I'm Sorry!

Naruto © Mashashi Kishimoto

"Teruntuk kamu yang pernah bersamaku."

.

.

.

25 Maret 2020

Disebuah ruangan dengan warna putih yang dominan. Seorang pemuda bernama Naruto terlihat duduk disebuah kursi dengan wajah yang tegang. Dia melihat dua pasangan orang tua yang saat ini menatapnya dengan pandangan yang serius.

"Kamu tadi bilang apa?" ucap Uzumaki Arashi pada Naruto seolah pendengarannya sedikit terganggu.

Berbeda dengan ucapan sebelumnya yang gugup, kini Naruto menegakkan punggungnya dan berbicara dengan lantang. "Tolong izinkan aku menikahi putrimu!"

Setelah Naruto berteriak cukup keras, perasaan dihatinya yang sebelumnya mengganjal terasa sedikit ringan. Dia menatap pasangan orang tua itu dengan serius seolah jika dia benar-benar tidak bercanda. Namun Arashi hanya menghela napas begitu dia mendengar ucapannya.

"Dengar nak, kamu adalah pemuda yang baik. Sungguh putriku sangat beruntung memiliki pacar seperti mu..." Uzumaki Arashi menatap Naruto dengan sendu sebelum kembali melanjutkan dengan nadanya yang tegas. "... Tapi aku tidak akan mengizinkanmu menikahi putriku!"

Mendengar hal tersebut membuat hati Naruto terasa berat. Kedua telapak tangannya mengepal karena kecewa, matanya memerah seolah ingin menangis. "kenapa?" Naruto bergumam dengan pandangan yang kosong sementara Arashi hanya berdiam tanpa keinginan untuk menjawab.

"Saya benar-benar mencintai putri anda!" gumam Naruto dengan lirih. Dia tidak bisa untuk tidak menunjukkan rasa kecewanya yang teramat sangat.

"Naruto..." suara Uzumaki Liliy terdengar lembut penuh kasih sayang keibuan. "Maaf, tapi kami tidak ingin kamu benar-benar kecewa!"

"Tapi bu, aku sudah berjanji untuk menikahi dia. Saya sudah berjanji untuk membahagiakannya. Saya sudah berjanji untuk terus bersamanya..." Naruto tidak tahu harus berkata apa lagi. Namun air matanya mulai meleleh melewati wajahnya yang sedih. "... Dan dia juga setuju! Itu janji kami untuk hidup bersama. Ayah, Ibu, tolong restui aku untuk menikahi putrimu!"

Mendengar hal itu, Uzumaki Liliy juga terlihat memerah seolah akan menangis. Ketika dia akan mengucapkan sebuah kalimat, suara Arashi menyelanya. "Cukup nak! Pilihan kami tetap sama!" ketika dia selesai mengatakannya, dia langsung pergi tanpa menoleh.

Sementara Naruto terlihat mematung, dia tidak tahu harus berkata apa dan apa yang harus dilakukan.

.

.

26 Maret 2020

Hari ini adalah musim semi, saat dimana bunga-bunga sakura dengan indah bermekaran. Naruto kini terlihat memakai pakaian yang rapi. Meskipun kemarin ia sempat ditolak, namun Naruto tidak akan mudah menyerah.

Tepat di hari ini adalah hari jadi ia dan Kushina. Hubungan ini sebenarnya dimulai semenjak mereka berada di bangku sma. Pada awalnya, kami hanyalah orang asing yang tidak saling kenal. Dia bertemu dengan Kushina untuk kali pertama di kelas 3 senior. Entah kenapa, dia sebenarnya hanya sedikit tertarik dengan Kushina. Namun lambat laun dia mulai menyukai sifat wanita yang sedikit tomboy itu.

Memanfaatkan waktu sebelum ujian masuk perguruan tinggi yang krusial itu, Naruto memutuskan untuk menyatakan perasaannya. Dia hanya tersenyum tanpa niat membalas atau menolak pernyataannya, Kushina hanya memberinya waktu untuk menunggu. Dia tidak tahu apa maksudnya waktu itu dan Naruto baru tahu jika ternyata ia dan Kushina memiliki universitas yang sama. Pada saat itulah mereka akhirnya bersama.

Dia dan Kushina adalah penggemar musik rock. Sebab itulah dia dan Kushina menempuh jalur seni musik di universitas. Kami sudah memiliki mimpi jika suatu saat, kami akan menjadi seorang penyanyi yang terkenal. Kita akan membuat album bersama dan mengadakan konser bersama.

Meski Naruto paham jika mimpi itu sangat sulit, namun bersama Kushina akan membuatnya melupakan rasa sulit itu karena mereka mewujudkannya bersama-sama. Meski pada akhirnya, setelah kelulusan pun kami hanya bisa menjadi penyanyi jalanan. Setidaknya kami bisa bersama dan tertawa untuk terus melakukan apa yang kami suka.

Setelah tepat 15 menit berjalan, sampailah Naruto di rumah yang sudah 6 bulan ini Kushina tinggali. Beberapa orang tua yang mengenalnya sontak memberinya salam dengan hangat yang Naruto balas dengan senyum lebar. Begitu dia sampai di lantai kamar Kushina, hati Naruto sedikit menegang ketika melihat kedua orang tua Kushina berdiri mematung di depan pintu.

"Selamat pagi Ayah, Ibu!"

Naruto menyunggingkan senyum terbaiknya seolah melupakan kejadian kemarin dimana dia ditolak oleh keduanya. Namun baik Uzumaki Arashi dan Liliy tidak ada yang menjawab.

Naruto menaikkan alisnya sebelum terdengar suara Uzumaki Liliy yang bergetar menahan tangis. Sementara Arashi tampak sedikit termenung, namun mudah terlihat jika kedua matanya memerah dengan ujung mulutnya yang berkedut menahan tangis.

"Ayah, Ibu?" Perasaan Naruto sedikit khawatir saat melihat dua orang tua Kushina yang terlihat tidak terlalu baik.

Setelah beberapa saat, Uzumaki Arashi tampak menatapnya dengan pandangan yang dalam dan berkata, "Temui Kushina untuk terakhir kalinya!" setelah mengatakannya Arashi tidak kuasa membendung air matanya yang mulai merembes keluar.

Kedua mata melebar. "Apa?" dia merasa jika hatinya terasa sesak. Pikirannya mulai kosong, hanya kakiknya yang berjalan cepat membuka pintu ruangan rumah sakit yang sudah beberapa bulan ini ditempati Kushina.

Beberapa perawat terlihat sibuk mengemas beberapa barang. Namun Naruto mengabaikannya, dia terfokus pada sosok diatas ranjang yang terbujur lemah dengan wajah damai dan pucat. Naruto berjalan mendekat, dia tidak tahu jika air matanya telah tumpah begitu banyak.

Dia terisak ketika menyentuh tangannya yang pucat dan terasa dingin. Naruto mencium tangan putih yang dulu selalu menggenggamnya. Dia dengan lembut mengusap wajahnya yang kini terlihat pucat.

"Kushina-chan?" Naruto bertanya dengan terisak dan suara yang parau. Naruto hanya bisa menangis tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Lalu dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak.

"Hei Kushina-chan! Aku sudah membelikanmu cincin pernikahan kita!" Naruto memperlihatkan dua buah cincin putih itu padanya.

"saya tidak membeli yang mahal, karena kamu pasti marah ketika aku membeli yang mahal. Haha... Kamu tahu, padahal aku juga tidak mampu membeli yang mahal." Naruto memaksakan dirinya untuk tersenyum.

"Ayo bangun dan pakailah! Meski kita baru lulus dan Ayahmu dan Ibumu belum memberi saya restu, saya yakin mereka akan setuju kalau kamu yang mengatakannya." Naruto berkata dengan air mata yang tak kunjung mereda.

"Kamu ingat, hari ini hari jadian kita! Kamu pernah bilang ingin menonton konser bersama lagi setelah sembuh, ayo aku sudah membeli tiketnya untuknmu!" kedua tangan yang bergetar itu merogoh saku celananya yang lain dan mengeluarkan dua buah tiket.

"Saya juga akan membelikanmu wig! Kamu mungkin malu karena rambutmu sudah rontok, tapi kamu tetap cantik dimataku."

"Uzumaki Kushina ayo bangun..." Naruto terduduk dengan kedua tangannya yang menggenggam erat tangan putih pucat Kushina yang sudah tak bernyawa.

"Maaf... Hiks... Maaf!"

"Maaf karena belum bisa mengabulkan semua keinginanmu!"

"Maaf! Andai aku punya banyak uang... Mungkin kamu bisa sembuh!"

"Maaf! Karena telah menjadi pacar yang buruk!"

"... Maafkan aku..."

"Kushina... Aku mencintaimu..."

.

.

.

End

.

.

.

Note : Mungkin akan ada epilog. Terimakasih buat kalian yang masih mendukung saya!