Edited version, sekali lagi tidak banyak yang dirubah, saya hanya menyunting dan menambahkan sedikit ini-itu.


Perempuan detektif itu memandang pemuda yang berada di depannya dengan tatapan tidak percaya. "K-Kau..."

Pemuda itu menatap balik dengan tatapan bingung.

"Minato-kun! Kita harus cepat mencari Junpei!" Perempuan detektif itu tersentak kaget, dia menoleh kearah datangnya suara, untuk menemukan perempuan berambut coklat yang memakai choker dengan motif hati di lehernya, dia terlihat sangat familiar bagi Naoto.

'Dia bukannya yang tadi di asrama?' Pikirnya, merasa bingung karena dia melihat wajah yang baru saja dia lihat di asrama Iwatodai, walau entah kenapa terlihat lebih muda.

Pemuda yang perempuan itu sebut sebagai Minato menunjuk kearah Naoto. "Tapi dia..."

"Kita bawa saja! Sekarang ini Junpei bisa saja diserang shadows di depan sana!"

Sebuah kata membuat matanya terbelalak. 'Shadows?' gadis itu termenung, berpikir apakah ini shadows yang gadis itu ketahui?

Pemuda itu mengangguk, lalu dia mengulurkan tangannya ke perempuan detektif itu. "Ayo ikut kami, soal penjelasan tentang apa yang sedang terjadi, kita jelaskan nanti."

Naoto mengangguk. Lalu dengan sedikit ragu-ragu dia terima uluran tangannya dan berdiri, lalu dia menoleh ke kiri dan ke kanan. Dia dapat melihat bahwa sekarang ini dia berada di dalam sebuah kereta, suasana sekitar sangat gelap gulita dan penuh dengan peti mati. Melalui jendela, dia dapat melihat langit di luar terlihat kehijau-hijauan, dan terlihat di kejauhan terdapat sebuah menara tinggi yang misterius.

'Sejak kapan aku ada di dalam kereta? Di mana ini sebenarnya?' pikirnya dengan sangat bingung.

Situasi ini sangat lah aneh untuk perempuan detektif itu, ditambah mereka barusan menyebut 'shadows'.

Namun selain itu, ada suatu hal yang jauh lebih aneh, yakni pemuda itu.

Dahinya mengernyit. 'Dia Minato Arisato kan? Tapi bukannya dia sudah...?'

"Yukari, kamu jaga dia, aku yang akan jalan duluan." Kata pemuda itu, perempuan berambut coklat itu mengangguk. Setelah pemuda itu berjalan di depan mereka, perempuan itu menarik lengan Naoto. Tindakan itu membuatnya tersentak kaget, tetapi dia tidak bisa berkomentar apa-apa karena situasi ini terlalu membingungkan untuknya, dan dia memutuskan untuk mengikuti komando orang-orang asrama Iwatodai itu untuk saat ini.

Setelah beberapa saat mereka berjalan melewati gerbong-gerbong kereta tersebut, mereka dapat melihat seorang pemuda bertopi biru dikelilingi oleh makhluk-makhluk yang disebut shadow, ini benar-benar mengagetkan perempuan detektif itu.

'Tidak mungkin! Bagaimana bisa ada shadows di dunia nyata?' ujarnya dalam hati, penuh dengan ketidakpercayaan. Karena setahu gadis itu, shadows hanya muncul di dalam dunia TV.

"Junpei!" teriak perempuan berambut coklat itu, dia berlari dengan cepat menuju pemuda bertopi biru itu. Perempuan berambut coklat itu dengan cepat mengambil sikap, mengarahkan anak panahnya ke arah shadows, siap untuk bertarung.

"Aku saja yang menyerang para shadows itu Yukari! Kamu jaga dia saja!" kata pemuda berambut biru itu, membuat perempuan itu berhenti berlari dan menoleh ke arah pemuda itu.

"A-ah, baiklah." ujarnya dengan sedikit ragu, sebelum mendekati Naoto untuk melakukan apa yang pemuda itu bilang, yakni menjaga perempuan detektif itu.

Perempuan detektif itu masih berdiri mematung, monster yang mereka sebut shadows itu memanglah shadows yang sering dia lawan di dunia TV bersama teman-teman Investigation Team, dan dia masih tidak percaya bahwa para shadow itu ada di dunia nyata.

Naoto sontak kaget saat melihat pemuda berambut biru itu mengeluarkan sebuah pistol dan mengarahkannya ke kepalanya.

"Hey! Ap—"

"Orpheus!"

Lalu terdengar suara letusan, layaknya letusan dari pistol.

Perempuan detektif itu hanya bisa membelalakkan matanya saat dia dapat melihat sebuah persona keluar dari tubuh pemuda bernama Minato itu. Lalu personanya itu menyerang para shadows itu dengan jurus api yang dia ketahui sebagai Agi, membuat para shadows itu sedikit terhempas mundur.

"Yang tadi kamu lihat keluar dari tubuh Minato-kun itu namanya Persona, dan para monster itu adalah shadows." jelas perempuan itu kepada Naoto.

"Ugh!" Naoto dan perempuan berambut coklat itu dengan cepat menoleh kearah pemuda berambut biru itu, mereka dapat melihat dia jatuh tersungkur karena diserang oleh shadows lainnya.

"Minato-kun!" Teriak perempuan berambut coklat dengan nada khawatir.

Dengan cepat perempuan detekif itu berlari kearah pemuda itu, dia berdiri di antara shadows dan pemuda itu dengan sebuah pistol revolver jenis Smith and Wesson di tangannya, gadis itu siap melindungi pemuda itu.

"He-Hei! Pistol tidak begitu mempan melawan mereka!" teriak pemuda bertopi biru kepadanya, tetapi Naoto tidak menghiraukannya. Gadis itu bertekad untuk melindungi pemuda berambut biru itu semampunya.

Mata perempuan berambut coklat itu terbelalak. "Ah! Shadowsnya...!"

Perempuan detektif itu memejamkan matanya sejenak, lalu ketika dia dapat merasakan sebuah benda padat muncul ditangannya, dia membuka matanya. Dia terkejut karena ternyata ditangannya dia dapat melihat sebuah kartu tarot yang memiliki gambar personanya; Yamato-Takeru. Naoto tidak menyangka bahwa dia juga bisa menggunakan personanya di dunia nyata.

Gadis itu menghancurkan kartu yang ada di tangannya, "Yamato-Takeru! Megidolaon!" lalu sebuah bola hitam yang besar melayang di udara untuk sesaat sebelum jatuh ke lantai dan membuat ledakan besar, dengan sekejap para shadow itu menghilang.

'Hm, sudah kuduga, dari bentuk shadows itu, mereka jauh dibawah levelku.' ujarnya dalam hati.

Ketiga pasang mata hanya bisa menatapnya dengan sangat kaget. "Wa—ap—bagaimana bisa?"

Perempuan detektif itu melirik kearah mereka, "Ah, aku, um...sudah tahu mengenai Persona dan shadow sejak lama. Um, sulit untuk dijelaskan." ujarnya sambil menggaruk pipinya, merasa bingung bagaimana harus menjelaskan situasi ini.

Pemuda berambut biru itu berdiri dan menatapnya dengan sedikit kekaguman terpancar dari matanya. "Kau...levelmu lebih tinggi dari kami."

Kata-kata pemuda itu membuat perempuan itu berpikir, 'Ah, berarti mereka baru saja memiliki Persona?'

Tiba-tiba saja kereta itu berguncang, dan kereta itu terlihat berjalan semakin cepat.

Perempuan berambut coklat itu menjadi sedikit panik. "A-Apa yang...?"

"Semuanya! Sepertinya shadows telah mengambil kendali kereta itu dari gerbong paling depan sana! Kalau kalian tidak cepat kalahkan dia dan menghentikan kereta itu, kalian akan menabrak kereta lain!" Terdengar suara dari transmitter yang pemuda berambut biru, pemuda bertopi, dan perempuan berambut coklat itu pakai di telinga mereka.

Tentunya ini membuat mereka semua panik, terkecuali Naoto, yang tidak memiliki transmitter itu, dia hanya bingung melihat ekspresi mereka yang terlihat sangat terkejut dan ketakutan.

"Um, ada apa...?" Tanyanya.

"Kereta ini akan menabrak kereta lain jika kita tidak cepat mengalahkan shadows besar yang ada di gerbong depan." jawab Minato dengan nada datar, ini membuat perempuan detektif itu membelalakkan matanya.

Lalu, teringat bahwa kelihatannya dialah yang paling kuat diantara mereka, sebuah ide muncul dipikirannya.

"Aku ada ide, bagaimana jika aku maju dahulu untuk menghabisi para shadows kecil yang menghalangi, lalu kita serang shadows besar yang kalian sebut itu bersama-sama, bagaimana?"

Mereka bertiga saling menatap masing-masing, lalu pemuda bertopi dan perempuan berambut coklat itu menatap pemimpin mereka, yaitu Minato, tanpa berujar bertanya tanggapan pemimpin mereka terhadap ide Naoto itu.

Pemuda berambut biru itu berpikir sejenak sebelum mengangguk, "Baiklah, berhubung kamu memang lebih kuat dari kami semua, pimpin kami untuk sementara."

Perempuan detektif itu mengangguk, dia genggam revolvernya dengan erat. Lalu mereka pun berlari bersama menuju gerbong depan kereta di mana shadows besar itu menanti mereka.

Perjalanan menuju kesana memang terbilang sangat mudah bagi Naoto, karena kekuatan Personanya masih sekuat waktu dia dan teman-temannya melawan Izanami. Dan idenya benar, jika dia yang maju lebih dulu untuk melawan para shadows kecil yang menghalangi, maka justru akan lebih cepat menuju shadows besar itu karena dia memiliki jurus Hamaon dan Mudoon, dan personanya memiliki kelebihan Hama dan Mudo Boost.

'Shadows besar itu maksudnya shadow macam apa? Apa salah satu shadows yang berasal dari diri mereka?' Pikirnya.

"Ah, itu dia!" Teriak pemuda berambut biru itu sambil menunjuk kearah sebuah shadow yang besar dengan tulisan "BJ" di bagian dadanya dan rambutnya menyebar ke seluruh bagian kereta depan bagaikan untaian kabel-kabel.

Dahi Naoto mengernyit. 'Aneh, jika shadows ini dari diri mereka, seharusnya dia akan memiliki bentuk yang sama persis seperti pemilik shadownya sebelum menjadi besar seperti ini. Tapi ini, sudah berbentuk seperti ini. Apa berarti shadow ini berbeda? Tapi dari cara mereka menyebut shadow ini, sepertinya dia semacam shadow yang terkadang muncul...'

"Semua! Bersiap!" Perempuan detektif itu mendengar pemuda berambut biru itu berteriak.

Lalu semuanya, termasuk Naoto, bersiap dalam posisi masing-masing, senjata mereka siap untuk menyerang, lalu satu persatu mulai menyerang dengan Persona mereka.

"Orpheus! Bash!"

"Io! Garu!"

"Hermes! Cleave!"

Mereka menyerang secara bersamaan, tetapi hanya memberi damage yang tidak terlalu banyak untuk shadow itu, perempuan detektif itu terdiam.

'Gawat, mereka benar-benar levelnya masih di bawah. Tch, andai aku punya serangan yang benar-benar ampuh untuk melawan boss shadow.' gerutunya di dalam pikirannya.

"Hei kamu yang bertopi! awas!" Teriak pemuda bertopi kepada Naoto.

Dengan sigap Naoto mendongak kearah shadow itu, terlihat makhluk itu akan menyerangnya. Sesaat sebelum serangannya mencapai gadis detektif itu, dia dengan cepat menghindar, lalu Minato menyerang shadow itu dengan Agi untuk memukulnya mundur.

"Kenapa kamu tidak menyerang?" Tanyanya pemuda berambut itu kepada perempuan detektif itu.

Dahi perempuan detektif itu hanya mengernyit. "Jurus-jurus Personaku lemah untuk melawan shadow besar macam ini."

"Apa saja jurusmu?"

"Hamaon, Mudoon, Mahamaon, Mamudoon, Megidolaon, Mind Charge, dan Vorpal Blade."

Pemuda itu terdiam sejenak sebelum berkata, "Gunakan Mind Charge, lalu pakai Megidolaon, kami akan melindungimu saat kamu sedang men-charge."

Naoto mengangguk dengan ragu-ragu, entah kenapa di saat dia memerintahnya sperti itu, dia teringat akan senpainya, yang merupakan pemimpin dari Investigation Team, caranya memerintah sangat cekatan dan pasti, pemuda itu juga memiliki aura pemimpin seperti Souji Seta.

Perempuan detektif itu menghancurkan kartu yang ada di tangannya, "Yamato Takeru! Mind Charge!" setelah itu dia dapat merasakan sebuah energi di dalam tubuhnya yang semakin lama terasa semakin terasa besar, dia menutup matanya untuk berkonsentrasi.

Dengan mata terpejam, dia dapat mendengar suara-suara dari ketiga persona-user menyerang shadow itu, saling bekerja sama.

Terkadang dia mendengar suara geraman kesakitan yang membuatnya sedikit mengernyitkan dahinya, tetapi setelah itu dia mendengar suara perempuan berambut coklat itu meneriakkan sebuah spell yang dapat menyembuhkan luka, ini membuatnya tidak mengernyit lagi.

'Sedikit lagi, bertahanlah semua.' Ujarnya di dalam pikirannya.

"Semuanya! Hanya tinggal dua menit lagi sebelum kereta itu menabrak kereta yang lain! Cepat kalahkan shadow itu!" Teriak sebuah suara yang berasal dari transmitter mereka bertiga, ini membuat mereka, kecuali Naoto, panik.

"Hei, kamu! Kita hanya memiliki dua menit! Apa charge-mu sudah selesai?" teriak Minato kepada Naoto.

Perempuan detektif itu membuka matanya, lalu dengan cepat dia menghancurkan kartu tarot yang ada di genggamannya.

"Ayo! Megidolaon!" teriaknya, lalu tiga buah bola hitam melayang di udara sebelum meluncur ke bawah dan membuat sebuah ledakan besar, memberikan damage yang besar ke Shadow itu, namun Shadow itu belum menghilang, tetapi dia telah down.

"Semua! Kita lancarkan All-Out Attack!" Teriak pemuda berambut biru. Lalu semuanya, termasuk Naoto mengangguk dan mulai menyerang shadow itu secara bersamaan dan tanpa ampun sampai titik darah terakhir.

Setelah Shadow itu akhirnya menghilang, mereka menyadari bahwa kereta tidak berhenti.

"A-Apa? Kereta ini tidak berhenti!" Teriak pemuda bertopi biru, merasa sangat panik.

"Kita harus menarik remnya, SEKARANG!" Kali ini teriak perempuan berambut coklat itu.

Mata Naoto terbelalak saat melihat kearah depan. "Ah! Ada kereta lain di depan!"

Hanya beberapa puluh detik sebelum benturan...

Dengan sigap Naoto dan Minato berlari ke arah Control Panel kereta itu.

"KYAAAA!"

CIIIIIITTTTTT!

Lalu tubuh mereka sedikit terbanting ke depan, semuanya jatuh tersungkur di lantai kereta.

Suasana hening untuk sesaat sebelum pemuda bertopi dan perempuan berambut coklat itu membuka matanya dan melihat sekelilingnya.

"Ber...henti?"

"Hei, apa kalian tidak apa-apa?" Tanya sebuah suara dari transmitter mereka.

"Y-Ya, kami tidak apa-apa senpai..." Jawab perempuan berambut coklat itu sambil menghela nafasnya.

Perempuan detektif itu dan Pemuda berambut biru itu menghela nafasnya dengan lega, mereka berdua saling bertatapan lalu melihat kearah tangan mereka, mereka berdua menarik sebuah tuas yang sama.

Mereka berdua lalu tersenyum, pemuda berambut biru itu mengangkat jempolnya, membuat senyuman perempuan detektif itu melebar.

Entah kenapa, perempuan detektif itu merasa sangat familiar dan dekat dengannya, seakan-akan mereka memang sudah dekat sejak dulu. Perasaan yang sungguh aneh untuknya, karena dia yakin ini adalah pertama kalinya mereka bertemu.

...Ya kan?

Naoto menghela nafasnya sebelum kemudian mereka berdua keluar dari Control Panel kereta itu.

Perempuan berambut coklat itu tersenyum kearah mereka berdua. "Ah, kamu dan Minato-kun!"

"Hei, kalian bagaimana bisa tahu yang mana remnya?" Tanya pemuda bertopi itu kepada mereka.

"Aku cuma menebak." Jawab mereka berdua secara bersamaan, lalu mereka berdua saling menatap dan mengedipkan mata mereka.

"..." Pemuda bertopi itu dan perempuan berambut coklat itu terdiam.

Perempuan berambut coklat itu hanya menghela nafasnya. "Kalian kalau seperti itu persis seperti kakak beradik."

Minato dan Junpei menaikkan alisnya, lalu mereka tatap perempuan berambut coklat itu dengan bingung sebelum menatap kearah Naoto.

"Hei, kamu benar Yuka-tan, dia mirip sekali dengan Minato." Ujar pemuda bertopi itu sedangkan Minato hanya terdiam.

Naoto menatap kearah pemuda berambut biru itu, dia sudah menyadari kalau dia memang mirip dengannya semenjak dia melihat fotonya di dokumen itu.

...Dokumen?

Lalu tiba-tiba perempuan detektif itu membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah file yang berisi dokumen-dokumen tentang Minato Arisato. Dia buka file itu untuk melihat fotonya, dia tatap foto itu sebelum menatap ke arah pemuda berambut biru itu lagi, mata gadis itu terbelalak.

'Tidak salah lagi, dia memang Minato Arisato yang kucari!' Pikirnya, namun setelah itu dia tersentak kaget karena ada dua tulisan yang tidak terbaca olehnya pada waktu sebelumnya.

'1992-2010'

'sayangnya dia telah meninggal'

Matanya terbelalak lalu dia tatap pemuda berambut biru itu. 'Ternyata memang benar dia sudah meninggal, lalu kenapa sekarang dia ada di sini?'

"Hm? Kamu kenapa menatapku seperti itu?" Tanyanya sambil menaikkan satu alisnya.

"Apalah namamu Minato Arisato?"

"Eh? Iya, memangnya kenapa?"

'Aneh, ini seakan-akan aku terlempar ke masa lalu...' Lalu mata perempuan detektif itu terbelalak. 'Tunggu, masa lalu?'

Dia teringat akan sebuah suara yang berbisik di dalam kepalanya tepat sebelum dia kehilangan kesadarannya, dia dapat mengingat suara itu mengatakan sesuatu tentang masa lalu.

Gadis berambut biru itu mengernyitkan dahinya, "Boleh aku bertanya tahun berapa sekarang?"

Pertanyaan Naoto membuat ketiga orang yang berada disana menatapnya dengan bingung.

"Sekarang tentu saja tahun 2009, kenapa kamu tanya?" Jawab Minato dengan nada bingung, ini membuat mata Naoto terbelalak.

"Hei kalian, cepat kembali dan bawa pemuda itu kesini, aku ingin bertanya-tanya kepadanya." Ujar suara dari transmitter mereka bertiga, mereka hanya menganguk.

"Hei kamu, ayo ikut kami, Kirijo-senpai mau bertanya sesuatu kepadamu." Kata perempuan berambut coklat itu, perempuan detektif itu hanya mengangguk dengan ragu-ragu sebelum akhirnya mereka berjalan bersama keluar dari kereta itu.

'Oh ya tuhan, apa yang harus kulakukan sekarang?'


Perempuan detektif itu hanya menatap wanita berambut merah di depannya dengan mata terbelalak.

'Mitsuru...Kirijo? Apa dia Persona-user juga?'

Wanita berambut merah itu menatapnya dari atas sampai bawah sebelum dia menatapnya tepat di mata. "Siapa namamu?"

"Naoto Shirogane."

Namanya membuat wanita itu menaikkan satu alisnya. "Shirogane...?" Entah kenapa wanita itu merasa pernah mendengar nama itu.

"Hm...Shirogane-kun, boleh aku bertanya sejak kapan kamu memiliki Persona?"

"Sudah lama, sekitar satu tahun."

Dahi wanita itu mengernyit. "Tanpa mengalami Dark Hour?"

Perempuan detektif itu mengerdipkan matanya. "Dark Hour?"

"Dark Hour, waktu yang hanya ada pada pukul 12 malam." Jawab perempuan berambut merah itu.

Perempuan detektif itu hanya menatapnya dengan bingung.

"Kau memiliki Persona, levelmu tinggi, tetapi kau tidak pernah mengalami Dark Hour?" Wanita berambut merah itu menatap Naoto dengan tajam, sedikit merasa curiga.

Perempuan detektif itu terdiam, dia sedikit menghindarkan matanya dari tatapan tajam wanita elegan itu. Secara otomatis otaknya bekerja dengan cepat, 'Dark Hour', mungkin adalah semacam fenomena yang terjadi pada masa ini, dan tidak mungkin dia memberitahu mereka alasan kenapa dia tidak mengetahui tentang fenomena itu adalah bahwa dia datang dari masa depan kan?

"Oh, jadi fenomena itu disebut Dark Hour." Jawab perempuan detektif itu untuk mengelabui wanita elegan itu, Naoto yang seorang detektif sangat tidak suka disaat dialah yang dicurigai, dia lebih terbiasa mencurigai seseorang daripada dicurigai.

"Hmm...lalu, apa kau sering bertarung di Tartarus? Ah, Tartarus adalah menara tinggi itu." Tanya wanita itu lagi.

Lagi, otak perempuan detektif itu berjalan cepat, dalam sekejap dia dapat menyimpulkan bahwa Tartarus adalah tempat di mana Shadows berada, Naoto harus mengelabui wanita itu lagi, dan dia pun berkata. "Ya...kira-kira seperti itu."

Jadi Tartarus adalah menara tinggi yang dia lihat dari dalam kereta tadi adalah tempat di mana Shadows berada, perempuan detektif itu menyimpulkan bahwa para persona-user yang dia temui ini tidak tahu, dan tidak mengenali dunia TV, kemungkinan kejadian di tempat, dan masa ini adalah sesuatu yang sangat berbeda dari masanya, dan kemungkinan besar Izanami bukanlah dalang dari segala kejadian yang terjadi di masa ini.

Tapi ini membuatnya merasa penasaran, siapa gerangan yang membuatnya terlempar ke masa lalu ini? Apakah sama dengan dalang kejadian di masa ini?

'Tapi...suara itu mengucapkan terima kasih, aneh sekali.'

Di dalam hati perempuan detektif itu, dia merasakan perasaan berdebar-debar, dan rasa gembira yang sudah lama tidak dia rasakan.

Sebuah misteri.

"Shirogane-kun, mengapa kita tidak pernah bertemu jika kau sering ke Tartarus?" Pertanyaan baru dari wanita itu membuat Naoto tersadar dari pikirannya, dan dia merasa sedikit bingung untuk menjawab pertanyaan satu itu.

"Senpai, sudahlah...saat ini dia pasti capek karena pertarungan tadi." Ujar perempuan berambut coklat dan memakai choker bermotif hati itu, wanita berambut merah itu terdiam sejenak, lalu dia menghela nafasnya.

"Baiklah, maaf karena sudah terlalu banyak bertanya. Ah, apakah ada cara untuk menghubungimu? Karena level kau lebih tinggi dari kami, kami pasti akan sangat membutuhkanmu."

Naoto terdiam, dia semakin bingung akan apa yang harus dilakukan. Nomor handphonenya pasti tidak berlaku di masa ini.

"Senpai! Bagaimana kalau Naoto-kun tinggal di asrama kita?" Tanya pemuda bertopi dengan senyum lebar tersungging di bibirnya, mendengar kata asrama, Naoto menebak bahwa asrama yang dimaksud ada asrama Iwatodai.

Mitsuru terlihat berpikir sejenak, beberapa saat kemudian dia menatap perempuan detektif itu dan bertanya, "Apa kau mau tinggal di asrama kami Shirogane-kun?"

Ini bagus, adalah dua kata yang terpikirkan oleh perempuan detektif itu, karena dia tidak memiliki tempat tinggal untuk masa ini.

"Tentu, aku pun tidak keberatan untuk pindah ke sana sekarang." Perkataan Naoto membuat Mitsuru dan tiga orang yang lainnya menaikkan satu alis mereka.

Wanita berambut merah itu menatap Naoto untuk sesaat sebelum akhirnya membawa mereka pergi menuju asrama itu bersama-sama. Dalam perjalanan menuju asrama itu, dengan tiba-tiba lampu-lampu menyala, dan peti-peti mati itu berubah menjadi sosok manusia biasa. Mereka yang tadinya adalah peti mati itu melakukan aktivitas dengan biasa, seakan-akan tidak ada kejadian Dark Hour. Perempuan detektif itu dengan sekejap dapat menangkap bahwa Dark Hour hanya dapat dialami oleh persona-user.

Apa yang menyebabkan Dark Hour ini? Adalah pertanyaan yang terpintas di dalam pikirannya, rasa ingin tahu menjadi semakin menjadi-jadi di dalam hati Naoto.

Disaat mereka sampai di asrama itu, Mitsuru berkata kepadanya. "Nah, asrama untuk laki-laki berada di lantai dua, untunglah ada kamar kosong disana."

'Laki-laki...' Perempuan detektif itu bingung apakah dia harus mengatakan bahwa dia ini perempuan atau tidak, dia memang merasa lebih nyaman disaat orang-orang menganggapnya sebagai lelaki ketimbang sebagai perempuan.

"Ah, Mitsuru...apa ini pemuda yang tadi kamu bilang di telepon?" Perempuan detektif itu menoleh kearah datangnya suara, dia mendapati seorang pemuda berambut abu-abu yang memakai sarung tangan hitam menuruni tangga dan berjalan menuju wanita itu, sekilas dia mengira bahwa dia adalah Souji, karena rambut mereka sama-sama abu-abu dan memiliki tubuh yang terkesan 'kokoh'.

Perempuan detektif itu lalu menoleh ke wanita berambut merah yang menganggukkan kepalanya. Lalu Naoto melihat pemuda berambut abu-abu itu berjalan mendekatinya, dia mengulurkan tangannya sambil berkata. "Aku Akihiko Sanada, salam kenal. Naoto Shirogane, kan?"

Naoto mengangguk sebelum berjabat tangan dengannya, lalu pemuda itu terlihat sedang mengamati dari atas sampai kebawah sambil berkata, "Kamu mirip sekali dengan Arisato..." Perempuan detektif itu sudah menduga kalau dia juga akan berkata seperti itu.

"Akihiko, tunjukkan kamarnya, karena yang lainnya sudah pergi ke kamar mereka masing-masing, ditambah aku ada sedikit urusan, untuk membuat sebuah laporan kepada Chairman."

Pemuda itu mengangguk, lalu mengajak perempuan detektif itu menuju lantai 2 di mana para laki-laki di asrama itu tinggal. Naoto sedikit merasa aneh harus tinggal di antara laki-laki, tetapi entah kenapa ini membuat gadis itu merasa bangga, karena nampaknya dia masih bisa mengelabui orang-orang mengenai gendernya.

'Mungkin aku beritahu mereka tentang genderku ini nanti saja...' Ujarnya dalam hati.

Disaat mereka mencapai suatu kamar, Akihiko dengan segera meninggalkannya dan pergi menuju kamarnya sendiri. Naoto pun berjalan memasuki kamar yang akan menjadi kamarnya itu. Dia melihat sekeliling kamar itu, untuk mendapati betapa kosongnya kamar itu, tapi itu dapat dimaklumi.

Perempuan detektif itu lalu meletakkan tas besarnya di dekat meja belajar sebelum dia duduk di sebuah kursi belajar. Tangannya merogoh tasnya untuk meraih file hasil investigasi kakeknya, lalu dia letakkan file itu di atas meja dan membukanya.

Dia berpikir, jika Mitsuru Kirijo terlibat dalam urusan Persona dan Shadows, ada kemungkinan di file yang bertuliskan 'Kirijo Group' yang ada di antara file-file mengenai kakaknya ada banyak petunjuk tentang kejadian yang terjadi di masa ini, dan juga tentang apa penyebab kematian Minato Arisato.

'Tunggu, apa mungkin kematian Minato Arisato disebabkan oleh Shadows?'

Dengan perasaan ingin tahu yang besar, mulai lah dia membaca file yang bertuliskan 'Kirijo Group'. Tulisan 'RAHASIA' terpampang dengan warna merah, kelihatannya Kakeknya membobol database Kirijo Group untuk mendapatkan dokumen ini, sepertinya Kakeknya pun sangat ingin perempuan itu memiliki seorang kakak kandung yang menyayanginya.

Entah kenapa, ada tulisan kecil yang di tuliskan Kakeknya, yang membuat Naoto menaikkan alisnya.

'Apa maksudnya file ini? Sungguh tidak masuk di akal.'

'Apa itu Persona dan Shadows?'

"Hmm...ternyata kakek bisa juga mendapatkan info tentang Persona dan Shadows dari Kirijo Group. Pasti ini sangat sulit dia dapatkan, karena tidak mungkin data-data ini tidak disembunyikan baik-baik di dalam database Kirijo Group." Gumam Perempuan detektif itu.


"Sedang apa dia...?" Gumam wanita berambut merah itu sambil menatap layar besar yang ada di depannya. Gadis itu dapat melihat Naoto yang sedang membaca suatu dokumen. Di sebelahnya, terduduk seorang pria berambut panjang berwarna coklat yang memakai kacamata, dia sedang membaca beberapa lembar kertas yang baru saja dia print.

"Mitsuru, coba lihat ini." Ujarnya sambil memberikan kertas-kerras itu kepada wanita itu.

Wanita itu membacanya sejenak sebelum matanya terbelalak.

"Naoto Shirogane, 14 tahun? Tapi..." Matanya mengarah kembali tertuju kepada layar. "Dia tidak terlihat seperti seorang—" Dia kembali menatap kertas-kertas itu dengan raut wajah yang bingung.

"Perempuan?" Terutama pada bagian itu, dia sangatlah bingung, karena Naoto yang ada di layar tidak terlihat seperti seorang perempuan. "Naoto Shirogane adalah perempuan, berumur 14? Tapi kenapa dia saat ini terlihat seperti pemuda yang berumur 17?"

"Mitsuru, bukan hanya itu." Pria itu menunjukkan sebuah foto, yang membuat mata wanita itu terbelalak. "Ini, adalah foto terbarunya, dia saat ini di New York dan rambutnya memiliki panjang sebahu."

"Lalu siapa Naoto Shirogane yang berada di kamar itu?"

Pertanyaan itu tidak dapat terjawab.


"Ngh!" Gadis itu mengerang kesakitan, dia dapat merasakan rasa sakit di dalam kepalanya secara tiba-tiba. Pada awalnya gadis itu mencoba untuk tidak menghiraukan sakit kepalanya itu, namun semakin jauh dia membaca dokumen itu, semakin menjadi rasa sakitnya hingga matanya perlahan menjadi buram.

Akhirnya gadis itu pun menutup file itu, memutuskan untuk berhenti membaca dokumen rahasia dari Kirijo Group karena dia bahkan hampir tidak mampu membuka matanya. Gadis itu hanya dapat memegang kepalanya sambil mengerang pelan karena rasa sakit yang menderanya.

Setidaknya dia sedikit lebih tahu apa yang tertera di dokumen itu. Sejauh ini yang dia baca dari dokumen itu adalah laporan tentang persona-persona yang telah Minato Arisato gunakan di masa lalu. Gadis itu akhirnya mengetahui bahwa Minato Arisato memiliki kekuatan yang sama seperti pemimpin Investigation Team. Di dokumen itu juga tertera diagram kekuatan persona-personanya, dan jurus apa saja yang persona-persona itu miliki.

Selang berapa saat, perlahan rasa sakit yang hebat itu menghilang. Ketika akhirnya rasa sakit di kepalanya benar-benar menghilang, perempuan detektif itu menghela nafas dengan panjang, sebelum kembali memikir suatu hal yang menarik perhatiannya.

Yang terakhir dapat gadis itu baca di dalam dokumen itu sebelum rasa pusing menderanya, dia mendapati tulisan tangan yang dengan bahasa Perancis. Untungnya kata-kata yang digunakan masih kata-kata dasar, dan perempuan detektif itu pernah mempelajari bahasa itu, sehingga dapat membacanya.

Jika diartikan ke dalam ke bahasa Inggris, tulisan itu dapat berarti...

"When Nyx descended upon earth, it was not mankind's lives that has to be sacrificed for her arrival, it was his. In loving memory, Minato Arisato." Gumamnya, mengartikan tulisan yang dia ingat ada di dokumen itu kedalam bahasa Inggris.

Satu alisnya naik. "Nyx? Apa Itu? Yang kutahu Nyx itu adalah 'The goddess of the night' dari mitologi Yunani. Apakah penggunaan kata Nyx ini adalah sebuah metafora?" Lalu perempuan detektif itu terdiam untuk berpikir, beberapa saat kemudian, dia menggeram dan mengetuk meja itu dengan jari-jarinya.

'Sudahlah, mungkin untuk hari ini aku tidur saja dulu perubahan tempat, waktu, dan keadaan ini membuatku bingung.' Ujarnya dalam pikirannya sambil menghela nafasnya.

Disaat Naoto beranjak dari tempat duduk itu, TV yang tersedia di dalam kamarnya yang semula mati, tiba-tiba saja menyala dengan sendirinya. Perempuan detektif itu menatap layar TV yang menyala putih dengan mata terbelalak.

"M-Midnight channel!?"

"Na—bzzt—oto...Shiro—bbzzztt—gane..." Terdengar suara yang statis dari TV itu, Naoto terperanjat dari kursi itu, lalu dia dengan pelan mendekati TV itu.

"Kem—bzzzt—ar—bzztt—i..." Secara tiba-tiba suara itu berubah tidak menjadi statis dan sebuah wajah muncul di layar itu. "Naoto Shirogane." Lalu tubuh perempuan detektif itu berjalan dengan sendirinya menuju TV itu, seakan-akan terhipnotis oleh suara itu.

Dan pandangan menjadi putih untuknya.


"A-Apa yang terjadi? Kenapa layarnya...?" Mitsuru menatap layar di hadapannya dengan tatapan yang kaget sekaligus bingung, layar yang tadinya menunjukkan kegiatan yang Naoto lakukan tiba-tiba menjadi sangat statis, tepat disaat TV di kamar itu terlihat menyala.

"Chairman! Apa aku harus—"

"Tidak perlu, kita tunggu dan lihat saja." Ucap pria itu, raut wajahnya terlihat sangat tertarik.

Dan ekspresi tertarik itu sudah terpasang di wajahnya disaat dia mendengar sedikit gumaman Naoto, dan dia mendengar satu kata yang sangat menggugah ketertarikannya, yaitu disaat Naoto mengucapkan kata...

Nyx.


TO BE CONTINUED