PUTRI YANG HILANG
.
Gray Fullbuster - Juvia Lockser
.
Story by Cristine
Fairy Tail - Hiro Mashima
.
Warning for mature content.
Bab 2 : Gray Fullbuster
.
Tanah Fiore masih dipegang oleh kekuasaan Raja Zeref Dragneel, ketika Gray Fullbuster seorang anak dari Duke, keluarganya telah bersumpah untuk mengabdi kepada Zeref seumur hidup, sudah dijalani selama tiga ratus tahun terakhir.
Memiliki hubungan bisnis dan rekan yang sangat kuat melebihi keluarga bangsawan Heartfilia, Fullbuster dianggap ancaman di masa mendatang karena sebuah alasan yang menurut beberapa orang hanyalah fiksi belaka.
Rumor tentang keluarga Fullbuster menguasai sihir gelap Pembasmi Iblis yang ditakuti oleh Zeref karena mereka merupakan keturunan Iblis murni, Zeref memutuskan untuk membantai sampai ke akarnya sebelum mereka bertumbuh semakin banyak dan kuat.
Malam itu, sekitar delapan tahun silam, Gray muda memimpin pasukan perang yang gentar melawan ratusan Prajurit Istana. Heran akan mengapa serangan ini begitu mendadak tanpa negoisasi.
Apa yang telah kami lakukan? Pertanyaan tolol itu selalu mengotori sepanjang jalannya perang sehingga ia sering tak mampu menghindar dari sayatan pedang musuh.
Gray semakin ketakutan, apalagi melihat tangan kanan Ayahnya, Mard Geer mati mengenaskan dengan tubuh membentang tanpa kepala.
"Gray! Jangan lengah! Aku akan bertarung di sampingmu sampai mati!" Begitu ucapan Lyon Vastia yang membuat asa Gray menguat walau sedikit.
Tetapi keadaan semakin terhimpit kehilangan kesempatan untuk menang. Napas memburu berat, jantung sembarang berdetak. Gray tidak mampu berpikir jernih, dia harus menjaga benteng depan tetapi pasukan lawan sudah masuk ke dalam Kastil, menerobos sampai ke ruang persembunyian Silver dan Mika, orang tuanya.
Tidak! Saat itu juga dia berlari masuk ke dalam. Bodoh memang. Gray secara sadar menanggalkan harga diri sebagai Jenderal, membiarkan pasukannya mati di barisan depan tanpa arahan. Ia hanya berharap agar Lyon dapat bertahan hidup.
Tetapi orang tuanya sedang dalam bahaya, dia tidak peduli statusnya. Terserah mungkin seusai perang ia akan dicap sebagai pecundang yang mendengarkan hatinya seperti Putri yang ceroboh.
Maka ia semakin cepat berlari, membawa pedang bajanya, segera menghabisi lawan di depan mata berharap ia datang tepat waktu dan dapat melindungi Duke dan Duchess yang telah...
Mati.
DEG
Napasnya melamban.
Desiran darah di tubuhnya tak lagi terasa. Lidahnya kelu tak sanggup membuat kata.
Merekam langsung bagaimana Ayah dan Ibunya direnggut tanpa ampun bahkan tanpa peringatan. Menginjak betapa deras darah mengalir sampai ke daun pintu seolah darah itu berteriak memanggil namanya, menuntut mengapa tak sanggup diselamatkan.
Mereka, para musuh, menari merayakan kemenangan di atas tubuh Silver yang telah mati.
Malam itu, Gray, melupakan ketakutan dalam hatinya. Gemetar pada kakinya berhenti. Seketika menghapuskan pertanyaan Mengapa mereka menghianati kami?
Saat itu juga amarah menyelimuti dan memakan dirinya terlalu nikmat. Gigi yang gemeretak menimbulkan suara sehingga musuh menyadari kehadiran Gray.
Namun apa boleh dibuat.
Mereka telah membangunkan singa lapar yang tertidur pulas.
Aura hitam menyelimuti sekeliling keturunan terakhir Fullbuster, menjalari separuh tubuhnya, membuat Gray nampak seperti Iblis dengan rambut terangkat dan mata memutih.
Gray, yang membuat sang Ayah khawatir karena sampai berumur dua puluh dua tahun tidak bisa menggunakan sihir, kini mengerahkan seluruh kemampuannya yang terpendam. Seolah sihirnya bangkit dari kubur, kini ia memenggal kepala lawan membabi buta, tidak peduli rasa sakitnya, tidak mau tahu arti manusiawi, intinya Gray hari itu menghabiskan detik demi detik untuk membantai seluruh pasukan Zeref.
Ia menusuk lawannya dengan tangan kosong, memotong dengan jari yang tumpul, bermandikan darah dengan bangganya.
Segera Gray menuju ke Istana Zeref tanpa pasukan, mengalahkan mereka dengan sekejap, bahkan Zeref yang saat itu dikenal sebagai Raja Agung yang dahsyat, ditaklukan.
Dia tertawa.
Tawaan kemenangan yang sepertinya belum memuaskan hasrat. Ia membuat pedang excalibur dari es dengan sihir, lalu dihujamnya tubuh Zeref sampai menembus kursi kebesaran itu.
"Kau tamat, bedebah" kalimatnya sangat dingin menusuk melebihi suhu minus seluruh Istana karena Gray telah membekukan sampai radius satu kilometer.
Belum cukup, ia membatin.
Saat invasi di Kastil Fullbuster, ia melihat baju Zirah dari banyak keluarga bangsawan, itu artinya setiap bangsawan mengirim Prajurit untuk membentuk sebuah pasukan besar yang menyerang Kastil Fullbuster.
Aura di sekeliling Gray semakin hitam pekat. Darahnya mendidih, tinjunya mengepal. Seharusnya ia segera pergi membantai para bangsawan malam itu, membalaskan dendam seluruh keluarga Fullbuster serta membalikkan harga diri mereka, namun, seorang wanita menghentikan niatnya.
Kemarahannya mereda saat melihat perempuan itu. Irisnya kembali pada bola mata Gray, menatap si wanita dengan tidak lagi memicing. "Ur" dia berujar pelan.
Dengan pincang kakinya, Ur memasuki Istana dan menghampiri Gray. Tubuhnya kotor akan darah karena ia juga terlibat perang mengingat Ur adalah salah satu Ksatria Perang wanita. Dia memiliki figur penting dalam hidup Gray.
"Sudah..." ucapnya menggantung, masih menyeret kakinya agar ia bisa meraih wajah Gray ke dalam pelukannya. "...sudah cukup Gray, Zeref sudah mati, aku tak ingin kau terluka lebih lagi" Ur memeluknya erat.
"Bagaimana kau bisa sampai ke sini?"
Nampaklah dua orang pria dengan kemampuan sihir yang sama dengan Gray -mereka berdua dipungut oleh keluarga Fullbuster lalu mempelajari sihir Es- menampakan diri ke hadapan Gray dan bersujud. "Kami mengantar Ur ke sini"
"Lyon, Invel"
Masih bersujud dengan satu lutut di atas lantai dan yang lain menopang lengan, "Terpujilah seumur hidup Yang Mulia Gray Fullbuster" mereka berkata serentak. Demikian Invel menyusul, "Kami akan mengabdi sampai mati"
Gray menghela napas pelan. Menjauhi tubuh Ur dan berjalan mendekati mayat Zeref. Ia melempar tubuh Zeref asal lalu menduduki kursi Raja.
"Tak ada lagi Raja di Fiore" katanya menggantung. Dengan kuat ia mengangkat pedang es itu lalu menancapkan ke lantai. "Era baru telah dibuat, Kekaisaran telah lahir. Kumpulkan pasukan yang setia di seluruh penjuru padaku, siapa yang tidak mau, akupun tidak sudi melihat mereka hidup."
Dan kata-kata itu dideklarasikan, semua disaksikan oleh masyarakat yang mengerubung melihat kekejian terjadi langsung tanpa jeda.
Membuat Ur menyayu, sekali lagi menangis dibuatnya. Ur menunduk, tangannya gemetar. Akan jadi apa Gray setelah ini?
Dari situlah, Gray mengambil alih kepemimpinan Zeref dan menjadi Kaisar.
Kaisar yang tidak dicintai.
Karena legenda dan cerita akan dirinya menyebar ke seluruh benua, bahwa ada satu Pemburu Iblis yang menjadi Pemimpin Takhta. Pemburu Iblis yang padahal orang melihatnya sebagai...
...Iblis.
Sinar mentari menyapa wajah seorang gadis begitu lembut. Memperlihatkan lebam dan luka yang membekas.
Kelopak matanya mengedip anggun merasakan bahwa dirinya sudah tertidur lama di atas kasur empuk.
Ia melihat sekujur tubuhnya, semua luka tertutup aman oleh perban.
Baju kotornya juga sudah tergantikan dengan jubah tidur halus yang nyaman.
Iris birunya mencari-cari keberadaan orang lain. Oh, dia berasumsi bahwa ruangan ini adalah mungkin kamar pelayan. Karena kasurnya tidak begitu besar dan begitu standar. Pun dengan keseluruhan yang ada di kamar ini, semua serba terbatas.
Suara pintu terbuka menyudahi penantian akan hadirnya seseorang.
Dia adalah wanita paruh baya yang masih terlihat segar dan cantik. Rambutnya pendek, berawarna hitam, tatapannya begitu syahdu. "Selamat pagi, Juvia" dia menyapa.
Meletakkan segelas susu, semangkuk bubur dan irisan buah.
"S-selamat Pagi, Nyonya, tapi ini terlalu berlebihan, Juvia sudah sepenuhnya pulih"
"Panggil aku Ur," katanya sambil duduk di tempat tidur, persis dekat tubuh Juvia. "Kau memiliki daya tahan tubuh yang hebat, hanya tertidur tujuh jam tetapi kondisimu sudah terlihat baik"
Juvia menggeleng pelan, merasa canggung didekati oleh Ur apalagi dia memperlakukan Juvia sebegitu akrabnya. "Bukan karena kemampuan tubuh Juvia, tetapi kebaikan Nyonya Ur yang menyembuhkan Juvia"
Ur tersenyum lembut. "Pandainya kau memuji orang," ia menyodorkan segelas susu ke hadapan Juvia. "Panggil aku Ur. Kalau tidak suka, sebutlah aku Ibu."
"W-wow, bukannya tidak suka, hanya saja... um... Baiklah, Ibu, Juvia sangat suka menyebutnya" mereka tertawa pelan.
"Jika sudah lebih baik, kau diminta Yang Mulia untuk menghadap padanya,"
Juvia mengangguk tanda paham.
Tetapi Ur yang malah tidak mengerti mengapa sepertinya si gadis tidak merasa takut atau gelisah. Respon Juvia sangat tenang. Apalagi mengingat bahwa dia adalah orang asing yang wajib menghadap langsung ke Kaisar. Masakan ia tidak bertanya-tanya?
"Pakailah baju yang ada di sana," Ur menunjuk pojok ruangan yang terdapat lemari. "Aku harap kau tak lama karena Kaisar tak terlalu suka menunggu"
"Dimengerti" jawab Juvia.
Ur tersenyum singkat. "Meskipun kau begitu cantik, tapi berdandanlah agar Kaisar menyukaimu. Dia tidak memilki selir atau apa, mungkin kau bisa jadi pendampingnya," dia terkekeh. Menyembunyikan rasa penasaran karena Ur berpikir Juvia tidak merasa bahwa ucapan itu memiliki arti.
"Juvia akan bersikap semampunya, Ibu"
Sangat sangat berbeda. Ketika Juvia mengobrol santai dengannya tadi, Juvia menggunakan bahasa santai dan nada yang malu-malu. Sedangkan ketika membahas Gray ... mengapa gaya bicaranya sedikit berbeda?
"Baiklah, aku keluar dulu" Ur beranjak, "Habiskan susu itu atau aku tak akan lagi mengurusmu"
Juvia tertawa lepas. "Segera dilaksanakan! Lagipula, Juvia sudah sehat, Juvia akan membalas semua kebaikan Ibu" dia tersenyum lembut. Begitu lembut maka semakin membuat Ur terheran.
Dia mengubah gaya bicaranya lagi.
.
Memakai pakaian pelayan yang sudah Juvia lihat kemarin ketika para pekerja mengantar Juvia, ia juga menjadi salah satu orang yang mengenenakan pakaian ini.
Baju terusan berwarna biru dengan celemek putih dan tali pinggang yang membentuk tubuhnya. Kakinya beralaskan sepatu tipis berwarna putih.
Rambut gelombang sepunggungnya ia biarkan tergerai bebas.
Seperti yang Ur katakan, Juvia harus berdandan itu sebabnya sudah diletakan berbagai kosmetik di dalam laci untuk diaplikasikan ke wajahnya. Juvia menuruti perintah Ur dan memakai make up tipis berniat untuk tidak mencuri perhatian para lelaki. Hanya agar wajahnya terlihat segar.
Segera kakinya melangkah mantap menghadap sang Raja. Ia andalkan memorinya ketika kemarin di bawa ke kamar dari ruangan Kaisar.
Di sepanjang koridor, tempat demi tempat ia hapalkan dan ingat. Ia memerhatikan semampunya, berharap tidak melupakan satupun tempat yang telah dilangkahi.
Istana ini luas dan megah. Banyak aksesoris, pajangan, patung menyerupai Es, ada juga dibentuk berbagai dewa. Desain interior seluruh ruangan di dominasi warna coklat, emas dan putih. Sepertinya Kaisar tidak mengubah sedikitpun warna Istana ini kecuali nuansanya.
Sampai Juvia di depan pintu Kaisar yang dijaga ketat oleh orang-orang berzirah. Setelah mendapat izin, ia melangkahkan kakinya ke dalam.
Didapatinya Kaisar berambut gelap lekat senada dengan matanya. Jubahnya membalut tubuh kekar yang membuat jantung siapa saja berdetak lebih cepat akan karisma sang Kaisar.
Juvia menunduk hormat dengan tangan kanan di dadanya. "Yang Mulia, hamba melapor bahwa sekarang keadaan Juvia sudah baik dan siap melayani Anda"
Selama beberapa detik Gray terdiam memerhatikan gadis di sebrang dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Tegakkan tubuhmu" Perintah Kaisar yang langsung didengar Juvia.
Sepertinya Gray tidak mau melewati satu incipun perhatian akan tubuh Juvia, bagian yang paling penting yaitu wajahnya.
Juvia menegakkan punggungnya lalu menatap langsung sampai ke kedalaman manik milik Gray. Tindakan tanpa etika. Membuat sang Kaisar heran, apa maksud gadis sopan tapi angkuh ini?
Tetapi terlepas dari pemikiran itu, Gray nampak mendapat perhatian lain dari seorang pelayan di hadapannya. Gadis ini, Juvia, memilki citranya sendiri. Rambutnya biru cerah, kulitnya putih, matanya lebar dihiasi bulu yang lentik dan bibirnya mungkin terasa manis.
"Apa kemampuanmu sehingga kau yakin bisa mengabdi padaku," kata-kata Gray terdengar seperti sebuah pertanyaan menantang bagi Juvia. "Barangkali aku salah menyuruhmu sebagai pelayan. Repot bila kau mengacau dan tak becus"
"Dengan hormat, Yang Mulia, Juvia terampil dengan kemampuan Juvia sebagai pelayan," percaya diri sekali, Gray tersenyum sarkastik. "Namun bila Anda menghendakinya untuk menunjukan kepandaian Juvia berpedang, akan Juvia laksanakan, apapun untuk Anda"
Ini dia. Kesenangan baru bagi Gray yang sudah dua tahun belakangan tak mendapat hiburan atau sesuatu yang membuatnya tertarik.
Gray berdiri dari kursinya, ia bergegas melewati Juvia yang menunduk dengan lutut menumpu di lantai. "Ikut aku, kau akan membuktikan kecakapanmu dengan salah satu Ksatria, Meredy"
Dengan begitu arena disiapkan di hadapan sang Kaisar yang duduk dari kursinya. Dia hanya dengan beberapa Prajurit di sana untuk mengawalnya.
Menonton dua wanita dengan yang satu memakai zirah, dia berambut merah muda panjang terikat, menggenggam pedang besi dengan kuda-kuda siap menyerang Juvia, lawannya.
Sedangkan Juvia yang saat itu hendak dipakaian baju besi oleh seorang pesuruh, ia menolak karena, "Terima kasih, Tuan. Tetapi ini hanya sebuah latihan," ucapnya.
Gray melempar tawa sadis, lalu memberikan perintah bahwa, "Kau, gadis berambut biru, gunakan pedang kayu" lalu diberinya Juvia sebuah pedang yang kuatnya jauh berbeda dengan milik Meredy.
Pertarungan dimulai.
Keduanya sama-sama menghampiri lawan dengan kekuatan penuh, menyerang menggunakan pedang, mengayunkan senjata mereka ke tubuh musuh, tetapi satupun tidak ada yang terluka.
Juvia tersenyum ke arah Meredy, "Kau punya gerakan yang hebat, Nona Meredy" dia berkata begitu membuat Meredy tidak percaya. Tubuhnya menjadi kikuk karena barusan mendapat pujian dari lawannya. Sangat tidak biasa. "Kau juga!"
Tetapi pertarungan belum selesai. Meredy berlari mengayunkan pedang dari sisi tubuh Juvia sebelah kiri, berharap ia mengecoh pergerakannya, agar ia bisa melukai Juvia dari kanan. Dapat! Teriaknya dalam hati begitu girang.
Namun langkahnya tidak tepat. Juvia membaca apa yang ingin Meredy incar, sehingga ia dengan cekatan memblokir serangan Meredy dengan pedang kayunya, membuat pedang itu patah seketika.
Gray tersenyum penuh arti. Dia bisa membalikkan kata-kata sombong wanita itu. Sebentar lagi permainan selesai.
Pedang kayu yang patah membuat Meredy cepat berpikir bahwa iniliah kesempatan untuk mengalhkan Juvia.
Juvia segera menguatkan pegangannya pada pedang kayu yang tersisa lalu mengadunya pada pedang Meredy, menyongkelnya dengan kuat sehingga terlepas dari genggaman si gadis berambut merah muda.
Semua mata di situ terbelalak kaget.
Tak terkecuali sang Kaisar, namun hanya ia yang dengan pandai menyembunyikan rasa terkejutnya. Gray menarik ujung bibirnya. Sangat sangat tak terduga.
Pedang Meredy berputar ke atas, Juvia tanpa takut tergores atau salah mendarat, menangkap pedang itu lalu mengacungkannya. Juvia meletakkan ujung pedang tajam itu di atas bahu Meredy.
Masih dengan mata membulat, tubuh yang tidak bisa bergerak, Meredy berusaha berkata, "A-aku kal-"
"Tidak Nona, Juvia mengembalikan pedang ini," ucap wanita itu. Ia membalikan posisi pedang itu dengan ringannya, menunggu Meredy untuk mengambilnya. "Tidak ada yang kalah atau menang, kita hanya berlatih."
Tangan Meredy bergetar meraih pedang tempur yang selalu setia menemani kemenangannya. Tetapi hari ini lain cerita, ia dikalahkan dengan mudah.
Meredy menundukkan kepala, malu. "Maaf Nona, sebelumnya aku tak menahan diri untuk melukai Anda," katanya masih enggan melihat mata Juvia yang melemah penuh kasih. "Engkau berbuat baik padaku seperti ini, aku menghancurkan harga diriku sendiri"
Alis Juvia menekuk terharu. Tangan Juvia menarik pundak Meredy dan memeluknya. Mengusap punggungnya sambil membalas ucapan Gadis itu. "Merasa bebaslah perasaanmu agar setelah ini kita bisa berteman dengan lega"
Rambut merah muda itu ikut bergerak ketika kepalanya membawa untuk mengangguk. "Terima kasih, Nona Juvia"
Sementara sang Kaisar yang sedari tadi menonton segera beranjak dari situ, memerintah pesuruhnya untuk memanggil Juvia.
Maka langsung berlarilah ia, mengikuti langkah ke mana Gray pergi. Mendengarkan Gray bicara kepadanya, "Baguslah jika kau punya kemampuan bertarung," ucap si Kaisar menggantung untuk menoleh memerhatikan Juvia yang masih mengekornya di belakang. "Kau akan jadi salah satu pengawalku dan pelayan pribadiku"
Tunggu. Gray mengerjainya? Oh, Juvia baru saja berpikir jika mengalahkan Meredy, ia akan menjadi Ksatria yang sama dengan lawannya tadi. Tapi, mungkin ini keberuntungan baginya. "Dengan senang Juvia melaksanakannya"
Gray merutuk dalam diam. Dia pikir gadis itu akan protes. Sepertinya Juvia bukan gadis seperti itu.
"Pakai sesuatu yang lebih kelihatan berguna untukku, kutunggu kau satu jam lagi untuk melayaniku"
..
.
Bersambung...
Halo! Makasih sampe sekarang masih tertarik buat baca cerita ini, makasih juga untuk yang udah mereview atau kasih komentar! (Serius, itu nambahin semangatku untuk lanjut nulis)
Makasih banyak untuk Celine-nee-sama yang udah kasih review, seneng banget bacanya!
Oke, akhir kata, kita lanjut ke Bab 3 nanti.
Bye bye
