"Nee, Shuusei, kamu salah satu orang yang pertama dibangkitkan di sini, kan?"

Masih dengan Touson, Shuusei, juga sepiring manjuu rasa green tea yang isinya barusan dimakan satu karena gabut. Setelah obrolan absurd tentang mimpi Shuusei di taman dan kappa berakhir, Touson berinisiatif membuka percakapan baru dengan melempar pertanyaan.

Shuusei mengernyitkan dahi. "Ya?"

"Bagaimana rasanya?" Touson menatapnya dengan tatapan ingin tahu.

"Rasanya?"

"Aku yakin kamu lebih banyak punya pengalaman di sini."

Shuusei diam sebentar.

Sebagai salah satu sastrawan yang paling pertama dibangkitkan—bahkan betul-betul pertama, sebelum Oda Sakunosuke dan yang lainnya turut dipanggil untuk membantu—tidak heran apabila Shuusei memiliki pengalaman yang paling banyak apabila dibandingkan dengan yang lain. Pengalaman dan kenangan, baik maupun buruk, semuanya.

Namun ...

"Entahlah."

"Eh?"

Satu manjuu Shuusei ambil, kemudian dimasukan ke dalam mulut sementara di saat yang sama kedua bahunya terangkat.

"Banyak hal yang terjadi di tempat ini," ujarnya.

Touson mangut-mangut. "Hee ..."

Banyak—ya, banyak sekali. Tentang orang-orang yang ia kenal akhirnya mulai berkumpul satu per satu, tentang Kyouka dan Kouyou, tentang hal-hal yang harus ia urus apabila ada masalah di perpustakaan ini. Sejujurnya Shuusei tidak terlalu menyukai hal-hal yang begitu berisik dan merepotkan, sayangnya perpustakaan ini justru berisi hal-hal semacam itu.

"Tapi ..."

Touson melirik ketika Shuusei bicara lagi. Pemuda di hadapannya sekarang tengah mengulum senyum tipis, namun tulus

"Yah, aku rasa aku cukup senang." Pemuda itu terkekeh kecil.

Shuusei akan selalu ingat bagaimana orang-orang yang kenal baik dengannya membalas senyumnya dengan ramah, atau mengucapkan selamat pagi kala berpapasan di koridor ketika matahari baru saja naik ke atas. Ia dan Kyouka juga mulai berbaikan untuk beberapa hal—meski pemuda penyuka kelinci itu tetap menyebalkan dan kadang bikin jengah. Dan di samping semua itu, ia sudah beberapa tahun hidup satu atap dengan orang-orang yang berisik ini, ramainya mereka lama-lama jadi hal biasa, dan Shuusei turut terbiasa karena selalu dekat dengan mereka sejak awal.

Touson mengerjap-ngerjap. "Cukup senang?"

"Tempat ini lumayan menyenangkan, menurutku." Shuusei menghela napas kecil.

"... Begitu ..." Touson terkekeh. Bibirnya menyunggingkan senyum usil pada Shuusei. "Shuusei ternyata manis juga, ya?"

"A-apa maksudmu?!"

"Apa, hayo?"

"Hei?!"

Touson tertawa kecil.

.

.

.

Rasanya Jadi yang Pertama

[#bunalember2020 day 22 (happiness) and day 30 (starter)]

Bungou to Alchemist belong to DMM Games

[note: masih satu timeline dengan entry day 10]

Thank you for reading!

~o~

Saia ngegabung day 22 sama day 30 sebenernya supaya gaada tanggungan lagi (berhubung entry buat besok udah siap dari kemaren-kemaren, ya pendek sih :'). Besok uas soalnya (meski sebenernya pira tetep bandel suka nulis fic meski lagi ujian, kebiasaan ini /ditebas). Jadi gitu, iya gitu /apa Vir

Omong-omong memorinya Shuusei di ring mode (yang jadi salah satu acuan buat Pira bikin fic ini) manis banget, adem liatnya ;v;)