"Hinata, ini untukmu."
Gadis cantik bermata hijau bening itu menyerahkan sebuah amplop coklat kecil kepada Hinata, dan memberikan isyarat untuk membukanya saat gadis Hyuuga itu melempar pertanyaan apa ini padanya.
YOU'RE INVITED TO A
WEDDING
HARUNO SAKURA
X
UCHIHA SASUKE
Saturday, 20 July—
Hinata belum benar-benar selesai membacanya, namun respon cepat segera ia berikan. Matanya melebar dan bibirnya sedikit terbuka. "Serius?" ucapnya tak percaya.
Sakura hanya tersenyum manis dengan pipi yang merona. Membuat gadis ber-parfum lavender itu segera memeluk sahabatnya erat-erat. Mengucapkan selamat serta melambungkan harapan-harapan. Tidak mudah untuk ia percayai. Sakura sudah mendamba Sasuke sejak SMA. Masih Hinata ingat dua tahun lalu dimana Sakura datang padanya dengan wajah memerah dan tangis yang menganak sungai mengatakan Sasuke baru saja menyatakan cinta. Pria dengan segenap ketidakpekaannya itu.
"Kapan kau dan Naruto menyusul?"
Sakura lantas berjalan menuju bilik kerjanya setelah melemparkan godaan tersebut. Sementara Hinata hanya tersenyum ala kadarnya.
Diam-diam mata teduhnya melirik telepon genggamnya yang menyala-nyala. Sebuah alarm pengingat dengan judul 'Konsultasi hari ini jam 4' terpampang jelas di layar.
Tatapannya berubah sendu. Ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Berusaha mengenyahkan rasa tidak nyaman yang tiba-tiba hadir. Sebelum hal itu membuatnya larut, Hinata segera menyalakan komputer dan mulai mengerjakan tumpukan berkas di sudut meja.
Oh I will, carry you over
Fire and water for your love
And I will hold you closer
Hope your heart is strong enough
When the night is coming down on you
We will find a way…
'Through the dark'
By Sir Locked
Hinata bersenandung kecil mengikuti lagu yang mengalun di toko buku favoritnya itu. Matanya tak lepas mengamati satu persatu judul buku pada rak bagian best seller bulan ini. Setelah melakukan terapi rutinnya dengan dr. Kurenai, ia memutuskan untuk pergi membeli hadiah pernikahan Sakura dan Sasuke. Berhubung toko tersebut bedekatan dengan toko buku langganannya, maka ia mampir sebentar untuk menambah koleski bacaannya.
Sebenarnya, siang tadi Naruto sudah menawari untuk mencarinya bersama. Namun bukan Hinata namanya jika tak pandai berkelit dengan berbagai alasan. Dan syukurnya Naruto mendadak harus mengantar adik sepupunya—Karin—untuk suatu urusan. Maka disinilah ia seorang diri.
Ah, omong-omong mengenai Naruto. Ia baru mengenal pemuda itu sekitar dua setengah bulan yang lalu. Ia dipindah tugas dari cabang perusahaan di Osaka ke cabang perusahaan tempatnya bekerja sekarang.
Uzumaki Naruto adalah nama lengkapnya. Pemuda yang penuh dengan energi positif, Hinata akui itu. Wajahnya masih kalah tampan dari Sasuke atau Toneri, tapi kharismanya sangat kuat, Hinata akui itu. Tubuhnya tinggi serta tegap, membuatnya cukup digilai beberapa gadis di kantor, lagi-lagi Hinata akui itu.
Namun bukan berarti ia sudah jatuh cinta pada si pemuda. Meskipun menurut Ino, si gadis yang gemar mengumpulkan informasi-informasi fakta, Naruto sedang menaruh hati padanya.
Dengan berat hati lagi-lagi Hinata mengakui, tingkah laku Naruto memang seperti mengiyakan pernyataan Ino. Bahkan pernah sekali waktu Naruto memberikannya coklat dan mengajaknya pulang bersama. Hal itu pulalah yang akhirnya membuat mereka berdua menjadi bahan kecengan teman-teman sekantor.
Tapi Hinata tidak ingin ambil pusing. Mungkin saja pemuda itu melakukannya ke banyak wanita. Baginya laki-laki itu semua sama.
Setelah menyelesaikan transaksi terhadap buku yang dibelinya, Hinata memutuskan untuk pulang.
Hari ini Sakura mengambil cuti. Ada beberapa urusan yang harus ia selesaikan berkaitan dengan pernikahannya. Hampir dua minggu lagi, pantas jika gadis itu sibuk.
Maka makan siang kali ini Hinata hanya seorang diri. Kantin ramai, tapi ia memilih menyingkir dengan mengambil meja disudut dekat jendela. Bukan berarti ia tidak memiliki teman. Ino sedang meeting sekaligus makan siang di luar kantor sedangkan Kiba sakit sejak dua hari yang lalu. Selain mereka, Hinata tidak begitu akrab.
Menu makan siangnya berupa satu paket lengkap bento dan satu air mineral dingin. Tapi Hinata tiba-tiba dikejutkan dengan satu nampan berisi rice bowl yang penuh dengan daging dan segelas es jeruk mendarat di hadapannya.
Seingatnya ia tidak memesan dua porsi dengan menu berbeda untuk makan siang hari ini. Pelan-pelan ia mendongak, kemudian mendapati cengiran yang lebih cerah dari langit diluar sana menyapanya.
"Boleh duduk disini?"
Hinata mengerjap dua kali lalu mengangguk dengan senyum kecil. Pemuda berkemeja dongker yang lengannya di gulung hingga siku itu segera duduk dengan semangat. Ia menangkupkan kedua tangan—berdoa—sebelum mulai melahap makanannya.
Tidak ada yang membuka percakapan selagi mereka menyantap makan siang masing-masing. Suatu tata karma yang memang seharusnya di terapkan bukan hanya saat acara keluarga besar, tapi setiap waktu.
Berselang lima menit Naruto yang pertama kali menyelesaikan makan siangnya. Porsi yang dapat dikatakan jumbo itu kini tandas tak tersisa. Sedangkan Hinata baru selesai dua menit setelahnya.
"Porsi makanmu besar juga, Hinata." ucapan ini milik Naruto sebagai pemecah hening.
Hinata tertawa kecil, "Aku kesiangan, jadi tidak sarapan."
Naruto mengangguk paham. "Bagaimana hadiah untuk Sakura-chan dan Sasuke? Sudah menemukannya?"
Gadis itu mengangkat alisnya. "Sudah. Kuharap mereka menyukainya. Kau sendiri?"
"Belum. Mau temani sepulang kerja?"
"Ku kira kau sudah beli sepulang mengantar sepupumu,"
"Aku ingin kau yang menemani." Melihat Hinata memutar bola matanya Naruto jadi tertawa. "Aku serius, Hinata."
"Kenapa harus aku, Naruto-kun?"
"Karena kau orang yang tepat,"
"Maksudmu?"
Naruto kembali tertawa acuh. "Sakura-chan dan Sasuke. Mereka terpaut berapa tahun?"
Hinata tampak mengingat. "Satu tahun,"
"Kita juga sama,"
Satu hal yang menjengkelkan dari sifat Naruto, pemuda itu kerap kali melempar pertanyaan dan pernyataan yang tidak jelas maksudnya. "Ya... lalu?"
"Kenapa kita tidak seperti mereka saja?"
Hinata terlonjak, "Menikah maksudmu?"
"Wah, kau ingin menikah denganku?"
Gadis itu menunduk. Setengah tertawa geli. Pertanyaan barusan terdengar seperti pemuda itu baru saja melamarnya meski dengan nada yang berbeda.
Naruto lagi-lagi tertawa. Kali ini lebih keras. Ia senang menjahili Hinata. Baginya Hinata yang sedang kesal begitu menggemaskan. "Kenapa diam?"
"Kau menyebalkan!"
"Haha... loh kenapa aku? Seperti mereka yang aku maksud itu bisa bermakna luas. Kau yang to the point,"
Hinata sedikit beranjak untuk sekedar meraih perut Naruto lalu melintirnya dengan cubitan maut. Membuat si pemilik berteriak. "Aw! iya iya, ampun..."
Naruto mengelus perutnya yang terasa panas. Cubitan Hinata tidak main-main rupanya. Melihat gadis itu menekuk wajah membuat Naruto tersenyum.
"Kau ingin menikah?"
Perubahan wajah Hinata tidak luput dari penglihatan tajam Naruto meski sedetik. Gadis itu menjawab. "Aku tidak bilang begitu,"
"Jadi kau tidak ingin menikah?"
Tiba-tiba Hinata tertawa tanpa sebab, "Kau ini bicara apa? Ah ya, aku harus menyerahkan laporan. Aku duluan, Naruto-kun."
Selalu seperti ini. Sudah dua setengah bulan ia mengenal gadis ini, tapi belum benar-benar mengenalnya. Instingnya mengatakan ada banyak misteri yang tidak ia ketahui dari seorang Hyuuga Hinata.
Gadis itu seperti membuat benteng yang tinggi dan kokoh, hingga Naruto sulit untuk menembusnya.
Bagaimana ia tahu?
Intuisi akan menjadi lebih kuat jika menyangkut orang yang dicintai bukan?
Ada kalanya di satu waktu, saat Naruto melihat pada satu titik dan untuk sejenak tidak berpaling, maka objek itu adalah Hinata.
Sekadar mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Hinata. Ia melihat gadis itu sebagai sosok yang suram. Bilik kerjanya berada di pojok ruangan. Jarang berbicara dan selalu tampak malu-malu.
Tapi pandangannya berubah total ketika tanpa sengaja di hari sabtu pagi, ia bertemu gadis itu pada sebuah panti asuhan khusus anak-anak disabilitas.
Karin yang saat itu menjadikan anak-anak disabilitas sebagai objek tugas akhirnya memaksa Naruto untuk mengantarnya kunjungan ke salah satu panti. Maka disanalah ia bertemu Hinata yang kebetulan sedang melakukan distribusi barang-barang donasi. Menurut informasi yang tak sengaja ia dengar, ternyata Hinata turut tergabung sebagai salah satu anggota donatur tetap panti tersebut.
Diam-diam Naruto bersyukur. Setidaknya ia dapat menemukan sisi lain dari seorang Hinata.
Bagaimana tidak, masih kental dalam ingatannya betapa bersinarnya Hinata saat itu. Senyumnya penuh cinta dan tawanya penuh bahagia. Bisa ia rasakan kasih sayang yang terpancar dari sosoknya ketika bercengkrama dengan anak-anak panti.
Membuatnya spontan bertanya dalam hati, yang mana Hinata yang asli? Saat di kantor, atau yang ada di hadapannya sekarang?
Mulai detik itulah ia ingin mengenal gadis itu lebih dekat—lebih dekat dari seorang teman.
Pagi itu tidak seperti biasanya. Hinata datang dengan mata membengkak. Wajahnya kusut luar biasa. Tapi yang lebih tidak biasa lagi gadis itu tetap tertawa, tetap menunjukan performa terbaiknya serta senyum manisnya yang tak luput dari mata biru Naruto.
Dan hebatnya orang-orang tampak tidak peduli.
Hanya ada dua kemungkinan. Hinata yang pintar menyembunyikan, atau Naruto yang terlalu peka.
Naruto beranjak dari kursi dengan segenggam cangkir. Berjalan kearah dispencer untuk mengisi kembali tehnya yang tinggal setengah. Saat ia berjalan melewati bilik Hinata, gadis itu sedikit menoleh. Bibirnya pucat, matanya tampak sayu.
"Kau kenapa?" Naruto berhenti. Mengurungkan niatnya seputar teh, ia lebih memilih menghampiri Hinata dan menanyakan hal tersebut.
Hinata tersenyum tapi tidak benar-benar tersenyum. Sudut bibirnya sedikit bergetar. Seperti memaksakan diri. Belum lagi ia mengerjap-ngerjapkan mata demi menghalau sesuatu yang ingin tumpah.
"Kenapa bertanya begitu? Apa aku terlihat berantakan?" Hinata menimpali dengan jenaka. Berusaha mati-matian untuk meredam emosi agar tidak menimbulkan curiga. Ia sibuk merapikan berkas-berkas laporan yang akan ia selesaikan hari ini. Menghindar dari tatapan penuh selidik Naruto.
Tapi tiba-tiba tubuhnya menegang. Ketika jemari Naruto mengacak poninya lembut seraya tersenyum penuh makna, "Tidak baik memendam sesuatu. Ceritalah, aku pasti dengarkan."
Hinata terdiam di posisinya saat Naruto berlalu. Wangi parfum maskulinnya begitu menggelitik. Serta sesuatu yang entah mengapa terasa nyaman masih ia rasakan di keningnya. Menggoda tiap sel-sel dalam tubuh untuk mengakui meski Hinata tetap pada pendiriannya, menyangkal.
Ia hanya tidak ingin segalanya bertambah rumit. Keputusan Sakura untuk pindah ke Hokkaido setelah menikah sudah cukup mengguncangnya. Ia tidak ingin dianggap berlebihan, tapi tidak mampu menahan diri. Ia mengenal Sakura lebih dari siapapun, begitupun sebaliknya. Persahabatan mereka sudah terbangun sejak keduanya berusia belia. Berat baginya menerima bahwa semua tidak akan pernah lagi sama.
Hinata melirik kalender meja di samping komputernya. Minggu depan gadis merah muda itu akan menikah. Waktu berjalan sangat cepat. Ia tidak mungkin bertingkah kekanakan dengan menghentikan acara itu. Tindakannya tidak berdasar jika alasannya hanya tidak ingin Sakura pergi dari hidupnya.
Satu tetes air mata jatuh. Segara ia hapus sebelum seseorang kembali memergokinya. Padahal tiga meter diagonal dari biliknya, Naruto tetap setia memandangi.
.
Hinata memutuskan untuk tidak makan siang hari ini. Sakura dan Sasuke mendapat jatah cuti menikah satu minggu sebelum hari pernikahan. Itu sudah menjadi kebijakan perusahaan. Ino dan Kiba sudah mengajaknya makan siang namun ia menolak.
Matanya terpejam kala angin bulan Oktober menerpa wajahnya. Ia selalu menyukai atap gedung ini. Sunyi dan tentram. Karena pada jam-jam istirahat seperti ini banyak orang memilih berada di kantin untuk mengisi kekosongan perut ketimbang menyendiri seperti dirinya.
Langit sedang mendung. Awan kelabu tampak bergerumul dari arah selatan. Tapi Hinata tidak peduli. Pikirannya sedang tidak menentu. Ramai oleh hal-hal yang Hinata sadari tak semestinya singgah pada benaknya yang mudah kalut.
Terapinya baru berjalan satu bulan dengan jadwal satu minggu pertemuan. Sepertinya memang prosesnya tidak semudah itu.
Gadis itu menarik nafas dalam lalu menghembuskannya. Ia lelah menjadi seperti ini.
"Sendirian saja?"
Hinata nyaris berteriak ketika suara berat itu mengalun sangat dekat dengan telinganya. "Naruto-kun!" tangannya refleks memukul bahu pemuda itu.
Sedangkan si pelaku tertawa puas. "Makanya jangan melamun,"
"Aku tidak melamun!" sewot Hinata. Jantungnya masih bertalu. Untung ia tidak mati berdiri.
Berusaha meredakan tawanya Naruto kembali bertanya, "Kenapa tidak makan?"
"Sedang tidak ingin." Lalu tiba-tiba Hinata menatapnya heran. "Tunggu. Bagaimana kau tahu aku disini?"
Pemuda itu justru menyeringai. "Anyway, aku baru saja delivery. Mau makan bersama?" ia mengangkat kedua tangannya yang menenteng plastik berisi makanan cepat saji. Hinata menatap tak percaya. Instingnya mengatakan Naruto sengaja membeli dua porsi burger lengkap dengan minuman soda. Tapi kenapa ia harus ber-insting demikian?
"Aku tidak lapar,"
"Jangan begitu, nanti kau sakit. Lagipula kau tega membiarkan aku menghabiskan dua porsi ini sendirian?"
Hinata menahan tawanya. "Aku tidak pernah minta kau belikan burger,"
"Setidaknya aku peka tanpa harus kau kode. Sudahlah, ayo..." Naruto menarik lengan Hinata, memaksanya menjauh dari pagar pembatas sekaligus membiarkan gadis itu terperangah oleh kalimatnya.
"Kita makan disini saja ya, tidak apa kan?" tanyanya sambil menunjuk lantai yang tidak terlalu kotor. Naruto segera mendudukan diri, bahkan sebelum Hinata memberikan persetujuannya.
Suasana terasa hening. Tidak ada yang membuka percakapan.
Gadis itu menyantap burgernya tanpa semangat. Tatapannya yang kosong tertuju pada langit yang mulai menggelap. Beruntung Naruto memilih tempat yang cukup terlindungi oleh plafon sehingga tidak menjadi masalah bila hujan tiba-tiba turun.
Tanpa sengaja Naruto mendapati Hinata yang justru melamun. Burgernya masih tersisa banyak, sedangkan minumannya belum tersentuh sama sekali. Pemuda itu menghela nafas. Sebenarnya apa yang sudah mengganggu pikiran Hinata?
Naruto mencolek hidung mungil gadis itu hingga ia tersentak kaget. "Katanya tidak melamun,"
Hinata menunduk malu. Ia tidak bisa berkelit karena sudah terlanjur kepergok, dan memilih menghabiskan burgernya dengan segera.
Naruto tersenyum. "Aku tidak akan memaksa kalau tidak ingin cerita. Tapi jika butuh, aku selalu siap dua puluh empat jam,"
Gadis itu sejenak menghentikan kegiatannya. Meresapi kalimat demi kalimat yang Naruto ucapkan sejak tadi yang entah mengapa nyaris meruntuhkan dinding pertahanannya untuk tetap diam. Ia hanya tidak ingin menyesal karena sudah bercerita.
"Aku hanya... berfikir itu tidak penting, jadi..."
"Kenapa berfikir begitu?"
Hinata diam. Ia tidak punya alasan untuk dijadikan jawaban. Ia hanya menunduk lalu menyeruput minuman sodanya yang hampir habis.
"Well, minggu depan mau pergi bersamaku?" Naruto berusaha mengubah topik. Ia tidak ingin memaksa Hinata untuk berbagi. Mungkin gadis itu tidak nyaman jika privasinya diketahui orang lain.
"Kemana?"
"Pernikahan Sakura-chan dan Sasuke, tentu saja."
"Ohh..."
Naruto tersenyum jahil. "Kenapa kecewa? Jika yang kau fikir itu mengajakmu kencan, aku bisa mengajakmu hari ini juga,"
Hinata melotot, "Aku tidak berfikir begitu,"
"Kenapa tidak berfikir begitu?"
Hinata gelagapan, bingung mencari timpalan atas pertanyaan Naruto yang mulai ngaco. "Ya... kenapa harus...?
"Karena aku peka tanpa harus kau kode, ingat?"
"Naruto-kuun!"
Tawa keras Naruto terdengar samar oleh suara hujan.
Ini adalah hari yang besar baik untuk Sasuke maupun Sakura. Keduanya tampak bersinar di ujung altar.
Dalam konteks apapun, sebagai seorang pengantin, Sakura sukses menjadi wanita tercantik di ruangan besar ini. Dengan tubuh semampai, kulit bersih, serta riasan sempurna sukses membuat ratusan pandang mata tak lepas dari sosoknya. Gaunnya mahal, menjuntai anggun tiap kali ia melangkah.
Seharusnya memang begitu 'kan?
Tapi bolehkan Naruto bertanya pada dirinya sendiri mengapa Haruno Sakura tidak lebih menarik dari gadis yang setia berdiri di sampingnya sejak satu setengah jam yang lalu? Atensinya tidak sejenak pun dibiarkan terbebas untuk tidak memandang sosok yang kini tengah menghayati atmosfir haru yang diciptakan dua pengantin di depan sana.
Mungkin sudah ratusan atau bahkan ribuan kali hatinya berkomat-kamit mengagumi betapa cantiknya seorang Hyuuga Hinata saat ini. Lihatlah gaun abu-abu berbahan tulle yang menjuntai menutupi kaki jenjangnya. Atau bergeser naik ke arah rambut indahnya yang ditata sedemikian rupa dengan aksesoris bunga pada satu sisi. Terakhir, hal yang membuat Naruto tampak seperti melihat refleksi dari malaikat ; wajahnya yang terpoles riasan.
Untuk pertama kalinya gadis itu menunjukan sisi tersembunyi dalam dirinya. Ya begitulah sekiranya menurut Naruto.
Hinata tidak pernah merias diri. Sehari-hari tampilannya sederhana. Tapi sekarang?
Secara tidak sengaja gadis itu menoleh, mendapati iris biru samudera menatapnya. "Kenapa?" bisiknya.
Naruto tersenyum. Sungguh menawan. "Kau cantik sekali,"
Hinata tidak tahu harus bereaksi seperti apa selain memamerkan rona pipinya yang semakin pekat karena blush on serta ucapan terima kasih. Namun anggapannya bahwa Naruto akan berhenti menatapnya lalu fokus pada kedua pengantin ternyata salah besar.
Bahkan sampai upacara ucap sumpah usai, pemuda itu benar-benar membuatnya seperti terbakar di senja hari oleh tatapannya yang terlalu menghujam.
Acara resepsi dimulai pukul tujuh tiga puluh malam. Tamu undangan bertambah berkali lipat. Sakura adalah gadis yang ramai. Ia mudah berbaur dengan setiap kalangan. Tidak heran sebagian besar tamu undangan adalah teman-temannya.
Hinata memilih sedikit menyingkir untuk mengambil secangkir teh hijau. Tubuhnya tidak pernah tersentuh oleh wine, champagne atau minuman semacam itu, jadi ia skip untuk meja bundar di tengah ruangan sana.
Dengan Naruto yang setia menemani tentu saja.
"Aku tidak bisa membayangkan." katanya. Tangan kirinya tenggelam dalam saku celana.
"Membayangkan apa?"
"Pesta pernikahanku sendiri,"
Alis berukir Hinata sedikit meninggi. "Kenapa?"
"Karena jika aku membayangkan, aku jadi ingin segera menikah,"
Hinata tertawa. "Sekarang saja sebelum pendeta pulang,"
Naruto menatapnya dengan terkejut. "Kau ingin menikah saat ini juga?"
Giliran Hinata yang terkejut. "Loh, kenapa jadi aku?"
"Kau baru saja mengajakku menikah sekarang juga."
Sepersekian detik Hinata seperti kehilangan akal sehatnya. Namun tawa renyah milik Naruto sukses membuatnya memahami kemana pemuda itu menggiring topik pembicaraan. "Naruto-kun!"
"Haha... baiklah, baiklah. Aku bertanya serius sekarang," Naruto meletakan cangkirnya lalu menatap Hinata lamat-lamat. "Jika kau tidak ingin denganku, kau ingin menikah dengan siapa?"
Hinata diam. Sempat terfikir olehnya Naruto kembali melempar pertanyaan jebakan. Tapi ia urung. Melihat kilatan serius dari kedua matanya benar-benar membuat Hinata diam. Tidak tahu ingin menjawab apa. Atau enggan mengutarakan jawabannya.
"Aku... belum terfikir tentang itu,"
"Kenapa?"
Ia kembali terdiam. Kali ini memutar otak untuk menemukan jawaban yang tepat. Ada banyak kerumitan yang tidak bisa ia bicarakan. Perang yang sering terjadi dalam dirinya ketika kerumitan itu muncul. Tidak kepada Naruto. Hinata belum siap.
Disaat yang bersamaan, mata teduhnya menemukan sosok berjas hitam di ujung ruangan. Berseberangan dengan posisinya saat ini.
Jantungnya seperti berhenti. Aliran darahnya tersumbat. Oksigen seolah terserap hingga membuatnya begitu sesak. Ia tidak ingin berfikir mengapa dia ada disini. Hinata tidak sempat. Tangannya yang bergetar hebat secara refleks menggenggam lengan Naruto.
"Kau kenapa, Hinata?"
Naruto tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia mengikuti arah pandang gadis itu. Mencoba menemukan jawaban. Hanya kerumunan pria dengan jas sama warna di ujung ruangan, saling berbincang dengan segelas champagne di tangan.
"A-aku ingin pulang,"
"Pulang? acara belum selesai,"
"Aku tidak peduli, aku ingin p-pulang,"
"Tapi kenapa?"
"K-kumohon, Naruto-kun. Aku ingin pulang,"
Meski Naruto dilanda kebingungan yang luar biasa, tapi wajah Hinata yang menunjukan gadis itu amat ketakutan membuatnya tidak kuasa. "Baiklah, aku pamit dulu,"
"T-tidak perlu!" lengannya di cengkram erat. "A-aku akan mengirimi Sakura pesan besok pagi,"
Tanpa negosiasi yang lebih panjang, Hinata menarik lengan pemuda itu untuk segera pergi. Langkahnya sedikit tergesa-gesa.
Naruto kembali mengingat ke beberapa menit yang lalu. Mungkin saja ada perkataannya yang menyinggung Hinata atau sikapnya yang kelewat menyebalkan hingga membuat gadis itu kehilangan moodnya. Tapi Naruto menggeleng. Perubahan sikap Hinata sama sekali tidak memperlihatkan bahwa ia sedang unmood, tapi ketakutan.
Saat Naruto, untuk yang kedua dan terakhir kalinya, menoleh pada kerumunan di ujung ruangan, ia baru menyadari sosok berambut perak tengah memperhatikan mereka berdua.
"Tidak makan siang?"
Naruto terperanjat. Ia menarik salah satu ujung bibirnya. "Duluan saja. Nanti aku menyusul."
Kiba yang penasaran kemudian menoleh. Arah diagonal dari posisinya. Ketika kembali menatap Naruto alis kirinya meninggi. "Jenguk saja ke apartemennya. Tidak ada gunanya terus menerus menatap bilik kosong,"
Naruto mendengus, "Apanya?"
Kiba meninju bahu pemuda itu dengan sedikit kencang. "Tidak usah pura-pura, ya." Cibirnya. "Kau bisa tanya Sakura untuk alamatnya,"
Dengan cepat Naruto menoleh. "Sakura masuk hari ini?" ucapnya meyakinkan.
"Ada beberapa kepentingan yang harus ia selesaikan sebelum mengajukan resign. Ia lebih banyak berkutat di ruang sekertariat hari ini. Kupikir ia mempercepat masa cutinya."
Penjelasan Kiba cukup masuk akal, karena hari ini ia tidak melihat gadis pinky itu lalu lalang di ruang kerja mereka. Seketika pikirannya berputar cepat. Ada baiknya ia bertanya pada gadis itu mengenai keabsenan Hinata dua hari ini.
Ingatannya kembali melayang pada hari dimana dengan wajah ketakutan gadis itu memilih pulang di pertengahan acara. Sikapnya berubah. Bahkan sepanjang perjalanan pun ia tampak gelisah. Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah ada hubungannya dengan pria berambut perak yang memperhatikan mereka di ujung ruangan? Siapa dia?
Pesannya tidak pernah terkirim pada Hinata. Gadis itu seperti sengaja mematikan data. Meskipun Kakashi, selaku atasan mereka bilang Hinata izin karena sakit, tapi Naruto tetap khawatir. Hinata tampak menghilang.
Naruto mengetik sebuah pesan di ponselnya. Ketika mengetahui orang tersebut segera membalas pesannya, ia tampak bersemangat.
"Kiba, boleh titip pesankan aku makan siang? Aku ada sedikit keperluan."
Sejauh yang ia tahu, sejak awal kehidupan tidak pernah membiarkannya berharap. Acap kali hal itu melambung tinggi, nyatanya hanya akan jadi sebuah mimpi. Maka, sejak yang tidak ia ketahui kapan, harapan tidak pernah lagi menjadi alasan motivasinya untuk bertahan hingga saat ini.
Tapi bukan berarti hatinya ikut mati. Tuhan selalu menegurnya lewat hal yang satu itu.
Ketika semesta memberikannya kesempatan, ia justru menyangkal habis-habisan. Membekukan setiap aliran darahnya. Menumpulkan segala kewarasannya. Menyiksa diri bahwa akhir yang sama pasti akan kembali menampar. Bahkan mungkin bisa menjatuhkannya ke jurang yang lebih dalam.
Hinata tidak pernah sebimbang ini sebelumnya. Atau mungkin ia pernah, tapi tidak ingin mengingat.
'Hal buruk yang pernah dilakukan seseorang adalah ketika ia sakit, ia justru membuang obatnya'
Hinata ingat kalimat itu. Kurenai yang mengatakannya.
"Kau suka hujan?"
Pemuda itu selalu ada. Dimanapun. Dalam keadaan apapun. Meski kehadirannya tidak pernah diundang. Semilir angin sedikit memainkan anak rambut pirangnya ketika Hinata menoleh. Hujan baru berhenti dua puluh menit yang lalu. Akan menyenangkan jika menikmati hawanya di atap gedung seperti ini.
"Begitulah."
"Aku bisa menemukan kecocokan antara kau dan hujan,"
Hinata sedikit mendelik, "Jangan mulai lagi,"
Naruto tertawa, "Tidak, tidak. Aku serius. Refleksimu ada pada hujan,"
"Aku tidak mengerti,"
Naruto membalas tatapan bingung itu dengan sebuah senyuman. Ia menunjuk sedikit jauh ke arah utara, "Kau lihat awan gelap diujung sana? Disana mungkin hujan baru turun, sedangkan jalanan sekitar gedung ini sudah basah. Tapi bisa jadi angin kencang justru membuat awan itu terusir dan malah tidak menurunkan hujan sama sekali,"
Tatapannya kembali mengarah pada Hinata. "Angin mengacaukannya, padahal ia ingin sekali menurunkan hujan disana,"
"Beberapa hal memang tidak sesuai dengan keinginan, tapi jika melihat dari sudut pandang yang lain, banyak hal positif yang bisa dimengerti,"
Sejenak terdiam. Naruto memberikan sedikit jeda agar Hinata dapat memahami perkataannya. Pandangan gadis itu menerawang jauh pada objek yang Naruto tunjuk sebelumnya. Alisnya sedikit mengkerut.
"Tapi hampir tidak ada hal positif." Lirihnya. Seperti berbicara untuk dirinya sendiri.
"Itu hanya menurutmu,"
Hinata tertawa kecil. Sekarang malah tampak seperti mengejek dirinya sediri. "Lupakan saja. Kau tidak akan mengerti,"
Naruto memandangnya lamat-lamat. Sudah berbagai cara ia lakukan untuk menghancurkan dinding yang menyembunyikan Hinata. Nyatanya gadis itu sendirilah yang meperkokoh, hingga tidak satu orangpun berhasil masuk kedalam dan menemukan siapa dirinya.
Tidak ada cara lain lagi selain mendobraknya dengan paksa. Sebelum hati itu benar-benar mati.
"Aku ingin mengajakmu pergi pulang kerja ini. Kau ada waktu?"
"Um... aku tidak bisa,"
"Kenapa?"
Hinata sedikit menggigit bibir dalamnya. "Aku... ada keperluan lain. Mungkin lain kali?"
"Keperluan apa?"
Kali ini bola mata amethysnya yang bergerak gelisah. Hinata tahu itu hanya sebuah pertanyaan, tapi ia tidak berani memberikan jawaban. Jawaban sebenarnya.
"M-mengapa kau harus tahu?"
Naruto menghela nafasnya sejenak. Tatapannya kembali lurus ke depan. Memandang hamparan langit yang kelabu.
"Jika keperluan yang kau maksud adalah menemui Kurenai, aku bisa mengantarmu,"
Bagai petir imajiner yang menghantam telak jantung Hinata, untuk beberapa detik ia kehilangan nafasnya. Wajahnya menoleh cepat dengan raut yang luar biasa terkejut. Memandang Naruto seperti pemuda itu baru saja mengakui ia seorang vampir. Tangan-tangan mungilnya bergetar hebat.
Dan angin yang baru saja berhembus berhasil mengantarkan keterkejutan itu pada Naruto.
"K-kau..."
Lantas Naruto menoleh. Kedua biru samudranya sedikit menajam, memberikan kesan bahwa ia sedang serius saat ini.
"Selalu mendapatkan perlakuan keras sejak kecil dari laki-laki yang seharusnya menjadi panutan. Kau selalu dibanding-bandingkan dengan adikmu."
"…"
"Ketika kau mengungkapkan perasaan, namun justru diabaikan dan dianggap pengganggu."
"…"
"Atau ketika kau mendapat perlakuan bejat dari seseorang yang nyatanya sangat kau cintai," secara tiba-tiba pemuda itu menyibak poni rata Hinata, memperlihatkan bekas luka di dahi kirinya. "Bajingan itu pernah membenturkan kepalamu pada ujung meja 'kan? Menendang tulang keringmu hingga memar selama dua minggu?"
Hinata hanya diam. Tak henti-hentinya Naruto memberikan kejutan. Nyaris membuatnya hilang kesadaran. Kini lengan kokoh pemuda itu mengelus pipinya dengan lembut. "Dia selalu menamparmu ketika kau melakukan suatu kesalahan. Membentakmu dengan keras,"
"Dua setengah tahun. Selama itu kau mencoba untuk lepas namun ia selalu mengancam. Ia akan berlaku nekat dengan merampas milikmu jika kau berusaha menyudahi hubungan kalian,"
"…"
Pertahanannya runtuh. Benar-benar hancur. Dobrakan besar yang Naruto lakukan berhasil menghancurkan dinding kokoh yang menjadi tempat persembunyian Hinata selama ini. Gadis itu menangis. Pipinya banjir oleh air mata.
"Aku tahu saat ini kau mengidap gangguan kecemasan berlebihan. Selalu melakukan konsultasi rutin dengan psikiater. Jika kau menganggap itu suatu hal yang buruk, kau salah besar."
Tanpa Naruto ketahui, jemari Hinata gemetar hebat. Ada rasa yang bertalu-talu dalam dadanya. Ada banyak yang ingin ia sampaikan mengenai semua hal yang pemuda itu katakan mengenai masalalunya. Apa yang benar atau tidak, meskipun semua yang Naruto katakan sudah jelas tidak memerlukan klarifikasi apapun dari Hinata.
"Terima kasih. Sudah bertahan sejauh ini. Sudah mengizinkan semesta untuk memberikan kesempatan. Dan membiarkan aku untuk datang," selagi kalimat itu terucap halus, Naruto meraih tangan Hinata yang gemetar lalu mengelus pergelangan tangannya.
"D-darimana... kau... t-tahu?" tanya Hinata terbata.
"Apa itu penting?"
Naruto membawa tangan itu mendekat lalu mengecupnya dalam. Namun si pemilik segera menariknya, sedikit berjalan mundur dengan wajah linglung.
"K-kau selalu menawarkan hal yang bagiku hanya angan belaka. S-sesuatu yang aku hampir yakini tidak akan pernah ada. Dan jikalaupun kau benar-benar memberikannya, aku takut jika itu akan berubah terkikis waktu,"
"D-dulu yang kulakukan adalah menerima segala tawaran kebahagiaan. Tapi apa yang aku dapat?" tangisnya kembali pecah.
Naruto tahu, ia tidak bisa memberikan sebuah janji pada Hinata. Meskipun apa yang ia rasa saat ini adalah suatu kesungguhan, tapi meyakinkannya bukanlah hal yang mudah. Memberikan janji pun bukan solusi. Ketika ia sedang lalai, ia bisa saja tanpa sengaja melanggar janjinya. Lebih menyakiti Hinata.
Naruto mendekat. Motoriknya bergerak secara sadar ketika ia menarik Hinata dalam rengkuhannya. Menenggelamkan tubuh kecil itu dalam kenyamanan yang berusaha ia berikan.
"Aku mencintaimu, Hinata. Itu sungguh." Wajahnya terselip di helaian rambut Hinata. "Aku tidak akan memaksamu untuk percaya ataupun membalasnya, tapi biarkan aku ikut berjuang bersamamu."
Naruto bukan pemuda yang romantis. Sakura bilang sosoknya justru terlalu realistis dan hanya mengikuti kata hati yang dirasanya benar. Tapi kali ini Hinata merasa seluruh tubuhnya menghangat dan jauh lebih hangat ketika dengan ragu ia mencoba untuk membalas pelukan Naruto. Ucapannya, dengan intonasi yang berat dan serak, seperti sebuah sihir. Membawa suatu rasa dalam benaknya tergerak untuk percaya.
Bahwa pemuda ini tidak akan menyakitinya.
Hinata kembali menangis. Dalam hati berulang kali mengucap syukur pada Tuhan. Keinginannya hanya sebatas ia mampu melewati semuanya dan menemukan kebahagiaan bagi dirinya sendiri.
Tapi tanpa ia pernah harapkan pemuda ini datang. Membawa getaran yang justru ia takuti sebelumnya. Menawarkan cahaya yang terang bagi dunianya yang suram. Meski banyak rintangan yang mungkin menunggu di depan sana, tapi kehadiran Naruto seperti mengatakan semua akan baik-baik saja.
"T-terima kasih," lirihnya dalam pelukan. "T-terima kasih, s-sudah datang,"
Naruto tersenyum. Tangannya mengelus kepala Hinata. "Sama-sama, Sayang,"
Secara spontan Hinata menyemburkan tawa gelinya. "P-percaya diri sekali, kita belum resmi,"
"Resmi yang bagaimana maksudmu?"
"Um... pacaran, mungkin?"
"Jadi secepat ini kau berubah pikiran?"
"Maksudmu?"
Masih dalam posisi yang tak berubah. Berlatarbelakang langit mendung, Naruto kembali memonopoli Hinata dengan pertanyaan-pertanyaannya yang ambigu.
"Mau jadian sekarang?"
"Hah? A-aku tidak bilang begitu. Katanya kau tidak memaksa,"
"Habis kau terlihat tidak sabar,"
"A-aku tidak terlihat begitu,"
"Jadi kau mau bagaimana?"
Hinata tersenyum, tanpa sadar mennyamankan kepalanya di pundak Naruto. "Begini saja,"
"Tetap berpelukan sepanjang waktu maksudmu? Oke, aku tidak keberatan,"
"B-bukan begituu..."
"Agar aku bisa memelukmu ketika kau tidur, kau bangun, kau masak, kau mandi—Ouchh!"
"Naruto-kuun!"
Cubitan kali ini tidak main-main. Benar-benar perih. Tapi setidaknya gadis itu kembali tersenyum.
.
.
I wish that I could take you to the stars
I'd never let you fall and break you heart
And if you wanna cry or fall apart
I'll be there to hold you
.
.
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Noted : Ada banyak dilema ketika menyelesaikan tahap akhir, gak ingin terkesan ngegantung tapi kalo mentokin biar pas malah takutnya kepanjangan
I try to do my best, so, just hope you guys like it...
Kalian dapet inti dan poinnya apa? boleh tinggalin lewat review :)
By,
Sir Locked
