Celebrity Scandal

keanijun

2018

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chanyeol POV

Berapa lama waktu yang sudah berlalu sekarang? Satu bulan? Dua bulan? atau mungkin empat bulan?

Aku tidak tau pasti namun, rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali aku masuk ke tempat ini. Apartemen di sebelahku ini sudah kosong sejak lama. Entah kemana perginya pemilik tempat ini, aku bahkan tidak tahu. Dia seperti hilang begitu saja tanpa memberi kata-kata perpisahan.

Debu tebal menyelimuti perabotan yang ada disana, menunjukan bahwa itu memang tak pernah lagi disentuh oleh sang empunya. Ruangannya gelap dan pengap, karena memang jendela disana tidak pernah dibuka.

Apa ini yang dirasakan Baekhyun? Dia merasa gelap dan kesepian disini hingga ia pergi begitu saja. Apa mungkin Baekhyun membenciku? Baekhyun pasti sangat marah karena aku menghamili adiknya. Ya, Baekhyun pasti membenciku. Aku memang bajingan.

Aku tertawa miris.

Ini semua seperti sudah berakhir untukku. Baekhyun membenciku, dia pergi dari hidupku disaat kami mulai saling mencintai.

Saling mencintai? Ayolah, Jangan mengada-ada. Itu kataku pada diriku sendiri.

Bahkan aku tidak tahu apakah Baekhyun benar-benar mencintaiku setelah yang kulakukan hanya menyakitinya. Aku membawanya dalam kesulitan dengan masuk dalam sandiwara skandal ku dan menidurinya secara paksa. Itu pasti mematahkan hatinya lebih lagi.

Udara di kamar lebih dingin saat aku masuk kesana, namun tak kalah pengap dari ruang tengah. Dan yang memekakan adalah aroma Baekhyun yang masih berputar di ruangan ini. Mendadak aku pusing, Baekhyun berputar dalam kepala ku.

Aku berbaring di ranjang yang berdebu, menghadap sisi lain yang kosong di sebelahku. Aku melihat Baekhyun yang memejamkan mata damai. Nafasnya teratur dan wajahnya sungguh cantik. Aku tak tahan lagi dan membawa dia kedalam pelukanku. Aku mendekapnya seerat mungkin, sebesar aku merindukannya. Kemudian aku tertawa pada diriku sendiri. Kupikir aku gila membayangkan Baekhyun ada didepanku.

Aku memilih bangkit dari ranjang daripada menjadi benar-benar gila karena melihat bayangan Baekhyun disana.

Tanganku bergulir membuka satu persatu lemari yang ada disana dan mendapati beberapa barang miliknya ditinggalkan disana. Beberapa pakaian bahkan masih tersimpan rapi di gantungan lemari. Aksesoris dan jam tangan teronggok berdebu di dalam kotak kaca. Bergulir kesamping,aku menemukan satu rak berisi dokumen dan kertas-kertas kontrak miliknya. Beberapa diantaranya adalah catatan-catatan kecil tentang pekerjaannya. Namun, sebuah amplop coklat berlogo salah satu rumah sakit menarik perhatianku. Aku menariknya dari tumpukan paling bawah- seolah disembunyikan- dan mengeluarkan isinya. Itu selembar hasil test lab milik Baekhyun.

.

.

Hasil pemeriksaan Tn. Byun Baekhyun

(+) positif hamil

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Aku baru tau kau datang."

Sehun meletakkan stetoskopnya di meja kerja dan duduk di sofa, disebelah Chanyeol yang telah menunggunya sejak sepuluh menit yang lalu. Sehun memijat kepala nya sebentar, "Aku sangat lelah, kau tau, aku bekerja sejak dini hari tadi." ocehnya.

"Oh ya, tumben sekali kau mampir ke rumah sakit. Apa ada yang ingin kau ceritakan?" Sehun sudah hafal betul dengan sifat Chanyeol. Chanyeol akan menemuinya untuk bercerita semua hal yang ia lalui, terutama jika itu merupakan masalah penting. Bisa dibilang Sehun ini adalah tempat Chanyeol berkeluh kesah tentang masalah hidupnya. Hubungan mereka lebih dalam daripada hanya sekedar sepupu, namun mereka seperti belahan jiwa, sahabat, teman seperjuangan. Walau mereka sering terlibat perdebatan dan tak jarang bersikap dingin satu sama lain, sejujurnya mereka saling peduli dan mendukung. Mereka ada dalam Love-hate relationship seperti saudara pada umumnya.

Bukannya menjawab pertanyaan Sehun, Chanyeol justru melemparkan sebuah amplop di meja. Sehun mengernyit bingung, namun ia tetap meraih amplop berlogo rumah sakit itu dan menelusuri isinya.

"Kau berhutang penjelasan padaku."

Sehun menjadi gugup saat itu juga. "Darimana kau dapatkan ini?"

Chanyeol menatap tajam ke arah sepupunya itu, membuat Sehun bergidik. Tidak pernah ia melihat Chanyeol seperti ini. "Apakah aku perlu menjelaskannya padamu, Oh Sehun?" Chanyeol menekan setiap perkataannya dan Sehun tau ia harus segera meluruskan sesuatu.

Sehun menarik napas dalam. Buku tangannya meremas amplop itu dengan gemetar.

"Dia memang pergi kesini, tepat sebelum ia menghilang." Ujar Sehun. Chanyeol di sebelahnya masih dalam suasana yang buruk. Tanpa Sehun menyelami dua manik pria ini, ia sudah tau betapa marahnya Chanyeol.

"Dan kupikir aku tidak perlu menjelaskan hasilnya padamu." Sehun meletakan amplop itu depan Chanyeol sebelum bangkit dan meraih stetoskopnya lagi. Dokter itu hendak keluar dari sana ketika Chanyeol bangkit dari sofa.

"Kau," Chanyeol menjeda, "kau jelas tau bagaimana hubunganku dan Baekhyun kan?" Chanyeol mengulum bibirnya dalam, berusaha untuk tidak menggertakan giginya akibat menahan emosi. Sehun,entah bagaimana, justru terlihat lebih tenang daripada sebelumnya dan menghadap Chanyeol yang seolah akan menyerangnya kapan saja.

"Ya."

Chanyeol menahan kepalan tangannya. Jangan sampai ia memukul Sehun saat ini juga.

"Dan kau tidak mengatakan apapun padaku?" Chanyeol mengatakan itu diikuti geraman rendah.

Sehun berdecak, "Itu bukan urusanku untuk memberitahumu." Kemudian ia membuka pintu ruangannya, saat hendak keluar ia menoleh pada Chanyeol yang masih mematung disana.

"Jika Baekhyun sendiri tidak ingin memberitahumu, apakah kau benar-benar berpikir ia mencintaimu? Bahkan setelah apa yang terjadi pada adiknya terungkap, dan kau masih saja berharap ia bisa memaafkanmu."

Sehun berlalu keluar dan menutup pintu dengan kencang, meninggalkan Chanyeol yang masih mematung disana. Di Kepalanya seperti ada kepingan puzzle yang sedikit demi sedikit mulai tersusun, seolah menjawab pertanyaannya tentang segala alasan Baekhyun pergi begitu saja. Namun semakin fakta itu terungkap, ia menjadi semakin sakit. Menyadari situasi berat yang dihadapi Baekhyun membuat luka baru menganga di dadanya. Kerinduan pada sosok Baekhyun digantikan oleh bayangan bahwa mungkin saja kini Baekhyun terlampau membencinya. Ucapan Sehun seolah menyadarkan Chanyeol betapa bodohnya ia berpikir masih mendapat pintu maaf dari Baekhyun. Mungkin saja beribu maaf tidak akan membuat Chanyeol pantas untuk diampuni. Rasa rindu dan kemarahan dalam dirinya sendiri seolah menjadi hukuman yang pantas untuk segalanya.

Baekhyun, diluar sana, sedang mengandung seorang malaikat didalam dirinya. Chanyeol, berdiam diri, dan menghancurkan segalanya, kehidupan Baekhyun tidak akan sama lagi karenanya.

Saat itu, hujan turun. Chanyeol menatap nanar ke arah jendela yang basah. Pemandangan diluar terlihat buram, tersapu air dari langit, dan pipinya basah dihujani air mata kesedihan.

.

.

..

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chanyeol membelalakan mata melihat jumlah tagihan kartu kredit di tangannya. Ia berusaha mengingat lagi barang apa yang ia beli sehingga memunculkan banyak nol di atas kertas tagihan. Bukannya Chanyeol tidak bisa melunasi, namun jumlah ini terlampau besar dari tagihan bulanannya yang biasa.

Nayeon muncul dari kamar dan duduk di sebelah Chanyeol. Ia bersandar dengan nyaman di lengan si pria besar sedang Chanyeol sedang serius membaca isi kertas itu. "Apa yang sedang oppa lakukan?" Nayeon bertanya dengan nada manja yang biasa ia lakukan.

"Apa kau membeli sesuatu akhir-akhir ini?" Chanyeol menempatkan atensinya pada Nayeon disampingnya. Ia sedikit menilik perut Nayeon yang mulai membesar.

"Aku hanya belanja beberapa tas kok." Nayeon melepaskan tangannya dari lengan Chanyeol. Ia sepertinya tau kemana arah percakapan ini.

"Bahkan jika kau membeli sepuluh tas dari Gucci, kupikir tagihannya tidak akan sebesar ini."

Nayeon merenggut sebal, kemudian ia mendekati Chanyeol dan mendekap lengan pria besar itu. "Aku sering pergi keluar dengan teman-temanku dan menyewa kamar hotel yang bagus untuk berpesta. Kami juga banyak belanja barang-barang yang bagus. Kau tau, baby sangat senang saat aku masuk ke toko untuk berbelanja." Nayeon menatap Chanyeol, berharap pria itu akan luluh dengannya.

"Kau sedang hamil dan malah pergi berpesta." Chanyeol berkata dengan dingin dan Nayeon sedikit bergidik ngeri.

"Itu karena aku bosan. Oppa selalu pergi bekerja ketika aku belum bangun dan ketika aku akan tidur oppa juga belum pulang." Nayeon berkata dengan mata yang seolah meminta pengampunan dari Chanyeol

Chanyeol menghela nafas kasar. "Mulai sekarang jangan pernah keluar tanpa seizinku." Final Chanyeol.

"Tidak! aku tidak mau." Nayeon buru-buru merasa kesal, dan ia melayangkan tatapan tajam pada Chanyeol.

"Jangan coba-coba membantahku. Ini semua demi kebaikanmu juga." Chanyeol berusaha untuk tidak marah pada wanita di depannya. Nayeon memang keras kepala, tapi bagaimanapun ia tengah hamil. Chanyeol harus lebih bersabar menghadapinya.

"Aku tidak mau, oppa. Aku juga butuh bertemu dengan teman-temanku. Sangat membosankan ada disini." Nayeon merasa kesal. Apa-apaan itu! Chanyeol berusaha membuatnya untuk tetap tinggal di rumah. Bukankah itu keterlaluan, pikirnya.

Chanyeol memijat pelipisnya yang berdenyut. Kemarahan seolah hampir keluar dari kepalanya. "Apa aku masih perlu menjelaskan padamu bahwa aku merasa khawatir? Demi apapun, kau sedang hamil dan malah asik berpesta. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk padamu dan baby?"

Nayeon bangkit berdiri dan menatap Chanyeol tajam. "Tapi aku tidak mau! Aku ingin bertemu dengan teman-temanku."

"Bahkan aku tidak mengatakan kau tidak boleh bertemu dengan teman-temanmu, bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?"

Nayeon berdecak remeh. "Oppa memang tidak pernah mengatakan itu, tapi oppa akan melakukannya."

"Apa maksudmu?" Chanyeol mengernyit heran.

"Aku tidak ingin menjadi tawananmu seperti jalang itu."

Chanyeol tidak mengerti maksud perkataan dari Nayeon, sampai gadis itu melanjutkan, "Aku tidak ingin menjadi bodoh dan menuruti semua perkataanmu seperti pria jalang itu. Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan hingga melakoni pekerjaan yang menjijikan itu. Dia penipu. Menipu publik dengan ide gilanya dan mendapat uang dengan itu. Ku akui itu jumlah yang besar, tapi tetap saja itu menjijikan. Dia tidak ada bedanya dengan jalang yang menjajakan diri. Bahkan dia menjual dirinya dengan selembar foto berciuman dengan artis besar."

Tidak sulit untuk menebak siapa orang yang dimaksud oleh Nayeon. Namun, kata-kata Nayeon, bukankah itu keterlaluan. Apa ia baru saja menghina Baekhyun, kakaknya sendiri.

"Oh, jangan lupakan dia yang membuka pahanya untukmu. Aku tau kalian memiliki hubungan yang sangat-sangat baik. Bukankah begitu?"

Chanyeol menggeram marah. Orang yang ia lihat bukan seperti Nayeon yang ia kenal. Gadis itu memang sulit diatur dan semaunya sendiri, namun apa yang baru saja ia katakan telah keluar batas. Chanyeol berusaha untuk tidak menampar wajah wanita itu dan memilih untuk tetap diam.

"Tapi lihat kehidupannya. Ia tidak bebas untuk pergi keluar rumah karena diburu media. Menghabiskan sebagian besar hari-harinya di dalam apartemen dengan harapan semua bisa kembali seperti semula. Dia mendapatkan uang, tapi kehilangan kebebasannya."

Chanyeol kehilangan kata-kata. Wanita ini, bagaimana ia mengatakannya. Mulutnya seperti mengeluarkan api ketika bicara tentang Baekhyun.

Nayeon gemetaran, matanya berkaca-kaca, namun itu semua adalah kemarahan yang selama ini terpendam. Rasa iri dan benci nya pada Baekhyun seolah menjadi luka batin sepanjang hidupnya.

"Tau apa yang paling menyedihkan?" Nayeon bertanya dengan sarkas dan Chanyeol tidak memperlihatkan reaksi apapun kecuali menunggu untuk kata-kata berikutnya.

"Pria itu, Byun Baekhyun, berpikir bisa mendapatkan cinta Park Chanyeol. Jalang itu mengorbankan banyak hal, tapi lihatlah, disini aku yang memenangkannya."

.

.

.

.

.

PLAK!

.

.

.

.

Semua seperti ada di puncaknya. Kemarahan Chanyeol membawa tangannya untuk menghadiahi Nayeon dengan tamparan. Ia bahkan tidak sadar kapan ia mulai mengangkat tangannya. Nayeon terkejut, matanya mengatakan itu. Dia terdiam sembari memegang pipinya yang kemerahan. Rasanya panas, tamparan Chanyeol membuat pipinya nyeri. Namun emosinya sekarang lebih mendidih sekarang. Ia mengalihkan pandangan pada Chanyeol yang masih terkejut dengan perbuatannya sendiri.

"Kau.. kau berani menamparku?" Nayeon berkata dengan nada marah yang teredam.

Chanyeol merasa iba, namun disisi lain ia masih dikuasai kemarahan yang besar. "Jika kau masih menyebutnya jalang, aku tidak akan berhenti sampai disini."

Geraman marah pada suara Chanyeol tidak membuat Nayeon gentar. Ia malah menampakan senyum remehnya. "Apa kau tidak sadar dengan semua ini?" Nayeon menjeda, ia beralih duduk di atas sofa "Jika kau berani macam-macam denganku, aku tidak akan sungkan untuk membuka semua rahasiamu pada media."

Chanyeol menggertakan giginya, berusaha menyimpan kata-kata umpatan untuk wanita itu. Sekarang semuanya jelas, dan Chanyeol tau wanita seperti apa yang ia hadapi.

"Aku merasa sedih untuk Baekhyun karena dia membesarkan serigala sepertimu." Chanyeol pergi meninggalkan tempat itu, ia butuh waktu untuk meredakan emosinya. Sebelum keluar dari sana, ia melirik Nayeon yang masih terdiam.

"Kau tau apa yang paling menyedihkan? Kau ingin menghancurkan hidup Baekhyun dengan membawa dirimu dalam masalah."

Pintu itu dibanting keras bersamaan dengan Nayeon yang menjerit marah. Kata-kata Chanyeol itu menusuknya lebih dalam, terasa menyakitkan namun tidak bisa ia bantah. Semua rasa marah itu berkecamuk, menjadi lebih besar, dan tekad ingin menghancurkan Baekhyun semakin bulat.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

HAIII

pertama makasih untuk yang masih support sama story ini. Maaf kalau slow update banget soalnya real life bener-bener gak bisa ditinggal. Dan momentum Jun libur ini akhirnya bisa lanjutin. Dan untuk Jenderal Park, Jun gak tau kapan bisa update.