"Hari ini kamu yang jaga Blaze."
Kalimat itu murni perintah. Bukan pertanyaan atau sekadar permintaan. Kakaknya memang begitu, kalau sudah memutuskan berarti semua ucapannya seperti pasal dalam undang-undang. Tidak bisa ditolak.
"Okee, Hali Bawel," balasnya.
Bisa ditebak, ia langsung berlari sejauh mungkin demi menghindari amukan kakak pertamanya itu.
Tak!
Benar, 'kan?
Yang barusan itu suara gagang sapu yang mengenai tembok pemisah ruang tengah dengan dapur.
Hali—kakaknya itu memang mengerikan. Apalagi saat marah dan sama sekali tidak bicara. Tahu-tahu tulangnya patah. Ia hanya ingin saja menyebut Hali bawel meski kakaknya itu hampir tidak akan bicara jika tidak ditanya.
"Kakaaak!"
Suara melengking dari kamar lantai dua membuatnya berhenti berlari. Adiknya, Blaze, sudah bangun.
"Kak Upaaan! Adek ngompol... Huwaa!" pekik adiknya lagi. Kali ini mulai menangis. Seperti pagi-pagi sebelumnya, setiap hari.
Disclaimer: Boboiboy Animonsta Studio
~Happy reading~
AU. Kid!Blaze. Hati-hati sama hantu a.k.a typo wkwkwk
v
Entah kenapa, Taufan ingin memisahkan cabai merah dan hijau yang ia temukan di kulkas. Dia memang kurang kerjaan.
"Itu apa, Kak Upan?"
"Hm?" Taufan menoleh begitu merasakan pelukan dari belakangnya. Ia tersenyum cerah. "Ini stroberi," jawabnya asal.
Kali ini Blaze menaiki punggungnya. Tampak sangat penasaran. "Kenapa stobelinya kulus? Manis nggak? Mau makan, boleh?" tanyanya bertubi-tubi.
"Wah, boleh, dong. Kamu mau yang merah atau yang hijau?" Taufan menyambut rasa penasaran Blaze dengan suka hati.
Blaze menginjak kedua pahanya dari belakang sehingga tingginya melewati kepala Taufan. Telunjut kecilnya mengacung semangat. "Yang melah! Kata Kak Hali, buah yang walnanya masih hijau itu mentah. Nggak boleh dimakan."
Taufan membawa Blaze untuk duduk di pahanya, tepat di depan kulkas yang masih terbuka. "Aduh, kamu pintar banget ya, sekarang." Ia mengelus gemas kepala adik kecilnya.
"Hehe... Kan kakak yang ajalin." Blaze tersenyum manis sekali.
"Oke! Adik Kak Upan memang pintar." Taufan mengangkat kepalan tangannya ke depan Blaze, bermaksud mengajaknya 'tos'.
Namun, anak itu malah menepisnya. "Kak Hali aja yang ajalin. Kak Upan bobo," katanya dengan menjulurkan lidah.
"A—ah, ehehe... Jadi, mau makan stroberinya?" Taufan malu sebenarnya. Ia harus segera mengalihkan perhatian anak ini.
"Kak Upan dulu aja yang makan," kata bocah tiga tahun itu.
"Nanti kalau Blaze mau lagi gimana? Stroberinya habis, dong," elak Taufan mulus. Ia yakin karena Blaze tahu ia sangat kuat untuk melahap banyak makanan, anak itu akan segera berubah pikiran.
Dengan itu, Blaze akhirnya memakan langsung cabai merah yang sedikit lebih berisi dari kawanan cabai lainnya. Anak itu mengunyah sebentar lalu menelannya langsung.
Taufan yang tidak sempat mencegah, kebingungan sendiri. Tiba-tiba ia menyesal melakukan ini kepada adiknya. Mata adiknya kini memerah dan mulai berair. Ia panik. Mendadak tidak tahu harus apa.
"Kak...?"
Suara Blaze parau. Taufan berlari ke arah dispenser, segera mengambil air hangat dari sana. Kata ibu, air hangat bisa lebih cepat menghilangkan rasa pedas.
"Ini. Minum, ya. Cup cup... adik Kak Upan kuat, kan?" bisiknya pelan sekali. Entah Blaze mendengarnya atau tidak.
Blaze langsung meneguk air yang diberikan Taufan—
"HUWEEEEEE! PANAAAS! MULUT ADEK PANAAAS!"
"KAK HALIIII!"
"Blaze, diam, ya, Kak Upan ambilin susu dingin mau?" Taufan berbisik semakin panik. Ia menggendong adiknya yang terus meronta.
"HUWEE!"
Taufan terlonjak kaget saat tahu-tahu Halilintar merebut Blaze dari gendongannya. Wajah adiknya itu sudah sangat merah, juga berkeringat begitu banyak.
Halilintar menatapnya sekilas sebelum berlalu begitu saja membawa Blaze pergi—
"A-aw!"
—setelah menginjak kuat kakinya.
"Blaze mau es coklat?" Suara Halilintar begitu lembut jika sudah bicara dengan Blaze. Taufan tidak habis pikir. Kakaknya itu mengambil selembar tisu dari meja ruang keluarga. Mengelap wajah basah Blaze.
"M-mau... hiks!"
"Ya udah, kita ke kedai, ya."
Halilintar benar-benar pergi setelah memberikan tatapan tajam yang mengisyaratkan bahwa ia akan segera dihukum setelah ini.
Taufan menggaruk kepalanya. Pasrah lebih baik untuk sekarang. Daripada hukumannya nanti bertambah.
A/N
AKU NGAPAIN AKU NGAPAIN AKU NGAPAIN OoO
Ini ide awalnya angst, kenapa malah puter balik giniii /gulinggulingsampepusing
Okelah semoga yang udah mampir ke sini pulang dengan bahagia, ya. Bayangkan aja apa yang akan terjadi sama Kak Upan.
Atau, kalau kalian memerankan Kak Hali atau Blaze di sini, mau kalian apakan Kak Upan?
O iya. Apa kabar kalian? Semoga baik, ya. Aku juga udah baikan sekarang. Makasih ya, udah bantu aku.
Curhatnya jadi panjang gini xD. Pokoknya makasih banyak-banyak buat kalian. Semoga kita ketemu lagi, jaga kesehatan, dan... dan apa nggak tau. Lupa mau nulis apa
