Hinata marah
Benar-benar sangat marah sekali.
Matanya melotot, alisnya tertekuk, nafasnya kasar, ia menggigit bibir bawah guna menahan amarah.
Menatap marah lelaki yang baru saja duduk di bangku di depannya. Mengabaikan beberapa pasang mata yang melihat, bahkan tak peduli sama sekali.
"Kau tak harus menatapku seperti itu. Aku datang karena diundang." Hinata tahu lelaki itu tak berbohong. Ayahnya sendiri yang mengatakan ia mengundang keluarga Uzumaki untuk makan malam tapi tetap saja baru saja melihatnya, entah mengapa Hinata langsung merasa kesal, ia tak bisa menahan rasa kesalnya.
"Manusia menyebalkan." Hinata mengembungkan pipi setelah memutar bola mata.
Tak hanya sampai di situ, Ia menendang kaki Naruto sebelum berdiri.
"..." Naruto menahan rasa sakit di kakinya dengan diam seolah tak terjadi apapun meski tiga manusia yang ada di meja makan tahu Hinata menendang kakinya.
"Kau mau kemana, Hinata?" Hiashi bertanya membuat Hinata menatapnya.
"..." Hinata tak berniat menjawab, hanya tetap memasang wajah kesal seolah semua yang ada di ruangan ini bersalah padanya.
"Hinata..."
.
.
.
Flashback
"Jadi, maksudmu gadis yang dimaksud Hinata adalah anak perempuanmu?" tanya Hiashi memastikan dan Kushina, ibu Naruto mengangguk.
"Jika saja anakku memiliki pacar, aku akan tahu."
"..." Hiashi merenung cukup lama sebelum akhirnya mengatakan.
"Ayo kita besanan." Tak hanya Kushina tapi suaminya, Minato turut terkejut. Hampir saja dia tersedak teh yang baru saja memasuki tenggorokan.
"Apa maksud anda, Hiashi-san?" Minato memastikan tentang apa yang ia dengar tadi.
"Putriku menyukai putramu. Dan aku juga menyukainya jadi ayo kita menikahkan mereka."
.
.
.
Flashback end.
"Bwuahahahaha!" Hinata tertawa ngakak sambil memegangi perutnya yang tergelitik oleh ucapan ayahnya barusan. Jika saja bisa berguling-guling di lantai akan ia lakukan tapi ia tengah tidak ada mood untuk itu.
"Menikah? Kami? Hahahahaha!" ucapnya lucu sebelum menatap kesal Naruto. "Nikahkan saja dia sama perempuan berambut merah yang membelai-belai rambutnya dan memanggilnya sayang-sayang!"
.
.
.
Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.
WILD KIDDO
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
WILD KIDDO by authors03
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 7
.
Seharusnya bukan begini rasanya melihat tingkah menyebalkan gadis itu. Tapi mengapa melihat wajah kesal, mengejek dan geram ditambah wajah bolanya membuat hati Naruto tergelitik tangan-tangan kecil? Ingin rasanya tersenyum memancarkan bunga-bunga hasil dari gelitik tangan-tangan kecil di hati tapi ia menahannya.
"Hina"
"Tak mau!" Hinata menutup kedua telinga dengan telapak tangan. Tak mau mendengar apapun yang akan ayahnya katakan. Tak mau mendengar sang ayah membela lelaki itu.
"..." Naruto hanya diam menahan senyuman lucu. Jika saja saat ini hanya ada Hinata dengan dirinya. Ugh! Ingin ia cabut kedua pipi Hinata karena sangking gemesnya.
.
.
.
Wajah Hinata memerah. Apakah lelaki itu baru saja menertawainya? Sekilas Hinata melihat sudut bibir itu terangkat.
"Aku mau pergi menghajar orang!" geram Hinata pergi dengan mengentakkan kaki.
"..."
"Naruto, jelaskan padanya bahwa itu hanya salah paham." Pinta Kushina lembut.
"Baiklah, akan aku lakukan." Naruto berdiri, ia membungkuk hormat sebelum pergi menyusul Hinata.
"Aku penasaran apakah Naruto menyukai Hinata atau tidak?" tanya Hiashi ingin tahu.
.
.
.
"Hentikan langkahmu, Hyuuga Hinata." Kalimat itu gagal menghentikan langkah kaki Hinata yang telah melewati pagar rumah hingga Naruto memilih menahan pergelangan tangan Hinata, membuat Hinata berbalik dan menepis tangan Naruto cepat. Pipinya membulat dan memerah, matanya menatap dengan penuh kekesalan.
"Marah lagi dan lagi. Mengapa kau suka sekali marah? Margamu Mad atau Hyuuga hah?" Naruto menghela nafas.
"..." seperti biasa Hinata melototi Naruto dalam diam membuat Naruto mengempiskan pipi bulat Hinata dengan cara menekannya gemes menggunakan kedua tangan.
"Aaaaaaaa menyebalkan! Lepaskan aku!" akhirnya Hinata mengeluarkan suara. Dia mendorong tangan Naruto di pipi serta berjalan mundur untuk menjauh tapi hal itu malah membuatnya terpojok di pagar dekatnya.
"Kau ini sangat menggemaskan." Naruto menekan kata sangat dengan raut wajah datar. Satu tangannya menempel di pagar samping telinga Hinata. "Tapi juga sangat menyebalkan." Ia menekan dua kata terakhir.
"Katakan padaku apa yang membuatmu kesal?" Hinata mengembungkan pipi tak mau menjawab. Kepalanya terasa penat karena harus terangkat agar ia bisa menatap Naruto.
"Katakan, Hyuuga." Paksa Naruto mencubit kedua pipi Hinata. "Jangan seperti orang bisu." Tambahnya geram.
"Kalau kau diam, aku akan menciummu." Ancam Naruto putus asa menunggu Hinata untuk menjawab pertanyaannya.
"Aku tak mau kau menciumku." Jawab Hinata cepat karena terkejut pada kalimat Naruto. Naruto tak boleh mengatakan sesuatu seperti itu!
"Lalu kau marah kenapa, hm?"
"Aku tak marah." Jawab Hinata cepat dan meyakinkan.
"Lalu?" tanya Naruto lagi.
"Aku hanya sedikit kesal." Hinata menunduk karena entah mengapa ia merasa malu, ia merasakan panas di wajahnya. Pastinya ia malu! Mengapa ia bersikap seperti ini? Ia tak paham.
"Karin itu kakakku."
"Hah?" Hinata ingin memastikan telinganya masih berfungsi dengan baik atau tidak.
"Perempuan yang kau lihat itu adalah kakakku, kakak kandungku." Hinata terdiam. Amarahnya seketika pergi bahkan terkesan syok.
"Dia bukan seseorang yang kau tebak. Dia kakakku."
"..." apakah kau melihat wajah pucat pasi Hinata? Ia menelan ludah. Sepertinya ia sudah melakukan kesalahan.
Krrrinnngggg
Perhatian kedua manusia itu teralih pada deringan ponsel dari balik saku celana Hinata.
Hinata mengambil hp itu dan. "Mati aku" innernya berkata. Keringat menetes dari samping keningnya.
"Kenapa?" Naruto menatap aneh raut wajah Hinata yang terlihat sedikit panik.
"Aku harus pergi uhm mengangkat telepon yang sangat penting ini." Jawab Hinata gagap dan langsung mengambil langkah seribu tapi Naruto menahan langkahnya, menatap curiga.
"Apa yang kau lakukan?" Hinata menyembunyikan ponsel di balik punggung dan berjalan mundur karena Naruto mencoba mendekatinya.
Lagi-lagi Hinata menelan ludah, panik.
"Ini Toneri! Toneri! Ya dia maksudku kami ada harus membahas sesuatu yang penting!" Hinata mengatakan apa saja yang bisa ia pikirkan tapi Naruto tampak tak percaya.
Krrinngg
Semakin berdegup jantung Hinata ketika ponselnya kembali berdering.
"Uhm ak-kyaaahh kembalikan Naruto!" Hinata panik level seribu ketika Naruto merebut ponsel dari balik punggungnya dan langsung menerima panggilan dari nomor tak diketahui.
"Naruto! Jangan diangkat!" panik! Panik! Panik! Tinggi dan lemah tubuh Hinata tak berhasil merebut kembali ponsel yang sudah melekat di telinga kiri Naruto.
"Halo bos! Kami sudah menangkap dan mengurung gadis itu!"
Wajah Hinata mengerut, jantungnya seolah berhenti berdetak ketika suara dari ponsel berhasil tertangkap indera pendengarnya.
Begitupun Naruto. Syok dan membeku untuk sejenak.
"Karin?"
"Halo? Siapa ini?!" Naruto Mematikan panggilan secara sepihak.
Hinata menggigit bibir bawah ketika ia melihat wajah tanpa ekspresi Naruto.
Diam-diam ia berjinjit menjauh dari Naruto, barniat kabur sejauh mungkin tapi Naruto menyadari dan langsung menarik pundaknya. Dia tampak marah dan Hinata merasa takut.
Duh! Hinata meringis pada tajamnya mata Naruto menatapnya. Ia memejamkan mata, berharap Naruto akan menghilang tapi sayangnya tidak.
"Di mana Karin?"
.
.
.
"Naruto!" Karin terpekik antara kaget dan senang ketika sang adik muncul dari balik pintu dan melepaskan ikatan tali pada tangan serta kakinya dengan mudah. Ia sudah takut setengah mati tadi! Bagaimana bisa Naruto di sini?! Dan
"Hinata?" Karin menatap Hinata di belakang Naruto dengan jarak satu meter. Dia tampak gelisah.
"Kau baik-baik saja?" tanya Naruto khawatir membuat Karin kembali menatapnya.
"I-iya, mereka memberiku makan pizza setelah membawaku ke sini." Jawab Karin jujur. "Mengapa kau bisa ada di sini? Dua orang tadi pergi setelah menerima telepon dari seseorang."
Hinata menghindari kontak dari Karin maupun Naruto. Berharap Karin tak tahu siapa otak dari penculikan ini.
"Aku akan mengantarmu pulang." Bisakah Hinata merasa lega karena Naruto tak mengatakan apapun? Tapi ia merasa takut pada apa yang bisa dilakukan lelaki itu. Mengadu pada ayah? Tamat riwayatnya. Jika saja ia tahu hanya salah paham, ia tak akan sangat kesal sampai menculik Karin! Ini adalah salah Naruto membuatnya salah paham!
.
.
.
Bisa tidak Hinata katakan sekarang adalah hal yang paling menakutkan seumur hidupnya? Ia lebih memilih dimarahin atau sejenisnya daripada didiamkan seperti ini. Setelah mengantar Karin pulang tak ada suara sedikitpun dari lelaki di sampingnya yang masih terus memasang wajah tanpa ekspresi, entah apa maksudnya. Dia sepertinya sangat marah sekali.
"Naru"
"Diam." Nyali Hinata kembali menciut. Ia menutup rapat bibirnya tak berani bicara.
.
.
.
"Orangtuamu langsung pergi setelah kau menelepon kurasa mereka sudah tiba di rumah." Hiashi mencoba bersikap biasa saja tapi tak bisa ia sembunyikan perasaan bersalahnya. Tak perlu Naruto katakan, ia tahu pasti putrinya berhubungan dengan kejadian yang Naruto ceritakan.
"Aku minta maaf atas kelakuan putriku. Aku benar-benar minta maaf." Naruto tak bersuara sama sekali membuat Hiashi kembali berbicara. Sedangkan Hinata? Hanya bisa duduk dengan sangat manis di samping Naruto, tepatnya aura menyeramkan Naruto mengikatnya.
"Kurasa aku akan mengirimnya ke sekolah luar negeri." Keputusan Hiashi tampaknya sudah bulat. Ia cukup putus asa dan malu pada putrinya dan sekarang, ia merasa tak enak pada Naruto apalagi kalau sampai keluarganya tahu.
"Hiashi-san, apakah aku boleh bicara berdua dengan Hinata?" Hiashi terdiam beberapa detik sebelum mengangguk kecil dan beranjak pergi dari ruang tamu.
"Hinata, demi tuhan ingin sekali aku membuatmu berlutut dan memohon maaf padaku." Naruto membuka topik setelah Hiashi pergi. "Jika saja kau bukan perempuan, tamat riwayatmu." Bibir Hinata manyun. Bersalah? Tidak sama sekali! Ia hanya memasang aura sedih karena Naruto terlihat sangat marah padanya dan entah karena apa ia tak menyukainya.
"Yaa aku salah aku salah paham." Ucap Hinata tanpa mengangkat wajahnya yang tertunduk.
"Bahkan kalau tak salah paham sekaligus, haruskah begitu hah?"
"Itu salahmu membuatku salah pa"
"Jangan membantahku, Hyuuga!" Hinata terdiam, bibirnya semakin manyun karena suara tinggi Naruto.
"Iya, aku minta maaf aku menyesal." Hinata mencoba mengusir amarah Naruto. Ia benar-benar tak suka dimarahi.
"Kau harus minta maaf pada Karin."
"Tak mau!" jawab Hinata cepat dan pelan. Minta maaf? Bagaimana ia bisa? Maaf aku menculikmu karena salah paham kau adalah pacar Naruto? Tidakk! "Aku malu."
"..." Naruto menghela nafas mencoba mereda kekesalannya. Dia lebih perduli pada harga dirinya ketimbang kesalahan yang dia buat? Tapi jelas-jelas Hinata bersalah, mengapa ia malah tak ingin memarahinya?
"Kau sangat menyebalkan." Kepala Hinata terangkat ketika ia merasakan tangan membelai pelan surai indigonya. "Tapi kau keterlaluan, Hinata. Jika kau benar-benar merasa bersalah, minta maaflah." Mengapa perkataan dengan nada lembut membuat Hinata merasa menyesal? Ada sedikit rasa bahagia ketika Naruto mengoreksinya dengan lembut.
"Aku tak mau keluargaku salah menilaimu, kau mengerti?" mengapa jantung Hinata berdebar kencang? Mengapa mata biru yang menatapnya dengan sangat lembut membuat wajahnya merona? Apa maksud ucapan Naruto? Mengapa kalimat itu membuatnya senang?
Tanpa sadar Hinata mengangguk kecil, menghadirkan senyuman tipis di bibir Naruto. "Terima kasih."
.
.
.
20.22
"Mengapa aku mengangguk?"
"Mengapa?!"
"Mengapa Hinata bodoh?" Hinata mengetuk kepalanya dengan kepalan tangan. Entah sudah berapa lama ia berjongkok di depan pintu dengan memeluk sebingkis makanan.
"Woaaa!" punggung Hinata tersungkur ketika pintu yang ia sandari tertarik ke belakang.
"Hinata? Mengapa kau di sini?" tanya yang membuka pintu tadi terkejut. "Sudah berapa lama kau di sini?" tanyanya lagi ketika Hinata berdiri dan menjauh selangkah darinya.
"Karin? Uhm Karin-neesan uhm Karin-nee." Karin terkekeh melihat Hinata yang tampak tak nyaman memanggilnya dengan suffix.
"Nama saja. Mengapa kau di sini? Naruto masih belum pulang."
"Aku datang untuk mencarimu." Ucap Hinata dalam satu tarikan nafas.
Sreett
Ia menyodorkan bingkisan di tangannya dan memejamkan mata. "Maaf! Aku datang untuk minta maaf!" detik itu juga Karin terkekeh kecil. Ia tahu apa maksud Hinata. Naruto sudah menceritakan bahwa Hinatalah otak dari penculikan semalam yah ia cukup terkejut tapi disaat yang bersamaan entah mengapa ia merasa sudah menebaknya. Ia baik-baik saja dan tak mau mempermasalahkannya.
"Ayo masuk." Karin menarik tangan Hinata membawanya masuk ke dalam rumah dengan semangat.
"Jadi, apa aku dimaafkan?" tanya Hinata ingin tahu.
.
.
.
"Kau tahu, aku paling ingin punya adik perempuan? Aku sangat ingin sekali bahkan kalau itu adalah teman baikku! Aku akan menjadikannya adikku!" cerita Karin dengan semangat pada Hinata yang masih mengamati seisi kamarnya. Nuasana pink seperti seorang putri. Karin tampaknya sangat ramah sekali membuat Hinata merasa nyaman.
"Mengapa Kushina-san tak buat satu lagi?" tanya Hinata dengan polosnya membuat Karin terkekeh.
"Iya, aku sering memintanya tapi mereka tak mau! Mereka bilang dua saja sudah cukup."
.
.
.
21.46
Ceklik
Pintu terbuka dan kedua sudut bibir Naruto terangkat. Ia tersenyum karena melihat flat shoes Hinata. Ia senang karena Hinata sungguh memegang ucapannya untuk datang dan minta maaf.
"Tapi siapa yang mengantarnya?" pikir Naruto ingin tahu. Ia tak melihat mobil Hinata di luar?
.
"Fuhhhh Afuuuhh!" Naruto melirik melewati sela pintu yang ia buka sedikit. Ia melihat Hinata berbaring menindih kasur dengan piyama? Sedangkan Karin tengah duduk dan meniup kuku-kuku jari.
"fuhhh!" Hinata ikut meniup jarinya di atas kasur. Naruto terkekeh melihatnya. Dia sangat takut Karin akan marah padanya semalam tapi lihatlah hari ini. Mereka bersama dengan sangat nyaman sekali. Meski sudah Naruto duga Karin akan menyukai Hinata karena dia sangat ingin adik perempuan tapi tetap saja ia merasa senang melihat keakraban mereka berdua.
Perlahan, Naruto kembali menutup pintu kamar dan pergi menuju kamarnya di sebelah kamar Karin.
.
.
.
"Tapi ne Naruto belum pulang? Kemana dia?" tanya Hinata penasaran. Sudah malam tapi kemana Naruto?
"Hmm?" Karin berpikir sejenak. "Dia bilang ada sesuatu yang harus dia urus."
"Aku mengantuk tapi dia harus melihatku di sini supaya dia tak mengiraku bohong!" ucap Hinata semangat. Ia tak mau dikira berbohong oleh Naruto.
"Tidur saja di sini. Kaukan sudah memakai piyamaku!" Karin sedikit terdengar memaksa. Ia terlalu bersemangat ada yang menemaninya di kamar ini! "Tenang saja aku akan menelepon ayahmu dan meminta izin padanya."
"Tapi besok aku sekolah."
"Sudahlah bolos saja!"
"Yah baiklah kalau kau memaksa ngeheheh!"
"Oh omong-omong bagaimana kalau kau ke kamar Naruto dan lihat dia apakah sudah pulang atau belum." Inisiatif Karin karena merasa Hinata sangat menantikan Naruto.
"Apakah dia tidak menyapa ketika pulang?" tanya Hinata penasaran.
"Tidak pernah, dia anak jahat." Jawab Karin apa adanya cukup mengejutkan Hinata.
"Wah Naruto ternyata anak yang tak sopan sekali." Hinata tak menyangka tapi ia mengiyakan permintaan Karin.
.
.
.
Tok
Tok
Naruto meletak buku di atas kasur ketika ia menoleh ke siapa yang membuka pintu kamarnya dan masuk tanpa izin.
"Eh, kau sudah pulang?" tanya Hinata menutup kembali pintu kamar. Ternyata benar, Naruto tak menyapa hm.
"Eh, kau bisa mengetuk pintu kamar sebelum masuk?" Naruto mengejek setelah kembali menyandarkan punggung ke besi kasur tapi Hinata tersenyum bangga.
"Bisa dong aku kan sopan tidak sepertimu." Satu sudut bibir Naruto tertarik naik seolah mengejek.
"Aku belum mengizinkanmu masuk, kau tak tahu tata krama. Hanya belagak." Ucapan itu langsung membuat alis Hinata mengerut. Ia berusaha tapi mengapa Naruto malah mengoceh!
"Baiklah, aku keluar." Ucapnya merajuk tapi langkahnya dihentikan oleh suara Naruto.
"Duduk di sini." Hinata menurut, duduk di atas kasur di dekat lutut Naruto.
"Aku senang kau menepati ucapanmu." Ucapan itu menghadirkan senyuman super bahagia di bibir Hinata dan dia menyelipkan rambut ke belakang telinga. Terlihat malu, terpuji dan sangat bangga.
"Siapa yang mengantarmu ke sini?" tanya Naruto.
"Taxi, ban mobilku bocor di tengah jalan. Dan omong-omong ne." Hinata memperbaiki posisi duduknya sebelum melanjutkan menatap heran Naruto. "Kau beli apartemen karena pindah ke Konoha. Mengapa bisa ada rumahmu di sini?" tanyanya penasaran.
"Aku tak pernah bilang aku tak punya rumah di Konoha." Jawab Naruto secukupnya. Ia memang pindah ke Konoha tapi karena urusan bisnis, keluarganya juga membeli rumah di sini hanya saja lumayan jauh dari sekolah tempatnya belajar dan karena orangtuanya akan menetap di Konoha untuk sementara waktu untuk urusan bisnis, sang ibu memintanya untuk tinggal di rumah ini.
"Pulanglah, besok sekolah." Naruto membaringkan diri setelah kaki di balik selimut menendang pelan bokong Hinata yang ada di atas kasur.
"Karin menyuruhku bolos dan menginap di sini." Jawaban itu membuat Naruto menoleh dengan cepat.
"Jangan terlalu dekat dengan Karin." kepala Hinata miring. Matanya menatap ke sana ke sini untuk mencari maksud dari ucapan Naruto.
"Kenapa?" tanya Hinata setelah meloncat ke atas kasur di sebelah Naruto dan duduk dalam posisi kaki berbentuk M.
"Karin itu gila."
Hinata terdiam, apa maksudnya Karin itu gila?
"Dia baru saja keluar dari rumah sakit jiwa. Kau tahu mengapa dia masuk ke rumah sakit jiwa?" Hinata menggeleng sebagai jawaban.
Naruto yang dalam posisi berbaring menghadap ke samping, tepatnya ke arah Hinata dan menopang telinga dengan tangannya.
"Dia suka membawa anak gadis ke dalam rumah, bersikap sangat baik padanya, meminjamkan baju dan kemudian malam hari di saat mereka tidur."
"Kenapa?" mengapa Naruto terdiam? Mengapa wajahnya menyeramkan? Apakah dia serius? Atau dia hanya mengerjai Hinata? Tapi dia tampaknya serius.
"Apa yang terjadi? Apa?"
"Dia mencekik mereka. Tiba-tiba menggila dan menghajar mereka. Dia bilang orang asing mencuri pakaian dan memasuki kamarnya." Naruto menghela nafas frustasi sebagai penutup cerita.
Deg!
"..."
"..."
"Kau bercanda kan?" Hinata tak ingin percaya tapi mengapa Naruto tampak sangat serius sekali?
"Buktikan saja kalau tak percaya. Kau bukan satu-satunya orang yang tak percaya." Naruto memejamkan mata dan memperbaiki posisi baring setelah ucapannya. Meninggalkan Hinata yang tampak takut dan mencoba untuk yakin bahwa Naruto berbohong.
Dia tampak serius
Tapi tak mungkin
Kepala Hinata dipenuhi dua kalimat itu.
"Naru, aku mau pulang. Ayah pasti kangen aku." Hinata mengguncang lengan Naruto. Anggap saja dia serius, tidak! Anggap saja dia bercanda. Hinata tetap merasa takut!
"Minta Karin mengantarmu." Acuh Naruto membuat bibir Hinata mengerucut.
"Aku takut, Naru serius. Kau benaran serius? Karin tak tampak seperti orang sakit?" ia tak ingin percaya tapi mengapa merasa takut?!
"Yah begitulah yang semua orang katakan." Hinata merasa cukup panik membayangkan apa saja yang mungkin terjadi padanya malam ini. Bercanda atau tidak. Membayangkannya saja mengerikan.
"Naru Naru! Aku mau pulang. Kau jangan menakutiku!" Kedua sudut bibir Hinata tertarik turun.
"..." dengan satu tarikan Hinata berakhir berbaring di dekapan Naruto.
"Kau tahu? Aku mulai memikirkannya bahwa bersikap kekanakan tidaklah seburuk itu." Hinata mendongak untuk menatap Naruto yang tak membuka mata.
"Apa maksudmu?" tanya Hinata tak paham. Mengapa Naruto tiba-tiba bersikap seperti ini? Mengapa Naruto mendekapnya?
"Aku bilang tak apa bersikap seperti kanak-kanak jika kamu merasa bahagia tapi jangan menjadi anak yang nakal." Satu tangannya memainkan surai panjang Hinata. Ia merasa nyaman dalam posisi ini.
"Jangan bersikap kurang ajar, jahat dan tak tahu sopan santun. Kau tahu ayahmu sangat mencintaimu. Bersikaplah lebih baik padanya."
"Kau mengatakan semua itu hanya agar aku bersikap baik pada ayah?" tanya Hinata sedikit kecewa.
"Tidak, aku mengatakannya karena aku mulai menyukaimu."
Hinata membeku. Apa yang baru saja ia dengar? Naruto bilang dia menyukai Hinata? Mengapa dia bisa mengatakannya dengan mudah? Apakah dia hanya bercanda? Tidak, mengapa juga Naruto bercanda seperti itu?
"Kau menyukaiku?" Hinata menahan senyum dengan mengulum bibir. Mengapa ia merasa senang mendengarnya? Mengapa rasanya perutnya berbunga-bunga?
"Hanya sedikit.- jadi sekarang keluar dari kamarku dan pergi ke kamar Karin." Satu putaran berhasil memindahkan tubuh Hinata dari atas kasur berakhir terduduk di lantai tepat di sebelah kasur.
"Naru! Aku takut! Kau menakutiku! Sekarang wajah Karin sangat menyeramkan di kepalaku!" pekik Hinata kesal dan takut. Mengapa dia mengusir Hinata ke sana setelah menakutinya dan membuat hatinya berdebar!
"Kau tahu apa artinya dia meminjamkan piyama?"
"..."
"Dia takkan melepaskanmu."
"NARUUU! Aku akan menangis kalau kau menakutiku terus! Aku serius!" Hinata berdiri dengan mengepalkan kedua tangan ditambah memasang wajah yang sudah siap untuk merenggek.
"Karin! Hinata di sini!"
.
.
.
"HUAAAAAAA AYAHHHHH! TOLONG HUAAAAAAA!"
"Hinata?!" Karin tersentak ketika suara Hinata tertangkap oleh indera pendengarnya.
"Naruto baka! Apa yang dia lakukan pada Hinata?!" ucapnya marah dan langsung meninggalkan ruangan menuju kamar Naruto.
Braackk!
"Kyaaaaahhh huaaaa!" Hinata yang terperanjak kaget segera meloncat ke arah kasur dan berlindung di belakang Naruto yang baru saja mendudukkan diti.
"Hinata, kau kenapa?"
"Huaaaaaaaaa pergi kau! Pergi huaaaaaa!"
.
.
.
To be continue
Maaapppp
Maapp maapp baru update. Benaran sibuk bangat skranggg
Semoga suka! Sampai jumpa!
