alasan tersendiri.
"Awas saja kau, Naruto." Hinata pergi begitu saja dengan menghentak-hentakan kaki.
"..."
"Siapa dia? Mengapa dia begitu?" tanya Karin aneh. Pacar Naruto? Tapi Naruto bilang tak mungkin. Tapi tidakkah dia tampak sedang cemburu?
"Abaikan saja dia, Karin. Dia memang aneh." Jawab Naruto tak ingin memikirkan Hinata karena sangat kesal dengan sikapnya.
"Karin?" Karin memberikan tatapan maut. Tangannya menekan kepala Naruto membuat badan Naruto membungkuk. "Panggil aku Karin-neesan!"
"Ha'i Ha'i, Nee-san!" Naruto menepis tangan Karin. "Omong-omong mengapa Nee-san di sini?"
.
.
.
"Ayah ayah! Huaaaaaaaaa!" Hinata melempar sembarang tas dan sepatu setelah masuk ke dalam rumah. Ia terus meneriaki sang ayah selama perjalanan dan tiba di ruangan kerja sang ayah di lantai dua.
"Ayaaaaahh huaaaaaa Naruto jahat sekali." Adunya setelah duduk di salah satu bangku tepat di depan meja kerja sang ayah.
"Mengapa Hinata? Apa yang terjadi?" apakah perasaannya saja atau Hinata memang tampak sangat sedih dan marah sekarang?
"Ayaaaaaahhh." Kedua sudut bibir Hinata tertarik ke bawah. Air mata lolos dari kedua matanya. "Naruto mempermainkanku!"
"Apa maksudmu?" tanya Hiashi ingin tahu.
"Dia..."
"Dia mencoba menciumku lalu ternyata dia sudah punya pacar!"
"Apa?!" Hiashi tersentak. "Apa maksudmu, Hinata?" tanyanya ingin penjelasan soal perkataan Hinata barusan.
"Dia mencoba menciumku semalam tapi hari ini aku melihatnya bersama pacarnya. Dia jahat sekali mempermainku, Ayah." Hinata merasakan hatinya tercubit.
"Jangan sedih, Putriku. Ayah akan mengurusnya." Tak ada siapapun yang boleh memainkan putri tercintanya!
.
.
.
13.06
Apakah ini tak apa-apa? Mengapa Naruto merasa semakin khawatir sekarang?
Tentu ia khawatir. Ia tak melihat Hinata sampai akhir sekolah yang artinya Hinata bolos.
Apakah dia marah? Tapi mengapa dia marah? Itu salahnya mendorong Karin.
Tunggu
Soal Karin, kalau saja dia ada di sini bisa dipastikan.
Naruto membuka pintu rumah dan langsung menatap ke arah ruang tamu.
"Ayah? Ibu?!" sudah Naruto duga. Orangtuanya pasti sudah pulang.
"Naru sayang!" Wanita bersurai merah itu menghampiri dengan memeluk lembut sang putra.
"Mengapa pulang tak bilang-bilang?" tanya Naruto.
"Kejutan, Naru." Jawab Kushina, ibu Naruto senang.
"Dan apakah kau mau tahu kejutan lainnya?" tanyanya penuh rahasia membuat Naruto menatap penasaran.
"Kemarilah, duduk dulu." Ia menarik Naruto ke arah sofa dan mereka duduk bersebelahan di depan sang ayah.
"Kejutan pertama, kami akan bekerja sama dengan perusahaan yang paling diincar di Jepang." Yah, itu berita bagus. Naruto ikut senang.
"Dua, ternyata pemilik terbesar perusahaan itu sangat menyukai dirimu, anakku." Hm? Alis Naruto naik sebelah. Siapa dan mengapa dia mengenal dan menyukai Naruto?
"Kejutan akhirnya." Kushina tersenyum semakin girang. "Kau akan dijodohkan dengan putrinya. Jereengg!"
"Uhuk uhuk huk!" Naruto tersedak oksigen yang hendak melewati tenggorokannya. Ia menatap syok sang Ibu.
"Apa? Dijodohkan?" tanyanya memastikan. Sepertinya ia salah dengar. Mengapa juga ibunya sangat bersemangat?
"Yes, sayangku! Kau akan menikah!"
"Ibu?" ibunya pasti bercanda. Atas dasar apa dia seenaknya menjodohkan Naruto?
"Oh dan tambahan, malam ini kita akan makan malam bersama membahas pernikahan kalian."
"Hah?!"
.
.
.
.
To be continue
.
.
.
