Celebrity Scandal

keanijun

2018

.

.

.

.

.

.

.

.

Berita itu langsung meledak kurang dari dua jam setelah dipublikasi.

Hampir semua headline berita menuliskan tentang Park Chanyeol yang berkencan dengan seorang laki-laki. Termasuk media sosial yang mendadak panas dengan cuitan fans Chanyeol yang menanggapi hal ini. Banyak yang merasa terpukul setelah mendengarnya, namun banyak juga dari mereka yang mendukung Chanyeol.

SM sendiri memang sengaja belum mengkonfirmasi hal ini dan memilih untuk menunggu waktu yang tepat. Tapi sepertinya orang diluaran sana sudah mati penasaran karena mereka terus memberondong akun resmi SM untuk segera memberi tanggapan. Bahkan tak sedikit fans Chanyeol yang datang ke kantor perusahaan untuk mendapat jawaban secara langsung.

Baekhyun meringis membaca komentar yang ada di situs berita online. Banyak cacian yang dilontarkan untuk Chanyeol dan dirinya. Tidak sedikit dari mereka yang menyalahkan Baekhyun dan menuduh bahwa ia yang membuat Chanyeol menjadi gay. Sumpah serapah yang Baekhyun baca membuat ia bergidik sendiri. Jika saja fans Chanyeol bertemu dengannya, maka Baekhyun yakin ia tidak akan bisa pulang lagi, tidak ada jaminan selamat untuk itu.

Baekhyun menggulir lamannya lagi ke atas, tempat foto itu dipasang. Ia mengamati satu-persatu foto yang diambil. Semua itu untung saja tidak memperlihatkan wajahnya, mungkin hanya sedikit. Itupun tidak terlalu kentara karena terhalang oleh tangan Chanyeol saat pria itu akan menciumnya.

Ciuman itu.

Sialan!

Baekhyun menggeleng ribut untuk menghilangkan bayangan itu dari kepalanya. Ia tidak mau lagi mengingat kejadian yang menurutnya sedikit memalukan. Karena yang lebih banyak hanya rasa kesal dan sangat sedikit dia merasa senang.

Buru-buru ia mematikan Ipad nya dan pergi ke kamar untuk bersiap. Hari ini Baekhyun berencana untuk pergi ke Nail shop kemudian makan siang di cafe milik Minseok. Baekhyun memang meluangkan waktu dua hari untuk dirinya sendiri. Hari pertama adalah hari ini, dan esoknya ia akan datang ke salon kecantikan untuk merawat tubuh dan wajahnya, kemudian ke salon milik Luhan untuk mendapatkan service pada rambutnya. Dan itu berlanjut secara terus-menerus, sebut saja rutinitas mingguan Baekhyun.

Baekhyun sudah siap dengan kemeja putih dipadu dengan celana denim hitam selutut. Baekhyun memang tak pernah ambil pusing tentang pakaian karena yang terpenting ia merasa nyaman saat memakainya. Saat ia keluar dari apartemennya, ia melirik ke pintu milik Chanyeol. Dalam pikirannya bertanya-tanya apakah Chanyeol ada di dalam atau pria itu sudah pergi bekerja sejak pagi?

Dalam perjalanan ia mendengarkan saluran radio. Dan seperti yang sudah diprediksi, mereka semua mengudarakan berita terbaru tentang Chanyeol. Banyak yang masih merasa tidak percaya dengan berita yang beredar. Bahkan beberapa saluran radio sampai menelepon ke perusahaan tempat Jongdae bekerja untuk memastikan keasliannya.

Baekhyun sampai di Nail Shop langganannya. Setelah memarkirkan mobilnya, ia pergi ke bagian reservasi untuk mengkonfirmasi pesanannya kemarin. Baekhyun kemudian dibawa ke ruang VIP, tempat dimana hanya pelanggan khusus yang bisa memesan. Baekhyun adalah pelanggan tetap selama dua tahun, maka ia mendapat kemudahan akses dan menjadi prioritas disini.

"Selamat pagi." seorang wanita masuk kedalam dan menyapa Baekhyun dengan ramah. Ditangannya terdapat peralatan untuk perawatan kuku.

"Selamat pagi, Sohye." Baekhyun menyapanya balik. Kalian harus tau bahwa Baekhyun hafal dengan semua orang disini, terutama Sohye yang sering melayaninya.

Mereka larut dalam perbincangan selagi Sohye melakukan tugasnya. Tipe Baekhyun memang banyak bicara, cocok disandingkan dengan Sohye si pendengar yang baik.

Itu sudah memakan waktu nyaris satu jam lamanya sebelum Baekhyun keluar dari sana untuk pergi ke cafe Minseok. Sepertinya hari ini ia datang lebih awal dari biasanya sebab, masih ada dua jam sebelum masuk waktu makan siang. Tapi itu tak masalah, artinya ia punya banyak waktu untuk mengobrol dengan Minseok nanti.

Minseok sudah seperti kakak untuknya. Minseok selalu mau mendengar keluhan Baekhyun tiap kali ia mampir kesana, baik itu masalah pekerjaan atau sekedar beberapa orang menyebalkan didekatnya. Minseok juga tidak pernah menyudutkannya jika ia melakukan kesalahan. Mungkin karena Minseok punya Jongdae sebagai kekasih, Minseok bisa tahan dengan Baekhyun yang berisik.

Baekhyun dengan santai melangkah memasuki cafe yang terlihat tidak terlalu penuh. Minseok disana, berdiri di dekat meja kasir. Sepertinya ia sedang mengawasi kerja pegawainya.

"Minseok hyung!"

"Oh.. Baekhyunie." Minseok keluar dari counter dan menghampiri Baekhyun.

"Ayo dapatkan mejamu Baek." Mereka berjalan menuju meja yang ada di tengah ruangan.

Tidak seperti kebanyakan orang yang suka duduk di dekat jendela atau tempat paling ujung, Baekhyun memang selalu duduk disini. Dan Minseok tak pernah lupa untuk menempatkan tanda 'reserved' pada hari dimana Baekhyun akan datang agar Baekhyun kebagian tempat saat makan siang.

"Pesanan seperti biasa?"

"Tentu. Tapi berikan aku dessertnya lebih dulu. "

Baekhyun memainkan ponselnya sembari menunggu Minseok untuk mengambilkan pesanan miliknya. Membayangkan Strawberry ice cream dengan mochi didalamnya nyaris membuat liur Baekhyun menetes. Hawanya memang panas walau matahari tidak terlalu terik, cuaca yang bagus untuk sekedar jalan-jalan keluar menikmati suasana.

Baekhyun menilik keluar, beberapa pejalan kaki membawa anjing mereka. Ada juga beberapa orang tua yang mendorong stroler para bayi. Sepertinya semua orang punya pikiran yang sama dengan Baekhyun.

Mata Baekhyun bergulir pada mobilnya yang terparkir di dekat cafe. Beberapa gadis berseragam sekolah terlihat mengerumuni mobilnya. Mereka terus bicara sambil menunjuk mobil Baekhyun, bahkan ada dua orang yang berulang kali melongok kedalam kaca. Baekhyun mulai curiga melihatnya, mereka bukan mau mencuri, kan? Baekhyun memutuskan untuk menghampir kerumunan gadis itu.

"Yak, apa yang kalian lakukan disini?"

Gadis-gadis itu memperhatikan Baekhyun dan menatap satu sama lainnya.

"Oppa, apa ini mobilmu?"

"Ya, ini mobilku. Apa yang kalian lakukan, kalian tidak mencoba untuk mencuri sesuatu kan?"

Mereka terlihat terkejut, kemudian saling berbisik yang membuat Baekhyun semakin bingung.

Tiba-tiba salah satu dari mereka mencoba mendorong Baekhyun hingga ia nyaris jatuh.

"Kau pacar Chanyeol oppa kan?!"

"Dasar menjijikan! Menjauhlah dari Chanyeolku!"

"Dasar gay tidak tau malu! Carilah laki-laki lain!"

Baekhyun cukup terkejut dengan itu. Kenapa mereka bisa tau semuanya?

Sekumpulan gadis itu terus meneriaki Baekhyun, bersamaan dengan beberapa orang yang mulai memperhatikan mereka. Suara bisik rendah mulai terdengar disana-sini. Jelas Baekhyun tersudut saat ini.

Baekhyun semakin melangkah mundur sebelum benar-benar berlari ke dalam cafe. Minseok yang melihat Baekhyun datang merasa heran dengan itu.

"Hyung, sembunyikan aku! Bantulah aku!"

"Tunggu.. Tunggu.. Memangnya apa yang..."

Minseok tidak sempat melanjutkan kalimatnya karena banyak wanita yang secara tiba-tiba berlarian kedalam cafe. Reflek ia menarik Baekhyun pergi menjauh dan masuk kedalam ruangan pribadi miliknya.

Teriakan terus terdengar di luar ruangan, sesekali mereka menggedor dengan kasar pintu yang terkunci itu. Terjadi keributan besar diluar sana, terlebih saat para pegawai Minseok berusaha mendorong mereka keluar. Baekhyun yang masih mode ketakutan tidak bisa berhenti menggenggam jemarinya sendiri.

"Baek, ada apa ini? Kenapa mereka mengejarmu?" Minseok juga panik. Mau bagaimanapun ada banyak orang yang mengamuk di sana. Bisa-bisa cafenya hancur setelah ini.

Baekhyun menggeleng ribut. Tentu ia bohong karena sebenarnya ia tahu penyebabnya. Dan berpikir tentang itu, Baekhyun segera membuka ponselnya dan melihat kembali foto yang beredar di internet.

Tampaknya mereka membuat sebuah kelalaian besar. Mobil yang digunakan untuk pemotretan adalah mobil milik Baekhyun. Platnya sangat jelas terlihat, tidak mungkin ada orang yang salah saat membacanya. Biasanya mereka akan memakai mobil sang artis, namun kemarin Chanyeol datang ke lokasi menggunakan van bersama manajernya. Sedangkan mobilnya ia tinggal di perusahaan agensi.

"Baek, apa ini ada hubungannya dengan skandalmu dan Park Chanyeol?"

Baekhyun melirik Minseok takut-takut sebelum ia mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya dan Minseok mendesahkan napas keras. Minseok memutuskan untuk keluar dan berusaha mengurai keributan.

Baekhyun masih didalam, dengan pikiran yang terpecah. Lebih aman jika ia keluar saat mereka pergi, namun sudah pasti cafe milik Minseok jadi korbannya. Apalagi belum tentu mereka menyerah begitu saja. Bagaimana jika mereka menunggu sepanjang hari disana?

Baekhyun tidak menyangka akan jadi sekacau ini. Ia juga begitu ceroboh hingga tidak menyadari bahwa plat mobilnya terlihat. Sepanjang 'karirnya' ini adalah kegagalan pertama dan ia menerima dampak yang paling besar.

Pikirannya seolah jadi rancu ketika suara teriakan diluar menjadi lebih histeris dan bersamaan dengan itu seseorang lain masuk kesana. Seorang pria dengan jaket, topi, kacamata hitam serta masker putih. Tidak sulit untuk menyadari bahwa itu Park Chanyeol.

"Kenapa kau tidak menghubungiku?" Chanyeol berkata dengan sedikit ketus sambil melepas kaca mata dan maskernya. "Jangan bilang kau menghapus pesanku tanpa menyimpannya." Kemudian ia menanggalkan topi dan jaketnya.

Melihat Baekhyun yang hanya diam, Chanyeol duduk di sebelahnya dan mengusap punggung sempit itu. "Hey, jangan khawatir. Ada aku disini."

"Tapi aku takut." Suara Baekhyun bergetar saat mengatakan itu dan matanya sudah berkaca-kaca.

Chanyeol mengusak wajahnya kasar sebelum merengkuh Baekhyun kedalam pelukannya.

Tidak ada suara lagi disana kecuali teriakan samar dari luar dan isakan Baekhyun.

"Sudahlah Baek, jangan menangis." Chanyeol kembali mengusap punggung Baekhyun.

Saat itu Minseok masuk dengan wajah yang berantakan. "Kami tidak bisa menahannya lagi, mereka semakin banyak. Kau harus segera pergi, Baek."

Chanyeol merogoh sesuatu dari sakunya dan menyerahkan itu kepada Minseok. "Ini kartu namaku. Aku akan menanggung semua ganti rugi, kirimkan tagihannya ke nomorku."

Chanyeol berbalik pada Baekhyun dan menggiringnya untuk berdiri. "Baiklah sayang, ayo kita pergi."

Chanyeol kemudian memakaikan masker dan kacamatanya pada Baekhyun. "Rentangkan tangamu." Chanyeol memakaian jaketnya yang kebesaran pada Baekhyun yang tidak banyak protes. "Nah dan yang terakhir topi."

Baekhyun pikir ia terlihat seperti hantu saat ini dengan tubuh yang tenggelam dalam jaket serta wajah yang tertutup. Tapi ia hanya diam dan menurut saat Chanyeol menggandengnya ke depan pintu.

"Kau siap?" Chanyeol bertanya dan Baekhyun hanya mengangguk.

"Oke."

Saat pintu dibuka teriakan semakin riuh. Baekhyun cukup tegang untuk apa yang ia lihat. Jumlahnya sangat banyak, mungkin sepuluh kali lipat dari yang tadi. Beberapa terlihat membawa kamera, Baekhyun pikir mereka mungkin dari wartawan.

Chanyeol menempatkan Baekhyun di sebelahnya dan merengkuhnya erat untuk kemudian membelah lautan manusia dengan bantuan beberapa bodyguard dan pegawai Minseok. Chanyeol menempatkan sebelah tangannya pada kepala Baekhyun untuk menghalau tangan-tangan yang ingin mengusiknya. Chanyeol benar-benar tidak memberi celah pada siapapun untuk menyentuh Baekhyun. Baekhyun yang kepalanya ditempatkan di dada Chanyeol, tidak bisa melakukan apapun selain menyerahkan semuanya pada pria jakung itu.

Mereka tiba di mobil pribadi milik Chanyeol dan masuk ke dalamnya. Baekhyun duduk di kursi penumpang tepat di sebelah Chanyeol yang mengemudikan mobilnya menjauh dari area cafe, diikuti oleh van agensinya yang akan mengawal mereka.

"Kau baik?"

"Ya." Baekhyun hanya menjawab singkat. Tidak ada yang bisa ia pikirkan sebagai jawaban, terlebih perasaannya yang masih gelisah.

Chanyeol juga tidak mengatakan apapun lagi. Pria itu fokus pada roda kemudi tanpa menoleh pada Baekhyun. Suasana benar-benar hening hingga mereka tiba di apartemen. Chanyeol keluar dari mobil begitu saja dan pergi ke bagian keamanan di lantai satu. Baekhyun tidak mengikuti Chanyeol, melainkan langsung pergi ke apartemennya. Ia ingin pergi istirahat.

Tapi Bekhyun mengurungkan niatnya saat tiba di lantai delapan. Ia ingat masih memakai barang-barang Chanyeol di badannya. Baekhyun juga belum sempat berterima kasih pada Chanyeok. Terpaksa ia menunggu hingga pria itu muncul dari dalam lift.

"Ku kira kau sudah masuk."

Baekhyun menggeleng pelan, "Aku belum mengembalikan barangmu." tukas Baekhyun.

"Mampirlah ke tempatku sebentar." Chanyeol membuka pintu apartemennya dan melenggang masuk, sedangkan Baekhyun hanya diam di tempatnya.

Chanyeol melongokkan kepalanya dari pintu dan memandang Baekhyun dengan tatapan malas. "Kemarilah Baek, aku tidak akan menggigitmu."

Namun Baekhyun masih betah mematung disana hingga Chanyeol terpaksa menariknya masuk dan mendudukan Baekhyun di sofa ruang tengah.

"Bagaimana dengan soda, kau mau?" Chanyeol menawari seraya berjalan ke arah dapur. Pria itu membuka kulkasnya dan mengambil dua kaleng soda dari rak paling atas. Sedangkan Baekhyun masih diam dan mengamati Chanyeol yang mondar-mandir di dapur.

Chanyeol menempatkan kaleng soda dan beberapa camilan di depan Baekhyun sebelum ikut bergabung di sofa. Dipandanginya sejenak Baekhyun yang menatap kosong ke sembarang arah. Chanyeol tidak tau apa yang sebenarnya Baekhyun pikirkan, namun hanya dengan melihat gurat wajahnya Chanyeol tau pria itu tidak dalam kondisi yang baik.

"Aku meminta perusahaan untuk mengkonfirmasinya nanti malam." Chanyeol menyambar satu kaleng dan meminumnya perlahan. Cairan yang melewati mulutnya seolah menyegarkan pikirannya sendiri.

"Mobilmu sementara akan ditahan di tempat agensiku. Kau bisa pakai mobilku." lanjut Chanyeol.

"Aku juga minta tolong pada petugas keamanan agar tidak ada orang asing yang mendekat ke kamar apartemen kita."

Suasana seperti ini benar-benar buruk untuk Chanyeol. Ia tidak tau bagaimana caranya mencairkan situasi yang ada. Baekhyun disampingnya tidak mengatakan apapun, justru itu membuatnya sedikit khawatir. Akan lebih baik jika Baekhyun marah dan mengomelinya. Di titik ini ia merasa tidak enak hati pada Baekhyun.

"Apa kau baik?"

"Ya."

"Pintar sekali berbohong."

Baekhyun melirik Chanyeol sinis dan mendengus kesal. "Sudah tau dan kau masih bertanya."

Chanyeol tertawa kecil menyadari bahwa Baekhyun kembali seperti semula. Chanyeol kembali meneguk minumannya lagi bersamaan dengan Baekhyun yang membuka soda miliknya sendiri.

"Fans mu benar-benar.." Baekhyun menggelengkan kepala, "Aku gemetaran melihatnya." Baekhyun meminum sodanya langsung hingga tersisa setengahnya.

Ada jeda cukup lama sebelum Chanyeol meletakan sodanya kemudian pergi ke dapur untuk mendapatkan beberapa kaleng lagi. "Ya. Sedikit merepotkan."

Baekhyun melirik Chanyeol yang kembali duduk. Baekhyun menyusuri wajah Chanyeol yang berada di dekatnya. Kini kontur wajah Chanyeol terlihat lebih jelas daripada kemarin. Pria itu memang tampan, Baekhyun mengakuinya. Dan juga matanya, entah kenapa Baekhyun terpaku disana. Mata Chanyeol lebar, dan itu menjadi tajam saat menatap sesuatu. Garis dahinya indah, apalagi saat rambutnya dibuat naik ke atas.

Chanyeol menyadari tatapan Baekhyun yang seolah menelanjanginya. Namun pria jakung itu hanya diam dan berusaha tak peduli. Ia berusaha menyibukkan diri dengan minumannya walau sejujurnya ia merasa sedikit tidak nyaman.

"Chan, boleh aku bertanya sesuatu?"

"Tentu."

Baekhyun menggigit bibirnya dalam, masih ragu apakah ia harus menuruti rasa penasaran di pikirannya.

"Ini mungkin sedikit sensitif, tapi aku benar-benar ingin tau tentang masalahmu."

Chanyeol cukup paham tanpa Baekhyun memperjelas pertanyaannya. Tentu itu tentang masalahnya dengan wanita yang dia hamili.

"Malam itu aku menghadiri pesta ulang tahun temanku di sebuah hotel. Aku masih ingat saat aku mulai mabuk dan memutuskan untuk memesan kamar di sana." Chanyeol menjeda ceritanya dengan sebuah tegukan lagi.

"Namun saat aku bangun, ada seorang wanita yang tidur bersamaku. Aku benar-benar tak ingat apapun saat itu, tapi wanita itu mengatakan kami memang melakukannya."

Baekhyun tidak mempunyai tanggapan apapun tentang itu.

"Dan beberapa hari lalu wanita itu datang ke kantor dan mengatakan bahwa ia hamil anak ku."

Baekhyun kini mengerti bahwa Chanyeol ada diposisi yang sulit. Bagaimana kabar itu datang tanpa disangka sebelumnya. Tapi Baekhyun pikir semua itu memang kelalaian Chanyeol. Ia adalah publik figur, sudah seharusnya hati-hati dalam bertindak.

"Tapi Chan, bagaimana jika wanita itu hanya menipumu? Maksudku, tak ada bukti bahwa kalian benar-benar melakukannya."

Chanyeol menggeleng tak setuju. "Aku melihat bekasnya, Baek. Ada bercak darah di ranjang."

Dalam hatinya Baekhyun turut prihatin pada Chanyeol. Ditengah karir Chanyeol yang sedang bersinar pria itu malah terlibat masalah besar. Tapi itu sudah menjadi tanggung jawab Chanyeol untuk menyelesaikan semuanya.

Berbicara tentang tanggung jawab, Baekhyun ingat bahwa ia harus segera membayar 'tim' nya karena berita itu sudah dipublikasi.

"Chan, aku akan pulang sekarang." Baekhyun bangkit dari sofa dan menanggalkan jaket milik Chanyeol di badannya.

"Dan aku sangat berterima kasih untuk yang tadi." Baekhyun buru-buru pergi menuju pintu tanpa mau menunggu balasan dari Chanyeol.

Hingga saat terdengar pintu yang tertutup, Chanyeol masih duduk di posisi yang sama.

Kecuali tangannya, bergerak meraih jaket yang tersampir di sofa dan membawa itu pada pelukannya. Mendekapnya, menyesap aromanya dengan rindu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Park Chanyeol memang tengah menjalin hubungan dengan seorang laki-laki dari kalangan non selebriti."

"Untuk kejadian di cafe, pihak kami sudah menyelesaikan semuanya."

"Chanyeol berharap dukungan dari para fans"

Itu beberapa kalimat yang Baekhyun baca dari laman web online. SM mengkonfirmasi semuanya, minus identitasnya yang memang akan dirahasiakan sesuai kontrak.

Beruntunglah tidak banyak orang yang mengetahui wajah aslinya. Hanya beberapa siswi dan tak ada yang mengambil gambar saat itu. Baekhyun tidak mau berlanjut membaca komentar disana, sudah pasti isinya akan menyakitkan.

Jika saja ia tertangkap berciuman dengan pria lain mungkin tidak akan ada yang peduli dan akan memakluminya. Hanya saja, ini adalah Park Chanyeol, bintang korea nomor satu, banyak digilai wanita dan tidak pernah terlibat skandal apapun sebelumnya. Perjalanan karir yang bersih dan cemerlang membuat ia begitu dicintai banyak orang.

Baekhyun seolah melihat bahwa skandal seperti dua mata pisau yang bertolak belakang. Skandal bisa membuat karir seseorang menjadi lebih baik namun disisi lain bisa membuat semua hancur dalam satu kali waktu.

Baekhyun pikir ia terkena imbas dari pekerjaannya sendiri. Ia tidak tau akan seberat ini saat menjadi sorotan publik. Dunia keartisan memang sedikit kejam.

Dan selintas pikiran tentang Chanyeol lewat di kepala Baekhyun saat ia akan beranjak tidur.

Apakah pria itu tidak merasa kesepian?

.

.

.

.

.

.

.

.

Haloo.. Celebrity scandal is back..

Thank you buat review dan dukungannya di chapter sebelumnya. Jun gak nyangka bakal banyak yang suka sama cerita ini.

Sorry kalau chapter yang ini sedikit mengecewakan. Soalnya dari kemarin sempet hilang feel nulisnya

Oh ya, mungkin next chapter mulai kebuka satu persatu konfliknya.. So, tungguin aja ya..

Babayyy 3