Tsurune (c) Kotoko Ayano Chinatsu Morimoto

Winner (c) Elsoul59

Pair: Fujiwara Shuu - Takehaya Seiya

Rate: T

Setting Canon Universe yang dibuat Alternate Reality

Warn(!): BL, Shounen-ai, bxb, typo(s), plotless, etc.

.

.

.

enjoy

.

.

.

.


Minato pusing.

Iris hijaunya memandang dua orang didepannya dengan canggung.

"Anoㅡ"

Perkataannya telak diberi kacang segunung. Jelas diabaikan, kedua orang didepannya masih sibuk melempar tatapan tajam yang sesungguhnya cukup intens.

Minato tidak mengerti.

Apa lagi yang menjadi bahan pertikaian mereka? Seingat Minato, saat masih sekolah menengah pertama dan mereka berada di tim yang sama, dua manusia dengan surai kontras damai-damai saja.

"Kenapa kaㅡ"

"KAU!"

Ya ampun, Minato benar-benar pusing. Baru saja ingin mengucapkan sesuatu keduanya justru memotong dengan bentakan keras.

Minato, kau hanya terlalu polos.

"Kau! Kami akan menang! Lihat saja!" Seiya melipat tangan di dada. Minato jelas melihat perempatan di sudut bibir Seiya.

Ah dia marah, batin Minato.

Mengalihkan pandangan dari Seiya, Minato justru melihat Shuu yang tetap tenang sambil memberi senyum tipis kepada mereka dan berkata, "oh tentu. Kalian harus menang."

Senyumnya masih apik di wajah.

'Tapi Shuu tidak marah, tapi kenapa Seiya marah?' Minato mengelus pelipisnya pelan, tidak mengerti situasi. Hanya paham jika keduanya sedang ribut.

'Shuu bahkan tersenyum. Mereka aneh sekali' sekali lagi, batin Minato menjadi keresahan para warga sekitar. Anak ini terlalu polos.

Lantas, setelah lelah berpikir ada apa dengan dua orang yang biasanya tenang-tenang saja kini justru seperti siap-siap untuk bertempur, akhirnya Minato berseru jengkel, "Kalian ini kenapa?! Kenapa ribut?! Aku tidak mengerti!"

Minato marah. Wajahnya merengut, emerald polos memandang murka, siap meledak dan mendiamkan mereka berdua seharian penuh.

Minato tidak suka mereka bertengkar dan tidak suka diabaikan. Seiya dan Shuu melakukan keduanya pada Minato.

Seiya dan Shuu terbelalak seketika. Ketika tadi mereka saling memberi pandangan tajam dan sejujurnya yang Minato kira senyuman itu adalah sebuah seringai, keduanya spontan menoleh pada Minato dan menatap remaja bersurai hitam itu takut-takut.

Oh tentu saja. Fujiwara Shuu tadi sedang melempar seringai menyebalkan pada Takehaya Seiya, hanya Minato saja yang terlalu baik menganggap itu sebuah senyum penuh keramahan.

Minato itu jarang sekali marah, mereka mengenal bocah yang dulunya menderita target panik ini dari kecil, ketika marah Minato akan benar-benar mendiamkan mereka.

Itu tidak bisa di terima!

Kenapa pula mereka tidak terima?

"Ahaha, Minato. Tidak, kami tidak bertengkar, iya kan, Shuu?" Seiya memberi senyum kaku. Bersyukur dalam hati Minato adalah spesies orang yang jarang sekali bisa membedakan makna senyum seseorang. Lebih memilih mencari aman, Seiya melirik sekilas pada Shuu untuk memberi kode.

Shuu mengangguk paham, remaja Fujiwara berdarah setengah Jepang itu berkata, "benar. Kami tidak bertengkar. Hanya berdebat sedikit, tidak akan sampai saling memukul. Apakah kau marah?"

Iris violetnya menatap Minato lembut, Seiya yang menyadarinya mendengus kesal.

"Benarkah?" Alis Minato bertaut, netranya yang tadi memandang kesal sedetik kemudian berubah seperti biasa dan kemudian berkata, "oke, jangan bertengkar. Aku tidak marah jika kalian tidak bertengkarㅡ" rautnya yang kesal berubah menjadi lebih segar, memberi senyum pada keduanya, "ㅡbaiklah, aku akan ke tepat Masa-san. Sampai jumpa! Ingat jangan bertengkar."

'Gawat'

Seiya dan Shuu saling pandang. Sedetik kemudian ketika Minato sudah menjauh dari pandangan, mereka lantas berteriak dengan kompak, "MINATO! JANGAN BERANI KE TEMPAT TAKIGAWA-SAN!"

Oh tak lupa, dengan nada yang histeris keduanya melaju menghentikan Minato yang sudah menaiki sepedanya.

Hehe, mereka memang hanya kompak jika itu adalah Minato.

.

.

.


"Astaga, anak itu cepat sekali mengayuh sepedanya" Seiya menghela nafas, lelah menghampiri dirinya, bulir keringat juga sudah menetes dan membasahi bajunya sebagai bukti betapa lelahnya ia.

Kenapa pula Minato semakin dekat dengan pelatih kyudo sekolah menengah atas Kazemai.

Shuu lantas menarik tangan Seiya ketika si surai hitam dengan iris biru itu membungkuk untuk melepas sedikit lelahnya.

"Duduklah dulu, sepertinya tadi aku melihat mesin minuman otomatis" ucap Shuu, setelah mendudukkan Seiya pada bangku halte ia kemudian berlari kecil menuju mesin minuman yang ia tuju. Surai violetnya sedikit melirik pada Seiya sebelum benar-benar menghadap ke arah depan.

Seiya mengusap dahinya sebentar, keping birunya lantas beralih menatap punggung tegap Shuu yang menjauh.

Sebenarnya, memanglah benar dirinya dan Shuu tidak pernah bertikai sebelumnya. Pertemanan mereka dengan Minato tetap taraf yang aman saja. Tidak ada perkelahian atau perdebatan jangka panjang.

Mungkin, itu sebelum Minato mendapatkan panik target.

Sejak awal, Seiya hanya mengenal Minato sebelum mengenal Shuu. Tahu persis, si surai hitam dengan iris hijau itu seperti apa. Mengenal Shuu pun dari Minato juga.

Sudah satu tahun berlalu sejak Minato berhasil menghilangkan panik targetnya. Namun, selama satu tahun ini rasa kesal Seiya pada Shuu belum hilang sepenuhnya.

Tentu saja.

Shuu terlalu diam. Terlalu pada porosnya dan terlihat tidak terlalu peduli.

"Minumlah."

Terlalu lama melamunkan sesuatu, Shuu sekarang sudah berada tepat dihadapannya dengan tangan yang menyodorkan sekaleng minuman dingin.

Tak ada pembicaraan setelahnya. Keduanya diam, ini adalah kali ketiga mereka bertemu. Kali pertama adalah saat pertandingan perdana mereka sebagai murid sekolah menengah atas. Dulu dimana mereka satu tim, kini menjadi lawan. Kali kedua adalah saat mereka semua berikut dengan murid Kirisaki berada di dojo kuil Yata dan ini adalah yang ketiga kalinya.

Pertemuan ketiga mereka saat ini pun sungguh tidak direncanakan.

Perjalan pulang bersama Minato seperti biasa. Namun sepertinya perjalanan pulangnya bersama Minato beralih pertikaian dengan Shuu dan tanpa sadar melupakan jika Minato berada di dekat mereka.

Dan karena itu pula, bukannya pulang, Minato justru pergi ke tempat Takigawa-san. Seiya masih dengki.

"Kenapa kau kesal sekali?" Shuu kembali memecah lamunan Seiya. Keping violet menatap hangat seperti biasa.

"Tidak. Sebenarnya apa yang kau lakukan di sini?" Seiya menjawab cepat dan kembali bertanya. Keberadaan Shuu di dekat Kazemai itu tidak wajar. Jarak Kirizaki menuju Kazemai tidaklah dekat dan seorang Fujiwara Shuu bukanlah orang yang akan membuang waktunya hanya untuk sekedar berjalan-jalan random.

Sedetik kedua netra mereka bertemu, sedetik itu pula Seiya tersentak kalatangan besar Shuu menarik tangannya dan mencengkram dagunya.

"Kau ingin tahu alasanku berada di sini?" Suara yang berat seperti biasa, suara berintonasi tenang seperti biasa.

Namun sayangnya, itu bukan tipe suara yang menenangkan Seiya.

Justru suara itu membuatnya tak bisa tenang.

Jarak kemudian terkikis, adrenalin terpacu kencang, panik melanda salah satunya sedangkan satunya memberi tekanan jelas. Posisi yang awalnya hanya saling berhadapan dengan jarak yang tak sampai setengah meter terkikis begitu saja kala tubuh yang lebih besar membungkuk dan mencengkram erat.

Gawat.

Terlalu dekat.

Terlalu dekat.

Ini semua terlalu dekat.

Seiya panik.

"Kau ingin tahu?"

Terulang lagi. Pertanyaannya di ulang lagi. Fujiwara Shuu menekannya keras-keras.

Kulit yang bergesekan, nafas yang berhembus pada wajah sudah cukup memberi getaran aneh.

Tangan besar yang awalnya berada di dagu lantas berpindah pada pipi. Di usap. Pipi Seiya di usap perlahan. Semu menghampiri pipi si surai hitamㅡ

Seiya membeku. Kelu menghampiri seluruh badan. Shuu mendominasinya begitu saja. Benci dan suka menghampiri perasaanㅡ

"Tentu saja untuk menarikmu kembali padaku."

ㅡmemberi sengatan familiar yang menyenangkan.

Shuu Fujiwara sukses memberinya kejutan yang tak bisa ia sangka-sangka.

"Tentu saja untuk menarikmu kembali padaku."

Sadar, Shuu terlampau sadar ketika membisikkan sederet kalimat berefek itu.

Violetnya masih memaku iris biru Seiya. Tak akan membiarkannya lepas begitu saja. Tubuhnya membungkuk, memposisikan bibirnya tepat di dekat telinga Seiya.

"Kembali padaku Seiya."

Sekali lagi ia berbisik, namun belum sampai beberapa menit Seiya justru mendorongnya keras-keras.

Remaja bersurai hitam dengan kilau biru yang memukau pada maniknya memandang marah. Gigi bergemeletuk marah, wajah memerah padam.

"Sinting."

Desisan Seiya terdengar. Shuu tetap tenang menanggapi.

"Kau sinting."

Lagi. Shuu memang sinting.

'Ya. Aku memang sinting, lalu kenapa?' kemudian kurva cekung terbentuk tipis. Iris yang biasanya memandang semuanya biasa-biasa saja kini berkilat penuh ketertarikan.

"Kembali padaku."

"Kau sinting! Berhentilah!"

Seiya berseru padanya. Penuh amarah.

"Ya aku memang sinting. Jadi kembalilah padaku."

Seiya mengerjab tidak percaya. Kemudian si surai hitam dengan titik cantik di bawah mata itu mengusap wajah kasar, kacamata berframe kotak di lepas.

Tawa keluar dari bibirnya. Mengundang sorot mata aneh pada Shuu.

"Haha! Sinting. Kau memang sinting! Kemana saja kau setahun itu Fujiwara Shuu?!" Bentak Seiya keras-keras. Tangannya mengepal, ia melaju pada Shuu dan mencengkram kerah si surai olive.

"Kemana saja kau?!"

Kerah baju Shuu di cengkram erat. Di tarik.

"Dimana kau? Kami membutuhkanmu! Minato! Aku!"

Binar biru menggelap, amarah yang tertahan keluar.

"Kenapa kau tetap di sana! Kenapa? Heh rupanya kau memang hanya mikirkan dirimu sendiri. Tentu saja! Bodohnya aku melupakan ini! Kau ini pangeran yang mereka bangga-banggakan haha!"

Hingga akhirnya setitik air membasahi pipi si surai hitam berkacamata.

Cengkraman itu melemah, kemudian terlepas begitu saja.

"Pergilah. Kau membuatku lelah. Aku benar-benar tidak ingin mengungkit hal ini."

Shuu mendengarnya. Semuanya. Namun hanya bergeming.

Seiya pun orang yang susah di buat marah. Shuu kaget, Seiya memendam amarah sebanyak ini padanya.

"Seiya."

Iris violet itu terbelalak kala jemari Seiya meraih tangannya. Di cengkram sejenak kemudian diletakkan pada dada Shuu dan di lepas.

Seiya berjalan mundur.

Menjauh padanya.

"Minato itu seperti adikku sendiri. Jadi ingin tahu apa yang mengancurkanku selain keterpurukan Minato saat itu?"

Menggantung begitu saja. Jarak sudah kembali mereka berdua dapatkan.

Semilir angin menerpa, menyapu kulit dengan lembut, menerbangkan beberapa anak rambut mereka.

Senyum tipis mengembang pada si surai hitam bergaris wajah lembut.

"ㅡkau. Kau juga menghancurkanku dengan penolakanmu."

Dan ketika tungkai orang yang selama ini selalu mendominasi pikirannya menjauh, Shuu runtuh dengan sejuta kenyataan bahwa tindakan berubah tidak pedulinya saat itu begitu menampar keduanya.

Ia salah.

Sangat bersalah.

.

.

.

.

.