"Kami pulang~!"

Tidak ada yang menjawab, tentu saja—sejak awal mereka hanya tinggal berdua, ini hanya kebiasaan saja. Touson masuk lebih dulu, diikuti Katai di belakang yang mengunci pintu terlebih dahulu sebelum melepas sepatunya di gekkan. Dengan santai pria itu naik, masuk ke dalam. Namun, tak lama langkahnya terhenti begitu sadar bocah 8 tahun yang tadi bersamanya tidak ada di dekatnya.

"Touson?" Pria berusia sekitar 25 tahun itu berbalik. Touson ada di sana, anak itu belum melepas sepatunya ataupun beranjak—masih berdiri, menghadap pintu yang tadinya sudah Katai kunci.

Katai mengerjap. Nama anak itu sekali lagi ia panggil, namun tidak ada reaksi. Pada panggilan ketiga, barulah Touson menoleh ke belakang.

"Ya?"

"Sedang ... apa?"

Kali ini Touson berbalik, lantas menghampiri Katai yang menatapnya bingung.

"Nee, nee, Paman, boleh tanya?" Touson memandang Katai dengan pandangan sayunya yang biasa. Katai lagi-lagi mengerjap, lalu mengangguk.

"Tentu?"

"Papa pulangnya masih lama, ya?"

Hening.

Katai terdiam mendengar pertanyaan anak di hadapannya. Touson masih menatapnya, menanti jawaban.

"Paman?"

"... Iya, nanti pulang, kok." Katai mengamit tangan mungil Touson, mengajak anak yang diasuhnya sejak beberapa bulan lalu itu masuk ke ruang tengah. "Ayo, kita masuk dulu. Touson capek, kan? Istirahatlah, aku akan masak buat makan siang."

~o~

Him

[#bunalember day 21: tragedy]

Bungou to Alchemist belong to DMM Games

[note: AU, child!Shimazaki, sejujurnya author sendiri ga yakin ini masuk tragedi, tapi udahlah /dihajar]

Happy reading!

~o~

Touson memutuskan untuk pergi ke kamarnya setelah Katai meninggalkannya ke dapur guna memasak makan siang. Ia menggantung tasnya di pintu dan mengganti bajunya dengan pakaian santai sebelum merebahkan dirinya di atas ranjang.

Paman Katai bakalan lama, begitu pikirnya. Sempat terpikir untuk tidur siang sebentar, meski pada akhirnya batal karena Touson belum mengantuk sama sekali. Ada tugas rumah dari guru matematikanya di sekolah tadi, tapi Touson lebih memilih untuk mengerjakannya nanti malam saja ketimbang sekarang, biar ada alasan untuk kabur kalau Katai mengajaknya menonton acara komedi garing di televisi begitu selesai makan malam.

"Hmm ..." Anak itu berguling, menghadap seisi kamarnya yang sunyi. Tidak ada terlalu banyak barang di kamarnya—hanya ada lemari, meja belajar beserta rak bukunya, juga kotak mainan yang isinya nyaris berdebu, gara-gara seiring berjalannya waktu Touson lebih suka membaca dongeng ketimbang bermain dengan mainan anak-anak.

Omong-omong soal dongeng, Touson jadi teringat ayahnya.

Ayah angkat, lebih tepatnya. Namanya Tokuda Shuusei, ia membawa Touson pulang dari panti asuhan ketika usia anak itu masih 4 tahun. Ia tidak pernah tahu alasannya—benaknya selalu bertanya-tanya gara-gara Shuusei masih muda, belum beristri juga, jadi untuk apa mengadopsi anak sepertinya? Namun tiap Touson menanyakannya Shuusei hanya berkata karena ia ingin, tidak ada alasan khusus dan yang terpenting ia menyayangi anak itu.

Ayahnya orang baik. Meski Touson kadang iseng menyeletuk bahwa ayahnya membosankan, Shuusei tidak pernah memarahinya. Ia maklum karena Touson masih anak-anak, dan kadang-kadang hanya tersenyum sambil mengacak-acak rambut anak itu karena gemas. Kalau pulang kerja juga ia sering membawa beberapa cemilan yang Touson sukai, dan sebelum tidur selalu menceritakan dongeng, entah dongeng dari buku-buku milik Touson atau dongeng yang dikarangnya sendiri.

"Aku kangen digendong Papa." Foto di atas meja belajar mendadak membawa nostalgia. Potret berisi dirinya yang tertidur dalam gendongan Shuusei. Ayahnya suka menggendongnya ketika Touson merasa lelah kala mereka sedang jalan-jalan, dan karena gendongannya terasa nyaman kadang-kadang ia sampai ketiduran.

Dan ketika mengingatnya Touson jadi mengantuk. Katai belum memanggilnya buat makan siang, jadi sepertinya lebih baik kalau ia tidur siang sebentar, memimpikan entah apa.

Namun, sebelum ia betul-betul jatuh ke alam mimpi, sesuatu menginterupsinya. Sesuatu yang membuat Touson langsung membuka mata, gara-gara teringat sesuatu yang buruk, yang sebelumnya sempat tidak ia pahami.

"Touson, ayo bangun."

"... Papa ...?"

"Bukan, ini aku." Itu Katai. Touson beranjak duduk sambil mengusap-usap matanya. Rasa kantuknya sedikit-sedikit lenyap.

"Paman Katai?"

"Uhm." Katai beranjak dari tempatnya. "Ayo, kita makan siang."

~o~

Ini kali pertama Touson makan siang di rumah pada hari sekolah. Guru-guru memutuskan untuk memulangkan para muridnya lebih cepat karena akan mengadakan rapat. Mungkin Touson bakal pulang dengan teman-temannya kalau saja Paman Katai tidak kebetulan lewat di depan sekolahnya dengan motor, baru pulang dari supermarket setelah membeli kebutuhan sehari-hari. Jadinya Touson pulang bareng Katai, membatalkan acara pulang bareng Iwano Houmei dan Masamune Hakuchou yang rumahnya kebetulan searah—tidak apa-apa sebenarnya, karena sebelumnya juga mereka sudah biasa pulang bersama.

Sepiring ikan panggang beserta semangkuk sup miso ada di hadapan masing-masing. Keduanya sama-sama berucap, "Selamat makan!" sebelum akhirnya mulai melahap makan siang dengan tenang. Masakan Katai lumayan enak sebenarnya, dan Touson sendiri cukup menyukainya. Sayangnya selalu ada yang kurang. Ayahnya tidak di sini.

"Doppo bakalan ke sini nanti malam, makan malam bareng kita." Di tengah-tengah menandaskan isi mangkuk nasi, Katai berkata.

Touson menoleh. Setelah kunyahannya tuntas ia membalas, "Untuk?"

"Yah ... ada yang harus kami bicarakan nanti," jawab Katai santai. "Mau membantuku memasak makan malam nanti?"

Touson mengangguk.

Kunikida Doppo—Touson biasanya memanggilnya Paman Kunikida. Orangnya cukup ramah, mirip Katai—dalam artian kepribadiannya yang lumayan easy going—namun lebih tegas. Akhir-akhir ini sering kemari karena Katai tidak bisa lama-lama meninggalkan Touson sendirian di rumah—kalau dulu dia masih bisa pergi sesukanya, sekarang tidak lagi.

Touson masih menatap Katai. "Papa juga bakal pulang, Paman?"

Ekspresi Katai berubah.

Pria itu menatap Touson dengan tatapan intens. Helaan napas keluar dari mulutnya, agak berat, tapi ia mulai kehabisan akal. Sejak hari itu juga Touson memang sering menanyainya.

"... Touson, dengarkan aku," ucapnya dengan nada serius, akan tetapi sedikit-sedikit Touson bisa menangkap nada memohon dari pria di hadapannya. "Habiskan makananmu, baru kujelaskan, ya?"

Tanpa disangka, ia menerima gelengan.

"Aku kenyang." Mangkuk berisi sup miso yang isinya tinggal satu tegukan didorong menjauh, begitu juga dengan piring ikan panggang yang baru dimakan setengah.

"Touson-"

"Papa ke mana?"

"Touson, aku-"

"Paman tahu, kan? Kan? Beritahu a-"

"Touson!"

Setelah itu hening. Touson begitu terkejut ketika Katai membentaknya. Katai juga—sungguh, ia betulan tidak sengaja barusan. Anak berhelai cokelat itu menundukan kepalanya, lalu beranjak dari tempatnya duduk.

"Maaf," ucapnya, kemudian pergi.

Katai tidak mengejarnya untuk sementara, pun memanggilnya supaya kembali. Ia sadar, yang barusan itu—juga semuanya selama ini—memang kesalahannya.

~o~

Entahlah.

Melihat Katai membentaknya barusan membuat Touson agak merasa bersalah juga sebenarnya. Ia tahu, namun ia tidak suka kalau Katai selalu menutup-nutupinya di depannya.

Tayama Katai tidak perlu berpura-pura bodoh di hadapannya. Ia sudah tahu apa yang pria ucapkan itu selama ini hanya bohong belaka.

"Touson?" Suara ketukan pintu terdengar tiga kali, pelan. Touson yang bersadar pada pintu kamarnya hanya melirik, ia enggan menjawab.

"Touson, ini aku."

Lagi, Touson enggan membalas.

Ada helaan napas terdengar di balik pintu. Tidak ada tanda-tanda Katai akan membuka kenop pintu dari luar sana—kalaupun ada, ia tetap tidak akan bisa masuk, lantaran Touson sudah menguncinya sejak awal masuk kemari.

"Aku minta maaf." Katai berkata lagi dari luar. "Seharusnya aku menjelaskan ini padamu sejak awal. Ayahmu sudah pergi ... sejak hari itu, dan tidak akan pernah pulang lagi. Maafkan aku ..."

Ia sudah tahu.

Touson sudah tahu itu.

Ada satu hal yang tidak Katai ketahui ketika ia mendadak menerima panggilan di kamar Touson setelah menidurkan anak itu, pada malam tanggal 18 November. Dikiranya anak lelaki yang malam itu sedang diasuhnya sudah tertidur, namun sebenarnya tidak—Touson masih terjaga, dan ia dengar semua yang Katai katakan pada orang yang meneleponnya dari seberang sana, bahkan hingga Katai tergesa-gesa pergi keluar tanpa menyadari bahwa sebenarnya Touson belum tidur. Esoknya ia dibawa ke tempat yang orang-orang bilang rumah duka. Semuanya memakai setelan gelap termasuk Touson dan Katai sendiri. Ada peti besar di tengah-tengah ruangan, dan di atasnya ada foto Tokuda Shuusei, ayahnya, yang tengah tersenyum datar.

"Nee, Paman, Papa ke mana? Kenapa ada foto Papa di sana?"

"... Ayahmu sudah pergi, Touson."

"Apa nanti malam dia akan pulang?"

"... Yah, aku rasa."

Touson yang waktu itu masih belum mengerti, dan Katai yang tidak mau anak temannya itu bersedih. Tiap Touson bertanya kapan Shuusei akan pulang, Katai selalu berkata, "Nanti.", "Secepatnya.", "Sebentar lagi." selalu seperti itu.

Satu hal lagi yang tidak Katai ketahui adalah Touson akhirnya tahu semua, pada hari pertama kembali sekolah setelah masa berkabung usai.

Wali kelasnya mengucapkan belasungkawa pada Touson, Touson yang tidak memahaminya menanyakan apa maksudnya, dan gurunya langsung mengajaknya keluar kelas, menjelaskan hal-hal yang seharusnya memang Touson ketahui sejak malam itu. Wali kelasnya sebetulnya orang baik—ketika Touson memahami semuanya dan mulai menangis, gurunya itu langsung memeluknya dan membawanya ke ruang guru. Guru lain yang kebetulan kosong ia minta untuk menggantikannya mengajar di kelas, sementara ia tetap di sana hingga Touson tenang.

Sejak ia tahu dan paham dengan apa yang sebenarnya terjadi, ia selalu menunggu Katai berkata jujur. Bahwa Shuusei sudah pergi, dan ayahnya itu tidak akan kembali lagi, selamanya. Namun Katai, pria itu tidak pernah melakukannya. Jawaban yang sama selalu ia berikan, tanpa mengetahui bahwa Touson sejujurnya tahu bahwa ia sedang berbohong.

Hingga akhirnya Katai betul-betul jujur, setelah tanpa sengaja membentak Touson di ruang makan. Cara yang agak menyakitkan sebenarnya, dan Katai sedikit menyesalinya. Namun setelahnya Touson merasa lebih tenang. Pria itu akhirnya jujur, dan Touson tidak perlu lagi mengikuti kepura-puraan Katai yang tanpa disadari satu sama lain menyakiti hati masing-masing.

(Kendati, mendengar hal barusan membuatnya merasa ingin menangis lagi.)

Touson belum beranjak dari tempatnya, enggan pergi keluar atau setidaknya berpindah tempat, bahkan hingga langkah kaki yang menandakan kepergian Katai terdengar. Ia masih duduk duduk di sana sambil memeluk kedua lututnya, hingga tanpa sadar tertidur.

-end-

Ini gaje sebenernya, dan banyak melenceng dari yang pernah kudiskusiin sama Nana beberapa waktu lalu. Nana plis kalo baca ini (lagi) jangan langsung ngajak kelahi via PC, capek kan kelahi terus? :'u /dihajar

Masuk tragedi gak sih? Ya anggep aja keyword (apanya Vir). Sebenernya mau kupublish tanggal 18 November (biar samaan sama deathversary-nya mendiang Tokuda Shuusei). Tapi ga jadi, jadiin buat event aja meski kayaknya sisi tragedinya cuman aku yang paham /dihajar lagi

Dan ini AU ... plis sejujurnya ak ga berani bikin AU kalo di fandom sini (halah padahal sebelumnya juga sempet bikin school!AU buat event gc), tapi ... biarlah :')