PUTRI YANG HILANG
Gray Fullbuster - Juvia Lockser
Story by Cristine
Fairy Tail - Hiro Mashima
Warning for mature content
Bab 1 : Malam Memanggil
Langkah kaki jenjang seorang gadis tidak lagi anggun. Seluruh tapaknya nyaris hancur dihujam dinginnya petang. Batu menghantam jarinya selama tiga hari, kakinya terantuk bermil-mil jauhnya.
Tanpa makan dan minum menyapa kerongkongan sang gadis.
Bajunya hampir terkoyak dengan noda darah yang tak sedikit. Rambut biru cerahnya tak lagi bersinar, sudah ditelan kelamnya hidup.
Dia, sudah mendekati ajal.
Jika saja tongkat di tangannya enyah enggan menopang tubuhnya, mungkin saja ia sudah merangkak.
Tapi tongkat itu tidak sekuat tekadnya untuk hidup. Maka kayu yang dipegangnya patah, terjatuhlah ia berhambur ke atas tanah keras.
Napasnya tersengal. Matanya menggelap. Sekuat apapun ia berlari, terseok, menjauhi kenyataan, tetap saja ada batasnya.
Kelopak mata hampir saja menutupi seluruh pandangan sang gadis, bahkan masa depannya, jika saja ia tidak dipungut.
Tubuhnya yang lemas dengan pasrah diangkat secara kasar oleh gerombolan prajurit istana di tanah yang ia singgahi, dan dengan kencangnya punggung mungil itu terhempas pada dinding kereta kuda.
Mata itu menyayu.
Oh, apa aku masih dipaksa untuk hidup? Ia membatin dengan kekehan lemah. Hidup untuk merdeka atau berjalan di neraka?
Berjam-jam si gadis disiksa secara fisik dan psikologi dalam ruangan remang dan lembab. Memaksa dirinya untuk angkat bicara tentang siapa dia.
Namun yang didapat para barisan prajurit itu hanya keheningan. Berulang kali tubuh dan wajahnya dihujam pukulan tak manusiawi, dia tetap terdiam.
Membuat Pemimpin Pasukan menyerahkan gadis itu ke hadapan Kaisar dengan tak kalah biadab. Ia dirantai, diseret lalu dilempar ke bawah kursi Sang Kaisar.
Sebelumnya mereka merunduk, menghindari mata Kaisar yang memicing.
"Yang Mulia, saya membawa orang ini ke hadapan Anda atas perintah Anda, bahwa siapapun yang masuk ke tanah Fiore tanpa pengabdian harus dihukum mati" tegas pria paruh baya yang diakui sebagai Pemimpin Prajurit.
Kaisar itu melihat gadis yang begitu kotor kulitnya dan berantakan wujudnya dengan tanpa belas kasih, bertanya dengan nada dingin. "Siapa namamu?"
Hening kembali ia ciptakan. Beraninya dia tidak menjawab pertanyaan Kaisar.
"Yang Mulia, dia tidak akan menjawab seperti sebelumnya"
Sang Kaisar, Gray Fullbuster, menyipitkan mata gelapnya. Ia melepaskan sanggahan tangannya di dagu. Menegakan kepala untuk menegaskan pandangannya.
"Jelaskan siapa dia padaku" perintahnya.
"Dengan hormat saya menjawab, Yang Mulia, anak buah saya memungutnya di perbatasan Fiore jam dua dini hari," jawabnya. "Dari kondisinya, ia terlihat tidak makan, minum dan tidur selama tiga hari tiga malam."
Masih menyipit, Gray menarik napas singkat lalu mengangkat dirinya dari kursi takhtanya, menuruni tangga sehingga membuat para prajurut waspada.
Bagaimana tidak, mereka ngeri jika saja salah satu kepala akan ditebas siang ini. Mungkin menurut Kaisar kerja mereka tidak becus sampai tidak bisa mencegah seorang gadispun.
Tetapi itu sendiri adalah perintahnya. Tidak ada eksekusi untuk warga sipil atau orang biasa tanpa persetujuan darinya.
Sang Kaisar mendekati si gadis. Memerhatikan sekujur lukanya yang melekat jelas. Membuat Gray berpikir, gadis ini cukup tangguh untuk ukuran wanita biasa.
Dikatakan wanita biasa karena postur tubuhnya tidak memungkinkan jika ia adalah mata-mata Negeri lain. Badannya kurus, pendek, tatapannya tidak tegas. Mungkin ia hanya trauma sebentar, itu sebabnya dari tadi dia hanya bungkam.
Gray menarik pucuk kepala gadis berambut biru tersebut. Menampilkan wajah dengan cairan darah di ujung pelipis, muka pucat pasi dan tatapan yang kosong.
"Dia hanya gadis kampung biasa" ucapnya sambil menghentikan investigasinya lalu kembali duduk. "Jadikan ia budak, aku ingin dia melayaniku"
"Tapi Yang Mulia, mungkin dia bisu, Anda bisa kesulitan-"
"Ini perintahku" ucapan Purehito, si Pemimpin Pasukan tadi dengan cepat berhenti karena Kaisar memotongnya. "Apa kau seorang Raja baru sehingga berani mengaturku?"
Nada dingin, intens dan tajam itu membuat Purehito dan seisi ruangan menenggak ludah. Apalagi jika melihat mata sayu sang Kaisar memicing.
Ah, tidak ada satupun yang mau merasakan pedang excalibur es milik Kaisar menebus jantung mereka seperti yang biasa Gray lakukan ke orang-orang yang ia tidak suka.
"A-ampuni saya Yang Mulia," Purehito tergagap seraya ia merunduk hormat. "Tetapi alangkah baiknya jika dia membuktikan bahwa ia bersumpah melayani Anda"
Gray yang acuh akan saran Purehito, hanya terdiam sambil terus melihat gadis yang merunduk itu. Jika diperhatikan, selama berapa belas menit mereka berbincang, posisi gadis itu tetaplah sama. Ia tidak bergerak sama sekali. Tanpa gemetaran, tanpa ketakutan.
Dia menyeringai tipis, "Tidak perlu, aku tahu dia akan setia." Katanya membuat Pemimpin Pasukan itu merasa rendah harga dirinya karena tidak didengarkan.
Hatinya panas apalagi Gray mengancamnya di depan anak buahnya sendiri. Ia harus menelan malu secara mentah-mentah.
"Bawa dia ke ruang perawatan," Gray kembali memerintah. Maka para Pelayan membantu sang gadis untuk berdiri.
Tetapi setelah tegak tubuhnya, dengan sedikit meringis dan goyah kakinya, ia mengeluarkan kalimat yang cukup membuat Gray terkesan.
"Nama saya Juvia Lockser," katanya tertatih untuk merunduk hormat dengan pelan-pelan karena sakit di sekujur tubuhnya tidak bisa membuatnya bergerak bebas. "Bersumpah untuk melayani Anda sampai saya mati, untuk membalas kebaikan Anda karena sudah mengampuni hidup saya."
Wah, wah. Sedikit terkejut. Gray kembali menyeringai saat dengar bahwa suara gadis itu tidak bergetar atau mendesis kesakitan sedikitpun.
Sungguh wanita yang menarik.
"Lekaslah sembuh Lockser, dan layanilah aku segera"
Juvia kembali merunduk hormat, lalu berpincang mengikuti pelayan untuk mendapat perawatan.
Matanya masih mengekor sampai pandangannya kehilangan sosok Juvia.
Lalu setelah Juvia seutuhnya keluar dari ruangannya, Gray kembali memasang wajah datar dan dingin. "Bubarlah, aku tak ingin melihat kalian di sini" perintahnya.
Mereka semua menunduk hormat, tak tekecuali Purehito yang bergegas pergi membawa kebencian dalam dirinya. Bersumpah dalam batinnya bahwa ia akan segera membalas kesombongan Kaisar muda itu.
Juvia Lockser.
Agaknya ia masih saja berpikir bahwa wanita itu bukan gadis biasa. Dia sungguh meninggalkan kesan di mata Gray.
Sangat berbanding terbalik dengan apa yang diutarakannya di depan publik tadi. Berbeda dengan apa yang ia pikirkan secara pribadi, ia penasaran asal-usul Juvia.
Mungkin suatu saat gadis itu akan membelot dan melawannya, mungkin saja. Karena penampilannya begitu menipu. Tubuhnya yang kecil ternyata menampung semua penderitaan fisik itu.
Juvia. Aku akan tahu siapa kau.
Bersambung...
Ya, maaf kalau masih pendek karena aku harus taro cerita selanjutnya di Bab 2. Tapi aku usahakan selalu publish secepat kilat.
Bye bye!
