disclaimer: One Piece (c) Eiichiro Oda

main pair: KidLaw-eh, KidfemLaw :)

THIS STORY IS BELONG TO ME. Cuma minjem karakter aja:)

5406 words. Ga nyangka loh ini fanfic iseng2 malah membludak jadi 5k kata:)

Slight KilfemGuin tapi cuma sebesar semut. Ya, selamat membaca! :D


Seperti yang sudah kita semua ketahui, cuaca di New World memang keterlaluan keadaannya. Sebentar cerah, sebentar mendung, sebentar hujan. Hujannya pun bukan cuma hujan air belaka, ada hujan batu es raksasa, hujan salju, hujan uang—eh, pokoknya semua hujan pun bisa terjadi di tempat ajaib ini. Dari hujan normal sampai hujan absurd. Musim disini juga tak dapat ditebak. Pokoknya, kalau kau tak diberkahi kemampuan membaca alam, siap-siap saja tinggal nama.

Kali ini, Bajak Laut Hati sedang merapat di sebuah pulau karena musim dingin. Karena kapal mereka kapal selam, tentu saja tidak bisa menyelam karena laut berubah beku. Mau berlayar di permukaan juga percuma. Jadilah mereka memilih merapat setidaknya sampai musim dingin ini usai, sekalian berbelanja beberapa kebutuhan juga, semisal peralatan kapal, pisau bedah dan peralatan bedah lainnya, obat bius, obat-obatan, baju baru, makanan, bahkan peralatan pribadi, terutama untuk kaum wanita.

Sebagai wanita sekaligus kapten kapal ini, Trafalgar Law paham betul bahwa mereka akan dibuat menderita di musim kejam ini. Jadi mereka dibebaskan membeli kebutuhan apa saja yang mereka perlukan, dengan catatan, jangan boros. Law juga punya banyak keperluan yang harus dia beli, seperti baju baru, make upnya, skincarenya, dan satu hal penting yang tak mungkin luput dari perhatian para wanita karena mereka mengalami suatu fase tiap bulan. Iya, kalian tidak salah menebak.

Apa, hayo?

Tapi untuk kaum wanita, kata hati bilang jangan boros bakal beda jauh dengan kenyataan.

Law bersama keempat anak buahnya, Shachi dan Penguin serta Bepo sebagai satu-satunya jantan dan bodyguard mereka (sekaligus tempat peluk-peluk dikit biar hangat), keluar ke pulau untuk memulai perburuan. Saat ini salju yang turun tidak terlalu lebat, masih manusiawi dibanding biasanya. Bulir-bulir putihnya jatuh perlahan dari langit, berpendar indah ketika terkena cahaya lampu.

Netra keperakan Law menangkap sesuatu yang tidak asing di dermaga yang tak jauh dari tempat mereka berlabuh. Sebuah kapal bajak laut besar dengan kerangka dinosaurus di depannya, bendera bajak laut berwarna hitam dengan tengkorak berambut merah…

Kayak nggak asing, tapi siapa, yha? Law nggak pikun, 'kan?

"Kapten, bukankah itu kapal Bajak Laut Kid?"Shachi menyuarakan keheranannya (sekaligus menjawab pertanyaannya). Law mengangguk, tidak melepaskan pandangan dari kapal itu. Kapal itu terlihat sepi, salju yang turun membentuk tumpukan di beberapa bagian kapal.

"Suatu kebetulan yang aneh kita berada di pulau yang sama dengan Bajak Laut Kid,"komentar Penguin seraya mengibaskan salju yang turun di pundaknya.

"Tapi, bukannya kau senang karena bisa bertemu dengan Killer lagi?"Shachi menggoda temannya itu, membuat pipi Penguin diwarnai semburat merah muda.

Law tersenyum tipis, dia tahu sejak awal kalau Penguin menyukai first mate Kid itu. Dia menepuk bahu Penguin seraya melemparkan tatapan penuh arti.

"Kalau kau bertemu dengannya, jangan sungkan-sungkan…"

"K-Kapten!"

Shachi tertawa melihat reaksi Penguin, Bepo yang sejak tadi celingukan mencari sesuatu—mungkin anjing laut kali?—akhirnya mengembalikan fokusnya. "Eh? Ada Bajak Laut Kid?"

Keempatnya melanjutkan perjalanan. Langkah-langkah kaki mereka menjejak di salju. Berjalan dari satu toko ke toko yang lain untuk membeli kebutuhan mereka. Beberapa tas jinjing sudah mereka tentengi, namun niat kembali ke kapal belum ada. Suasana musim dingin di pulau ini menyenangkan, lampu-lampu warna-warni bergantungan di tiap tempat menambah semarak. Anak-anak berlarian, bermain lempar bola salju, dan membuat boneka salju.

Tapi yang aneh, sejak tadi kok mereka belum bertemu dengan anggota Bajak Laut Kid? Satu saja tidak tampak. Rasanya mereka sudah lewat bar tadi, tidak ada keramaian disana. Apa jangan-jangan mereka tadi salah lihat?

"Kapten, aku lelah,"Penguin membuka suara, kedua tangannya yang dipenuhi tas jinjing menggantung tak berdaya di sisi tubuh. "Dari tadi kita muter-muter aja, apa yang sebenarnya kita cari?"

"Benar sekali Kapten, bukannya semua kebutuhan kita sudah terbeli?"Shachi mendukung Penguin, meletakkan tas jinjingnya ke tanah dan merenggangkan tubuh. "Suhu dingin ini membuat tenggorokanku kering."

Law merasa bersalah pada kedua anggotanya ini. Wajah mereka pucat karena lelah dan kedinginan. Sementara Bepo tampak tidak terusik, meskipun tangannya juga dipenuhi oleh tas jinjing—punya ketiga rekan wanitanya, bukan punya dia sendiri—dan dia menatap Penguin khawatir.

"Kalau begitu, kalian pergilah ke kapal duluan,"Law memberi perintah, memindahkan nodachinya ke pundaknya yang sebelah. "Aku masih harus mencari sesuatu."

"Apa itu, Kapten?"Bepo tampak antusias. "Aku mau ikut Kapten!"

Shachi dan Penguin yang segera sadar maksud Law hanya tersenyum, meski tidak rela Kaptennya masih mengitari pulau dan mereka malah leha-leha di kapal.

"Tidak perlu, kau kawal saja keduanya sampai kapal dengan selamat,"kata Law, membuat beruang kutub itu cemberut imut. "Aku tidak akan lama."

Shachi dan Penguin berpandangan, lalu menatap Law. "Kau yakin, Kapten?"tanya mereka, sorot mata mereka tampak jail.

Law mengangguk. Shachi meraih kembali tas jinjingnya dan menggandeng Bepo. "Kalau begitu, kami pergi!"

Diiringi rintihan tidak rela dari Bepo yang harus meninggalkan kaptennya sendirian, ketiganya berjalan kembali ke kapal. Setelah mereka bertiga tidak lagi tampak, Law menengadahkan kepalanya ke atas, membuat bulir salju turun di pipinya.

Setelah dua tarikan napas, Law berkata,"Keluarlah, Eustass-ya. Aku tahu kau mengintip kami dari tadi."

Sebagai balasan, terdengar kekehan dari arah belakang. Sosok besar Eustass Kid keluar dari sebuah gang sempit di antara dua toko, tersenyum pada Law. Sosoknya makin tampak menawan dengan salju yang turun di antara helai-helai merahnya dan di antara bulu-bulu di mantelnya. Law mengernyit, di saat cuaca seperti ini Kid masih berpakaian seperti biasanya. Ah, ya, benar juga, mantelnya itu kan bisa jadi sumber kehangatan.

"Selamat…malam, Trafalgar,"sapa Kid, berdiri seperti menara di depan Law. "Bagaimana kau bisa tahu aku ada disana?"

Law tidak menjawab, selain menunduk dan menghela napas lagi. Tentu saja dia bisa. Memangnya Kid pikir dia siapa?

"Hei, kalau aku tanya tuh dijawab, bukan dikacangi,"Kid menangkup pipi Law dengan tangan kanannya, mengusap pipinya yang dingin, lalu mencium pipinya lembut. Law luluh oleh perlakuan itu, rasanya dia ingin memeluk Kid dan merasakan kehangatannya, tapi gengsi. Mau ditaruh dimana harga dirinya kalau dia melakukan itu?

Merasa dirinya akan terus dikacangi, Kid pun beralih ke topik lain. "Hei, kau tau kan disini sedang musim dingin?"

Law mengangguk, masih enggan bicara.

"Kenapa kau bukannya pakai jaket atau mantel, malah pakai baju begini?"Kid meneliti Law dari atas ke bawah. Law memakai sepatu bot, celana jeansnya yang biasa, yang motifnya polkadot hitam, baju lengan panjang dengan kerah fluffy bergambar lambang Bajak Laut Hati, dan topi putihnya yang biasa. Tidak pakai sarung tangan, malah menggenggam pedang.

"Memangnya kenapa?"tanya Law balik, mengabaikan pertanyaan Kid, mendongakkan kepalanya menatap iris amber pemuda yang lebih muda tiga tahun darinya itu.

"Kau bisa jatuh sakit karena kedinginan, tahu."

"Ngaca dulu sebelum menasihati orang, Eustass-ya. Kau sendiri pakai baju seperti itu."

"Aku tidak akan bisa jatuh sakit hanya karena cuaca seperti ini."

"Sombong sekali. Kalau beneran sakit gimana?"

"Kan ada kau."

Law bungkam, merasa malu sekaligus tersanjung dengan jawaban Kid barusan. Raut wajah Kid terlihat sungguh-sungguh saat mengatakannya. Semburat merah mewarnai pipi wanita itu, wajahnya terasa menghangat. Dia pura-pura membetulkan topinya dan berdeham.

"M-Memangnya kau tidak punya dokter di kru-mu, apa? Aku 'kan dari bajak laut lain."

"Untuk apa dokter kalau Killer bisa melakukan segalanya? Lagipula, dia akan memaksaku minum ramuan aneh yang rasanya menjijikkan. Bukannya sembuh, malah makin sakit. Tapi kalau ada kau kan, aku tak butuh itu semua. Hanya bersamamu aku akan langsung sembuh."

DOUBLE KILL! Hati Law langsung doki-doki suru. Heh, apa-apaan Kid yang tiba-tiba membuat dia baper begini? Gak cocok sama mukanya! Gak cocok sama kepribadiannya! Gak cocok sama kelakuannya!

"A-apa, sih!"Law menurunkan topinya, menutupi wajahnya yang merah padam. "J-Jangan ngomong hal yang memalukan gitu!"

"Hah? Kenapa itu dibilang memalukan? Kan, aku jujur."

Untung saja Law ditahan oleh harga diri. Kalau tidak, dia pasti sudah menyatu dengan salju sekarang.

"S-sudahlah!"Law menghentakkan kaki, berjalan pergi meninggalkan Kid. Apapun itu yang penting debaran jantungnya kembali normal aja deh. Terus mukanya gak lagi terasa panas. Tapi, tapi…selain rasa malu luar biasa akibat perkataan Kid, kenapa ada rasa senang? Kayak ada kupu-kupu gitu berterbangan di perut.

Dan di wajahnya juga ada senyum lebar.

"Kau mau kemana?"Kid menyusul Law dan meraih tangannya. Menggenggam tangannya dengan lembut. Law terkejut oleh tindakan Kid. Aduh, mukanya malah makin tambah panas. Tapi, dia tidak melepaskan genggamannya, justru membalasnya dengan erat. Pura-pura acuh dengan perkataan Kid barusan.

Kid merasa lelah dikacangi terus dari tadi. Kok dari tadi kesannya dia sendiri yang bicara yah, kalaupun Law mau meresponnya pasti judes banget. Wanita memang sulit ditebak, pikirnya.

"Hei, kalau kau tak punya tujuan, bagaimana kalau kita ke hotel—Aw!"

"Jangan ngomong macam-macam,"Law memberikan tatapan menusuknya setelah menyodok pinggang Kid dengan gagang Kikoku-nya. "Aku mau ke suatu tempat."

Kid mengusap pinggangnya yang kena sodok pedang Law sambil meringis. Dalam hati menggerutu, bisa-bisanya wanita ini memperlakukannya seperti ini. Law berjalan duluan didepannya, sehingga Kid bisa mengikutinya sambil mengamati ayunan bokong sintal Law saat berjalan—

"Eustass-ya, kalau kau menatap bokongku seperti itu, aku akan mencabut matamu saat ini juga."

Kid keder juga, membayangkan kedua bola matanya digantung berdarah-darah keluar dari rongga matanya kedengarannya menyeramkan. Tapi, bukan berarti Kid takut akan ancaman Law. Jadi dia mensejajari langkah Law, berjalan di sampingnya menuju sebuah toko.

Mata Kid melebar saat membaca nama toko. Minimarket Pulau Musim Dingin.

(Tolong jangan tanya author kenapa bisa ada minimarket di canon OP).

Kid mengikuti Law yang berjalan masuk, lalu wanita itu menuju ke bagian barang-barang wanita. Dengan polosnya Kid mengikuti Law dan menatap bingung pada tumpukan kapas di kanan-kirinya. Kapas-kapas itu terlihat menarik dengan berbagai warna, bentuk, dan ukuran. Kemasannya pun tak kalah menarik. Dan berkat kemasannya, Kid jadi tahu kalau ada kapas yang bentuknya berbeda, fungsinya juga berbeda.

Contohnya ini—Kid mengambil sebuah kemasan kapas berwarna merah muda. Gambarnya menunjukkan kalau kapas itu dikemas menjadi sebuah bantal penampung(?) cairan dengan panjang 23 cm. Setiap kemasan berisi sekitar 20 buah bantal kapas. Kid membaca tulisan yang tertulis begitu jelas dan besar di kemasan: DAYA SERAP MAKSIMAL. Tak Basah, Tak tembus. Lapisan kering dan lembut, dengan sayap pelindung serta lingkaran proteksi ganda.

(Sumpah, author nggak niat promosi!)

Keren juga kapas ini, pikirnya. Punya sayap pelindung segala, dijamin tak bocor.

Tapi apa yang mesti dilindungi kapas ini?

"Trafalgar,"panggil Kid pada Law yang berdiri tak jauh darinya, sedang memperhatikan kapas-kapas berbentuk persegi. Kapas facial, begitulah yang tertulis di kemasannya. "Kapas yang ini buat melindungi apa? Tulisannya dijamin tak basah, tak tembus dengan sayap pelindung."

"?!"Law membatu mendengar pertanyaan Kid yang…ehm, polos menjurus ambigu itu. Sambil melambai-lambaikan benda di tangannya itu lagi. Tidak sadar dengan perubahan ekspresi Law, Kid justru mengambil kemasan yang lain, kali ini berwarna biru muda dengan gambar daun.

"Yang ini Ekstrak Daun Sirih, mengandung antiseptik yang menghambat pertumbuhan bakteri dan mengurangi bau. Hm, berarti ini buat luka…Killer pernah menceramahiku dengan nama-nama obat aneh itu. Katanya kalau terluka, bakteri akan masuk…Kalau aku belikan ini buat Killer, dia mau tidak ya?"

Law rasanya ingin meleleh dan menggelosor ke lapisan bumi yang terdalam saja mendengar ocehan Kid. Dan apa-apaan pertanyaannya tadi? Membelikan benda itu untuk temannya yang jelas-jelas seorang laki-laki?! Astaga, Law tidak tahu dia harus merasa apa, melihat seorang pemuda raksasa setinggi 205 cm di depannya ini sibuk berkomentar ini-itu tentang benda yang di tangannya itu.

Padahal, itu 'kan khusus buat perempuan:(

"Aku tidak tahu kalau kapas itu banyak bentuk dan macamnya."

"Eustass-ya,"Law harus segera menjelaskan pada pemuda satu ini tentang kesalahannya barusan. Kid menatapnya, di tangannya sudah ada tumpukan benda itu dengan beragam warna dan ukuran.

Nah, 'kan. Kalau Killer ada disini, pasti Kid sudah diceramahi habis-habisan. Law langsung panik.

"Hei, Trafalgar. Kurasa aku akan membeli banyak untuk persediaan. Karena seperti yang kau tahu, hari-hari kami diwarnai dengan pertempuran, pasti akan ada banyak yang terluka…Nah, katanya antiseptik bisa membunuh kuman, jadi pasti tidak akan…apa namanya? Infeksi? Ukuran yang ini besar, jadi untuk luka sayatan pedang bisa berguna. Nah, kalau luka kecil? Ah, yang ini bagus untuk yang kecil! Pantyliner—"

"Eustass-ya no baka!"jerit Law, dengan muka sewarna rambut pemuda itu. Dia merebut semua benda di tangan Kid dan menjejalkannya dengan paksa kembali ke rak. Bodo amatlah jadi berantakan dan tidak sesuai kategori. Prioritasnya saat ini adalah menjelaskan ke Kid bahwa benda yang dia anggap bagus untuk luka itu sebenarnya tidak diciptakan untuk hal itu!

"Loh, kenapa dibalikin?"

"Isi otakmu itu apa, sih!"Law menahan diri untuk tidak menyayat Kid saat ini juga. "Sekali lihat pun semua juga tahu kalau benda ini dibuat khusus untuk wanita!"

"Ha?"Kid melongo tidak paham.

"Ini dibuat khusus wanita! Paham?"Law menunjuk benda itu lagi. "Benda yang kau anggap bagus buat luka ini namanya pembalut! Fungsinya untuk menampung pendarahan supaya tidak bocor kemana-mana, makanya dia punya sayap pelindung!"

Kid malah memiringkan kepalanya. Masih nggak ngeh dengan ucapan Law barusan. "Oh, jadi itu buat pendarahan? Berarti benar 'kan, kataku, ini bagus untuk luka karena antiseptik mencegah bakteri masuk biar nggak…infeksi. Memangnya menurutmu yang bisa luka cuma para wanita saja?"

"Memang yang bisa luka bukan cuma para wanita, tapi benda ini, khusus dibuat untuk wanita! Mengerti?! Wanita mengalami pendarahan setiap bulannya, karena itu harus pakai benda ini!"

Law mau nangis aja rasanya, sementara Kid masih masang muka lempeng tanda tak paham. Law harus bagaimana biar dia ngerti? Masa dia nunjukin beneran 'pendarahan tiap bulan' yang dia maksud? Sementara mereka masih sibuk berdebat, pengunjung minimarket lain tak ada yang masuk ke gang kapas itu, takut mengganggu dua sejoli yang sibuk membicarakan topik yang sungguh ambigu. Yang pria punya tangan logam, seram juga kalau kena tonjok dengan tangan logamnya itu. Yang wanita lebih seram lagi, bawa-bawa pedang panjang!

Bermenit-menit dalam keheningan, dengan Law yang masih menerka-nerka apakah Kid paham penjelasannya atau tidak, dan Kid yang masih memproses semua perkataan Law. Kalau Kid masih tak paham juga, sepertinya Law harus mengakhiri kencan mereka sampai disini saja.

Memangnya sejak awal itu bisa dibilang kencan?

"Jadi,"Law dikejutkan dengan Kid yang tiba-tiba bersuara, memasang pose berpikir dengan memainkan rambut merahnya yang menjuntai, mirip tokoh di anime sebelah. Law harap-harap cemas Kid paham. "….Kalian para kaum wanita selalu pendarahan setiap bulan?"

Law mengangguk.

"…Begitu. Kenapa? Memangnya kalian melawan siapa?"

Ya Tuhan. Izinkan Law headbang di tempat biar amnesia, biar bisa tidak pernah kenalan sama nih orang yang kepalanya kayaknya tak ada isinya.

"Ehm,"Law berdeham. "Eustass-ya pernah belajar Biologi?"

"Biologi? Apaan, tuh?"

Jangan-jangan isi kepalanya cuma makan, bertempur, membunuh, tidur. Beginikah isi kepala para laki-laki? Kenapa pula pengikut orang ini lumayan banyak, ya? Jangan-jangan para pengikutnya pun sama bodohnya kayak Kaptennya.

Tapi, Killer-ya tidak begitu. Dia jauh lebih pintar dibanding Kaptennya ini.

"Eustass-ya, daripada belibet sini aku jelasin, deh,"Lama-lama Law gedheg juga sama Kid yang susah pahamnya. Dan dimulailah penjelasan itu. Sel telur yang tidak dibuahi akan menyebabkan dinding rahim meluruh, dan menyebabkan pendarahan.

(Silakan bayangin sendiri ya. Authornya nggak tau gimana mau jelasinnya =V)

"Jadi setiap perempuan menghasilkan telur?"

"Iya."

"Bisa dimakan?"

Law menabok Kid pakai Kikoku, lalu mengancam akan memotong kepalanya.

Ada juga orang kaya gini. Law terheran-heran.


Law tak jadi beli kapas facial karena adegan berantem ambigu tentang pembalut masih terngiang-ngiang di pikirannya. Yah sudahlah, kapan-kapan bisa dibeli. Jadinya dia beli beberapa cemilan—ditraktir Kid sebagai permintaan maaf—dan pemuda itu sendiri ikut membeli beberapa bir.

Di meja kasir, si mbak kasir mulai kedip-kedip manja ke arah Kid. Yang dikedipin tidak sadar sama sekali, malah sibuk lirik-lirik ke kotak 'Fiesta' di sebelah meja kasir.

"Permisi, tolong percepat transaksinya,"Law mulai jengah akan tindakan si kasir. Memangnya dia tak sadar kalau si kasir genit ini sok-sokan tawar-tawaran apa saja ke Kid? Diskon cemilan, minuman, es krim, pulsa, bahkan top up yang tidak bisa dimengerti bagaimana bisa ada di canon. Bahkan ketika dia menyadari Kid sedang memperhatikan kotak warna-warni Fiesta, dia berani berujar ambigu:

"Mau dipakai malam ini, Tuan? Sama aku saja, bagaimana?"

Hati Law langsung panas. Kid tersadar dari acara perhatikan kotak warna-warni itu. Dia melirik Law, lalu melirik ke si kasir yang masih saja kedip-kedip genit. Dia mengernyit. "Apa kau sedang sakit mata?"

Law hampir saja menyembur tawanya, si kasir menunduk malu. Kid masih menatap si kasir bingung. Si kasir buru-buru menyelesaikan transaksi mereka dan menyebutkan nominal pembayaran.

Kid menyodorkan beberapa lembar uang, si kasir dengan cepat memberikan kembalian. Law masih bisa melihat dengan jelas bagaimana si kasir berusaha menyentuh jari Kid, tapi untunglah Kid lebih cepat. Kemudian dia merangkulkan tangannya ke bahu Law dan membawanya keluar minimarket.

"Oh iya, hampir lupa,"Kid berujar dari pintu minimarket. Matanya menatap tajam si kasir yang menatap balik dengan kaget. "Aku hanya mau memakai benda itu bersama wanita ini."

Si kasir langsung menunduk, sementara wajah Law sudah merah padam menyaingi warna rambutnya Kid.

"Eustass-ya, tolong deh, jangan bikin malu gitu,"kata Law, tidak berani—tidak bisa—mendongakkan kepala untuk menatap Kid.

"Bikin malu gimana? Itu jujur, lho."

Terserahlah. Meski Law bertanya-tanya bagaimana Kid bisa mengatakan semua hal itu tanpa merasa malu, sejujurnya Law merasa senang juga. Akhirnya kekesalannya pada si kasir terbalaskan!

Dan disinilah mereka, di jalan yang sepi menuju pelabuhan. Salju yang turun lebih deras dibanding sebelumnya. Segala keramaian yang tadi dilihatnya sudah tak ada, toko-toko tutup dan lampu-lampu dimatikan. Kid berjalan di sampingnya, terlihat tenang dan tak terusik dengan derasnya salju. Sementara Law mulai kedinginan, udara dingin menembus bajunya dan membuat tubuhnya nyaris menggigil. Tangannya yang menggenggam Kikoku mulai mati rasa.

Kid menyadari Law mulai bergerak-gerak gelisah di sampingnya. "Kau kenapa?"

"Tidak,"Law menggeleng, berusaha mengelak kalau dia sebenarnya kedinginan. "Aku tidak apa-apa."

"Dari tadi gerak-gerak gitu. Kedinginan?"

Kid langsung menembak tepat sasaran. Tapi Law masih gengsi mengakuinya. "Tidak, kok."

Jawabnya begitu, tapi Law berharap sekali Kid memeluknya saat itu juga demi mengusir dingin—setidaknya menggenggam tangannya saja.

"Tidak? Ya sudah. Jarak dari sini ke pelabuhan masih lumayan jauh. Kuat?"

"Tentu saja aku kuat. Malah jangan-jangan nanti malah kau yang kedinginan dan malah jatuh lemas, Eustass-ya."

"Kita lihat saja nanti."

Kid mulai berjalan beberapa langkah di depannya. Law ingin mengejar, tapi suhu dingin yang makin menusuk ini membuat kakinya gemetaran hebat, dia sampai harus menjadikan pedangnya sebagai semacam tongkat penyangga. Tangannya juga ikutan menggigil. Law menggertakkan gigi, berusaha bertahan dan bertahan…

"Sudah kuduga kau kedinginan. Tinggal jujur apa susahnya, sih?"Tahu-tahu Kid sudah berdiri kembali di depannya, menatapnya yang masih diam di tempat dengan bertumpu pada pedang. Akhirnya Law mendongak, pipi dan bibirnya pucat karena dingin. Matanya menatap Kid sayu. Sedetik kemudian, kedua tangan Law yang masih memegang pedang digenggam erat oleh tangan Kid. Kehangatan pemuda itu langsung menyebar ke tubuhnya, membuatnya merasa sedikit nyaman.

"Kau baik-baik saja?"tanya Kid khawatir. Ekspresinya membuat Law ingin tertawa, namun kali ini sepertinya akan susah.

"Kurasa begitu,"jawab Law sekenanya. Kid akhirnya memeluknya, cukup erat sampai membuat Law kesulitan bernapas. Namun, rasa hangatnya membuat Law merasa jauh lebih baik. Yang bisa dia lakukan kali ini adalah membalas pelukan Kid, merasakan kehangatannya.

"Kau tahu, tubuhmu dingin sekali, Trafalgar,"Kid menyentuh pipinya. Law bertanya-tanya bagaimana tubuh Kid bisa sehangat itu di tengah hujan salju seperti ini. Sentuhan itu berlanjut hingga ke bibir. Law diam saja menikmati sentuhan itu. Akhirnya Kid mengangkat sedikit topinya dan mengecup bibirnya.

Law—meski dengan gengsi yang terlampau tinggi—membalas ciumannya, hitung-hitung biar tak kedinginan lagi dan melepas rindu. Akhirnya setelah sekian lama berpisah melalang buana di New World, mereka bisa bertemu meski secara tak sengaja, di tengah musim dingin seperti ini.

"Eustass…ya…"Law berusaha menarik diri. "Cukup…aku…tak bisa bernapas….haah…"

Kid menarik diri dengan tidak rela, Law terengah-engah menarik napas.

"Ingat, dong, ini di tengah jalan!"

"Setidaknya itu membuatmu jauh lebih hangat, 'kan?"tanyanya disertai cengiran.

"Ya, tapi itu membuatku lemas. Kau harus menggendongku sampai ke kapal, Eustass-ya,"jawab Law sambil merentangkan kedua tangannya. Kid menggelengkan kepalanya, tidak menolak, dan merengkuh Law ke pelukannya dan mengangkatnya. Law langsung memeluk leher Kid, membenamkan wajahnya di bahu Kid, merasakan kehangatannya lebih jauh lagi. Kid langsung melanjutkan langkah.

"Aku jadi berpikir tentang penjelasanmu di minimarket tadi,"kata Kid tiba-tiba. Law bergumam sebagai tanda dia mendengarkan. "Kalau sel telur tidak dibuahi, terjadi pendarahan. Kalau dibuahi, jadi bayi?"

Law lagi-lagi mengangguk.

"Itu memberiku ide. Sini, biar kubuahi sel telurmu supaya kau tidak pendarahan lagi."

Menyadari maksud perkataan Kid, wajah Law berubah merah padam. Dia memukul bahu Kid sampai pemuda itu terkekeh. "Jangan bicara macam-macam!"

"Kenapa tidak? Lagipula, kru kita juga akan bermalam di pulau ini, bukan? Ayo kita cari hotel,"Dan saat itu Law langsung panik karena Kid memutar tubuhnya dan mulai berjalan ke arah mereka pergi tadi.

"Tidak, tidak, Eustass-ya kono hentai! Mau kemana? Putar balik! Kalau sel telurku dibuahi olehmu, aku akan hamil anakmu!"

"Itu malah lebih bagus lagi, 'kan? Kira-kira nanti nama anak kita siapa, ya? Ah, sebentar, memangnya anak kita laki-laki atau perempuan…"

"Eustass-ya,"Law menarik napas. Berusaha mengendalikan diri. "Kau mau punya anak denganku?"

Kid mengangguk.

"Lalu, bagaimana dengan pengasuhannya nanti? Ingat, Eustass-ya, kita sama-sama seorang kapten bajak laut. Kita hidup di dunia yang berbahaya dan dipenuhi musuh. Bagaimana jika salah satu dari kita terluka? Atau malah anak kita? Sudah begitu kita jarang bertemu pula, pertemuan ini pun merupakan kebetulan."

Kid bungkam mendengar perkataan Law. Tidak terpikirkan olehnya hal itu. Law pun ikut diam setelah menjelaskan hal itu. Sesungguhnya itu kedengaran menyenangkan—seorang, mungkin dua, atau tiga, entahlah—bocah yang merupakan duplikat sempurna dari Kid. Atau mungkin campuran keduanya, dengan rambut merah terang dan mata kelabu yang indah. Mungkin menyenangkan kalau kapal selamnya itu diwarnai tangisan anak, bukan teriakan antar kru.

Tapi sekali lagi, pengasuhannya akan sangat sulit. Baik dirinya dan Kid memiliki harga buronan yang cukup tinggi, sehingga menjadi incaran sempurna untuk musuh seperti Angkatan Laut atau bounty hunter. Bisa-bisa mereka malah menculik anaknya dan dijadikan sandera.

"Hei, jangan terlalu dipikirkan,"Law mengusap pipi Kid dan menciumnya sekilas. "Kita masih muda, lagipula. Kita bisa memikirkan hal itu lain kali."

"Muda?"Kid terkikik. "Kau bahkan sudah 26 tahun, Trafalgar—aw!"

Law menarik pipi Kid seraya cemberut, tidak suka diingatkan tentang umurnya. Kid langsung membuat catatan mental dalam hati, jangan ungkit umur di depan Law—dan para wanita.

"Maaf. Tapi, kau ada benarnya. Kita jarang bertemu, dan aku malah menginginkan anak denganmu."

"Ya, lain kali coba kau gunakan kepalamu untuk berpikir dulu ya, Eustass-ya? Siapa tahu anak kita nanti bisa lebih pintar dari ayahnya."

"Hei!"

Law tertawa. Kemudian, dia memeluk Kid lebih erat. "Satu hal lagi. Kalau kau mau punya anak denganku, ingatkah kau akan satu hal?"

Kid terdiam ragu. Kemudian dia menggeleng pelan. "Emm…tidak?"

"Nah, 'kan. Sekarang aku bisa menebak apa isi kepala seorang pria—wanita, harta, seks, dan kesenangan. Sesuatu ini sangat penting, Eustass-ya. Sangat penting dalam hubungan kita."

"Trafalgar, kau tahu aku kurang pandai—bahkan bisa dibilang bodoh—jadi bisakah kau berhenti main tebak-tebakan dan langsung ke intinya saja?"

"Agar kau menggunakan otakmu itu, Eustass-ya!"Law cemberut. "Capek aku dari tadi aku terus yang mikir, kau asal bicara saja."

"Aku sedang tak bisa berpikir saat ini, oke? Saat ini yang kupikirkan hanyalah aku ingin cepat-cepat sampai di kapal, dan tidur. Ah, maukah kau tidur denganku malam ini, Trafalgar? Aku janji tidak akan berbuat apapun padamu. Hanya tidur."

"Hanya itukah? Seperti itu isi pikiranmu saat ini?"Law mulai kesal, turun dari gendongan Kid. "Turunkan aku, Eustass-ya. Jangan bicara padaku hingga kau mengerti apa maksudku."

"Kalau aku tidak ingin menurunkanmu, bagaimana? Kau akan tetap bicara padaku?"

Law menggertakkan gigi dan menurunkan diri dengan paksa. Kid akhirnya mengalah. Law mulai berjalan cepat di depannya, meninggalkannya, namun Kid berhasil menjaga jaraknya cukup dekat dengan wanita itu. "Trafalgar, aku serius. Aku mengakui aku bodoh. Aku hanya bisa mengatakan apa yang ada di pikiranku saat ini. Dan aku tidak diberkahi kemampuan membaca pikiran, jadi katakan saja apa isi pikiranmu saat ini, ya? Kumohon."

Law berhenti, tapi masih enggan berbalik untuk menghadap Kid.

"Kekuatan buah iblisku adalah memanipulasi magnet, bukan membaca pikiran."

"Ini bukan soal kekuatan buah iblis, Eustass-ya. Orang yang tidak makan buah iblis pun pasti bisa paham."

"Baiklah, ternyata aku terlampau bodoh. Aku masih tidak paham apa maksudmu."

Law menggigit bibir. Susah juga ya punya relasi dengan orang semacam ini. Tidak pekanya keterlaluan kadarnya, kalau bicara pun asal njeplak saja. Kadang-kadang dirinya bertanya-tanya, kok bisa dirinya ada hati sama dia?

Sudahlah, kalau dia kekeuh nunggu Kid nemu jawabannya, bisa-bisa dia sudah jadi Ratu Bajak Laut. Akhirnya, dia pun mengalah.

"Eustass-ya, biasanya bayi hanya dimiliki oleh sepasang suami istri, 'kan?"

"Err…iya."

"Nanti suami-istri itu akan jadi Ayah dan Ibu. Nah, kalau mau jadi suami-istri, kita harus ngapain dulu?"

"Menikah, mengucapkan janji suci."

"Benar sekali. Jadi, memangnya kita tidak menikah dulu?"

"Kita? Menikah?"Kid membeo. "Maksudmu?"

"Ya, kita jadi pasangan suami istri,"Law benar-benar ingin menangis malu karena dari tadi dia yang harus menjelaskan semuanya. "Aku tidak mau hamil di luar nikah. Kasihan anaknya nanti, tidak jelas jadi tanggungan siapa."

"Oh, begitu. Nah, kalau dijelaskan begini 'kan aku langsung paham,"Kid merogoh saku celananya. Law menghela napas. Agak susah juga karena di udara dingin begini, rasanya tenggorokan dan rongga hidungnya kering.

"Kalau dengan begini, apa kau mau menjadi istriku dan menjadi Ibu dari anak-anak kita nanti?"

Law menganga tak percaya pada kotak yang kid keluarkan dari saku celananya. Sebuah kotak beludru kecil warna merah marun, dengan sebuah cincin polos di dalamnya. Bukan cincin berlian atau emas, tapi itu semua tak penting. Law masih kaget dirinya dilamar tiba-tiba seperti ini, tidak romantis pula. Dia habis marah-marah, lho! Baiklah, ada unsur romantisnya sedikit, dengan hujan salju yang mereda di sekeliling mereka.

"Eustass-ya…?"

"Law,"Kid memanggil namanya, nama kecilnya. Mata Law langsung membasah. Dia mendongak dan memandang Kid, melihat ekspresi serius di wajahnya. Dia tidak main-main. "Maukah kau menikah denganku, dan menjadi ibu dari anak-anak kita nanti?"

Air mata Law sempurna menetes—antara malu, bahagia, dan aneh karena dilamar habis marah-marah dan menahan segala tingkah menjengkelkan Kid—dan membuat Kid luar biasa panik.

"Kok malah nangis? Aku salah ngomong, ya?"Kid bingung dengan perubahan Law yang tiba-tiba.

"Eustass-ya no baka! Dasar tidak romantis!"kata Law seraya mengusap pipinya. "Ngelamar aku habis aku marah-marah, coba!"

"Ya, biar kau tak marah-marah lagi. Nanti cepat tua, lho,"ledek Kid, mengusap air mata di pipi Law. "Sebenarnya aku selalu membawa itu kemana-mana agar saat bertemu denganmu, aku bisa langsung memasangkan cincin itu ke jarimu."

"Meskipun dengan cara kurang romantis seperti ini?"

"Mana aku peduli ini romantis apa tidak, Trafalgar. Yang penting kau menerima lamaranku."

"Gara-gara tidak romantis ini, aku jadi tidak ingin menerima lamaranmu."

"Apa?!"Kid berseru kaget.

"Baiklah, aku bercanda. Anggap saja kita impas karena kau juga mengejutkanku dengan melamarku tiba-tiba. Aku menerima lamaranmu, Eustass-ya, tapi…"

Senyum lebar di wajah Kid terganti oleh ekspresi kebingungan. "Tapi apa?"

"Kita ini sama-sama kapten bajak laut, Eustass-ya. Kita punya kru dan petualangan masing-masing."

"Ah…."Kid langsung muram. "Kalau begitu, kau berhenti jadi Kapten bajak laut saja dan ikut bersamaku."

"Tidak mau. Aku juga punya tujuan,"Law geleng-geleng. Dia berjalan mendekati Kid dan memegang pipinya. "Aku simpan saja cincinmu, oke? Lamar aku kembali ketika tujuan kita masing-masing sudah tercapai."

"Tapi itu masih lama. Aku menginginkanmu sekarang."

"Tidak bisa. Segera setelah musim dingin ini berakhir, kau dan aku harus berpisah."

"Aargh, ini menyebalkan! Memangnya apa tujuanmu?"

"Rahasia. Kau juga punya tujuan, bukan? Capailah tujuanmu dulu, tujuan yang ingin kau raih bersama rekan-rekanmu. Aku tidak akan kemana-mana, kecuali kalau keadaan yang memaksa…"

"Keadaan yang memaksa? Seperti apa?"

"Mungkin saja aku mati atau terluka. Siapa tahu, 'kan?"

"Itulah alasan aku ingin memilikimu sekarang, Law. Kalau nanti, siapa yang tau masa depan, seperti kata-katamu?"

"Siapa tahu di masa depan kau malah jatuh hati pada wanita lain juga."

"Tidak mungkin dan tidak akan pernah terjadi. Aku hanya memberikan hatiku padamu."

Law mau nangis lagi, hatinya tak kuat mendengar semua perkataan Kid. Separuh hati ingin menerima lamaran Kid dan berada di sisinya selalu, tapi separuh hatinya menolak, ingin mencapai tujuannya lebih dulu. Ekspresi di wajah Kid pun begitu mengharap Law menjadi miliknya sekarang juga.

Kid kemudian memeluknya kembali. Begitu erat dan hangat. Rasanya semua perasaan aneh yang mengganggu Law langsung terangkat sepenuhnya, luruh ke salju di sekeliling mereka.

"Kau sendiri yang bilang, masa depan tidak ada yang tahu. Benar, bisa jadi kau atau aku mati terlebih dulu, bukan? Kalau misalnya aku mati duluan saat kita berpisah jauh-jauhan begini, bagaimana?"

"….Entahlah. Yang pasti aku sangat berduka, Eustass-ya. Kenapa kau jadi berpikiran begini?"

"Kau sendiri yang bilang, kalau aku harus menggunakan kepalaku untuk berpikir."

"Ah, benar juga."

"Seandainya kau yang mati duluan, aku pasti akan sangat terpuruk."

"Karena apapun bisa terjadi di sini, di lautan yang kejam ini. Kita pun sama-sama orang yang berbahaya, bukan? Banyak musuh yang mengincar kita. Kita juga punya rekan yang harus kita lindungi dan tujuan yang harus dicapai. Jujur saja aku ingin sekali menerima itu, tapi…aku tidak bisa."

"…."

"Tapi aku suka cincinmu itu, Eustass-ya. Kau membuatnya sendiri?"

"…Erm, ya. Maaf karena tidak bisa memberimu cincin berlian atau emas."

"Apa sih, Eustass-ya? Aku tak butuh kemewahan itu. Mengetahui kau cukup romantis dengan melamarku tiba-tiba setelah aku panjang-lebar menjelaskan ini-itu padamu sudah membuatku senang, tahu."

"Baguslah, berarti ternyata aku romantis, bukan?"

"Lumayan, karena ada salju-salju ini. Tapi tidak bisa disalahkan juga, wajahmu tidak cocok untuk hal romantis seperti ini."

":("

"Bercanda, Sayang,"Law berjinjit dan mengecup pipi Kid, kemudian menangkup kedua pipinya. "Sehat-sehat, ya? Jangan kenapa-napa, lho. Kau punya janji padaku—lamar aku kembali. Apapun yang terjadi."

"Baiklah."

"Oh ya, saat melamarku lagi nanti, kau harus persiapkan kepala untuk berpikir matang-matang, juga harus lebih romantis dari yang tadi."

"Tidak janji, ya? Aku tidak paham makna romantis itu apa."

Law geleng-geleng. "Makanya pakai kepalamu untuk berpikir, oke? Kau tidak boleh minta bantuan Killer-ya untuk hal ini."

"Erh…baiklah. Akan kucoba."

"Sekarang, ayo kita kembali ke kapal. Kru kita sudah menunggu. Dan Eustass-ya, kau masih punya kewajiban lain, bawa aku sampai ke kapal."

"Tapi tadi kau yang memaksa turun padahal aku tak mau."

"Itu kan karena kau bebal sekali! Aku jadi capek mikir terus!"

Berdebat tidak akan ada gunanya, itu yang Kid pikirkan. Law menunggu sambil merentangkan tangannya. Kid akhirnya mengalah (lagi), dan mengangkat Law.

"Begini lebih baik,"demikian kata Law sambil membenamkan wajahnya di bahu Kid.

"Kalau kita bersama-sama kan enak kalau kau mau minta gendong-gendong begini."

"Makanya sebelum kita pisah lagi, kau harus menggendongku lebih lama dari ini."

"Jadi, kau mau tidur denganku malam ini?"

"Yah, kita lihat saja nanti."


Tanpa mereka berdua sadari, ada yang mengintip—menonton mereka dari awal mereka keluar dari minimarket. Saat Law marah-marah, saat Kid tiba-tiba melamar Law, dan saat keduanya berbaikan. Itu semua merupakan hiburan yang menarik, seperti drama telenovela saja.

Siapa lagi kalau bukan kru mereka masing-masing?

Shachi dan Penguin fangirlingan menyaksikan scene romantis Kaptennya dengan Kapten bajak laut sebelah, Bepo malah terheran-heran tidak mengerti. Killer tersenyum sambil mengusap sudut mata, Kaptennya sudah berubah menjadi dewasa. Meski dia mati-matian menahan tawa saat Kid mengakui dirinya memang bodoh di depan Law. Lucu sekali melihat Kid menjadi seperti itu di depan wanitanya. Kedua anggota Bajak Laut Kid yang lain—Heat dan Wire—juga ikut-ikutan tersenyum.

Dalam hati bertanya, kapan ya mereka begitu juga?

Dan scene yang membuat mereka sama-sama terharu, saat sang Kapten Bajak Laut Kid dan Bajak Laut Hati itu sama-sama menangguhkan sesi lamaran itu karena mereka punya tujuan masing-masing. Awalnya Kid memang keberatan, tapi setelah dijelaskan panjang-lebar oleh Law, akhirnya dia menerima juga. Dengan janji harus melamar Law lebih romantis lagi nanti, tidak boleh dibantu Killer.

"Aku belum pernah melihat sesuatu yang lebih romantis dibanding ini,"kata Penguin sambil mengusap sudut matanya dengan saputangan yang diberikan Killer. "Aku tidak menyangka Kapten kita yang dingin dan tegas itu bisa berbuat seperti ini…."

"Jangan menangis, Penguin! Berarti Kapten kita sudah dewasa!"

"Tapi, Kapten memang sudah dewasa."

"Sst, jangan berisik! Nanti kalau mereka berdua dengar, kita bisa habis dikuliti!"

Meski mereka sudah saling beradu argumen pun, kedua sejoli di depan sana yang sibuk bucin sama sekali tidak sadar dengan mereka.

Benarlah perkataan itu: Dengan cinta, dunia cuma milik berdua.


Extra:

"Tidur aja loh ya. Jangan macam-macam. Ingat, aku tidak mau hamil di luar nikah."

"Iya, iya. Percaya sama aku."

"Ngomong begitu tapi tangannya merayap kemana-mana. Aku potong tanganmu mau?"

"Eh, jangan. Nanti aku tak bisa memelukmu. Aku butuh kehangatan di malam-malam dingin begini."

"Ya, karena itu tangannya jangan bandel."

"Maaf."

"…."

"…"

"Kepikiran lagi, nih. Nanti kalau kita punya anak, aku mau punya anak kembar 6."

"Ngomong macam-macam apa lagi kali ini, Eustass-ya?"

"Lucu, 'kan? 3 anak laki-laki, 3 anak perempuan, semuanya sebaya. Yang laki-laki mirip aku, yang permpuan mirip kau."

"Mirip mukamu saja, ya. Bodohnya jangan."

"Iyaa. Aku tau kok aku bodoh, jadi nanti kusuruh mereka belajar rajin-rajin. Siapa tau mereka bakaljadi dokter juga kayak Ibunya."

"Ide yang bagus. Tapi, Eustass-ya, aku tak mau punya anak kembar 6."

"Eh, kenapa?"

"Mau sebesar apa perutku nanti? Terus juga, kau pikir melahirkan itu gampang? Ibu-ibu yang melahirkan 1 anak saja sudah keder, gimana mau melahirkan 6 anak? Aku ini manusia, bukan kucing."

"Emm…operasi?"

"Aku kan tidak bisa mengoperasi diriku sendiri. Setelah melahirkan pun tubuhku pasti melar seperti Mugiwara-ya. Bergelambir dan tidak sedap dipandang."

"Issh, jangan sebut-sebut nama orang lain pas kita hanya berdua gini."

"Kau cemburu?"

"Tentu saja. Kalian beraliansi berdua tanpa aku. Sudah begitu dia sibuk menempel terus padamu, lagi."

"Jangan cemburu, Eustass-ya. Kalau aku aliansinya sama dia tapi hati aku ada padamu, bagaimana?"

"Bagus sekali. Sekarang kau membuatku bangun, Law. Tanggung jawab."

"Urus saja dirimu sendiri, Kid. Sudah kubilang aku tak mau hamil di luar nikah."

"Mendengarmu memanggil nama kecilku membuatku semakin bangun loh."

"Kid. Diam, aku mau tidur—eeh?"

"Kau lihat kan aku melihat-lihat kotak Fiesta tadi? Aku beli beberapa, loh."

"Tung—Eustass Kid, berhenti!"

"Tidak mau!"


AKHIRNYA SELESAI HOREEE!

This is the first time I've made a KidLaw fanfic, even though it turned out to be KidfemLaw, but it's okay. Aku sudah berkomitmen soalnya:)

Aku akhirnya ngasup di OTP kesayangan yuhuu 3

Mind to RnR, minna? *wink*