Just Because
Naruto © Mashashi Kishimoto
Only for 17+
Chapter 1 : We are different
Awal tahun baru, udara musim dingin masih berhembus sepoi-sepoi meski salju tidak terlihat turun. Pukul 09.00 waktu setempat, tepat bebarapa blok disebelah Taman Yoyogi, terlihat sebuah hotel pencakar langit. Pada lantai paling atas, tepat dimana kamar kelas presiden berada, terlihat seorang pria berusia 30 tahun yang mengenakan setelan kemeja putih dibalut rompi coklat tampak sedang duduk di ruang makan.
Mejanya yang luas dan berisi beberapa makanan khas koki bintang michellin terlihat begitu menggoda nafsu makan. Namun dua orang yang sedang makan tersebut tampak tidak memiliki nafsu makan yang tinggi.
Pria bersurai pirang itu bernama Naruto. Dia tidak tampan layaknya aktor korea, namun memiliki wajah yang maskulin dan terlihat kokoh. Apalagi dengan mata birunya yang dingin, hanya dengan lirikan dia mampu menembus dan mengintimidasi jiwa seseorang. Jika diteliti lebih lanjut, terlihat jika kedua pergelangan tangannya tampak penuh tato begitu pakaian kemejanya itu tersingkap.
Sementara diujung meja, adalah seorang wanita cantik yang berusia sekitar 30 tahun. Dia memiliki warna rambut merah menyala, meski terlihat mencolok, sebenarnya itu tidak mengurangi estetika kecantikan yang dia miliki. Warna kulitnya seputih susu dan selembut sutra. Dia memiliki tubuh yang ramping, bahkan ketika dia mengenakan jaket sweater yang cukup tebal.
Wanita itu memiliki nama Kushina Uzumaki, seorang putri dari taipan bisnis Uzumaki Group. Ini adalah sebuah keluarga konglomerat dengan aset lebih dari US$ 50 miliar, yang bergerak dibidang Real estate, e-commerce, entertainment dan lain sebagainya merupakan anak perusahaan dengan prospek yang menjanjikan.
Meski hidup dalam bergelimang harta, namun sangat jelas untuk dirasakan jika atmosfer sarapan itu terasa begitu dingin dan kaku. Naruto terlihat jika dia makan dengan pelan dan acuh tak acuh dengan sekitarnya. Sementara Kushina terlihat sibuk dengan ponsel miliknya tanpa sedikitpun menyentuh makanannya.
Naruto awalnya terlihat tidak peduli, namun dia merasa sedikit tidak senang ketika wanita itu tidak benar-benar menemaninya makan. Dia merasa jika ia benar-benar tidak dianggap begitu penting oleh wanita ini.
"Makan!" suaranya yang tidak keras namun begitu menggema terdengar diseluruh ruang makan yang luas. Naruto mengatakannya tanpa melirik sedikitpun, dia masih menatap sepiring daging yang masih sedikit mengepul di piringnya dengan khusyuk.
Mendengar hal tersebut, Kushina terlihat tidak begitu senang. Untuk sejenak kedua alisnya mengerut sembari mengalihkan tatapannya dari ponsel menuju kearah pria itu. Dia menatapnya dengan kesal, sebelum suaranya yang lembut namun agak ketus terucap keluar dari bibirnya yang menggoda.
"Apa? Jangan terlalu salah paham Naruto. Meskipun kita menikah, itu tidak berarti aku harus menuruti perintahmu!"
Kushina benar-benar merengut kesal pada pria yang ada di depannya ini. Dia sangat tidak nyaman berada disekitar pria dingin ini dalam beberapa minggu belakangan. Namun pada akhirnya, Kushina tidak terlalu berdaya untuk berurusan dengan dia.
"Terserah apa yang kamu katakan!" Naruto menghentikan makannya, dia meletakkan garpu dan pisau itu diatas meja seolah nafsu makannya telah hilang. Naruto melirik sekilas kearah Kushina yang kini juga memelototinya seolah dia benar-benar bisa menakutinya. "Aku tidak suka dengan wanita yang tidak menghormatiku! Ingatlah perjanjiannya, dan patuhi itu dengan baik!"
Naruto mengusap mulutnya dengan tisu putih saat dia selesai berbicara. Dia masih menatap kearah wanita itu, namun Kushina merasa jika pria ini memiliki pandangan yang menembusnya seolah dia tidak ada di depannya sama sekali.
"Huh, sejak awal aku menyesal karena setuju denganmu. Tapi itu tidak penting, aku akan pergi besok dan jangan cari aku selama seminggu!" seru Kushina dengan penekanan pada kalimat terakhir dari ucapannya.
Naruto sedikit terdiam beberapa saat sebelum sedikit menatap tajam kearah Kushina yang terlihat mengabaikannya. "Aku tidak peduli dengan kehidupan pernikahan kita. Namun jangan pergi selama bulan ini atau itu akan menimbulkan kekacauan lagi. Kamu pikir apakah ketua tidak akan melihat apa yang kamu lakukan diluar sana?"
"Itu urusanmu Namikaze Naruto! Jangan pernah mengatur hidupku seperti yang dilakukan ayahku!" geram Kushina dengan raut wajah yang tak enak dipandang. Ekspresi itu terlihat sedikit aneh ketika dipasang di wajah cantiknya.
Naruto mendengus sebelum berdiri dari tempat duduknya. Begitu dia terlihat ingin mengakhiri sesi makan pagi, seorang pria yang memiliki gaya rambut mirip Bruce Lee yang berpakaian setelan jas hitam tampak menghampiri Naruto dan membantunya mengenakan jass biru miliknya.
Sebelum Naruto benar-benar pergi, dia melirik sekilas kearah Kushina dan berkata dengan nada yang cukup tajam. "Berhentilah berkencan dengan pria manismu itu yang hanya akan membuat masalah untuk saat ini. Tetap disini selama seminggu atau aku akan mengakhiri karir artis priamu itu di industri hiburan!"
Mendengar hal tersebut sontak Kushina memerah marah. "Naruto, kamu berani…" sebelum dia mengutuk marah, sayangnya Naruto telah pergi dan mengabaikannya.
.
.
.
Udara musim dingin terasa menusuk dan menembus lapisan jaket longcoat yang Naruto kenakan. Sebab itulah dia berjalan sedikit lebih cepat menuju mobil Mercedes Benz S-class miliknya yang terparkir tepat di depan pintu hotel. Ketika dia masuk, pintu itu telah dibuka dan ditutup oleh bawahan miliknya yang juga mengenakan setelan hitam.
Ketika dia duduk, pintu depan terbuka dan masuklah seorang pria yang selalu berada di dekat Naruto. Pria yang memiliki gaya rambut mirip bruce lee itu memiliki nama lengkap Rock Lee yang notabene adalah tangan kanan miliknya. Dia adalah bawahan yang sudah bersamanya semenjak kecil hingga ia memulai sebuah Kelompok yang bernama Kiryuu dan bertahan hingga sekarang.
Begitu Lee duduk dan mobil itu mulai berjalan, Naruto langsung bertanya padanya. "Jam berapa pertemuan itu akan diadakan?"
"Sekitar pukul 18.00 sore bos!"
Naruto tampak tersenyum samar begitu mendengar mengenai pertemuan ini. Begitupun dengan Lee yang juga terlihat antusias meski dia berusaha menyembunyikan raut wajah bahagianya.
"Jika kita berhasil, itu bukan hanya transaksi sebesar US$ 500 Juta, tapi juga berarti jika kita bisa menambahkan Perfektur Tokyo kedalam daftar wilayah kita secara keseluruhan." Gumam Naruto dengan lirih, namun masih terdengar oleh Lee.
Naruto tidak bisa membayangkan bahwa kini ambisinya sudah akan ada di depan matanya. Dia sebelumnya hanyalah seorang pebisnis dari Perfektur Fukushima dengan aset tak lebih dari 500 juta yen. Karena ambisnya yang mulai membengkak, dia mulai membuat kelompok yakuza bernama Kiryuu.
Pada awalnya itu hanyalah sebuah kelompok kecil, namun mulai tumbuh dibawah komando miliknya hingga menjadi kelompok paling berpengaruh di Perfektur Fukushima. Namun Naruto menyadari jika Kiryuu ingin tumbuh lebih tinggi lagi, dia membutuhkan untuk meluaskan pengaruh Kiryuu di seluruh Jepang dan target utamanya adalah Tokyo. Sebuah tempat yang akan memberinya kekayaan dan kekuasaan secara bersamaan.
Namun Naruto juga tidak terlalu bodoh untuk langsung menginjakkan kakinya pada wilayah Tokyo. Di sini, sebuah kota yang besar dan padat dimana banyak kelompok-kelompok yang berhamburan dan kelompok itu tentunya memiliki kekuatan dan akar yang tidak bisa diremehkan. Jika dia ingin merebut tanah ini, Naruto membutuhkan lebih dari sekedar uang. Hal yang paling dia butuhkan adalah koneksi dan identitas.
Sebab itulah dia menargetkan keluarga Uzumaki. Sebagai seorang keluarga konglomerat yang berdiri di Tokyo, ini benar-benar memenuhi kriteria yang ia punya. Naruto tahu betul seberapa dalam identitas dari kepala keluarga Uzumaki itu. Naruto selalu berpikir jika kelurga ini marah, mungkin itu mampu untuk membuat kekacauan yang besar di Jepang. Karena faktanya, keluarga Uzumaki lebih dari sekedar keluarga yang kaya, dia memiliki akar dimana-mana baik di pejabat, militer, politisi dan lain sebagainya.
Sebab itulah dia mulai mendekati Kushina Uzumaki, satu-satunya putri keluarga Uzumaki yang memiliki banyak kebiasaan buruk. Salah satunya ialah, dia sangat suka berkencan dengan para aktor bintang film ataupun penyanyi muda yang populer. Tentu saja, dengan beberapa perjanjian dan perundingan hang cukup lama, akhirnya dia bisa menjadi suami dari Kushina dan secara resmi Naruto juga menjadi anggota keluarga konglomerat ini.
Namun pernikahan itu juga tidak lepas dari peran persetujuan dari Ketua Uzumaki Group, Ayah dari Kushina yang merupakan sosok paling berbahaya. Entah alasan apa, Naruto menyadari jika Ketua Uzumaki Group terlihat begitu banyak mempercayainya dan bahkan memberinya posisi CEO dari dua perusahaan besar yakni Holdings Real Estate dan Starlight Entertainment yang memiliki perkiraan harga sekitar US$ 8 Miliar.
Namun tentunya Naruto tidak terlalu memikirkannya. Baginya, dengan pemberian perusahaan ini tidak lain hanyalah mempercepat momentum miliknya untuk terbang lebih tinggi lagi.
Tidak terasa, rombongan 3 mobil itu telah sampai di area bisnis pusat Kota Tokyo. Mobil ini berhenti tepat di depan salah satu gedung perkantoran. Hari ini adalah jadwal Naruto untuk melakukan inspeksi di perusahaan hiburan Starlight. Sebagai salah satu dari 10 perusahaan hiburan terbesar di Jepang menjadi hal yang lumrah bagi Starlight Entertainment untuk memiliki markas yang berdiri sendiri.
Ruang CEO sebenarnya berada di tepat dibawah ruangan paling atas. Namun karena dia bukanlah CEO biasa, melainkan juga menantu dari Uzumaki Group, Naruto memperoleh keistimewaan yaitu untuk menggunakan ruangan paling atas dari gedung Starlight Entertainment ini.
Di sepanjang Naruto berjalan, terlihat jika semua yang melihatnya akan menundukkan kepala padanya. Bahkan jika mereka lebih tua dan lebih tampan darinya, mereka semua tampak terus menunduk dan memasang ekspresi yang menyanjung dirinya. Meskipun wajahnya tetap dingin tanpa ekspresi, namun dalam dirinya Naruto terlihat puas dengan reaksi ini. Hal ini benar-benar memuaskan ego miliknya.
Ketika dia sampai pada ruangan paling atas, dia melihat jika ruangan itu sangat luas, bahkan menyerupai sebuah apartemen mewah. Kursi ruang kerja miliknya tepat dibelakang kaca dimana pemandangan indah diluar terhampar luas dimata birunya.
Begitu dia duduk dia mendengar suara sepatu yang berbunyi cukup keras di dalam ruangan yang sunyi. Pintu terbuka dan ternyata itu adalah asisten miliknya yang bernama Yamanaka Ino. Dia memiliki tubuh yang tinggi layaknya model. Tubuh yang ramping dan kakiknua yang begitu jenjang dalam balutan stocking hitam. Secara keseluruhan, dia adalah wanita yang mampu membuat siapapun jatuh cinta padanya, baik itu bentuk tubuhnya ataupun wajah cantiknya.
"Selamat pagi tuan, hari ini saya menyerahkan resume dari 10 kontestan yang berhasil lolos tahap audisi. 7 Map warna kuning itu memiliki bakat untuk menjadi penyanyi bintang sementara 3 map warna merah tidak terlalu menonjol tapi memiliki kualitas seperti bintang lapis kedua." Jelas Yamanaka Ino sembari memberikan 10 lembar map itu di depan meja Naruto.
Ketika dia mendekat, Naruto bisa mencium bau harum bunga melati yang memabukkan. Namun Naruto mengabaikannya dan memilih mengalihkan perhatian pada beberapa lembar kertas yang ada di atas meja miliknya.
Dari kesepuluh kandidat ini, berdasarkan agenda perusahaan hanya akan ada 5 trainee yang diterima masuk. Mereka semua adalah bibit muda dengan potensi masa depan yang berkualitas. Dia membolak-balik sekilas dan menemukan jika mereka semua adalah gadis muda dengan riwayat pendidikan yang sangat bagus. Beberapa merupakah lulusan sekolah seni bergengsi maupun senior yang berprestasi di universitas terkenal.
Ketika dia membaca resume pada lembar ke-7, Suara lembut Ino menyadarkannya kembali.
"Maaf menganggu tuan, tapi baru saja senior Saegusa menanyakan apakah tuan memiliki waktu untuk bertemu?"
Alis Naruto sedikit mengernyit sebelum dia mengingat siapa itu. Saegusa Mayumi adalah salah satu artis dibawah penandatanganan Starlight Entertainment. Dia masih berusia 23 tahun, tapi sudah menjadi seorang bintang idola dengan basis penggemar puluhan juta. Dengan popularitasnya, dia dengan mudah menjadi salah satu dari beberapa artis utama di Starlight Entertainment.
"Ah… biarkan dia masuk!" Naruto melambaikan tangannya dan berpikir untuk apa dia ingin menemuinya? Dia tidak berpikir lama sebelum menggelengkan kepalanya dan menunggu untuk menanyakannya secara langsung.
Tak lama kemudian, seorang wanita yang tidak terlalu tinggi, mungkin berkisar 165 cm terlihat memasuki ruangan kerja miliknya. Naruto berdiri untuk menyambutnya dan membiarkannya duduk di ruang tamu tepat di depan meja kerja miliknya. Ketika dia berjalan mendekat, Naruto baru melihat secara jelas sosok Saegusa Mayumi.
Dia mengenakan lace dress ketat berwarna hitam yang menonjolkan lekuk tubuh sempurnanya. Ketika dia berjalan, lekuk tubuh bagian bawahnya terlihat begitu menggairahkan hingga bisa membuat setiap pria memiliki fantasi yang kotor. Terlepas dari bentuk tubuhnya yang indah, saegusa memiliki wajah yang terlihat lemah lembut dengan senyum manisnya yang terus mengembang tipis. Rambutnya panjang hingga sampai pada punggungnya dengan gaya rambut yang agak bergelombang seperti gaya yang sedang tren saat ini.
"Maaf menganggu waktunya tuan!" ucap Saegusa begitu dia melihat Naruto yang duduk di depannya. Sementara Naruto hanya melambaikan tangannya yang berarti dia tidak masalah untuk menghabiskan waktu dengannya.
"Jadi ada apa?" seru Naruto sembari menatap Saegusa dengan pandangan yang sulit diartikan.
Masih dengan wajahnya yang tersenyum, suara lembut Saegusa terdengar penuh semangat dan kebahagiaan. "Terimakasih tuan, aku hanya ingin memberi tahu jika penjualan album baru saya di tahun lalu menembus 10 juta kopi."
Kedua mata sedikit melebar, itu adalah hasil yang cukup bagus mengingat baru 2 bulan semenjak album barunya dirilis. "oh, itu bagus. Kenapa aku baru tahu kabar ini."
Mendengar respon Naruto yang bahagia dan bertanya-tanya, Saegusa sedikit tertawa pelan. "Maaf tuan, saya menyuruh semua orang untuk sejenak merahasiakan kabar ini agar saya pribadi yang memberi tahu!"
Naruto terlihat membuat wajah yang sedikit tidak puas. "Ah… aku tidak suka dengan kejutan ini."
Melihatnya seperti itu, Saegusa justru tertawa lebih keras. Diantara para karyawan, sosok boss baru ini terlihat dingin dan cuek, namun nyatanya tidak seperti itu diamata Saegusa Mayumi. Ketika seseorang mengenalnya lebih dekat, Naruto adalah sosok yang hangat pada para bawahannya. Wajahnya yang dingin itu bagi Saegusa mungkin hanya ditunjukkan pada musuh bossnya. Setidaknya dia tidak akan marah kecuali jika dia membuat kesalahan yang besar.
Tentu saja itu hanyalah pemikiran Saegusa, bagaimanapun juga tidak ada yang lebih paham mengenai Naruto dan sisi gelapnya selain dirinya sendiri.
Saegusa berhenti tertawa ketika Naruto memasang wajah dinginnya lagi. Dia sedikit menunduk ketika akan berbicara, bahkan sedikit ragu-ragu untuk mengatakannya. Melihat hal ini Naruto hanya mengehela napas dalam hatinya. "Jadi apa lagi?"
Suaranya yang lembut terdengar agak tidak percaya diri. "saya harap tahun ini bisa memainkan beberapa drama atau film!"
Naruto sedikit bingung, "Kamu ingin juga terjun ke dunia akting?"
Saegusa mengangguk dengan tanpa menatap kedua mata Naruto. Mendengar kepastian ini Naruto sedikit termenung dalam diam, namun tidak lama sebelum dia kembali berbicara dengan jujur. "Menjaga popularitas memang penting, tapi untuk saat ini kamu harus tetap di dunia musik. Setidaknya untuk memperoleh beberapa penghargaan musik nasional, dan dengan bantuan saya itu tidak akan lama. Lagipula akting tidak semudah yang kamu bayangkan, banyak investasi yang kami berikan hanya untuk satu pemeran."
Mendengar ucapan Naruto, Saegusa tampak menggigit bibir merah mudanya. "Apakah benar-benar tidak bisa?" seru Saegusa seolah kembali mempertanyakan keputusan Naruto.
"Itu tergantung, apakah kamu bisa meyakinkan saya untuk berinvestasi lebih pada dirimu!" ucap Naruto dengan tidak terlalu peduli.
Saegusa terlihat bimbang, kemudian dia terpikir sebuah romor yang banyak beredar dalam industri. Sebuah peraturan tidak tertulis namun sering kali digunakan oleh banyak artis demi popularitas.
Dia sontak memerah malu selama beberapa saat sebelum kemudian memutuskan. Saegusa berdiri dan mendekat menuju Naruto yang terlihat tidak terlalu peduli.
"Apakah tuan ingin tidur dengan saya? Saya akan menjadi milik tuan! " ucap Saegusa denga menunduk perkataan yang agak gagap.
Naruto hanya meliriknya sebentar, "Maaf saya tidak tertarik dengan barang bekas!" ucapnya dengan datar.
Mendengar hal itu membuat Saegusa terlihat agak aneh. "em… ini pertama kalinya buat saya!"
Naruto sedikit tertarik sebelum mendengus kesal. Akhir-akhir ini dia berada disekeliling Kushina, wanita yang selalu membuatnya marah dan selama ini juga dia belum mengeluarkan kekesalan itu pada wanita manapun. Tapi Naruto juga tidak tahu apakah Saegusa berbicara dengan benar atau sekedar kebohongan.
"Baik, jika kamu memang menginginkannya, lepas bajumu dan masturbasi lah di depanku!" titah Naruto dengan tanpa mengalihkan pandangannya dari tubuh ramping Saegusa.
Terlihat jika gadis itu sangat malu. Dengan wajah memerah di mulai melepas baju miliknya dengan susah payah. Sementara Naruto hanya menikmati tontonan ini dengan santai. Ketika bajunya terlepas, itu menunjukan pakaian serba putih yang menutupi area sensitifnya.
Payudaranya tidak besar namun terlihat begitu bulat dan kencang, mungkin akan sangat kenyal jika kedua bukit itu diremas-remas. Butuh beberapa saat lagi sebelum Saegusa sudah telanjang bulat. Tubuhnya tidak terlihat sensual, namun sangat seksi secara keseluruhan. Mungkin sebab dia menjaga berat badannya.
"Bagus, sekarang mulailah!" ucap Naruto yang dibalas anggukan oleh Saegusa. Dia terlihat duduk tepat di depannya dengan membuka lebar-lebar paha kakinya. Sangat terlihat jelas lubang kenikmatan Saegusa yang bersih terawat tanpa bulu. Sekarang Naruto percaya jika Saegusa memanglah masih perawan, itu terbukti dengan masih rapatnya lubang itu seolah belum terjamah.
Emmh…
Saegusa memerah ketika tangan lentiknya mengusap-usap vagina miliknya yang terekspos. Dia merasa malu dan terangsang secara bersamaan. Dia mengusap-usap keatas kebawah menelusuri lekuk lubang itu sebelum sedikit cairan terlihat merembes keluar.
Enggh…
Erang Saegusa sesaat ketika dia memasukkan jarinya kedalam vaginanya sendiri. Dia hanya memasukkan tanpa terlalu dalam. Tangan putihnya berulang kali memutar-mutar mengaduk vaginanya hingga saat dimana dia merasa akan buang air kecil.
Eeeeem…
Dia membuat pekikan suara yang agak melengking dengan diikuti semburan cairan berwarna putih. Cairan itu tidak banyak, namun terlihat membasahi lantai dibawahnya. Saegusa terlihat memerah dan sedikit merapatkan kedua pahanya seolah menikmati apa yang telah dia keluarkan.
Sementara Naruto terlihat tersenyum tipis. Dia melihat sebuah bintang wanita yang dipuja oleh banyak pria sebagai seorang dewi kecantikan kini telah melakukan masturbasi tepat di depan matanya? Ini adalah kepuasan tak kuasa dia bendung dalam senyumnya.
"Bagus, sekarang berdiri di depan meja dan tunjukkan pantatmu padaku!"
Mendengar perintah Naruto tampak Saegusa terlihat agak bimbang sebelum dengan setuju mengikuti instruksi Naruto. Dia menungging tepat di depan meja menunjukkan dua lubang miliknya yang siap digunakan.
Naruto berjalan mendekat setelah melepas celana miliknya yang mana terlihat penisnya yang sudah berdiri tegak mencari pasangannya. Naruto sedikit menunduk untuk mencium bau wangi yang bercampur bau khas wanita yang menguar dari tubuh bagian bawah Saegusa.
Naruto menelusuri belahan pantat putih Saegusa yang terasa lembut. Dia sesekali meremasnya dengan gemas sebelum menuntun penisnya tepat di depan pintu masuk yang telah basah.
"Baik, saya memutuskan untuk membantumu berada di jalur akting jika kamu bisa bekerja keras mengimbangi saya!" seru Naruto sebelum dia benar-benar menyetubuhi bintang terkanal dari perusahaannya sendiri.
"tentu, kamu harus bertahan setidaknya beberapa jam!" gumam Naruto sebelum dengan gila menyetubuhi Saegusa yang hanya bisa pasrah menerima setiap sodokan benda asing di dalam vagina miliknya.
.
.
.
Haneda Airport, Tokyo, Japan.
Adalah sebuah bandara tersibuk di Perfektur Tokyo. Namun bandara ini mayoritas melayani penerbengan domestik, berbeda dengan bandara Nakita yang tak jauh darinya merupakan bandara yang dominan melayani penerbangan internasional. Hal yang menjadi ciri khas sekaligus daya tarik bagi Bandara Haneda ialah dia tepat terletak menghadap teluk Tokyo.
Pukul 14.00 waktu setempat dimana matahari masih bersinar dengan terang. Tampak sebuah mobil sport Ferrari Enzo yang terpakir di dalam bandara. Hal yang mencolok lain adalah seorang wanita cantik yang duduk diatas kap mobil. Meski dia memakai masker, itu tidak mengurangi kencantikan yang dia miliki.
Wanita itu adalah Kushina, dia memandangi rombongan orang yang turun dari pesawat. Kushina tidak mengidahkan tatapan penuh tanya yang diarahkan padanya. Fokusnya berada pada seorang pemuda yang juga memakai masker dan mengenakan topi baseball hitam.
Diantara para penumpang, pemuda itu terlihat mencolok dengan tinggi lebih dari 185 cm dan paras tampan yang tersembunyi dibalik masker. Pemuda itu menyadari tatapan Kushina dan berjalan menuju kearahnya. Beberapa langkah lagi terlihat jika Kushina sangat bahagia dengan melemparkan pelukan erat kearah pemuda itu.
Meski dia masih agak malu dan waspada, pemuda itu juga membalas pelukan erat Kushina sembari bergumam dengan suara yang magnetis. "Kushina-san saya takut kalau kita ketahuan."
Mendengar hal itu, Kushina tampak memutar matanya dengan bosan. "Tidak ada paparazi disini. Dan ngomong-ngomong, selamat datang di Jepang!" seru Kushina dengan ramah.
Namun tidak jauh dari sana, seseorang yang juga turun dari pesawat yang sama terlihat jika kedua tangannya bergetar sembari memotret momen yang dia dapatkan..
Continue
Note : Karena saya agak bosan dengan pure lemon, jadi saya mencoba menambah drama dan crime. Mohon maaf jika chapter ini agak berantakan, karena saya menulis di hp (tanpa edit-edit club) sebab laptop saya mati total. Sampai jumpa chapter depan!
