Celebrity Scandal
keanijun
2018
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Seberapa besar manusia bisa menahan masalah dalam hidup sendirian?
Jika hati adalah bunga, maka Baekhyun adalah bunga yang tumbuh di tepi jalan. Diguyur air hujan, di terjang kendaraan lalu lalang, disapu debu yang berterbangan, namun sampai kini ia masih bisa bertahan.
Tidak ada masalah yang besar, kecuali jika kau membuatnya semakin sulit. Itu terpatri dalam kepala Baekhyun sejak dulu. Namun kini ia seolah ciut ditelan kegelisahan yang tak kunjung berakhir. Naluri keberaniannya sirna pada sebuah kenyataan yang tak pernah ia sangka.
Menatap wajah Nayeon di depannya membuat ia tak kuasa berbicara lagi. Seseorang yang ingin ia jaga sepenuh hati, yang ia elukan sebagai keluarga satu-satunya, harus menghadapi jalan yang sulit.
Disamping Nayeon, Chanyeol duduk dengan perasaan tak kalah gelisah. Matanya sesekali melirik Baekhyun yang tak kunjung bereaksi.
Baekhyun tau itu. Namun apakah ia bisa mengangkat wajahnya di hadapan Chanyeol sedang hatinya seakan patah hanya dengan memikirkan bahwa Chanyeol adalah ayah dari bayi adiknya.
"Nayeon, kau bisa pulang lebih dulu."
"Tapi oppa, aku masih ingin bertemu dengan Chanyeol oppa."
"Nayeon, aku ingin bicara empat mata dengan Chanyeol."
"Tidak mau! aku masih ingin disini."
"Ku bilang pergi sekarang!"
Nayeon tidak pernah melihat Baekhyun membentaknya, begitupun dengan Chanyeol yang tidak pernah melihat Baekhyun semarah ini. Nayeon mengemasi tasnya dan keluar dari sana, menyisakan Baekhyun dan Chanyeol di ruang tengah.
Baekhyun berjalan mendekati Chanyeol. Ia memandang sejenak wajah pria itu. Pria yang akhir-akhir ini menjejakan bayangannya di otak Baekhyun. Pria yang memberinya sedikit kehangatan di tengah dunia nya yang dingin dan kejam.
Satu pukulan keras mendarat di pipi Chanyeol hingga pria itu tersungkur di lantai. Chanyeol hampir bangkit namun hantaman kembali menyapa wajahnya beberapa kali. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain diam. Sebab ia tahu seberapa marah Baekhyun dari pukulan yang diterimanya. .
"Bajingan kau Chanyeol!" Satu tendangan seperti hadiah besar melayang ke perut Chanyeol hingga pria itu terbatuk. Namun Baekhyun seperti sudah kehilangan hati untuk berhenti. Ia melakukannya dengan bertubi, bersamaan dengan air matanya yang berderai.
"MATI KAU BAJINGAN!"
"Bagaimana bisa kau melakukan itu pada adikku?"
"Kau sebut dirimu pria? Hah?!"
Chanyeol merasa sendinya nyaris lepas saat berusaha duduk dan bersandar pada badan sofa. Demi apapun, ia merasa seluruh tubuhnya berdenyut nyeri. Tidak tau berapa pukulan yang ia terima, yang jelas ia merasa ini belum cukup untuk apa yang telah ia lakukan.
Matanya menatap Baekhyun yang terduduk di sofa. Pria kecil itu menutup wajah dengan kedua tangan, pundaknya berguncang. Isakan itu terdengar pilu di telinga Chanyeol, hingga ia berpikir sekejam apa dia hingga melukai perasaan malaikat seperti Baekhyun?
Dengan langkah tertatih, Chanyeol menghampiri Baekhyun dan duduk di sampingnya. Tangan besarnya perlahan merambat ke punggung Baekhyun dan menariknya masuk ke dalam pelukannya. Tidak ada perlawanan dari Baekhyun. Hanya saja isakannya semakin kencang, membuat siapapun yang mendengarnya merasa teriris.
"Maafkan aku."
.
.
.
.
.
.
.
.
Kepalanya limbung saat berusaha bangun dari ranjang. Dengan tertatih ia melangkah menuju kamar mandi dan menunduk ke dalam kloset. Isi perutnya seolah berlomba-lomba melompat keluar dan menyisakan perutnya yang kosong.
Baekhyun meringis pelan saat gelombang nyeri menyerang kepalanya. Dia tidak ingat berapa gelas yang ia habiskan semalam. Namun itu cukup membuatnya tak berdaya pagi ini.
Jadi yang ia lakukan hanya berbaring dan diam diatas ranjang. Sesekali ia menilik ponselnya, dan menemukan banyak pesan dari Chanyeol bahwa ia ingin bicara dengannya.
Tentu Baekhyun mengabaikannya. Bertemu dengan Chanyeol adalah hal yang paling ingin ia hindari.
Sejak kejadian saat itu, Baekhyun memutuskan untuk tidak bertemu lagi dengan pria itu. Daripada merasa marah, ada sesuatu yang lain dan itu membuat ia merasa berkali-kali lebih sedih.
Nayeon juga tidak tinggal diam. Sejak mengetahui dimana tempat tinggal Chanyeol, Nayeon selalu datang berkunjung. Gadis itu akan datang pagi-pagi sekali ke tempat Baekhyun dan saat beranjak siang ia akan mengunjungi Chanyeol. Chanyeol sesungguhnya tidak bisa berkutik dengan itu, mau bagaimanapun Nayeon tengah mengandung anaknya.
"Oppa.." pintu kamarnya terbuka, menampakan Nayeon yang menyembul dari balik pintu.
"Kau sudah datang?"
Nayeon mendudukan diri di samping Baekhyun dan menyentuh dahi pria itu. "Kau demam." dia memekik kecil.
"Aku baik-baik saja. Hanya efek mabuk semalam."
"Tidak..tidak.. oppa harus menemui dokter. Sudah beberapa hari oppa terlihat tidak sehat."
"Jangan khawatirkan aku. Kau yang harusnya menjaga dirimu sendiri. Kau sedang hamil." Baekhyun dengan lembut mengusap surai adik perempuannya.
"Hari ini aku dan Chanyeol oppa akan pergi memeriksakan bayi kami."
"Benarkah? Wah itu bagus. Kau harus sering-sering pergi ke dokter." Baekhyun berusaha terlihat antusias walau kenyataannya seperti ada yang runtuh dalam dadanya.
"Oppa, bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Tentu."
"Apa benar oppa bekerja untuk Chanyeol?"
Baekhyun bangkit dari tidurnya dan menyandar ke ranjang. "Siapa yang memberitahumu?"
"Sebenarnya Chanyeol oppa sudah menceritakan semuanya. Termasuk oppa yang menyamar jadi.. eumm.. pacar lelakinya."
Baekhyun mendesah kesal. Ini bukan waktu yang tepat untuk memberitahu Nayeon semuanya. Namun Chanyeol sudah melakukannya.
"Kenapa Chanyeol oppa ingin menghindariku? Apa dia tidak mau mengakui kalau bayi di perutku adalah anaknya?"
Baekhyun menatap raut sedih adiknya. Ia mendesah berat, mau bagaimanapun ia kasihan pada Nayeon. Dia adalah korban, namun Chanyeol berusaha menutupi itu dengan skandal buatannya sendiri. Dia juga kakak laki-laki yang tidak berguna.
"Oppa, apa oppa juga benci padaku? Kenapa oppa tega membantu Chanyeol untuk menutupi perbuatannya?"
Nayeon mulai terisak dan Baekhyun tidak bisa menahan diri untuk memeluk gadis itu.
"Maafkan oppa."
Baekhyun tidak sepenuhnya bersalah, bahkan ia tidak tahu bahwa wanita itu adalah adiknya sendiri. Namun rasa kecewa pada dirinya sendiri tidak bisa ia tutupi.
"Oppa, tolong bantu aku. Aku ingin Chanyeol oppa mengakui bayi ini."
Baekhyun membelai surai Nayeon, "Aku akan berusaha."
"Oppa berjanjilah padaku. Aku tidak ingin bayiku dicampakan ayahnya… hiks.."
Baekhyun mengeratkan pelukannya pada Nayeon dan rasa sakit itu seolah menjalar pada dirinya. Memikirkan nasib adiknya dan perasaan kalut yang ada di hatinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Lorong rumah sakit hari itu sepi. Baekhyun berjalan mengikuti seorang perawat yang mengantarkannya ke ruang dokter. Hari ini ia akan check kesehatan.
"Silahkan tunggu sebentar. Dokter Oh akan segera menemui anda."
Perawat itu kemudian meninggalkan Baekhyun sendirian di dalam ruangan bernuansa putih yang lengkap dengan brankar dan meja dokter disana. Baekhyun duduk di depan meja dokter sembari mengadakan tur kecil dengan matanya. Hingga tak lama seseorang masuk dan menyambut Baekhyun dengan senyum kecil.
"Bukankah kau Byun Baekhyun?"
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Baekhyun menatap heran pada dokter muda. Dalam kepalanya berusaha mengingat kapan ia pernah melihat dokter ini.
Oh Sehun, dokter itu, menggeleng pelan. "Suster memberiku data pasien tadi."
Baekhyun terkekeh kecil, ia sedikit merasa malu dengan dokter tampan ini. Dan Sehun tak bisa menahan senyumnya kala melihat manik sipit itu melengkung indah.
"Kau bisa berbaring disana. Aku akan bersiap sebentar."
Baekhyun naik ke atas brankar disusul Sehun yang memeriksa dengan stetoskopnya.
"Apa keluhanmu beberapa hari ini?"
"Suhu tubuhku cukup tinggi. Ku pikir aku kelelahan."
Sehun melirik Baekhyun sebentar sebelum mulai meraba bagian bawah perut Baekhyun.
"Apa kau merasa mual?"
"Iya. Apa karena aku minum alkohol terlalu banyak?"
Sehun menyudahi aktivitasnya dan duduk di meja sembari menuliskan sesuatu di memo miliknya.
"Selamat, kau tengah mengandung."
Baekhyun tertawa ringan. Dokter Oh Sehun sangat suka bercanda, pikirnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chanyeol tengah memainkan gitar di ruang tengah ketika suara bel berbunyi. Ia sempat melirik jam, ini pukul satu dini hari. Siapa orang yang bertamu di jam seperti ini?
Ia melihat ke intercom, barangkali jika yang datang adalah fans-fans nakal yang ingin mengganggunya. Namun sosok Baekhyun yang terlihat di sana membuat ia tak pikir panjang untuk membuka pintu.
"Baek.."
Baekhyun di depan Chanyeol adalah sosok yang berbeda dari yang ia lihat terakhir kali. Baekhyun yang lalu adalah orang yang menatapnya dengan kilatan marah. Namun kini kedua manik itu layu, bahkan terlihat sembab.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Ya." Jawab Baekhyun lirih.
"Aku hanya ingin bicara denganmu."
Chanyeol mengangguk pelan, mempersilahkan Baekhyun masuk ke rumahnya. Mereka duduk di tempat dimana mereka pernah minum bersama. Dan Chanyeol merasa kepalanya berat, mengingat peristiwa itu.
"Kau mau minum sesuatu?"
Baekhyun mendengus, "terakhir kali aku minum seseorang meniduriku."
Chanyeol skak mat dan memilih untuk duduk di hadapan Baekhyun yang matanya tak lepas dari pemandangan malam diluar sana.
"Chanyeol-ah."
"Hmm?"
"Sejujurnya aku hanya akan bertanya sesuatu."
Chanyeol enggan menjawab sedang Baekhyun tak menempatkan matanya pada pria didepannya. Seolah memang pemandangan kerlip kota malam itu menyita atensinya.
"Kau, apa kau mencintaiku?"
Udara disekitar seolah naik bersamaan dengan nafas Chanyeol yang tercekat di lehernya. Lontaran kalimat itu memancing sesuatu untuk keluar dari dalam hatinya. Ketika matanya dan Baekhyun bertemu, ia tak bisa lagi merasakan jantungnya masih berdetak. Itu seolah meledak oleh letupan-letupan kecil dari perutnya.
"Sangat. Sangat mencintaimu." kata yang keluar seolah telah meruntuhkan pertahanannya. Baekhyunya harus tau, betapa pria kesepian ini sudah menantikan waktu dimana ia bisa mengatakannya.
Cinta yang telah ia gadang-gadang sejak lama sudah menemukan muaranya. Tetap untuk Baekhyun hingga saat ini.
"Terima kasih." Baekhyun berujar bersamaan dengan pria itu bangkit dari tempat duduknya.
Chanyeol mendekat ke arahnya, tidak bisa menahan lagi untuk tidak menatap pria kecil ini dari dekat. "Bagaimana denganmu? apa kau mencintaiku?"
Baekhyun hanya tersenyum tipis. "Jika yang kau katakan benar, buktikan padaku."
Chanyeol mengangguk penuh kesanggupan. "Aku akan membuktikan untukmu hingga kau tidak akan pernah merasa ragu."
"Kalau begitu, turuti semua keinginanku."
"Tentu."
Baekhyun tersenyum tipis sebelum menjejakan kakinya lebih tinggi hingga ia bisa menyatukan bibir mereka. Chanyeol terkejut bukan main, namun sedetik kemudian ia membawa Baekhyun lebih dekat dengannya, seolah jarak sedikitpun tak boleh memisahkan mereka.
Chanyeol merambati wajah Baekhyun dengan tangannya, dan ia bisa merasakan air mata melewati pipi lembut itu. Chanyeol pikir Baekhyun sangat bahagia, hingga ia semakin memperdalam ciumannya pada Baekhyun. Ia berusaha mencurahkan seluruh perasaannya melalui pautan itu.
Entah berapa lama, dan mereka baru mengakhirinya.
Chanyeol memandang wajah Baekhyun di depannya. Baekhyunnya sangat cantik, ia bersumpah Baekhyun masih cantik walau sedikit berantakan. Hatinya penuh sesak dengan bunga kebahagiaan.
"Sampai jumpa, Chanyeol."
Mata Chanyeol tak terlepas dari Baekhyun bahkan ketika pria kecil itu menghilang dari balik pintu depan. Senyumnya juga tak pantang luntur, seolah sisa-sisa letupan tadi terganti oleh euforia yang tidak tertahankan.
Tanpa mau lagi menilik sebab Baekhyun mendatanginya, ia bergumam dalam hati bahwa Baekhyun juga mencintainya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Manajernya datang pagi ini untuk mengantarkan paket hadiah dari para penggemarnya. Hadiah itu sejumlah tiga karung besar yang kini teronggok di ruang tengah. Ia tak berniat membuka kado itu ketika ia belum selesai sarapan, namun sebuah pesan yang ditinggalkan manajernya sebelum pergi membuat ia berubah pikiran.
"Byun Baekhyun menitipkan sesuatu untukmu."
Dan kini Chanyeol tengah mengeluarkan semua hadiah itu dari tempatnya hanya untuk menemukan sebuah kotak kecil-yang disebut manajernya hadiah dari Baekhyun- terselip di sana.
Dengan cepat Chanyeol membukanya dan menemukan sebuah kartu apartemen, kartu kredit dan sepucuk surat.
.
.
.
Cinta yang ku tau adalah tentang bagaimana kita bisa saling memiliki dan membahagiakan satu sama lain. Bagiku kebahagiaan itu bisa didapat jika kita melalui banyak hal baik dan buruk bersama tanpa berniat saling meninggalkan.
Namun ku pikir cinta kita tidaklah sesuatu yang baik. Sebab, kita tidak memiliki cara untuk saling memiliki tanpa merusak kebahagiaan orang lain.
Aku sudah memikirkannya.
Aku akan berhenti bekerja denganmu dan membiarkan Nayeon mendapat kebahagiaannya. Dia yang lebih berhak atas cintamu sebab bagaimanapun buah cinta kalian sudah hadir ditengah kehidupanmu, Yeol.
Ku pikir kau harus mulai memikirkan perasaan Nayeon sebagai wanita sekaligus calon ibu dari anakmu. Berilah dia yang terbaik yang kau bisa.
Aku sebagai seorang kakak tidak bisa melakukan apapun untuk membahagiakannya selain membiarkan dia bersama ayah dari anaknya. Aku akan pergi sejauh mungkin hingga ia bisa memilikimu seutuhnya.
Aku percayakan Nayeon padamu, dia satu-satunya yang berharga untukku.
Kau sudah berjanji untuk melakukan semua yang ku mau. Ku harap kau benar-benar memahami keputusanku.
Byun Baekhyun
Chanyeol tidak bodoh untuk memahami bahwa Baekhyunnya memilih pergi. Dan dunia Chanyeol serasa runtuh kala itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Haiii!
Akhirnya bisa update story ini lagi
Makasih banyak yang masih mau nungguin cerita ini
love u all...
