Latihan hari itu berjalan baik walau Setter utama mereka sedang absen. Saat Osamu memberitahu teman-teman di klubnya bahwa si kembaran tidak masuk sekolah karena flu, Kita adalah orang pertama yang memberi respon berupa cibiran dengan mengatakan, 'sudah kubilang agar istirahat dengan baik, bandel sih.'. Tetapi karena memang sudah jadwalnya mereka untuk latihan, tim voli putra SMA Inarizaki tetap menjalankannya seperti biasa.

"Kemarin kulihat dia keluar dari ruang ganti sambil nangis, lho," ucap Gin. "Apa jangan-jangan flunya diperparah gara-gara itu, ya?"

"Kenapa nangis? Yang ada juga anak orang yang dia bikin nangis," dengus Suna.

"Dia cuman terharu karena dapet bingkisan dari Kita-san dan pesan untuk agar tidur dengan baik biar cepat sembuh," jawab Osamu.

Suna mendengus lagi. "Cengeng."

"Apa bukan karena dia tidak pernah mendapat perlakuan sebaik itu sebelumnya?" celetuk Gin kemudian.

"Dianya aja reseh, siapa juga yang bakal mau kasih perhatian?" cibir Suna. "Kan, katanya, kalau kita berbuat baik, kita bakal diberi perbuatan baik juga. Nah, Atsumu mana pernah kasih perhatian ke orang lain?"

Osamu terdiam. Pikirannya menerawang sejenak, lalu ia tersenyum kecil. " … Atsumu sebenarnya perhatian, kok."

.


.

Disclaimer: Haikyuu! adalah karangan Furudate Haruichi. Author tidak mengambil keuntungan materiil.

Warning: oneshot, bukan twincest.

.

.

Brother's Affection

by Fei Mei

.


.

Sejak kecil, Atsumu selalu menjadi yang lebih aktif daripada saudara kembarnya. Karena memang sejak lahir selalu bersama-sama, Osamu pun hanya mengikuti kemana kembarannya pergi. Sebaliknya juga begitu ketika Osamu ingin pergi kemana. Keduanya hampir tidak bisa dipisahkan.

Musim panas saat mereka berumur empat tahun, Atsumu nekad ingin mencari kumbang. Osamu tidak ngebet soal memburu hewan itu, tapi ia ingin ikut saudaranya. Jadilah ketika orangtuanya tidak mengawasi, kedua bocah itu menyelinap keluar saat siang hari.

Matahari sudah mulai tenggelam dan si kembar belum berhasil menangkap seekor kumbang pun. Sebagai gantinya, yang mereka dapatkan adalah luka pada lutut Osamu karena jatuh tersandung batu. Hari semakin gelap, dan Atsumu pikir mungkin mereka pergi terlalu jauh. Dilihatnya si adik yang berjalan tertatih-tatih entah karena lelah atau karena kakinya sakit, atau malah keduanya. Lalu Atsumu berjongkok di depan Osamu yang bingung melihatnya.

"Nyaik ke punggungku, 'Camu," ujar Atsumu.

Osamu mengerjap. "J-jangan! Beyat, lho!"

"Lututmu cakit, kan? Yuk!"

Adiknya menunduk menahan tangis karena memang rasanya perih. "B-benel gapapa?"

Dengan mantap Atsumu mengangguk. Jadi perlahan Osamu naik ke punggung kakaknya. Setelah Osamu mengalungkan tangannya dengan benar di leher saudaranya, Atsumu perlahan berdiri. Hati Osamu cemas sendiri ketika si kembaran berjalan dengan agak gemetar.

"'Cumu, beyat, kan?"

"Enggak! 'Camu enteng, kok!"

.


.

Walau masih kecil tampang imut mereka sama, nyatanya sudah tampak jelas dari awal bahwa Atsumu-lah yang lebih tengil. Iya, jika punya saudara, yang satu pasti lebih reseh. Jika kamu merasa tidak ada yang reseh di antara dirimu dengan saudaramu, berarti kamulah yang reseh.

Suatu ketika saat kelas 2 SD, si kembar pulang diam-diaman sambil cemberut dan tidak mau menatap muka satu sama lain. Kalau sudah seperti itu, sudah pasti mereka sedang bertengkar. Usut punya usut, penyebabnya adalah lomba antar kelas yang diadakan tadi pagi. Keduanya berada di kelas yang berbeda dan sama-sama ikut lomba futsal, jadi sudah pasti mereka akan melawan satu sama lain. Karena terlalu bersemangat, Atsumu menendang bola dengan keras menuju gawang yang dijaga adiknya. Bukannya masuk gawang dengan sempurna, bola itu malah mencium mesra dahi Osamu dulu sampai tumbang.

Osamu paham itu tidak sengaja, tetapi sikap Atsumu setelahnya menyebalkan. Bukan minta maaf, saudaranya malah bilang dirinya terlalu payah dan lelet. Sudah dahinya masih nyut-nyutan, sekarang hatinya ikut cenat-cenut. Sebal.

Selama beberapa hari setelahnya, Osamu selalu memasang wajah cemberut tiap bertemu kakaknya. Ia tak mau tidur sekamar dengan Atsumu dan selalu naik ke ranjang orangtuanya untuk tidur malam. Ocehan dari saudaranya pun diabaikan. Karena berlangsung beberapa hari, Atsumu jadi merasa bersalah tapi masih tampak gengsi untuk minta maaf.

"Osamu, ini ada onigiri tuna bikinan nenek," panggil ibunya dari ruang makan.

Osamu mendelik ke dalam ruangan, kakaknya tidak nampak dan hanya ada ibunya disana, jadi ia pun masuk. "Ibu sudah makan?"

Ibunya mengangguk. "Atsumu juga sudah, jadi ini tinggal buat Osamu."

Miya termuda itu menyerngit, masih ada tiga onigiri di atas piring, biasanya satu orang hanya dijatahi dua.

Melihat Osamu bingung, Nyonya Miya tersenyum lembut. "Atsumu sudah kenyang makan satu, jadi katanya jatah satu lagi miliknya untukmu saja."

… kata 'maaf' itu beda dengan onigiri, tahu.

.


.

Hal yang kurang lebih sama terjadi sekitar tiga tahun kemudian. Kisahnya berbeda, tetapi afeksi Atsumu-lah yang sama.

Si Kembar jarang sakit yang mengharuskan absen. Palingan mungkin hanya demam sedikit lalu keesokannya sudah sehat bugar. Biasanya juga kalau sakit itu mereka kompak—yang satu sakit, yang satu lagi ikutan. Orangtua mereka berpikir hal itu entah karena mereka kembar atau mungkin karena mereka tidur di kamar yang sama. Karena sering sakit bareng-bareng, orangtua mereka memutuskan untuk memisahkan kamar kedua anaknya. Alhasil, mereka tidak sesering itu lagi sakit sama-sama. Tetapi, hampir tiap pagi sang ayah dan ibu akan menemukan kedua putra mereka ternyata tidur di kamar yang sama, mungkin mereka kesepian di malam hari. Mengalah, dua orang dewasa itu membiarkan si kembar tidur sekamar lagi.

Hari itu Osamu demam sendiri. Melihat adiknya bisa bolos sekolah karena sakit, Atsumu ingin pura-pura sakit juga biar tidak usah sekolah—tapi ketahuan ibunya. Jadilah seorang diri Atsumu pergi sekolah.

Agar demamnya cepat turun, Osamu menuruti perkataan ibunya yang terpaksa meninggalkannya sendiri di rumah untuk bekerja. Jadi setelah makan dan minum obat, Osamu terlelap. Entah sudah berapa lama ia tidur, pokoknya ia terbangun karena mendengar suara decitan pelan pintunya. Perlahan Osamu membuka kedua matanya, melihat si kakak membuka pintu kamar.

Wajah Atsumu tampak cemas. Osamu menyadari saudaranya baru pulang sekolah karena Atsumu masih mengenakan ransel di punggungnya.

"Osamu, sori, kebangun, ya?"

"Enggak, sudah setengah sadar, kok."

"Masih demam?"

"Mendingan."

Atsumu masuk dan duduk di samping ranjang adiknya. Diaduknya sebentar ransel, mengeluarkan mangkuk jeli kemasan dan disodorkan pada Osamu. "Hari ini Bu Guru bagiin ini. Ada lebih, jadi kumintain satu buatmu."

Osamu mengerjap, kemudian menerimanya dengan dua tangan dan bergumam 'terima kasih' pelan.

Tetapi keesokkan harinya di kelas, Osamu mendengar bahwa jatah masing-masing anak hanya satu, tidak boleh ambil lebih apa pun alasannya, dan tidak boleh dibawa pulang.

.


.

Walau Atsumu tengil, anak itu tetap menjaga tubuhnya dengan baik. Hal itu berbeda dengan Osamu yang padahal pendiam tapi hobinya makan. Untung tidak sampai gendut, sih, tetapi tetap saja Miya termuda itu bakal melahap makanan apa pun yang diberikan padanya.

Bagi Osamu, jadwal makannya sangat padat: cemilan pagi, sarapan, cemilan siang, makan siang, cemilan sore, makan malam, cemilan malam. Jangan tanya makanan apa yang ia sukai, karena jawabannya pasti 'semua makanan yang bisa dimakan'. Tidak pilih-pilih makanan, tidak mengkritik makanan. Bekalmu kebanyakan? Oper saja pada Miya Osamu!

Tetapi sejak kelas 1 SMP, Osamu belajar untuk tidak serakus itu. Masih rakus, tapi sudah mulai bisa menahan diri. Alasannya adalah saudara kembarnya.

Hari itu Nyonya Miya dikejutkan oleh luka dan memar pada tangan, kaki, dan muka Atsumu. Osamu yang sudah pulang sekolah duluang juga kaget melihatnya. Seingatnya, ketika kakaknya menghampirinya untuk menyuruh pulang lebih dulu, Atsumu tampak baik-baik saja. Berarti permasalahan ini adanya setelah si adik pergi.

Setelah sang ibu selesai merawat anak sulungnya sambil mengomel, Atsumu pun masuk kamar. Osamu menatapnya cemas, apalagi saudaranya tidak mau cerita apa-apa tentang kenapa dia babak belur pada ibunya. Jadi malam itu Osamu mengetuk pintu kamar abangnya. Walau sudah dibilang jangan masuk, Osamu ngeyel dan tetap masuk, siapa suruh pintunya tak terkunci.

Dilihatnya sang kakak hanya rebahan di atas ranjang. Atsumu cemberut saat lihat adiknya masuk padahal sudah dilarang. Lagipula sebenarnya itu kamar bersama, kok, mau dilarang kayak apa juga, Osamu tetap berhak masuk.

Osamu menutup pintu dan menghampiri kembarannya. "Kamu nyuruh aku balik duluan, biar kamu bisa berantem?"

"Iya, masalah?"

"Ada apa? Sama siapa?"

Atsumu berbalik badan memunggungi saudaranya, tapi Osamu bisa melihat kakaknya agak meringins mungkin karena bagian yang sakit terkena ranjang. "Bukan urusanmu!"

Osamu cemberut. "Urusanku, dong, kamu kan saudaraku. Aku cemas juga."

"Gak usah cemas, ini gak ada hubungannya sama kamu!"

" … kalau gak ada hubungannya sama aku, kamu jangan punggungin aku begitu, dong." Atsumu tidak membalas. Disitu Osamu tersadar bahwa mungkin alasan Atsumu berkelahi dengan siapa pun itu sebenarnya berhubungan dengan dirinya. Tapi … apa? "Atsumu, cerita ke aku, dong."

" …" Perlahan Atsumu duduk, tapi tetap tidak mau melihat pada adiknya. "Mereka bilang, kamu gendut."

" ...eh?"

Kali ini Atsumu menoleh pada Osamu dengan emosi. "Mereka ngatain kamu tiap hari! Gembul! Gendut! Bulet! Kalau cuman nyebut doang sih, mending! Mereka hina-hina kamu, tahu!"

Osamu terdiam. Ia tentu tahu tentang anak-anak di sekolah, terutama para kakak kelas, mengatainya gendut. Osamu pun tahu badannya sebenarnya tidak buntal, tapi sadar perutnya lebih menojol daripada punya sang kakak. "Terus kamu berantem gara-gara itu?"

"Kuhajar mereka yang mengejek kamu!"

"Kamu yang hajar, atau kamunya yang dihajar?"

"…dua-duanya!"

.


.

Atsumu tidak pernah mengakui bahwa dirinya peduli, terutama pada Osamu. Tetapi dari sikap kakaknya selama ini, Osamu tahu bahwa saudaranya sayang. Jadi begitu ia sampai di rumah, Miya termuda ini langsung membuka kulkas di dapur. Ia mengambil kotak puding besar yang sudah diberinya label 'OSAMU', lalu menuju kamar.

Si kakak masih terkulai di atas ranjang, tapi Osamu bisa melihat kedua mata saudaranya sudah tidak terpejam—mungkin terbangun karena suara pintu.

"'Tsumu, flunya masih?" tanya Osamu sambil memasuki ruangan itu.

"Nga gitu sih, tapi idunghu mampet," jawab yang sakit.

Osamu mengangguk lalu duduk di samping ranjang kembarannya. Ia tersenyum dan menyodorkan apa yang tadi ia ambil dari kulkas. "Mau puding?"

Atsumu mengerjap bingung, apalagi karena dilihatnya ada label nama besar disana. "Itu punyamu, han?"

"Makan sama-sama, yuk."

.


.

Selesai

.


.

A/N: Akhirnya kelar! Fei tetiba kepikiran begini karena ada postingan yang bilang bahwa Atsumu terharu soal Kita karena selama ini dia gak pernah dapet afeksi kayak gitu. Terus Fei kepikiran lagi bahwa pasti ada yang nyinyir bahwa Atsumu sendiri aja selalu reseh. Terus lagi, Fei ngelihat ada fanart Miya Twins masa kecil dimana Atsumu gendong Osamu yang kakinya luka. Gara-gara itu, Fei kepikiran untuk bikin kayak gini. Yah, sesekali bikin Atsumu versi UWU lah.

Review?