Celebrity Scandal
keanijun
2018
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Baekhyun ada di meja panas. Ruangan dengan dinding kaca itu berubah menjadi neraka. Baekhyun yakin ini masih pukul dua dini hari, namun terasa seperti matahari sedang menaungi kepalanya. Lampu di langit-langit itu terang, namun tak cukup untuk membuat Baekhyun mendapat pencerahan setelah lama berpikir. Sebab, Itu berkat satu kertas kontrak yang ada di depan Baekhyun. Isinya nominal berkisar belasan juta won dengan tinta yang dicetak tebal.
"Bagaimana tuan Byun?"
Baekhyun tidak bisa mengingkari bahwa tawaran dari Golden Ent kali ini benar-benar menggiurkan. Melihat deretan angka itu seketika membuat Baekhyun silau. Uang adalah godaan terberat untuknya, apalagi jika bisa ia dapatkan secara langsung setelah membubuhi tanda tangan disana.
"Berapa banyak lagi yang kau butuhkan?"
Baekhyun meneguk ludahnya kasar. Mereka bahkan berani menaikan bayarannya sedang angka yang sekarang saja membuat jantungnya nyaris keluar karena kegirangan. Tidak memungkiri bahwa matanya kini berbinar-binar.
"Berapa yang bisa aku dapat sebagai tambahan?" Baekhyun bertanya pada staff di
depannya, nadanya sedikit menantang.
"Berapa pun yang kau mau jika kau bisa menyelesaikan skandal ini." seorang wanita cantik yang duduk di ujung meja ikut menyahuti.
Yoona . Seorang aktris, model, dan penyanyi tersohor korea. Dengan paras bak seorang dewi membuatnya digadang-gadang menjadi wanita paling cantik di korea. Sepanjang karirnya yang nyaris lima belas tahun mengudara, ia menguasai banyak bidang yang membuat namanya tak pernah hilang pamor walau banyak pendatang baru yang tak kalah hebatnya.
Bisa dibilang Yoona adalah Park Chanyeol versi wanita, atau mungkin sebaliknya? Sebab, mereka adalah dua figur paling tersohor dalam dunia selebritas korea.
Ah, Baekhyun jadi teringat tentang Chanyeol. Baekhyun masih memiliki satu kontrak yang belum selesai dikerjakan. Entah sampai kapan dia akan bekerja untuk pria itu.
"Yoona-ssi, jika aku boleh tau, apa masalah yang harus aku selesaikan?"
Sebelum Yoona mengatakan sesuatu manajernya segera menyela. "Aku tidak bisa mengatakannya sebelum kau sepakat dengan kerja sama ini." Ujarnya.
Baekhyun menghela napas panjang, "Baiklah." Dia beralih lagi pada kertas didepannya, membacanya berulang kali dengan lebih teliti.
"Hanya dengan melihat angkanya, aku yakin ini mungkin sedikit rumit."
"Kau tau dengan jelas, tuan Byun." Manajer bernama Kim Jaehwan itu menimpali. Ia pun harap-harap cemas, bagaimana Baekhyun masih terus mempertimbangkannya sejauh ini.
Baekhyun tidak kunjung memberi jawaban. Dalam kepalanya ia memikirkan skandal apa yang kira-kira dihadapi oleh artis sekelas Yoona. Jika itu masalah yang cukup besar, mungkin Baekhyun akan memilih untuk mundur daripada mendapat resiko yang tinggi. Sedikit banyak ia belajar dari pekerjaannya dengan Park Chanyeol yang membuat hidupnya tidak setenang dulu.
"Bagaimana jika berikan aku waktu beberapa hari untuk memikirkannya?"
Baekhyun bertukar pandang sejenak dengan orang-orang di depannya sebelum Jaehwan menyetujui hal itu dengan anggukan.
"Baiklah, aku akan mengabari kalian lagi lain waktu."
Baekhyun bangkit dari kursinya dan segera meninggalkan ruangan setelah memberi hormat pada orang-orang di dalam. Ia melangkahkan kakinya menuju lobi depan saat ada seseorang yang menarik tangannya.
"Tunggu sebentar." Baekhyun sedikit mengernyit heran menyadari bahwa Yoona mengikutinya hingga kemari.
"Ada apa Yoona-ssi?"
"Baekhyun-ssi, kita perlu bicara sebentar."
"Apa ada sesuatu yang belum kita bahas tadi?"
Yoona nampak memperhatikan sekitar, seperti memastikan tidak ada yang melihat mereka saat ini.
"Ini tentang masalahku." Yoona sedikit berbisik dan hal itu semakin mengundang rasa penasaran Baekhyun.
"Ikut aku."
Yoona memimpin jalan mereka menuju bagian belakang Gedung ini, tepatnya di depan Gudang yang cukup gelap dan sepi. Baekhyun sempat bergidik ngeri mengingat ia pernah mendengar rumor jika Gedung Golden Ent adalah salah satu kantor agensi yang menyimpan banyak cerita horor.
Yoona terlihat menarik napasnya dalam sebelum mulai bicara. "Dengarkan baik-baik, aku tidak akan mengulanginya lagi."
Baekhyun hanya mengangguk seperti orang bodoh karena rasa penasarannya.
"Aku mengandung anak dari salah satu orang berpengaruh di korea. Aku meminta pertanggung jawabannya tapi dia menolak mentah-mentah. Aku tidak tau apa yang sebenarnya dia pikirkan, tapi si bodoh itu mulai membuat skandal untuk dirinya sendiri. Aku hanya takut jika sebentar lagi ia akan membuat skandal untuk menjatuhkanku."
Baekhyun berkedip beberapa kali sebelum ia mengeluarkan kekehan canggung. "Ya, itu sepertinya cukup berat. Tapi, apa bisa kau ulangi lagi, aku tidak paham." ujar Baekhyun sembari mengusak lehernya yang tidak gatal.
Yoona menggeram marah, nyaris saja mencekik Baekhyun yang masih bertahan dengan kekehan kecilnya. Tapi Yoona masih waras untuk menyadari bahwa hanya Baekhyun yang bisa menyelesaikan masalahnya.
"Dengarkan. Aku hamil anak orang tersohor di Korea tapi dia tidak menerima bayi kami. Jadi dia mulai mengeluarkan berita untuk menutupi hal ini. Dan yang paling aku takutkan adalah ia akan membuat rumor buruk tentangku untuk balas dendam. Kau mengerti sekarang?"
Baekhyun mengangguk paham dengan itu. "Jika dia yang mungkin saja membuat rumor, lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Sebenarnya tugasmu adalah melawan rumor apapun yang ia keluarkan. Jika rumornya menjatuhkanku, kau harus bisa membuat cerita untuk menepis hal itu."
Sedikit banyak cerita ini mengingatkannya tentang Chanyeol yang memiliki masalah sama dengan Yoona.
"Baekhyun-ssi, aku sangat berharap kau mau menerima tawaran ini. Satu-satunya orang yang aku yakini bisa menyelesaikan ini adalah kau."
Hati Baekhyun sedikit teriris melihat bagaimana Yoona memohon padanya. Wanita yang biasanya terlihat ramah dan berkharisma di layar kaca, kini menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Hati wanita tetaplah rapuh mau bagaimanapun sifat orangnya, pikir Baekhyun.
"Aku akan memikirkannya lagi. Kasus ini cukup sulit, apalagi aku tidak tahu dengan siapa aku berhadapan. Aku juga tidak ingin mengambil resiko yang besar."
"Aku akan memberitahumu siapa ayah dari anak ku."
Baekhyun membulatkan mata tak percaya. "Benarkah?"
"Aku akan memberitahumu dengan syarat kau berjanji untuk membantuku."
Baekhyun sedikit berpikir, dalam hatinya ia benar-benar ingin tahu siapa pria yang di maksud oleh Yoona namun logika melarangnya untuk ikut campur dengan urusan ini sebab resikonya mungkin tinggi.
"Ini mungkin akan jadi skandal yang paling fenomenal yang pernah kau dengar sepanjang hidupmu. Sangat disayangkan jika kau melewatkannya." Yoona mengatakan hal tersebut seolah memancing Baekhyun untuk masuk dalam masalahnya.
"Katakan, siapa?"
Yoona tersenyum penuh kemenangan, kemudian ia mengikis jarak mereka berdua dan membisikan sesuatu pada Baekhyun. Udara lembut itu mengantar satu nama yang tidak asing pada telinga Baekhyun, bahkan cukup untuk membuat tubuhnya mendadak gemetaran.
"Bagaimana Baekhyun-ssi?"
"Ba..bba..bagaimana bisa? Kenapa dia?"
"Baekhyun-ssi, jangan bilang kau menolaknya?!"
Baekhyun masih dalam rasa keterkejutannya dan itu membuat Yoona sedikit khawatir jika pria itu menolak membantunya.
"Kau sudah berjanji untuk membantuku!" Yoona meninggikan suaranya, membuat Baekhyun semakin dilanda kebigungan.
"Maaf, tapi aku benar-benar tidak bisa membantumu. Itu..itu sangat sulit."
Yoona membulatkan matanya, seolah siap untuk mencerca Baekhyun. Namun sebelum itu benar-benar terjadi, Baekhyun menyelanya. "Ta..tta..tapi tenanglah. Aku bersumpah tidak akan membocorkan masalah ini pada siapapun. Aku berjanji."
"Apa aku bisa percaya padamu sedangkan kau memang butuh berita untuk mencari keuntungan. Katakan, apa kau bisa dipercaya? Hah!" Yoona mulai merasa terancam. Mungkin keputusannya untuk mengejar Baekhyun adalah keputusan bodoh.
"Tidak Yoona-ssi. Aku benar-benar akan menyimpan ini untuk diriku sendiri."
Yoona tidak tau apakah ia benar-benar bisa melepaskan Baekhyun kali ini, namun melihat ekspresi serius Baekhyun seolah mengatakan semua akan baik-baik saja.
"Baiklah. Itu terserahmu."
Baekhyun tersenyum kecil dengan itu. "Terima Kasih Yoona-ssi. Semoga masalahmu bisa segera diselesaikan. Dan kalau begitu, aku pamit dulu. Selamat malam." Baekhyun membungkukan tubuhnya di depan Yoona dan segera meninggalkan tempat itu.
"Baekhyun-ssi" tepat sebelum ia berbelok di sisi tembok, ia mendengar Yoona memanggilnya lagi.
"Aku berharap kau masih memikirkan hal ini lagi. Jika kau tidak bisa melakukan hal ini untuk ku, maka lakukan ini demi bayiku. Aku tidak ingin dia dicampakan oleh ayahnya."
Baekhyun tidak mengatakan apapun lagi, ia bergegas keluar dari Gedung itu dan berjalan ke sembarang arah. Harusnya ia berada di depan Gedung Golden Ent dan mencari taxi untuk pulang namun ia malah berakhir duduk di halte sendirian.
Merasakan ada sesuatu yang menyesakan dalam dadanya, ia tidak mampu lagi menghalau kenangan masa kecilnya.
Dan ia tahu betul rasa dicampakan oleh ayah kandungnya.
.
.
.
.
.
.
Baekhyun menepi pada sisihan dinding lift, menyandarkan kepalanya yang terasa berat. Aroma soju masih kentara disela-sela pakaiannya walau tidak pekat. Baekhyun beruntung, masih diberi akal untuk berpikir bahwa jika tadi ia minum lebih dari satu gelas maka ia tak akan bisa pulang. Alkohol memang bukan solusi untuk Baekhyun disaat pria itu terjebak masalah.
Dentingan lift memaksa ia segera tersadar dari lamunan singkatnya. Lorong remang menyambutnya segera setelah pintu terbuka. Ia seolah merambati dinding untuk sekedar membantunya menemukan jalan. Mendekati persimpangan, ia melihat segerombolan pria berdiri di dekat pintunya. Bukan, pintu Chanyeol lebih tepatnya. Baekhyun tidak melakukan apapun selain mematung di dekat sana dan menjaga agar badannya tetap tersembunyi di balik dinding.
Sedikit memicingkan mata saat sosok Chanyeol keluar dari sana. Pria itu sudah mengenakan piyama tidurnya, bahkan rambutnya sedikit berantakan.
Beberapa orang dengan setelan jas pergi menjauh, menjaga jarak, menyisakan seorang pria di depan Chanyeol. Mereka bersitatap, mungkin, sebab baekhyun tidak yakin akan itu—matanya berkunang—tapi suasananya terlihat buruk. Dan tak lama setelah mereka berbincang sebentar, Chanyeol masuk dengan membanting pintu. Baekhyun bahkan sedikit terbangun dari mabuknya karena terkejut.
"Ya Tuhan, mereka kemari." Buru-buru Baekhyun menempatkan dirinya di balik pot tanaman yang tinggi saat rombongan kecil itu melewatinya dan hilang saat masuk ke lift. Tempatnya bersembunyi memang gelap—ditambah dia mabuk—tapi ia tak sebodoh itu untuk menyadari dengan siapa ia berpapasan.
Baekhyun terkekeh sebentar, "Kebetulan yang mengejutkan." Baekhyun bergumam seraya pergi menuju pintu apartemennya. Sebelum ia masuk, ia melirik sebentar pintu tetangganya. Mungkin besok, ia harus bertanya sesuatu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dan kata besok yang ia lontarkan kemarin menjadi pagi yang berat. Ia kesulitan bangun karena rasa pening seolah membantingnya ke tempat tidur untuk berbaring lebih lama lagi. Dalam keadaan seperti itu, ia tetap harus bangkit untuk ke kamar mandi sebab rasa mual yang ia derita tidak bisa lagi ditahan.
"Harusnya aku tidak mampir untuk minum soju."
Dengan langkah gontai ia kembali ke ranjang dan menggelung tubuhnya dalam selimut. Sesekali ia mengumpati dirinya yang tidak toleran pada alkohol jenis apapun. Laki-laki macam apa pikirnya, yang tidak bisa minum. Perutnya ia tekan lebih keras, kala gelombang mual kembali menghampirinya. Secepat yang ia bisa—walau membentur pintu—ia pergi ke toilet dan berjongkok disana untuk mengeluarkan isian perutnya yang nyatanya tidak ada apapun selain air.
"Rasanya aku sudah menghabiskan semua isian perutku." Gumamnya seraya berjalan menuju dapur untuk mendapatkan sekaplet obat pereda mabuk yang diberi Chanyeol dulu.
Ngomong-ngomong soal pria itu, Baekhyun jadi ingat tentang sesuatu. Harusnya hari ini ia mengunjungi Chanyeol untuk mencari tau tentang kejadian kemarin malam.
Tentang pria kemarin malam.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kyungsoo adalah orang yang profesional dalam pekerjaannya.
Tidak pernah terlambat, tidak pernah mengeluh, tidak pernah melakukan kesalahan, tidak pernah meminta naik gaji, dan yang terpenting selalu sopan pada atasan, mungkin.
"Ya Kyungsoo! Kenapa kau menyiram wajahku dengan air?"
Jongin memandang nanar ke arah kemejanya yang basah kuyup terguyur air mineral. Bahkan rambutnya yang telah ia tata rapi ke atas menjadi berantakan.
"Kau masih berani bertanya kenapa?!" Kyungsoo ikut bangkit dari kursi dan membuat alas duduknya itu terjungkal ke belakang.
Jongin masih mode berpikirnya dan Kyungsoo sibuk meredam amarah dan mereka seolah tidak menyadari telah menjadi tontonan orang-orang di kantin.
Jongin menyeringai, "Kau marah karena aku menyentuh pahamu?"
Kyungsoo berdesis marah. Menyentuh apanya? bahkan Jongin sudah mengelus pahanya sepanjang hari. Tidak, setiap hari. Ya, pria cabul yang sialnya adalah bosnya sudah melecehkan paha dan pantatnya. Ingat, setiap hari!
Awalnya Kyungsoo tidak benar-benar peduli tentang itu, namun semakin lama Jongin semakin menjadi-jadi. Jongin pikir laki-laki seperti apa dirinya?
Jongin tertawa remeh. Pandangan mata sayunya jatuh pada wajah Kyungsoo yang memerah padam. Mungkin si kecil memang marah, namun itu luar biasa menggemaskan di mata Jongin.
Jongin memutari meja, mendekat pada Kyungsoo untuk menempatkan bibirnya lebih dekat pada telinga penguin kecilnya. "Apa kau malu? kenapa wajahmu merah?" Dan Kyungsoo mati-matian menahan diri dengan itu.
"Ahh, aku tau." Jongin berbisik, "Apa kau terangsang?"
"Bedebah kau Jongin!" bersama dengan itu sebuah nampan menghantam wajah Jongin hingga pria itu tersungkur di tanah dengan suara ribut dari para pegawai walau nyatanya tak ada yang berani mendekat.
Kyungsoo segera pergi dengan langkah seribu dan Jongin bangkit dari lantai dengan tawa kecilnya.
Luar biasa sekali, batinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Baiklah, ini akan sia-sia jika pria itu tidak ada di dalam."
Setelah perjuangan melawan rasa mabuknya, Baekhyun memutuskan untuk tetap menemui Chanyeol. Dan disinilah ia, berdiri di depan pintu milik Chanyeol. Baekhyun bersiap mengetuk ketika seorang pria yang ia cari muncul dari balik pintu.
"Hai Chan."
"Hai Baek."
"Apa kau akan pergi keluar?"
Chanyeol menggeleng cepat. "Tidak. Apakah ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?"
"Aku sebenarnya ingin mampir ke tempatmu. Ku pikir kita sudah lama tidak duduk dan mengobrol."
"Apa kau merindukanku?" Chanyeol memasang smirk andalannya dan Baekhyun tidak bisa menahan dirinya untuk memasang wajah masam. Walaupun dalam hatinya ada debaran yang memuncak.
Chanyeol masuk kedalam diikuti Baekhyun yang langsung duduk di sofa ruangan itu.
"Sebenarnya aku sedang memasak makanan. Jadi, aku akan meyelesaikannya lebih dulu."
Chanyeol menghilang di balik dinding dapur, menyisakan Baekhyun yang membuat tour kecil dengan matanya. Di sudut sana, dekat jendela, ia melihat meja yang pernah menjadi saksi saat ia mabuk bersama Chanyeol hingga berakhir berdua di ranjang.
Baekhyun menggeleng ribut, berusaha menghilangkan bayangan malam itu. Hingga ia tak menyadari bahwa Chanyeol datang dari dapur dengan sebuah nampan berisi beberapa makanan.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Tidak ada."
"Bohong."
"Terserahmu!"
Chanyeol mulai menata satu-persatu makanan di meja, dan Baekhyun tidak bisa menahan tatapan laparnya. Setelah Chanyeol selesai, Baekhyun langsung mengambil tempat di meja dan meraih mangkuk nasi disana.
"Apa yang kau lakukan?"
"Makan tentu saja."
"Kau tidak punya sopan santun atau apa? ini bukan untukmu."
Chanyeol merebut mangkok dari tangan Baekhyun hingga pria kecil itu bersungut sebal.
"Tapi disini ada dua mangkuk nasi."
"Lalu?" Chanyeol pura-pura tak peduli dan memilih untuk menyantap makanannya.
"Chanyeolli pelit."
Baekhyun mencebikan bibirnya sebal. Ia belum makan apapun hari ini dan sekarang di sampingnya, sedang ada seseorang yang makan dengan lahap. Dasar Chanyeol! Jika bukan karena ia ingin menggali informasi, mungkin ia sudah pergi dari sini.
"Yeol.."
"Hmm?"
"Kemarin aku melihat seseorang datang kesini malam-malam."
Chanyeol menghentikan aktivitas dari menyuap nasi dan menatap Baekhyun curiga. "Kau melihatnya?"
Baekhyun mengangguk. "Ya."
Chanyeol secara tiba-tiba mendekatkan wajahnya pada Baekhyun hingga si mungil terkejut.
"Kau pasti menguping."
Baekhyun menggeleng ribut, "Tidak.. aku tidak." Dengan tangannya yang berusaha mendorong wajah Chanyeol.
"Kau tau dia siapa?"
"Ya!"
Tentu saja Baekhyun tau. Biarpun ia mabuk, ia masih bisa menyadari bahwa Choi Siwon, seorang politikus sekaligus pengusaha terhormat di korea, lewat di depannya. Itu cukup mengejutkan, namun disisi lain merupakan keuntungan bagi Baekhyun, sebab Choi Siwon adalah orang yang telah menghamili Yoona.
Bisa dibilang, ini bisa menjadi pertanda baik jika ternyata Chanyeol mengenalnya.
"Lupakan apa yang kau lihat." Chanyeol melanjutkan makannya, sedang Baekhyun masih tetap diam. Hingga saat mangkuk Chanyeol telah tandas, ia meraih mangkuk kedua dan menyuap nasi nya pada Baekhyun.
"Kau bilang aku tidak boleh makan."
"Tidak boleh jika bukan dari tanganku."
"Aku masih punya tangan jika kau lupa!" Dalam hati Baekhyun bersorak senang. Entah kebaikan apa yang ia lakukan hingga mendapat perlakuan manis dari pria paling tampan di korea ini.
"Kau selalu saja berteriak." Chanyeol menjejalkan nasi ke mulut Baekhyun yang diterima dengan senang hati oleh si kecil. Walau diselingi gerutuan, Baekhyun tetap melahap semua suapan dari Chanyeol. Tidak bisa ia pungkiri lagi bahwa makanan buatan Chanyeol sangat lezat dan cocok dengan seleranya.
"Ngomong-ngomong, bagaimana bisa kau mengenal Choi Siwon?"
Chanyeol memberi suapa besar pada Baekhyun sebelum menjawab dengan ringan, "Dia suami ibuku."
"APA?!"
"Yak Baekhyunie, kenapa kau menyemburkan nasimu?!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Baekhyun melempar tubuhnya ke ranjang. Dalam kepalanya masih berusaha mencerna situasi yang terjadi. Yoona mengaku bahwa anak yang dikandungnya adalah anak dari Siwon yang merupakan suami dari ibu Chanyeol dan itu berarti pria itu adalah anak dari Siwon.
Baekhyun menghela napas berat. Rasanya ia ingin menertawakan takdirnya sendiri, bagaimana ia bisa bertemu dengan Chanyeol dan orang-orang terdekatnya yang memiliki masalah yang sama.
"Apa keluarga mereka memang punya gen suka menghamili?"
Namun dari banyak hal yang tidak Baekhyun pahami adalah kenapa marga Chanyeol dan Siwon berbeda?
Disaat ia larut dalam pemikirannya, bel apartemennya berbunyi. Dengan segera Baekhyun membuka pintunya dan Nayeon adalah orang yang ada disana.
"Oppa." Nayeon dengan segera menerjang Baekhyun dengan pelukan yang membuat Baekhyun mundur selangkah.
"Hiks.. Oppa.."
"Ada apa denganmu?" Baekhyun menarik pelukan Nayeon dan mendapati wajah adiknya sudah banjir dengan air mata.
"Tolong aku.."
Baekhyun membawa Nayeon ke ruang tengah, kemudian ia mengambil segelas air untuk Nayeon. Berharap bahwa adiknya menjadi lebih tenang.
"Sekarang katakan. Apa ada sesuatu yang buruk terjadi?"
"Ak..aku.. sebenarnya aku hamil."
"Apa kau bilang?"
"Aku hamil."
Baekhyun mengusak rambutnya kasar. Apalagi ini?
"Jangan bercanda!"
"Aku tidak bercanda!"
Baekhyun terduduk lemas di sofa. Ia tidak bisa mengatakanan apapun lagi. Rasa sedih dalam hatinya seketika membuncah. Ia sangat menyayangi adik kecilnya melebihi apapun di dunia ini. Nayeon adalah satu-satunya orang yang bisa ia sebut sebagai keluarga. Terlepas dari apapun yang ia lakukan, Baekhyun tetap tidak bisa membenci Nayeon.
"Siapa ayahnya?"
Nayeon hanya diam dan menunduk dalam. Dan Baekhyun yang menjadi tidak sabaran semakin menatap tajam pada gadis itu.
"Katakan, siapa ayahnya?!"
Satu isakan keluar dari bibir Nayeon, bersamaan dengan bel pintunya yang berbunyi. Baekhyun melempar tatapan menuntut sebelum pergi untuk membukakan pintu.
"Chanyeol."
"Aku kemari untuk mengembalikan ponselmu yang tertinggal."
"Ah, terima kasih. Aku tidak sadar sudah meninggalkannya di tempatmu."
"Chanyeol." Itu bukan Baekhyun, melainkan Nayeon yang tengah berdiri di belakang Baekhyun.
"Nayeon?"
Baekhyun memandang bingung ke arah dua orang di depannya. "Kalian saling mengenal?"
Mereka masih diam, namun dengan pandangan saling beradu. Hingga Nayeon menjadi orang pertama yang bereaksi dengan memeluk Baekhyun dan mengatakan, "Dia oppa! Dia yang melakukannya padaku!"
Baekhyun seolah kehilangan napas saat itu juga, bersama tangisan Nayeon yang makin menjadi.
Baekhyun melayangkan tatapannya pada Chanyeol, mencari jawaban. Namun diamnya Chanyeol seolah membenarkan semua.
Dan sesuatu di dalam diri Baekhyun tiba-tiba serasa runtuh.
.
.
.
.
.
.
.
.
Celebrity Scandal is back!
Jun tau cerita ini mengecewakan, but daripada nggak dilanjutin
sekian.
