Celebrity Scandal

keanijun

2018

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chanyeol benci pertemuan keluarga. Tidak ada alasan untuknya menantikan acara menyebalkan tersebut. Baginya acara itu hanya sekedar ajang pamer kekayaan dan saling menjatuhkan satu sama lain. Tahun kemarin, pamannya dan salah satu kerabat jauh terlibat pertengkaran hebat hanya karena masalah persaingan saham di perusahaan manufaktur. Pertemuan itu kacau, botol-botol minuman berserakan di lantai hingga pemilik venue terpaksa turun tangan untuk melerai mereka.

"Apa anting ini bagus?" Nayeon bertanya antusias pada Chanyeol.

"Ya, sangat indah." Chanyeol tidak mengerti apapun tentang aksesoris, jadi ia hanya mengiyakan agar Nayeon segera menyelesaikannya. Wanita itu sudah dua jam berada di tempat ini untuk berdandan.

Chanyeol segera menuju meja kasir dan membayar tagihan salon Nayeon. Ia melirik arlojinya, ini sudah terlambat tiga puluh menit. Segera ia melajukan mobilnya menuju gedung pertemuan yang tak jauh dari sana.

Nayeon memaksa untuk ikut dalam pertemuan keluarga ini. Dia beralasan ingin mengenal lebih dekat keluarga Chanyeol. Mereka sempat bertengkar hebat sebelumnya. Chanyeol pikir bukan hal yang bagus jika Nayeon ikut dalam pertemuan ini. Namun ketika wanita itu menangis, ia tidak bisa melakukan apapun lagi.

Selain karena hubungan Chanyeol dengan keluarganya tidak begitu baik, ini juga karena skandalnya. Chanyeol sudah mengantisipasi bagaimana nantinya jika mereka menyinggung berita kencannya dengan laki-laki. Namun jika Nayeon ikut, ia tidak tahu harus berkata apa selain mengakui ia menghamili Nayeon dan membuat skandal gay. Dan itu akan menjadi sasaran empuk keluarga untuk menyerangnya dengan cacian. Sejujurnya ia tidak akan terpengaruh apapun dengan cibiran mereka sebab dari awal Chanyeol memang tidak peduli. Tapi Nayeon, wanita itu cukup mudah menangis menurutnya. Ia tidak menjamin jika Nayeon tahan dengan mulut-mulut itu.

Disebelahnya, Nayeon terlihat sibuk mengelus perutnya. Chanyeol tidak mengatakan apapun dan tetap fokus di balik kemudi, membiarkan Nayeon berbincang dengan bayi mereka.

"Tempat ini luar biasa." Nayeon memandang takjub tempat di depannya. Bangunan ala kerajaan ini berhasil memukaunya sesaat setelah ia turun dari mobil.

Chanyeol menggandeng Nayeon ketika menaiki anak tangga. Pria itu khawatir jika Nayeon tergelincir atau jatuh, mengingat wanita itu mengenakan heels.

Ketika pintu utama dibuka, suasana mewah bak pesta menyambut mereka berdua. Barisan meja-meja bundar sudah tertata rapi beserta orang-orang yang duduk dengan tenang disana. Chanyeol memimpin untuk memasuki tempat itu beserta tatapan orang-orang disana yang tidak bisa lepas darinya.

Di Atas panggung, seorang mc, yang tak lain adalah kerabat Chanyeol, menyadari kehadiran pria itu dan Nayeon.

"Wah, inilah artis kebanggaan kita, Park Chanyeooll!" Ujarnya heboh.

Chanyeol tidak terlalu memperdulikan hal tersebut, ia berjalan menuju salah satu meja dan duduk disana. Tak lupa ia menarik kursi di sebelahnya agar Nayeon bisa duduk.

"Hari ini Chanyeol tidak datang sendiri rupanya. Ia ditemani seorang gadis cantik." Ucapan mc tersebut tak ayal membuat seluruh ruangan memandang ke meja mereka. Chanyeol tidak merespon apapun, namun ia menyadari Nayeon mulai gugup.

"Jangan pedulikan mereka." Chanyeol berusaha menenangkan Nayeon. Ia harap wanita itu tidak terlalu memikirkannya.

"Bukannya kau suka yang berbatang, Park?" Lontaran kalimat itu keluar dari bibir sepupunya. Seluruh ruangan mulai berbisik, ada pula yang tertawa dengan hal itu. Chanyeol tau ini hanya permulaan, sebab yang selanjutnya terjadi adalah banyak gunjingan dari mereka.

"Menjijikan."

"Tidak tahu malu. Masih berani untuk datang kesini."

"Apa gunanya wanita itu jika semua sudah tau kau lebih suka lubang belakang."

"Lebih baik dia melepas marganya."

Satu-persatu dari itu lewat di pendengaran Chanyeol. Daripada memperdulikannya, ia menyesap wine dan menikmati makanan kecil di mejanya. Tak ayal beberapa dari mereka mulai marah sebab Chanyeol terlihat tidak memiliki sopan santun.

"Selain gay menjijikan ternyata kau juga tuli!"

"Oppa.." Nayeon menggenggam sebelah tangannya dengan khawatir, tapi Chanyeol tetap terlihat tenang.

"Jangan dihiraukan. Oh ya, apa yang ingin kau makan?" Chanyeol berusaha mengalihkan perhatian Nayeon dengan hal lain, namun itu tidak merubah apapun. Nayeon merasa ketakutan ada ditengah orang-orang yang terlihat benci dengan Chanyeol. Tiba-tiba ia menyesal untuk memaksa ikut.

"Apa wanita itu pelacurmu, Park? Bahkan kau membuatnya hamil." Selentingan miring dari pamannya itu membuat tangis Nayeon pecah. Wanita itu langsung berhambur memeluk Chanyeol di sebelahnya. Itu kalimat paling kejam yang pernah ia terima.

Chanyeol muak. Ia melepas pelukan Nayeon dan menghampiri pamannya di meja seberang. "Jaga kata-katamu atau aku benar-benar marah." Ujar Chanyeol dengan geraman yang ia tahan. Semua orang mendadak terdiam menyadari Chanyeol yang marah.

"Jika bukan pelacur lalu apa? Wanita sewaan?" Tepat saat itu pula Chanyeol melayangkan pukulan di wajah pria tua itu. Suasana mendadak memanas. Beberapa orang berusaha menahan Chanyeol yang akan menerjang pamannya.

"Mulut busukmu tidak berhak mengatakan apapun tentangnya!" Hardik Chanyeol.

"Aku peringatkan kau sekali lagi. Jangan sentuh dia atau kau akan kuhabisi!"

Chanyeol membawa Nayeon keluar dari sana, meninggalkan kekacauan yang ia buat. Tidak ada orang yang berniat menahannya, mereka semua mendadak takut pada Chanyeol.

Chanyeol mendudukan Nayeon di bangku taman yang sepi. Wanita itu masih menangis dengan keras. Chanyeol duduk di sebelahnya dan membawa Nayeon pada pelukannya. Ia mengusap pelan kepalanya, berusaha membuatnya lebih tenang. Dia tidak sanggup melihat seorang wanita menangis.

"Sstt.. berhentilah merasa sedih. Jangan kau dengarkan mereka."

Nayeon melepaskan pelukannya dan menatap Chanyeol dengan mata berlinang air mata. Dada Chanyeol teriris melihat hal itu. Ia memajukan tangannya untuk menyeka air mata dari pipi Nayeon. Dia sudah tahu ini akan terjadi dan tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain menenangkan Nayeon daripada membungkam mulut jahat di dalam sana.

"Lain kali ikuti kata-kata ku." Ujar Chanyeol. Nayeon hanya mengangguk lemah tanpa mau membantah apapun.

"Kau tahu, jika Baekhyun melihat ini, ia akan memukulku karena tidak bisa menjagamu."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Headline berita kembali dipenuhi oleh nama

Chanyeol setelah pria itu menjadi brand ambassador dari brand fashion milik Jongin. Segala media massa gencar menuliskan bagaimana Chanyeol kembali berkarir dengan wajah barunya. Sebagai seorang gay tentu saja.

Kembalinya Chanyeol ke dunia hiburan tentu saja membawa pro kontra dalam masyarakat. Tidak sedikit dari mereka yang mengecam dan menginginkan Chanyeol untuk mundur. Sebab, mereka berpikir bahwa gay adalah hal yang menyimpang dan menjijikan. Kekhawatiran lain muncul tentang bagaimana Chanyeol bisa mempengaruhi masyarakat terutama remaja untuk melakukan hal yang serupa.

Namun Chanyeol tetaplah Chanyeol. Dan masih ada penggemarnya yang memilih tetap bertahan untuk dirinya. Ditengah masyarakat yang menggunjingnya, masih ada dari mereka yang terang-terangan mendukung coming out nya Chanyeol. Mereka mengatakan bahwa Chanyeol adalah orang yang berani menyuarakan jati diri ditengah budaya masyarakat yang keras terhadap minoritas. Hal ini pun juga menjadi pembahasan di berbagai media tentang artis besar yang nyaris kehilangan karir akibat skandal kencan.

"Penggemarmu sungguh royal." Komentar itu keluar dari Nayeon ketika ia dan Chanyeol sedang bersantai di kamar. Mereka berdua berbaring sambil memainkan ponsel masing-masing.

"Ya.. aku bersyukur dengan itu." Chanyeol menyahuti tanpa melepas atensinya pada ponsel. Entah apa yang ia baca disana, namun rautnya terlihat serius.

Nayeon berbalik pada Chanyeol, menatap pria itu sebelum mengatakan hal yang cukup mengejutkan untuk Chanyeol. "Oppa berusaha sangat keras untuk menutupiku dari media."

Chanyeol melirik Nayeon yang menunggu tanggapan pria itu. Namun Chanyeol mendadak tak nyaman, pria itu tiba-tiba merasa bersalah. Ia seketika ingin menghilang dari hadapan Nayeon saat itu juga.

"Aku tidak punya pilihan lain. Agensi juga memaksa untuk itu." Chanyeol menjawab cepat dan kembali fokus pada ponsel, walau nyatanya ia masih merasa terintimidasi oleh tatapan Nayeon.

Nayeon mendudukan dirinya dan membuat Chanyeol ikut melakukan hal serupa. Melihat mata wanita ini, Chanyeol menangkap kemarahan yang tersirat jelas.

"Kau lebih memilih karirmu daripada bayi ini!" Nayeon berkata dengan tajam, dan Chanyeol merasa kesal mendengar hal tersebut. Walau itu adalah kenyataan.

Chanyeol mendadak gusar. Ia mengusak rambutnya sendiri. "Agensi benar-benar tidak berkutik saat hari itu kau datang ke kantor dan meminta pertanggungjawaban."

Ia terhenti dan menatap pada Nayeon yang masih terlihat kesal. "Maafkan aku, tak ada pilihan lain. Agensi khawatir kau menyebarkan hal ini pada media, jadi mereka-"

"Membuat skandal menjijikan dengan Baekhyun oppa?" Nayeon menyahuti dengan sarkas.

Taunya perkataan tajam wanita itu menyakiti hati Chanyeol lebih dalam. Dia ingin marah, namun urung dilakukan sebab kondisi Nayeon yang sedang hamil.

"Ku pikir kau tidak seharusnya mengatakan hal seperti itu." Chanyeol mulai menajamkan suaranya, menahan emosinya yang meluap.

"Lalu apa yang harus kukatakan? Park Chanyeol yang tidak mengakui anaknya?" Nayeon membalas dengan suara yang tak kalah tinggi.

Chanyeol mengulum bibirnya sendiri, berusaha menahan makian yang akan keluar. Ia masih waras untuk tidak memarahi Nayeon saat ini. Mungkin saja Nayeon bersikap menyebalkan karena hormon kehamilannya, pikir Chanyeol.

Chanyeol membuang nafasnya gusar dan beranjak dari ranjang. "Tidurlah, ini sudah larut. Aku tidak ingin berdebat denganmu." Kemudian beranjak keluar dari kamarnya menuju ruang dapur.

Ia meraih botol soda dari kulkas dan membawanya ke meja kayu dekat jendela. Ia memandang keluar, melihat kedipan lampu-lampu perkotaan yang terlihat tak pernah tidur.

Pikirannya mendadak terbang pada Baekhyun. Baekhyun menyukai suasana ini, pikirnya. Dimana ia bisa minum dan memandang langit malam. Pria kecil itu seolah menjadi orang lain ketika menikmati situasi tenang seperti ini. Chanyeol tersenyum tipis, dalam kepalanya terselip bayangan Baekhyun. Dia sangat rindu, benar-benar rindu pada Baekhyun. Entah dimana sekarang pria itu berada, yang pasti Chanyeol berharap bahwa ia baik-baik saja.

Chanyeol tidak lagi berusaha mencari keberadaan Baekhyun, karena pada akhirnya, pria kecil itu akan meminta hal yang sama, yaitu bertanggung jawab atas Nayeon.

Dalam hati terdalamnya, masih ada Baekhyun disana. Walau Baekhyun memintanya untuk bersama dengan Nayeon, itu masih terlalu sulit untuk Chanyeol lalui. Ia berusaha menumbuhkan perasaan pada Nayeon, namun hal itu tidaklah mudah. Baekhyun seolah menjadi akar dalam hatinya. Bayangan pria mungil itu tidak bisa goyah begitu saja.

Setiap ia berpikir bahwa ia mulai menyayangi Nayeon, maka saat itu juga bayang-bayang Baekhyun selalu muncul. Seolah menegaskan siapa pengisi hati Park Chanyeol sebenarnya. Dia merasa bahwa ia begitu mencintai Baekhyun tidak peduli apapun yang terjadi. Bahkan ketika bersama orang lain, ia akan selalu memikirkan Baekhyunnya.

Permintaan Baekhyun di dalam suratnya seolah sebagai titah untuk Chanyeol. Maka ia berusaha sebisa mungkin untuk melakukannya. Namun mencintai orang baru tak semudah yang dibayangkan. Chanyeol sudah lelah dan membiarkan ini berjalan dengan semestinya. Ia akan menjaga Nayeon seperti yang diminta Baekhyun walau hatinya akan segera mati karena kecintaannya pada Baekhyun sudah membunuhnya perlahan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Flashback

Chanyeol POV

.

.

.

Ku pikir Choi Siwon itu bedebah.

Ia dengan mudah masuk kedalam kehidupan ibuku dan menikahinya. Ayah kandung ku memang sudah meninggal, tapi bukan berarti ia bisa menggantikan posisinya. Sejak awal aku membencinya, namun entah bagaimana ia bisa meluluhkan hati ibuku dan membawanya naik ke altar begitu saja.

Baiklah, dia menang. Tapi jangan harap aku akan memanggilnya Ayah. Bahkan aku tidak akan sudi berganti marganya.

Yang paling membuatku jengkel adalah ia memindahkan ku di sebuah sekolah yang jauh dari rumah. Butuh dua jam untuk berkendara ke sekolah. Awalnya aku menolak, namun ibuku terbujuk rayuan Siwon yang mengatakan aku harus belajar mandiri. Jadi ibu begitu saja menyetujuinya dan memberi aku satu unit apartemen di dekat sekolah. Padahal aku tau, bahwa Siwon tidak ingin aku mengganggunya

Aku merutuki nasib ku saat itu. Jauh dari rumah dan sahabat dekatku. Ditambah aku belum bisa beradaptasi dengan lingkungan sekolah membuatku tidak memiliki teman dekat. Aku juga tidak pintar-pintar amat. Ku pikir aku orang yang menyedihkan.

Empat minggu berada disana dan aku baru mengetahui ada seorang siswa onar di sekolah. Dia adalah Byun Baekhyun, seangkatan denganku. Baekhyun dikenal sebagai orang yang serampangan dan liar. Ia juga sering berkelahi dengan siswa lain.

Walaupun begitu, sebenarnya Baekhyun baik hati. Aku pernah melihatnya memberi makan anak kucing yang kelaparan di pinggir jalan. Selain itu ia sering mengantar pulang seorang nenek tua ke rumahnya walau dia harus memutar jauh berlawanan arah dari rumahnya.

Ya, aku tahu rumahnya.

Bagaimana mengatakannya? aku memang menguntitnya. Maksudku, kupikir aku penasaran dan kuputuskan mengikutinya setiap hari.

Baekhyun tinggal sendiri. Aku tidak tau kemana keluarganya. Tapi ku pikir keadaan keluarganya tidak baik sehingga memicu Baekhyun bertindak onar di sekolah. Dia membawa masalah rumahnya ke sekolah.

Aku menarik kata-kata ku bahwa aku orang yang menyedihkan. Sebab kehidupan Baekhyun lebih menyedihkan. Ia tinggal sebatang kara dan bekerja serabutan untuk makan sehari-hari. Ia juga dikucilkan di sekolah-kecuali oleh temannya yang seperti pinguin- karena sekolah elit seperti ini tidak menerima siswa miskin. Tapi yang terbaik dari itu adalah Baekhyun siswa yang pintar sehingga dengan mudah mendapat beasiswa. Bahkan ketika ia membuat onar di sekolah, pihak yayasan tidak mencabut beasiswanya sebab Baekhyun masih menjadi andalan dalam olimpiade matematika ketika lomba.

Ketika aku masih asyik memandangi Baekhyun yang tertawa-dengan cantik- bersama teman penguinnya, segerombolan siswa tingkat tiga menghampiri mejaku. Salah satu dari mereka, yang bernama Jaehyun, melayangkan bogeman keras ke wajahku hingga aku tersungkur. Dia menarikku berdiri dan mencengkram daguku kuat sambil melontarkan makian. Dan aku mengerti, ia marah karena aku dekat-dekat dengan Taeyong, pacarnya.

Aku bersumpah hanya mengerjakan proyek kelompok dengan Taeyong!

Jaehyun yang kepalang marah bersiap memukulku lagi namun tepat saat itu sebuah pukulan melayang ke pipi Jaehyun hingga aku ikut terdorong. Dan aku lihat Byun Baekhyun sudah ada disini dengan tangan mencengkram.

Dan saat itu juga Taeyong datang dan menyeret Jaehyun pergi dari sana, meninggalkan aku dan Baekhyun.

"Terima kasih." Aku terlalu gugup ada di depannya, hingga tidak bisa mengatakan apapun selain ini. Aku bersumpah jantungku seperti ingin melompat dari tempatnya.

Baekhyun mengangguk. "Jangan takut pada siapapun bahkan jika mereka lebih senior darimu." dan ia pergi begitu saja dari sana.

Tadinya aku penasaran dengan Baekhyun, namun kini aku jatuh cinta padanya. Aku meyakini ini.

Setiap hari kuhabiskan waktu senggang di sekolah untuk menguntit Baekhyun dan mencari tahu segala sesuatu tentangnya. Tak jarang aku secara diam-diam membantunya 'melawan' anak usil di sekolah. Baekhyun juga sering menjadi korban keusilan anak-anak lain, terutama para gadis-karena setauku Baekhyun tidak pernah memukul wanita- yang memiliki nyali untuk itu.

Seperti saat ini, ketika Sulli mengoleskan lem super ke bangku kantin dimana Baekhyun biasanya duduk. Saat itu kantin masih sepi dan kebetulan aku melihatnya. Aku tau ia akan menjahili Baekhyun karena gadis itu memang menjadi pelaku tetap. Tanpa pikir panjang, aku menukar bangku itu dengan bangku yang biasa diduduki Sulli dan gerombolannya.

Dan benar saja, siang itu sekolah gempar dengan berita seorang siswi yang pantatnya menempel pada kursi. Aku bersorak dalam hati, bertambah satu lagi penyelamatan yang aku lakukan. Aku harap para orang-orang itu kapok dan tidak mengusik Baekhyun lagi. Walau Baekhyun tidak mengetahui hal ini, aku cukup bahagia bisa melakukan sesuatu untuknya.

Suatu hari aku berjalan menuju perpustakaan untuk mengembalikan buku ketika dari kejauhan aku melihat Baekhyun dihajar oleh Jaehyun dan gerombolannya di dekat gudang. Mereka secara membabi-buta memukuli Baekhyun hingga pria malang itu tergeletak tak berdaya. Aku berlari ke arah gudang bersamaan dengan Jaehyun yang pergi dari sana.

Melihat Baekhyun penuh darah membuat aku gemetaran dan marah. Aku membawanya ke dalam pelukanku sambil memanggil namanya, berharap ia akan sadar. Baekhyun terbatuk, namun bukannya sadar, ia malah memuntahkan darah. Aku panik dan bersiap menggendongnya ketika ponsel ku berbunyi. Seharusnya disaat seperti ini aku memprioritaskan Baekhyun, namun entah mengapa aku malah mengangkat telepon masuk dari Siwon.

"Ibumu kecelakaan."

Aku serasa runtuh. Baekhyun langsung ku letakan di tanah sebab tanganku tiba-tiba terasa lemas.

Dari jauh aku melihat teman pinguin Baekhyun berlari bersama beberapa orang lain. Aku melirik Baekhyun sejenak dan berlari pergi dari sana dan mengambil jalan berlawanan arah untuk menghindari mereka.

Aku harus segera pulang untuk ibuku, namun bayangan Baekhyun tidak bisa lepas begitu saja dari kepalaku.

Dan itu terakhir kali aku melihat Baekhyun. Sebab, sejak saat itu aku memutuskan keluar dari sekolah. Itu karena ibuku meninggal dunia. Aku mengalami depresi dan memilih untuk mengurung diri di rumah. Aku tidak ingat berapa lama. Yang pasti setelah masa duka ku berakhir, aku debut menjadi seorang penyanyi.

.

.

.

.

.

.

.

.

Flahsback End

.

.

.

.

.

.

.

.

Baekhyun POV

.

.

.

.

Aku menarik jaket dari dalam loker dan mengenakannya. Setelah itu aku mengunci loker itu dan memasukan kuncinya ke dalam tas kecilku. Saat aku keluar dari situ, aku melihat Shim Changmin masih berkutat di meja kasir. Menghitung uang mungkin.

"Aku akan pulang."

Dia terlihat terkejut karena baru menyadari keberadaanku. "Pulanglah bersamaku, sebentar lagi aku selesai."

"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri." Tolak ku. Aku tidak mau merepotkanmu lagi setelah dua hari terakhir ia memaksa untuk mengantar jemput aku bekerja.

"Baiklah, kalau begitu hati-hati. Hubungi saja aku jika terjadi sesuatu."

Changmin, dia selalu mengatakan hal itu padaku. Dia bahkan bercanda bahwa dia adalah 911 yang bisa aku hubungi kapanpun aku butuh.

Shim Changmin adalah pemilik kedai kopi tempatku bekerja. Kedai ini sudah berdiri selama tiga tahun. Tempat ini cukup ramai dan terkenal di kalangan anak muda. Selain tempatnya yang nyaman dan unik, harga yang ditawarkan juga terbilang murah.

Aku bekerja paruh waktu disini. Aku akan datang saat sore dan pulang ketika tutup. Gaji yang ku dapat tak seberapa, namun cukup untuk makan sehari-hari.

Kaki ku tak sadar berhenti disebuah bangunan kumuh dan gelap. Bau selokan yang busuk menyambut indra penciuman ku. Tempat yang mengerikan ini adalah flat kumuh yang kutinggali. Biaya sewa yang murah adalah alasan kenapa aku memilih tempat ini. Walau aku harus bersusah payah naik ke lantai empat menggunakan tangga karena tidak ada lift.

Aku mengunci pintu flat ku setelah aku masuk. Kemudian aku langsung bergegas mengganti pakaianku karena terlalu malas untuk mandi. Udara malam ini benar-benar tidak bersahabat. Dinginnya seolah menusuk ke dalam pori-pori kulitku. Aku tidak punya pemanas ruangan disini, itu terlalu memakan banyak biaya listrik.

Momen tubuhku bertemu dengan kasur seperti surga bagiku. Walau yang ku tiduri hanya sepotong spons tipis, namun tetap terasa nyaman ketika aku tidur. Aku merenggangkan sejenak otot-otot di tubuhku sebelum benar-benar bersiap untuk tidur. Besok aku masih harus pergi bekerja di toko kue dan kedai kopi, jadi segera tidur adalah pilihan terbaik saat ini.

"Apa kau kedinginan?" Aku mengelus perutku pelan.

Aku tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia ku. Bayi ini membawa perubahan dalam hidupku. Aku menjadi Baekhyun yang lebih semangat dalam menjalani apapun. Hanya dengan mengingat bayi ini membuat kekuatanku seolah pulih. Semua duka dan kesusahan yang aku alami seolah berganti dengan harapan-harapan baru yang lebih indah.

"Besok ibu akan membeli susu untuk ibu hamil. Tadi Changmin Hyung memberi ibu bonus." Aku tersenyum senang. Aku yakin bayinya akan merasakan hal yang sama jika aku merasa bahagia.

"Sebentar lagi kau akan mendapat gizi tambahan. Semoga kau tidak memuntahkan susu ibu ya."

Aku menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuh. Udara dingin masih begitu terasa tajam, namun aku berusaha untuk tetap tidur sambil mendekap perutku. Aku hanya ingin bayiku hangat di dalam sana.

Hidupku memang susah, namun aku bisa mengatasi ini. Aku sudah pernah melewati hari-hari dimana aku harus bekerja keras untuk menyambung hidup. Jika dulu aku sebatang kara, kini aku memiliki bayi yang akan selalu menemaniku kemanapun aku pergi. Aku punya sesuatu yang berharga untuk ku jaga dengan nyawaku.

Aku sudah tidak ingin berharap apapun pada Chanyeol. Bahkan mungkin bayi ini tidak perlu tau siapa ayahnya. Cukup dia bersama ku.

Terkadang aku tiba-tiba merindukan pria itu. Rasanya menyiksa. Namun aku selalu menanamkan dalam pikiranku sendiri bahwa Chanyeol sudah bersama Nayeon dan aku tidak boleh berurusan lagi dengannya. Kebahagiaan Nayeon adalah yang utama bagiku. Walau kami berbeda ibu, kami tetap saudara sedarah. Aku merasa bertanggung jawab sebagai kakaknya.

Aku memejamkan mataku dan berharap segera terlelap. Ketika ada sesuatu yang membuncah dalam hatiku, aku tetap terpejam sambil berusaha mengusir perasaan yang mengganggu itu. Sebab aku tahu, itu adalah rindu ku pada Chanyeol. Aku tidak ingin merasakan sakit karena tersiksa rindu dan berakhir menangisi pria itu sepanjang malam.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Haiiii…

Akhirnya hari ini bisa update chapter 8

Dari kemarin banyak yang nanyain dimana Baekhyun.. dan sekarang Baekhyunnya sudah keluar

Dan buat yang penasaran sama masa lalu Chanyeol dan Baekhyun akhirnya terjawab sudah di chapter ini

Makasih buat semua review kalian yang bikin selalu semangat nulis

Maaf karena slow update