Ah ya hallo~ yui adalah pendatang baru di sini. Belum ada pengalaman menulis sama sekali. Tapi ingin coba. Eh ya ngomong-ngomong apakah yui termasuk orang yang berani? Karena baru bergabung sudah mengpublish kan sebuah fanfic? Hahaha yoroshiku semuanya

Ah ya hatsukoi butterfly itu sebenarnya adalah lagu dari JKT48/HKT48. Dan fanfic ini niatnya menceritakan maksud dari lagu itu menurut pemikiran yui. Jadi kalo aneh maafkan yui.

Hajimaru yo!!

A Naruto Fanfiction

Hatsukoi Butterfly Yui Ayuta02

Rated: T

Genre : Romance, School (?)

Warning: OOC, BAD EYD, TYPO(S), GAJELAS, DLL

Inspired by HKT48 & JKT48 SONG HATSUKOI BUTTERFLY

Enjoy senpai

Haa~ aku bosan, pelajaran kali ini terasa sangat membosankan. Karena aku sudah suntuk dengan suasana di kelas ini, aku pun memutar bola mataku menuju ke arah jendela kaca yang terbuka lebar. Lalu, tak berapa lama seekor kupu-kupu masuk dari celah jendela yang terbuka lebar. Dengan bebasnya terbang di tengah pelajaran yang membosankan ini.

Mataku sontak mengikuti pergerakan kupu-kupu tersebut yang terbang menyusuri dinding di kelas. Kupu-kupu itu pun terbang merendah dan hingga di sebuah ikatan rambut ponytail milik seorang gadis. Aku seketika tersentak. Ikatan rambut yang dihinggapi kupu-kupu adalah milik Hinata Hyuga. Tuan putri Hyuga yang menjadi idola di sekolah dan menjadi idola di hatiku. Ya, aku menyukai Hinata.

Kupu-kupu itu terus saja hinggap di ikat rambutnya. Tetapi walaupun begitu, Hinata tampak tidak merasa terganggu dengan kehadiran kupu-kupu itu di ikat rambutnya tersebut. Melihat hal itu, tiba-tiba saja membuatku ingin menjadi kupu-kupu agar bisa berada di dekat Hinata dan Hinata tidak akan menyadari keberadaanku, apalagi merasa terganggu.

Aku, Naruto Uzumaki seorang siswa yang berwajah seperti yankee. Dengan pakaianku yang selalu acak-acakan saat datang ke sekolah, membuat orang-orang semakin yakin bahwa aku adalah seorang yankee tulen. Sebenarnya, seragamku yang acak-acakan ini bukan karena aku habis baku hantam dengan seseorang, melainkan karena aku tidak sempat menggosok seragam tersebut karena waktunya selalu mepet.

Karena hal itulah, aku sangat tahu mendekatkan diri kepada Hinata. Untuk menjadikannya teman saja aku tahu, apalagi menjadikannya sebagai kekasih. Dan juga... Karena statusnya sebagai "Tuan Putri Keluarga Hyuga" dan "idola sekolah". Pasti dia akan merasa terganggu dengan kehadiranku di sebelahnya.

\\\\

Pelajaran yang membosankan masih terus berlanjut. Waktu terasa sangat lama. Aku terus memaksakan diriku untuk fokus kepada papan tulis dan mendengarkan hal yang dijelaskan oleh sensei, tapi aku tidak bisa.

Mataku tak bisa lepas dari wajah serius Hinata yang sedang menatap lurus ke arah papan tulis, sibuk mencatat.

Ah, iya kupu-kupu itu masih hinggap di ikat rambut Hinata, membuatku semakin iri. Aaah~ jika aku menjadi kupu-kupu, lalu aku hinggap di ikat rambut milik Hinata pasti akan tercium harum semerbak shampo milik Hinata.

Eh-A.. Aku mikir apa sih?! Otakku jadi kacau begini sih?! Woii Naruto sadarrr!! Aku bukan orang mesum, jadi tolonglah otakku untuk jangan berpikir seperti itu!

Jika memandang wajah Hinata terus menerus, aku merasa jiwa dan ragaku sudah terpisah. Pergi entah ke mana. Memang lebay, tapi memang seperti itulah.

Mataku kembali fokus kepada kupu-kupu itu yang mulai terbang dari ikat rambut Hinata. Dan ternyata si kupu-kupu itu malah hinggap di atas meja milik Hinata. Tiba-tiba saja aku menahan nafas, aku tidak bisa bernafas.

Entah mengapa, Hinata menoleh ke arahku lalu mengedipkan matanya dan tersenyum kepadaku. Eh? Ada apakah ini? Dadaku seketika bergemuruh hebat. Aku memutuskan kontak mata dengan Hinata dan berpura-pura memandang langit di jendela yang terbuka, sambil mempertahankan wajah bosanku. Saat Hinata sudah tak lagi tersenyum ke arahku, aku bernafas lega. Wajahku pun memerah.

Dan sejak saat itulah, Hinata mendekatiku dan mengajak diriku berbicara. Aku masih bingung, kenapa aku tiba-tiba di notice begini olehnya? Apakah sang kupu-kupu yang memberi tahu? Ah, entah lah...

.

.

.

.

Aku sudah tidak ambil pusing. Jika itu memang ulah si kupu-kupu aku sungguh sangat berterima kasih padanya. Tapi itu tidak mungkin lah~ ini sudah takdir. Ya, ini sudah pasti takdir.

.

END