Celebrity Scandal
keanijun
2018
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tidak pernah Chanyeol merasakan hatinya begitu teriris. Perasaan sakit terus membuncah tatkala ia mengingat Baekhyun yang tidak lagi ada disisinya. Sebanyak apapun ia berusaha untuk tidak memikirkannya, sebesar itu perasaan gundah menyerangnya. Mengingat pertemuan terakhirnya dengan Baekhyun, harusnya Chanyeol tau, bahwa pria itu keluar dari pintunya dan tidak akan kembali lagi.
"Aku sudah bicara pada agensi." Suara manajernya membuyarkan lamunan Chanyeol hingga pria itu sepenuhnya mengalihkan atensinya pada sang manajer.
"Ini adalah waktu yang tepat untukmu kembali bekerja. Berita tentangmu semakin surut karena skandal dari Yoona."
"Apa yang terjadi dengan Yoona?" Chanyeol mengernyit heran.
"Kau tidak tau?!"
Chanyeol menggeleng, "Aku tak mendengar berita apapun."
"Sebenarnya apa yang kau lakukan beberapa hari ini. Apa kau tidak membaca berita?"
"Jangan berbelit-belit, katakan saja apa yang terjadi pada Yoona." Cecar Chanyeol yang mulai kesal.
"Yoona hamil diluar nikah. Seseorang memergokinya menemui dokter kandungan."
Chanyeol tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Senior yang selama ini ia kagumi karena karirnya yang bersih malah tersandung masalah karena hamil.
"Siapa yang menghamilinya? Ku dengar ia tak memiliki kekasih."
"Seseorang mengatakan bahwa ia dihamili oleh petinggi negara. Karena rumor itu juga banyak orang yang mengaitkan hal ini dengan popularitasnya yang didapat dengan membuka paha pada pria berpengaruh."
"Itu sangat kasar."
"Kau seperti tak tau saja, jari orang-orang menjadi begitu tajam di internet."
Chanyeol seolah kembali pada hari dimana ia memulai skandal kencannya dengan Baekhyun. Perasaan gelisah terhadap apa yang akan dikatakan orang-orang padanya membuat ia sedikit banyak mengalami depresi. Namun ia bisa mengatasi itu dengan mudah. Justru saat itu ia lebih mengkhawatirkan keadaan Baekhyun. Kehidupan Baekhyun seolah terbatas karena beberapa orang mulai mencurigai identitasnya. Chanyeol tau Baekhyun tertekan, namun pria kecil itu menutupi semuanya dengan rapi seolah seperti tak pernah terjadi apa-apa.
"Persiapkan dirimu sebaik mungkin. Minggu depan kita akan melakukan pemotretan untuk brand fashion perusahaan Kim Jongin."
Mendengar nama Kim Jongin, Chanyeol seolah mendapat pencerahan. Kemudian, ia segera mengenakan jaket dan menyambar kunci mobil di etalase.
"Kau mau kemana?"
"Menemui Kim Jongin."
"Yak! Jangan keluar dari sini. Kau tidak boleh bertemu banyak orang dulu!"
"Aku pergi."
"Yak! Park Chanyeol! Jangan pergi!"
Terlambat, Chanyeol sudah lebih dulu berlari pergi meninggalkan apartemennya menuju basement.
"Kenapa anak itu bebal sekali!"
.
.
.
.
.
.
Kyungsoo membereskan beberapa dokumen yang berserak di meja atasannya. Pria itu dengan telaten mengurutkan lembar-lembar tersebut untuk kemudian disusun dalam map. Dalam hatinya ia merasa sedikit kesal, sebab sepanjang malam kemarin ia telah menyusun tumpukan dokumen ini. Dan entah bagaimana Kim Jongin, atasannya, berhasil membuatnya berantakan lagi disaat rapat direksi akan dimulai 10 menit lagi.
Matanya tak sengaja melirik pada si pelaku yang tengah duduk di sofa ruangan itu sambil mengamatinya. Kyungsoo langsung membuang pandangannya, ia merasa gugup saat Jongin menatapnya dengan teduh.
"Kenapa kau menggemaskan sekali, Kyung? Bahkan ketika kau sedang serius."
Kyungsoo tak ingin memberi jawaban apapun. Ia tetap fokus pada pekerjaannya, dengan sesekali ia melirik pada jam tangan, khawatir akan terlambat untuk rapat.
"Hey, jangan abaikan aku." Sebuah tangan tiba-tiba melingkar di perutnya. Kyungsoo agaknya merasa sedikit kaget, namun ia hanya diam dan berusaha fokus pada pekerjaannya.
"Kau tau Kyung, aku merasa cemburu saat kau lebih memilih pekerjaanmu daripada aku." Jongin berbisik ke telinga Kyungsoo, mengalirkan sengatan kecil yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Jongin membalik tubuh kecil di depannya hingga ia mereka berhadapan. "Katakan sesuatu, jangan mendiamkanku seperti ini."
Kyungsoo agaknya mulai merasa jengkel dengan tingkah kekanakan Jongin. Namun ia tidak akan menanggapi itu, yang terpenting saat ini adalah segera menyelesaikan dokumen dan pergi ke rapat.
Tangan kecilnya kembali menyusun dokumen mengabaikan tangan nakal Jongin yang mulai merambati pantatnya. Sudah pasti pria mesum itu akan meremasi pantatnya.
"Kenapa kau tak bereaksi apapun? Apa kau mulai senang dengan caraku memanjakan pantat ini?"
Kyungsoo menutup map dengan cepat dan memberikan tatapan tajam pada Jongin. "Bersyukurlah aku tak memukulmu sekarang! Aku masih berbelas kasihan untuk tidak membuat wajahmu babak belur saat rapat."
Kyungsoo membawa map tersebut, sebelum keluar dari ruangan, ia membukakan pintu untuk Jongin seperti sekretaris pada umumnya.
"Ngomong-ngomong, kau seksi sekali saat marah." Ujar Jongin setengah berbisik.
Kyungsoo menghela nafasnya dalam. Jika Jongin terus bertingkah menyebalkan seperti ini bisa-bisa ia mati muda. Jika saja ia bukan orang yang sabar, mungkin ia akan membunuh Jongin saat itu juga.
Semua orang memberi hormat ketika Jongin memasuki ruang rapat. Pria itu kemudian duduk diikuti Kyungsoo disebelahnya. Jongin mulai memberi sambutan sebelum masuk dalam inti rapat kali ini.
Sejujurnya Kyungsoo begitu kagum pada sosok Jongin. Pria itu begitu berkarisma saat ada dibelakang meja. Semua kata-katanya seolah menjadi panutan untuk seluruh karyawannya. Jongin juga selalu memberikan upaya terbaiknya untuk perusahaan sehingga para pegawainya terpancing untuk melakukan hal yang sama. Selain itu Jongin memperlakukan para pekerja dengan sebaik mungkin. Dan itu menjadi salah satu alasan nyaris tidak ada pegawai yang mengundurkan diri. Kyungsoo tidak bohong, jika ia belum pernah menemukan perusahaan dengan lingkungan kerja senyaman perusahaan Jongin.
"Sekretaris Do akan menjelaskan bagian selanjutnya."
Kyungsoo melirik Jongin sekilas, memastikan pria itu telah duduk di kursinya. Kemudian ia mulai melanjutkan presentasi proyek ini yang sudah ia hapal diluar kepala- karena ia yang membuat proposalnya- sambil terus mengawasi Jongin.
Bukan hal baru lagi untuk Kyungsoo membantu Jongin saat rapat. Hal ini memang jarang terjadi, tapi Kyungsoo selalu menyiapkan diri. Sebab, ini menjadi salah satu kode bahwa Jongin sedang tidak dalam kondisi yang bagus. Hari ini Jongin memang kurang sehat. Kyungsoo pikir Jongin terlalu lelah akibat dinas luar negerinya. Sedangkan mereka masih harus menghadiri 4 rapat dan sebuah jamuan makan.
Sembilan puluh menit berlalu dan rapat itu telah rampung. Jongin menjadi orang pertama yang keluar ruangan dan Kyungsoo mengekor di belakangnya. Sebelum masuk ke ruangan Jongin, Kyungsoo menelepon OB untuk membawakan air mineral dan teh panas.
"Bagaimana keadaanmu?" Kyungsoo bertanya pada Jongin yang duduk dengan memejamkan mata pada kursinya.
"Baik, hanya saja sedikit pusing."
Kyungsoo berjalan mengahampiri sebuah rak dan meraih kotak P3K. Ia mengambil beberapa vitamin dan obat sakit kepala yang memang selalu ada disana kalau-kalau Jongin kurang sehat.
Setelah pesanan yang diminta Kyungsoo tiba, ia menyodorkan pil-pil itu di depan Jongin.
"Apakah aku harus membatalkan semua rapat hari ini?"
"Jangan."
Ya, Kyungsoo sudah menduga Jongin tidak akan mau.
"Baiklah, istirahatlah sebentar. Kita masih punya 1 jam lagi sebelum rapat berikutnya."
Kyungsoo membantu Jongin untuk berbaring di sofa. Pria itu menata bantal dan membantu Jongin melepaskan sepatunya. Tidak lupa ia menyelimuti Jongin dengan jas miliknya.
"Jangan pergi." Jongin menahan tangan Kyungsoo yang hendak pergi dari sana.
"Tunggulah sampai aku tidur."
Kyungsoo tidak mengatakan apapun dan tetap duduk di samping Jongin. Bahkan ia membiarkan tangannya di genggam oleh Jongin sedang pria itu mulai terlelap.
"Kyung."
"Hmm?" Kyungsoo menatap Jongin yang memejamkan matanya.
"Kau mulai mencintaiku, kan?"
Kyungsoo pikir Jongin mengigau, namun kata-kata itu membuat ia berpikir. Benarkah?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chanyeol memakirkan mobilnya di bawement perusahaan Jongin. Sebelum keluar dari mobil, tak lupa ia mengenakan masker dan topi untuk penyamaran. Berada di ruang publik tekadang membuat ia merasa tak nyaman. Bagaimanapun jika orang-orang mengenalinya, ia tidak bisa bebas beraktivitas atau melakukan hal-hal yang ia suka. Ia harus menunjukan sisi baiknya pada orang-orang.
Chanyeol berjalan menuju resepsionis untuk menanyakan keberadaan Kim Jongin atau Do Kyungsoo. Petugas resepsionis tersebut terkejut, namun Chanyeol buru-buru meletakan telunjuk di bibirnya, tanda untuk tetap tenang.
"Bisakah aku menemui, Do Kyungsoo?"
"Maksudmu sekretaris Do?"
"Ya, kupikir ia sekretaris Kim Jongin."
Petugas itu menelepon seseorang sebelum mempersilahkan Chanyeol untuk menunggu di ruang tunggu. Tidak berselang lama, ia melihat Do Kyungsoo menghampirinya.
"Bisakah kita berbicara di tempat lain?"
Kyungsoo hanya mengangguk dan mengikuti Chanyeol ke basement. Mereka masuk ke dalam mobil Chanyeol.
"Kau tau Baekhyun pergi dari rumah?"
"Maksudmu?" Kyungsoo mengernyit heran.
"Baekhyun pergi tanpa memberitahuku."
Kyungsoo nampak terkejud dan Chanyeol menjadi semakin gugup. "Baekhyun tidak memberitahumu?"
Kyungsoo menggeleng. "Ia tidak mengatakan apapun. Pantas saja nomornya tidak aktif beberapa hari ini" Ujar Kyungsoo yang terlihat sangat resah. "Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa ia pergi?"
Chanyeol menjelaskan semuanya, tanpa ada yang ia tutupi. Bahkan termasuk hubungan mereka yang sejujurnya sudah lebih jauh dari hanya sekedar partner kerja. Chanyeol tidak ingin menutupi apapun lagi, karena sejatinya ia ingin menjalani hari-harinya bersama Baekhyun, bukan orang lain.
"Ku harap kau bisa membantuku mencari Baekhyun. Ku pikir cepat atau lambat, dia akan menghubungimu."
Kyungsoo mengangguk. "Semoga dia baik-baik saja."
Kyungsoo berpamitan pada Chanyeol untuk kembali bekerja. Kemudian Chanyeol pergi dari perusahaan itu untuk pulang. Sepanjang perjalanan ia tidak bisa mengalihkan Baekhyun dalam kepalanya. Bayangan pria mungil itu seolah terus berputar. Chanyeol tiba-tiba sangat merindukan pria mungilnya. Ia menerka, apa yang sedang dilakukan Baekhyun sekarang, apakah ia hidup dengan baik diluar sana, mengingat Baekhyun memberikan seluruh rekening tabungannya pada Nayeon tepat tiga hari sebelum ia pergi.
Chanyeol membuka pintu apartemennya dan mendapati Nayeon tengah menonton televisi disana. Lama-kelamaan ia terbiasa dengan keberadaan Nayeon yang tiba-tiba datang di apartemen. Sudah menjadi rutinitas bagi wanita itu untuk datang kemari setiap hari. Bahkan barang-barang milik wanita itu banyak ia tinggalkan disini. Seolah rumah Chanyeol adalah rumahnya juga.
"Oppa sudah pulang." Nayeon menyambutnya dengan riang dan memeluknya begitu ia selesai melepaskan jaket.
"Bagaimana keadaanmu hari ini?" Chanyeol bertanya sambil menarik Nayeon menjauh dari tubuhnya.
"Baby memuntahkan sarapanku lagi pagi ini." Ujar Nayeon sambil mengerucutkan bibirnya sebal. Chanyeol hanya tertawa kecil, dan membawa tanganya untuk menyentuh perut Nayeon yang mulai membuncit.
"Kenapa Baby nakal sekali, membuat Mommy tidak bisa makan dengan baik."
"Karena Baby ingin disuapi Daddy." Nayeon menyahuti dengan suara yang dibuat-buat seperti anak kecil. Dan Chanyeol tidak bisa untuk tidak tertawa melihat tingkah Nayeon.
"Kapan kau akan pergi ke dokter?" Tanya Chanyeol.
"Satu jam lagi. Oppa harus menemaniku, oke?"
"Maaf, tapi aku harus membicarakan beberapa pekerjaan dengan manajerku."
"Oppa tidak mau?" Nayeon mendadak cemberut.
"Mungkin lain waktu. Aku sedang sibuk akhir-akhir ini."
"Kenapa Oppa tidak peduli padaku!" Nayeon membentak Chanyeol, membuat Chanyeol terkejut.
"Tidak bisakah Oppa memperhatikanku? Aku susah payah mengandung anakmu!"
"Aku peduli padamu dan Baby, tapi mengertilah, aku ada pekerjaan yang harus diselesaikan." Chanyeol memegang kedua pundak Nayeon dan berusaha menenangkannya. Tapi Nayeon terlihat masih kesal dan menatap Chanyeol tajam.
"Jika Oppa tidak menginginkan bayi ini, aku akan menggugurkannya!"
Chanyeol menggeleng ribut, ia kemudian membawa Nayeon pada pelukannya. " Tolong jangan katakan hal itu lagi. Aku menginginkan Baby untuk hadir di dunia."
"Benarkah?"
Chanyeol mengangguk dan melepaskan pelukannya pada Nayeon. "Baiklah, ayo kita berangkat."
Nayeon kembali tersenyum seperti biasa dan hal itu membuat Chanyeol lega. Bagaimanapun Chanyeol berusaha memaklumi jika Nayeon bersikap menyebalkan karena yang ia tahu semua ibu hamil selalu seperti itu.
Dr. Kang menjadi dokter kandungan yang direkomendasikan agensinya, sebab ia adalah dokter yang ikut menjadi pemegang saham perusahaan agensi Chanyeol. Ini menjadi sebuah keuntungan untuk Chanyeol karena ia tidak khawatir bahwa rahasia besarnya akan terbongkar.
"Dilihat dari ukurannya, bayi kalian sangat sehat." Ujar dokter Kang sembari menatap layar hitam putih didepannya. Mereka tengah melakukan USG untuk mengetahui kondisi janin Nayeon.
Chanyeol menatap kagum pada gambar mirip gumpalan di layar. Gumpalan itu adalah bayi yang ada di perut Nayeon, dan akan tumbuh seiring waktu hingga lahir nanti.
"Kalian mau mendengar detak jantungnya?" Tawar dokter Kang.
"Ya!" Nayeon menyahut penuh semangat dan diangguki oleh Chanyeol.
Suara detak jantung itu bagai musik indah saat mengalun di telinga Chanyeol. Tiba-tiba sebuah perasaan haru dan senang membuncah menjadi satu dalam hatinya. Perasaan luar biasa itu tidak pernah Chanyeol rasakan sebelumnya. Ia seolah jatuh cinta, tapi lebih bahagia. Seolah ada desiran yang indah dalam hatinya.
Nayeon menggenggam tanganya. Ia melihat mata Nayeon sudah berkaca-kaca dan hidungnya memerah. Chanyeol seolah merasakan perasaan yang sama. Momen emosional ini sungguh indah setiap detiknya dan Chanyeol tidak ingin cepat berakhir.
Chanyeol menyatukan keningnya dan Nayeon. Mereka menangis, bersama kebahagiaan yang terbawa dalam hatinya. Cinta mereka mendadak besar untuk buah hatinya. Dalam hati mereka berikrar, akan menjaga bayi ini dengan penuh cinta.
Chanyeol dan Nayeon mendadak tidak sabar untuk menyambut bayi mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Haiii
Gimana nih chapter kali ini? Memuaskan atau nggak?
Jangan lupa review yaa
