Lari, lari, dan lari. Pakaiannya sangat menyulitkannya berlari. Sejak awal ia bukan pelari handal. Dibandingkan orang-orang yang sedang mengejarnya sekarang, ia hanya orang biasa yang dibekali rasa ingin kabur ketimbang bakat kecepatan kaki.

Ia tidak mengerti kenapa semua jadi begini. Cahaya matahari belum cukup bersinar bagi kamarnya yang terhalangi gorden. Jam masih menunjukan pukul tujuh pagi. Bagi perpustakaan yang memulai bisnisnya di perbatasan pagi dan siang, seharusnya ia masih punya waktu setidaknya dua jam. Selimut yang melindungi tubuhnya sedikit menurun, membiarkan hawa musim dingin menyelinap ke dalam kulitnya. Tanpa memikirkan apapun lagi, ia menarik kembali sumber penghangat tersebut.

Bantal yang empuk hendak mengantarnya ke dunia mimpi sekali lagi, tapi ketukan pintu dari luar menghentikannya. Aneh. Biasanya tamu kamarnya datang sekitar pukul delapan. Ia tidak berniat menjawabnya, terlalu malas dan mengantuk untuk merespons. Andai saja ia membukakan pintu dan mengajak siapapun di luar itu dengan baik-baik, mungkin ia tak perlu berlari-lari seperti ini.

Suara Kan terdengar tenang pada ketukan pertama. Ia memanggil-manggil namanya agar segera bangun dan membalasnya. Ia masih terdiam, semakin membungkus diri dengan selimut, berharap Kan menyerah dan pergi meninggalkan singgsananya. Sayangnya, harapannya tidak terkabulkan.

Kan yakin ia sudah bangun. Ia melakukan deduksi dari waktu tidurnya tadi malam ditambah suara si pemilik kamar yang berulang kali mengubah posisi tidur. Karena tidak mau menipiskan 'kesabaran' Kan, ia akhirnya menyerah. Kakinya menyentuh ubin yang dibalut karpet, sensasi dingin sungguh membuatnya enggan mengambil langkah tambahan. Ketika ia membuka pintu, tamu-nya itu pasti mengetahui seberapa kesal-nya ia.

Rupanya bukan cuma Kan yang ada di sana. Hori berdiri di sebelah Kan, tersenyum manis menyapa nama si pemilik kamar. Setelahnya, Kan ikut menyapanya, terkekeh sembari meminta maaf, dan menawarinya pergi ke suatu tempat bersama-sama.

Menjadi penulis adalah menjadi peka terhadap sesuatu—ia pernah mendengar kata-kata itu entah dari mana. Sepintas, ajakan Kan tidak mempunyai maksud buruk. Ia datang dengan yukata tidurnya, memberikan kesan seakan ia juga baru terbangun dari tidur. Tidak ada yang aneh padanya, tapi jika pandangan beralih pada Hori, sesuatu mulai terlihat.

Hori yang biasanya sudah berpakaian rapih siap bekerja, kini hanya mengenakan piyama. Pemuda tersebut membawa sebuah kotak kayu dengan beberapa botol di dalamnya. Ketika ingin memastikan botol-botol apa yang ada di sana, Hori segera menyembunyikannya di belakang punggungnya. Wajah polos yang tak bisa berbohong itu menghasilkan kesimpulan yang sangat jelas, terutama jika arah yang Kan ajak bukan ke arah aula.

Tanpa aba-aba, ia berlari meninggalkan keduanya. Kan mendecah dari belakang, kesal karena rencananya berhasil diketahuinya. Mereka mengikuti dari belakang, meneriakinya agar menyerah dan ikut saja ke tempat yang mereka inginkan. Seharusnya mereka tahu bahwa ia orang yang keras kepala, jadi ajakan seperti itu tidak akan mempan pada dirinya.

Sedikit lagi Kan dan Hori bisa mengejarnya. Kaki yang tak dialaskan sesuatu ini sudah lelah dan kedinginan. Ia harus menemukan tempat berlindung yang aman dari kejaran mereka. Ia terpikirkan pergi ke kamar Saisei, tapi ia tahu orang itu pasti akan sejalan dengan Kan dan memaksanya pergi. Kamar Saku yang pintunya kelihatan dari kejauhan menjadi kandidat selanjutnya. Tidak, tidak bisa. Saku pasti akan melapor pada Saisei dan akhirnya tidak berbeda jauh dari yang ia pikirkan sebelumnya. Kamar Dazai ia anggap sebagai tempat teraman, namun sayang, ia tak tahu di mana kamar pemuda berambut merah itu.

Apa ada teman-temannya yang lain yang dapat menolongnya? Haruo pasti enggan direpoti, Tanizaki akan memakan waktu lama untuk membiarkannya masuk, Yamamoto pendukung nomor satu Kan, dan Matsuoka sejak pagi selalu pergi membantu siapapun yang bisa ia tolong. Bagaimana dengan gurunya? Tidak. Tidak mungkin. Natsume akan malu jika muridnya kabur dari kejaran orang-orang karena ia tidak mau pergi ke tempat pemandian.

Seorang kandidat terakhir terpikirkan olehnya. Jika orang itu, ada kemungkinan ia bisa selamat dari kejaran mereka. Peluangnya 50:50, tapi itu lebih baik daripada bergantung pada orang lain yang sudah jelas tidak akan menyelamatkannya. Letak kamar orang tersebut ada di dekat tangga. Ia cukup berbelok ke kiri dan berdoa semoga saja pintunya tidak terkunci atau meskipun terkunci, pemiliknya bisa segera membukakan pintu untuknya.

Dengan sisa tenaga yang ada di ujung-ujung kakinya, ia mempercepat lari dan berbelok. Sesuai dengan harapan pertamanya, ternyata kamar ini tidak terkunci. Ia buru-buru masuk dan menutup pintunya. Rasa bangga karena berhasil kabur hilang begitu rasa lelah bermunculan ditambah si pemilik kamar terkejut atas kedatangannya.

"Ngapain kamu ke sini … Akutagawa-kun?"

.

.

.

Warm Kotatsu With a Warm Memories

Bungou to Alchemist belongs to DMM Games

Summary: Rutinitas pagi yang dianggap Kume akan menyenangkan perlahan hancur berantakan karena kedatangan seseorang ke kamarnya. Namun, setelah dipikir-pikir lagi, sepertinya ia tidak merasa rugi dengan kebetulan seperti ini. [Happy Birthday, Kume! 11/23/2020]

Warning(s): awful depiction about art references, author can't draw shit but trying to put some bs in this fic, akukume ft. their cute nostalgia, naruse should come to bunal soon, and finally kume being a bad person is something I long so much, might change the tittle later

Untuk pertama kalinya di bulan ini, Kume merasa senang berhasil bangun pagi. Ia masih terjaga hingga pukul dua pagi, tapi entah kenapa ia dapat terbangun sebegini segarnya. Mungkin ini semua karena rebusan krisan yang diberikan Matsuoka tempo hari. Ia berniat membelikan sesuatu untuk temannya itu sebagai ungkapan terima kasih.

Kume meregangkan seluruh tubuhnya sembari mengamati pemandangan di luar. Sekarang sudah memasuki musim dingin. Kegiatan di luar semakin berkurang. Kebun yang biasanya dipenuhi beberapa Bungou pecinta alam pun tampak kosong tanpa penghuni. Kume menghormati pemberhentian aktivitas tersebut. Lagi pula, siapa juga yang mau mengeruk tanah di hawa sedingin ini?

Ia ingin melanjutkan pekerjaannya yang terhenti, tapi ia merasa ada yang kurang. Jika ia duduk bersimpuh di atas bantal yang sama dinginnya dengan tatami di bawah, bukankah nanti tubuhnya menggigil? Yang lebih parahnya, inspirasinya dalam mengerjakan pekerjaannya bisa terhambat hanya gara-gara kedinginan.

Kume sangat tidak suka musim dingin. Padahal Matsuoka sudah berbaik hati memberinya obat penghilang efek mabuk, tapi mereka tetap saja mengganggunya dengan segala cara. Kenapa musim tidak langsung berubah dari musim gugur ke musim semi? Toh kedua musim tersebut tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas. Cocok untuk semua orang.

Tidak ingin dipenuhi oleh keluhan yang tidak membantunya menyelesaikan tugasnya, Kume pergi keluar untuk membuat kopi. Ia mengenakan yukata dan menambahkan jubah agar tubuhnya tetap hangat. Ia bertemu Bungou lain yang pakaiannya kurang lebih sama sepertinya. Ia semakin yakin musim dingin menyusahkan semua orang.

Karena ia bebas dari delving, ia ingin menghabiskan waktu di dalam kamarnya. Maka dari itu, ia membuat kopi sebanyak mungkin dan memasukannya ked alam teko. Setelah merasa harinya dapat berjalan dengan (setidaknya) lebih baik dengan kopi panas, ia tidak menyangka seseorang akan masuk ke kamarnya tiba-tiba ketika teko tersebut baru ia letakan di atas meja.

"Ngapain kamu ke sini … Akutagawa-kun?" mata Kume menajam pada pengunjung kamarnya. Dari yang ia lihat, Akutagawa tampak berantakan. Mungkin ia baru saja lari marathon bak dikejar setan.

Akutagawa mengatur napasnya. Ia mendekatkan kepalanya ke pintu di belakangnya, mencoba mendengar sesuatu, lantas menjawab pertanyaan Kume ketika yang ia takutkan tidak terdeteksi. Wajahnya kebingungan. "Ah, aku … aku …."

Kume menunggu. Akutagawa balas menatapnya, melihat ke segala arah, kemudian menjawabnya dengan pertanyaan. "Kamu baru bikin kopi?"

"Iya, kenapa emangnya?"

Ia tahu betul jika Akutagawa tidak tahu harus berkata apa. Tubuhnya gemetaran, ia juga tidak mengenakan sandal. Kume yang kurang lebih paham kendalanya, mendadak menghela napasnya. "Masuk sini, biar aku siapin kopi dulu."

Dengan ragu-ragu, Akutagawa melangkah, mengatakan permisi dengan suara kecil, dan berhenti ketika ia di depan sebuah kotatsu. Kume tidak menengok ke arahnya sama sekali—ia sibuk menuangkan kopi ke dua cangkir—tapi ia seakan-akan mengetahui apa yang dipikirkan temannya. "Duduk aja di sana. Udah dinyalain, kok."

Perlahan-lahan, Akutagawa duduk di salah satu sisi kotatsu dan memasukan kakinya ke dalam meja berselimut tersebut. Bau minyak dan sensasi hangat memberikan kenyamanan tersendiri. "Makasih, ya."

"Hmm." Kume membawa dua cangkir kopi dan menyerahkan salah satunya ke Akutagawa. Ia mulai ikut masuk ke dalam kotatsu, berseberangan darinya. "Jadi, ada apa kali ini?"

Cangkir kopi yang diberikan Akutagawa jadikan sebagai penghangat tangannya. Berlari-lari di lorong dengan baju tipis tanpa jubahnya di pagi musim dingin sungguh hal yang tak ingin ia ulangi lagi. Untunglah ia dapat menghangatkan kembali tangan yang biasa ia pakaikan sarung tangan ini. "Sebenarnya—"

"Kume-san, apa Anda ada di dalam?" suara orang memanggil sekaligus mengetuk dari luar mengalahkan suara Akutagawa. Kume keluar dari kotatsu dan berjalan menuju pintu kamarnya.

"Hori-kun?" Kume membuka sedikit pintunya. "Ada apa?"

"Anu …" Hori kesulitan menjelaskan situasi. "Apa … Akutagawa-san ada di kamar Kume-san?"

"Akutagawa-kun?"

"Iya, hari ini Kikuchi-san mau mengajaknyapergi ke tempat pemandian." Hori mencoba menjelaskan. "Tapi Akutagawa-san malah kabur dan sekarang menghilang. Kami berpencar dan bertanya ke tiap kamar karena ada kemungkinan Akutagawa-san bersembunyi."

"Hmm."

"Jadi, apa Akutagawa-san ada di sini?"

Dalam situasi tertentu, Hori bisa saja menengok sedikit ke dalam kamarnya dan mengetahui jawabannya sendiri, tapi Kume tahu bahwa Hori bukan orang seperti itu. Ia anak yang sopan, ia pasti lebih memilih bertanya dan memastikan dari pemilik kamarnya sendiri.

Oh, jadi ini penyebabnya seenaknya mampir ke kamarku.

Kebetulan Kume membuka pintu sedikit sekali, jadi Hori tidak tahu situasi kamarnya sehingga Kume dapat menengok ke belakang dan menemukan Akutagawa yang rupanya sedang berusaha memasukan seluruh tubuhnya ke dalam kotatsu. Merasai Kume mengawasinya, ia memohon pada si pemilik kamar dengan tanpa suara. Ia menyatukan tangan di depan wajah, matanya terpejam, dan mulutnya seakan menyuratkan kata 'kumohon, Kume'.

Merepotkan sekali—

"Mana mungkin," ucap Kume dengan sangat yakin. Hori belum merespons apa-apa. "Aku lagi ngerjain sesuatu sendirian."

"Oh, begitu …" suara Hori seakan menyiratkan bahwa ia setengah percaya dan setengah tidak percaya.

Kume membuka pintunya lebar-lebar, mempersilakan Hori memastikan sendiri pernyataannya. "Yang aku bilang beneran, kok."

Hori melihat kamar kosong yang sesuai dengan kata-kata Kume. Kertas berserakan di atas meja menjadi bukti jelas. Karena tidak enak telah meragukan orang, Hori buru-buru menundukan kepalanya. "Ma-maaf sudah mengganggu waktu Kume-san!"

"Nggak masalah." Kume menenangkannya. "Semoga orang itu bisa cepetan ketemu."

"Iya!"


"Jadi, kamu lagi jadi buronan karena ogah pergi ke pemandian?"

Sesi interogasi dimulai. Pintu kamar telah dikunci, cangkir kopi masih terisi penuh, dan Akutagawa duduk dengan kepala menunduk, persis seperti Hori barusan. Kume tidak habis pikir dengan kelakuan temannya.

"Coba deh kamu pikirin." Akutagawa mengeluarkan sanggahannya. "Mana ada sih yang mau mandi di pagi sedingin ini? Bisa mati beku badanku nanti."

"Udah berapa hari absen mandi?"

Pertanyaan Kume tidak dapat dielakan Akutagawa. "Baru tiga."

"Ya ampun, jelas lah mereka ngajak kamu!" Kume sedikit menaikan nada suaranya. "Nyesel aku bohongin Hori-kun. Kalau aku tahu kamu se-males itu sih mending aku laporin tadi."

"Ih, emangnya kamu mau mandi sepagi ini?"

"Nggak masalah." Kume sedikit melambat dalam menjawabnya. "Itu kalau aku nggak mandi tiga kali, sayangnya aku tiap hari mandi."

"Udah, deh. Yang udah berlalu jangan diungkit-ungkit lagi." Akutagawa berusaha mencari celah. "Lagian kamu udah terlanjur bilang gitu ke Tacchanko, 'kan? Kita jadi harus kerja sama."

"Kalau Hori-kun balik lagi, aku bakal lapor."

"Dan liat dia kecewa karena Kume-san nipu dia?" Kume terkejut. Akutagawa mengambil kesempatan yang ia berhasil temukan. "Aku aja nggak tega."

Berargumen dengan Akutagawa bagaikan berlatih tenis menggunakan tembok sebagai lawan. Bola yang dilemparkan pasti akan berbalik lagi kepadanya, seperti yang dialami Kume saat ini. Membayangkan Hori yang kecewa karena mendengar kebohongannya benar-benar mengacaukan pikirannya. Hori adalah anak yang baik, yang selalu mendukung Kume, yang harus selalu tersenyum dan baik-baik sa—

"Terserah, deh." Kume meraih cangkir kopi dan meneguknya sedikit. "Kalau mereka udah nyerah, kamu mesti cepetan keluar."

"Makasih, Kume."

"Aku mau ngerjain sesuatu." Tanpa membalas ucapan terima kasihnya, Kume berbalik menuju meja khusus menulisnya. "Jangan ganggu aku."

"Oke."

Kume mengambil pensil yang dibiarkan tergeletak di atas meja. Kertas yang berada di tumpukan paling atas ia ambil dan jadikan tempat untuk melanjutkan pekerjaannya. Lima menit pertama, konsentrasinya terpusat pada barang di depannya, menit-menit selanjutnya, pikirannya mulai buyar ke mana-mana sehingga pensil yang ia pegang jadi berhenti bergerak.

'Oke' yang dibilang Akutagawa terkesan kurang meyakinkan. Kume bukan orang yang mudah grogi karena diperhatikan seseorang saat mengerjakan sesuatu, tapi bagaimana bisa ia serius jika di antara puluhan orang di perpustakaan ini justru sosok Akutagawa yang ada di dekatnya?

Hubungan mereka sedikit membaik setelah beberapa insiden. Mereka tidak lagi saling enggan menatap, mereka sudah terbiasa berkumpul di satu tempat, berdiskusi layaknya teman biasa. Namun, bagi Kume, itu justru masalahnya. Mereka baru saja menjadi 'teman biasa', kenapa sekarang mereka terpaksa berada di kondisi saling menyimpan rahasia seperti ini? Terlebih lagi Akutagawa canggung dan terus mengamatinya (karena tidak ada hal lain yang dapat ia lakukan).

"Kamu dapat kotatsu ini dari mana?" Akutagawa mengawali pembicaraan saat mengetahui temannya berhenti menulis.

"Seminggu lalu aku pergi ke kota sama Yamamoto." Entah kenapa Kume justru meladeninya. Padahal tadi ia yang memberi ultimatum untuk jangan mengganggunya. "Persiapan buat musim dingin."

"Ah, benar juga." Akutagawa menggosok-gosokan kedua tangannya. Cangkir kopi yang telah ia minum sudah tidak panas lagi. "Bisa beritahu tokonya di mana? Aku juga mau beli. Nggak kuat dingin aku."

"Nanti kukasih tahu."

Suasana kembali hening. Kume mencoba melanjutkan pekerjaannya kembali. Kebuntuan akan ide sangat mengganggunya. Ia memang ingin mencoba hal baru, tapi jika sedikit-sedikit buntu, ia jadi putus asa sendiri. Padahal ia hanya ingin mengekspresikan dari apa yang dilihatnya, padahal—

"Dari cara gerakin pensil, kayaknya … kamu lagi nggak nulis, ya?"

"Akutagawa-kun, bukannya kubilang jangan ganggu aku?"

"Dari tadi kamu belum ngelanjutin," jawab Akutagawa. "Jadi, kupikir kamu lagi buntu."

Kume tahu betul bagaimana jelinya kedua mata Akutagawa menangkap sesuatu. Jika ia meneruskan pembicaraan ini dengan kata-kata yang tidak seharusnya, itu akan mengacaukan hubungan pertemanan mereka yang sedang berusaha diperbaiki ini.

Aku harus sedikit lebih dewasa.

"Aku … lagi gambar." Kume memutuskan untuk jujur. "Pertunjukan yang kemarin kutonton dengan Hirotsu-kun meninggalkan impresi yang nggak bisa kulupakan. Kupikir cara paling bagus buat mengekspresikannya dengan cara menggambarnya kembali."

"Gambar?"

"Iya, aku gambar." Kume bersyukur wajahnya tidak kelihatan dari sudut pandang Akutagawa. Ia malu. "Aku kebingungan gimana gambarnya."

"Maksudku, kenapa menggambar? Jarang-jarang kamu gambar."

"Pernah dengar 'cari angin segar'?" Akutagawa mengiyakan. "Nah, aku lagi pengen rehat dulu dari nulis, mau itu novel ataupun puisi. Sekalian aku pengen lemesin tanganku biar bisa gambar."

"Wah, boleh juga!" tanpa sadar Akutagawa terlalu senang dengan pembahasan ini. "Aku jadi ma … ah, nggak, maksudku, kuharap gambarmu bisa segera selesai. Apa kamu mau nunjukin hasilnya ke orang lain?"

"Mau kusimpen sendiri aja," ucap Kume. "Ini gambar pertamaku di sini. Kalau udah terbiasa, mungkin aku bakal kasih liat orang lain."

"Ah, begitu … baiklah."

Kume memejamkan matanya sejenak sembari menampar pelan kedua pipinya. Ia harus menggambarnya. Imejnya sudah terbayang jelas, hal yang perlu ia lakukan sekarang adalah menuangkannya ke dalam kertas dan menyelesaikannya. Setelah itu, ia dapat kembali pada dunia tulis-menulis.

Tapi … gimana caranya? Aku bisa gambar hal simpel. Ide yang terbayang itu, sayangnya, cukup rumit. Kenapa di saat begini aku terlalu idealis, sih ….

"Akutagawa-kun."

"Hmm, ada apa, Kume?"

"Kamu bisa gambar, 'kan?" Akutagawa mengiyakan dengan sedikit tidak yakin. Kume berbalik mengarah padanya, membawa kertas-kertas yang ia gunakan untuk menggambar, dan meletakannya di atas meja kotatsu agar Akutagawa dapat melihatnya. "Aku bingung harus diapain gambar yang berulang kali kuhapus ini. Bagaimana cara bikin gambar dua orang dansa?"

"Eh, aku udah lama nggak gambar." Akutagawa mengamati sketsa yang hendak Kume gambar. Gambar tersebut berulang kali dihapus dan membekas lantaran tekanan yang diberikan dari pensil terlalu tebal. "Aku lupa, terus aku juga kayaknya nggak pernah gambar kaya gitu, tapi … kurasa kamu bisa mulai dari kerangka tubuh mereka dulu."

"Kerangka itu sendiri gimana?"

"Kamu bisa mulai dari gambar dua lingkaran buat kepala mereka, terus kasih gambaran wajah." Akutagawa berhenti sejenak. "Nggak perlu detil seperti nunjukin bagian mulut atau mata, asal keliatan jelas kalau itu wajah juga cukup."

"Hmm."

"Aku nggak tahu pose dansa apa yang ada di pikiran kamu. Yang ada dibayanganku itu, mereka saling bergenggaman tangan dan si pria memegang pinggang kiri pasangan dan yang wanita memegang bahu si pria. Lalu yang fokus di depannya si perempuan."

"Kurang lebih aku mikirnya gitu, sih."

"Kalau gitu, kamu bisa lanjutin gambar torso si perempuan sampai bagian bawah."

"Hmm." Kume mencatat saran dari Akutagawa di kertas terpisah. "Terus?"

"Gambar sketsa bentuk dan struktur wajah mereka. Dimulai dari bagian bawah seperti dagu, terus dilanjutin mata, lalu rambut."

"Oke."

"Ah, jangan lupa garis buat leher si laki-laki."

"Baik."

"Sisanya mungkin … kasih detil di setiap garis? Mulai gambardetil pada wajah lalu pakaian mereka."

"Penjelasanmu lumayan singkat, ya."

"Aku 'kan penulis cerita pendek."

"Permainan katamu cukup bagus." Kume menyelesaikan catatannya. "Apa ada yang mau kamu koreksi dari gambarku?"

"Kamu yakin?"

"Seenggaknya kamu lebih jago gambar dari aku." Kume meletakan pensil di depan Akutagawa. "Kalau nggak mau, nggak masalah."

"Aku mau, kok!" Akutagawa mengambil pensil dan kertas sketsanya. "Maaf kalau kurang sesuai, tapi aku bakal coba kasih sedikit kerangka dari apa yang kuomongin tadi biar kamu ada gambaran."

Akutagawa mengawali kegiatannya dengan menghapus proporsi badan dua penari tersebut. Perlahan-lahan, ia melanjutkan garis dari kerangka kepala yang telah Kume gambar dan menampilkan torso penari perempuan yang jauh lebih jelas dari sebelumnya. Ketika ada sedikit garis yang kurang memuaskan baginya, Akutagawa menghapusnya kembali sampai kerangka badan sudah cukup baik.

"Bagaimana?"

"Hmm … aku jadi kepikiran selanjutnya harus gimana, kayaknya."

"Kamu yakin?"

"Kamu meremehkanku?"

"Nggak, kok." Akutagawa menahan tawanya. "Aku cuma … entah kenapa aku yakin kamu punya kepercayaan diri yang cukup buat gambar ini."

"Kepercayaan diri?"

"Kamu yang berjuang nuangin ide yang kamu punya ke dalam gambar, kamu yang nyatet langkah-langkah yang kusebutin, terus kamu yang masih mau lanjutin, menurutku itu semua bisa bikin kepercayaan dirimu nambah."

Kume menoleh ke arah lain. Tidak ada kata yang keluar darinya.

"Sebenernya, aku jadi keinget jaman dulu." Mendadak Akutagawa mengganti pembahasan.

"Apa?"

"Aku inget aku sama Naruse sering mampir ke tempatmu." Mata Akutagawa seperti sedang menerawang ke suatu tempat. "Kamu yang biasanya sering bolos demi nulis cerita selalu sediain kamarmu buat kita sekadar mampir dan ngobrolin apapun tentang cerita kita masing-masing.

"Terus kebetulan kamu baru beli kotatsu ini, ditambah lagi aku minum kopi buatanmu, rasa-rasanya kenangan itu semakin jelas dan kita kaya lagi mengulang hal yang sama. Pembedanya Naruse nggak ada di sini, sih."

"Dia masih belum dipanggil."

"Aku harap dia bisa secepatnya kita bawa ke sini," ujar Akutagawa. "Nanti kita bisa reunian karena personil Shinshichou ke-empat ngumpul semua."

"Meski gitu, Yamamoto jangan dilupain."

"Jelas, dong!" Akutagawa setuju dengan pendapatnya. "Yamamoto-san juga bagian dari Shinshichou."

"Aku jadi kepikiran." Kume berusaha mempertahankan wajah datarnya. "Kita … tumben banget ya, ngobrol kaya gini."

"I-iya juga, ya. Tiba-tiba ngalir aja gitu, obrolan kita."

"Semua berawal dari kamu yang seenaknya masuk kamar orang, bersembunyi, dan memaksaku bohong ke Hori-kun biar kamu nggak mandi." Kume menyebutkan dosa-dosa apa saja yang dilakukan Akutagawa di hari ini. "Padahal ini masih pagi."

"Maaf, deh, maaf." Akutagawa merasa tidak enak. "Suatu hari nanti kuba—"

"Tapi kamu udah kasih aku referensi gambar yang ngebantu aku banget." Sebelum sempat menyelesaikan, Kume sudah berkata duluan. "Jadi, kuanggap kita impas, seenggaknya."

"Kume …."

"Aku ogah sebenernya bilang gitu." Kume hendak menutupi wajahnya dengan topi, tapi ia baru sadar jika ia sedang tidak memakai pakaian lengkapnya. Ia mendecah lantaran wajah malunya terlihat temannya. "Pokoknya, sesuai kata-kataku tadi, kamu harus keluar secepetnya kalau mereka—"

"Kume."

"Apa?"

"Apa kita …" Akutagawa menelan ludahnya. Matanya menatap Kume dengan tatapan memohon. "Apa kita nggak bisa kaya … dulu?"

Tidak ada yang bicara setelahnya. Akutagawa menunggu jawaban darinya. Ia was-was, takut jika apa yang ia berusaha bahas justru membuat hubungannya buruk kembali.

(Apa kita nggak bisa kaya dulu?)

Pertanyaan yang amat tabu bagi mereka berdua akhirnya keluar dari mulut Akutagawa. Kume tidak menyangka momennya akan secepat ini, terlebih lagi ketika kebetulan mereka berada di tempat yang sama berduaan saja. Apa yang harus ia katakan? Tunggu, sebelum mengatakan sesuatu bukankah ia harus menentukan perasaan yang ia simpan? Ia tidak lagi menyimpan kemarahan pada Akutagawa sampai-sampai tak mau melihat wajahnya, tapi, jika ia menjawab sesuai dengan perasaannya, mereka bisa—

"Itu …."

"WOI, RYUU! AKU TAU KAMU SEMBUNYI DI SINI!" teriakan Kan menutupi suara Kume. "BURUAN KELUAR!"

"Lho, lho, kok, Kan—" kebingungan Akutagawa tak berlangsung lama ketika Kume tiba-tiba sudah berdiri dan menarik tangannya, menyeret Akutagawa menuju pintu keluar. "Eh, Kume, tunggu, kamu mau a—"

Kume membuka pintu kamarnya dan menunjukan sosok tamu gelapnya pada Kan dan beberapa orang yang berkumpul di depan kamar Kume. Beberapa dari wajah mereka menampakan kekesalan.

"Akutagawa-san beneran ada di sini?!"

"Akutagawa, kenapa sih buat mandi aja malesnya minta ampun?! Kebangetan!"

"Ryuu-kun, mereka semua mikir aku nyembunyiin kamu, padahal kamu jelas-jelas kabur ke kamar lain …."

"A-Akutagawa-sensei … kalau mau mandi, na-nanti a-aku bakal go-gosok punggung sensei, kok …."

Akutagawa menengok ke arah Kume yang berada di depannya, berusaha mencari tahu jawaban dari kemunculan mereka semua. Seakan memahaminya, Kume memberikan jawaban. "Sebelum kamu minta sesuatu sama aku, mending sekarang kamu mandi dan bersihin dirimu dulu."

"Ta-tapi—"

"Nggak ada tapi-tapian!" Kan mendekatinya, takut-takut jika Akutagawa berusaha kabur lagi meskipun sudah dijaga lebih dari lima orang. "Ikutin kata Kume!"

"Iya, aku ngerti, Kan." Akutagawa tidak menolak suruhannya. "Tapi, aku mau nanya ke Kume. Kalau misalnya aku udah mandi, aku mau tau jawaban dia apa dari pertanyaanku barusan."

Kume melepaskan tangannya dari Akutagawa. "Aku nggak tahu kamu mau ngomong apa tadi."

"Bohong!" spontan Akutagawa berteriak, mengagetkan mereka semua. "Kamu mau bales, kok! Aku denger kamu mau bilang sesua—"

"Kan, kayaknya dia berusaha mengelak biar bisa nyari celah, deh."

"Ryuu!"

"Ih, nggak!" Akutagawa menahan urat malunya. Kan sudah menariknya keluar. "Kume, kamu bohong dua kali lipat, lho! Ke Tacchanko, terus sekarang ke aku!"

Meskipun ia diseret oleh Kan, Akutagawa tetap mengamati raut wajah Kume yang bermula dari sedikit kaget karena teringat kembali dengan obrolan mereka soal Hori berubah menjadi muka layaknya pemeran antagonis yang jelas-jelas ditunjukan untuk Akutagawa seorang.

"Siapa yang bilang sih kalau aku orang baik?" Kume tersenyum menyeringai. "Seharusnya kamu tahu itu lebih dari siapapun, Akutagawa-kun."

Kume segera berbalik, tangan kanannya membuka pintu kamar, dan tangan kirinya melambai. Sebuah tanda, sebuah makna, yang mungkin tersembunyi dari keraguan Kume saat menjawab Akutagawa dan sesuatu yang seharusnya dipahami keduanya. Begitu menyadarinya, Akutagawa tersenyum senang, merasa puas atas pencapaian yang mereka berdua dapatkan, tapi semua itu tak berlangsung lama ketika Kan semakin menyeretnya dan orang-orang di sekitar menganggapnya aneh.

END

Omake:

Kume membuka pintunya lebar-lebar, mempersilakan Hori memastikan sendiri pernyataannya. "Yang aku bilang beneran, kok."

Hori melihat kamar kosong yang sesuai dengan kata-katanya. Kertas berserakan di atas meja menjadi bukti jelas bahwa Kume sedang mengerjakan sesuatu. Ketika matanya beralih pada kotatsu yang ada di tengah, ia menemukan kejanggalan. Terdapat dua buah cangkir di atas meja kotatsu. Kume tidak mungkin meminum kopi menggunakan dua gelas, jadi Hori memicingkan matanya dan menatap si pemilik kamar, berniat untuk menanyakan kebenaran pernyataannya—

—sampai Kume meletakkan telunjuknya di depan bibirnya, memberi gestur agar Hori tidak mengeluarkan kata-kata. Hori menurut. Tangannya menunjuk dua cangkir tersebut dan matanya meminta penjelasan. Kume menurunkan telunjuknya, mulutnya mengatakan sesuatu tanpa menggunakan suara, yang anehnya dapat Hori pahami.

Datanglah lagi setelah selesai mengecek semua tempat di sini. Ada hal yang ingin kubutuhkan darinya dan itu bisa sekalian membuatnya lengah sejenak. Bagaimana?

Hori yang mengetahui sikap Akutagawa dan keefektifan rencana Kume mulai membalasnya dengan anggukan yang dilanjutkan dengan tundukan kepala. "Ma-maaf sudah mengganggu waktu Kume-san!"

"Sejak kapan Kume jadi kaya gitu …." Akutagawa mengeluh sepanjang perjalanan. Ia mengabaikan ceramah yang keluar dari Saisei maupun Kan. "Aku bingung, sumpah bingung."

"Lu-lupain aja kata-kata dia, Akutagawa-sensei!" Dazai berusaha menghiburnya. "Yang penting sekarang sensei mandi dulu sama kita, pasti nanti jadi nggak bingung lagi!"

"Hahaha … masa, sih …."

"I-iya tenang aja, sensei!"

"Aku rasa perjalanan Akutagawa-san sama Kume-san masih jauh, deh." Hori mendadak keceplosan.

"Eh? Tacchanko tadi ngomong apa?"

"Ah, bukan apa-apa." Hori terkekeh. Mungkin ia terkesan mencurigakan, tapi ia pikir tidak buruk juga. "Aku senang bisa lihat hal-hal menarik di pagi sedingin ini!"


Author's Note: HAPPY BIRTHDAY KUMEEEEEEEEEE SAYA BISA SURVIVE BIKIN FIC INI (DAN YG SATUNYA LAGI) DEMI KAMU LHOOOOO

Fic ini sendiri sebenernya udah agak lama dibuat, kira-kira seminggu sebelum hari H. Semula berawal dari saya beli kotatsu di gimnya, terus tiba-tiba kepikir "lahiya, kenapa gak bikin akukume ditambah kotatsu? Toh di aktgw 'ano koro no jibun no koto' ada sedikit pembahasannya tentang itu." Akhirnya fic ini jadi deh setelah ditambah penjelasan gambar yang dibuat oleh orang yang gak bisa gambar wwkwk

Beberapa trivia:

- Baju mereka bisa dibayangin dari alt/memoria mereka di game. Kaya Hori pake piyama, yukata Kan, dstdst

- di Ano Koro Jibun no Koto-nya Akutagawa, sempet ada penjelasan tentang Kume yang sering bolos demi nulis. Akutagawa & Naruse pernah mampir ke tempatnya, ngobrolin karya mereka sambil minum kopi & masuk ke kotatsu

- Referensi gambar dua orang dansa diambil dari Dragonart (artist: Dawn)

- Naruse itu salah satu orang Shinshicou edisi keempat yang belum muncul di bunal. Mari berdoa semoga dia bisa muncul di bunal biar personilnya lengkap

- Kume jadi kaya antagonis? Saya terinspirasi dari Good Friend Bad Friend buatan dia sendiri

Sebenernya banyak hal yang mau saya bilang, apalagi hari ini hari ulang tahunnya, tapi saya rasa segini juga cukup. Makasih udah baca fic ini, semoga akukume semakin menjamur. Sekali lagi, HAPPY BIRTHDAY KUME!