"Yaaah, kok hujan?!"
Dazai mengerang kesal kala rintik-rintik air tiba-tiba berjatuhan dari kubah langit yang warnanya kelabu. Beberapa ubi manis yang sudah terbalut kertas aluminium masih ada di tangan, namun batal dibakar gara-gara hujan turun.
"Hujannya deras, ya?" Oda tertawa canggung. Ia juga membawa beberapa ubi manis dalam tangannya, sayang sekali sepertinya tidak akan bisa dibakar dalam waktu dekat.
Ango dan Dan yang bersama mereka hanya memerhatikan hujan tanpa berkomentar apa-apa. Korek api yang sebelumnya ada dalam genggaman tangan Dan dimasukan lagi ke dalam saku sang pemilik.
Sayang sekali hujan turun deras hari ini. Bakar-bakar ubi di taman belakang perpustakaan pasti terpaksa dibatalkan, karena selain tidak ada yang tahu kapan hujan akan berhenti, daun-daun kering yang mereka kumpulkan sebelumnya pasti tidak akan bisa digunakan karena basah kuyup.
Dazai meraung sebal. "Aku mau bakar ubi!" serunya.
"Hujan, Dazai." Ango membalas sambil menaikan letak kacamatanya yang sempat menurun.
"Besok aja, gimana?" Oda tersenyum kecut. Niatnya masuk lagi ke dalam berhubung ubi-ubi di tangannya ini berat juga, namun tidak jadi gara-gara teman-teman satu fraksinya tidak ada yang beranjak juga.
Dazai menggeleng keras. "Gak mau! Maunya sekarang!"
"Umurmu berapa, sih ..."
Ango geleng-geleng kepala, Oda menghela napas. Kumat sifat kekanakannya Dazai, kalau sudah begini repot juga.
Dan melirik langit. Awannya masih gelap meski tak sepekat malam, dan tidak ada petir sejauh ia mendengarnya. Pemuda itu menoleh pada Dazai yang masih merengek pada Oda dan Ango.
"Dazai," panggilnya.
Yang merasa punya nama menoleh. "Dan, aku mau bakar u-"
"Mau hujan-hujanan, nggak?"
"Eh?"
Bukan hanya Dazai yang terkejut—Oda dan Ango juga. Yang barusan melontarkan menunjuk taman dengan dagunya. "Kita hujan-hujanan saja. Bakar ubinya besok lagi kalau cuacanya bagus."
"Etto, Dan-kun ..."
"Mau! Aku mau!" Ubi-ubi dalam tangan langsung diletakan di sudut teras. Dazai dengan wajah ceria langsung menerobos hujan di depan sana seolah ia masih anak-anak.
Dan menyusulnya. "Dazai, tunggu!"
Keduanya bermain-main menikmati rintikan hujan yang makin deras. Ango dan Oda yang masih berdiri di teras saling lirik.
"Nanti kalo mereka sakit gimana?" Oda meringis.
Ango terkekeh. "Biarin aja, deh," jawabnya.
"Ya ampun ..."
.
.
.
Hujan
[#bunalember2020 day 20: Rain]
Bungou to Alchemist belong to DMM Games
Thank you for reading!
.
.
.
Pengen hujan-hujanan juga (iya di sini lagi hujan), tapi Senin udah semesteran ;v;)
