Celebrity Scandal

keanijun

2018

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Baekhyun merasakan sesuatu yang sedikit berbeda ketika kesadarannya mulai kembali. Ada rasa kantuk dan sedikit pening pada kepalanya, namun itu tak membuat ia kunjung membuka mata dengan sempurna. Rasa pegal dan perih juga menjalar disekitaran pinggul hingga pantatnya, juga kakinya yang terasa kram. Udara dingin menyentuh kulit dadanya tapi di bagian lain, terutama telinga kanannya, ada udara hangat yang berhembus pelan. Sedikit ia membuka mata dan melirik balkon didekatnya yang memancarkan sinar matahari seperti pagi yang kemarin. Menyenangkan bisa melihat pagi lagi, pikirnya, kecuali keheranannya pada warna gorden yang berubah menjadi putih dan tiba-tiba selimutnya juga terasa lebih lembut dan berat.

Rasa sakit dikepalanya terasa lebih menusuk tatkala ia menoleh pada sisi kanan dan menemukan Chanyeol disebelahnya, dengan tangan melingkar ditubuhnya. Sontak Baekhyun terkejut dan bangun dari sana, namun yang ia dapatkan malah rasa sakit luar biasa di bagian bawah tubuhnya hingga ia terduduk di karpet. Suaranya cukup gaduh hingga Chanyeol terbangun dari tidurnya dan dengan sigap duduk di ranjang.

Mereka saling bertatapan beberapa saat, mungkin saja masih belum mencerna apa yang terjadi. Atau saja saling tertegun melihat sesuatu yang lain, seperti dada bidang Chanyeol yang terlihat mengagumkan atau mungkin tubuh telanjang bulat milik Baekhyun yang tidak tertutup apapun. Baekhyun menjadi orang pertama yang 'sadar' dari situasi tersebut langsung menarik selimut dan membungkus tubuhnya dengan itu.

"Apa yang kau lakukan semalam?!" Baekhyun berteriak lebih dulu sebelum Chanyeol bangkit dari tempat tidur dengan kostum boxer berwarna hitam.

"Mana aku tau! aku sudah terbangun dengan keadaan seperti ini."

Chanyeol barangkali lebih terkejut karena ia bangun oleh suara dentuman dan yang ia lihat pertama kali saat membuka mata adalah Baekhyun yang bersimpuh di karpet dengan keadaan telanjang. Pikirannya masih butuh waktu untuk membawa ingatan pada kejadian sebelum ini. Bahkan tubuh Chanyeol masih menegang sejak ia sedikit melihat adik kecil milik Baekhyun.

"Kenapa kau melakukan hal ini saat aku mabuk!"

Mabuk. Seketika Chanyeol ingat kilasan acara minum mereka kemarin malam. Baekhyun yang mabuk berat sedang kesadarannya tinggal setengah. Chanyeol ingat ciuman itu, namun setelahnya ia benar-benar tak bisa mengingat apapun. Kecuali sesuatu yang lain.

Chanyeol langsung merangsak masuk ke kamar mandi dan menguncinya. Seketika ia teringat saat memapah Baekhyun ke kamar, mendorongnya ke ranjang, dan menyelesaikan sisa ciuman mereka saat di meja makan. Hanya sejauh itu yang ia ingat, tapi Chanyeol tidak bisa memastikan, mungkin saja mereka memang melakukan yang lebih dari itu, namun bisa saja tidak.

Ketika Chanyeol keluar dengan sebuah pertanyaan untuk Baekhyun, pria itu sudah tidak ada disana. Baju milik Baekhyun dilantai juga sudah hilang bersama dengan selimut yang ada di dekat pintu. Baekhyun sudah pergi dari sana namun Chanyeol tidak memiliki niat untuk mengejarnya karena mungkin Baekhyun masih butuh waktu untuk ini.

Chanyeol memungut selimut di lantai dan menempatkannya di ranjang. Namun sesuatu yang lain menarik perhatiannya. Bercak darah di sprei putihnya, dengan bekas pelepasan yang berceceran disekitarnya.

Chanyeol menjambak rambutnya, frustasi. Ia serasa melihat masa lalu, sumber masalahnya yang sebenarnya. Dan kini Chanyeol ada dalam situasi yang sama, melupakan malam yang telah ia lewati.

Dan lebih dari itu, ia merasa bersalah pada Baekhyun.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Baekhyun tidak melakukan apapun selain berbaring di ranjangnya dan melamun. Tentu pukulan berat baginya karena bagaimanapun ia telah kehilangan 'miliknya' dengan cara yang tidak pantas. Jika saja ia bisa memutar kembali waktu mungkin ia tidak akan menerima tawaran Chanyeol kemarin malam.

Terlepas dari itu, Baekhyun punya prasangka dalam pikirannya. Mungkin saja Chanyeol memang merencanakan ini sebelumnya, membawanya untuk tidur. Hal gila lain ada di pikiran Baekhyun, yaitu bagaimana jika Chanyeol merekam semuanya dan menggunakan hal itu untuk pelicin skandal?

Baekhyun menggelengkan kepala, berusaha menghilangkan pikiran buruk di kepalanya. Bagaimanapun Chanyeol tidak akan mungkin menyebar video pornonya hanya untuk menghilangkan rumor. Itu sama saja merusak karirnya dalam sekali waktu.

Baekhyun meraih ponsel di nakasnya. Dia memasuki dial dan menelepon Kyungsoo. satu-satunya orang yang bisa ia pikirkan hanya Kyungsoo saja. Baekhyun tidak tau apa respon Kyungsoo nanti saat tau bahwa kali pertama Baekhyun sudah diambil dengan cara 'tidak sadar' . Kyungsoo bisa saja memakinya, namun yang lebih penting dari semua itu adalah Kyungsoo tidak akan meninggalkannya. Lagipula ia butuh obat untuk lubangnnya dan hanya Kyungsoo yang bisa membawakan benda itu untuknya.

Hingga dua kali panggilan, sambungan itu tidak kunjung diterima oleh Kyungsoo. Baekhyun menyerah dan memilih mengirim pesan untuk datang beserta makanan dan sejenis salep penghilang luka.

Dengan rasa sakit yang menjalar dari sekitaran pantat dan punggungnya, Baekhyun tertatih keluar dari kamar dan menuju dapur setelah mengenakan bathrobe putih miliknya. Ia butuh minuman hangat untuk meredakan efek alkohol semalam. Baekhyun pikir satu cangkir teh hangat bisa sedikit meredam emosinya. Aroma teh yang menenangkan menjadi candu tersendiri untuk Baekhyun, serta beberapa sendok madu juga terdengar tidak buruk. Namun ketika Baekhyun mendapati kotak tehnya kosong rasanya saat itu pula ia seperti meledak. Tidak habis pikir bagaimana kesialan bisa menimpanya secara berturut.

"Tenang Baekhyun, tenang." Baekhyun bergumam, berusaha meredam dirinya sendiri. Membiarkan dirinya berbaring di sofa, Baekhyun memejamkan matanya lagi. Entah kantuk atau efek alkohol, Baekhyun merasakan ingin tidur lagi.

Dering bel terdengar tepat sepuluh menit sejak Baekhyun berhasil memasuki alam mimpinya lagi. Baekhyun seperti baru saja menutup mata dan tiba-tiba ia terlonjak dari tidurnya. Tidak perlu diperjelas bahwa itu sangat menyebalkan bagi Baekhyun, namun saat mengingat tentang Kyungsoo ia segera bangkit untuk membuka pintu.

Wajah Chanyeol adalah yang pertama kali menyembul setelah pintu terbuka. Tidak ada Kyungsoo disana, apalagi bungkusan besar yang Baekhyun inginkan. Chanyeol dengan kaos dan sekotak wadah makan siang berwarna biru cerah di tangannya. Baekhyun mendorong pintunya lagi, bermaksud untuk menutupnya, namun Chanyeol lebih kuat sehingga ia bisa dengan mudah masuk kedalam.

"Apa yang kau lakukan? aku sudah tidak ada urusan denganmu." Baekhyun dengan tenaga yang terbatas berusaha mendorong Chanyeol menuju pintu. Tidak tau bahwa dorongan itu bukan apa-apa untuk Chanyeol.

"Dengarkan aku, Baek. Ku pikir kita perlu untuk bicara."

"Ku pikir tidak."

Chanyeol menghela napas kasar, "Ini bukan masalah biasa, aku mohon dengarkan aku." Chanyeol kemudian membawa tangan Baekhyun pada genggamannya.

Baekhyun tidak mengatakan apapun yang Chanyeol pikir berarti sebuah persetujuan. Maka ia segera meletakan kotak makan di meja vas dan menarik tangan Baekhyun lainnya dalam genggamannya.

"Aku tau kau mungkin sangat terkejut,..."

"Marah."

"Apa?"

"Aku marah."

Chanyeol sedikit kebingungan sebelum ia akhirnya berkata, "Ahh.. baiklah.. Aku tau kau mungkin sangat marah dengan kejadian tadi." mengoreksi kata disana, "Tapi dengarkan penjelasanku, Baek."

"Aku tidak ingat apapun tentang kemarin malam,tapi jika kita telanjang saat bangun bukan berarti kita telah melakukannya." Saat mengatakannya, Chanyeol malah membayangkan sisa sperma dan bercak darah di ranjangnya. Sedikit kebohongan yang harus Chanyeol tutupi.

"Omong kosong. Bagaimana bisa aku membenarkannya sedangkan lubangku terluka."

"Benarkah? jadi kita…."

"Ya. Kita sudah melakukannya, Chan."

Chanyeol memasang wajah terkejutnya, walau kenyataannya ia tahu tentang kebenaran itu. Tidak tau dalam pikirannya sudah kacau, kebingungan bagaimana menghadapi Baekhyun saat ini.

"Apa sangat sakit? aku bisa membantumu mengobati."

Baekhyun menghempaskan tangan Chanyeol kasar, tidak peduli bagaimana tangan Chanyeol nyaris terbentur sisihan meja. "Aku tidak perlu bantuanmu, sialan! pergilah dan jangan kembali kemari!"

"Maafkan aku, Baek."

Chanyeol tidak mengatakan apapun selain itu dan pergi menuju pintu. Ia pikir Baekhyun memang butuh waktu untuk sendiri, tidak peduli berapa kali pun Chanyeol meminta maaf. Ketika ia menyentuh daun pintu, bersamaan dengan itu juga terdengar rintihan Baekhyun di belakangnya. Chanyeol berbalik dan mendapati Baekhyun memegang perutnya hingga tubuhnya bersimpuh di lantai. Chanyeol dengan cepat menghampiri Baekhyun. Hanya melihat wajah kesakitan Baekhyun membuat Chanyeol didera rasa panik yang luar biasa.

"Baekhyunie.." Chanyeol membawa Baekhyun pada rengkuhannya sembari mengusap wajah Baekhyun berulang kali. Tapi yang ia dengar hanyalah rintihan yang berganti dengan isakan.

"Bertahanlah sebentar." Chanyeol menyelipkan tangannya di kaki Baekhyun dan menggendongnya dengan sekali angkat, membawa tubuh ringkih Baekhyun ke kamar dan membaringkannya disana. Chanyeol segera merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang yang ia pikir bisa membantu.

"Sa.. Sak.. Sakit.." Baekhyun terus merintih sembari memegang perutnya. Dan Chanyeol hanya bisa menenangkan Baekhyun.

Chanyeol duduk di sebelah Baekhyun sembari memegang tangan Baekhyun yang basah dengan keringat. "Baekhyunie, aku disini." Chanyeol mengelus sekitar wajah pucat Baekhyun. Melihat wajah kesakitan Baekhyun hingga pria mungil itu memejamkan mata sungguh membuat Chanyeol merasa sakit pula. Dia merasa bertanggung jawab untuk ini.

"Sayang, katakan, dimana bagian yang sakit? aku akan memijatnya." Chanyeol tidak berpikir bahwa tawarannya benar-benar bisa mengurangi rasa sakit, namun setidaknya membuat Baekhyun meresponnya terdengar jauh lebih baik, itu berarti Baekhyun masih dalam kesadarannya.

Chanyeol dengan gelisah melirik ponselnya beberapa kali, mengecek waktu yang seperti tidak berjalan agar ia bisa memastikan orang yang ia tunggu segera datang. Chanyeol mengalihkan pandangannya lagi pada Baekhyun. Baekhyun berangsur lebih tenang, tapi ia seperti nyaris kehilangan kesadaran. Dengan telaten Chanyeol menyeka keringat di wajah Baekhyun dengan tangannya.

Chanyeol sejenak berpikir, mungkin saja kemarin menjadi malam paling luar biasa bagi Chanyeol karena bisa menikmati tubuh Baekhyun. Bukannya ia merasa senang telah melakukan hal buruk, hanya saja berpikir bagaimana kulit lembut Baekhyun bersentuhan dengan tangannya, itu bisa membuatnya nyaris gila. Dan bibir milik Baekhyun bukan sesuatu yang bisa dilewatkan dengan mudah. Chanyeol sudah pernah mencicipi itu sebelumnya dan kini adalah godaan untuk mencobanya lagi. Baekhyun adalah adiktif terberat bagi Chanyeol.

Chanyeol tanpa sadar terbawa pikirannya sendiri hingga ia benar-benar mendekat ke wajah Baekhyun dan mengecup pelipis pria itu. "Baekhyunie.." Kemudian beralih pada pipinya yang memerah, "Jangan sakit." dan Chanyeol memandang bibir pucat Baekhyun sebelum menyatukan milik mereka dalam kecupan hangat. "Karena hatiku juga terasa sakit."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Oh Sehun, di dalam pikirannya penuh dengan pertanyaan tentang siapa pria menyedihkan yang sekarang terbaring di depannya dan Park Chanyeol, sepupunya, yang tidak berhenti bertanya 'apa dia baik-baik saja?'

Sehun tidak berspekulasi apapun selain bahwa pria ini mungkin penting bagi Chanyeol, karena Sehun memastikan itu dari bagaimana Chanyeol meneleponnya dan menyuruhnya datang secepat mungkin. Sehun ingin sekali memaki pria jakung itu mengingat hari ini ia sangat sibuk dengan pekerjaan di rumah sakit. Tapi disisi lain Sehun tidak bisa menolak ketika Chanyeol menelepon dengan panik, seolah itu terdengar benar-benar genting.

"Apa dia baik-baik saja?" Sehun ingin menulikan pendengarannya ketika kata itu keluar dari mulut Chanyeol lagi. Sehun bukan orang bodoh yang tidak bisa paham dengan sekali tanya, namun ia butuh waktu untuk menganalisis kondisi pria kecil ini.

"Dia baik."

Chanyeol sedikit berdecak kesal, dia butuh jawaban yang lebih detail.

"Lalu?"

Sehun mengernyit bingung. "Lalu?"

"Sialan kau Sehun! Apa hanya itu yang bisa kau katakan padaku?!"

"Lalu kau butuh jawaban seperti apa, bodoh?!"

"Jelaskan aku sesuatu!"

Sehun membuang napas kasar, berusaha memendam rasa kesal pada Chanyeol yang menatapnya tajam. "Dia mengalami kram perut ringan. Sejauh ini tidak berbahaya. Apapun yang ia lakukan sebelum ini pasti membuat otot perutnya berkontraksi berkali-kali."

Chanyeol merasa lega setelah mendengarnya. Itu berarti tidak terjadi sesuatu yang serius pada Baekhyun. Namun Chanyeol pikir penyebab Baekhyun kram adalah kemungkinan Baekhyun yang 'keluar' berkali-kali. Jika dilihat dari bercak yang tertinggal di ranjang kamarnya itu mungkin saja benar.

"Siapa pria ini?"

"Dia tetanggaku." Chanyeol melangkah keluar dari kamar Baekhyun diikuti Sehun dibelakangnya.

"Aku tidak tau ternyata kau punya rasa kepedulian." Sehun melontarkan kalimat yang taunya adalah sindiran untuk Chanyeol. Namun Chanyeol memilih untuk tidak menjawab karena ia tahu Sehun juga orang yang tidak ingin ikut campur urusan orang ilain. Jadi ia hanya memandang Sehun yang tengah menulis sesuatu di atas kertas.

"Ini obat yang harus kau tebus."

"Tidak bisakah kau saja yang mengambilnya?"

Sehun menatap tajam ke arah Chanyeol, membiarkan mata mereka bertemu dan menyalurkan rasa kesal.

"Aku bukan pelayanmu, sialan! Bahkan kau tidak mengatakan terima kasih walau aku sudah berbaik hati datang kemari."

Sehun segera pergi dari sana dan Chanyeol masih bertahan dengan pikirannya sendiri. Tidak mungkin untuknya keluar dan meninggalkan Baekhyun sendirian disini. Lagipula sangat beresiko jika ia bertemu dengan media atau fans di bawah sana.

Chanyeol masuk ke kamar Baekhyun lagi dan mendapati pria kecil itu masih betah menutup mata. Chanyeol mendekat dan menyamankan dirinya duduk di sisihan ranjang dekat Baekhyun.

Tidak tau kapan terakhir kali ia bisa melihat Baekhyun terlelap. Mungkin kemarin? Atau mungkin memang sudah lama sejak yang ia ingat. Dalam pikirannya, masa lalunya, Baekhyun tidak banyak berubah. Masih cantik seperti yang ia ingat.

Tangan Chanyeol mulai menyusuri wajah Baekhyun. Tanpa sebab rasa hangat yang nyaman mengalir hingga dadanya berdesir. Rasa dari kebahagiaan yang tidak bisa ia definisikan artinya.

"Tapi aku sudah mengotorimu, Baekhyunie."

Chanyeol meraih tangan Baekhyun dan membawanya pada genggamannya. Mengecup pelan tangan pria kecilnya, tidak bisa Chanyeol sembunyikan rasa bersalahnya. Dia begitu memuji Baekhyun, menjadikannya seseorang yang berharga selama ini.

"Baekhyunie, jangan benci aku." Chanyeol berbicara didepan wajah Baekhyun yang terlihat tenang.

"Aku sudah sejauh ini. Tolong jangan menjauh dariku." Chanyeol menyentuh pipi Baekhyun sebelum turun ke dagunya dan mengangkat sedikit wajah Baekhyun.

Chanyeol memandang sekali lagi bibir Baekhyun, seolah mencari keberanian. "Karena mungkin," Chanyeol mendekatkan bibirnya,"aku masih mencintaimu." Lalu akhirnya menghapus jarak diantara mereka.

.

.

.

.

.

.

.

.

Baekhyun mendengar tawa dari lantai bawah, mungkin itu datang dari ruang keluarga. Dia ada di kamar sekarang, sedang berbaring. Sekitarannya terasa besar dan jarak pandangnya menggelap. Hanya niat hatinya yang membuat ia tetap berjalan keluar kamar dan melongok ke bawah untuk mendapati disana ada ayah dan ibunya yang sedang tertawa. Seolah menyadari adanya Baekhyun, mereka melihat Baekhyun dari bawah dan tersenyum.

"Baekhyunie.." suara ibunya menggema lembut dan Baekhyun secara reflek berlari ke arah tangga di dekatnya. Namun badannya terasa berat seperti ada yang menahannya untuk tidak bergerak.

Sekitarnya berubah lebih gelap, samar, dan akhirnya menghilang. Namun panggilan dari ibunya semakin menggema seolah itu rekaman yang berulang dan sangat dekat. Satu tarikan napas panjang membawa Baekhyun pada gelap yang sesungguhnya sebelum matanya terbuka dan digantikan oleh atap putih yang familiar. Perlahan kesadaran mulai pulih, begitu pula dengan pikirannya yang berhasil menangkap bahwa sekarang ia ada di kamarnya sendiri. Rasanya berat untuk bangun karena bagaimanapun ia masih ingin menemui ibunya. Walau mimpi hanya imajinasi, namun itu cukup mengobati kerinduan Baekhyun pada ibunya.

Perlahan, rasa pegal di sekujur badannya mulai terasa. Itu mengalihkan segala pikiran Baekhyun pada ingatan sejak kemarin malam. Dia tidak tau bahwa seks ternyata sangat menyakitkan, terlebih untuk laki-laki yang ada di bawah sepertinya. Entah karena ini adalah kali pertamanya atau memang ia dan Chanyeol melakukannya dengan kasar, yang pasti rasa sakit ini benar-benar menyiksa Baekhyun.

Tentang pria itu, kini Baekhyun bertanya-tanya dimana Chanyeol. Baekhyun tahu persis Chanyeol ada di dekatnya sebelum ia kehilangan kesadaran. Apa pria itu segera pergi setelah ia pingsan? tapi Baekhyun pikir ia tidak mungkin berjalan sendiri ke atas ranjang. Atau mungkin itu Kyungsoo? tapi itu lebih mustahil karena badan Kyungsoo lebih kecil darinya. Lagipula sepertinya Kyungsoo belum datang.

Ini mungkin sudah masuk waktu sore melihat keadaan cahaya matahari yang masuk ke jendelanya. Dan Baekhyun penasaran apakah Kyungsoo akan datang dengan pesanan yang ia minta. Baekhyun melongok ke arah nakas dan meraih ponselnya yang ada disana. Disana tertera satu pesan dari Kyungsoo yang dikirim dua jam yang lalu.

.

.

.

Aku sedang sibuk membantu bos ku :)

.

.

.

Baekhyun mendesah panjang. Satu balasan singkat yang membuatnya kecewa.

.

.

Benarkah?

.

.

Baekhyun mengetikan balasan lagi. Ia pikir mungkin bukan Kyungsoo yang membalas pesan itu. Kyungsoo nya nyaris tidak pernah menggunakan emoticon apapun dalam pesannya.

.

.

Maaf Baek. Jongin menahan ku ponsel ku seharian. Ia ingin aku menyelesaikan pekerjaan. Aku mungkin tidak bisa pergi menemuimu karena Jongin memintaku untuk lembur di rumahnya.

.

.

Baekhyun tidak berniat untuk membalasnya dan meletakan ponsel itu kembali ke nakas. Lalu pikirnya bagaimana ia bisa keluar dari masalah ini? Dia tentu butuh makan, mandi, dan beraktifitas lainnya. Tapi kondisi tubuhnya tidak bisa melakukan itu semua.

Baekhyun menghela napas panjang lagi ketika pintu kamarnya terbuka dengan Park Chanyeol berdiri disana. Dan segala tanya Baekhyun seolah lenyap. Pria itu mengenakan masker dan jaket panjang, mungkin saja ia baru keluar.

"Kau sudah bangun rupanya." Chanyeol berjalan mendekati Baekhyun seraya meletakan beberapa obat yang ia ambil dari kantung jaketnya ke atas nakas.

Baekhyun tidak menjawab apapun dan malah terpaku pada pergerakan Park Chanyeol saat melepas masker dan jaketnya. Pria itu melempar jaketnya ke sofa untuk kemudian duduk di atas ranjang dan balik memandang Baekhyun.

Baekhyun memperhatikan bahwa Chanyeol banyak berkeringat. Bahkan rambutnya basah dan keringatnya seperti mengalir di lehernya. Chanyeol yang menyadari itu ikut melihat badannya dan ia menemukan kaosnya telah basah yang membuat bentuk tubuhnya tercetak jelas. Chanyeol tidak bisa untuk menahan kekehannya.

"Aku harus berlari ke apotek untuk membelikanmu obat. Tapi orang-orang diluar sana seolah menahanku, jadi satu-satunya cara agar aku bisa pulang hanya kabur."

Baekhyun masih dalam mode berbaringnya dan tidak mengatakan apapun. Jadi Chanyeol pikir mungkin saja Baekhyun masih merasa lemas. Chanyeol kemudian pergi keluar kamar untuk mengambilkan Baekhyun makanan yang telah ia siapkan. Namun sebelum itu ia memasukannya ke dalam microwave. Sembari menunggu, Chanyeol menyeduh teh panas yang ia ambil dari apartemennya. Teh ini adalah teh buatan rumah dan ibunya selalu rutin mengirimnya ke tempat Chanyeol. Ibunya juga mengajarinya bagaimana cara membuat teh ala keluarga Park sehingga setiap Chanyeol membuat teh dari ibunya, ia merasa kembali ke rumah.

"Aku memasak bubur untukmu."

Chanyeol meletakan nampan di nakas saat kembali ke kamar lalu menyusun beberapa bantal di punggung Baekhyun agar pria kecil itu bisa makan dengan nyaman. Setelah itu, ia mengambil cangkir teh panas dan membantu Baekhyun untuk meminumnya.

"Aku harap teh ini bisa membuatmu merasa lebih baik."

Kemudian, Chanyeol perlahan mulai mengambil suapan kecil di sendok dan memberikannya pada Baekhyun. Baekhyun dengan perlahan memasukan bubur itu ke mulutnya dan lidahnya dengan cepat menangkap bahwa rasanya enak, sesuai dengan selera Baekhyun. Chanyeol kembali menyuapi Baekhyun secara terus-menerus.

"Tadi pagi aku ingin memberimu bubur sebagai permintaan maaf. Tapi kau malah pingsan. Jadi siang ini aku membuat bubur yang baru lagi. Dan yang terjadi kau bangun sesore ini."

Baekhyun tidak memberi komentar apapun. Ia masih mengunyah bubur sembari menanti suapan Chanyeol berikutnya.

"Aku tidak yakin apakah buburnya masih enak, tapi, melihatmu makan seperti itu membuat aku senang."

Chanyeol tersenyum tulus dan Baekhyun tidak bisa untuk tidak terpaku dengan itu. Matanya perlahan ikut menyipit bersamaan dengan bibirnya yang ikut tertarik.

"Manis sekali." Chanyeol mengusak kepala Baekhyun lembut yang membuat pipi Baekhyun memerah. Tangan besar Chanyeol yang hangat sangat terasa nyaman.

"Ini sendok terakhirmu, Baekhyunie." Chanyeol memberi suapan terakhir pada Baekhyun dan pria kecil itu menerima dengan senang hati.

Chanyeol kemudian keluar untuk meletakan mangkuk kotor di dapur dan kembali dengan segelas air putih. "Mari minum obatmu, Baekhyunie." Chanyeol mengambil beberapa butir obat dan memberinya pada Baekhyun.

Baekhyun seperti anak kecil yang penurut. Ia menelan semua obatnya walau kenyataannya ia sedikit memiliki masalah dengan obat berbentuk pil. Namun Chanyeol membantunya, mengatakan bahwa ia hanya harus menelannya dengan cepat agar rasa pahitnya tidak terasa.

Chanyeol kemudian membereskan semua 'kekacauan' dan membawanya ke dapur. Sedangkan Baekhyun masih nyaman dengan diamnya yang seolah memberi ganjalan pada Chanyeol. Chanyeol tidak bisa protes hanya karena Baekhyun diam. Lagipula ia pikir Baekhyun sudah cukup memberi interaksi sebagai kode bahwa ia baik-baik saja. Dan yang terpenting Baekhyun sepertinya sudah mulai memaafkannya.

"Apa kau ingin mandi?" Chanyeol memberi tawaran pada Baekhyun. Dan tentu saja Baekhyun ingin. Namun untuk berdiri ia pikir tidak akan sanggup. Jadi ia hanya menggeleng lemah.

"Bagaimana jika aku yang memandikan?"

Membayangkan bagaimana Chanyeol memandang tubuh telanjangnya membuat Baekhyun merona tanpa sadar. Itu mungkin akan sangat memalukan. Maka Baekhyun kembali menggeleng, bahkan lebih ribut dari sebelumnya.

Chanyeol hanya terkekeh melihatnya, tidak tau bahwa Baekhyun yang merona jauh lebih menggemaskan dari sebelumnya. "Baiklah jika kau menolak. Lagipula kau tidak mandi pun tetap terlihat cantik."

Taunya kata-kata itu membuat Baekhyun terkekeh pelan. Ia tau itu hanya kalimat omong kosong dari Chanyeol, namun nampaknya ia merasa tersanjung.

"Oke, istirahatlah. Jika kau butuh aku, aku ada di ruang tengah." Chanyeol tersenyum sebentar pada Baekhyun sebelum pria itu melangkah keluar kamar.

"Chan…" Cicitan Baekhyun dari balik selimut menghentikan langkah Chanyeol.

"Apa kau butuh sesuatu?"

"Eumm.. bisakah kau temani aku sebentar?"

"Tentu."

Chanyeol mendekat ke arah ranjang dan duduk di tepiannya. Sedangkan Baekhyun semakin menenggelamkam dirinya di dalam selimut, sesungguhnya ia menutupi rasa gugupnya. Sedikit memalukan saat ia meminta Chanyeol untuk menemaninya, apalagi saat ini Chanyeol terus menatapnya.

"Jangan menatapku seperti itu."

"Bagaimana bisa aku tahan," Chanyeol beralih mengelus pipi Baekhyun, "jika ada seseorang yang menggemaskan seperti ini."

Baekhyun menggigit bibirnya, berusaha menahan senyum, dan gagal. Chanyeol tentu menyadari itu dan ia memang berniat menggoda. Kemudian Chanyeol mendekatkan wajahnya pada Baekhyun, berusaha menjahili pria kecil itu lebih jauh lagi. Namun yang terjadi setelah itu adalah Baekhyun yang menyatukan bibir mereka berdua. Hanya kecupan singkat dan itu berakhir begitu saja.

Chanyeol terpaku. Ia tidak bisa berhenti menatap wajah Baekhyun dibawahnya. Wajah yang memerah dan mata menggemaskan yang menatapnya, tentu tidak bisa Chanyeol lewatkan begitu saja.

Perlahan Chanyeol kembali menyatukan bibir mereka. Baekhyun tidak bereaksi apapun selain menutup mata dan menikmati ciuman yang diberikan Chanyeol.

Chanyeol dalam hatinya, melakukan dengan penuh emosi yang bercampur menjadi satu. Itu mungkin seperti rindu atau cinta yang menggebu namun ada setitik kesedihan di dalamnya.

Dan Baekhyun seolah melepaskan semua batasan. Tidak peduli bagaimana akal sehatnya berteriak, namun ia seolah akan meledak oleh kebahagiaan saat itu juga. Hingga ia merasa akan menangis di sela ciumannya, namun tidak ada alasan untuk tidak tersenyum kali pertama seolah Baekhyun bisa memberi gebrakan pada dirinya sendiri. Membiarkan hatinya merasa begitu dicintai oleh Chanyeol.

.

.

.

.

.

.

.

Hello Celebrity scandal is back!

Akhirnya setelah sebulan lebih bisa up lagi.

Setelah dihadang kesibukan plus dua kali drop.

Jun gak berharap masih ada yg ngikutin cerita ini. Tapi gak ada alasan buat Jun gak lanjutin storynya. Karena ketika udh up suatu cerita mau gak mau memang harus selesai.

Thank u buat yg review chap sebelumnya dan ditunggu untuk review chap ini.

Dan kemungkinan next chapter akan muncul cewe yang dihamili sm Chanyeol. Tp ini Jun gak janji, karena setiap chap word nya Jun batesin jadi belum tau bisa kemuat atau nggak.

.

.

.

Thank you!