LIKE NARCISSUS AND ECHO

KookTae / KookV

Cast :

Jeon Jeongguk

Kim Taehyeong

Author : Tian Yerin a.k.a Wulan Titin

Genre : Hurt/Comfort

Disclaimer :

Cast(s) belongs to god, their entertainment, and their parents but the story line belong to me

.

.

.

"Like Narcissus and Echo"

HAPPY READING

.

.

.

Jeon Jeongguk adalah seorang eksekutif muda yang notabene punya banyak penggemar. Ibarat bunga yang baru mekar pasti banyak lebah atau kupu-kupu yang berkerumun lalu hinggap di sana. Tubuh tegap bak atlet, wajah rupawan bagai idol Korea, dan rambut selegam jelaga. Ya, seperti itulah pesonanya. Pesona seorang yang keindahannya mungkin layak disandingkan dengan kemahsyuran para dewa.

Jeonggguk dari luar tampak seperti sosok yang pendiam dan terkesan misterius. Tak banyak yang tahu bahwa sebenarnya dirinya adalah orang yang banyak omong dan memiliki beragam ekspresi semasa mudanya. Hanya satu-satunya kekasih yang setengah mati dirahasiakannya yang tahu sisi itu. Juga si pria yang sedang menyesap segelas tequila di sampingnya dengan lamat.

"Santai saja, bung. Semua akan berjalan lancar. Anjingmu pasti tak akan mengonggong, tidak, bahkan untuk meringkik saja mustahil."

Jeongguk melirik dan menaruh sepertiga perhatiannya pada pria berpenampilan formal itu. Lihat saja, setelan jasnya masih bertengger di tubuh kurus tingginya lalu tatanan rambutnya yang memakai pomade menambah kesan rapi pada dirinya. Apa tak salah dirinya masuk bar dengan penampilan begitu? Oh, abaikan. Bar itu bahkan dikelola oleh keluarganya sendiri.

Orang itu memutar bangkunya dan menatap sepupunya dengan belah bibir yang setengah terbuka, hendak menyesap tequila itu lagi. Kalau saja tak ditahan Jeongguk, mungkin snifter itu sudah kosong. Orang itu tentu terkejut. Pergerakan Jeongguk membuat gelas itu bergetar dan hampir saja mengeluarkan isinya. Beruntungnya telapak tangan orang itu masih kokoh menopang dasar gelas.

"Sudah cukup, hyeong. Kau bisa sakit perut."

Orang itu mendesis tak suka. Apa sakit perut ada dalam kamusnya? Tentu tidak. Kalaupun ada, ia tak akan berakhir menemani sepupunya di bar itu.

"Ini hanya minuman kuli di Meksiko sana, minum sedikit tak akan membuat perutku bermasalah, little Jeon."

Kali ini Jeongguk yang mendesis. Panggilan itu, ia tak menyukainya. Terlihat jelas dari cara matanya yang memutar perlahan. Ia sudah berusia 27 tahun, bahkan ia memiliki tato yang menjalar di lengan kirinya. Sangat amat maskulin. Jeongguk sudah bisa dibilang sangat matang.

"You win, old man."

"Haha. Aku tahu kau sedang mengalihkan pembicaraan. Back to the topic."

Jeongguk mengalihkan pandangannya. Tampak tak berminat dengan topik itu. Jelas sepupunya tahu betul kabar si anjing, lantas kenapa tak pernah absen barang sehari saja untuk menanyakannya? Layaknya gigi yang tersusun rapi tanpa ada celah sedikitpun.

Orang itu mengulum senyum. Jam Rolex-nya terus berdetik. Di dalam bar yang sepi, detak iramanya mungkin saja sampai ke telinga Jeongguk yang masih setia dengan lamunanya. Sampai ketika di satu titik, Jeongguk tertarik dari dunianya. Ya, Jeongguk tak melamun karena memikirkan anjingnya atau hal yang semacamnya. Dirinya-

"Masih tampan dan akan selalu begitu, Jeongguk."

Betul. Sahutan dari sepupunya adalah kunci dari segala hal yang mampu membuat Jeongguk tenggelam. Wajahnya, inti dari pesonanya.

"Anjing itu pasti masih di dalam apartemen. Sedang duduk dan menunggu dengan manis di depan pintu. Menurutmu, apa yang harus kulakukan untuknya? Perlukah aku menyewa pengasuh atau memberikannya pasangan agar tak kesepian?"

Hening. Orang yang diajak bicara hanya menatapnya tanpa minat. Bukan, bukan tak mau tahu, ia hanya mungkin sedang memikirkan jawaban yang tepat untuk Jeongguk. Hanya agar sepupunya itu mengerti kalimat sederhananya.

"Hyeong. Namjoon hyeong!"

"Kau tahu, anjing hanya butuh majikannya, Jeon."

.

.

.

Pagi itu, sebelum berangkat ke kantor, Jeongguk mematut dirinya di depan kaca, lama sekali. Ia memperhatikan bagian mana saja yang mungkin terlewatkan olehnya selagi bersiap. Ia meniti penampilannya untuk yang kesekian kali. Rambutnya sudah ditata sedemikian rapi, ceklis. Wajahnya sudah terlapisi tabir surya, ceklis. Bibir ranumnya terlihat pink segar karena bubuhan lipbalm, ceklis. Setelan jas dongker beserta kemeja putihnya, ceklis. Sepatu pantopel yang mengilat, ceklis. Dasi hitam yang terpasang sempurna, ceklis. Semua sudah sesuai keinginannya. Saat itu, barulah dirinya pergi dari depan kaca dan bertolak menuju kantornya.

Langkah kakinya perlahan memasuki ruangan khusus bertuliskan CEO dengan nama lengkap Jeongguk di bagian bawahnya. Ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru, tampak mencari secercah harapan dalam binarnya yang gelap. Ya, dia mencari kekasihnya. Satu-satunya orang yang ada dipikirannya yang membuat dirinya merasakan nyeri di dada acap kali melihat sosok itu. Sosok dengan mata hazel dan surai sewarna maniknya.

"Pagi, Kim Taehyeong!"

"Oh, pagi Park Jimin! Baru datang? Bukan dirimu sekali."

Jeongguk melihat dengan telinganya. Ia tak perlu menggunakan matanya untuk tahu apa yang sedang dilakukan kedua karyawannya itu. Ruangannya bahkan cukup untuk mendengar perbincangan mereka berdua.

"Kim Taehyeong, bisa ke ruanganku lima menit lagi? Bawa laporan keuangan bulan ini."

Jeongguk menutup pintunya perlahan. Biasanya, setibanya di ruangan, ia akan langsung membuka tirai yang menghadap ke arah di mana para karyawannya bekerja dan juga tentu saja tirai yang menuju pemandangan luar kantor. Gedung-gedung tinggi yang menjulang itu sejujurnya menghalangi keindahan kota. Tapi mau bagaimana lagi? Bukan kemampuan Jeongguk untuk memindahkan gedung berjejer di depan sana.

Satu-dua ketukan terdengar dari arah pintu. Jeongguk menarik atensinya. Sekelebat bayangan sang kekasih muncul, mengelabuhi fokusnya hanya untuk sekadar animo.

"Masuk."

Animo Jeongguk mencuat. Melihat pemandangan indah di hadapannya membuat dirinya bergetar. Sengatan listrik yang mengaliri tubuhnya terasa begitu kuat hingga untuk mengalihkan pandangannya saja tak mampu karena matanya sudah terkunci dengan rapat.

"Ini laporan yang anda inginkan, Jeon Heojangnim."

Suara itu mengalun indah ditelinga Jeongguk. Pria itu, Kim Taehyeong masih memperhatikan dirinya dengan senyum kotak khas yang hanya dirinya seorang pemiliknya. Jeongguk mendekat, ia mengamit map merah kesukaannya dan mulai membacanya satu per satu.

"Aku selalu percaya pada apa yang dikerjakan karyawanku. Sekarang-"

Taehyeong melihat Jeongguk mendekat. Sama sekali tak ada raut wajah khawatir. Ia hanya tersenyum manis di hadapannya. Satu langkah lebih dekat, maka dapat dipastikan kulit mereka bersentuhan. Atmosfer di ruangan itu seketika berubah kala jemari Jeonggguk menjamah tiap inci parasnya. Taehyeong menyukainya, sangat. Bahkan melakukannya di kantor lebih terasa nikmat daripada di rumah. Memacu adrenalin, itu hal yang disukai Taehyeong.

"Lepas, stud. Kau tak memerlukan itu."

Taehyeong mengikuti. Ia melepas segala yang melekat di tubuhnya. Segala perintah yang dilontarkan kekasihnya, ia pasti akan melakukannya. Bahkan saat malam itu.

"Kau akan selalu menurutiku, benar?"

Sekali lagi Taehyeong mengangguk pasti tanpa keraguan. Tidak ada kata tidak untuk Jeongguk. Apapun kemauannya adalah perintah mutlak baginya. Jeongguk itu bunga dan Taehyeong hanya lebahnya. Tapi jangan lupakan, bunga tanpa lebah bukanlah apa-apa. Eksistensinya hanya akan bertahan sejenak, tapi tidak dengan lebah.

"Selalu, Kookie. Bahkan untuk duduk semalaman menunggumu di depan pintu pun aku menurutinya."

Entah apa itu desir halus yang menghinggapi dada Jeongguk. Tak ada yang mampu menebak dirinya, bahkan seorang Kim Taehyeong, sang kekasih.

Jeongguk kembali menggeram dalam puncak kenikmatannya. Terlihat jelas peluh membanjiri kemejanya. Jasnya tetap kering, tak tersentuh buliran keringat miliknya karena ia telah melepas dan menggantungnya di stand hanger tepat di sebelah pintu. Ia tahu, hal ini akan terjadi bila perasaan mengganjal itu hadir. Lantas, ia melepas jasnya dan menyambut kekasihnya hanya dengan kemeja putih yang tertanggal di tubuh atletisnya.

Si cantik bak Dewi Aphrodite itu mengulum senyum, berkali-kali hanya untuk pria yang ia cintai sejak bangku kuliah. Taehyeong sangat menarik, penuh pesona. Ia selalu mengenakan busana yang pas di tubuh eloknya, matanya indah, memancarkan segala keindahan dunia, bulu matanya lentik sekali, dan caranya bersikap amatlah berkelas. Benar-benar jelmaan Aphro. Tapi tidak bagi Jeongguk, mungkin belum. Ia masih menganggapnya sebagai Echo.

"Tak heran Namjoon hyeong menyebutmu anjingku. You're just look alike a stud. Pejantan yang dikembangbiakkan."

Taehyeong tetap tersenyum. Namun, di balik itu semua, tak ada yang tahu, sesungguhnya hati itu sedang merana, tersakiti sedemikian dalam hanya karena pria yang lebih muda satu tahun darinya. Dan Jeongguk, apa dia peduli dengan ucapannya? Jawabannya tidak. Alih-alih menyesal, ia malah memperburuknya.

"Semua tahu kalau aku penuh keistimewaan. Aku punya segalanya. Terlebih aku tampan, parasku mewakili hidupku yang bergelimang segalanya. Dan kau tahu, Taehyeong. Kau akan selalu jadi anjing bila kau tak menyadari letak kesalahanmu."

.

.

.

Satu hari, saat di mana Taehyeong tidak datang ke kantor, saat di mana Jimin dan karyawan lainnya meributkan sesuatu, Jeongguk mendengarkan, mendengar dari balik pintu kayu mahoninya. Kalimat yang entah kenapa membuat hatinya berjengit ngilu. Ada satu titik di mana otaknya memilih jalan lain ketimbang sinkronisasi dengan hatinya.

Jeongguk mendengar karyawannya bertanya-tanya tentang keberadaan Taehyeong yang sudah hampir jam makan siang namun tak jua datang. Si pria bersurai pink gulali bernama Park Jimin itu menyahut, "Taetae sedang terkena demam tinggi, dia mengabariku baru saja."

Seketika Jeongguk pun tahu bahwa kekasihnya tadi pagi keluar rumah lebih dahulu bukan untuk ke kantor, tapi untuk check up. Sedikit saja, darahnya berdesir lebih hangat, otot tegangnya melunak, dan sejurus kemudian otaknya merespon lebih baik. Tangannya terangkat bersamaan dengan ponsel yang menempel di telinganya. Ia menelpon seseorang.

"Gajimu kupotong kalau kau tak datang ke kantor sekarang, Kim Taehyeong."

Masih mendengar jawaban orang di seberang sana, Jeongguk mengernyit tak suka. Sudah pasti ia tahu jawabannya. Kekasihnya akan datang dalam lima belas menit. Sok tangguh. Kira-kira itulah yang ada di pikiran Jeongguk.

"Asal tak jatuh pingsan dan merepotkanku, tak masalah."

Terdengan tawa dari seberang telepon di sana. Taehyeong rupanya menganggap itu sebuah lelucon. Entahlah, Jeongguk jadi semakin membencinya. Karena sejak entah kapan, hatinya telah memberontak melepaskan ikatan tak mengenakkan itu.

Benar saja, tepat lima belas menit, Taehyeong datang dan langsung mengetuk pintu ruangan Jeongguk. Setelah diizinkan masuk, Taehyeong melangkahkan kaki ke dalam ruangan itu. Ia menerima tatapan dingin tak mengenakkan dari pemiliknya. Hatinya seperti tertimpa sesuatu.

Taehyeong melangkahkan kakinya lebih dekat dengan Jeongguk. Mereka tak menghiraukan jendela di sana yang belum di tutup. Siapa peduli? Ruangan karyawan selalu kosong melompong di jam istirahat. Tak ada yang akan tahu, mereka meyakini itu.

"Kim Taehyeong, tidurlah di sofa itu sekarang."

Taehyeong tersenyum, "Kupikir kau butuh aku lebih dari sekadar menyuruhku untuk tidur, Kookie."

Jeongguk menarik sudut bibirnya, membuat smirk yang begitu menawan dan Taehyeong selalu menyukainya.

"Aku tahu kau penuh dengan imajinasi liar, tapi kau sakit. Tidurlah sekarang."

Taehyeong tidak menyukai perintah itu. Meski tubuhnya terasa berat, ia akan jauh lebih menyukai berada dalam rengkuhan tubuh atletis seorang Jeon Jeongguk daripada tidur di sofa, sendirian.

Taehyeong beringsut maju, lebih merapatkan diri ke arah tubuh Jeongguk, membiarkan bagian selatan mereka saling bersentuhan. Tubuhnya merindukan Jeongguk, dan hatinya? Hatinya bahkan telah lama sekali merindukannya, haus akan rasa cinta yang berbalas. Taehyeong tahu, Jeongguk hanya mencintai dirinya sendiri, ia tahu betul semua kalimat cinta untuknya lima tahun silam hanyalah sebuah taruhan. Taehyeong hanya pura-pura buta dan tuli.

"Selama ini kau hanya menginginkan ini-" Tangan Taehyeong bergerak melepaskan dua kancing jas dan telunjuknya bermain di dada yang masih terbalut kemeja sang kekasih. "bukan hatiku, kau hanya ingin tubuhku. Selalu dan tak akan pernah berubah."

Taehyeong berbalik. Ia berjalan mendekati pintu, menguncinya dan menutup semua tirai yang ada di sana, agar tak seorang pun tahu apa yang mereka lakukan.

Taehyeong kembali mendekati Jeongguk dan berhenti tepat dua langkah di hadapannya. Ia melepas satu persatu kesatuan benang yang melilit tubuhnya dan berkata dengan tanpa beban, "Ayo lakukan."

Jeongguk terpancing. Ia menggeram melihat kelakuan Taehyeong. Ada rasa terluka di hatinya, tapi ia tak menghiraukannya. Satu kata. Bercinta. Hanya itu yang akan dipedulikannya dalam satu jam ke depan. Jeongguk adalah pria dengan hormon berlebih, ia tak akan membiarkan Taehyeong begitu saja setelah menantangnya.

"Jangan salahkan aku."

"Tidak pernah."

.

.

.

"Ada apa, Jeongguk? Cafè bukan gayamu."

Seseorang yang Jeongguk undang hadir di hadapannya. Masih dengan tonggak yang kokoh, kedua tangannya melesak ke dalam kantung celananya dengan tanpa gangguan. Sosok itu menikmati pemandangan di hadapannya yang sedang duduk termenung menatap keluar jendela.

"Dia sedang melangkah keluar, hyeong."

Dengan kernyitan samar di dahinya, sosok itu -Namjoon- bertanya dengan suaranya yang setenang lautan, "Anjingmu?"

Jeongguk diam, tak bicara ataupun memberikan gesture yang berarti. Ia hanya fokus menatap ke arah luar jendela transparan itu, fokus pada sosok yang berada jauh di seberang jalan, Kim Taehyeong. Ia sedang bersenda gurau dengan seseorang dan Jeongguk mengenalnya. Orang itu eksekutif muda sama sepertinya, Park Bogum, kakak dari Park Jimin.

Tentu saja, dari awal Jeongguk tahu, rasa tak enak yang hatinya rasakan pada Park Jimin hanya rasa iri biasa. Park Jimin sudah bertunangan dengan seorang perempuan bernama Min Yoongi dari kantor sebelah, Jeongguk sering melihat mereka di luar jam kantor. Namun, rasa yang saat ini hatinya rasakan berbeda. Saat pria itu mengusak rambut kekasihnya, hatinya terbakar, ia merasa ada yang hilang di dirinya. Meski sang kekasih tak membalas atau menunjukkan gelagat positif, ia tetap membenci pemandangan itu.

Sepupunya mendesah, ia tak buta untuk tak melihat kejadian itu. Matanya bergulir silih berganti, antara Jeongguk, Taehyeong, dan si pria itu.

"Bukannya kau yang mengenalkannya lebih dahulu? Jadi, untuk apa semua rasa mengganjal di hatimu saat ini?"

"Apa maksudmu, hyeong?"

Sekali lagi, si yang lebih tua mendesah, "Kau cemburu, Jeongguk. Akuilah itu. Kau merasa dadamu tertimpa batu, merasa hatimu terbakar, rasanya seperti kau ingin menariknya dan memerintahkannya duduk di sini, di sampingmu saat ini juga."

Jeongguk tergelak. Ucapan Namjoon tepat mengenai titik berwarna kuning di papan panah terdalam hatinya. Meski begitu, ia masih menampiknya. Tak tahu apa yang ada di kepalanya saat ini, yang jelas pandangannya menjelaskan bahwa ia tak suka saat melihat pria itu ada di sekitar kekasihnya belakangan ini.

"So, just say 'hasta lavista, baby' to him."

Jeongguk menatap Namjoon nyalang. Berharap tatapan menusuk itu mampu menggetarkan sepupunya. Namun, Jeongguk sadar bahwa itu tak berguna, sepupunya akan selalu ada di atas dirinya yang bersifat arogan.

"Aku sudah pernah mengatakannya tempo hari, rencanamu akan berjalan lancar, dan lihat, sekarang anjingmu sudah mulai melangkah keluar dan kau akan bebas dengan segera. Kau tahu betul, anjing hanya butuh majikan untuk merasakan bahagia, Jeongguk. Aku telah memberitahumu berulang kali. Jadi, kau hanya perlu memilih, melepas atau menarik kembali harnessnya."

.

.

.

Jeongguk berkelut dengan pekerjaannya di kantor. Otak encernya tiba-tiba mendidih kala melihat isi dalam map coklat yang baru saja ia buka. Terpampang jelas beberapa potret sang kekasih tengah bermesraan dengan Park Bogum. Tentu saja kata bermesraan dalam kamus Jeongguk berbeda dengan orang lain. Ia telah mengimi-imingi orang lain kekasihnya sendiri. Jadi, di sini, Taehyeong tidak selingkuh dan Jeongguk harusnya paham dengan kondisi itu.

Jeongguk menghela napasnya panjang dan tangannya menyisir rambut klimisnya ke belakang dan membuat kesan berantakan, sedikit berbanding terbalik dengan kebiasannya. Ia bangkit dari kursinya dan keluar mendatangi meja Taehyeong. Acuh dengan segala tatapan memangsa dari para karyawan wanitanya. Ia hanya fokus pada satu orang.

"Kim Taehyeong, masuk ke kantorku sekarang. Laporan keuanganmu salah semua."

Taehyeong bingung. Ia merasa telah melakukan pekerjaannya dengan baik dan akurat. Namun, tetap, ia menurut dan mengikuti Jeongguk dari belakang. Ia menatap bahu dan punggung lebar itu dalam diam. Taehyeong merindukannya, terlebih hatinya. Ia sama sekali tak ingin lepas dari Jeongguk, tapi di sisi lain, dirinya mulai memakai logika yang telah lama menyisip mili per mili ke dalam otaknya.

Taehyeong sakit dan Jeongguk tahu betul hal itu. Entah ini ke berapa kali baginya merasakan dunianya runtuh. Meski begitu, Taehyeong tetap mencoba berdiri kokoh, menjadi tonggak yang mampu menyangga rapuhnya seorang Jeon. Taehyeong tahu, bahkan segala isi langit dan bumi pun tahu bahwa seorang Jeon Jeongguk menaruh rasa pada Kim Taehyeong. Ia hanya belum menyadarinya. Taehyeong tak akan membiarkan dirinya tenggelam dalam rasa putus asa dan ketidakpercayaannya. Setidaknya, biarkan ia mencoba, harder and harder, sampai tonggak bambu itu patah terbelah menjadi dua.

"Bagaimana kau bekerja kalau salah semua seperti ini? Kim Taehyeong!"

Satu bentakan keluar dari mulut Jeongguk dan Taehyeong hanya diam.

"Apa arti tatapan itu? Kau tak mendengarkanku? Dengar dan amati baik-baik, Kim Taehyeong!"

Bentakan kedua, Taehyeong masih dengan diamnya, tapi matanya menangkap jelas Jeongguk dari dalam hazelnya.

"Kau tak tuli, Kim. Jelaskan padaku! Apa saja kerjamu selama ini? Bermesraan dengan orang lain? Memasukkan segala keheningan malam dalam riuhnya siang? Mengecewakan!"

Tiga. Jeongguk terlalu banyak bicara. Taehyeong menarik sudut bibirnya perlahan. Senyumnya sedikit berbeda kala itu dan Jeongguk merasakan hatinya bergetar.

Taehyeong melangkah maju, ia menarik keluar dasi yang tertata rapi di dalam jas Jeongguk. Ia menunduk dan menatap dasi itu lamat-lamat. Bibirnya mengulum senyum tulus penuh cinta. Ia mendongak, menatap manik jelaga itu hingga larut. Binar kelamnya bahkan mengalahkan gulita malam. Jeongguk sudah terlalu jauh berjalan. Ia harus menariknya.

"Anjing hanya bisa mendengar, Kookie. Tak ada anjing yang menjawab tuannya."

Jeongguk diam seribu bahasa. Ia tahu, Taehyeong sedang berusaha mengeluarkan penatnya. Ia menunggu sekian lama untuk itu. Hanya untuk hal ini.

"Kau tahu pasti aku hanya melihat ke arahmu meski aku bersama Park Bogum, orang yang kau coba jodohkan denganku. Tatapan menawannya tak mampu menerobos hatiku, bahkan saat dirinya mencuri ciuman singkat dari bibirku sekalipun-" Taehyeong melirik foto dirinya yang berserakan di atas meja kerja Jeongguk. Ia mempertahankan senyuman yang masih terpatri indah, dengan kepala yang ia sandarkan di bahu sang kekasih, ia berbisik lirih, "Kemarahanmu ini adalah jawaban untukku, terimakasih Jeongguk."

Jeongguk mengernyit, ia tak suka. Segala yang ada di diri Kim Taehyeong ia membencinya. Membenci keruntuhan harga dirinya karena kenyataannya bukan dirinyalah yang diinginkan banyak orang, tapi Kim Taehyeong. Pria ramping yang tengah melepas penat di bahunya inilah yang sebenarnya menarik banyak atensi orang-orang. Dialah ratu lebah.

Jeongguk mundur dengan cepat dan menahan bahu Taehyeong agar tidak mendekat, membuat Taehyeong bingung. Kepalanya berpikir apakah ia telah melakukan kesalahan?

"Kau memang semurah itu, Kim Taehyeong. Kemarin dia menciummu, nanti atau esok mungkin kau sudah berada di bawahnya. Kau menyukai itu bukan? Apa dia lebih liar dariku?"

Jeongguk maju selangkah dan menarik kerah Taehyeong hingga kakinya sedikit berjinjit. Peregangan kaki? Omong kosong. Taehyeong menatap mata Jeongguk, kali ini tak ada dirinya dalam jarak pandang mata legam itu. Taehyeong tak melihat dirinya. Dengan sedikit tercekat, ia berkata, "Jangan terlalu jauh Jeongguk, jangan. Aku takut tak bisa menarikmu."

Jeongguk tertawa setelah melepaskan cengkeramannya di kerah kemeja tosca Taehyeong. Ia mengacak rambutnya sekali lagi, lebih liar. "Kau pikir siapa yang jadi anjing di sini, Kim Taehyeong? Kau tahu, kalau kau lelah, aku tak pernah menahanmu, kau bahkan tak pernah memakai harness."

Taehyeong menunduk. Ia membuka kemejanya begitu saja. Tubuh naked-nya berjalan menuju kamar mandi di sudut ruangan. Ia menyalakan air dan berbalik menghadap Jeongguk yang masih berada di sisi meja kerjanya. Jeongguk setengah mati mengabaikan eksistensi pria itu. Ia memilih untuk memasukkan semua foto itu ke dalam map dan melemparkannya ke dalam tong sampah.

Taehyeong melihat itu, Jeongguk marah padanya setelah melepaskannya. Kalau saja Jeongguk melirik barang sedetik, ia pasti tergerak setelah melihat Taehyeong yang menangis dalam guyuran shower di sana.

.

.

.

Sudah hampir satu bulan Taehyeong tak pernah kembali ke rumahnya. Ini kali pertama Taehyeong pergi dari sisinya. Jeongguk hanya mencoba, ia ingin tahu apakah Taehyeong akan menurut atau tetap tinggal. Lalu sekarang apa? Taehyeong benar-benar pergi entah ke mana. Sebulan lalu, tepat sehari setelah insiden itu, ia juga mendapat surat pengunduran diri milik Taehyeong. Dunianya runtuh seketika.

Kini, ia tak tampak sama seperti Jeongguk si eksekutif muda yang mencintai dirinya sendiri. Ia hanya seorang Jeon Jeongguk yang merindukan kehadiran seseorang namun tak mau mengakuinya. Munafik.

Jeongguk yang sekarang lebih ramah pada banyak orang. Price tag nya sudah lepas, terbuang entah ke mana karena bajunya sudah ia pakai. Ya, Jeongguk melepas rasa egois itu perlahan. Ia tahu ia hanya perlu melepaskan Narcissus yang hinggap di dirinya. Ia hanya perlu Taehyeong untuk dicintai.

"Jeongguk, kau tahu di mana Taehyeong? Aku tak melihatnya belakangan ini dan tak tahu nomor ponselnya."

Jeongguk menoleh, Park Bogum rupanya. "Kau tak punya nomor ponselnya?"

Park Bogum mendesah, ia menepuk punggung Jeongguk lembut dan tangan kirinya mempersilahkan Jeongguk agar duduk di bangku cafè yang tak jauh dari parkiran di gedung itu. "Taehyeong selalu mengalihkan pembicaraan saat aku meminta nomornya dan ia juga selalu berusaha menjauh dariku. Kupikir ia tak menyukaiku. Kalau tidak, mana mungkin ia menolak untuk tidur denganku."

Mata Jeongguk mengilat. Ia tak suka kalimat yang keluar dari mulut Park Bogum itu. Kepalan tangannya sudah gatal untuk memukul.

"Ya, tak apa. Meski usahamu gagal, setidaknya aku sudah mendapatkan bibirnya. Kau tahu, itu candu bagiku. Hebat. Kau menemukan pria itu di mana?"

Jeongguk bangkit dengan mata yang masih menatap nyalang bak elang. "Pria itu kekasihku, calonku, jadi, jangan sampai kau terlihat bersamanya lagi, Park Bogum."

Anggaplah Jeongguk bodoh karena rasa egois dan munafik yang berlebihan. Yang jelas, saat ini ia hanya ingin terus mencari di mana keberadaan Taehyeong. Melalui teman kantor Taehyeong, Park Jimin, ia mengulik info.

Saat itu, jam sudah menunjukkan istirahat makan siang. Namun, Jeongguk lebih memilih untuk menyeret karyawannya itu ke dalam ruangannya dan membuat keheningan yang cukup menegangkan.

"Aku tak akan memberitahukan keberadaan Taetae padamu, Jeongguk."

Seculas itulah kalimat yang dilontarkan Jimin. Ia bahkan tak menganggap orang yang ada di hadapannya itu sebagai atasan.

Jeongguk mendesah lelah, "Sejelas itu hubungan kami?"

"Tak ada yang tak tahu hubungan yang setengah mati kau sembunyikan kalau kenyataannya hampir setiap hari kau memanggil Taetae ke ruangan ini dengan tirai tertutup dan tentu saja dengan alasan yang sama."

Sekali lagi Jeongguk mendesah keras, ia menatap tepat di kedua mata Jimin yang tak gentar. "Park Jimin, kalau kau tahu, berikan aku informasi tentang keberadaannya. Aku harus meluruskan sesuatu."

Jimin terkekeh, "Meluruskan juniormu yang selalu keras saat bersamanya, maksudmu?"

"Jimin. Aku sedang serius. Kau mau beritahu atau tidak? Kalau tidak, keluarlah."

Dan Jimin melangkahkan kakinya keluar ruangan.

.

.

.

Namjoon mengunjungi rumah Jeongguk. Ia melihat Jeongguk lebih kacau setelah kepergian Taehyeong. Jelas ia tahu alasannya.

"Kau sudah mengucapkan selamat tinggal padanya bukan? Lalu untuk apa rasa bersalah ini, Jeon?"

Tonggak yang setengah mati berdiri kokoh akhirnya patah menjadi dua. Entah bagi Jeongguk atau Taehyeong. Tonggak keduanya sama-sama telah patah. Mereka hancur karena kesalahan mereka sendiri. Jeongguk terlalu mencintai dirinya dan terlalu munafik, begitupun Taehyeong yang terlalu menurut dan membiarkan dirinya menunggu tanpa mengeluarkan sepatah kata keluhan. Kenyataannya, sebuah hubungan perlu dibumbui amarah dan sesekali menyimpang dari jalur aman. Namun, keduanya memilih sama-sama jatuh dari langit, berharap bisa mendarat di satu kasur yang sama. Mustahil.

"Katakan, Jeongguk. Kau ingin aku berbuat apa lagi? Menemukan kekasihmu dan menariknya ke sini?"

Jeongguk menunduk lesu. Ia mabuk. Lihat saja di atas meja sudah ada lima botol soju kosong. Namjoon mendesah, ia tak tahu apa kabar yang ia bawa akan membuat Jeongguk baik-baik saja.

"Taehyeong akan menikah dengan teman perempuannya di Daegu. Pikirkan ini Jeongguk, kau sudah bebas. Pilihlah dengan otak encermu sekali lagi, melepaskan atau menarik harness-nya kembali."

"Taehyeong bukan-hik anjing, hyeong. Dia-hik dia kekasihku-hik, milikku..."

Secercah harapan terbit di sudut mata sabitnya. Ia berharap Jeongguk berubah, ia ingin Jeongguk lepas dari dirinya yang lama.

"Kalau begitu, pergilah ke alamat ini besok, little Jeon. Tarik dia kepelukanmu lagi. Kali ini tunjukkan kalau kau majikan yang menyayangi anjingnya- maksudku, tunjukkan bahwa dia berharga. Kau tahu caranya."

.

.

.

Di sinilah Jeongguk berada, di depan ruang yang telah disewa untuk acara pernikahan Taehyeong dan Irene. Ruang bernuansakan gold dengan hampir keseluruhan dekorasi yang begitu mewah. Jeongguk membayangkan betapa cantiknya Taehyeong di altar sana nanti.

Jeongguk tahu, seharusnya ia menarik bibir selebar-lebarnya, bukan malah mengusap air mata yang menganak di pipinya. Sadar akan benang yang putus tak akan membawa kembali layangan itu padanya.

Tabuhan gendang bertalu-talu dirasakan Jeongguk. Dalam kebimbangan hati, ia membayangkan kejadian lima tahun silam, saat dirinya menjadikan Taehyeong sebagai mainan.

Saat itu, matahari sedang berada di titik tertinggi rotasinya. Peluh bercucuran dari sekelompok anak remaja yang baru saja selesai berlatih basket. Si pemilik inisial punggung JJ melenguh sekadar untuk meregangkam ototnya yang sedari tadi berkontraksi.

Dalam kelompoknya, ada seorang bernama Oh Sehun, senior tingkat tiga di kampusnya. Ia bersiul saat melihat sosok yang selalu menarik perhatiannya. Seseorang yang memakai piercing di telinga kiri yang dilengkapi dengan anting panjang menjuntai hingga bahunya. Keberadaannya begitu menocolok. Karena selain banyaknya aksesoris yang menempel, sosok itu cantik bak dewi.

Jeongguk menoleh, dahinya mengernyit tak suka. "Berantakan sekali penampilannya, hyeong. Seleramu aneh."

Oh Sehun dan yang lain mendecak meremehkan Jeongguk. Si pirang bernama Daniel menyahut, "Ada yang salah dengan matamu, Jeon. Barang seindah Kim itu kau bilang berantakan? Kau hanya belum tahu bagaimana penampilannya sebelum seberantakan itu, Jeon."

"Benar. Kau baru pindah ke sini sebulan yang lalu."

Jeongguk memutar bola matanya malas, tak mau ambil pusing dengan perkataan para sunbae-nya. Di matanya saat itu, Taehyeong hanya seorang pengacau karena tampilannya begitu acak-acakan dan Jeongguk tak suka sesuatu yang tak teratur.

"Hei, Jeon! Ayo taruhan. Kalau kau bisa mendapatkannya, aku akan mentraktirmu makan siang selama seminggu."

"Aku bahkan bisa makan di sini tanpa harus membayar, Mingyu."

Semua tertawa. Tawaran Mingyu sama sekali tak berharga. Jeongguk memerhatikan orang itu, orang yang rumornya indah sekali. Kini ia tertantang. Lantas, ia mengiyakan tawaran itu dengan syarat, "Cukup belikan aku Clive Christian 1 botol."

Jeongguk dengan sigap bangun dan meninggalkan anggota lainnya yang kebingungan dengan ucapannya barusan. Tapi sudahlah, jangan hiraukan bagian itu. Perhatikan saja langkah Jeongguk yang penuh kepastian. Taehyeong melirik dengan ekor matanya. Pria berotot ini, mengganggu aktivitas membacanya.

"Kim Taehyeong, benar? Kenalkan, namaku Jeon Jeongguk."

Kala itu, Jeongguk lah yang pertama kali mengulurkan tangan dan menarik Taehyeong dari dunianya. Lima tahun silam Jeongguk adalah orang yang banyak bicara, meskipun hanya untuk memenuhi taruhannya pada teman grup basketnya.

Taehyeong memundurkan punggungnya dan menoleh ke kanan. Tepat sasaran, ia menemukan senior tingkat tiga dan beberapa temannya di lingkaran itu tengah melambai ke arahnya. Taehyeong mendesah lebih panjang.

"Aku bukan barang taruhan, kau tahu itu, hoobae?"

Suaranya begitu dingin. Jeongguk tak tahu kalau saat itu adalah masa tersulit untuk Taehyeong. Kabar kematian sang kekasih membuatnya hancur dan menjadi urakan. Kerap kali ia terlihat duduk diam di depan makam kekasihnya selama berjam-jam. Ia juga mulai menjadi liar. Cara bertemannya berubah drastis. Wajar saja, tahun pertamanya di kampus itu tak begitu bagus. Satu-satunya orang yang selalu menemaninya hanya sang kekasih. Namun, kini tak akan ada lagi yang menemaninya, membuat ia semakin merasa terkucilkan. Maka dari itu, ia memilih mencari teman di luar, membuka diri agar bisa mengalihkan rasa sedihnya.

Taehyeong sudah susah payah melupakan kesedihannya selama hampir 5 bulan. Namun, pemuda di hadapannya itu dengan kurang ajarnya mengingatkan kembali bayang-bayang sang kekasih hati yang telah terkubur bersama tanah. Lantas, ia bisa apa?

"Aku hanya ingin menjadi temanmu, Kim Taehyeong."

Jeongguk mengingatnya, persis saat pertama kali ia melihat Taehyeong yang urakan dan aneh itu tersenyum. Sesuatu menarik hatinya untuk melangkah maju memasuki relung hatinya. Ia bahkan tak peduli saat jauh di sisi lain sana, teman-temannya bersorak heboh untuk dirinya.

Rasa ingin tahunya mendorong Jeongguk untuk memiliki Taehyeong. Setelah hampir satu bulan mengekori Taehyeong, ia menyatakan cinta dengan luar biasa singkat. Saat itu, di depan pintu rumahnya, ia berkata, "Tinggallah di sini bersamaku, Kim Taehyeong."

Taehyeong tergelak, "Kau pikir aku tak mampu menyewa apartemen begitu?"

"Maksudku, tinggal bersama sebagai sepasang kekasih. Kau pasti paham."

Sekali lagi, Jeongguk melihat senyum tulus di belah bibir Taehyeong yang begitu menggoda. Sedetik, Taehyeong menempelkan bibirnya di atas bibir Jeongguk lalu menjawab dengan suaranya yang lembut, "Kalau maksudmu kau mencintaiku, maka jawabannya aku juga mencintaimu."

Jeongguk tertarik dari masa lalunya. Ia masih sibuk menyeka air matanya yang turun dengan deras. Rasanya sudah tak ada harapan. Pada dasarnya hubungan mereka manis, meskipun awalnya hanya sebuah taruhan, tapi perasaan mereka berdua tulus. Taehyeong bahkan mengakui bahwa dirinya terlalu menurut hingga disalah artikan oleh Jeongguk. Begitupula Jeongguk dengan ego dan kemunafikannya yang hadir karena ingin merasa dimiliki, ingin sesekali diproteksi oleh Taehyeong. Semua terlalu membosankan bagi Jeongguk, dan dari sanalah kehancuran itu dimulai.

Saat ingin melangkahkan kaki keluar gedung, matanya menangkap Taehyeong dengan tuxedo putihnya. Rambutnya berganti ashy green dengan tatanan yang natural. Meski belum dirias, pria itu sangat menawan di mata Jeongguk.

"Taehyeong...," panggil Jeongguk teramat lirih, sedangkan yang dipanggil hanya mengabaikannya, berjalan melewati Jeongguk tanpa menoleh sedikitpun. Jeongguk melihat sorot mata itu sama seperti kali pertama di lima tahun silam.

"Tae, kumohon, dengarkan aku kali ini. Setelahnya kau bebas memutuskan."

Taehyeong berhenti tepat satu langkah setelah melewati tubuh Jeongguk. Ia menunggu sekali lagi.

"Bisakah aku memohon padamu sekali ini? Apa kau akan mendengarkan dan menurutiku?"

"Tidak."

"Bagus. Karena aku menunggu sangat lama agar kau berhenti menjadi penurut dan menganggap semua yang kukatakan adalah perintah. Taehyeong, saat kau mulai hilang dan goyah, saat itu aku datang dan menarikmu keluar. Sekarang, apa kau tak mau merengkuh dan menggenggam tanganku?"

Taehyeong meringis, ia mengusap wajahnya frustasi, "Aku sudah mengatakannya saat itu, tapi kau berbalik mengatakan aku murahan. Lihat saat aku bertelanjang di hadapanmu dan mengurung diri di kamar mandi? Sama sekali, kau tak menoleh padaku setelah membuangku Jeon Jeongguk. Aku masih berjuang di sana, menunggumu merengkuh hatiku. Dan apa yang kudapat? Egomu, kemunafikanmu. Aku tahu, cinta tak perlu diucapkan, hanya dengan sikap saja aku bisa merasakannya. Jeon, kuberi kau dua pertanyaan. Apa kau pernah barang sekali mengatakan kau mencintaiku? Apa kau pernah barang sekali menujukkan cinta tulusmu setelah rasa bosanmu membutakan seluruh kenyataan yang ada?"

Hening. Jeongguk tak menjawab sama sekali. Kalimat-kalimat itu bagai bidak catur yang telah berada di posisi skakmat. Kakinya kaku, lidahnya kelu, matanya berkedut. Ini kesalahan Jeongguk. Ia menyakiti Taehyeong lebih dari yang diketahuinya.

"Kau melepaskanku begitu mudahnya saat aku menahannya susah payah. Kau membuatku hancur, Jeon. Kau bukan manusia, kau monster sialan yang bahkan tak bisa kulupakan hingga detik ini."

Taehyeong menangis. Secercah harapan muncul di sudut terdalam relung hatinya. Apakah itu sebuah tanda?

Jeongguk berbalik, memandangi bahu sempit itu dengan lamat. "Aku tahu. Ini salahku. Bisakah- bisakah kau menarikku lagi? Kali ini aku akan berusaha membuatmu bahagia. Biarkan aku melakukannya, Taehyeong."

"Kau tahu betul aku tak akan menuruti ucapanmu, Jeo-"

"Ini permintaan, bukan perintah, Tae. Kumohon padamu. Nae ireumeul hanbeonman deo bulleo juseyo."

Isakan itu lolos begitu saja dari belah bibir Jeongguk. Pria yang notabene pantang mengeluarkan air mata, hari ini menangis putus asa untuk seorang Kim Taehyeong.

"Aku akan mengecewakan banyak pihak kalau pernikahan ini batal. Orang tuaku akan menanggung malu. Mengertilah... waktumu sudah habis."

Taehyeong melangkah maju tanpa sedikitpun menoleh ke arahnya. Namun, sekali lagi Jeongguk ingin berharap. Ia menarik lengan Taehyeong dan menariknya ke dalam dada bidangnya, memeluk hangat serta mengecup puncak kepalanya.

Taehyeong bergeming. Ia merindukan aroma pria ini. Ia pun menangis sejadinya di pelukan Jeongguk, berusaha melepas penat di dadanya setelah sekian lama.

"Hiduplah bersamaku. Jangan membuatku hidup dengan mencintai diriku sendiri. Aku tak mau menjadi Narcissus dan tak mau menempatkanmu sebagai Echo karena kau adalah Aphrodite bagiku, Taehyeong. Kau selalu membuatku mabuk hanya dengan pesonamu. Bahkan Dionysus bisa tergeser posisinya olehmu."

Taehyeong menganggguk perlahan. Datang tiga jam lebih awal ke gedung itu ternyata bukan hal buruk. Karena nyatanya ia kembali bersatu dengan Jeongguk. Satu masalah lagi, bagaimana dengan keluarga dan mempelai wanitanya? Entah, ia tak peduli lagi. Dicoret dari daftar warisan pun tak masalah.

"Cukup jujur dengan perasaanmu dan jangan biarkan mereka membawamu tenggelam hingga ke dasar karena itu di luar kemampuanku, Kookie."

.

.

.

Narcissus dan Echo. Kisah cinta yang tak akan bisa berbalas. Narcissus dikutuk Aphro karena telah menyakiti Echo dan Echo dikutuk Hera karena telah menyembunyikan perselingkuhannya. Narcissus mati dengan tanpa bisa mengalihkan pandangannya dari rasa cintanya pada pantulan dirinya di air dalam telaga dan Echo menghabiskan waktunya dengan menangis hanya karena terus mengulang kalimat terakhir Narcissus.

.

.

.

"Aku tak mau menjadi Narcissus yang mati karena sibuk memandangi bayangannya sendiri."

"Aku pun tak mau menjadi Echo yang malang. Aku ingin menjadi Aphro seperti yang banyak orang asumsikan."

.

.

.

THE END