Noblesse : Road to Family

Naruto x Noblesse

Genre: Family – Comedy

Naruto © Masashi Kisimoto

Noblesse © Jeho Son/ Kwangsu Lee

xxx

Sasuke tidak pernah mengira kalau dia akan berakhir seperti ini. Terlempar ke alam semesta lain ketika bertarung melawan Kaguya, tubuhnya kembali ke usia anak-anak, tinggal di panti asuhan dan kini menjalani kehidupan sekolah secara normal.

Perang shinobi terasa seperti mimpi buruk bagi anak-anak ketika dia membuka mata di dunia ini. Terbangun di tubuh anak-anak membuat dirinya linglung, awalnya dia hanya ingat nama sebelum ingatan tentang kehidupannya menyusul secara perlahan. Terdampar di dimensi lain, alam semesta lain, dunia lain atau apapun entah sebutannya awalnya membuat Sasuke syok terlebih dengan semua tatanan dunia yang sangat berbeda dengan miliknya. Dia tidak paham bahasa, budaya dan hampir tidak mengerti apa-apa.

Ditemukan sebagai anak hilang ditengah hutan di sebuah negara bernama Korea Selatan membuatnya dimasukkan sebagai daftar anak hilang oleh pemerintah setempat. Selama beberapa bulan kepolisian mengumumkannya sebagai anak hilang sebelum penyelidikan tidak menemukan titik terang tentang latar belakangnya. Satu kali dia didatangi oleh beberapa orang yang ajaibnya memiliki bahasa yang sama dengannya, mereka menyebutkan dia berasal dari Jepang. Bermain peran sebagai anak kecil amnesia dan polos memang bukan keahliannya tapi aktingnya sudah cukup untuk mengelabuhi orang-orang ini. Sasuke tidak ingin dianggap gila bila menceritakan hal sebenarnya.

Sasuke kemudian diidentifikasi sebagai anak hilang dari Jepang yang ditemukan di Korea Selatan. Sesuai dugaannya mereka tidak menemukan apapun tentang keluarga Uchiha di Jepang. Lebih aneh lagi pemerintah juga tidak menemukan arsip apapun tentang anak bernama Sasuke Uchiha di Jepang. Karena tidak tercatat dalam arsip manapun akhirnya Sasuke harus tinggal di panti asuhan di Korea. Para orang dewasa yakin pasti suatu mereka akan menemukan titik terang tentang latar belakang Sasuke.

Sang Uchiha terakhir tidak tahu jelas tampilan fisiknya sebagai anak-anak, yang jelas tanpa terasa kehidupannya berjalan cukup normal selama enam tahun. Dia belajar bahasa negara yang dia tempati cukup cepat dan menjadi fasih setelah tiga tahun. Awalnya sekolah menjadi beban berat lain karena seumur hidupnya dia tidak mempunyai pendidikan formal. Mulanya Sasuke juga mengira sekolah adalah tempat yang mirip dengan akademi tapi ternyata dia salah, sekolah adalah zona perang lain.

Ketidaktahuannya tentang matematika, bahasa, sains, sejarah dan pelajaran yang sesuai umur di dunia baru membuat frustasi bahkan untuk pendidikan dasar. Hal itu menjadi keprihatinan pengasuh panti pada tahun pertama kedatangannya. Untunglah Sasuke adalah orang jenius, dia segera berhasil masuk sekolah di kelas 5 setelah mendapat pelajaran khusus di panti. Kehidupannya sebagai salah satu shinobi terkuat sejenak dia tinggalkan untuk menikmati kedamaian di dunia yang dia tempati sekarang. Sasuke tidak terkejut ketika mengetahui dunia ini juga memiliki sejarah peperangan, dia menyadari walau dikehidupan manapun konflik pasti akan selalu terjadi.

"Sasuke, kamu dihampiri Shinwu! Tinggalkan cucian piring itu anak muda, kau harus berangkat sekolah!" Bibi Nim sedikit memberi penekanan pada Sasuke untuk meninggalkan cucian piring di dapur. Sebagai salah satu yang tertua dia tidak begitu keberatan untuk membantu pengurus panti.

"Biarkan saja, aku sudah bilang tidak perlu menungguku. Aku harus membantumu dulu sebelum berangkat."

Kepala Sasuke dipukul dengan sendok sayur. "Apa-apaan itu Bibi Nim!"

Wajah perempuan akhir lima puluhan menggelap.

"Oke-oke! Aku berangkat!"

"Itu lebih baik. Hati-hati dijalan." Auranya berubah ceria tapi Sasuke tidak terkesan. Perempuan satu ini mengingatkannya pada Hokage kelima yang menakutkan. Dia mungkin terlihat lemah tapi omelannya bukan main dampaknya bila terus melawan.

Sasuke sekarang kelas satu SMA, 16 tahun umurnya bila dihitung di tempat ini. Dia siswa penerima beasiswa penuh SMA Ye Ran. Salah satu pemuda kebanggan panti asuhan karena prestasinya. Sebenarnya Sasuke bisa saja pindah dari tempat itu, banyak keluarga yang ingin mengadopsinya tapi dia menolak. Sasuke sudah punya rencana lain, dia bertekad untuk bisa pergi ke Jepang. Walau dia tidak berasal dari sana, kesamaan bahasa, kebudayaan dan penulisan huruf memberi sedikit harapan bagi Sasuke untuk menemukan petunjuk. Jika ada sesuatu yang sama pasti ada sesuatu juga yang bisa dihubungkan.

Untuk sementara, karena dianggap dibawah umur Sasuke diberi dua kewarganegaraan sebelum bisa memilih salah satu. Pemerintah menganggap dia kemungkinan besar adalah anak kelahiran dari orang tua berbeda kewarganegaraan yang sengaja ditelantarkan. Sasuke hampir tertawa ketika kepala kepolisian menyatakan demikian. Ditelantarkan? Yang benar saja! Tapi, Sasuke tidak mau merusak sampulnya dengan menertawai petugas.

Setelah berpamitan, di depan gerbang sudah berdiri Shinwu yang nyengir tanpa dosa.

"Yo, Sasuke akhirnya kau keluar juga. Aku sudah baik menjemputmu supaya tidak terlambat. Bukankah aku teman yang baik!" Pemuda berambut merah merangkul tanpa sungkan sembari menggerak-gerakkan alisnya naik turun.

"Aku tahu kamu Shinwu. Kau tidak semata-mata menjemputku."

Shinwu tertawa kering sambil menggosokkan tangan ke kepala. "Kau memang paling pengertian, aku belum mengerjakan PR dari Pak Park. Bisakah aku menyalin punyamu?"

Mata onix segera menajam. Jika saja kemampuannya tidak terkunci dia bisa membakar Shinwu dengan amaterasu.

"Tidak!"

Bicara soal kemampuan ninjanya di masa lampau, Sasuke harus kecewa karena cakranya seolah terkunci. Sasuke bisa merasakan cakranya ada di dalam tubuh namun dia sama sekali tidak bisa mengaksesnya. Pemuda beriris onix belum bisa menemukan jawaban kenapa tubuhnya kembali ke anak-anak dan cakranya ikut terkunci. Satu yang patut disyukuri adalah keterampilan bertarung dengan tangan kosong tidaklah memudar. Tubuhnya seolah masih menyimpan memori tersendiri ketika berkelahi. Bersama Shinwu dia beberapa kali menghajar siswa sekolah lain karena menganggu. Agaknya Sasuke kadang rindu melemaskan otot tubuhnya. Dia menyukai sensasi berkelahi bersama Shinwu tapi dia tidak akan pernah mengatakan itu pada si rambut merah.

"Ayolah, Sasuke kau teman lain yang bisa diandalkan selain Ikhan."

"Tidak"

"Tuan Sasuke yang paling tampan aku akan mempersembahkan sekeranjang tomat jika kau membantu pelajar rendahan ini." Shinwu terus merengek di sepanjang perjalanan ke sekolah. Sasuke hampir kebal menghadapi Shinwu yang sifatnya hampir sama dengan Naruto. Mereka berdua akhirnya sampai sekolah dengan cukup lancar meski Sasuke terus direngeki oleh Shinwu.

"Oh! Pagi Rai!" Pria bersurai merah menghentikan rengekannya setelah melihat sasaran lain. Dia anak baru, Cadis Etrama Di Raizel, anak-anak memanggilnya Rai. Anak pindahan luar negeri yang memiliki aura aneh di sekitarnya. Sejak pindah dia tidak banyak bicara walau tampaknya tidak keberatan di dekat kelompok Shinwu.

Rai hanya mengangguk ke Shinwu. "Rai, apakah kamu sudah mengerjakan PR-mu? Bolehkah aku meminjam punyamu? Manusia satu ini pelit tidak mau berbagi." Jari telunjuk Shinwu menunjuk Sasuke yang duduk di depannya.

"Aku tak sudi berbagi pada pemalas." Jawab Sasuke ketus.

"Kau harus mengurangi bermain game Shinwu. Akupun tidak akan membantumu lagi." Ikhan juga menjawab Shinwu. Mereka berdua bukannya tidak mau tapi Shinwu perlu belajar tanggung jawab.

"Kenapa kalian berdua jahat!" Air mata buaya si rambut merah jatuh bebas.

Rai tidak menanggapi apapun. Dia justru memiringkan kepalanya pada Sasuke, tatapannya polos ingin tahu.

Ekspresi Shinwu berubah horor. "Apa jangan-jangan kau juga tidak mengerjakan PR!"

Sekali lagi Rai mengangguk-angguk.

"Sasuke, Ikhan, lihat teman baru kita juga tidak mengerjakan PR! Kalian berdua harus membantu kalau tidak kami berdua bisa dihukum Pak Park. Kalian ingat bukan, Pak Park mengatakan Rai masih perlu banyak belajar budaya disini, kalian perlu membantu." Shinwu menjelaskan panjang lebar.

Dahi Sasuke mengernyit menatap Rai. Itu sebenarnya alasan konyol, di dunia belahan manapun pasti ada sekolah, tidak mungkin hal seperti itu perlu diberi tahu. "Kau tidak mengerjakan tugas juga?"

Rai mengangguk, tapi kali ini Sasuke melihat semburat merah di wajah datarnya. Sasuke menghela nafas. "Baiklah, tapi hanya untuk kali ini saja. Aku tidak mau ada yang kedua kali."

"Terimakasih Sasuke, kau memang paling baik." Shinwu reflek ingin memeluk Sasuke tapi sudah ditonjok Sasuke duluan. Rai bahkan menunjukkan senyum tipis karena bahagia.

"Ini, segera salin."

Walau berat hati, Sasuke kemudian menyerahkan pekerjaan rumah itu pada Shinwu dan Rai. Dia dapat memahami bila itu Shinwu yang tidak mengerjakan PR tapi, si anak baru tidak mengerjakan PR? Itu agak sulit dipercaya. Walau masih hitungan hari mengenal Rai, Sasuke tahu Rai kemungkinan berasal dari keluarga terpandang. Keluarga terpandang selalu punya cara khusus mendidik generasi mudanya, biasanya mereka akan dituntut untuk selalu menjadi yang terbaik dalam segala bidang. Tidak mengerjakan PR bisa merusak reputasi keluarga. Mereka selalu menginginkan yang terbaik, sama seperti keluarganya dulu.

Sasuke melirik Rai yang menyalin dengan tekun.

Mungkin Rai tidak seperti yang Sasuke pikirkan

xxx

"Frankenstein." Raizel memanggil nama pelayannya.

"Ada apa tuan?" Laki-laki yang juga berstatus sebagai kepala sekolah Ye Ran menghentikan gerakan begitu namanya dipanggil. Laki-laki dewasa bersurai pirang mengamati ekspresi tuannya yang tampak terganggu.

"Hari ini aku merasa malu."

Tampilan wajah Frankenstein menjadi terkejut, perihal apakah yang bisa membuat sang tuan merasa malu. Sang kepala sekolah sudah memastikan semuanya sempurna untuk sang noblesse.

"Hari ini aku tidak mengerjakan PR Matematika. Kata Shinwu, Pak Park akan menghukum kami bila tidak mengerjakan."

Setetes keringat muncul di dahi Frankenstein. Matematika adalah musuh besar lain sejak tuannya menginjakkan kaki di sekolah. Sang Noblesse mungkin tidak butuh rapor untuk kehidupannya tapi membiarkan tuannya mendapat nilai jelek mungkin bukan pilihan tepat. Kalau hal ini dibiarkan berlanjut semua nilai sang tuan akan merah.

"Lalu apa yang tuan lakukan?"

"Sasuke meminjamkan PR-nya pada kami." Jawab Rai singkat. Dia kemudian tidak mengatakan apapun lagi, sang Noblesse melanjutkan aktivitas dengan menikmati teh buatan Frankenstein.

Sang pelayan mengangguk mengerti walau tuannya tidak secara gamblang mengatakan tujuannya.

"Saya akan mengatur Sasuke supaya menjadi tutor tuan."

Rai mengangguk pelan. Keinginan itu sebenarnya agak mengejutkan bagi Frankenstein, Tuan Raizel memang punya masalah dengan Matematika tapi meminta manusia mengajari bukan karakter tuannya.

Frankenstein kemudian mulai membuka profil Sasuke Uchiha teman sekelas sang tuan. Sasuke adalah penerima beasiswa penuh dari SMA Ye Ran dan juga pemegang peringkat satu ujian masuk. Tinggal di panti asuhan selama enam tahun, latar belakangnya tidak jelas dan hanya tercantum kewarganegaraan saja. Sang kepala sekolah segera menelpon ke nomor darurat yang tercantum di biodata Sasuke. Dia berbicara selayaknya kepala sekolah yang baik, memberi pujian terhadap prestasi Sasuke kemudian mengutarakan maksud dan sedikit bertanya tentang latar belakang. Rupanya siswa unggulan itu adalah korban penelantaran orang tua. Dia jarang iba pada manusia tapi Frankenstein merasa turut prihatin pada manusia muda yang diperhatikan Raizel. Mungkin tuannya merasakan kesepian yang sama dengan yang dirasakan Sasuke.

xxx

Makan malam di panti asuhan tempat Sasuke tinggal selalu penuh warna. Mulai dari keluhan juniornya yang merasa terganggu karena anak-anak berisik, teriakan anak kecil yang diganggu yang lebih tua sampai omelan pengasuh panti karena anak-anak membuat berantakan meja makan. Anehnya, pemuda Uchiha sungguh terbiasa dengan hal itu. Dia tidak pernah mencoba masuk dalam kekacauan namun dia menikmati setiap drama yang tersaji. Jauh lebih hidup dan lebih baik seperti ini daripada selalu sendiri.

Ketika makan malam usai, Sasuke masih tinggal di meja makan bersama Bibi Nim. Malam ini gilirannya mencuci piring, membersihkan piring sejumlah 20 orang tidak membuatnya keberatan sama sekali. Panti asuhan ini bisa dibilang kecil namun panti ini adalah salah satu panti resmi percontohan pemerintah. Pengurusnya merawat anak-anak telantar dengan sangat baik, hampir setiap bulan mereka menambahkan anak baru namun jumlah anak yang diadopsi hampir juga selalu ada setiap bulan. Kebanyakan anak tidak tinggal sampai dewasa, Sasuke menjadi yang paling senior saat ini.

"Sasuke, tadi bibi mendapat telpon dari kepala sekolah." Sembari mengambil piring di meja, Bibi Nim membuka percakapan pada Sasuke.

Pemuda Uchiha merasa heran."Kepala Sekolah?" Sasuke berharap panggilan itu bukan sesuatu yang buruk.

"Beliau mengatakan ingin meminta bantuanmu untuk menjadi tutor belajar temanmu yang bernama Raizel. Kau kenal bukan?"

Dahi Sasuke mengernyit. "Kepala sekolah memintaku? Kedengarannya agak aneh."

Bibi Nim mendengus pendek. Orang tua itu mungkin bisa mengerti jalan kepala sekolah. Sasuke adalah anak terpintar di angkatannya dan anak ini ada di kelas bersama Sasuke. Mungkin anak bernama Raizel merasa lebih nyaman belajar dengan teman sebayanya daripada dengan orang asing. Kepala sekolah juga berkata Raizel adalah keponakannya yang baru saja datang dari luar negeri, jadi mungkin saja kepala sekolah hanya ingin membuat keponakannya nyaman.

"Apa yang aneh?"

"Aku merasa bukan orang yang tepat untuk mengajari Rai, aku bahkan tidak pernah bicara banyak padanya."

"Ini masalah utamamu anak muda." Telunjuk Bibi Nim mengarah pada wajah Sasuke. "Kau tidak pernah melihat dirimu dengan benar. Kau selalu mengatakan tidak cukup baik dalam hal apapun. Beruntunglah kau masih punya Shinwu dan Ikhan yang tahan dengan sikapmu yang ketus. Cobalah terima tawaran ini, kami disini juga ingin melihat kau punya banyak teman seperti remaja umumnya."

Itu masalahnya. Sasuke sejujurnya menikmati pertemanan dengan Shinwu dan Ikhan namun dia tidak mau terlalu dekat dengan mereka. Semakin banyak kenangan yang dibuat semakin sulit bila suatu saat harus berpisah. Uchiha adalah manusia egois jika mereka sudah mencintai atau menyayangi sesuatu mereka sulit melepaskannya. Ikatan pertemanannya dengan tim tujuh saja sudah membuatnya bersalah dan dia tidak mau membuat ikatan baru.

Dia merasa bersalah, dia di sini hidup tenang tapi tidak tahu bagaimana keadaan dunia shinobi yang dia tinggalkan. Sudah berlangsung selama 6 tahun. Apakah mereka menang? Apakah mereka kalah? Sasuke awalnya cemas tapi hati kecilnya menjadi tenang ketika mengingat Naruto. Kalau itu Naruto, semua pasti akan baik-baik saja bagaimanapun caranya. Temannya adalah ninja paling tidak bisa diprediksi, dengan tekadnya dia pasti bisa mengalahkan apapun.

Bagaimana keadaan mereka saat ini? Kalau saja dia tidak ceroboh meninju Kaguya yang berproses berpindah tempat, Sasuke tidak mungkin sampai di sini. Dia dan Naruto menjadi harapan seluruh bangsa elemental tapi dia meninggalkan Naruto. Mungkin saja ini hukuman dari yang maha kuasa untuk seseorang yang menyia-nyiakan teman baik. Dia mungkin harus menebus kesalahannya dengan dijauhkan dari orang yang peduli padanya. Sasuke berpikir dia sekarang sedang dihukum untuk melihat Naruto, Sakura, Kakashi, Itachi dan semua yang lain sebagai suatu kenangan.

"Sasuke? Astaga bisa-bisanya kau melamun ketika aku mengomel." Pemuda Uchiha baru sadar ketika pundaknya ditepuk Bibi Nim.

"Sampai mana tadi?" Sasuke tidak lupa tapi dia juga suka ketika wanita itu mengomel. Menggoda seseorang sedikit menyenangkan.

"Menjadi tutor Raizel? Mau tidak? Kepala Sekolah juga berkata kau akan diberi uang saku layak bila menjadi tutornya."

"Kenapa tidak bilang dari tadi? Tentu saja aku mau." Jawab Sasuke tanpa pikir panjang. Disini sisi logis Sasuke mengambil alih. Jika ingin ke Jepang dia butuh uang. Itu poin valid.

Bibi Nim kehabisan kata, sejak kapan anak asuhannya berorientasi uang.

Bersambung

Selamat membaca! Silahkan tinggalkan review, fav dan follow untuk membaca kelanjutannya!