"Love is like war. Easy to begin but very hard to stop." - H L Mencken
.
.
.
Tsurune (c) Kotoko Ayano Chinatsu Murimoto
Winner (c) Elsoul59
Pair: Fujiwara Shuu-Takehaya Seiya
Rate: T
Setting Canon Universe yang di buat Alternate Reality
Warn(!): BL, Shounen-ai, bxb, typo(s), plotless, etc.
Bag. 3
.
.
.
Enjoy
.
.
Fujiwara Shuu sadar betul, Seiya adalah orang yang selama ini selalu membentang ekspektasi besar dalam pikirannya. Dalam angannya. Pun, Fujiwara Shuu juga terlampau sadar dengan kenyataan bahwa Seiya hanya menomor duakan hubungan mereka.
Ia pun sebenarnya merasa benar. Seiya tidak salah. Seiya mengenal Minato jauh sebelum dirinya mengenal Minato, wajar jika ketika terjadi sesuatu pada Narumiya kecil itu Seiya akan turun tangan langsung.
Wajar jika Seiya lebih memilih Minato daripada dirinya.
Turnamen panahan untuk tingkat sekolah menengah atas tinggal menghitung hari. Rasanya Shuu hanya bisa meringis ngeri ketika membayangkan bertemu Seiya di sana dan mereka masihlah dingin.
Dari awal, Shuu berpikir Minato pasti bisa menyembuhkan sindrom yang dideritanya. Maka Shuu hanya bersikap biasa saja menanggapinya.
Salah. Shuu salah besar.
Tentu saja, semuanya salah. Minato semakin parah hingga meninggalkan olahraga panahan yang sebelumnya sudah di tekan bahwa Narumiya bersurai hitam itu cinta mati pada kyuudo.
Merasa gagal membidik target terus menerus, tidak bisa mendengar suara ketika busur dilepaskan dan membelah udara mencapai target, kekacauan yang parah. Shuu merasa bersalah menganggap itu semua masalah sepele.
Tapi Seiya sadar, itu tidak sepele. Si surai hitam bermanik biru itu bahkan sampai mengikuti Minato ke Kazemai.
Sebenarnya alih-alih pasrah, Shuu cemburu besar pada Minato. Maka ketika mereka memutuskan untuk tidak saling menyapa bahkan melalui media sosial, Shuu memang berubah menjadi tidak peduli.
Namun, ketika iris biru Seiya yang terbingkai kacamata berframe oval bergaya vintage bertemu pandang dengan iris violetnya, Shuu benar-benar runtuh. Penyesalan kembali menyeruak maka ketika mereka duduk bersebelahan menunggu giliran saat perlombaan akan di mulai, ketika suara lembut yang dulu selalu memanggilnya dengan intonasi yang hangat justru membalasnya dengan dingin, ketika titik cantik di bawah mata itu hanya sekedar bisa Shuu perhatikan dari jauhㅡ
Fujiwara Shuu sadar, Seiya benar-benar membencinya.
Shuu menghempaskan dirinya pada sofa dan menutup mata dengan sebelah lengannya. Masih membekas pula amukan Seiya padanya beberapa hari yang lalu.
Akhirnya, Shuu hanya bisa menghela nafas lelah dan berharap semoga Tuhan berbaik hati padanya.
.
.
.
.
Sepertinya kesuraman pangeran panahan Kirisaki benar-benar menular bahkan suasana dojo yang biasanya ramai dengan suara kini sunyi senyap.
Fujiwara Shuu mereka kenal sebagai pribadi yang baik cenderung ramah dan ketika si darah campuran itu bahkan tidak membalas satu sapaan yang diberikan dan alih-alih justru membalas dengan pandangan mata yang tajam tersirat kesal, mereka paham. Shuu tidak bisa di ganggu.
Akhirnya daripada makin membuat Shuu marah besar, mereka semua diam. Beruntung mereka berlatih seperti biasa, bedanya hanya suara Tsurune saja yang terdengar.
Mereka semua menjadi lebih diam daripada biasanya.
Bahkan kembar Sugawara yang sepertinya senang mencari pertikaian kini menatap takut-takut pada Shuu.
"Ya ampun, Shuu benar-benar menyeramkan."
Mereka berdua berucap kompak, naasnya di balas anggukan yang tak kalah kompak dengan anggota ekskul panahan yang lain.
"Hiiih!"
Dan berjengit kompak pula ketika Shuu justru menatap mereka tajam dengan aura yang menguar-nguar.
Ketika sepasang manik kembar mereka menatap Shuu yang bangkit dari tempatnya duduk dan berkata sudah selesai dengan latihannya dan keluar dari dojo menuju ruang ganti, manik kembar Sugawara itu masih saja mengikuti Shuu hingga Shuu pergi begitu saja.
"Kira-kira apa yang terjadi hingga Shuu seperti akan membunuh kita hari ini?" Manji berucap penasaran. Tak ayal memberi balasan penuh setuju oleh beberapa anggota yang lain.
Motomura Hiroki yang baru saja memasuki dojo menatap aneh. "Aku berbaik hati menghampiri kalian saat kuliahku selesai dan kalian justru santai-santai dan bergosip alih-alih latihan padahal turnamen kalian suda dekat?"
Sugawara kembar berjengit kaget lagi, anggota yang lain justru terkekeh penuh maaf.
"Ah, itu. Shuu sepertinya dalam suasana hati yang buruk, senpai."
Salah seorang murid kelas tiga menanggapi mantan kapten mereka.
Lantas Senichi si sulung Sugawara berceletuk, "benar. Dia seperti akan membunuh kami semua jika kami terlalu ribut bahkan menatap kami tajam ketika kami hanya melirik sedikit padanya" nada merajuk keluar, ucapannya lantas menerma pukulan keras dari Manji yang merasa jijik.
"Menjijikkan, jangan menggunakan nada yang seperti itu lagi ketika berbicara dengan Motomura-senpai!"
"Heee? Memangnya kenapa? Kau iri?"
"Untuk apa aku iri? Dasar aneh!"
"Berkacalah! Kita ini kembar, jika aku aneh kaupun sama anehnya!"
"Apa?!!!"
Hiroki mengusap kening pusing, menatap kasihan pada kapten yang kini menggantikannya yang di balas pula dengan tatapan 'harusnya kau tinggal kelas saja atau menunda kelulusan dan kembalilah mengurus mereka! kembar aneh ini bahkan bertikai dengan durasi yang tidak jauh setelah pertikaian yang sebelumnya!'
Ya Tuhan.
Mereka bahkan sudah memulai aksi saling jambak-menjambak rambut. Yang bukannya dilerai justru disoraki penuh semangat oleh anak-anak yang lain.
Kacau.
Akhirnya setelah berpikir ulang dan meratapi nasib mengapa pula mereka mendapatkan anggota yang seperti ini, Hiroki melerai keduanya dan berkata, "berhenti atau ku laporkan kalian pada pelatih."
Nada bicaranya santun seperti biasa, namun Hiroki Motomura menjadi kapten klub panahan Kirisaki bukan sekedar di tunjuk saja. Pemuda berkacamata dengan surai hitam itu tahu bagaimana cara membungkam anak-anak yang lain, artinya dia ditakuti walaupun dia kelihatan seperti orang yang sangat baik hati.
"Kalian tahu kenapa Fujiwara seperti itu?" Hiroki kembali bertanya. Irisnya menatap anggota klub panahan satu persatu.
Manji dan Senichi saling pandang. "Sepertinya kamiㅡ"
"ㅡmelihat Shuuㅡ"
"ㅡakhir-akhir iniㅡ"
"ㅡsering mengunjungiㅡ"
"ㅡKazemai!" Kompak. Keduanya lantas melempar cengiran.
Semuanya terkikik geli.
"Ah itu, untuk hal ini kalian sama sekali tidak bisa membuat Shuu kembali seperti biasa." Hiroki, menelisik kemudian mengambil salah satu Yumi yang dulu sering ia gunakan.
"Heeeh? Kenapa?"
Setelah mengambil beberapa Yumi dan memakai Yugake, Hiroki melempar senyum dan berkata, "Mereka itu bukan hanya sekedar mantan rekan satu tim, antara Takehaya dan Narumiya, sepertinya Fujiwara memiliki hubungan khusus ketika sekolah menengah pertama."
Hening.
Hinggaㅡ
"HA?! APA?!"
Pekikan kaget memenuhi dojo.
Selamat wahai kalian yang mengidolakan Shuu. Kalian sukses patah hati ketika mengetahui si tampan ini hanyalah seonggok manusia yang masih gagal move on.
.
.
.
.
"Ngeeeng~ Ryohei belok kanan!"
"Ngiiik~ siap!"
Onogi Kaito menepuk keningnya dramatis. Matanya mendelik pada Nanao yang saat ini menaiki pundak Ryohei dan mengendarai Ryohei seolah-olah Ryohei adalah seekor kuda.
Yang dinaiki pundaknya bukanya marah justru tertawa-tawa senang, malah meloncat-loncat hingga kepala Nanao nyaris menabrak langit-langit dojo.
Seiya ngeri, Minato justru menatap takut-takut pada Ryohei dan Nanao. Takut mereka berdua jatuh, atau bahkan mengalami cedera kepala ringan.
"Hoi baka!" Kaito lantas menarik Ryohei paksa dan memukul punggung Nanao. "Turun! Kalian ingin membuat Seiya mengamuk?!"
Seiya yang di sebut namanya kontan mendelik, "Kenapa pula aku harus mengamuk?!"
Kaito menyeringai, "tentu saja. Kau ini memiliki mental seperti seorang wanita dan kau juga kapten kami, jadi kauㅡ hwaaaa! SEIYAAA AMPUNI AKU!"
Memang, hanya Minato saja yang waras.
Belum selesai menyelesaikan kalimat, kini Kaito di kejar Seiya dengan tangan Seiya yang siap menghantamkan sapu pada kepala Kaito kalau saja si tinggi itu melambat dan jaraknya semakin pendek dengannya.
Anggota klub panahan putra SMA Kazemai ini terdiam menyaksikan keduanya. Bahkan Nanao yang tadi menggila bersama Ryohei kini turun dari pundak Ryohei dan memilih duduk di sebelah Minato diikuti Ryohei.
Sepertinya Ryohei dan Nanao sangat menikmati pertikain Seiya dan Kaito.
"Nah begitu! Ayo Sei-chan! Pukul saja Kacchan dengan sapu itu!" Nanao mengapalkan tinjunya dan membuat gestur seolah-olah akan meninju seseorang.
"Bagus, bagus kita jadi punya alasan untuk bolos latihan dari Takigawa-san! Lanjutkan saja Seiya!" Tak kalah beda dengan Nanao, Ryohei bahkan sampai meninju Yugake miliknya gemas.
"A-ano, tolong berhentiㅡ"
"Minatooo biarkan mereka bertengkar!"
"Mina-chan! Kau harus mendukung pertikaian mereka!"
Kedua iris dengan warna yang kontras itu menatap penuh protes pada Minato.
"Hora! Hora! Seiya aku tahu kau saat ini sedang patah hati. Tapi kenapa kau melampiaskan kesalmu pada Kaito?"
Eh?
"Masa-san?!" Minato berjengit ketika tangan pelatih mereka mendarat pada pundak Minato dan merangkulnya.
"Apa? Seiya memang sedang patah hati kan?"
Yang tersebut namanya memandang penuh murka pada pria bermarga Takigawa beda pula dengan Kaito yang saat ini sedang sujud syukur karena sapu yang asli akan menghantam kepalanya kini teronggok begitu saja karena Seiya kini fokus pada pelatih mereka.
Ryohei dan Nanao kecewa pertikaiannya berhenti.
"Ano Takigawa-san, kau saja tidak punya pasangan. Kenapa pula kau menyebutku sedang patah hati?"
Hilang sudah sopan santun Seiya.
Masaki mengerjab sebentar, kemudian melempar seringai. "Hee? Siapa bilang aku tidak punya pasangan?" Tanyanya melankolis, nadanya sungguh dramatis, gesturnya di buat-buat.
Makin membuat Seiya kesal setengah mati.
Apalagi ketika menangkap sebelah lengan Masaki bertengger manis pada pundak Minato, jaraknya pun tidak bisa dikatakan jauh.
Seiya marah!
"Takigawa-san, jauhkan tanganmu dari Minato!"
Masaki mengernyit, "kenapa pula aku harus menjaukan tanganku dari Minato?"
Memang sepertinya pelatih yang satu ini sifatnya tidak beda jauh dengan anak didiknya, bukanya menjaukan tangan untuk menghindari perikaian ia justru makin dekat dan memperparah keadaan dengan mendekap Minato serta meletakkan dagunya pada pundak si surai hitam.
"Lihat? Minato saja tidak keberatan. Lagipula, sebenarnya kau ini menyukai Fujiwara atau Minato?"
"Takigawa-san, aku membenㅡ"
"HEEEEE?! SEIYA MENYUKAI FUJIWARA-KUN?!"
Ryohei dan Nanao ribut. Itu pekikan mereka, berbeda pula dengan Kaito yang memandang mereka aneh seolah mengatakan, 'pergi kemana kalian berdua selama ini?'
Ya ampun. Seiya di landa pening dadakan. Kenapa pula pelatih mereka ini tahu hubungannya dengan Shuu?
Oh tentu saja. Raut Seiya berubah datar, dalam hati mencibir. Tentu saja dari Minato. Dari siapa lagi? Anak ini kalau sudah terlampau nyaman masalah apapun pasti diceritakan, apalagi pada perayu ulung macam Takigawa Masaki ini.
Masaki terkekeh, "sudah-sudah, kalian lihat? Seiya sampai pusing menanggapi kalian. Nah ayo latihan! Siapkan busur kalian."
Belum selesai ketika protes terdengar, Masaki melepaskan Minato. Matanya berkilat penuh humor dan berkata, "ngomong-ngomong, aku sudah punya pasangan. Iya kan, Minato?"
Minato merona hingga telinga dan siap meledak ketika kecupan ringan mendarat pada pipinya.
Anggota klub panahan putra Kazemai menganga. Terkejut tentu saja hingga akhirnya Seiya meraih busurnya dan berkata, "Ayo teman-teman kita bisa mencari pelatih baru."
Siap membunuh Masaki Takigawa saat itu juga.
Diikuti Ryohei, Nanao dan Kaito, mereka berempat kompak menerjang Masaki dan bersiap melemparnya dengan busur.
"MASA-SAN KAU MENODAI DOJO INI!"
"TAKIGAWA-SAN! AYO KITA BERTENGKAR!"
"AKU MEMBENCIMU TAKIGAWA-SAN!"
"TAKIGAWA-SAN MENODAI KEPOLOSAN MINATO! SEI-CHAN BISA HAJAR DIA!"
Minato hanya bisa mengulum senyum kaku melihatnya.
.
.
.
Satu minggu setelah kerusuhan yang terjadi di dojo SMA Kazemai, satu minggu ini penuh Seiya lakukan dengan memikirkan hubungannya dengan Shuu serta menjauhkan Minato dari Takigawa-san.
Pertandingan kyuudo tingkat Sekolah Menengah Atas saat ini tengah berlangsung. Sebagai juara tahun lalu, Seiya memberi sepatah kata untuk mempertahankan gelar juara mereka dalam cabang panahan berkelompok. Sedikit menyalurkan semangatnya pada anggota yang lain.
Sebelumnya Masaki sebagai pelatih sedikit memberi tips entah mengatasi gugup saat akan melepas busur dan lain sebagainya. Tak lupa memberi semangat dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja baik ketika mereka akan mengikuti cabang individu atau cabang berkelompok sekalipun.
"Ah ya, jangan lupa, ketika memanah nanti pastikan kalian mengikat tali busur kalian dengan baik."
Hanya itu sebelum Masaki menepuk pundak mereka semua dan melangkah memasuki dojo menuju kursi yang disediakan khusus untuk pelatih dan guru pembimbing
Perlombaan dilaksanakan selama dua hari. Hari pertama adalah babak penyisihan, hingga hari kedua dikuti final.
Hari ini adalah hari kedua. Babak penyisihan untuk empat besar akan berlangsung. Klub panahan putra SMA Kazemai berhasil memasuki empat besar, jika mereka memenangkan pertandingan empat besar ini maka tidak dapat di elak, mereka kembali akan bertemu dengan SMA Kirisaki di final seperti tahun lalu.
Ketika nama sekolah mereka di sebut, Seiya menatap yang lain dan berkata, "ayo kita menangkan." Dan melangkah memasuki dojo sesuai urutan memanah mereka.
.
.
.
.
Bohong jika mereka tidak gugup. Tangan mereka bahkan bergetar, antara gugup dan senang menjadi satu. Namun, mereka menyukai sensasi yang saat ini tengah menggerogoti mereka.
"Final bersama Kazemai? Yah, seperti tahun lalu. Manji, kau harus berhati-hati terget panikmu belum sembuh total." Senichi terkekeh jahil.
Shuu melirik sekilas, "Kita tidak bisa meremehkan mereka. Kalau kalian lupa, dua mantan rekan satu tim ku itu sama kuatnya. Ah, dan kita dalam masalah karena Minato sudah sembuh dari target paniknya, tantu saja kalian tahu sehebat apa dia. Jadi jangan saling meremehkan" ucapnya menceramahi, tahu benar tabiat si kembar Sugawara ini.
Manji masih tertawa dan berkata, "hee? Mereka memang kuat, jadi Shuu, yang mana mantan rekanmu sebenarnya? Narumiya atau Takehaya?"
Kemudian mereka terkikik lagi ketika Shuu mendelik kesal pada mereka. "Tentu saja keduanya."
"Waah, Shuu rakus sekali. Ya memang benar sih Takehaya dan Narumiya itu wajahnya manisㅡ" Manji berceletuk ringan, Senichi tertawa seperti tak ada hari esok. Sisa anggota yang lain geli melihatnya.
Hingga kemudian saat Shuu berdiri dan bersiap memasuki dojo ketika Kirisaki dan Kazemai di panggil bersamaan untuk final cabang berkelompok, ia berkata, "Dan jika kalian mengungkit masalah ini di depan Kazemai aku tidak akan menjamin kalian akan baik-baik saja setelah itu."
Anggota klub panahan putra Kirisaki melongo, "ano sepertinya kalian berdua benar-benar akan habis di tangan Shuu jika kalian mengungkit ini"
Kembar Sugawara itu diam-diam mengangguk setuju, dari tanggapannya mereka tahu Shuu mengerti maksud perkataan mereka. Lantas Sugawara identik tergesa menyusul Shuu dan menyesali keputuan menggoda si surai olive itu.
Ketika memasuki ruang tunggu, Kazemai sudah berada di dalam sana sesuai dengan posisi mereka. Di mulai dari Kaito, Ryouhei, Seiya, Nanao dan terkahir Minato.
Shuu terdiam, posisinya bergantian dengan Manji dan mengantarkannya bersebelahan dengan Seiya. Ia meringis dalam hati, suasana canggung ini di tambah dengan anggota dari kedua klub menatap mereka dengan pandangan yang aneh, khususnya dari SMA Kazemai. Seolah-olah mereka tahu antara dirinya dan Seiya sedang terjadi sesuatu.
"Kau tahu benar, aku tidak akan menahan diri. Sama seperti tahun lalu."
Suara Seiya terdengar, seperti berbisik namum Shuu dapat mendengarnya dengan jelas. Shuu tersenyum tipis, "Baguslah, aku juga. Dan setelah perlombaan ini selesai, mari bicarakan semuanya kembali."
Seiya terkekeh, lantas ia menoleh sebentar pada Shuu untuk mengamati ekspresi si surai olive. "Mari bertaruh."
"Tunggu. Apa?"
"Bertaruh. Antara kau dan aku. Jika kau tidak mau, aku tidak akan bicara denganmu selepas perlombaan ini. Bagaimana?" Seiya kembali menatap ke depan.
Shuu menghela nafas pasrah dan kemudian berucap, "Baiklah. Apa taruhannya?"
Dan ketika salah seorang dari pihak panita perlombaan memanggil mereka memasuki aula dojo, mereka semua berdiri dan berjalan beriringan.
Sebelum memasuki aula, Shuu sangat yakin mendengar Seiya mengatakan, "Siapapun yang menang di antara kita boleh melakukan apa saja pada yang kalah selama seminggu penuh. Itu tantangannya."
Dan si Fujiwara berdarah campuran ini hanya bisa mematuhinya.
.
.
.
Final tengah berlangsung, total setiap pemanah hanya melepaskan busur sebanyak lima kali selama lima putaran.
Dan ketika urutan kelima antara Kazemai dan Kirisaki selesai menarik Yumi dan melepaskannya hingga menghempas angin dan mengenai targetㅡ
Pertandingan selesai.
Minato menyelesaikan tugasnya sebagai urutan terkhir, gestur penarikan busurnya masih sama indahnya. Akurasinya pun makin meningkat.
Tak ada satupun dari mereka berlima yang meleset.
Kazemai memenangkan final. Kirisaki hanya meleset satu anak panah.
Yang artinya, Seiya memenangkan taruhannya.
Sorakan dari tribun penonton memenuhi aula, pemanah yang berlomba terdiam. Masih bergetar. Masih merasakan euforia ketika busur mereka lepaskan. Masih terngiang jelas pula suara Tsurune.
Hening masih melanda kedua tim. Hingga kedua Tim keluar dari Aula dan berada pada ruang tunggu dojo, baru saja kedua tim akan meninggalkan dojo, suara Seiya memecah keheningan mereka.
"Fujiwara Shuu tentu kau tau taruhannya kan?"
Semuanya memandang Shuu dan Seiya penuh tanya.
Shuu menghela nafas, "Ya."
Pasrah, Seiya ingin membuatnya melakukan apapun ia pasrah asal bisa berbicara dengan si manis dengan titik cantik di bawah mata.
Lantas ketika Seiya berjalan mendekatinya, Shuu hanya bisa terdiam.
"Kau, kenapa kau melakukan itu dulu?" Tanya Seiya.
Ah, Shuu paham. Seiya mengikuti keinginannya untuk berbicara terlebih dahulu. Ia tak berani menatap langsung ke mata Seiya.
Menyesal. Masih merasa bersalah.
"Maaf."
Minato yang menyaksikan keduanya terdiam, entah harus melakukan apa. Membahas alasan mereka bertengkar di depan semuanya sama saja menambah masalah karena tampaknya anggota dari SMA Kirisaki benar-benar tidak mengetahui apapun masalah antara Seiya dan Shuu. Berbeda dengan anggota SMA Kazemai yang secara garis besar sudah tahu karena memaksa Minato bicara.
Seiya melempar senyum mengejek, "Tentu saja. Kau perlu meminta maaf. Tapi sebelum ituㅡ" kalimatnya menggantung, hingga ketika Shuu merasakan bobot tubuhnya menjadi berat, merasakan lengan yang dulu selalu memeluknya erat kini melingkar pada lehernya, menubrukkan diri pada tubuhnya.
Mustahil.
Rasanya mustahil.
Shuu terbebelalak, ia lantas mendongak dan kaget menerpanya kala sepasang bibir tipis Seiya mendarat pada bibirnya.
Seiya menciumnya.
Iris biru itu memandangnya intens. Hanya sebuah ciuman, kecupan di bibir sebelum Seiya meraih kedua tangan Shuu untuk memeluknya; kecupannya berubah menjadi ciuman yang intens dan dalam.
Asin, sedikit asin di sela manis dari bibir yang dulu selalu memberinya kecupan manis.
Seiya menangis di sela ciuman mereka.
Tidak asa nafsu, murni hanya saling merindukan. Hanya ada maaf dan menyesal yang tersirat pada ciuman penuh rindu.
Shuu rindu. Sangat rindu dengan sensasi ini.
Kala jemari ramping Seiya meraih belakang kepalanya, meremat rambutnya pelan, meyakinkan Shuu bahwa Seiya memaafkannya, meyakinkan bahwa tak ada sekalipun Seiya bisa melupakan si surai olive dengan violet memukau.
Haru menyeruak, bukan hanya Seiya. Liquid bening pun ikut meluncur dari pelupuk mata beriris violet. Menegaskan bahwa Shuu sama sakitnya dengan Seiya.
Sela mereka ambil demi pasokan udara yang menipis, seolah tak ingin melepaskan pangutan. Menyesap satu sama lain, perasaan mereka kontan menghangat.
Hingga akhirnya Seiya memukul pelan dada bidang kepunyaan pemuda bermarga Fujiwara, pangutan penuh rindu, penyesalan, maaf, dan haru itu terlepas.
Keduanya terengah.
Tak sadar sama sekali bahwaㅡ
"Apa mereka baru saja berciuman?"
ㅡanggota tim mereka menyaksikan adegan memalukan ini dengan jarak yang sangat terlampau dekat.
Mereka lantas tertawa keras.
Heboh sekali. Seiya ikut tertawa, Shuu hanya tersenyum kecil hingga meraih Seiya kembali pada pelukannya dan mengusap air yang menggenang pada pipi orang yang selama ini mengisi ruang pada hati. Bahkan ikut menginvasi pikiran.
Suitan heboh masih terdengar, euforia kemenangan mereka yang hening tadi hilang tergantikan pekikan penuh godaan.
Wajah dua insan yang baru saja berbaikan merona sempurna. Tak ada bantahan keduanya merasa bahwa ini yang terbaik. Ini yang harusnya mereka lakukan sedari dulu.
"Hahahahah astaga! Mereka sinting!"
"Mereka menodai dojo ini tanpa rasa bersalah ahahahahaha"
"Yang benar saja?! Ternyata alasan Shuu menjadi sangat menakutkan karena Takehaya-san?! Hahaha ya ampun"
"Memalukan! Setidaknya ingatlah kami masih ada di sini untuk tidak melakukan ciuman sedalam itu! Hihihi"
Ejekan serta hinaan penuh canda serta sirat menggoda makin membuat suasana yang heboh semakin heboh lagi.
Seiya terkekeh, Shuu ikut terkekeh. Seolah tertular.
"Tak ada yang berubah. Benar?" Shuu berbisik di balas Seiya dengan anggukan pasti.
Malu. Mereka sangat malu. Namun tidak sebanding dengan seberapa senangnya mereka berdua.
Seiya menoleh sebentar, Shuu mengikuti arah pandang Seiya.
Mereka melihat Minato yang tersenyum lebar dengan pipi yang sama basahnya seperti mereka.
Hanya sekilas, namun mereka tahu benar Minato mengucapkan terimakasih dalam sunyi. Hanya sebuah gerakan bibir sebelum Seiya melepas pelukan Shuu dan menerjang Minato dan membawanya pada pelukan hangat.
Merasa sama berterimakasihnya. Shuu ikut memeluk dua temannya itu bisikan terimakasih dikumandangkan oleh ketiganya. Lantas anggota lain ikut memeluk, saling menyalukan rasa syukur.
Tawa masih terdengar hingga mereka di tegur pihak panitia karena terlalu berisik.
Siapa sangka masalah yang awalnya mereka kira hanya akan tertimbun sama seperti masa lalu yang lain akan berakhir indah seperti ini?
Seiya tidak pernah mengharapkan akhir yang menyenangkan seperti ini tentang masalahnya bersama Shuu.
Begitupula dengan Shuu yang perlu beberapa tahun berpikir tentang semua ini.
Minato memang selalu menjadi prioritas Seiya.
Namun kini Shuu tahu, pemenang untuk hati, perasaan hingga semua yang ada pada diri Seiya adalah dirinya. Bukan Minato.
.
.
.
.
.
.
"Bertemu denganmu adalah takdir, menjadi temanmu adalah pilihan, namun jatuh cinta padamu benar-benar berada di luar dayaku." ㅡTakehaya Seiya.
"Hari itu akan kadang, saat di mana kau menjadi milikku. Aku hanya perlu menunggu hingga waktunya tiba, namun jika harus menunggu selamanya, itupun akan tetap ku lakukan. Karena aku tidak bisa hidup dengan benar tanpa dirimu." ㅡFujiwara Shuu.
.
.
.
.
.
ㅡWhen love feels like magic,
you call it destiny,
when destiny has a sense of humor,
you call it serendipity.
.
.
.
.
Winner [end]
Sunday, 22nd November 2020
.
.
.
.
[A/N] Ya ampun akhirnya end hahahaha. Bagaimana? Saya perlu rombak sana sini. Semoga puas dengan ketikanku yang jauh dari sempurna ini
Terimakasih udah baca! Ini pampai 3k lebih lho keterusan sayanya. Nyaris tergoda buat "ah bagi dua aja lagi. Kepanjangan."
Tapi gak jadi soalnya saya tau ntar saya jadi malas ngetiknya.
Sekali lagi makasih :D
.
.
.
.
.
Elsoul59
Aachen, Nodrdhein-Westfalen, 22 Nov 2020.
Omake I ;
Selepas keduanya berbaikan, semuanya kembali seperti biasa. Hanya frekuensi Seiya dan Shuu bertemu nyaris membuat anggota klub dari sekolah masing-masing mendengki.
Seperti saat ini, agenda bolos dadakan keduanya diadakan di rumah Seiya.
Seiya sibuk membuat beberapa hidangan yang setidaknya bisa ia dan Shuu santap bersama.
"Kenapa kau selalu melarang Minato ke kuil milik Takigawa-san?"
Pertanyaan Shuu memecah hening. Lantas ketika Seiya selesai dengan kegiatannya dan membawa hasilnya menuju tempat Shuu menyamankan diri, ia mendengus.
Shuu tertawa mendengar dengusan si surai hitam beriris biru. Ia menarik Seiya hingga empunya jatuh pada pangkuan serta pelukan hangat.
"Hahahah Minato benar-benar seperti anakmu saja jika kau bertingkah seperti ini" ucap Shuu. Ia mendaratkan kecupan manis pada pipi Seiya hingga Seiya merona.
Cibiran kemudian keluar, "Kepolosan dan keluguan Minato berkuang setiap detik ia bersama Takigawa-san. Itu bahaya! Bukannya kau juga sama sepertiku?"
Kekehan Shuu lenyap seketika, dengusan juga keluar dari dirinya. Iris violetnya bersinar dengki.
"Tampangnya seperti perayu ulung. Menyebalkan walau aku kagum dengannya tapi membuat Minato hilang kepolosan itu makin membuat fakta bahwa Takigawa-san sangat menyebalkan."
Seiya tertawa mendengarnya.
.
.
.
Omake II ;
Ryohei memakan es krimnya. Lalu kemudian melirik Minato yang juga memakan es krimnya dengan nikmat.
Minato sedang tak membawa sepedanya. Alhasil ia menemani Ryohei menunggu bus.
"Minato?"
"Hm?"
Ryohei mengerjab, "Seiya dan Shuu seperti orang tuamu saja."
Minato ikut mengerjab, kemudian memiringkan kepala menatap penuh tanya pada Ryohei. "Kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Mereka berbaikan karenamu juga kan?"
Minato tidak mengerti, namun akhirnya mengangguk saja.
Ryohei menepuk tangannya mengerti, "aku pernah membaca artikel yang mengatakan lebih dari 75% alasan pasangan yang kembali rujuk itu karena anak mereka."
Minato masih belum paham, "ha? Lalu hubungannya aku dan mereka berdua apa?" Tanyanya linglung.
Ryohei tertawa keras, "karena kau seperti anak mereka! Makanya mereka kembali bersama!"
"Oh seperti itu..."
Sepertinya, opini salah satu anak ayam SMA Kazemai ini mencelakai otak anak ayam yang satunya lagi.
Minato menelan mentah-mentah opini itu yang berakhir keesokan harinya ia memanggil Seiya dan Shuu dengan sebutan ibu dan ayah.
Yang tentu saja menuai gelak tawa dari dua anggota klub kyuudo sekolah masing-masing.
Oh kecuali Ryohei dan Minato yang tidak mengerti mengapa mereka semua tertawa.
.
.
.
.
.
.
.
End Omake
