"Mendekatlah Naru-kun~!" Nada tante Lana terdengar sedikit aneh, begitu menggetarkan hati. Aku tidak dapat mengontrol kakiku, untuk berjalan pelan ke arahnya, berdiri di hadapan tante yang tengah mengangkangi ku.

Senyum yang terukir di bibirnya baru kulihat, ia bahagia namun tersimpan raut kesedihan. Mungkin ia sedih karena melakukan hal yang tidak senonoh dengan anak sahabatnya, atau hal lain yang tidak begitu ku pahami.

Tante Lana terus menggosok selangkangannya walaupun pandanganku semakin jelas dengan lubang berlendir miliknya. Jika aku perhatikan lagi, lipatan kemerahan dengan bulu halus disekitarnya, membuat diriku terangsang.

—Aku meneguk ludah saat menatap vagina tante Lana.

"Ahh... gimana kau suka bentuknya Naru~?" Tante Lana berucap dengan dengan senyum miliknya. "Oh, dan ini juga sudah tegang rupanya." Sebelum kaki putihnya bergerak ke arahku, menekan tonjolan di pangkal paha.

Ia terkekeh saat aku mendesis. Kakinya bergerak begitu anggun mengusap penisku, rasa geli namun membuat tagih dapat kurasakan. Ini pertama kalinya aku merasa seperti ini.

Tubuhku seolah merasa gatal, ingin lebih dari ini. Seakan mengerti keinginanku, tante Lana kemudian melorotkan celanaku dengan mudah menggunakan kakinya, dan seketika 'naga kecil' ku melompat keluar.

"Ukuran ini memang belum bisa memuakanku, tapi boleh deh dari pada nggak ada kan~?"

Nada yang begitu menggoda. Kemudian tante Lana menyentuh penisku dengan telapak kakinya, ia menggunakan jemarinya menggosok penisku. Kakinya nan lembut dan halus itu memainkanku hingga diriku merasa kepanasan.

"Huft..." Aku menarik napas dalam, mataku mulai kabur karena merasa nikmat, sungguh ini pertama kalinya bagiku.

"Naru, jangan bilang kamu udah mau muncrat?"

Aku tak tahu apa arti dari pertanyaan tante, namun aku tahu diriku ingin merasakan lebih. "Hugh..." Mulutku mengerang serak saat pikiranku semakin terasa kosong, tanpa sadar aku langsung maju lebih dekat pada tante Lana, sebelum menarik kedua pahanya untuk menjepit penisku.

Oouugghh... kalian pasti tak mampu membayangkan sensasi seperti apa yang kurasakan saat paha hangat itu menjepit, saking nikmat dan senangnya diriku, aku pun mendorong penisku maju-mundur di dua paha tersebut.

Croot!

Aku menutup mata ketika rasa nikmat itu seakan mencapai puncak. Ada sesuatu yang ingin keluar dari tubuhku, namun sensasi ini berbeda saat aku kencing.

Ketika aku membuka mata kembali, terlihat cairan kental seputih susu mengotori tubuh tante Lana. Semua tubuh bagian atasnya dikotori oleh cairan tersebut, aku sadar wajah tante pun sampai berlepotan.

"Hosh... hosh... aku tak menyangka tubuh Naru-kun telah mulai memproduksi cairan panas ini-!" Senyum seperti sebelumnya kembali tersungging, kemudian tante Lana mencolek sedikit lelehan cairan putih tersebut, sebelum menjilati jarinya. "Hmm... rasa ini telah lama kulupakan. Ini lebih gurih karena kamu masih muda, Na-ru-to!"

Wajah tante Lana memerah. Ia kemudian menggerakan telapak tangannya mengusap seluruh bagian tubuh yang berlepotan cairan kental, sebelum menjilatnya dengan penuh nafsu.

Deg!

Melihat pemandangan tersebut tubuhku menjadi panas, entah kenapa aku bersemangat sekali. Penis yang tadi layu mulai naik perlahan, melebihi keras yang sebelumnya, batang itu terlihat lebih panjang dan tegak mengacung ke atas.

"Ara~"

Tante Lana yang telah selesai membersihkan sisa cairan dari tubuhnya tersenyum penuh makna ke arahku, ia beringsut hingga duduk dengan sedikit menunduk ke arahku.

Tante menjulurkan lidahnya, menjilati penisku dari atas kemudian lidahnya bergoyang ke semua sisi, "Aku kagum padamu, Naru-kun... Haup!" Ia berujar sebelum melahap penisku.

Oouuhh!

Apa-apaan kehangatan ini? Membungkus penisku seutuhnya dengan rasa panas yang lembab, hal ini lebih mengasikan daripada sebelumnya.

Nikmatnya membuat pikiranku melayang ke awan!


~ (12-11-2020) ~