Akaashi demam, ia tidak masuk sekolah hari ini. Bokuto jelas merasa kehilangan, tetapi seluruh anggota tim voli putra SMA Fukurodani sisanya merasa kebingungan tentang bisa atau tidaknya mereka menghadapi si kapten sampai nanti Setter mereka kembali bersekolah? Untungnya, mereka menemukan suatu buku tipis Akaashi di salah satu rak ruang klub, dengan segera mereka membacanya.
.
.
Disclaimer: Haikyuu! adalah karangan Furudate Haruichi. Author tidak mengambil keuntungan materiil.
Warning: oneshot. Yang canon dari daftar ini hanyalah nomor 6 dan 37.
.
.
Bokuto 101
by Fei Mei
.
.
PANDUAN MENGHADAPI BOKUTO KOTARO-SAN
Berikut adalah daftar kelemahan Bokuto-san sejauh ini, berikut dengan gejala umum dan penanganan khusus. Perlu diketahui, jika kelemahan itu tidak segera diatasi dengan baik, emo mode akan berlangsung lebih lama dari yang seharusnya dan penanganannya akan lebih menyulitkan.
.
PERTAMA: untuk beberapa hal yang tidak bisa dijabarkan, tidak bisa langsung beradaptasi. Sebenarnya Bokuto-san pandai beradaptasi dengan lingkungan atau komunitas baru. Tetapi jika sesuatu itu berubah dengan cepat dan apalagi diluar ekspetasinya, dia akan kebingungan.
Gegala: tidak seceria biasa, tersenyum tapi agak murung, tidak berisik, menarik ujung baju orang di dekatnya.
Penanganan: jangan biarkan dia kemana-mana sendiri.
.
KEDUA: suka penasaran. Saat perhatiannya teralihkan pada suatu hal, ia akan sangat ingin tahu pada sesuatu. Ada kemungkinan dia akan ingin menyentuh sesuatu yang tidak boleh tersentuh hanya karena pernasaran.
Gejala: jika sedang berjalan maka tiba-tiba akan berbelok arah, jika sedang berbicara maka akan mengalihkan perhatian untuk menyebut sesuatu yang sedang membuatnya penasaran, agak gugup.
Penanganan: selama tidak melanggar hukum sebisa mungkin dituruti.
.
KETIGA: tidak bisa menghampiri orang baru sendirian. Ini berkaitan dengan nomor satu. Tetapi biasanya hanya akan terjadi jika orang tersebut adalah yang Bokuto-san anggap menarik.
Gejala: gugup, tangannya akan ada di belakang, mendadak pemalu.
Penanganan: biarkan saja selama ia tidak berperilaku aneh di luar batas wajar, jika ada di dekatnya maka bisa bantu memancing perkataan yang tepat.
.
KEEMPAT: ingin diakui. Walau cukup berprestasi terutama di bidang voli, Bokuto-san sangat ingin dipuji dan mendengar dirinya dipuja.
Gejala: mencari perhatian, mengungkit tentang apa yang dia lakukan.
Penanganan: beri perhatian sesuao permintaan, kadang pujian sederhana saja bisa memberi efek.
.
KELIMA: sering tersesat. Tidak parah, tapi ini adalah dampak kelemahan nomor dua jika tidak segera ditangani atau ketika ia tidak masuk ke emo mode saat itu. Terutama jika sedang berpergian bersama-sama (taman, karyawisata, kolam renang, dan sebagainya), Bokuto-san akan ingin mondar-mandir tanpa pemberitahuan, lalu berujung tersesat tanpa tahu arah jalan pulang.
Gejala: ketika baru datang ke suatu tempat (biasanya tempat baru) maka ia akan segera mengeker ke segala arah dari tempatnya berdiri, matanya berbinar, tampak akan siap berlari.
Penanganan: JANGAN LEPASKAN MATA DARINYA, jangan sampai kehilangan jejaknya, jika perlu bisa nyalakan GPS pada gawainya.
.
KEENAM: suka pamer. Ia sangat ingin kehebatannya dilihat banyak orang. Jika sedang mengukir prestasi yang baik, ia ingin semua mata tertuju padanya. Jika kelemahan ini teratasi, kemungkinan besar kelemahan nomor empat akan aktif.
Gejala: dia akan langsung jujur mengatakan perasaannya mengenai situasi tersebut pada teman-temannya.
Penanganan: tetap tenang dan katakan sisi positif dari situasi yang dijabarkan Bokuto-san.
.
KETUJUH: menantikan dan menikmati waktu tidur. Walau hiperaktif, Bokuto-san tetap menantikan jam tidur malam. Ia akan sebal jika sudah siap-siap tidur lalu ada yang menganggunya, tidak peduli bahwa otaknya sendiri yang mengganggu. Jika sampai masuk emo mode, bisa berlangsung sampai malam berikutnya.
Gejala: sudah tidak peduli akan sekitarnya, tidak bisa bekerjasama, mengomel.
Penanganan: biarkan dia sendiri, jangan diajak bicara kecuali darurat. Jika tiba-tiba dia menarik baju sesorang berarti sudah mulai pulih.
.
KEDELAPAN: sandwich di kantin. Bokuto-san sebenarnya bukan suka pilih-pilih makanan, tetapi jika kantin sekolah buka, ia akan mau makan salah satu dari variasi sandwich disana. Akan ada kemungkinan sesekali ia kehabisan, entah karena terlambat datang ke kantin atau makanan tersebut sedang terlalu laku.
Gejala: tatapannya kosong, hanya akan minum air mineral saat jam makan siang, menatap nafsu makan siangmu apa pun itu.
Penanganan: bujuk dengan makanan berat apa pun (terutama daging) dan katakan bahwa seorang Ace harus punya tenaga.
.
KESEMBILAN: pelempar yang buruk. Akurasi dalam bermain voli mungkin sangat baik, tetapi akurasi dalam melempar sebenarnya cukup parah. Lebih lagi, Bokuto-san akan dengan asal melempar barang di tangannya ke segala arah (biasanya ke samping kanan belakang jika sedang semangat, ke depan agak miring ke kiri jika sedang sebal). Jika barang yang dia lempar terlampau jauh dari target, atau malah mengenai sesuatu yang berpotensi dia kena tegur, kemungkinan besar akan masuk ke emo mode. Hal ini terlalu sulit untuk dideteksi secara dini.
Gejala: perubahan mood, bersiap mengayunkan tangan.
Penanganan: HARUS SELALU SIAP, perhatikan arah ayunan tangannya.
.
KESEPULUH: pelajaran matematika. Bokuto-san bukan pelajar yang buruk, tetapi salah satu pelajaran yang membuatnya kesulitan adalah hitung-hitungan (termasuk ekonomi, akuntansi, fisika, dan kimia). Ia sering dapat nilai di atas rata-rata, kok, tapi sesekali juga nilainya pas-pasan atau bahkan di bawah target. Biasanya ini hanya karena ia kurang belajar saja, tidak ada alasan khusus.
Gejala: menyindir tentang apa pentingnya suatu mata pelajaran terutama matematika (kalimat yang biasa digunakan adalah: 'pengen beli makan aja kan gak perlu pakai rumus fungsi dan parabola!'.
Penanganan: jangan bantah ucapannya, diam saja dengan ekspresi normal, dia akan mereda sendiri. Jangan sindir saat masih agak panas.
.
KESEBELAS: bad hair day. Ia sangat bangga dengan rambutnya, tetapi ada masanya rambut tersebut tidak mau menuruti keinginan hati.
Gejala: mengungkit pembicaraan tentang rambut, datang ke sekolah sambil cemberut, tidak ada 'hey, hey, hey!' untuk hari itu.
Penanganan: sapa dengan 'hey, hey, hey!' dan goda dia dengan sebutan Ace sampai dia mau membalas.
.
KEDUABELAS: harus dijawab sesuai dengan keinginan hati. Hal ini tidak selalu dilakukan, jadi harus perhatikan kondisi dan situasinya.
Gejala: melempar pertanyaan tak terduga yang biasanya menyangkut dirinya atau sesuatu yang bisa disangkutpautkan dengannya, akan menanyakan ulang jika tidak puas dengan jawaban yang didapat.
Penanganan: pastikan tahu arah pembicaraan dan pikirannya saat itu, jawab sesuai apa yang kira-kira dia inginkan. Biasanya Bokuto-san akan memberi kesempatan sampai empat kali.
.
KETIGABELAS: menyentuh lebih dari sekali. Terutama saat sedang jalan-jalan, saat Bokuto-san iseng menyentuh sesuatu, maka ia tidak akan mau pergi sebelum menyentuhnya sekali lagi. Entah apa tujuannya, tapi itu tampak seperti reflek.
Gejala: akan mencari barang yang sama sebelum pergi, melirik-lirik benda itu.
Penanganan: biarkan saja selama tidak melanggar hukum atau merepotkan.
.
KEEMPATBELAS: tidak ada yang menyerukan namanya. Terutama saat sedang berkompetisi, ia akan sangat ingin didukung sambil diserukan namanya. Jika berlangsung lama, dampaknya akan lebih parah daripada nomor enam.
Gejala: murung, gerakan awal semangat tetapi melamban, sesekali mendelik ke kerumunan.
Penanganan: berikan pujian atau credit sederhana atas pencapaianmu (yang paling ampuh adalah, "terimakasih telah menemaniku berlatih sampai aku bisa mendapat poin seperti barusan!").
.
KELIMABELAS: bahasa asing terutama bahasa Inggris. Nilai bahasa Bokuto-san selalu di atas rata-rata, tetapi ia akan sebal sendiri jika sedang tidak memahami suatu materi atau selalu salah untuk suatu kosa kata.
Gejala: tiba-tiba membanggakan Jepang, mengucapkan kalimat seperti: 'kita orang Jepang, buat apa belajar bahasa Inggris?'.
Penanganan: nyatakan rasa setuju, jangan dibantah, dia akan reda sendiri.
.
KEENAMBELAS: diacuhkan. Mungkin sekitarnya bukan bermaksud bersikap cuek atau tidak mau merespon panggilannya, tetapi bisa berbahaya jika Bokuto-san merasa dirinya dicuekin orang-orang sampai beberapa kali.
Gejala: cemberut, mengatakan hal sinis cukup jelas untuk terdengar orang lain, mulutnya monyong.
Penanganan: beri kejutan kecil yang sederhana seakan sengaja tadi cuek, katakan bahwa tadi cuek hanya karena iseng/tantangan, jangan mengejeknya.
.
KETUJUHBELAS: salah paham. Ada masanya Bokuto-san ikut nimbrung tentang suatu hal dan bicara dengan semangat, tapi ternyata ia salah paham akan arah pembicaraan.
Gejala: tiba-tiba tampak malu, menunduk, menghindari orang tertentu, matanya sendu, memojok di suatu ruangan.
Penanganan: jangan jadi penengah antara Bokuto dan orang yang ia timbrungi, jangan diungkit, dia akan reda dengan sendirinya.
.
KEDELAPANBELAS: permainan sepak bola. Bokuto-san memilih untuk bermain voli seumur hidupnya, berarti ia akan lebih menyentuh bola dengan tangan. Selain posisi kiper, ia tidak mau main sepak bola dan sejenisnya.
Gejala: membuat gerakan seakan ia ingin menyentuh bola dengan tangan, dive, membandingkan sepak bola dengan voli dan bahkan basket.
Penanganan: nyatakan rasa paham, bujuk dengan mengatakan bahwa ia harus menunjukkan bahwa Ace tim voli bisa jago main sepak bola, bujuk dengan mengatakan bahwa ini bisa jadi latihan receive menggunakan kaki.
.
KESEMBILANBELAS: beberapa huruf kanji tertentu. Kadang Bokuto-san hanya lupa bagaimana menulis suatu huruf kanji. Saat terparahnya adalah ketika ia lupa menulis kanji yang sebenarnya ia anggap mudah.
Gejala: tiba-tiba menanyakan cara menulis suatu huruf.
Penanganan: tenangkan dia. Jika ingin menjawab maka jawablah sesabar mungkin tanpa menyindir.
.
KEDUAPULUH: serangga tertentu. Bokuto-san bukan takut, ia hanya agak geli dan jijik saat melihat jenis-jenis serangga tertentu. Ini tidak selalu, hanya tergantung mood.
Gejala: tiba-tiba tak mampu berkata-kata, menggunakan kata isyarat, wajah pucat, mulut gemetar.
Penanganan: usir serangganya jika bisa, bohong dengan mengatakan bahwa serangganya sudah tidak ada. Jika Bokuto-san berpindah tempat maka katakan bahwa tempat itu aman.
.
DUA PULUH SATU: menuju kekalahan. Jiwa kompetitif Bokuto-san hampir selalu aktif dalam segala hal bahkan di luar lapangan. Hal sesederhana apa pun bisa menyulutnya, seperti siapa di antara dia dan teman-temannya yang bisa tiba di gym duluan. Agak sulit dideteksi karena munculnya tiba-tiba.
Gejala: rambutnya layu, matanya sayu, tubuhnya melemas dan bungkuk.
Penanganan: mengalah jika memungkinan, berikan credit sederhana padanya.
.
DUA PULUH DUA: makanan yang terlalu pedas. Sebenarnya Bokuto-san kuat makan yang pedas, tetapi jika terlalu pedas, itu akan membuatnya masuk emo mode. Tidak masuk akal, tetapi begitulah.
Gejala: dia akan jujur mengatakan bahwa makanan tersebut pedas dengan spontan.
Penanganan: beri minum, jangan ditantang.
.
DUA PULUH TIGA: jika sedang suka pada suatu lagu, akan disenandungkan terus. Sebenarnya ini adalah hal wajar, tetapi akan menjadi masalah jika suatu ketika saat masih suka lagunya, Bokuto-san malah lupa suatu nada atau lirik. Bisa jadi masalah juga jika disindir terus-terusan.
Gejala: senandung yang sama, menyalakan musik yang sama, menggunakan referensi dari lirik.
Penanganan: biarkan saja, pastikan tahu lagu mana yang ia sukai saat itu.
.
DUA PULUH EMPAT: pernyataan cinta dari orang lain. Bokuto-san akan kebingungan saat ditembak orang. Walau biasanya ia akan menolak, ia akan merasa bersalah tiap kali melihat orang yang menyatakan perasaan padanya itu. Ini tidak berlaku pada hadiah dari penggemar.
Gejala: melamun, menghindari orang yang bersangkutan, mendadak puitis.
Penanganan: jangan jadi penengah kecuali diminta Bokuto-san, akan reda sendiri.
.
DUA PULUH LIMA: hanya diperbolehkan mengenakan kaos dan jins. Walau bukan fashionista, tetapi Bokuto-san tidak suka kalau hanya diperbolehkan mengenakan dua potong pakaian itu. Setidaknya ia akan mengambil jaket atau langsung mengganti dengan baju untuk latihan.
Gejala: sesekali melihat kaosnya.
Penanganan: ajak ke game center atau langsung main voli.
.
DUA PULUH ENAM: tidak dapat tempat duduk di kendaraan umum. Bokuto-san hiperaktif, tetapi ia akan ingin duduk diam dalam kendaraan beroda yang sedang jalan. Ia tidak akan masuk emo mode jika dirinya sendiri yang memberikan tempat duduknya pada orang lain.
Gejala: meringkuk sambil bersandar dan memeluk tas, jika sudah sampai berjongkok memeluk lutut berarti sudah sangat parah.
Penanganan: alihkan perhatian, ajak ngobrol tentang suatu hal yang ia sukai. Jika ia sudah berjongkok maka yang menangani harus berjongkok di sampingnya.
.
DUA PULUH TUJUH: nada musik atau lagu yang tinggi. Agak berkaitan dengan nomor 23. Bokuto-san bukan penyuka musik, tetapi ia akan sebal sendiri jika tidak bisa mencapai nada tinggi saat menyanyikan suatu irama.
Gejala: mendumel.
Penanganan: biarkan saja, akan reda sendiri.
.
DUA PULUH DELAPAN: kurangnya asupan daging dalam sehari. Jika ia masuk emo mode gara-gara hal ini, biasanya akan terjadi pada malam hari.
Gejala: sepanjang malam mengidam sambil melihat gambar makanan, mengungkit tentang steik di grup chat.
Penanganan: JANGAN DIABAIKAN, berikan respon sekenanya, ajak makan keesokan harinya.
.
DUA PULUH SEMBILAN: terbangun tengah malam. Bukan insomnia, tidak ada hubungannya juga dengan nomor 28. Terkadang saat tidur nyenyak, Bokuto-san akan terbangun tengah malam dan sulit untuk kembali tidur.
Gejala: membangunkanmu lewat pesan atau telepon, muncul di grup chat dan mengatakan hal random.
Penanganan: berikan respon sekenanya, JANGAN DIABAIKAN.
.
TIGA PULUH: mendapat ide random di waktu yang random. Ini adalah hal wajar bagi banyak orang, tetapi Bokuto-san sering mencemaskan idenya sendiri dengan berbagai macam dialog fiktif dalam otaknya.
Gejala: tiba-tiba serius, keukeuh, ngotot, dahi mengerut.
Penanganan: turuti saja jika tidak melanggar hukum, JANGAN DITERTAWAKAN.
.
TIGA PULUH SATU: perkataannya terpotong berkali-kali. Rerata orang memang akan sebal karena hal ini, tetapi emo mode-nya Bokuto-san akan luar biasa menyebalkan.
Gejala: malas ngomong, cemberut, mendumel.
Penanganan: ajak makan, ajak melakukan sesuatu yang biasanya dia sukai (jangan tanya padanya dan langsung bawa saja).
.
TIGA PULUH DUA: batalnya rencana untuk melakukan sesuatu terutama kalau karena hujan. Jelas tidak bisa menyalahkan hujan. Tetapi Bokuto-san pasti telah menyiapkan waktu untuk menjalankan rencana sesuai janji dengan orang yang akan ia temui, jadi ia akan kecewa jika segalanya tidak berjalan sesuai harapan.
Gejala: cemberut, meringkuk, rambut layu.
Penanganan: buatlah grup chat dengan memasukkan Bokuto-san beserta orang-orang hiperaktif lainnya (rekomendasi terbaik sejauh ini: Kuroo-san, Hinata, Lev, Oikawa, dan Tendo).
.
TIGA PULUH TIGA: gagal melakukan hal yang sama. Jika sedang berhasil melakukan sesuatu, ia akan mencoba melakukan hal tersebut lagi. Masalahnya, berbahaya ketika tiba-tiba ia gagal saat belum bosan.
Gejala: mencari perhatian, mengungkit apa yang barusan ia lakukan berkali-kali, perubahan mood yang tiba-tiba.
Penanganan: pujilah pencapaiannya sambil menatap langsung wajahnya dan tersenyum, bantu dia. Didiamkan saja juga tidak masalah karena akan reda sendiri selama ia tidak melihat orang lain melakukan hal itu dengan berhasil.
.
TIGA PULUH EMPAT: bersin dengan tidak normal. Selain Bokuto-san memang ada orang lain yang tidak bisa mengeluarkan bersin dengan bebas, terdengar seperti bersin yang ditahan. Bokuto-san TIDAK PERNAH menahan bersin, tetapi ia memang jarang bisa bersin dengan lepas sehingga terasa sakit. Ia akan sebal jika ada yang menegur atau mengatakan sebangsa bahwa ia harus melepas bersinnya.
Gejala: cemberut, mendumel, langsung mengomel pada yang menegur, menghentakkan kaki dengan kasar.
Penanganan: jangan ikut menyindir soal bersinnya, katakan 'bless you' saat dia bersin.
.
TIGA PULUH LIMA: kedua kakak perempuannya. Mereka bertiga adalah trio kakak-adik yang kompak, tetapi Bokuto-san sering ngeri sendiri saat kakaknya mengajak bicara empat mata. Perlu diketahui, kedua kakak Bokuto-san adalah orang yang ramah dan sama hiperaktifnya dengan adik bungsu mereka. Tetapi sesekali ia akan merasa minder kalau habis melihat pencapaian kakaknya.
Gejala: bertanya kalau ia merupakan Ace yang hebat, bertanya kalau dia adalah teman yang baik.
Penanganan: jawab sesuai dengan yang menyenangkan hatinya, jangan menyengir, tepuk punggungnya sambil menyatakan kehebatannya. Jika ia tidak bertanya macam-macam berarti boleh dibiarkan saja.
.
TIGA PULUH ENAM: decitan pintu terdekatnya tetapi tidak ada orang. Tanpa maksud horor, kadang angin kencang akan membuka-tutup pintu yang tak rapat. Bokuto-san sering kecewa melihat pintu terbuka tapi tidak ada orang disana, karena ia akan sempat berharap bahwa seorang temannya akan datang.
Gejala: cemas melihat ponsel dan pintu bergantian, menyinggung tentang beberapa nama temannya dengan mengatakan seperti: 'kayaknya bakal seru kalau Kuroo datang kesini!'.
Penanganan: responi singgungannya, buat grup chat dan masukkan juga orang-orang dari tim voli sekolah lain.
.
TIGA PULUH TUJUH: jika sudah terpaku pada satu hal, akan benar-benar lupa cara melakukan yang lain. Tidak selalu, tetapi Bokuto-san kemungkinan besar akan lupa cara melakukan hal yang kebalikan dengan apa yang sedang ia fokuskan.
Gejala: lemas, gerakannya melambat, menyatakan kesulitannya.
Penanganan: biarkan dia tenang dulu, ingatkan bahwa dia tetap Ace.
.
.
Selain kelemahan-kelemahan tersebut, Bokuto-san tetap bisa masuk ke emo mode dengan sendirinya. Hal itu akan tidak bisa dideteksi sama sekali, dan bahkan tidak ada penawarnya selain menunggunya reda sendiri. Jika memang tidak bisa mengendalikannya, jauh-jauhlah darinya agar emo modenya tidak lebih parah.
.
.
BAGAIMANA JIKA BOKUTO-SAN TERLANJUR MASUK EMO MODE SEBELUM DISADARI?
Berikut adalah beberapa cara umum untuk menangani kelemahan yang tak terdeteksi:
Pertama, ingatkan pencapaian atau prestasinya sebelum ini.
Kedua, ingatkan bahwa dia adalah seorang Ace.
Ketiga, pahami situasi dan jalan pikirannya sebelum mengatakan ya atau tidak, sebab tidak semua hal tentangnya harus dituruti atau malah diabaikan.
Keempat, tenang, cari hal positif dari permasalahan yang ada.
Kelima, jangan tantang atau malah menyindirnya.
Keenam, ingatkan bahwa sekarang dia harus menjadi contoh untuk Hinata.
.
.
Jika memang sudah bingung, menyerah, dan tidak kuat menghadapinya, silakan hubungi Akaashi Keiji di nomor ini: XXXXXXXXXXXX
.
.
Selesai
.
.
A/N: GAK NYANGKA BAHWA BAKAL BIKIN BEGINIAN WKWKWK. Tiba-tiba habis bikin 'manual menghadapi Bokuto', Fei kepengen bikin versi isi bukunya. Gak sesuai rencana mengenai formatnya sih. Yang canon dari fict ini hanyalah kelemahan nomor 6 dan 7, sisanya terutama gejala dan penanganan itu karangan Fei aja yang udah Fei corat-coret dulu di kertas. Beberapa seperti nomor 7, 23, 30, 31, dan 34 itu diambil dari pengalaman Fei sendiri, wkwkwk.
Review?
