Disclaimer : Akutami Gege
Pairing : Ryomen Sukuna x Fushiguro Megumi
Rated : T
Itadori Yuuji, siswa sekolah menengah kejuruan atas Jujutsu yang terletak di pinggiran Tokyo. Dia mempunyai sedikit kelebihan dalam bidang atletik dan keunikan di antara teman sebayanya semenjak ia menelan pusaka terkutuk dengan klasifikasi khusus di malam ia melakukan ritual supranatural. Akibatnya, ia bersinggungan roh jahat legendaris yang dikenal dengan Raja Kutukan Ryomen Sukuna.
Yah, wajarnya sih dia lari ketakutan atau mengalami masalah mental karena hal ini, tapi tidak. Yuuji cukup terhibur. Jarang sekali ia bisa merasakan berbicara dengan diri sendiri yang anehnya ditanggapi oleh roh yang bersemayam di dalam tubuhnya.
Sukuna memang belum pulih sepenuhnya, jadi dia bersantai menikmati masa hidupnya yang baru dengan mengamati keseharian si wadahnya ini selagi menunggu sisa jari-jarinya ditemukan.
Awalnya tidak ada yang menarik perhatiannya, namun sejak melihat kemampuan salah satu teman Yuuji yang bernama Fushiguro Megumi, Sukuna merasa hidupnya akan menjadi lebih menarik daripada sebelumnya.
"Waktunya gantian, bocah." Ucap Sukuna saat melihat Fushiguro di sudut matanya dari penglihatan Yuuji tetapi langsung ditolak mentah-mentah oleh sang wadah.
"Tidak."
"Hanya untuk satu menit,"
"Aku tetap tidak percaya dengan ucapanmu itu. Jadi diamlah dan nikmati waktu bersantaimu, roh sialan." Yuuji masih bersikeras menolak ajakan Sukuna yang kemudian melanjutkan latihannya, tetapi ucapan Sukuna berikutnya membuat Yuji beranya-tanya.
"Baiklah, aku akan diam jika kau berlatih bersama bocah shikigami itu."
"Fushiguro?" Yuuji menautkan alisnya, mencari keberadaan orang yang dimaksud.
Bisa Yuuji lihat Fushiguro menghampirinya, lalu memberikan sebotol air dingin padanya. Tumben sekali Fushiguro berlaku baik, apa kepalanya habis terantuk sesuatu?
"Tidak berlatih bersama Kugisaki?"
"Dia bersama Panda-senpai dan Zen'in-senpai."
"Mau latih tanding bersama?"
Tawaran itu diangguki oleh Fushiguro. Mereka berdua berlatih saling menyerang kemudian memberikan saran mengenai celah yang terbuka dan juga memperbaiki kekurangan mereka. Metode yang cukup efektif. Mereka berlatih hingga sore, onigiri yang dikirim Kugisaki juga sudah habis. Menyisakan kantong plastik yang teronggok di antara mereka berdua.
"Waahh, serunya. Kuharap ada Gojo-sensei yang melatih kita, dengan begitu akan lebih menyenangkan."
Peluh yang menempel di sekujur tubuhnya membuat Fushiguro rishi, rasanya ia ingin cepat-cepat berendam dalam bak mandi. Namun langit sore hari ini terlalu indah untuk dilewatkan, jadinya ia memutuskan untuk tinggal lebih lama. Bersama Itadori yang asik berceloteh tentang sesuatu yang tidak Fushiguro mengerti.
"Aku duluan,"
"Baiklah, sampai bertemu besok." Yuuji menlambai singkat saat Fushiguro beranjak dari tempatnya.
Yuji akan melanjutkan latihannya sebentar lagi. Lalu tidur di kasurnya yang nyaman.
Fushiguro baru saja membuka pintu kamar asramanya saat menyadari hawa keberadaan asing di belakangnya. Dan dia tau betul siapa yang sedang berdiri di balik badannya, ia pernah merasakan ini sebelumnya. Perasaan yang sama seperti Sukuna yang mengambil alih tubuh Itadori sesuai membantai habis roh terkutuk tingkat khusus kemarin.
"Lama tidak berjumpa,"
Fushiguro membalikkan badan, berhadapan langsung dengan Sukuna yang tengah tersenyum angkuh padanya. Apa-apaan ini? Bukankah Itadori sudah mahir mengendalikan Sukuna, lalu kenapa dia kecolongan kali ini?
Fushiguro tak gentar di tatap tajam oleh Sukuna yang kini menggunakan tubuh Itadori. Ia sendiri tidak yakin menang one by one melawan Sukuna. Seratus persen yakin akan kalah di menit pertama.
"Aku hanya punya satu menit, jadi mari kita percepat ini."
Fushiguro bingung dengan kalimat yang diucap roh terkutuk itu, sebelum matanya membola lebar ketika Sukuna mengecup bibirnya singkat.
Sukuna tersenyum sebentar lalu kembali menciumnya, lebih intens dari yang sebelumnya. Tenaga Itadori saat belum dirasuki Sukuna saja ia belum tentu bisa menyainginya, apalagi sekarang. Fushiguro berusaha menjauhkan Sukuna namun ditolak oleh si empunya, memenjarakan Fushiguro di antara lengannya dan daun pintu kamarnya.
Ah, sudah lama Sukuna tidak merasakan sensai seperti ini. Lapar akan atensi dan afeksi seorang manusia yang kini ia dapatkan dari seorang pemuda. Sukuna tak bisa membohongi diri sendiri karena ia sangat menginginkan bocah shikigami ini seutuhnya.
Sukuna beralih dari kedua belah bibir itu lalu menyusuri garis rahang dengan kecupan ringan, berakhir di leher sang bocah dan menghadiahinya ruam sebagai tanda kepemilikan. Menyeringai penuh kemenangan sebelum berujar,
"Dengan begini tidak ada yang berani menyentuh properti milik Raja Kutukan."
Dan kesadaran Sukuna diambil alih oleh si pemilik tubuh setelah tepat satu menit. Itadori Yuuji.
Yuuji mengerjap bingung ketika ia bersitatap dengan Fushiguro dari jarak yang terlalu dekat. Melihat wajah teman seangkatannya yang dipenuhi rona tipis, sedikit bertanya apakah latihan mereka kali ini terlalu menguras tenaganya? Atau Fushiguro sedang sakit?
"Kau sakit?"
"Menyingkirlah,"
"Hei, apa itu di lehermu? Kau alergi?"
Wajah Fushiguro total memerah mengingat kejadian beberapa saat yang lalu. Sukuna dengan lancangnya meninggalkan jejak di tubuhnya. Dengan cepat Fushiguro membuat segel kemudian memanggil dua anjing kutukan miliknya.
Sedetik kemudian Yuuji terseret ke luar asrama secara tidak elit. Meninggalkan pertanyaan yang berputar di kepalanya soal ruam kemerahan yang terlihat sama persis seperti miliknya pasca diserang oleh—
Mengaitkan informasi tentang ruam itu, lalu menemukan posisi dirinya yang terlampau dekat dengan sahabatnya itu. Hanya satu pelaku yang bisa ia simpulkan.
"Apa yang telah kau lakukan menggunakan tubuhku, brengsek?!" teriaknya tak terima pada Sukuna.
Setidaknya Sukuna berterima kasih karena persyaratan kontrak kemarin dan sama sekali tidak menyesalinya.
Yo, i'm back.
Membawa salah satu sampah lainnya, meramaikan fandom dan asupan pribadi. Terinspirasi dari Sukuna yang nyelametin Megumi pas Shibuya Arc tapi disini settingnya waktunya setelah Pertukaran Pelajar Tokyo :(
Hope y'all like it, bruh.
