jenojaem00 presents to you

.

Aurora and The Moonlight (SasuSaku ver.)

.

Haruno Sakura x Uchiha Sasuke

Naruto / Masashi Kishimoto

.

warning: OOC, conflictless, plotless, typo(s)

.

Enjoy!

.

.

.

Uchiha Sasuke bukanlah mahasiswa menonjol di kampusnya. Ia pintar, tapi tidak ambisius. Ia tinggi, tapi selalu menghindari kerumunan. Ia keren, tapi tidak suka bersosialisasi. Jadi kelas studio mayor yang diambilnya semester ini adalah siksaan baginya: kolaborasi mayor. Jurusan desain komunikasi visual kampusnya memiliki berbagai jurusan konsentrasi, seperti fashion graphic, creative advertising, game graphic, dan seperti yang Sasuke ambil, graphic design.

Sasuke sudah membenci konsep kolaborasi antar jurusan konsentrasi, dan ide untuk memasangkannya dengan mahasiswa dari konsentrasi yang berbeda secara acak menambah tingkat ketidaksukaannya pada proyek studio kali ini.

Di hadapan Sasuke duduk seorang mahasiswi dari konsentrasi fashion graphic. Tidak masalah jika seseorang yang dipasangkan dengannya adalah gadis kutu buku atau gadis yang biasa-biasa saja. Tapi yang ada di hadapannya ini adalah salah satu mahasiswi yang sering dibicarakan laki-laki di jurusan konsentrasinya.

Gadis berhelaian merah muda itu entah kenapa terlihat sangat cocok berada di jurusan konsentrasi yang diambilnya. Rambut panjangnya terlihat lembut dengan ikal di bagian bawah. Ia memakai oversized kardigan hijau tua yang menutupi kaos hitam slim fit-nya, dipadukan dengan jeans dan snaffle loafer Dr. Martens. Menilik sekilas penampilannya, Sasuke seperti melihat tipikal gadis populer yang malas belajar dan sulit diajak bekerja sama.

Gadis itu mengetuk meja yang memisahkan mereka. Sasuke meliriknya malas ketika mendapati partner-nya selama satu semester ke depan itu memberinya senyum cerah yang nyaris membuatnya silau.

"Walau kau mungkin sudah mendengar namaku disebut tadi, biar kuperkenalkan lagi. Haruno Sakura, dari konsentrasi fashion graphic," katanya ramah. Sasuke dapat merasakan sesuatu menggelitik dadanya saat mendengar suara Haruno Sakura.

"Uchiha Sasuke. Graphic design," balas Sasuke pendek. Ia tidak bisa berbasa-basi, dan tidak suka melakukannya. Biasanya itu ampuh untuk membuat lawan bicaranya berhenti bicara atau bertanya macam-macam.

"Setelah penugasan tadi, kurasa kita harus menentukan tema untuk konsep desain kita, bukan begitu Uchiha-kun?" katanya sambil mengeluarkan buku catatan.

Sasuke mengernyitkan alisnya. Pertama, karena gadis ini kelihatannya tahan terhadap sifat stoic dirinya. Kedua, karena ternyata gadis ini berinisiatif untuk membahas proyek mereka. Ketiga, dan yang paling aneh menurut Sasuke, ini adalah kali pertama seseorang memanggilnya dengan sufiks '- kun' di pertemuan pertama. Ketimbang melihat sosok manja yang tadi sempat melintas di pikirannya, Sasuke seperti melihat seseorang yang berani menantang apapun. Seseorang yang berjiwa bebas. Sangat berkebalikan dengannya.

Melihat Sasuke yang tidak merespon, Sakura tidak ambil pusing. Ia membuka ponselnya dan mengetikkan sesuatu, lalu entah men scroll apa, sampai akhirnya ia menyodorkan ponselnya pada Sasuke.

"Apa?" tanya Sasuke tidak minat.

"Konsep teknokultural akan menjadi tren, menurut jurnal ini," jelasnya. Sasuke mau tidak mau ikut membaca baris demi baris yang ditampilkan di ponsel Sakura. "Maksudku, bukan hanya menggabungkan teknologi dengan budaya, tapi teknologi yang beriringan dengan budaya. Kau paham maksudku, kan? Teknologi yang memudahkan…"

Oke. Sampai di sini Sasuke merasa pemikiran dan penilaiannya pada Sakura salah besar. Sakura ternyata cukup aktif dalam diskusi kelompok—yang pada situasi ini justru seperti drama monolog karena Sasuke hanya memberikan respon satu dari seratus. Ia juga tidak melibatkan emosinya di sini, jadi tidak memusingkan Sasuke yang banyak diam dan menanggapinya dengan kurang ramah.

"Baiklah, aku catat dulu konsep ini…" katanya sambil menuliskan 'teknokultural' pada daftar pertama di bukunya. Ia selesai menulis, lalu mengangkat kepalanya. "Kau punya ide, Uchiha-kun?"

"Tidak," kata Sasuke langsung. "Tapi konsep tadi bagus juga," tambahnya, entah kenapa merasa tidak enak menanggapi Sakura dengan satu-dua kata saja, sedangkan hampir satu jam ini hanya gadis itu yang berbicara.

Sakura memberinya senyum kecil. "Senang mendengarnya dari orang jenius sepertimu," katanya dengan nada ringan.

"Aku tidak jenius," bantah Sasuke, kembali ke nada datar dan wajah malasnya yang sudah menjadi trademark.

"Wajahmu mengatakan kau adalah anak jenius yang banyak belajar dan bermain game," kata Sakura tanpa ragu.

Sasuke menghela napas, malas menanggapi ocehan Sakura yang sepertinya tidak akan berhenti jika ia terus-terusan merespon. Sasuke memasukkan buku catatannya ke dalam tas lalu berdiri. Sakura yang melihatnya melakukan hal yang sama, membuat Sasuke meliriknya.

"Jadi kita akan mengerjakan tugas ini kapan, Uchiha-kun?"

Sasuke merasakan peilipsnya berkedut. Rupanya gadis merah muda ini salah memahami sikap diamnya sejak tadi.

"Aku akan pulang," kata Sasuke tanpa basa-basi.

Sakura tampak menaikkan kedua alisnya. "Lalu? Bagaimana dengan tugas ini? Kapan aku bisa menemuimu lagi? Kau selalu ada di gedung ini, kan?"

Sasuke tidak mendengarkan omongan Sakura selanjutnya. Ia kembali membuka tasnya, mengeluarkan selembar kertas dan bolpoin, kemudian menuliskan kontaknya pada Sakura.

"Hubungi saja ke nomor itu," dan sebelum Sasuke keluar dari kelas, ia sempat berbalik lagi pada Sakura yang masih memandangi kertasnya. "Hubungi jika kau benar-benar harus dan butuh."

.

.

.

Malam itu Sasuke memandang layar komputernya dengan serius. Ia sedang mengerjakan beberapa konsep untuk desain UX sebuah toko cake dan dessert yang harus dikumpulkan satu bulan lagi. Satu bulan mendesain website bukanlah waktu yang sebentar, ditambah ia harus mengerjakan tugas dari mata kuliah lainnya.

Ketika Sasuke memeriksa kembali hasil pekerjaannya, ia mendengar suara notifikasi masuk ke dalam ponselnya. Mengira itu pesan dari grup kelas, ia mengambil ponsel dan mengeceknya. Ia menaikkan sebelah alis melihat nama Haruno Sakura mengirimi tiga pesan singkat ke instant messenger-nya.

Hai, Uchiha-kun! Kuharap aku tidak mengganggumu malam-malam begini.

(1 attached file)

Jangan lupa periksa attachment yang aku kirimkan. Dan tolong add-back kontakku, ya. Sampai nanti :)

Sasuke tidak langsung membalas pesan itu. Ia membuka satu file yang dikirimkan Sakura kepadanya, dan menemukan daftar situs yang dijadikan gadis itu sebagai referensi, lengkap dengan ringkasan dan poin penting dari setiap situs.

Sasuke merasa heran, sekaligus takjub. Apakah Sakura tidak punya tugas lain untuk dikerjakan sehingga bisa mengerjakannya sedetil ini? Atau gadis itu memang tipe orang yang dapat bekerja dengan cepat dan diandalkan dalam tugas kelompok?

Sasuke mulai mengetikkan sesuatu, lalu mengirimnya tak sampai tiga puluh detik kemudian.

Baiklah, thanks.

Omong-omong, Haruno, kerjamu boleh juga.

Dan detik berikutnya ia merasa bodoh sudah mengirimkan pesan keduanya. Ia tidak biasa memuji orang dengan gamblang, dan untuk pertama kalinya ia melakukannya pada Sakura yang baru dikenalnya siang tadi di kelas.

Balasan dari Sakura datang kurang dari satu menit berikutnya.

Wah, tidak kusangka kau tipe orang yang fast respond begini! :D

Yay! Aku akan lebih baik lagi, bos!

Sasuke hanya membacanya, lalu menyimpan ponselnya dan kembali pada pekerjaannya. Oke, ia rasa desain UX ini sudah cukup baik, tapi masih terlalu polos. Untuk ukuran toko cake dan dessert, warna yang paling cocok selain warna natural kayu adalah hijau pastel, lalu merah muda…

Sial.

Sasuke menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia melipat tangannya di depan dada. Matanya dipejamkan beberapa kali. Ekspresi terganggu terlihat jelas pada wajahnya. Ia melarikan tangannya ke rambut raven-nya, mengacaknya pelan. Pusing dengan apa yang sedang dikerjakannya sekarang, padahal tadi ia sudah memiliki beberapa gagasan untuk desain UX-nya.

Salahkan ketua jurusannya yang seenaknya memilihkan partner studio kali ini. Karena kini Sasuke tidak bisa menghilangkan bayangan mata emerald dan rambut lembut Sakura dari desain UX-nya.

Juga pikirannya.


"Jadi Sasuke, kau satu kelompok dengan Sakura-san, ya?"

Sasuke hanya menanggapi pertanyaan Sabaku Temari dengan sebuah gumaman. Ia, Nara Shikamaru dan Sabaku Temari sedang makan siang di kafetaria kampus. Sekadar informasi, Temari dan Shikamaru adalah teman SMA-nya dan mereka sudah berpacaran sejak kelas tiga. Shikamaru sendiri adalah temannya sejak SD.

"Wah, aku penasaran apa Haruno-san bisa tahan dengan sikapmu itu, Sasuke," sindir Shikamaru.

Sasuke hanya mendelik mantan kapten sepak bola Akademi Konoha itu. "Sejauh ini kami bisa bekerja sama," tandasnya.

Temari menyimpan sumpitnya. "Aku satu kelas dengan Tenten. Dulu dia satu sekolah dengan Sakura-san. Katanya, Sakura-san adalah perempuan cantik dengan sikap yang sangat baik, lho," ceritanya dengan nada kagum. "Kudengar Sakura-san juga berteman dengan Hyūga Hinata dari Fakultas Psikologi."

Shikamaru menoleh dengan tertarik. "Wah, Hyūga Hinata yang itu?"

Sasuke tidak menanggapi obrolan pasangan itu. Ia tahu Hyūga Hinata. Mahasiswi psikologi itu adalah salah satu incaran mahasiswa angkatannya saat sedang ospek masuk kuliah dulu. Sasuke bukan termasuk kelompok mahasiswa pengagum Hyūga Hinata. Ia tidak pernah tertarik dengan perempuan yang kelewat pendiam dan pemalu, karena berarti tidak akan ada yang memulai pembicaraan. Hyūga Hinata, menurut Sasuke, jelas bukanlah tandingan bagi Haruno Sakura yang cerah, menyilaukan, tidak bisa ditebak…

Sasuke menghentikan gerakan minumnya. Ia baru sadar ia sudah menilai Sakura sebaik itu hanya satu bulan setelah mereka bekerja dalam proyek yang sama.

"Oi, Sasuke, kau baik-baik saja?"

Sasuke menaruh gelasnya kembali. "Ya," balasnya singkat. Ia lalu mengambil ranselnya dan berdiri. "Aku duluan, masih ada kelas." Dan tanpa menunggu jawaban dari Shikamaru dan Temari, Sasuke berjalan keluar dari kafetaria.

Temari memandang Shikamaru heran. "Bukankah kelasnya masih satu jam lagi?"

Shikamaru hanya menyeringai. "Entahlah. Dia pasti punya alasan sendiri," katanya sambil menatap punggung Sasuke yang menjauh.

.

.

.

Sasuke berjalan menaiki tangga menuju gedung Fakultas Seni dan Desain saat melihat Sakura sedang berjalan dengan Hyūga Hinata. Sakura melihat Sasuke dan memberinya lambaian tangan, lalu berkata dengan keras, "Tunggu aku!"

Sasuke tidak tahu kenapa ia berhenti berjalan dan menunggu Sakura. Sakura tampak mengatakan sesuatu pada Hinata yang mengangguk sambil tersenyum. Ia lalu setengah berlari menghampiri Sasuke yang berada beberapa anak tangga di atasnya.

"Trims karena sudah menungguku, Uchiha-kun," katanya sambil tersenyum lebar dengan nada terengah.

Mereka memasuki lobi gedung dan menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai empat. Sasuke melirik Sakura sekilas, mendengar napas gadis itu masih belum beraturan.

"Untuk apa kau berlari seperti itu?" tanya Sasuke akhirnya.

Sakura memiringkan kepalanya. Rambut panjangnya yang hari ini dibiarkan lurus terurai menjatuhi pundak kanannya. "Supaya kau tidak menunggu lama?" katanya dengan nada bingung.

Sasuke hanya menghela napas. "Kelas masih dimulai lima puluh lima menit lagi," kata Sasuke sambil menunjukkan jam pada layar ponselnya.

Sakura membalasnya dengan sebuah cengiran saat lift berdenting dan pintunya terbuka. Mereka masuk, lalu setelah Sasuke menekan huruf 'F' pada tombol lantai, mereka berdiri bersisian.

"Tidak kusangka Uchiha-kun akan datang secepat ini."

Sasuke menunduk untuk melihat Sakura yang berdiri di sebelah kanannya. "Aku ada kelas pagi," katanya singkat, tanpa bermaksud menjelaskan lebih jauh.

Sakura hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sasuke kembali melihat ke depan. Tak sampai sepuluh detik kemudian, mereka sampai di lantai empat. Sasuke membiarkan Sakura keluar terlebih dulu sambil menahan pintu lift untuknya, yang ia lakukan di luar kesadarannya.

"Terima kasih," kata Sakura saat mereka berjalan menuju kelas.

Sasuke mengangkat sebelah alisnya. "Untuk apa?"

"Kau sudah menahan pintu liftnya untukku. Jadi terima kasih," jelas Sakura sambil membuka pintu kelas.

Kelas masih kosong, bahkan lampu kelas belum dinyalakan. Sambil memasuki kelas, Sakura menyalakan lampu dan pendingin udara. Ia berbalik pada Sasuke yang ikut berhenti berjalan.

"Uchiha-kun, kau mau duduk di mana?"

Sasuke menuju ke barisan nomor tiga di bagian kiri kelas. Sakura mengikutinya, lalu duduk tepat di sebelah Sasuke. Tidak seperti kelas teori, di kelas studio meja yang disediakan berukuran enam puluh senti kali seratus senti untuk satu orang, atau terkadang bisa digunakan dua orang jika kelas teori terpaksa dilaksanakan di kelas studio.

Sasuke membuka laptop, lalu sambil menunggu kelas ini dimulai ia berencana untuk melanjutkan tugas desain UX. Sakura memperhatikannya.

"Itu desain untuk website toko kue, ya?"

Sasuke menoleh dan mengangguk sekali. Tapi ia tidak langsung melanjutkan pekerjaannya. Ia tahu setelah ini Sakura akan kembali berbicara.

"Boleh aku beri pendapat?" tanyanya.

Entah kenapa Sasuke tidak merasa tersinggung atau merasa kalau gadis ini berlagak sok tahu dan mengganggunya. Jadi ia hanya mengangguk lagi.

"Bagiku yang seorang pecinta makanan manis, desain website ini kurang manis," komentarnya. "Tidak, bukan berarti desainmu jelek," tambahnya dengan nada panik yang membuat Sasuke terkekeh.

Sakura terperangah mendengar tawa pertama Sasuke untuknya, namun ia melanjutkan sebelum fokusnya beralih. "Untuk website firma arsitektur atau coffeeshop yang bergaya industrial, desain UX-mu ini bagus sekali. Tapi untuk branding sebuah toko cake dan dessert, ini terlalu… hm, apa, ya…" Sakura tampak berpikir menemukan kata yang tepat. Ia lalu menjentikkan jari saat menemukan kata yang dicarinya. "Tampan!"

Sasuke memberinya pandangan tajam. "Bagaimana kau bisa menilai desain ini tampan atau tidak? Desain tidak memiliki gender," katanya dengan nada final.

Sakura menggeleng tak setuju. "Tentu saja punya! Kalau kau membuat desain penuh bunga, warna terang seperti pink atau kuning dan merah, kau otomatis menyebutnya cantik. Atau seperti bentuk-bentuk tegas dari garis yang kau buat di sini, dengan warna monokrom dan tambahan warna kayu, membuatnya terlihat tampan. Ya, kan?"

Sasuke tertawa. Entah kenapa ia merasa perkataan Sakura itu sangat lucu. Ia tidak tahu mahasiswi dua puluh tahun itu bisa mengatakan sesuatu yang polos.

Sasuke berhenti tertawa, lalu melihat Sakura yang sudah menatapnya dengan wajah cemberut. "Serius, Haruno, kau yakin sudah dua puluh tahun?"

"Ugh, kau menyebalkan," katanya, namun tersenyum juga. "Yah, setidaknya aku pernah melihatmu tertawa."

"Memangnya kenapa kalau kau tidak pernah melihatku tertawa?"

"Berarti kau tidak sedingin yang kukira. Plus, kapan lagi bisa melihatmu tertawa lepas begitu?" jawabnya tanpa beban.

Sasuke hanya menjawab seadanya, lalu kembali pada laptopnya. "Oi, Haruno, jadi menurutmu aku harus mengubah warnanya jadi seperti apa?"

Sakura mengetukkan jari pada meja. "Aku akui website untuk toko kue memang masih sangat jarang. Mereka masih mengutamakan media sosial. Tapi, Uchiha-kun, kau pernah ke toko kue dengan interior yang cantik? Kurasa kau harus menggunakan mereka sebagai referensi desainmu."

"Pernah, kurasa. Aku tidak terlalu memperhatikan hal-hal begitu."

Sakura tersenyum lebar. "Bagaiamana kalau mengerjakan tugas selanjutnya di toko kue langgananku? Interiornya lucu sekali! Aku jamin kau akan langsung mendapat ide begitu datang ke sana."

Sasuke memandangnya sangsi. "Kau yakin ini bukan akal-akalanmu agar bisa ke sana?"

"Astaga, kau ini curiga sekali, sih! Aku ini niat membantumu, tahu!"

Sasuke mengedikkan bahu. "Ya, terserah saja."

Sakura menepuk-nepuk punggung Sasuke pelan. "Bagus, bagus. Lihat saja, kau akan langsung mendapat serangan ide!"

Tak terasa jam kelas pun dimulai. Dosen mereka memberikan tugas awal untuk proyek ini, yaitu membuat konsep dengan menggabungkan kepribadian dua orang dalam satu kelompok. Caranya, mereka hanya perlu mengamati satu sama lain dan menentukan sifat atau sesuatu yang sangat menggambarkan sosok partner mereka.

Setelah kelas berakhir, Sakura langsung menarik Sasuke keluar dari gedung fakultas. Beberapa pasang mata memperhatikan mereka, karena kombinasi Sakura dengan seorang laki-laki tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Terlebih, lelaki yang berjalan bersama Sakura itu terlihat keren dan wajahnya memang tampan. Raut wajah dan mata onyx-nta menambah aura tenang dan misterius pada sosok Uchiha Sasuke.

"Sekadar informasi, Haruno, aku membawa motorku."

Sakura melepaskan lengan Sasuke dari tangannya. Ia berjalan bersebelahan dengan Sasuke. "Tenang saja, kita tidak butuh naik kendaraan ke sana. Hanya butuh berjalan lima menit. Kau kuat, kan, Uchiha-kun?"

Sasuke mendengus. "Kau akan kaget kalau tahu aku siapa."

"Oke, beritahu aku siapa kau sebenarnya?"

Sasuke memberinya senyum miring. "Nanti, kalau aku sudah resmi bermain di Kawasaki Frontale, kau akan tahu."

Sakura melebarkan matanya. "Serius? Kau pemain sepak bola?"

"Begitulah," kata Sasuke, tidak melanjutkan kalimatnya. Ia tidak begitu suka menceritakan tentang dirinya sendiri pada orang lain. Sakura sepertinya paham, karena gadis itu tidak bertanya lebih lanjut dan meneruskan langkahnya.

Sasuke menarik rapat hoodie abunya untuk menutupi leher. Angin hari ini bertiup cukup kencang. Cuaca yang sangat menunjang untuk segera pulang dan berbaring di atas kasur di apartemennya.

Sasuke melirik Sakura yang berjalan di sebelahnya, memastikan apakah gadis itu kedinginan atau tidak. Dilihatnya tweed hitam yang melapisi turtle neck putih gadis itu. Oke, jadi gadis itu tidak akan kedinginan—

Tunggu. Kenapa kenyamanan gadis itu menjadi concern-nya juga? Bukankah ia biasanya tidak peduli?

Terlalu banyak hal berkecamuk dalam pikiran Sasuke. Tapi entahlah, itu tidak membuatnya pusing dan terganggu. Ia tersenyum samar. Dan seiringan dengan itu, sebuah perasaan samar juga membuat hatinya menghangat.

.

.

.

Sakura tidak bercanda ketika mengatakan Sasuke akan mendapatkan ide begitu datang ke toko kue lengkap dengan kafe yang berada dekat dengan kampus mereka. Interiornya dipenuhi dengan warna-warna pastel dan warna lembut, dan warna natural kayu yang digunakan juga warna kayu cerah. Walaupun memiliki warna-warna yang bertabrakan, kesan hangat dan manis dirasakan dari atmosfer toko kue dan kafe ini.

Sasuke berhasil membuat ulang konsep untuk tugas desain UX-nya. Dan selama lebih dari satu jam itu Sakura tidak bersuara. Sasuke melepaskan pandangan dari layar laptop dan mendapati Sakura sedang menghias jurnal kuliahnya dengan marker berwarna-warni.

Sakura merasakan pandangan Sasuke, jadi ia mengangkat kepalanya dan tersenyum kecil sambil memegang marker. "Hai," katanya singkat sebelum melanjutkan menghias jurnal.

Sasuke menyeruput moccachino-nya. "Haruno, kau tidak menghabiskan cake-mu?" tanyanya. Sasuke sudah masa bodoh dengan tindakannya yang di luar kebiasaan jika ia sedang bersama dengan Sakura. Toh ini sudah terjadi selama hampir sebulan, sudah kepalang basah untuk bersikap acuh-tak acuh seperti dulu. Seperti saat ini, ketika ia memperhatikan Sakura atau mengkhawatirkannya tadi, ia tidak mau tahu lagi kenapa ia begitu, yang jelas ia hanya ingin melakukannya.

"Sebentar," kata Sakura lirih, tetap pada fokusnya memeriksa jurnal dan beberapa materi yang perlu di highlight.

Sasuke tak banyak bicara. Ia mengambil piring berisi blueberry cake milik Sakura, memotongnya sedikit, lalu menyodorkannya tepat ke depan wajah Sakura.

Sakura sedikit terkejut, tapi tetap memakan juga cake yang disuapi Sasuke. "Sudah kukatakan, sebentar lagi," ujarnya setelah menelan cake-nya. Ia menutup marker dan membereskan jurnal dan print-out materinya. Kemudian ia mengambil kembali piringnya. "Terima kasih, omong-omong," katanya dengan semburat tipis pada kedua pipi.

"Jadi, bagaimana dengan tugas awal untuk proyek ini?"

"Boleh aku bicara jujur?" tanya Sakura. Sasuke hanya mengangguk. "Saat kau mulai mengerjakan tugas UX-mu itu, aku memperhatikanmu. Kurasa, bulan cocok untuk menggambarkan dirimu."

Sasuke menatapnya lurus. "Karena?"

Sakura tersenyum kecil. "Warna bola matamu."

Sasuke merasakan perutnya bergejolak. Semua orang mengatakan matanya segelap malam. Tidak pernah ada yang mengatakan warna bola matanya seperti bulan. Dan entah kenapa mendengar Sakura memiliki pemikiran berbeda membuatnya sedikit senang.

"Bola mataku berwarna hitam, Haruno."

Sakura mengangguk setuju. "Segelap malam, tapi bercahaya. Aku suka melihatnya."

Sasuke menegang sesaat. "Oke," balasnya datar. "Aku juga sudah menemukan sesuatu yang sangat cocok menggambarkan dirimu," kata Sasuke sambil menutup laptopnya.

Sakura tergelak. "Bunga sakura, musim semi, gulali… Yang mana pilihanmu?"

Sasuke tersenyum penuh kemenangan. "Sayangnya tidak ketiganya."

Sakura memberinya tatapan terkejut. "Serius? Jadi ada yang lain? Apa iya?"

Sasuke mengangguk. "Aurora," kata Sasuke santai.

"Aurora yang mana?" tanya Sakura dengan nada bingung. "Aurora peristiwa alam atau Aurora di Disney Princess?"

"Apa aku terlihat seperti seseorang yang menonton Disney Princess?" Sasuke memasang tampang datar.

"Oke, jadi kenapa aku ini seperti aurora pada peristiwa alam?"

Sasuke memajukan tubuhnya. "Satu, karena warna matamu. Dua—" Sasuke menggantung ucapannya.

"Apa yang kedua?" tanya Sakura penasaran.

Sejujurnya Sasuke juga bingung bagaimana mengatakannya. Alasan kenapa ia melihat Sakura seperti aurora adalah karena gadis itu cantik. Kecantikannya bukan hanya sekadar cantik dan anggun seperti bunga sakura di musim semi, tapi lebih kuat dari itu. Ia dinamis, ia bergerak dan tidak dapat ditebak. Apapun yang dilakukannya terlihat cantik, seperti gerakan indah pada aurora di kutub sana.

"Dua, bunga sakura dan musim semi terlalu lembut untuk perempuan cerewet dan tidak anggun sepertimu."

Kata-kata Sasuke itu membuatnya mendapatkan serangan cubitan pada lengannya. Sasuke tertawa dan meringis kesakitan bersamaan. Jadi ini, ya, perasaan puas dan senang ketika mengisengi orang lain. Ia bahkan tidak pernah melakukannya pada Shikamaru.

"Dasar menyebalkan!" Sakura mengerucutkan bibirnya. Ia melipat kedua tangan di depan dada. "Tapi tidak apa-apa, aurora juga sangat cantik, kok," Sakura membela diri.

"Sangat?" pancing Sasuke.

Wajah Sakura merah padam, membuat Sasuke semakin bersemangat untuk menggoda gadis ini.

"Tentu saja, S A N G A T !" eja Sakura penuh penekanan. "Uchiha-kun, kau tahu tidak, sih, kalau kau sangat menyebalkan?"

"Tahu," balas Sasuke enteng. "Tapi kau tidak tahu kalau aku tidak melakukannya pada semua orang."

"Jadi apa maksudnya itu?"

"Aku hanya melakukannya pada orang yang juga menyebalkan."

Sakura membuka mulutnya tanpa suara. Ia tidak tahu mau membalas apa pada ucapan menyebalkan Sasuke. Dan lelaki tinggi itu kini malah tertawa puas di depannya.

"Sekarang aku menyesal mendengarmu tertawa begitu," kata Sakura dengan raut kesal.

"Kau sangat ramah sebulan yang lalu," kata Sasuke saat tawanya mereda. Ia lupa kapan terakhir kali ia menertawakan orang sampai puas begini. Tapi ia tidak mau banyak berpikir jadi ia menikmatinya saja.

Sakura menghela napas. "Baiklah, sesama orang menyebalkan, kita berdamai saja."

Sasuke menopangkan dagu dengan tangan kirinya. "Oho, jadi begini wajah kesal Haruno Sakura?" tanyanya dengan nada iseng. Sakura mendeliknya. "Mahasiswa jurusan konsentrasi graphic design bisa iri setengah mati padaku karena pernah melihat sisi lain Haruno Sakura."

Raut wajah Sakura berubah serius. "Apa maksudnya itu?"

"Kau tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?"

"Aku bertanya karena aku tidak tahu."

Mendengar suara datar Sakura membuat Sasuke tersadar bahwa perempuan cantik di hadapannya ini tidak menyadari betapa populernya ia di kalangan teman seangkatannya, dan beberapa senior dan junior. Sakura memang tidak pernah 'menonjolkan diri' seperti berdandan berlebihan, memakai tas tangan dan rok pendek ke kampus. Tapi gadis itu selalu saja cantik, bahkan hanya dengan kehadiran dan keberadaannya.

"Aku dapat menyimpulkan bahwa kau tidak tahu kalau kau populer."

Sakura memberinya pandangan horor. "Ha…? Aku?" tanyanya sambil menunjuk diri sendiri. "Populer dalam hal apa?"

"Entahlah. Aku hanya sering mendengar namamu disebut-sebut saat mahasiswa di kelasku membicarakan mahasiswi di kampus dan Fakultas Desain." Sasuke memasukkan tangan ke dalam saku hoodie sambil menyandarkan punggungnya. "Dan kau adalah daftar teratas yang profil Instagram-nya sering mereka buka."

"Itu creepy, tahu?" katanya, benar-benar merasa horor dengan penjelasan Sasuke. "Biar aku luruskan. Mereka pasti sedang membicarakan sahabatku, Hyūga Hinata. Dan karena kebetulan aku sering bersamanya, pasti namaku sering dikaitkan."

"Terserah. Aku hanya menyampaikan apa yang aku lihat dan dengar."

Sakura mendengus. "Baiklah, ganti topik," putus Sakura akhirnya.

"Oke, tapi sebelum ganti topik, aku minta maaf."

"Untuk apa?"

Sasuke tersenyum samar. "Karena sudah membuatmu kesal dan tidak nyaman dengan kata-kataku."

Sakura terbelalak. "Ya ampun! Tidak, tidak sama sekali!" katanya panik. "Apa aku menunjukkan wajah kesal? Maafkan aku! Aku tidak bermaksud begitu sama sekali. Aku—"

"Apa kau selalu secerewet ini?"

"Kau baru saja meminta maaf!"

Sasuke tidak tahu alasan kenapa ia mengangkat tangannya, dan mendaratkan tangannya di atas rambut merah muda Sakura. Tapi melihat semburat merah itu kembali muncul di wajah Sakura, ia nekat mengacak-acak rambut lembut gadis itu.

"Sasuke?"

Tangan Sasuke berhenti kaku mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Ia menoleh dan mendapati kakaknya, Uchiha Itachi, menghampiri mereka. Di sebelahnya berdiri kekasih kakaknya; seorang gadis blonde dengan wajah super cantik yang memakai tweed hitam yang sama dengan Sakura. Bedanya, Yamanaka Ino, kekasih kakaknya itu, memadukannya dengan tweed skirt dan flat shoes, bukannya jeans dan Converse seperti Sakura.

"Nii-san? Ino nee-san?"

"Halo, aku Uchiha Itachi, kakak dari Sasuke," kata Itachi ramah pada Sakura yang menatap Itachi dan Ino bergantian. "Boleh kami bergabung?"


Singkat cerita, Itachi dan Ino ikut bergabung dengan Sasuke dan Sakura di meja mereka. Pada awalnya suasana canggung menyelimuti mereka, apalagi setelah Itachi menyangka Sakura adalah kekasih adiknya.

"Sakura, rambutmu ini asli?" tanya Ino antusias. Kedua gadis itu langsung akrab dua menit setelah mereka saling berkenalan. Ino malah meminta Sakura untuk memanggilnya onee-chan.

Sakura mengangguk dengan semangat. "Iya, onee-chan."

"Bagus sekali," puji Ino dengan mata berbinar. Lalu kedua gadis itu saling memuji satu sama lain.

Itachi berbisik pada Sasuke. "Begitulah kalau gadis-gadis berkumpul, pasti mereka saling memuji."

"Aku bisa mendengarmu, Ita-kun," kata Ino sambil menyipitkan matanya pada Itachi. Itachi meringis sambil mengucapkan permintaan maaf yang main-main.

"Oh, ya, Sakura. Kami akan menikah dua bulan lagi," kata Ino sambil memegang lengan Sakura. Sakura memberinya selamat lengkap dengan senyum cerahnya. "Kau mau, kan, datang dan mendampingi Sasuke di sana?"

"Eh?" Sakura menoleh kaku pada Sasuke yang hanya menatapnya datar. "Uchiha-kun—"

"Panggil dia Sasuke, Sakura," kata Itachi dengan senyum lebar. "Aku juga Uchiha, lho. Dan Ino juga akan segera menjadi Uchiha," tambahnya, mendapat senyuman manis dari Ino.

Sebelum Sakura menanyai pendapatnya, Sasuke membuka mulutnya, "Nii-san benar."

"Ugh, oke…," kata Sakura, terlihat luar biasa kikuk. Sasuke mati-matian menahan senyum melihat wajah Sakura yang menurutnya lucu itu. "Sasuke-kun… kurasa?"

"Baiklah, Sakura. Tapi kau belum menjawab pertanyaan Ino nee-san."

Sakura merasa perutnya tergelitik mendengar Sasuke memanggilnya dengan nama kecil.

"Kalau Sasuke-kun tidak keberatan, kurasa aku bisa datang, onee-chan."

Ino menekuk wajahnya. "Ah, aku benar-benar berharap kau akan datang, Sakura," katanya setengah memelas.

"Tentu saja kami akan datang."

Tiga kepala menoleh cepat ke arah Sasuke saat ia mengatakan itu. Semua orang paham kata 'kami' itu dimaksudkan untuk siapa, jadi tidak ada yang bertanya atau berkomentar.

Sasuke merasa jengah ditatap begitu. Jadi ia hanya memasang tampang datarnya seperti biasa. "Atau kalian lebih ingin aku tidak datang?"

"Tidak! Bukan begitu!" Ino dan Itachi bereaksi dengan heboh. Setelah Sasuke menegaskan bahwa ia dan Sakura akan datang ke pernikahan mereka, Ino dan Itachi baru duduk dengan tenang.

Lima menit kemudian, pesanan take away Itachi dan Ino datang. Pasangan yang akan segera menikah itu lalu berpamitan untuk pergi duluan, sebelum mengingatkan Sakura untuk datang ke acara pernikahan mereka.

"Mereka benar-benar menyukaimu, ya."

Sasuke bahkan tidak membiarkan suasana canggung masuk di antara mereka. Ia langsung berkomentar dengan santainya seperti biasa. Sementara Sakura yang belum siap tidak dapat menjawabnya.

Sasuke menatap Sakura tajam. "Sebaiknya kau tidak mengingkari janjimu untuk datang ke pernikahan mereka. Mereka pasti menunggu kedatanganmu."

Sakura tersenyum menenangkan. "Tidak akan, tenang saja."

Sasuke masih menatap Sakura tepat di mata yang menyebabkan Sakura jadi salah tingkah. "Sakura," panggilnya.

Sakura bergidik mendengar panggilan itu, jadi ia hanya bergumam seadanya untuk menanggapi.

"Rasanya kurang pantas kalau aku tidak memintamu langsung," kata Sasuke, sengaja tidak melanjutkan kata-katanya.

"Memintaku untuk apa?"

"Haruno Sakura, kau mau jadi pendampingku di pernikahan kakakku nanti?"

Anggukan dari Sakura dan wajah merahnya membuat Sasuke tersenyum lebar. "Apa kau tahu, tidak sembarang perempuan boleh mendampingi seorang laki-laki di pernikahan kakaknya?"

Sakura menatapnya bingung. "Ya, lalu…?"

Sasuke tersenyum miring. "Kau harus jadi kekasihku dulu untuk bisa mendampingiku."

Sakura membeku di tempat. Wajahnya benar-benar merah dan panas, tapi ia memaksa mulutnya untuk menjawab Sasuke.

"Ba-baiklah."

"Benar? Kau mau?" Sasuke memastikan.

Sakura menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Tentu saja! Jangan menggodaku terus—"

Sakura tidak melanjutkan protesnya, karena Sasuke yang tiba-tiba berpindah tempat duduk di sebelahnya. Lengan kanannya menariknya dalam sebuah rangkulan yang terasa seperti pelukan, sementara tangan kirinya mengelus-elus rambutnya.

"Bagus, kalau begitu kau tidak bisa mengingkari janji untuk tidak datang denganku dua bulan dari sekarang."

Sakura hanya dapat mengangguk dalam pelukan Sasuke, sementara Sasuke, untuk pertama kalinya, tersenyum lebar sambil mengeratkan pelukannya.

"Sakura, boleh aku melihat wajahmu?"

"Tidak, aku sangat malu." Sasuka dapat merasakan suara Sakura bergetar.

Ia menegakkan bahu Sakura, membuat gadis itu mau tidak mau menurunkan kedua tangannya dan memberanikan diri menatap Sasuke tepat di mata.

"Oke, cukup."

Entah sudah berapa kali Sakura dibuat kebingungan hari ini dengan kata-kata menggantung dari Sasuke. Cukup apanya? Apa Sasuke hanya mengerjainya…?

"Cukup apanya?"

"Cukup melihat wajah merahmu. Sekarang kau boleh memelukku lagi."

Tentu saja wajah Sakura yang memerah sudah mencapai batasnya. Ia sudah tidak bisa lebih memerah dari itu.

"Apa kau bisa berhenti menggodaku?" tanya Sakura dengan nada setengah merengek.

Sasuke meledakkan tawanya. "Tidak, karena kau satu-satunya orang yang akan aku goda, suka atau tidak suka."

"Dan apa pula maksudnya itu?"

Sasuke mendengus. "Aku sedang melamarmu, Sakura."


Aurora and The Moonlight (SasuSaku ver.);

End.


Terima kasih sudah mampir! :)