Tsurune (c) Kotoko Ayano Chinatsu Morimoto

Winner (c) Elsoul59

Pair: Fujiwara Shuu - Takehaya Seiya

Rate: T

Setting Canon Universe yang dibuat Alternate Reality

Warn(!): BL, Shounen-ai, bxb, typo(s), plotless, etc.

.

.

.

.

Bag. 2

.

.

.

Enjoy

.

.


"Ukh"

Seiya memijat keningnya. Dalam hati masih menyesali lepas kendali emosinya di saat yang tidak tepat. Menampakkan emosi dihadapan Shuu sama saja petaka.

Petaka, karena orang yang seenaknya pergi itu tahu benar bagaimana cara meruntuhkan pertahanannya.

Seiya jelas tidak suka ketika apa yang ia tahan untuk keluar justru terang-terangan terbongkar di depan Shuu.

Sejak awal, dikatakan membenci Shuu juga ia tidak akan bisa.

Cerita lama.

Lembaran lama.

Kusam. Hingga membukanya kembali rasanya Seiya sangat enggan.

Masa lalunya bersama Shuu bisa dikatakan baik. Seperti pengakuannya, mereka bahkan jarang bertengkar. Nyaris tidak pernah.

Sebelum Minato mendapat target paniknya.

Benar.

Seiya membenarkan semua.

Pertemuannya dengan Shuu juga berawal dari Minato, begitpula perpisahan mereka yang sungguh tidak bisa dikatakan baik. Menyalahkan Minato pun tak ada gunanya. Kawan kecilnya ini benar-benar tidak tahu apapun tentang hubungannya dan Shuu.

Jika Minato yang mempertemukan mereka, maka karena Minato juga yang berpisah.

Seiya tertegun.

Apakah baru saja ia menyalahkan Minato alih-alih menyalahkan Shuu?

Lantas sekali lagi, ia memijat keningnya dan kemudian menampar pelan kedua pipinya. Sebelumnya, bertemu dengan Shuu pada turnamen saat mereka kelas satu tak ada apapun yang terjadi kecuali tantangan yang terang-terangan mereka ungkapkan tentang keinganan mereka untuk menang.

Seiya berpikir Shuu memang sudah melupakan semua.

Cerita lama. Lembaran lama itu benar-benar sudah Shuu tutup dan lenyapkan. Ia kira Shuu memang hanya menganggap dirinya masa lalu.

Sudut hati meronta kecil, protes akan pernyataan logis. Bukankah sejak awal perasaan selalu tidak logis dalam akal pikiran?

Memikirkannya Seiya terkekeh miris.

Benar.

Bukankah sejak awal perasaan selalu tidak logis dalam akal pikiran?

Lalu bagaimana bisa ia terjebak dengan ketidak logisan ini?

"Aku pusing. Ada apa dengannya?" Seiya berbisik lirih. Berusaha mengenyahkan Shuu dari pikiran ternyata sama sulitnya menghadapi Minato yang saat itu tidak mau lagi memanah.

"Aku kadang cemburu pada Minato."

Seiya melirik, kemudian terkekeh pelan, "bagaimana bisa kau cemburu? Justru aku yang harus cemburu. Awal kita kenal kau sangat lembut pada Minato."

Mendengarnya Shuu merengut sebentar kemudian meraih tubuh kecil Seiya pada pelukan hangat.

Surai hitam bergoyang seiring tarikan, Seiya sukses tenggelam pada dada yang bisa dikatakan bidang untuk ukuran remaja sekolah menengah pertama.

Wajah yang memerah malu tak akan bisa di sembunyikan, lantas wajah Seiya tenggelamkan pada dada berlapis hakama milik Shuu yang mereka pakai untuk latihan kyudo.

"S-Shuu!"

Seruannyapun terbata karena menahan malu. Fujiwara Shuu pandai sekali membuatnya malu seperti ini.

Shuu tertawa kecil mendengarnya.

Wajahnya ia tenggelamkan pada perpotongan leher Seiya. Menghirup aroma tubuh Seiya seperti tak ada hari esok.

"Seiya manis sekali. Seiya juga orang yang perhatian dan sangat teliti. Aku selalu suka Seiya yang seperti ini" rayuan dilancarkan, walau niat hati bukan untuk menggoda namun kalimat ini sukses membuat Seiya makin salah tingkah.

"Jadi kau tidak suka jika aku berubah tidak peduli dan menjadi ceroboh?"

Balasan Seiya bergema pada indra pendengaran Shuu. Mata berkeping violet memukau berkedip sebentar dan ketika terbuka, binar senang terlihat jelas di sana walau ekspresi wajah masih saja sebatas sebuah senyum tipis yang terbentuk.

"Tentu tidak. Aku selalu suka Seiya karena Seiya adalah Seiya. Bukan orang lain."

Dan kecupan di dahi Seiya mendarat begitu saja.

Begitu saja, namun sangat membekas di hati.

ㅡSekelebat ingatan bersama Shuu muncul.

Netranya terpejam, bagaimanapun batinnya membantah, Seiya selalu ingat.

Selalu ingat walau di simpan rapat pada sudut hati.

Selalu ingat kala bibir tipis itu mendarat pada keningnya. Memberinya sebuah kecupan penuh sayang.

Dan ketika Seiya membuka kembali matanya.

Ketika ia menunduk.

Ketika telapak tangannya menggenang air yang tumpah dari pelupuk mata dan membasahi pipi,

ㅡSeiya sadar.

Seiya sadar Fujiwara Shuu membuatnya kembali menangis untuk kedua kalinya hari ini.

Selalu sadar bahwa hatinya tidak sepenuhnya ikhlas ditinggalkan oleh Shuu pada saat itu.

.

.

.


"Seiya, selamat pagi."

Seiya menoleh, kemudian kurvanya mencekung kala mendapati Minato yang beranjak keluar dari rumah dan akan mengunci pagar rumah.

"Selamat pagi, Minato. Sudah sarapan? Kau pulang jam berapa kemarin?"

Dapat di lihat Seiya bahwa saat ini Minato tengah mengerjab dengan gestur canggung.

Seiya paham.

Anak didepannya tidak tahu akan menjawab pertanyaan yang mana dulu.

Gemas. Seiya meletakkan tangannya di pucuk kepala Minato dan terkekeh, "aku hanya memberi dua pertanyaan. Kenapa kau bingung mengingatnya?"

Minato ikut terkekeh. Nadanya riang, iris hijaunya hilang tertelan senyum lebar.

"Seiya terlalu banyak bertanya" jawab Minato.

"Aku mengkhawatirkanmu."

"Aku hanya ke tempat Masa-san. Kenapa harus khawatir."

'Justru karena kau ke tempat Takigawa-san!' Seiya menjerit dalam hati.

Minato mengerjab, "Seiya kenapa diam?"

Iris hijau itu memandangnya, sorotnya penuh tanya. Seiya hanya tertawa kaku. Ingin menjawab seperti apa kata batinnyapun akan berujung panjang karena Minato adalah tipe orang yang tidak peka tentang hal seperti ini.

"Tidak. Hanya jangan terlalu sering ke rumah Takigawa-san. Kau bisa mengganggunya" kata Seiya. Mencoba mencari alasan, namun sepertinya balasan Minato membuatnyaㅡ

"Masa-san bilang dia tidak keberatan selalu ku kunjungi."

ㅡberpikir untuk semakin membenci Takigawa Masaki ini.

Seiya mendengus dalam hati. Mengucapkan banyak sumpah serapah pada Takigawa Masaki akan berujung tidak baik, karena bagaimanapun sosok bersurai biru itu adalah pelatih mereka dan orang yang membuat Minato berhasil lolos dari target paniknya.

Singkatnya, Seiya berterimakasih.

Walau ia tetap membencinya. Ingat itu.

"Ne, Seiya."

Seiya melirik sedikit pada Minato kala anak itu mengeluarkan suara. Ingin berbincang walau di jeda sebentar, Seiya memberi gestur 'apa' dengan tangannya.

Tungkai keduanya pelan menyusuri jalan. Hari ini Minato tidak membawa sepeda, dirinya juga sudah beberapa hari ini tidak membawa sepeda menuju sekolah.

Jeda. Sibuk dalam pikiran masing-masing. Namun kala Minato kembali bersuara, Seiya tak bisa tidak terkejut mendengarnya.

"Bagaiman dengan Shuu kemarin? Bukankah kau harus menyelesaikan sesuatu bersamanya?"

Minato tahu.

"Kau ㅡapa?"

Lidahnya kelu. Matanya mengerjab kaget. Dapat ia lihat Minato memberinya senyum tipis, tapi kali ini berbeda. Senyum kali ini seperti mengandung banyak makna yang entah Seiya tidak tahu artinya.

Langkah keduanya spontan berhenti.

"Aku bilang, bukankah kau harus menyelesaikan sesuatu dengan Shuu? Makanya aku meninggalkan kalian kemarin." Minato mengulang kembali ucapannya. Matanya memandang lurus pada Seiya.

Seiya menghela nafas kemudian, sadae tak akan bisa lari. "Tidak ada yang harus aku selesaikan dengannya" balasnya.

Namun sepertinya, Minato tidak percaya.

Minato menunduk dan memutus kontak mata dengan Seiya, "Aku tahu."

Seiya mengernyit, "tahu apa? Tahu aku tidak ada masalah apapun yang perlu diselesaikan dengan Shuu?"

Gelengan Seiya terima dari Minato. Kembali tertegun kala keping hijau berkilau milik Minato menatapnya lembut.

"Bukan. Aku tahu dulu Seiya dan Shuu uhㅡberpacaran, ya kalian memang tidak pernah bilang. Tapi aku tahu. Kalau aku bilang menyesali karena Seiya mengikutiku hingga ke Kazemai pasti Seiya akan marahㅡ"

Seiya mematung. Bahkan sampai Minato mendekat padanya dan memeluknya, ia tetap mematung.

"ㅡSeiya selalu baik padaku. Shuu juga baik padaku. Saat itu memang Shuu seolah tidak peduli dengan target panikku, tapi bukan berarti Shuu benar-benar tidak peduli pada Seiya atau padaku."

Kalimat Minato menelannya. Lantas ketika Minato membisikkan sederet kalimatㅡ

"Aku sayang dengan Seiya. Seiya seperti ibu, seperti kakak. Shuu juga selalu seperti saudara bagiku. Jadi, bagaimana bisa aku tenang jika karena aku kalian justru bertengkar."

ㅡSeiya menangis. Air matanya tumpah begitu saja. Perasaan sesak memenuhinua. Tak pernah ia sangka Minato akan membahasa ini.

Terlalu tiba-tiba.

Semuanya terlalu tiba-tiba.

"Aku selalu tidak suka ketika kalian bertengkar."

ㅡair matanya membasahi pundak Minato.

"Aku sayang kalianㅡ"

Pelukannya terlepas. Senyum lebar kembali ada pada wajah Minato, netranya kembali hilang tertelan senyum. Seiya bisa melihat ada sedikit liquid bening di sudut mata Minato.

Minato ikut menangis bersamanya.

"ㅡjadi ayo berbaikan. Aku sayang kalian! Sayang sekali! Ehehe."

Seiya terharu. Kemudian ia menerjang Minato keras hingga si surai hitam kelam dengan iris hijau itu nyaris terjungkal.

Seiya tertawa.

Tawanya lepas.

"Ahahah! Kau membuatku kaget!"

"Seiyaaaa aku hampir jatuh! Seiya jahaaat!"

"Kau membuatku menangis! Dasar Minato!".

"Huaaaaa Seiya ingusmu ada di seragamku bagaimana ini?!"

Minato di jitak.

"AWH! Seiyaaaa sakit!"

"Kau merusak suasana! Hahahahahaha"

Setelah puas tertawa, keduanya terdiam, saling pandang dan melempar senyum jahil.

"Ne, Minato?"

Minato menoleh, mereka kembali melangkahkan kaki menuju sekolah. "Apa?"

Seiya meraih pipi Minato dan mencubitnya gemas.

"Jangan sedih. Aku dan Shuu akan baik-baik saja."

Minato mengangguk pelan meresponnya namun sedetik kemudian ketika matanya menangkap Seiya mengedipkan sebelah mata di balik bingkai kacamata, binarnya bersinar penuh canda dan membuat gestur jari telunjuk yang diletakkan di depan bibir; gestur yang menyuruh Minato diam di sertai sebuah kalimatㅡ

"Tapi jangan mengatakan apapun padanya. Oke?"

ㅡMinato yakin mereka akan baik-baik saja setelah ini.

.

.

.