Celebrity Scandal

keanijun

2018

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Baekhyun merasakan sakit dan kepedihan yang tidak asing menyelinap dalam hatinya. Itu pukul satu pagi, dan dengan keringat yang bercucuran ia keluar berlari dari apartemen. Kaki telanjang itu menerjang trotoar yang lenggang. Tidak peduli bagaimana telapak kaki mulus miliknya akan tergores atau terasa sakit, langkah itu dipercepat. Karena yang Baekhyun ingat dari rasa sakit hanya cacian omong kosong.

Semua itu terhenti pada pintu apartemen lamanya. Baekhyun merangsak masuk seperti kehilangan akal. Aroma rumah lamanya yang menguar membuat Baekhyun menjadi gila. Napasnya bergulir berat ketika ia membongkar seluruh isi nakas di kamarnya. Mungkin barangnya akan berantakan atau beberapa jarum kecil menusuk kakinya, Baekhyun tidak bisa berpikir lagi. Sebuah foto lama terselip di jurnal usangnya. Seorang wanita muda yang cantik.

Baekhyun memandangnya sejenak sebelum membawa itu pada dekapannya. Tidak ada yang dilakukan Baekhyun selain menangis pilu.

"Ibu.. Aku sangat sakit."

Ia bersimpuh di lantai dan meraung, dan tidak ada yang bisa menyelamatkan Baekhyun dari pesakitan hatinya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Baekhyun punya ingatan dimana separuh waktu hidupnya dihabiskan dengan rasa sakit yang seharusnya tidak dialami oleh seseorang. Bukan rasa sakit karena hantaman atau kekerasan fisik lainnya, namun itu adalah luka batin yang selalu membuatnya tersiksa.

Baekhyun lahir dari keluarga berkecukupan. Ayahnya pegawai kantoran dan sang ibu adalah ibu rumah tangga biasa. Keluarga kecil yang bahagia, setidaknya itu yang Baekhyun ingat hingga ibunya meninggal ketika Baekhyun berumur 5 tahun. Ketika Baekhyun terus bertanya kemana ibunya, ayahnya dengan sabar akan berkata bahwa ibunya berubah menjadi malaikat.

Namun itu adalah pukulan berat bagi ayahnya. Rasa sayangnya pada Baekhyun tersisih oleh kesepian yang panjang. Hingga suatu waktu pria itu pergi untuk mencari kehidupan baru di kota lain. Baekhyun ditinggalkan sendiri di rumah lama mereka. Baekhyun tidak memahami apapun, karenanya ia masih bisa tertawa seperti biasa. Berbekal belas kasih para tetangga yang merawatnya, ia bisa tumbuh dengan baik.

Tapi tidak ada yang selamanya. Beranjak dewasa, Baekhyun menguak cerita lamanya sendiri. Potongan demi potongan dan itu semua terangkai menjadi hantaman yang menyakitkan untuknya. Berapa kali pun ia menenangkan hatinya, selalu ada rasa benci disana.

Pernah sekali waktu Baekhyun menemukan ayahnya. Jauh-jauh ia datang dari rumahnya hanya untuk sebuah kabar bahwa ayahnya sudah menikah dengan wanita lain. Dan mereka bahagia.

Ayah yang Baekhyun ingat penuh dengan kehangatan dan kasih sayang, kini hanya figur kebencian yang nyata. Tidak tau bagaimana mengatasi rasa sakitnya ketika secara terang-terangan ia diusir oleh ayahnya sendiri, seolah Baekhyun adalah masa lalu yang tak perlu diingat lagi.

Segalanya itu lengkap dengan rundungan yang ia dapat dari teman-temannya. Tidak ada yang peduli hal baik tentang Byun Baekhyun karena mereka hanya tau bahwa Baekhyun adalah wujud keburukan dari semua orang. Sifatnya onar dan serampangan, benar-benar sifat anak kampungan, tidak berkelas. Selentingan miring terus menusuk pendengarannya, namun Baekhyun tidak peduli dan tetap menjadi dirinya sendiri. Tapi yang terbaik dari itu, ia menemukan Kyungsoo.

Baekhyun tumbuh dengan luka nyata yang menganga, dan itu bisa saja menjadi perih jika sesuatu yang sama datang padanya lagi.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Baekhyun bukan orang yang penakut, jelas. Dia adalah orang yang blak-blakan dan cenderung bertindak melawan resiko. Namun selalu ada waktu dimana ia tidak bisa menentukan langkah yang harus ia ambil, sekalipun itu hanya masalah sepele. Mungkin seperti siang ini ketika Baekhyun berpikir tentang pasta di restoran dekat apartemen lamanya membuat ia menghabiskan nyaris satu jam hanya untuk mondar-mandir dari pintu dan dapur. Sumpah untuk apapun, Baekhyun benar-benar menginginkannya.

Baekhyun mulai merasakan dampak dari skandal kencannya dan Chanyeol. Ia merasa sedikit was-was saat keluar dari apartemen. Itu karena beberapa fans Chanyeol yang mengetahui tempat tinggal idolanya memutuskan untuk mengintai di sekitar sana selama berhari-hari. Chanyeol yang memberitahunya. Walau ia yakin mereka tak akan mengenali Baekhyun, hal tersebut tetap membuat Baekhyun takut.

Mobilnya juga masih ditahan, jadi tidak ada jalan lain kecuali naik transportasi umum untuk bepergian. Mobil Chanyeol? Baekhyun tidak akan pernah memakainya karena jelas, fans Chanyeol pasti familiar dengan itu.

Baekhyun dengan gusar melempar jaketnya ke sofa dan kembali ke dapur hanya untuk mendapati sisa ramennya tadi pagi. Panci kotor dan beberapa peralatan makan masih bertumpuk di atas meja, sebagian sudah ada di wastafel dan yang lain terserak sembarang di pantry. Ia melirik pada kulkas dan beranjak mengecek isinya yang seharusnya sudah ia hafal di luar kepala. Beberapa varian rasa ramen dan air mineral dingin selalu ada disana. Tak jarang beberapa kaleng minuman bersoda mampir di kulkas tuan Byun, walau itu tak pernah bertahan lebih dari satu malam. Baekhyun membanting pintu kulkas dan melempar pantatnya ke kursi makan.

"Aishh… aku bisa gila! Hanya membayangkannya sudah membuat perutku kelaparan." Baekhyun mengusak rambutnya kasar kemudian kembali dengan mengitari dapur hingga ke pintu utama. Tidak peduli berapa kali Baekhyun menyentuh knop pintu, ia akan kembali berakhir ke dapur dan terus merutuk.

"Siapa peduli dengan penguntit, aku lapar." Dengan langkah besar Baekhyun keluar dari kamar apartemennya dan bersamaan dengan itu, pintu Chanyeol terbuka dan menampakan pria jakung yang ia kenali. Pria itu memakai kaos hitam berlapis jaket kulit serta topi yang sama seperti tempo hari.

"Hai.." sapaan kecil itu reflek keluar dari bibir Baekhyun bersama senyum tipis yang samar, namun cukup jelas untuk Chanyeol menangkapnya.

"Oh.. Hai Baekhyun." Chanyeol membalas sapaan Baekhyun sedang pria itu menyimpan dompetnya dalam saku.

"Apa kau pergi kerja?"

"Aku akan ke supermarket, aku butuh beberapa sayuran. Bagaimana denganmu?"

"Aku akan pergi makan." Baekhyun memasukan tangannya ke kantong jaket, "Aku tidak tahu jika kau memasak."

Taunya Chanyeol hanya tertawa kecil dan Mereka mulai berjalan beriringan menuju ke lift di ujung lorong sembari memulai percakapan ringan. Topik cuaca dan beberapa isu akhir-akhir ini menjadi hal menarik untuk diperbincangkan. Tidak ada yang menyinggung tentang masalah skandal atau para penguntit, semua itu mengalir dengan sendirinya, seperti sapaan hangat satu sama lainnya. Hingga saat pintu lift terbuka, ada Kyungsoo yang keluar bersama seorang pria lagi dengan kantong belanjaan besar.

"Soo-ya! Apa yang kau lakukan disini?"

"Aku ingin mengunjungimu. Ku pikir kita bisa mengadakan pesta kecil-kecilan untuk kepindahanmu."

Kyungsoo tersenyum lebar, kemudian beralih pada pria yang ada di belakang Baekhyun. Sejenak Kyungsoo terhenyak karena ia baru sadar pria yang kini melempar senyum padanya adalah Chanyeol.

"Woahh.. Kau benar Chanyeol?" tanya Kyungsoo takjub.

Chanyeol terkekeh kecil melihat wajah Kyungsoo, terutama matanya, yang seperti nyaris keluar. Ia pikir Baekhyun memang hanya berteman dengan jenis manusia yang sama menggemaskannya.

Kyungsoo mendekat ke arah Chanyeol dan mengulurkan tangannya. "Kenalkan, aku Kyungsoo. Aku teman Baekhyun."

Chanyeol tersenyum pada Kyungsoo "Park Chanyeol, pacar Baekhyun."

Kyungsoo tertawa jahil dan Baekhyun langsung menyikut perut sahabatnya. "Tenanglah Chan, aku tau semua yang terjadi." sambung Kyungsoo.

"Dan perkenalkan, aku Jongin, pacar Kyungsoo."

Jongin, pria berkulit tan di belakang Kyungsoo, dengan mudahnya menyambar tangan Chanyeol. Kyungsoo melotot, tidak habis pikir dengan tingkah Jongin barusan.

"Yak! Kenapa kau tidak cerita padaku kalau kau punya pacar!"

"Dia bukan pacarku Baek." Kyungsoo memutar bola matanya malas.

Jongin menahan senyum anehnya dan menghampiri Kyungsoo untuk kemudian memeluk Kyungsoo dari belakang dengan sebelah tangannya yang bebas. Kyungsoo tentu saja terkejut dan meronta marah agar namun sepertinya Jongin tidak peduli karena ia mengeratkan lilitan tangannya.

"Sialan kau!" Kyungsoo dengan keras menginjak kaki Jongin hingga pria itu mengaduh kesakitan dan berjalan mundur.

"Lihatlah Soo, kau sangat kasar dengan kekasihmu sendiri. Bagaimana bisa dia mau menjadikanmu kekasih!"

"Dia bukan pacarku Baek."

"Mengakulah Kyung!"

"Dia bukan!"

Dan sedikit cekcok yang memakan waktu terjadi antara Baekhyun dan Kyungsoo. Chanyeol berdecak malas. Daripada pertengkaran antara Baekhyun dan Kyungsoo, Chanyeol lebih tertarik menghampiri Jongin.

"Kim Jongin, Presdir Kim Corp. Aku benar?"

"Dan kau Park Chanyeol, Brand ambassador untuk produk fashion Kim Corp. Aku benar?"

Kemudian Chanyeol dan Jongin tertawa bersamaan. Sebenarnya mereka telah bertemu dua minggu yang lalu, di kantor Jongin tepatnya. Perusahaan keluarga Jongin akan mengeluarkan Brand Fashion terbaru dan merekrut Chanyeol untuk menjadi wajah utama mereka.

Kembali pada Baekhyun dan Kyungsoo yang kini malah berkejaran di Lorong-lorong dengan Kyungsoo yang menenteng sebelah sepatunya.

"Dia mengerikan." Chanyeol bergumam.

Jongin mengendik tidak peduli, "Itu tipeku."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Maka mereka semua berakhir di apartemen Baekhyun dengan agenda pesta kepindahan. Kyungsoo dan Chanyeol sibuk di dapur dengan beberapa resep, sedangkan Jongin dan Baekhyun menyiapkan minuman serta beberapa cemilan di ruang tengah. Katakan hanya Jongin yang menyiapkan, karena yang dilakukan Baekhyun dari tadi hanya berkeliaran di sekitar ruangan dan sesekali menengok ke arah dapur. Itu karena ada semangkuk penuh stroberi di dekat kulkas dan Kyungsoo akan berhenti sejenak untuk memakannya. Jika Kyungsoo memasak lebih lama lagi, Baekhyun bisa memastikan bahwa semuanya akan habis tak tersisa. Ia ingin masuk ke dapur dan mencuri beberapa biji tapi Chanyeol dan Jongin melarangnya untuk mendekat pada Kyungsoo. Mereka bilang, bisa saja sepatu Kyungsoo berubah menjadi pisau dapur. Jika dipikirkan lagi, Baekhyun setuju dengan kemungkinan itu.

Menjelang sore, mereka sudah berada di meja makan dan menikmati hidangan di meja. Dengan beberapa candaan dari Jongin dan Chanyeol, suasana terasa lebih hangat dan menyenangkan. Kyungsoo yang biasanya tenang saat makan juga lebih banyak bicara. Berbeda dengan Baekhyun yang sepenuhnya fokus pada makannya. Seolah lupa bagaimana tadi siang ia sangat menginginkan pasta, Baekhyun justru menghabiskan beberapa porsi untuk tumis daging buatan Kyungsoo. Baekhyun menjadi orang yang pertama mencicipi masakan dan orang yang terakhir selesai.

"Astaga, aku penuh." Baekhyun menyandar di kursi dan menepuk perutnya yang terasa begah.

"Siapa orang waras yang akan menghabiskan separuh meja makan untuk perutnya sendiri." Kyungsoo dengan lancar melafalkan sindiran untuk Baekhyun yang sayangnya tidak mendapat tanggapan apapun karena Baekhyun terlalu malas untuk bertengkar. Kyungsoo menyusun beberapa mangkuk kosong dan membawanya

"Aku dengar kau berkencan." Jongin bertanya seraya meneguk sekaleng bir di tangannya.

Chanyeol melirik Baekhyun sebentar dan pria kecil itu tengah asyik dengan ponselnya, jadi Chanyeol pikir tidak masalah untuk jawaban apapun yang ia keluarkan. Lagipula Jongin mungkin hanya berniat menggoda.

"Kau sudah dengar rupanya."

"Tentu. Semua tau itu."

"Apa ini artinya pembatalan kontrak?"

Jongin mendengus dan menjemput tegukan terakhirnya sebelum meninggalkan kaleng itu di meja. "Omong kosong. Lagipula, selera kita sedikit sama." Kemudian pergi ke dapur dan berdiri di belakang Kyungsoo. Pria itu tau cara bagaimana membuat Kyungsoo marah.

Melupakan Jongin, Chanyeol fokus pada Baekhyun di depannya yang masih fokus pada ponselnya. Entah apa yang ia mainkan disana, namun wajah Baekhyun terlihat cukup serius. Chanyeol tidak bisa menahan senyumnya melihat dahi Baekhyun yang berkerut ditambah bibirnya mungilnya yang mencebik.

Chanyeol bangun dari tempatnya dan mendekat pada Baekhyun hanya untuk mencubit bibirnya. "Eiii.. lihatlah bibir ini, panjang sekali."

Baekhyun buru-buru menyingkirkan jari-jari Chanyeol dari bibirnya. "Apa yang kau lakukan! Tangan mu kotor!"

Taunya Chanyeol hanya tertawa menanggapi itu.

"Dia ingin menciummu, Baek." Itu Kyungsoo yang datang dari dapur dengan Jongin yang mengekorinya.

"Yak! Jangan sembarangan."

"Kenapa? Bukannya kalian memang pernah berciuman?"

Baekhyun hanya bisa diam saat itu. Selintas bayangan tentang ciuman di basement lewat dalam kepalanya. Hanya dengan memikirkannya membuat pipi Baekhyun memanas seketika.

"Kau mungkin sebentar lagi akan mendapatkannya juga."

Kyungsoo mendelik tidak suka. "Kau pikir aku akan?"

Baekhyun mengedikkan bahu, "Tanyakan pada bosmu."

Kyungsoo melirik sebentar pada Jongin di sampingnya. "Dia tidak akan bisa."

"Belum, aku belum bisa. Tapi mungkin yang lain aku bisa." Jongin bergeser tepat di belakang Kyungsoo sebelum dengan berani menampar dan meremas pantat Kyungsoo.

"Yeaayyy!" Itu Baekhyun, ia bersorak senang. Dan satu sendok di tangan Kyungsoo mendarat di kepalanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Acara perayaan itu selesai lebih cepat dari perkiraan. Itu karena Kyungsoo yang memukul wajah Jongin terlalu keras dan terluka. Awalnya mereka akan berpesta semalam suntuk, namun hanya dapat bertahan sampai pukul tujuh malam. Hingga lift yang membawa Jongin dan Kyungsoo tertutup, Baekhyun tidak bisa membuat tawanya sendiri berhenti.

"Berhentilah tertawa, Baek."

Seolah tak peduli dengan Chanyeol, Baekhyun masih tertawa. Hingga akhirnya tiba di depan apartemen masing-masing, Baekhyun tidak lagi mengeluarkan suara.

"Baek.."

Baekhyun menoleh pada Chanyeol, mendapati pria itu mengusap lehernya sendiri. "Ya?"

"Aku punya beberapa minuman. Ku pikir kau mau mampir sebentar, ya, jika kau mungkin tidak keberatan."

"Aku mau."

Chanyeol sedikit terkejut bahwasanya Baekhyun menyanggupinya dengan cepat. Namun ia seketika menyadari bahwa suasana menjadi canggung, kemudian Chanyeol segera masuk ke dalam apartemennya dan diikuti oleh Baekhyun.

Chanyeol menggiring Baekhyun menuju ruang tengah. Di Sebelah sofa, di dekat pintu balkon lebih tepatnya, ada sebuah meja kayu panjang dengan kursi yang senada. Baekhyun menempatkan dirinya di sebelah pintu kaca yang membuat ia bisa langsung memandang keluar. Chanyeol pergi ke dapur dan memilih beberapa botol wine dan soju karena ia tidak tahu minuman jenis apa yang disukai Baekhyun.

"Disini luar biasa. Aku baru tahu jika pemandangannya bisa begitu menakjubkan."

Chanyeol meletakan beberapa botol bersama gelas di atas meja. "Ya. Ini hiburan tersendiri bagiku." dan mengambil tempat di depan Baekhyun.

Chanyeol membuka botol wine pertamanya, diikuti Baekhyun yang lebih memilih soju. Semua lampu padam, menyisakan cahaya yang masuk melalui pintu kaca. Keempat mata yang hanya terpaut pada kerlipan lampu kota di bawah sana, memantulkan titik-titik indah serupa bintang yang nyaris tak terlihat di langit sana. Tanpa ada suara disana, hanya menyisakan deru napas dan denting gelas dan botol.

"Disana, ada banyak sekali orang." Chanyeol masih tidak melepaskan pandangan dari kerlip di bawah sana bahkan ketika ia mulai bicara. Baekhyun melirik Chanyeol sebentar, kemudian memusatkan pandangan yang sama dengan Chanyeol.

"Tapi kenapa aku begitu kesepian?"

Baekhyun menuang soju dari botol yang tinggal setengah dan meminumnya dengan sekali teguk, meninggalkan wajah masamnya setelah itu. "Dunia tidak pernah sehangat yang kita kira."

Baekhyun menuang lagi soju ke dalam gelasnya, "Tapi kau tidak sendiri, setidaknya selalu ada orang yang bernasib sama." Baekhyun mengacungkan gelasnya pada Chanyeol. Chanyeol mengangkat gelasnya juga dan membuat mereka bersulang.

Chanyeol meneguk winenya cepat dan meletakan gelasnya di meja. "Pekerjaanmu, bukankah itu brengsek?"

Baekhyun berhasil menyelesaikan botol pertamanya. Matanya sudah berkunang, namun telinganya cukup tajam untuk mendengar perkataan Chanyeol, sehingga ia tertawa kecil dengan itu.

"Mereka membutuhkan orang brengsek sepertiku. Kau membutuhkan si brengsek juga."

Baekhyun bangun dari duduknya dengan sempoyongan dan mengambil tempat di sebelah Chanyeol. Chanyeol tidak bereaksi apapun selain memilih untuk membuka botol wine kedua dan menuangkan dalam gelas yang berbeda.

"Hidup itu kejam. Kau tidak akan pernah menemukan cinta seperti yang kau mau." Baekhyun berkata dengan suara seperti bercicit. "Mereka hanya bisa menerima semua yang baik darimu."

Chanyeol memandang wajah Baekhyun didekatnya. Dengan mata sayu dan wajah memerah, sudah pasti Baekhyun mabuk. Bisa saja semua kata-kata nya adalah omong kosong, namun Chanyeol memilih untuk mendengarkan semua celotehan itu.

"Manusia yang tidak memiliki hal baik apapun sepertiku, bagaimana bisa dicintai?"

"Ibuku meninggalkanku, ayahku, teman-temanku. Siapa yang sebenarnya brengsek?"

"Satu-satunya yang bisa menghargai si brengsek ini adalah pekerjaannya."

Chanyeol tidak berkomentar apapun karena hanya dengan melihat mata Baekhyun yang berkaca-kaca itu seolah mengatakan segalanya.

"Tapi pekerjaanku berkhianat. Pekerjaanku membuat aku dibenci. Mereka semua membenciku, menghinaku, seperti yang sudah aku dapatkan di masa lalu."

Baekhyun mengatakan segala sesuatu dengan emosional, penuh penekanan, dan ditelinga Chanyeol seperti tangisan penuh luka dan dihatinya seperti sesuatu yang membakar.

"Katakan, dimana aku bisa berdamai dengan keadaan? Dimana aku akan mendapat kebahagiaan?"

Baekhyun mulai menangis dalam keluhnya. Chanyeol masih setia disana, hanya diam dan mendengarkan.

"Aku butuh rumah, aku ingin pulang ke tempat penuh cinta." Baekhyun mengatakan semua itu dengan suara teredam namun Chanyeol masih mendengarkan begitu jelas. Tajam menusuk ke hatinya.

Chanyeol mengangkat wajah Baekhyun perlahan dan memandangnya. Jari-jarinya beralih menghapus air mata Baekhyun dan menelusuri sepanjang pipinya yang lembut. Chanyeol tidak ingat ada lawan main wanitanya yang punya kulit selembut milik Baekhyun. Pipinya juga merona alami, kemerah-merahan seperti bunga yang mekar. Bibirnya, ahh… Chanyeol tidak bisa menjelaskan.

"Ada banyak orang yang menyayangimu, bahkan kau mungkin tidak menyadari itu."

Chanyeol mengelus pipi Baekhyun lagi seolah itu candu baginya.

"Kau harus selalu melihatnya, Baek."

Tangan Chanyeol turun dan mengusap pelan bibir Baekhyun. Permukaannya yang lembab membawa getaran tersendiri untuk Chanyeol.

"Mungkin ada seseorang yang sudah lama membuka rumahnya untukmu."

Chanyeol mendekatkan wajahnya pada wajah Baekhyun,

"atau ingin menjadi rumah penuh cinta bagimu."

Tak ada lagi jarak antara mereka. Semua tertaut seperti yang sudah-sudah. Hanya saja tak ada yang menahan pikiran mereka, membuka sepenuh hati dalam pangutan yang sarat emosi. Semakin dalam dan menggugah hal lain untuk segera keluar.

Semua seolah terpecah disana, pijaran kerlap-kerlip bagai lampu perkotaan muncul diambang batas kenikmatan mereka.

Mungkin saja Chanyeol hanya merayu, menenangkan. Dan mungkin saja Baekhyun hanya terbawa kesadaran yang nyaris hilang. Tapi mereka telah melakukannya dengan penuh perasaan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.
.

.

.

.

hello Celebrity Scandal is back!

akhirnya setelah sekian lama Jun bisa up lagi

maaf kalau ada typo atau cerita yang mungkin gak sesuai sama ekspektasi kalian

but, Jun mau say Thank you buat yang masih mau join walau ditinggal satu bulan lebih

sebagai author Jun berharap bisa up secara rutin tapi memang sulit karena keterbatasan waktu.

happy reading all~~

.

.

.

thank you!