Edited version juga, cerita gak berubah.

ENJOY!


Rasa berputar-putar yang sangat familiar dirasakan sesaat oleh perempuan detektif itu, sebelum dia merasakan sebuah benturan keras di punggungnya. Benturan itu membuat gadis itu tersadar, matanya terbuka dengan sekejap, namun masih terlalu buram untuk melihat dengan jelas.

"Dimana ini...?"

Sebuah erangan kecil keluar dari bibirnya sambil dia mengedipkan matanya, kemudian gadis itu duduk dan secara perlahan bangun berdiri. Dahinya mengkerut, matanya menatap tajam ke sekelilingnya dengan tatapan penasaran.

Dan tatapannya berubah menjadi kaget.

'Aku kenal tempat ini.'

Sebuah tempat yang sangat familiar, putih dengan lantai berwarna merah, tempat yang lapang dan kosong itu adalah tempat yang tidak akan bisa dia lupakan.

"Ini tempat aku dan yang lain bertarung dengan Izanami. Kenapa...?" Gumamnya, masih melirik ke kiri dan ke kanan, kali ini dengan tatapan penuh waswas, karena disinilah tempat pertarungan terakhirnya, tempat dimana dia bertarung mati-matian, bahkan hingga dia nyaris kehilangan nyawanya.

"Naoto Shirogane." Ujar sebuah suara misterius.

Secara refleks gadis itu mengeluarkan pistol kepercayaan dia dari sarungnya dan mengarahkannya ke arah datangnya suara itu. Namun dia dapat merasakan ujung senjatanya digenggam oleh sesosok yang telah memanggil namanya itu. Dengan cepat dia menatap ke arah sosok itu, hanya untuk melihat sebuah sosok yang sangat familiar, yang dengan sekejap dapat membuat bulu kuduknya berdiri melihat sosok itu.

"I-Izanami..." Bisik gadis itu dengan pelan, suaranya bergetar karena rasa takut akan sosok yang berada di depan matanya.

Sosok yang dia anggap sebagai sosok dewi kematian.

"Kau tidak perlu takut, wahai anak manusia, aku tidak menginginkan ada pertarungan berdarah di sini." Ujar Izanami dengan nada lembut, sebuah senyuman kecil muncul di bibirnya. Gadis itu semakin terkejut, karena Izanami terlihat sangat lembut dan tidak mengerikan seperti apa yang terakhir gadis itu ingat.

"A-Apa yang kau mau, Izanami?" Gadis itu bertanya dengan nada suara yang mulai tidak terlalu bergetar karena rasa takut yang berkurang. Perlahan gadis itu dapat memegang kembali kendali emosinya.

"Balas Budi."

Gadis itu hanya bisa terdiam, dia tarik kembali revolvernya dan menaikkan alisnya dengan ekspresi yang penuh akan tanya. Namun suatu pikiran muncul di dalam benak gadis itu, sebuah deduksi akan semua kejadian aneh yang telah di alaminya.

"Kau memanggilku kesini untuk mengatakan sesuatu bukan? Apakah tentang mengapa kau mengirimku ke masa lalu? Apa maksudmu dari balas budi?" Rentetan pertanyaan secara otomatis keluar dari mulut gadis ini tanpa sadar, karena dia sudah merasa sangat penasaran.

"Tajam sekali pemikiranmu, nak. Tapi, pertanyaanmu itu semua sudah terjawab bukan?"

"Kau tahu kan yang kumaksud adalah detailnya?"

Tawa kecil menyertai senyum Izanami, "Kau gadis yang selalu ingin tahu ya?"

"...Jawab pertanyaanku." Dahi gadis itu mengerut, rasa kesal mulai muncul di dalam dirinya.

Senyum Izanami menghilang, dan dia memasang sebuah ekspresi serius. "Kau benar bahwa akulah yang mengirim kau ke masa lalu, alasan akan hal itu adalah karena aku ingin balas budi kepada manusia."

"Apa maksud dari balas budimu itu?"

"Pikiranmu tajam bukan, Detective Prince? Berdeduksilah wahai anak manusia."

"Kenapa harus aku yang dikirimkan ke masa lalu? Dan kenapa ke masa lalu? Jawab dengan detail Izanami!" Nada gadis itu mulai meninggi karena rasa kesal yang mulai menjulang naik melebihi batas sabarnya.

"Balas budi."

Gadis itu menggertakan giginya, kesal akan penjelasan dewi satu itu yang hanya mengatakan garis besar dari semuanya namun tidak menjabarkan sama sekali maksud dari garis besar tersebut, tidak ada penjelasan lebih lanjut.

Perempuan detektif itu tidak dapat membaca jalan pikiran dewi itu, dan itu membuatnya semakin kesal.

"Naoto Shirogane, saat ini jalanilah apa yang ada, aku berjanji akan menjelaskannya suatu saat nanti, namun tidak sekarang." Ujar dewi itu.

"Apakah aku dapat mempercayaimu?"

"Aku telah mempertemukanmu dengan kakakmu, apa itu kurang sebagai sebuah bukti?"

'...Masuk akal juga' Pikir gadis itu.

"Wahai anak manusia, kau juga telah kuberikan akses agar dapat ke tempat ini pada saat waktu berhenti berdetak disana, jika kau butuh bantuan, aku mungkin akan mengulurkan tanganku untuk sebuah bantuan."

'Mungkin ya, Izanami...' Perempuan detektif itu menatap Izanami, masih dengan penuh curiga.

"Aku hanya tinggal masuk melalui TV?"

"TV yang ada di kamarmu yang sekarang lebih tepatnya. Oya, aku mungkin tidak membantu banyak, namun aku jamin akan keselamatan nyawamu. Percayalah bahwa kematian tidak akan pernah menjemputmu selama 'masa tugas' kau ini."

Gadis itu menunduk, memikirkan dan mencoba mengerti pikiran dari dewi tersebut, namun alhasil nihil. Gadis itu masih sangat bingung dan tidak mengerti mengapa dewi itu, yang tadinya menginginkan dunia tertutup oleh kabut, melakukan semua ini, membantunya bertemu dengan kakaknya.

Kenapa? Kenapa dewi yang tadinya kejam itu menjadi seperti ini? Apa balas budi yang di maksudkan?

"Baiklah, lalu bagaimana cara aku kelua—" Disaat gadis itu menatap ke depan, dia hanya dapat melihat udara yang hampa dan transparan. Gadis itu terkejut, dan sempat merasa sedikit panik karena bingung bagaimana cara dia keluar dari tempat itu dan kembali ke kamarnya di asrama Iwatodai.

Saat dia melihat sekelilingnya, dia menemukan sebuah TV besar di belakangnya. Gadis itu mengangguk karena akhirnya mengerti di mana jalan keluarnya. Namun dia tetap tidak mengerti semua kejadian ini, perempuan detektif itu hanya bisa menghela nafasnya. Data yang dia miliki masih terlalu sedikit dan abstrak untuk membuat suatu deduksi.

'Sudahlah, aku akan ikuti dulu dia, aku juga tidak tahu sekarang bisa apa, dan aku tidak tahu bagaimana cara aku pulang ke masaku.' Batin gadis itu sambil berjalan menuju TV yang berada di depannya, dan pergi melalui TV itu.


"Ah, layarnya!" Ujar wanita yang memiliki rambut merah.

Pria yang memiliki rambut panjang itu langsung mendekati layar besar yang ada di depannya. Dia dapat melihat distorsi di layarnya mulai berkurang dan mulai dapat terlihat jelas sosok seorang Naoto Shirogane yang sedang duduk termenung di depan TVnya.

"Chairman dia sekarang hanya duduk termenung, tapi aku sedikit curiga, pasti tadi terjadi sesuatu, apa jangan-jangan dia sekarang mengalami Apathy Syndrome?"

"Tidak, kurasa dia tidak mengalami Apathy Syndrome. Perhatikan wajahnya, dia terlihat seperti sedang memikirkan akan sesuatu."

"Hmm...saya agak curiga dengan pemuda ini, siapa dia sebenarnya? Mengapa dia sangat kuat sekali sedangkan sekalipun saya tidak pernah melihatnya di Tartarus?"

"Aku merasa...dia sebenarnya lebih tahu dari pada kalian." Ujar pria itu dengan pelan, sebuah senyuman penuh arti muncul di bibirnya.

"Chairman...?"

"Berikan gadis ini observasi ketat, kalau perlu aku akan memasukkan dia ke Gekkoukan."

Mitsuru hanya dapat mengedipkan matanya dengan bingung, "Baik, Chairman."


"Aku masih tidak paham, sebenarnya buat apa dia melakukan ini?" Gumam gadis itu dengan kesal, dia merasa pikirannya sudah menemui jalan buntu, setajam apa pun pikirannya, dia masih tidak dapat menemukan jawaban maupun rekaan dari sebuah clue yang sangat abstrak.

Gadis itu menghela nafasnya, kemudian dia berdiri dan mengambil file yang berada di mejanya. Dia kembali membuka file tebal itu, berharap menemukan sesuatu, apapun yang dapat memberikan perempuan detektif itu jawaban.

Pada saat dia membuka bagian di dalam dokumen rahasia dari Kirijo Group yang belum terbaca olehnya, matanya terbelalak, karena bagian itu adalah bagian dimana terdapat detail apa saja yang terjadi, dari April 2009, sampai Maret 2010. Berarti terdapat kronologis kejadian akan apa yang terjadi di masa itu, detail semua kejadian, apa, mengapa, bagaimana, kapan dan dimana.

'Dan bagian ini sepertinya belum disentuh kakek, aku tidak menemukan coretan beliau.'

Dia pun memulai membacanya secara seksama dari awal April, kini dia mulai mengerti situasi yang sebenarnya terjadi di masa itu, dan dia mengingat-ingat kejadian-kejadian penting dan penjelasan penting agar dia mempunyai stok kebohongan untuk mengelabui yang lain.

Akhirnya dia sampai ke bagian yang terjadi malam itu, dan oleh karenanya akhirnya Naoto pun tahu tanggal berapa saat itu. Kejadian kereta tadi terjadi pada tanggal 10 Mei 2009, berarti saat ini sudah tanggal 11Mei karena ini sudah melewati jam 12 malam.

Kemudian dia balik halaman itu, untuk membaca dan mengetahui akan ada kejadian apa di kemudian hari. Kisah kronologis mengenai apa yang terjadi di masa ini lompat kepada tanggal 8 Juni. Dia pun mengetahui bahwa setiap tanggal penting di mana shadow besar seperti tadi itu muncul selalu jatuh pada saat bulan purnama. Tentu itu menjadi suatu clue penting yang patut diingat.

'Jadi, dapat disimpulkan kejadian seperti tadi terjadi hanya pada bulan purnama? Menarik...' Mata gadis itu menyipit, berpikir bahwa dia saat ini memiliki info masa depan, dan bisa saja membantu sekelompok Persona-user disini menghindari hal tidak diinginkan yang akan terjadi pada mereka.

Misalnya kematian Minato Arisato.

"Ah..." Pemikiran itu membuat perempuan detektif itu terdiam dengan mata yang sedikit terbelalak. Baru saja dia menyadari, dengan keberadaannya disini, dan memiliki 'info masa depan', dia bisa menyelamatkan satu nyawa.

Jantungnya berdegup, merasa senang sekaligus khawatir. Senang karena merasa bisa menghidupkan kembali Minato Arisato, yang kemungkinan adalah kakaknya, dan khawatir karena dia sendirian disini, tidak ada senpai-senpainya yang membantu, tidak ada teman-teman seangkatannya seperti Rise yang bisa menjadi support di belakangnya. Naoto benar-benar sendirian di masa ini, dan ini membuatnya takut.

Apakah dia bisa melakukan ini sendirian?

'Tidak, aku harus lebih positif, jangan sampai karena aku berpikiran yang negatif lalu fisikku terbawa dan menjadi negatif juga. Aku pasti bisa melakukannya.'

Dengan tujuan baru yang jelas dibenaknya, dia pun lanjut membaca kejadian yang akan terjadi pada tanggal 8 Juni. Isinya adalah detail dari shadow tersebut, lokasi, bentuk, dan kekuatannya. Dahinya mengkerut ketika mengetahui bahwa akan ada dua Shadow besar yang akan muncul pada malam itu, Naoto membatin bahwa dia harus melatih dirinya agar bisa menghadapi shadow ini.

Namun saat dia mencoba untuk membalikan lagi kertasnya untuk melihat apa yang terjadi selanjutnya, rasa pusing tiba-tiba dapat dirasakannya.

"Jangan kau mencoba mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya terlalu jauh." Ujar sebuah suara yang sangat familiar di dalam kepalanya.

"Kenapa...?" Erang gadis itu.

"Karena kau pasti akan merubah semuanya, dan itu tidak bisa terjadi, wahai anak manusia."

Dan akhirnya perlahan rasa pusing yang amat menyakitkan itu memudar, dan suara itu menghilang. Perempuan itu jatuh terduduk di lantai, nafasnya sedikit terengah-engah.

"Izanami, ya?" Gumamnya.

Dengan kesal dia berdiri, menutup file itu dan berjalan menuju kasurnya, dia rebahkan tubuhnya dan menghela nafasnya ketika punggungnya bertemu dengan matras yang empuk. Dengan cepat rasa lelah menyelimutinya dan matanya pun mulai terpejam, dan akhirnya dunia menjadi gelap untuk gadis itu.


Sebuah dunia putih terbentang di hadapannya, dia hanya bisa membelalakkan matanya karena mengenal tempat itu. Dia tidak dapat menggerakan tubuhnya, bahkan matanya tidak dapat berkedip. Di dalam pikirannya, dia mulai panik, dia mencoba berpikir mengapa dia bisa berada disini, di tempat laknat ini.

"Souji Seta." Dapat terdengar namanya disebut, dia kenal sekali dengan suara itu.

Dia ingin berteriak, atau setidaknya mengatakan sesuatu, namun dia tidak dapat menemukan suaranya.

"Bersiaplah, suatu saat dia akan butuh bantuanmu."

Buram. Semua menjadi buram.

Dan disaat semuanya menjadi jelas, pria itu terduduk dengan cepat, nafasnya terengah-engah, keringat mengalir dengan deras dari keningnya. Pria yang memiliki rambut abu-abu itu melihat sekelilingnya, dunia putih yang tadi dia lihat berubah menjadi kamarnya yang saat ini dia tempati.

"Yang barusan, suara itu bukannya...?"

Dan kemudian handphonenya berdering, deringan SMS itu berbunyi berkali-kali pertanda bahwa ada banyak yang mengirimkan SMS pada waktu bersamaan. Karena merasa penasaran mengapa bisa bersamaan seperti itu, dia langsung mengambil handphonenya, dan dia baca SMS nya satu-satu.

Matanya terbelalak, karena inti dari semua SMS itu adalah...

'Aku tadi bermimpi aneh, Leader/Partner/Sensei, aku bermimpi berada di suatu tempat dan mendengar suara Izanami.'

"Berarti bukan cuma aku? Apakah yang tadi itu bukan hanya mimpi?"

'Semua mengalami mimpi yang sama...' Ujar pria itu di dalam benaknya, kemudian ia tatap sebuah kalender yang tergantung di dalam kamarnya. Tanpa berpikir panjang ia berdiri dan berjalan menuju lemari pakaiannya.

"Aku harus kesana sekarang, ada yang tidak beres..."

Berbagai pakaian dia ambil dari dalam lemarinya, kemudian dia ambil sebuah tas besar yang cukup untuk membawa semua baju yang saat ini ada ditangannya, dan memasukkan baju itu dengan tergesa-gesa, kemudian dia mengambil satu set baju dan berlari menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.


BEBERAPA JAM KEMUDIAN, DI STASIUN YASOINABA


"Yosuke, aku sudah sampai di stasiun. Iya aku menuju ke Junes sekarang, yang lain sudah berkumpul? Oh, oke, tunggu sebentar ya." ujar pria berambut abu-abu itu ke telepon genggam yang menempel di telinganya.

Kemudian pria itu menekan tombol merah pada telepon genggam itu dan meletakkannya kembali di dalam kantongnya, sebelum kemudian dia berlari menuju Junes tempat dia akan bertemu dengan teman-temannya untuk membicarakan fenomena aneh yang baru saja terjadi tadi pagi.

Tidak lama, akhirnya pria itu tiba di Junes dan berlari menuju food court dimana teman-temannya sedang menunggu. Pria itu melihat teman-temannya melihat ke arah dia dengan tatapan senang bercampur khawatir. Senang karena akhirnya dapat bertemu leader mereka, dan khawatir karena kejadian aneh yg terjadi pagi itu.

Pria itu duduk di antara mereka, dia terdiam sejenak untuk mengambil nafas dan menatap teman-temannya.

Kemudian pemuda berambut abu-abu itu menaikkan satu alisnya, "Naoto belum datang?"

"Nah itu senpai, aku sudah coba telepon Naoto-kun dari tadi tapi nggak nyambung. Memang senpai belum telepon dia?" Ujar gadis idol berkucir dua.

"Sudah, tapi tidak nyambung juga. Sudah berkali-kali kutelepon namun hasilnya nihil."

Kemudian gadis berambut hitam berkata, "Oh, kalo Naoto-kun sih sedang pergi keluar kota, aku berpapasan dengan dia di bus, katanya dia pergi karena ada urusan ."

"Apa karena itu dia tidak bisa dihubungi ya? Mungkin saja telepon genggamnya dimatikan karena ada urusan." gumam pria dengan headphone tergantung di lehernya.

"Naoto bukannya biasanya tidak mematikan telepon genggamnya karena sedang ada urusan? Bukannya justru karena sedang urusan itulah dia pasti akan tetap menyalakan telepon genggamnya, untuk berjaga-jaga kalau dia butuh bantuan kita?" Rise menyanggah Yosuke dengan dahi sedikit mengkerut.

"Kalau benar begitu, berarti apa ada kemungkinan sesuatu terjadi pada Naoto-kun?" Celetuk gadis berambut bob yang memiliki warna cokelat.

"Chie, jangan berkata seperti itu!" Kata Yukiko sambil menepuk punggung temannya itu.

Ekspresi Souji berubah menjadi khawatir, "Yukiko, apa Naoto bilang dia pergi kemana?" Tanya Souji, Yukiko hanya menggelengkan kepalanya.

"Naoto-sama pergi ke Port Island."

Hampir semua berteriak, terkejut karena tiba-tiba ada suara berat menjawab pertanyaan mereka. Mereka kemudian menoleh dan menemukan Yakushiji-san, ini membuat mereka kembali bernafas lega.

"Ah maaf, saya mengejutkan anda semua." Ujar Yakushiji sambil membungkukkan kepalanya.

"Yakushiji-san, jarang sekali bisa bertemu anda di tempat ini." Ucap Souji dengan ekspresi bingung tertera di wajahnya.

"Ah, ya..."

"Yakushiji-san, saya ingin konfirmasi, jadi Naoto sedang ada di Tatsumi Port Island?" Tanya pria berambut abu-abu tersebut.

"Ya, dan kami tidak tahu mengapa dia kesana, dia tiba-tiba saja beranjak pergi, seakan-akan menemukan sesuatu. Tetapi anehnya, saya dan Shirogane-sama tidak bisa menghubungi Naoto-sama sama sekali sejak kemarin."

Para anggota Investigation Team saling menatap mendengar itu. Mereka memiliki perasaan buruk mengenai ini, dan mulai mengkhawatirkan keadaan Naoto, raut wajah mereka sangat menunjukkan perasaan itu.

"Ah, saya harus kembali ke Shirogane Estate, permisi..." Yakushiji menunduk sebelum kemudian meninggalkan foodcourt Junes. Situasi di foodcourt itu menjadi sepi, para anggota Investigation Team terdiam karena masih merasa terkejut dan khawatir.

"Senpai, jangan-jangan Izanami di mimpi kita itu ada hubungannya dengan Naoto ya?" Ujar pria bertubuh kekar.

"Mungkin kita harus mencoba mencari Naoto di TV world." Ucap pria berambut abu-abu itu, dahinya mengernyit.

"TV world? Kenapa harus TV world, partner?" Yosuke menaikan satu alisnya sambil melipat lengannya.

"Yah, di mimpi kita muncul Izanami kan? Dan Naoto sekarang tidak dapat dihubungi. Seperti kata Kanji, mungkin ada hubungannya."

"Masuk akal juga. Bagian elektronik tadi kulihat sedang sepi sekarang, kita kesana sekarang saja, partner!"

Souji menatap ke seluruh anggota tim, ketika mereka semua mengangguk, Souji pun berkata, "Kita kesana sekarang."


TV WORLD


"Hei-hei, ada apa dengan tempat ini? Bukannya tempat ini sudah menjadi macam taman surga?" Kanji menatap sekelilingnya, TV World yang seharusnya telah menjadi sebuah taman yang luas, sekarang berwana putih bersih dan terdapat banyak miniatur2 suatu tower, dan miniatur berbagai monster.

Tempat itu terlihat tenang, namun terasa aneh.

"Sensei! Kalian semua!" Mereka mendengar sebuah suara, lalu mereka dapat melihat sebuah maskot berlari ke arah mereka.

"Ah, Teddie!" Souji memanggilnya sambil melambaikan tangan.

Ketika Teddie telah sampai disisinya, Souji pun langsung bertanya, "Apa yang terjadi dengan tempat ini?"

"Itu...Aku tidak tahu, ketika aku kembali kesini kemarin, tempat ini sudah menjadi seperti ini."

"Aneh..."

"Oh, kemarin aku sempat merasakan Nao-chan kemari!"

"Apa?" Ujar seluruh anggota Team Investigation.

"Anehnya, aku merasakan dia di...tempat kita melawan Izanami dulu."

Semua saling bertatapan, mendengar ini mereka merasa bahwa mimpi mereka semua semalam sudah pasti ada hubungannya dengan menghilangnya Naoto Shirogane.

"Teddie, apa Naoto masih disana?" Tanya Souji lagi.

"Nggak, aku sudah nggak merasakannya, bau nya tidak lama disini. Memang apa yang terjadi dengan Nao-chan?"

Souji berpikir untuk sesaat, "Semua, kita kesana sekarang, persiapkan diri kalian."


YOMOTSU HIRASAKA


Ketika mereka sampai disana, mereka menyadari ada yang aneh. Labirin di tempat itu sudah tiada, dan mereka langsung sampai di tempat terakhir dungeon itu; tempat pertarungan terakhir mereka.

Kemudian mereka lanjut berjalan menyusuri tempat itu. Sampai akhirnya mereka melihat sebuah sosok.

Sosok yang sangat mengejutkan.

Tanpa pikir panjang, mereka pun menyiapkan diri mereka, walau mereka saat ini tidak membawa senjata, namun mereka siap dengan persona mereka. Siapa yang tidak akan bersiaga ketika sosok yang mereka lihat tidak lain adalah...

Izanami.

"Kepala yang panas tidak akan bisa menemukan kebenaran, wahai manusia." Ujar dewi itu dengan sebuah senyuman penuh arti, dan sedikit tertawa.

"Dimana Naoto?" Tanya Souji dengan nada tinggi, terbawa emosi melihat sosok yang pernah membuat mereka nyaris menghembuskan nafas yang terakhir. Rasa amarah dan dendam tumbuh di hati Souji mengingat seluruh kejadian yang lalu, dia masih belum bisa memaafkan monster yang mengaku dewi ini.

Wajah dewi itu berubah dingin untuk sesaat, "Tenanglah, aku memanggil kalian bukan karena ingin mewarnai tempat ini semakin merah karena darah."

Walau merasa sedikit aneh akan kata-katanya, seluruh Investigation Team pun sedikit melemaskan tubuh mereka dan berdiri dengan sedikit lebih tenang. Mereka merasa bahwa dewi terkutuk satu ini mungkin memang tidak ingin melakukan sesuatu yang akan merugikan mereka semua.

"Kenapa kau panggil kami? Apa maksud dari kata-katamu di mimpi kami?" dua pertanyaan langsung dijatuhkan oleh supporter Team Investigation, yakni Rise.

"Dia, gadis mungil itu suatu saat akan membutuhkan kalian, aku sekedar ingin memberitahu kalian."

"Maksudmu Naoto-kun?" Lagi, sebuah pertanyaan keluar dari Rise, Izanami hanya menatapnya.

"Dan aku memanggil kalian juga karena aku ingin mengutarakan suatu hal secara langsung kepada kalian; gadis itu akan baik-baik saja, walau pasti akan terluka, tapi kematian tidak akan mungkin menjadi jalan yang harus dilaluinya, jangan cari gadis itu, kalian akan dapat menemukan gadis itu ketika dia membutuhkan kalian."

"Hei dewi brengsek! Apa yang kau lakukan kepada Naoto hah!?" Kanji mengeluarkan persona nya, terlihat siap menyerang, Yosuke menahan tubuhnya agar tidak terbawa emosi dan melakukan suatu hal yang bodoh.

"Aku hanya ingin membalas budi dengan membantunya."

"Membantu dalam hal apa!?"

"Sesuatu."

"JAWAB YANG BENAR DASAR DEWI BRENG—ughhmmm" Yosuke menutup mulut Kanji, dia menarik tubuhnya menjauhi dewi itu dengan bantuan Souji dan Chie.

"Sungguh tidak sopan. Tapi ya, hanya itu yang ingin kukatakan." Lalu sosok dewi itu menghilang tanpa jejak, meninggalkan Investigation Team dengan sebuah pertanyaan besar di kepala mereka.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan Naoto?

"Souji-kun, ada TV disana." Ucap Yukiko sambil menunjuk ke suatu TV yang ada di tempat itu.

"Aku merasakan sebuah barier yang sangat kuat menutupi TV itu, Yukiko-senpai." Rise mengernyitkan dahinya, merasa curiga mengapa TV itu memiliki barier, ada apa dibalik TV itu?

Tiba-tiba pria yang berbadan kekar yang memakai baju tengkorak melepaskan diri dari Yosuke, Souji dan Chie untuk berlari ke arah TV tersebut, namun tubuhnya menabrak TV tersebut dengan sangat keras, tidak dapat memasuki TV tersebut. Yang melihatnya melakukan tindakan sembrono itu hanya menggelengkan kepalanya, sudah menduga bahwa itu yang akan terjadi jika mencoba memasuki TV misterius itu.

Tetapi pria yang tampak seperti preman itu tidak mau menyerah, dia mencoba memukul-mukul TV itu, namun dia akhirnya berhenti ketika sedikit darah tampak pada kepalan tangannya.

"Sial!" Teriaknya.

"Kanji-kun! Sabar! Aku juga ingin sekali ke dalam situ karena pasti Naoto-kun ada di balik TV itu, tapi selama ada barrier ini, apapun yang kita lakukan tidak ada gunanya!" Rise yang tidak kuasa melihat temannya seperti itu pun akhirnya mendekatinya. Walau sedikit takut, tapi gadis itu mencoba untuk menarik lengan Kanji, pria itu kemudian menatap idol itu dengan wajah kesal.

"Ck..." Geram pria bertubuh besar itu.

Dahi Souji mengernyit, matanya dengan tajam menatap TV yang tidak dapat dilalui itu. Pria berambut abu-abu itu setuju dengan konklusi Rise bahwa Naoto berada di balik TV itu. Matanya menyipit, rasa penasaran menderanya dengan hebat, namun dia tahu bahwa dia belum bisa melakukan apapun saat ini.

Dan Souji merasa aneh, apa yang sebenarnya dewi terkutuk ini lakukan? Dia memang terlihat tidak ingin melukai siapapun, tapi pertanyaannya adalah di mana Naoto? Apa yang dewi itu lakukan kepada Detective Prince itu? Dan kenapa harus DIA?

Dan apa maksud dari balas budi?

Pria berambut abu-abu itu menghela nafasnya, memang dia dan teman-temannya tidak dapat melakukan apapun untuk saat ini, dan hanya bisa mempercayai dewi itu untuk sementara ini. Mereka benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang.

Souji kemudian menyadari bahwa semua menatap padanya, seakan-akan berkata 'Apa yang harus kita lakukan sekarang?', pria itu menghela nafasnya lagi dan menggelengkan kepalanya, raut wajahnya terlihat sedikit kesal.

"Aku benar-benar tidak ada ide harus apa kita sekarang."


Erangan kecil terlepas dari bibir seorang gadis yang mungil, matanya secara pelan terbuka. Pandangannya buram untuk sesaat, dan akhirnya pandangannya menjadi jelas ketika dia mengedipkan matanya. Gadis itupun akhirnya terduduk, dia pun mengerang lagi dan memegang kepalanya, dia dapat merasakan rasa pusing dan letih menderanya, dahinya mengernyit, sempat bingung mengapa dia merasa seperti ini.

'Ah tentu saja, semalam aku menggunakan personaku di dunia nyata.' Dengan cepat gadis itu memikirkan sebuah kesimpulan.

'Tidak disangka, ternyata persona benar-benar bisa digunakan di dunia nyata, tetapi aku sudah mencoba sebelumnya dan tidak bisa, lalu kenapa sekarang bisa? Apa karena fenomena yang di sebut Dark Hour itu? Tetapi semalam aku memang merasa lebih kesulitan mengeluarkan personaku daripada biasanya ketika aku di dunia TV, karena lebih memakan stamina.' Pikir gadis itu, mencoba membuat deduksi berdasarkan data-data yang dia dapatkan.

Lalu dia teringat akan satu hal yang sangat aneh, 'Pistol itu...mereka semua menggunakan sebuah pistol untuk mengeluarkan persona mereka, apa karena memang mengeluarkan persona di dunia nyata sebenarnya sangat sulit?' Gadis itu mengangguk, merasa mulai menemukan jawaban dari pertanyaan mengapa dia merasa lebih letih dari biasanya.

"Ah, iya, jam berapa ini?" Naoto menoleh sekelilingnya untuk mencari jam, namun dia lupa bahwa dia baru saja 'pindah' ke asrama itu, tentu saja hal kecil seperti jam belum ada. Dia beranjak dari kasurnya dan mengambil jam tangannya yang berada di atas meja, Naoto menggaruk kepalanya ketika menyadari bahwa waktu telah siang, dan dia belum pernah tertidur sampai setelat itu...kecuali waktu dia pertama kali mendapatkan personanya.

"Nah, harus apa aku sekarang..." Kemudian gadis itu membawa satu set baju dan perlengkapan mandinya ke kamar mandi yang ada diluar, karena tidak ada kamar mandi di kamarnya.

Dia harus melirik ke kiri dan ke kanan untuk memastikan para persona-user lainnya sedang sekolah sebelum dia memasuki kamar mandi untuk wanita.

'Cepat atau lambat sepertinya mereka akan tahu genderku sebenarnya...'

Sekitar lima belas menit kemudian, gadis itu pun keluar dari kamar mandinya, sebuah pikiran muncul di benaknya, mereka menggunakan Laundry Service untuk mencuci bajunya ya? Karena di kamar mandi terdapat beberapa keranjang yang berisikan baju-baju, dan di setiap keranjang memiliki nama.

Namun gadis itu memilih untuk mencuci baju-bajunya sendiri. Setidaknya, hingga mereka semua tahu bahwa gender detektif itu sebenarnya adalah wanita.

Naoto pun kembali ke kamarnya dan meletakkan bajunya di pojok ruangan, berpikir untuk mencuci baju-bajunya di lain waktu. Karena gadis itu memutuskan untuk berkeliling hari ini, untuk mengetahui lebih dalam mengenai 'masa' ini, dan juga untuk berbelanja perlengkapan sehari-hari.

Dahinya mengernyit, 'Tunggu...aku tidak membawa uang banyak di dompetku, dan kartu ATMku tidak mungkin bisa digunakan dimasa ini. Ditambah aku tidak bisa sembarang kerja karena aku bukan Naoto Shirogane masa ini, jadi tidak bisa membuat CV, terlalu riskan.'

Naoto hanya bisa menghela nafas dengan pasrah ketika sebuah solusi dari masalah ini muncul di benaknya.

Pekerjaan malam, atau pekerjaan ilegal.

'Ah ya Tuhan...'


PAULOWNIA MALL


Untungnya, school trip Yasogami High tahun lalu—di masanya—adalah Tatsumi Port Island ini, dan gadis detektif itu masih ingat jalan yang ada di kota ini, terutama menuju mall ini. Dahinya mengernyit mengingat suatu kejadian yang terjadi di mall ini.

Lalu sebuah pemikiran muncul, Escapade, tentu saja!

Tempat itu adalah night club, tidak salahnya mencoba untuk kerja disana, karena pekerjaan di night club 'biasanya' tidak terlalu 'rumit' untuk di dapatkan. Tapi pertanyaannya, pekerjaan apa di night club yang cocok dengannya?

"Hei! Kau!"

Gadis itu tersentak kaget, dengan cepat dia pun menoleh ke arah datangnya suara untuk menemukan seorang wanita, dari tebakannya kemungkinan wanita ini sudah setengah baya, atau setidaknya berumur 30 tahun keatas.

"Um...y-ya?"

"Kamu dari tadi berdiri dan menatap club ini, ada apa? Club ini kan hanya buka pada malam hari."

Oh, gadis detektif itu sepertinya tanpa sadar menatap club Escapade ini dalam waktu yang cukup lama sehingga orang ini bingung.

"Ah tidak, saya hanya memikirkan pekerjaan paruh waktu..."

"Disini?"

"Ah iya, saya sedang sangat butuh uang saat ini." Mengucapkan kalimat ini sangatlah berat untuk seorang Naoto Shirogane, karena tempat macam club ini benar-benar bertolak belakang dengan personalitynya, namun apa daya, gadis itu benar-benar membutuhkan sebuah pekerjaan paruh waktu di masa ini.

"Hmm...butuh uang ya." Wanita itu menatap Naoto dari atas sampai bawah, sebelum sebuah senyuman muncul di bibirnya. Tanpa bicara apapun wanita itu menarik lengan Naoto kearah club itu.

"Tu-Tunggu...hey nyonya!"

Lalu wanita itu mengeluarkan sebuah kunci, dan membuka pintu club itu, ini membuat Naoto membelalakkan matanya. Tapi dengan ini Naoto bisa menebak, bahwa wanita ini kemungkinan adalah pemilik dari club ini.

Pintu tertutup di belakang wanita itu, "Kamu, siapa namamu?"

"A-Aku...Naoto Shirogane."

"Perempuan bukan?" Ini membuat gadis itu sangat terkejut, bagaimana bisa wanita ini tahu gendernya?

"Ah...I-Iya."

"Yap, aku sangat butuh kau, nak. Sangat butuh hingga aku bisa pekerjakan kamu malam ini juga. Apa kau mau?"

Ini sangat tiba-tiba untuk gadis itu, dan sangat mengkhawatirkan, tapi faktanya dia memang membutuhkan sebuah penghasilan agar dapat hidup di masa ini. Pekerjaan ini mungkin sangat beresiko, tapi gadis itu merasa bahwa dia cukup pintar dan kuat untuk menghadapi hal yang aneh-aneh.

"Saya mau saja, asalkan bukan pekerjaan yang menjajakan tubuh saya." Ucapnya dengan sangat polos, mendengar ini wanita itu tertawa kecil, dan kemudian menepuk pundak Naoto.

"Oh tidak, pekerjaanmu sangat simple, kau tahu host club?"

Tunggu, apa?

"Sebelum kamu bertanya, ya, host club adalah pekerjaan 'lelaki' untuk 'menemani' wanita. Oleh karena itu aku sangat membutuhkanmu," Wanita itu menatap gadis detektif itu dari kepala sampai ujung kaki dengan sebuah senyuman, "kamu memiliki figur yang sangat tampan, nak."

Apa?

Adalah satu kata yang terus terngiang di dalam pikiran Naoto, tidak habis pikir dia ditawari pekerjaan macam ini. Tetapi, ini terdengar tidak terlalu membahayakan, pekerjaannya hanya menemani wanita kan? Tidak mungkin ada hal aneh-aneh yang akan terjadi, karena dia juga wanita.

Ya kan?

Walau merasa sedikit takut, tapi gadis itu mengangguk, "...Aku terima pekerjaan ini."

"Bagus! Nak Naoto, kamu sudah menyelamatkanku! Oh, namaku Mai Kotobuki, salam kenal!"

"Salam Kenal, Kotobuki-san." Gadis itu menunduk, wanita itu terlihat baik, sepertinya dia bisa mempercayainya.

'Yah, tapi aku harus tetap waspada, tempat ini tetap saja tempat yang negatif untukku.' Pikir gadis itu sambil meninggalkan club tempat dia akan bekerja nanti.

Sepertinya pengalaman-pengalaman yang jauh di luar ekspektasinya akan banyak terjadi di masa ini.


TO BE CONTINUED


A/N: Setelah sekian tahun...akhirnya mengupdate fanfic ini.

Sudah lama tidak menulis, mudah-mudahan tulisan saya masih layak untuk dibaca dan ngga terlalu karatan hehe. Berdoa saja setelah ini gua masih bisa melanjutkan hype menulis fanfic Persona, karena akhir-akhir ini sudah nggak nulis2, hiks.

Sampai jumpa di chapter selanjutnya!