Tante Lana menggunakan rok pendek sebagai bawahan. Aku menatap wajah tante Lana sejenak, ia hanya tersenyum cerah padaku, meskipun tanganku juga mulai meremas pantat tante Lana.

"Ini memang lembut-!" Aku tak sengaja berujar. Jemariku pun menyusup ke bawah roknya, lalu meremas pantat tante Lana yang hanya terbalut celana dalam.

"~Uuh... aku tak menyangka kau begitu nakal, nee Naru-kun!" Ia sedikit mengigit bibirnya, entah kenapa raut wajah tante tampak begitu menggoda bagiku. Si kecil di bawah sana beraksi saat melihat tante Lana.

Tante Lana terlihat menikmati remasan yang kulakukan di pantatnya. Perlahan tanganku mulai bergeser, di situ cukup lembab, kutebak itu merupakan tempat yang disebut vagina.

"Uhk~!" Ia bereaksi sedikit berlebihan saat aku menusuk tempat basah itu, padahal masih terlindungi oleh celana dalam miliknya. Wajah tante memerah, dengan tangan menutupi mulut agar tak mendesah.

Sedangkan aku sibuk menusuk celana dalamnya dengan dua jari.

"Ada apa denganmu Lana-chan?"

Jantungku hampir copot saat suara ibu terdengar, dengan cepat aku menarik kembali tanganku. Terlihat ibu yang sedang berjalan ke arah kami, dilihat dari ekspresi heran ibu mungkin ia belum melihat kegiatanku bersama tante Lana.

"Oh, Kushina-chan. Aku merasa agak meriang-," Jawab tante Lana. Dalam hati aku mendesah lega.

"Memang cuaca saat ini agak dingin, lagian kan sekarang mau masuk musim dingin, wajar kau masuk angin, Lana-chan!" Balas ibu, wajah khawatirnya menghilang.

"Kalau begitu, ku pinjam toilet mu sebentar Kushina-chan,"

Ibu hanya mengangguk pelan sambil tersenyum, lalu kembali ke masakannya yang belum selesai.

Tante Lana menarik senyum sensual ke arahku, sebelum memberi isyarat sesuatu, dan kemudian ia melangkah ke arah kamar mandi.

Aku diam sejenak, kembali menatap pr-ku, sebelum meneguk ludah dan berjalan ke arah kamar mandi. Tentu aku memastikan langkahku tak di sadari oleh ibu.

Klek! Pintu toilet tidak terkunci, dan dengan cepat aku menyelinap. Saat aku berbalik setelah menutup dan mengunci pintu, napasku tertahan.

Di kloset, tante Lana duduk mengangkang tanpa mengenakan bawahan. Mengekspos vagina kemerahan itu dengan jelas, terlihat lendir berlepotan di sekitarnya.

Jembut ke cokelatan tumbuh rapi di sana, melihatnya aku tak sadar meneguk ludah, dan si junior telah tegang maksimal di bawah sana.

"Lihatlah Naru-kun~! Ini semua disebabkan olehmu lho, vagina kesepian tante ini basah karena jarimu-!"

Tante Lana terlihat mengusap sebuah tonjolan di sana, tatapannya sayu seakan mabuk oleh sesuatu.


Dan ketika habis pulang kerja, tiba-tiba notif kampret pun muncul, sebuah review dari guest..., lu bisa nebak apaan tuh review, yang jelas gua emosi, nyampe lelah pun hilang.

Sempatin ngetik segini dulu, biar update agar dapat nyelipin (A/N): Iri bilang bos.

—Dan cerita ini bakal update setiap hari jumat!