Disclaimer

Sekotengs (c) Lifina

Retrograde (c) Lifina

Warning

Contains BL, bondage, sadism, humiliation, exhibitionism, no plot only smut


Timeline di cerita ini adalah saat Ezra dan Raka sudah berpacaran, tapi masih dalam masa pre-klinik (belum koas)


Cklek.

Terlihat Raka memasuki apartemennya sambil diikuti Ezra. Mereka baru saja selesai kuliah. Hari ini, mereka mau belajar bersama karena Ezra kurang paham dengan beberapa mata kuliah. Setelah melepas sepatu mereka, mereka pun menuju ruang tengah. Ezra langsung duduk di sofa, sementara Raka menaruh tasnya terlebih dahulu.

"Ezra, kamu tunggu dulu, ya. Aku mau ke toilet dulu," ujar Raka.

"Oke, siap, Rak."

Raka pun menuju toilet dan meninggalkan Ezra di ruang tengah. Sambil menunggu Raka, tiba-tiba mata Ezra tertuju ke benda yang berada di meja ruang tengah.

'Apa ini? Borgol?' batinnya sambil mengambil benda itu.

'Ini borgol mainan atau beneran ya?'

Krek.

Ezra pun mencoba memasukkan borgol tersebut ke tangannya.

'Hmkayaknya borgol beneran, deh'

Krek.

Lalu, dia juga memasukkan tangannya yang lain ke borgol tersebut.

Hening.

'INI LEPASINNYA GIMANA!?' batin Ezra panik setelah sadar kalau kunci borgol tersebut tidak ada.

"Ezra, kita mau mulai belajar matkul yang mana?" tiba-tiba, terdengar suara Raka di belakang Ezra

"Raka, hueee …" Ezra mendongak ke Raka dengan matanya yang berkaca-kaca.

"Ezra? Kamu kenapa?" tanya Raka dengan wajah paniknya.

"Raka, aku ga bisa lepasin borgolnya dari tanganku," jawab Ezra sambil menunjukkan tangannya yang terborgol.

"Ck … ck … ck …" Raka berdecak pelan sambil menggelengkan kepalanya, "ya sudah, kamu tunggu sebentar ya," katanya sebelum berjalan menuju kamarnya.

Tak lama kemudian, Raka kembali ke ruang tengah sambil membawa sebuah tas yang Ezra kenali berisi barang-barang kinky milik Raka. Raka kemudian membuka tasnya dan mengambil sesuatu di dalamnya. Terlihat Raka mengambil sebuah kain panjang berwarna hitam. Lalu, Raka menutup mata Ezra dengan kain tersebut.

"Ra-Raka …"

"Kamu harus dihukum karena sudah memakai barangku tanpa izin," bisik Raka di telinga Ezra.

Raka kemudian memegang rantai borgol dan menaikkannya ke atas kepala Ezra. Lalu, dia mendorong tubuh Ezra hingga tertidur di sofa.

"Aw …" ringis Ezra kesakitan.

Lalu, Ezra merasakan bibir Raka menempel di bibirnya. Sambil berciuman, Raka membuka kancing kemeja Ezra dengan satu tangannya. Setelah semuanya terbuka, Raka menyibak kemeja Ezra. Raka pun memainkan jari-jarinya di puting Ezra.

"Eeemmpphhh …" desah Ezra di ciuman mereka.

Setelah puas, Raka melepaskan ciumannya.

"Hosh … hosh … hosh …" terdengar suara Raka dan Ezra yang sedang terengah-engah.

Setelah mengatur nafasnya, Raka beranjak dan kembali mengambil clover clamp, collar, dan leash. Raka pun menguji clover clamp-nya di dadanya terlebih dahulu. Setelah yakin jepitannya tidak terlalu kuat untuk Ezra, baru lah dia menjepitkannya ke puting Ezra.

"AKH! Raka!" pekik Ezra.

"Ssshh … ssshhh …" Raka berusaha menenangkan Ezra, "Kalau kamu tidak kuat, safe word kita masih sama, oke?" bisik Raka di telinga Ezra.

Ezra pun menganggukkan kepalanya.

"Good boy," kata Raka sambil mengelus kepala Ezra.

Lalu, Raka kembali menjepitkan clover clamp ke puting Ezra yang satunya.

"AH!" Ezra kembali memekik, tetapi tidak sekeras sebelumnya.

Belum selesai Ezra memulihkan dirinya dari rasa kaget, dia merasakan ada sesuatu yang melingkar di lehernya. Ternyata, Raka memasang collar di lehernya. Raka memasang collar-nya dengan erat, tetapi tidak membuat Ezra sesak atau kesulitan bernafas. Kemudian, Ezra merasakan kalau Raka sedang menarik-narik collar-nya. Seolah mengerti dengan maksud Raka, Ezra pun berusaha beranjak, meski kesulitan karena tangannya diborgol. Setelah berhasil duduk, Ezra pun langsung berdiri.

"Hm? Siapa yang memberimu izin untuk berdiri?" tanya Raka, "merangkak," perintahnya.

"Ba-baik," kata Ezra sambil menuruti perintah Raka.

Lalu, Ezra kembali merasakan collar-nya ditarik. Dengan bersusah payah, Ezra berusaha merangkak mengikuti Raka. Ezra tidak tahu dirinya akan dibawa ke mana karena matanya tertutup.

Grek.

Ezra kemudian mendengar suara pintu balkon dibuka. Lalu, dia mulai merasakan angin bertiup mengenai tubuhnya. Tak lama, Ezra sudah tidak merasakan collar-nya ditarik sehingga ia pun ikut berhenti.

"Duduk," perintah Raka.

Ezra pun menuruti perintah Raka dan duduk bersimpuh.

"Sebagai hukumannya, aku akan membiarkan orang-orang menonton kamu," ucap Raka ditelinga Ezra sambil sedikit menarik collar ke belakang.

Ezra langsung menelan ludahnya.

"Di bawah sana ada cukup banyak orang yang bisa melihatmu," ucap Raka.

Sebenarnya, Raka sedang berbohong ke Ezra. Raka tidak bisa melihat ada orang atau tidak karena kamar yang Raka tinggali cukup tinggi. Raka berbicara seperti itu agar Ezra merasa sedang dilihat banyak orang.

Raka pun membuka kancing celana Ezra dan menurunkan resletingnya.

"Sekarang, berdiri," perintah Raka sambil menarik collar ke atas.

Dengan susah payah, Ezra berusaha untuk berdiri. Setelah berhasil, Raka langsung menurunkan celana dan celana dalamnya.

"Sekarang, duduk lagi," perintah Raka lagi.

Ezra pun menuruti perintah Raka lagi.

"Aku akan meninggalkanmu sendirian di sini agar kamu bisa merenungkan apa yang sudah kamu lakukan," kata Raka sambil mengikat leash ke pagar balkon, "apa kamu mengerti?"

"Iya, aku mengerti," jawab Ezra.

"Good."

Grek.

Ezra mendengar suara pintu balkon dan yakin Raka sudah masuk ke apartemen. Padahal, kenyataannya, Raka masih mengawasinya di balkon karena Dominant yang baik tidak akan meninggalkan submissive-nya dalam keadaan seperti ini. Raka hanya berkata akan meninggalkan Ezra sendirian, agar Ezra makin merasa di-humiliate.


Grek.

Kira-kira, 10 menit kemudian, Raka kembali membuka pintu balkonnya. Ezra bisa bernafas sedikit lega karena dia benar-benar merasa malu karena dia merasa dilihat banyak orang, walaupun pada kenyataannya, tidak ada yang melihat dirinya. Namun, di sisi yang lain, dia juga merasakan ada ... gairah?

"Bagaimana? Apa kamu sidah merenungi perbuatanmu?" tanya Raka.

"Su-sudah, Raka ..." jawab Ezra.

"Good boy," ucap Raka sambil melepaskan ikatan leash dari pagar balkon, "berdiri," perintahnya.

Ezra pun menuruti perintah Raka.

"Sekarang, bungkukkan badanmu dan pegang pagar balkon," perintah Raka.

Ezra pun menuruti perintah Raka. Lalu, Raka melepaskan tali pinggang dari celananya.

"Aku akan memukul pantatmu sebanyak 30 kali dan kamu harus menghitung. Mengerti?"

"I-iya …" jawab Ezra dengan lirih.

Plak!

"Aw! Sa-satu …"

Plak!

"Du-dua …"

Plak! Plak! Plak!

"Ah! Tiga, empat, lima …"

"Hm? Cara menghitung macam apa itu?" tanya Raka, "ulangi dari tiga."

"Ta-tapi 'kan …" protes Ezra.

"Tidak ada tapi-tapian. Kalau tidak menurut, aku tambah jadi 50 kali."

"Ba-baik, Raka," ucap Ezra dengan lesu, "tiga …"


Plak!

"Aaahh! Tiga puluh …"

"Good job, Ezra," ucap Raka sambil mengelus rambut Ezra.

Raka pun melirik ke selangkangan Ezra. Terlihat jelas kalau penisnya Ezra sedang ereksi. Dasar masokis!

"Ck, dasar …" Raka berdecak pelan, "baiklah, berhubung kamu sudah menerima hukumanmu dengan baik, aku akan memberikan hadiah untukmu," katanya sambil mengambil sebungkus kondom dari kantung celananya.

Kemudian, Raka membuka kancing dan menurunkan resleting celananya.


"Hahh … hah … hah …" terdengar deru nafas dari Raka dan Ezra yang baru saja berorgasme.

Terlihat Raka sedang memeluk Ezra dari belakang agar tidak terjatuh.

Sesudah berhasil mengatur nafasnya, Raka pun membetulkan celananya. Lalu dia menggendong Ezra. Kemudian, dia memasuki apartemennya dan masuk ke kamarnya. Raka pun menidurkan Ezra di ranjang. Lalu, Raka melepaskan blindfold, clover clamp, collar, dan membuka kunci borgol. Terlihat Ezra masih berusaha mengatur nafasnya.

"Good job, Ezra. Aku bangga padamu," kata Raka sambil mengelus kepalanya dan mengecup bibirnya.

"Raka … kita mau belajar kapan?" tanya Ezra dengan lirih.

"Hm, nanti saja," jawab Raka sambil beranjak dan keluar dari kamarnya.

Saat sudah kembali dengan membawa salep, Raka melihat Ezra sudah tertidur dengan pulas.


Saat terbangun, Ezra melihat dirinya sudah memakai kaos dan celana pendek milik Raka. Dia pun beranjak dan keluar dari kamar. Dia melihat Raka sedang memakan mie di meja makan.

"Hai, Ezra," sapa Raka, "gimana tidurmu?"

Pipi Ezra pun memerah, "nyenyak banget."

"Kamu mau makan? Aku sudah beliin nasi goreng, nih."

Ezra pun mengangguk pelan dan berjalan menuju meja makan.

"Ezra, tunggu! Jangan duduk dulu," kata Raka saat Ezra mau duduk.

"Hm? Kenapa?" tanya Ezra.

Tanpa menjawab pertanyaan Ezra, Raka pun menaruh sebuah bantal di kursi yang Ezra mau duduki.

"Nah, sekarang boleh duduk."

"Makasih ya, Raka."

END


Author's Note: makasih banyak ya udah mau meluangkan waktu kalian buat baca fanfic yang ga berakhlak gini hohoho