~Slurp!

Kepalaku berdengung ketika suara dari hasil hisapan tante Lana menggema di kamar mandi, mulut panasnya seakan menginginkan semua isi di dalamnya. Penisku terasa berkedut, ketika lidah tante begitu liar menggulung batang keras ku didalam mulutnya.

Oh! Ini seperti kesadaranku perlahan di hisap.

Aku menggigit bibir ketika perasaan sebelumnya kembali, terasa ada sesuatu yang ingin keluar dari sana. Cukup membuatku ketagihan hingga tanpa sadar aku meremas rambut tante Lana lalu menggoyangkan pantatku maju-mundur.

Itu menghasilkan lenguhan tante Lana yang sangat eksotis.

~Croot!

"Kuu..." Sembari memejamkan mata aku mencoba merekam di pikiranku kenikmatan yang datang, bersamaan dengan sesuatu yang keluar di bawah sana.

"Hmph... puah~!"

Cairan putih, atau di pelajaran biologi di kenal sebagai sperma, berlumuran di sekitar wajah tante ketika ia melepaskan penisku dari kuluman mulutnya. Ia tersenyum saat menghapus semua lelehan sperma ku dengan jemarinya, lalu menjilatnya dengan ekspresi mesum.

"Oh tante Lana..."

Meskipun belum pernah melihat langsung tatacara seks, tapi aku mengetahui garis besarnya dari pelajaran akademi. Melihat wajah mesum tante Lana membuat diriku tidak tahan untuk menindih nya di atas kloset, sembari menggesek penisku mencari lubang yang bisa dimasukin.

Tante Lana hanya diam, bahkan ia melempar senyum kepadaku, sebelum memeluk pinggang ku dan menuntun penisku yang masih keras pada tempat yang tepat. Itu sangat berlendir, meski tidak melihatnya langsung, aku yakin tempat itu sangat basah oleh cairan panas dan licin.

Karena penasaran aku melirik ke tempat kepala penisku menempel.

Sebuah lubang dengan lipatan daging dan kulit berwarna merah muda, itu masih segar dan terawat, di atasnya juga ada bulu halus senada dengan rambut tante Lana.

~Glek!

Aku menelan ludah sekali lagi. Baru saja aku berniat mencicipi rasa cairan licin tersebut, tante Lana mencubit daguku hingga kami saling beradu tatap. Tante Lana kemudian memajukan kepalanya, sontak aku memejamkan mata ketika mengetahui ia berniat mencium bibirku.

"Umh~!" Bersamaan dengan itu ia mendorong pinggang ku ke depan, sehingga penisku yang telah standby langsung masuk dengan mulus ke dalam vagina tante Lana. Begitu lembut, sempit, hangat, di dalam vagina tante.

Rasanya aku bisa meleleh oleh kehangatan ini. Begitu pun dengan bibir tante Lana, rasa aneh bercampur di dalam mulutku, namun rasa itu menjadi candu bagiku, entah kenapa aku sangat menyukai rasa ini.

~Aku yakin rasa yang tertinggal di bibir dan mulut tante Lana itu berasal dari spermaku dan liur tante.

Dengan gerakan paling cepat yang bisa kulakukan, aku menggoyang vagina tante Lana, ia mendesah begitu kuat di dalam mulutku.

"Oh~! Meskipun ukurannya tak seberapa... ini cukup nikmat!"

Desah tante di sela cipokan kami. Mendengar kalimatnya, entah kenapa aku semakin terangsang, semakin bergairah, dan setitik rasa kesal juga tercampur di dalam gairah ku yang membara.

~Kenapa tidak kesal. Ini bagaikan penghinaan bagiku ketika ia bilang penis ku kecil.

Memang ukuranku masih kecil karena aku masih 12 tahun, tapi suatu kebanggaan bagiku bisa memuaskan wanita dewasa sebatas ibuku.

"Puah~" Kemudian aku melepas cipokan lidah tante Lana di mulutku, ia sangat mendominasi hingga membuat napasku sesak. Selanjutnya aku meluncurkan serangan gencar pada payudara tante Lana, meremas sekuat mungkin tidak peduli jika itu menyakitkan bagi tante.

Sembari terus menggenjot vagina tante yang menghasilkan suara cipratan, aku juga mulai menikmati tubuh tante Lana. Meremas payudaranya, kemudian menghisap putingnya, lalu mencium dan menjilat keringat tubuh mesum tersebut.

Hal itu membuatku semakin mabuk, desahan tante juga tidak tertahankan, aku yakin ibu pasti dapat mendengar desahan tante. Tetapi aku tidak perduli, nafsu dan hasrat telah membuat diriku tak mampu berpikir logis.

Yang penting diriku puas dengan tubuh tante Lana.

"Tante... itu akan datang!" Kira-kira lima menit aku menikmati tubuh tante, perasaan itu kembali datang. Aku tahu ini yang disebut ejakulasi, ketika seorang pria mencapai puncak kenikmatan seks.

"Bersama sayang! ~ah... ah..."

Tante menjepit pinggang ku dengan dua kakinya, lalu menekan kepalaku ke arah dadanya yang besar. Tanpa banyak tanya, aku langsung melumat payudara besar itu, sambil terus mempercepat tempo permainanku.

~Croot! Crooot!

"Tante..."

Aku menjerit di tusukan terdalam yang mampu ku capai, aku yakin penis ku menyentuh sebuah dinding di dalam sana. Tante juga ikut menggelinjang, dan gelombang air panas mengalir membasahi penis ku hingga muncrat ke luar.

"Sudah lama aku tidak muncrat karena seks~ Oh!" Begitulah rintih tante sambil tersenyum puas lalu mencium bibirku kembali. Aku tak melawan, dan berusaha mengimbangi pergerakan lidah tante.

~Brak!

Ketika kami asik berciuman, saling menukar saliva, dalam keadaan penis dan vagina kami terhubung, tiba-tiba pintu toilet terbuka. Sontak kami menghentikan segala perbuatan kami, lalu aku dengan paksa menarik penisku yang ternyata masih tegang.

~Tubuh bawah tante Lana telah basah sejadinya, baik itu karena cairan vaginanya, maupun sperma ku yang meluber keluar.

Jantungku kemudian berhenti saat ibu berdiri dengan tatapan shok dipintu toilet. Ia terlihat terkejut melihat kami, dengan menutup mulutnya yang terbuka.

Sedangkan tante Lana hanya tersenyum menanggapi ke kagetan ibu ku.


~(20-11-2020)~