Ziing. Doom. Doodoom.
Suara kembang api menggema di udara. Cahayanya yang bewarna warni menghiasi langit malam yang cerah, kemudian memantul di lautan yang gelap. Suara sorak sorai dari masyarakat Iwatobi yang tengah menikmati Festival Hanabi bergemuruh, nyaris semua orang menikmati festival malam ini. Ya, hampir semua orang. Karena pada nyatanya, dua orang yang saat ini berdiri berhadapan tidak peduli dengan keindahan kembang api malam ini.
Manik sapphire blue membesar. Suara gemuruh kembang api di tambah sorak sorai masyarakat Iwatobi harusnya sudah cukup memekakan telinganya. Tapi yang terjadi telinganya seperti tuli akan semua kebisingan malam ini. Otaknya terus memutar ulang kalimat yang baru saja terlontar dari mulut pemilik manik emerald yang tengah berdiri di hadapannya.
"W-what?"
Suara tersebut jelas lah tidak lebih kencang dari suara kembang api. Pula tidak lebih bising dari suara hiruk pikuk yang terjadi dibawah tebing yang tengah mereka pijaki. Tapi mengapa hanya suara itu yang terdengar di telinganya? Hanya suara tersebut yang terus terputar seperti kaset rusak di kepalanya.
"Daisuki, Haru." Ulang laki-laki pemilik surau berwarna hijau. Emerald-nya menatap sendu sapphire blue di depannya.
"Makoto, ini tidak lucu."
"Apakah aku terlihat seperti sedang bercanda untukmu, Haru?"
Haru ingin sekali percaya bahwa semua ini hanya bercandaan Makoto yang sayangnya terdengar menyebalkan untuk Haru. Tapi, emerald tersebut terlalu jelas dan terlalu jernih untuk dibaca olehnya. Hanya dari mata emerald tersebut, Haru mengerti bahwa Makoto memang sedang tidak bercanda. Pancaran emerald milik Makoto mematahkan asumsi positif yang terus ia gumamkan dalam diamnya. Haru tidak tuli dan suara tersebut terlalu jelas untuk di dengar. Terlebih Makoto mengulang kalimat yang sama, meyakinkan Haru bahwa ia memang tidak salah dengar.
Tapi kenapa? Seharusnya dari semua orang yang dekat dengan Haru, Makoto lebih mengerti dengan keadannya. Kenapa Makoto tega melakukan ini padanya?
"Kita hentikan obrolan ini, Makoto. Aku akan menganggap bahwa semua ini tidak terjadi." Haru melangkahkan kakinya. Ia ingin pergi dari sini secepat yang ia bisa. Menenangkan diri dan pikirannya. Melupakan segala yang terjadi hari ini dan besok segalanya kembali menjadi normal. Ia dan Makoto akan berlaku seperti biasanya. Mengaggap bahwa kejadian detik ini tidak pernah terjadi. Terlupakan.
"Tunggu, Haru." Tangan kekar Makoto menggenggam pergelangan tangan Haru.
"Lepas!"
Haru berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman tangan Makoto. Kekuatan Haru masih kalah dibandingkan kekuatan Makoto saat ini. Membuat Haru menyadari satu hal, bahwa Makoto tumbuh menjadi laki-laki yang jauh lebih kuat dan lebih gagah dari lima belas tahun yang lalu.
"Dengarkan dulu, Haru."
"Lepas! Aku tidak mau dengar."
"Kumohon, Haru. Sekali ini saja dengarkan." Pinta Makoto. Suaranya terdengar lirih, emerald miliknya semakin terlihat sendu. Selama ini, Makoto tidak pernah meminta. Jadi kali ini, pertama dan mungkin terakhir kalinya ia ingin Haru mendengarkan dirinya.
"Mendengarkan apa? Mendengarkan bahwa kau menyukaiku?!"
"Ja… Aku harus bagaimana? Haruskah aku mengabaikan perasaan ini?!"
"Hai'. Harusnya kau diam saja dan tak memberitahu semua ini padaku! Harusnya kau menyimpannya dalam-dalam dan tetap berada di posisimu! Kau membuat segalanya menjadi rumit!"
"Aku hanya menyukaimu, apakah itu sebuah kesalahan? Apa aku tidak boleh menyukaimu, Haru?"
"Tidak boleh! Kau tidak boleh menyukaiku, Makoto. Barang secuil pun kau tidak boleh menyukaiku."
"Kenapa, Haru? Katakan kenapa aku tidak boleh menyukaimu?"
"KARENA AKU SUDAH MILIK RIN! GOD DAMN IT, MAKOTO! TIDAK BOLEH ADA RASA ANTARA KITA.DAN TIDAK SEHARUSNYA KAU MENYUKAI SEORANG YANG SUDAH MEMILIKI KEKASIH SEPER—"
"SEANDAINYA AKU BISA! SEANDAINYA AKU BISA TIDAK MENYUKAIMU TERLALU DALAM! SEANDAINYA AKU BISA TIDAK MENYUKAIMU LEBIH DARI SIAPAPUN DAN APAPUN!" sapphire blue tersebut membesar. Kali pertama ia mendengar Makoto dengan nada tingginya. Kali pertama ia melihat emerald yang terlihat sangat tersiksa, seolah memohon pertolongan untuk diselamatkan dari perasaan frustasi yang menggerogoti hatinya.
Seandainya Makoto bisa, ia memilih untuk tidak akan menyukai Haru. Seandainya Makoto bisa, ia sudah melepaskan perasaannya untuk Haru, memberikan orang yang begitu ia sayangi restu untuk bahagia bersama dengan sosok beruntung yang dipilih oleh Haru. Sungguh, seandainya Makoto bisa dan mampu untuk melupakan Haru.
"Memangnya kenapa jika aku menyukai Haru yang sudah memiliki kekasih? Aku tidak meminta Haru untuk membalas perasaanku. Karena aku tau sejak awal, bagimu, aku tidak pernah bisa lebih dari sekedar menjadi teman kecilmu. Sejak awal, Haru tidak pernah menjadikanku pilihan." Suara Makoto terdengar sangat lirih. Menyayat hati bagi siapapun yang mendengar suaranya. Sakit hati tersebut terlalu jelas tergambarkan pada dirinya.
"Jika kau mengetahuinya dan kau mengerti kenapa kau masih mengatakannya?! Kenapa kau melakukannya, Makoto?! Kenapa?! Jika saja kau tidak mengatakannya, jika saja kau memendamnya, jika saja kau membiarkanku pergi dan melupakan apa yang terjadi malam ini, aku tidak akan menyakitimu seperti ini dan besok semuanya akan kembali normal seperti sedia kala! Dan ini semua salahmu!"
Genggaman tangan Makoto melepas dan entah mengapa, Haru tidak menyukainya. Kehangatan dari genggaman tangan Makoto seperti menghilang dengan sekejap. Membuat rasa dingin menyergap tubuhnya.
"Tidak ada hari esok, Haru." Lirih Makoto. Emerald-nya menatap hampa bebatuan. Haru tidak mengerti. Tatapan mata itu. Eskpresi wajah Makoto. Haru benci semua itu. Segalanya seperti terlihat Makoto akan meninggalkannya.
"Tidak ada hari esok atau pun lusa untuk kita."
"Ma-makoto..."
"Ano ne, Haru." Makoto memberi jeda. Emerald-nya menatap tepat pada dua buah sapphire blue yang sedalam lautan. "Sebenarnya, setelah lulus nanti aku berencana untuk kuliah di Tokyo."
Sapphire blue Haru membulat. Ia baru mengetahui hal ini dan Makoto menyembunyikan berita ini padanya. Makoto akan meninggalkannya seorang diri disini.
"Gomen ne, Haru. Aku tidak tau bagaimana mengatakannya padamu. Jadi aku memutuskan untuk mengungkapkan perasaanku padamu. Dan jika perasaan ini terbalaskan, aku akan meminta Haru untuk pergi ke Tokyo bersamaku."
"Tapi jika ternyata sebaliknya, aku akan berhenti. Berhenti untuk mencintaimu, Haru. Berhenti untuk berharap padamu. And i'll let you go..."
Haru tidak mengerti apa yang membuat hatinya begitu tersayat. Entah karena Makoto menyembunyikan sesuatu darinya atau karena perkataan Makoto.
Selama ini, bukankah tangan Makoto yang selalu menggenggamnya dan tak melepaskan. Dan sekarang, bagaimana bisa Makoto melepaskan genggaman tangan Haru begitu saja? Bukankah Makoto tidak bisa hidup tanpa Haru? Bukankah selama ini Makoto selalu bergantung pada Haru?
"Jadi tidak akan ada—"
"Lakukan apa yang kau inginkan!" Haru berlari meninggalkan Makoto yang bergeming di tempatnya. Makoto tidak lagi memanggil namanya untuk berhenti. Tangan Makoto tidak lagi menahan pergelangan tangannya. Seolah-olah Makoto memang membiarkan Haru pergi dari hidupnya.
Dan Haru membenci perasaan ini. Haru benci bagaimana hatinya terasa sakit. Haru benci bagaimana air mata jatuh membasahi pipinya. Haru benci dengan kenyataan bahwa Makoto akan pergi meninggalkannya sendirian. Dan Haru benci dengan dirinya yang seperti ini.
Ia sudah memiliki Rin. Seharusnya ia tidak boleh menangisi dan tersakiti oleh laki-laki lain.
Tidak boleh.
-Euphoria-
-To Be Continued-
Halo semuanya~~ Ini adalah fanfict perdana MakoHaru ku semoga tidak mengecewakan kalian! Dan ide ini terinspirasi dari scene MakoHaru berantem di episode 11 seasons 2 huehuehue;3
Semoga kalian enjoy dengan chapter 1 dari Euphoria *yeay \(^^)/* dan sampai bertemu di chapter berikutnya~~ Papay *poof*
—Matokinite76
