Noblesse : Road to Family

Naruto x Noblesse

Genre: Family-Friendship

Naruto © Masashi Kisimoto

Noblesse © Jeho Son/ Kwangsu Lee

Dahulu ada makhluk kuat dan berumur panjang untuk melindungi manusia. Mereka memilih hidup dalam bayang, tenang dan sepi. Dihormati oleh manusia sebagai penguasa atau bangsawan. Sedikit yang tahu, yang terkuat di antara mereka hadir melindungi bangsawan lain. Penjaga para bangsawan disebut "Noblesse."

Hanya segelintir orang yang tahu, keberadaan-nya seperti legenda terlebih setelah 800 tahun lebih menghilang. Dia dikabarkan menghilang bahkan sudah mati.

Sang Noblesse, dialah Cadis Etrama Di Raizel baru saja terbangun dari tidur panjangnya. Delapan ratus dua puluh tahun sudah dia tidur dan kini terbangun di dunia yang sudah sangat berbeda. Dia juga mempelajari dunia manusia dengan memasuki sekolah. Sekolah bisa dikatakan menyenangkan walau bingung dengan berbagai hal. Baginya, manusia memang makhluk menarik karena bisa beradaptasi dengan cepat.

Dua hari sudah Rai terbangun, semuanya berjalan damai walau ada saja masalah yang mulai muncul. Hari ini sekolah pulang lebih awal karena ada pembunuhan yang terjadi dan diduga hal ini ada kaitannya dengan sang Noblesse.

Frankenstein sudah menyelidiki, tampaknya orang-orang ini sedang mencari hilangnya peti mati tempat tuannya tertidur. Yang menjadi masalah, murid-muridnya tidak sengaja terlibat karena salah satu mereka melihat kawanan ini. Tadi malam Shinwu berkelahi dengan orang yang diduga pembunuh.

"Tersangka kejahatan ini sepertinya orang yang tuan temui. Sumberku mengatakan berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap korban, korban ditemukan dalam keadaan hampir tidak memiliki darah." Frankenstein melanjutkan pembicaraan, setelah berhasil mengatur Sasuke untuk menjadi tutor tuannya, dia melapor tentang kasus pembunuhan dan pelakunya diduga mengincar teman-teman sang tuan.

Raizel mendengarkan dalam diam sembari duduk menikmati teh. Tangannya memegang lembaran kertas yang khusuk dibaca. Frankenstein mengagumi sikap tuannya yang tetap elegan dalam situasi seperti ini.

"Tempat kejadian kejahatannya pun tidak jauh dari tempat Anda bertemu dengannya, dan kalau tidak ada makhluk lain di dekat sana, dia pastilah pelakunya. Kami memeriksa tubuh korban dengan teliti namun tidak ada perubahan yang terlihat." Frankenstein melaporkan dengan detail.

"Hmmm..." Raizel tampak bergumam, raut wajah yang biasanya datar sekarang tampak memikirkan sesuatu.

"Frankenstein. Hari ini aku merasakan kematian."

Pernyataan sang Noblesse membuat pelayannya terkejut. "T-tuan apa maksud anda?" Jika Raizel sudah berkata demikian maka hal itu sudah sangat serius. Dia akan segera bersiap diri bila tuannya dalam bahaya.

Raizel tampak menerawang ingatannya. "Mereka membawaku ke tempat yang gelap."

Pada titik ini Frankenstein mulai panik. Siapa mereka yang berhasil membawa tuannya hingga merasakan kematian. "Kemana?"

"Tempat itu disebut PC Room."

Frankenstein membeku. "Maaf Tuan?"

"PC Room? Beliau bicara tentang game komputer."

Raizel meletakkan cangkir tehnya yang sudah kosong. "Ini kali pertama aku merasakan diriku payah. Ketidak berdayaan meliputi sekujur tubuhku."

Frankenstein termenung, antara terkejut dan sedih. Tuannya serius memikirkan tentang kekalahan tersebut. Sang Noblesse yang kekuatannya mampu menundukkan manusia, para kepala keluarga bangsawan dan kaum warewolf, merasa tidak berdaya dikalahkan oleh anak manusia dalam game komputer. Dia tidak ingin tuannya sedih tapi dia juga tidak tahu bagaimana cara menghibur tuannya.

"Mereka membunuhku dengan kejam."

Keringat dingin menetes di dahi Frankenstein. Dia akan memastikan tuannya tidak akan kecewa karena kalah dari anak-anak manusia itu.

XXX

Hari ini sekolah kembali masuk seperti biasa setelah kemarin sempat dipulangkan lebih awal karena terjadi kasus pembunuhan di dekat sekolah. Sasuke tidak terlalu memperhatikan kasus tersebut karena kasus pembunuhan adalah hal umum yang pernah ditemui.

Pagi ini dia berangkat sendiri, sejak kemarin Shinwu tampaknya mulai akrab dengan anak baru. Kemarin dia juga tidak pulang bersama. Mereka berempat, Yuna, Ikhan, Shinwu dan Raizel sempat dipanggil oleh kepala sekolah dan kembali dengan sikap yang agak aneh.

Awalnya Sasuke tidak terlalu memikirkannya, tapi karena pagi-pagi melihat empat orang itu mengerubungi tas hitam di pojok kelas membuatnya heran. Lebih aneh lagi mereka semua diliputi aura ketegangan.

"Apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya Sasuke ingin tahu. Dia mendekat ke Ikhan dan mengamati tas hitam milik Shinwu yang jadi pusat perhatian. Sasuke hafal betul itu tas Shinwu.

Ikhan kemudian menjelaskan pada Sasuke tentang tas milik Shinwu yang tiba-tiba ditemukan kembali di depan apartemen si pria merah. Yuna kemudian mulai menceritakan kisahnya, bermula dari melihat pria aneh yang tampak seperti pembunuh dan diserang lalu ditolong Shinwu. Pada saat menolong Yuna, tas milik Shinwu sempat hilang tapi pagi ini ditemukan di depan apartemen.

Jadi mungkin ini alasan sebenarnya Shinwu tidak mengerjakan PR tapi Sasuke tau Shinwu, tasnya bahkan tidak ada buku pelajaran. Oke, lupakan sejenak Shinwu mencontek PR miliknya kemarin. Sasuke sekarang paham kenapa ke empat teman sekelasnya terlihat serius, rupanya mereka sedang berhadapan dengan masalah serius.

Ikhan mengusap dagunya. Pria berkacamata itu menemukan ada kejanggalan. "Ada yang tidak beres."

Sasuke juga sependapat. Dia tidak mengalami secara langsung tapi intuisinya mengatakan kembalinya tas Shinwu ada makna tertentu.

"Apa?" Shinwu bertanya.

"Shinwu, kamu kehilangan tas milikmu saat Yuna diserang orang misterius itu.

"Benar." Dia mengangguk menyetujui.

"Aku terlambat datang dan lalu meletakkan tasmu untuk menolong Yuna yang jatuh. Sayangnya aku tidak sempat membawa tasmu ketika kita kabur." Ikhan mengingat kembali peristiwa itu, saat kejadian Shinwu langsung menitipkan tas pada Ikhan kemudian berlari menuju suara Yuna yang berteriak. Begitu dia sampai dia reflek meletakkan tas dan menolong Yuna.

"Tapi, setelah beberapa hari, tas itu diletakkan di depan pintu apartemenmu. Itu artinya ada seseorang yang membawa ke sana."

Yuna terkesiap takut, reflek tangannya menutup mulut. "Bagaimana mereka tahu itu tasmu dan tempat tinggalmu?"

Sasuke ikut terdiam sambil memikirkan yang mungkin jadi motif pelaku. Orang yang mengembalikan ini kemungkinan besar adalah orang yang sama dengan yang dilawan Shinwu. Jika yang mengembalikan tasnya itu orang biasa mereka tidak akan sembarangan meninggalkan di depan pintu. Jika mereka memang punya tugas rahasia dan kebetulan temannya terlibat mereka akan segera dibunuh untuk menutupi jejak. Mereka tidak perlu repot mengembalikan tas di depan pintu bila bisa membunuh secara langsung. Apakah mereka ingin bermain-main dahulu?

"Menurutku kita harus melaporkan ini ke Pak Kepala sekolah." Ikhan mengusulkan dan langsung disetujui yang lain, bahkan Sasuke yang tidak tahu banyak juga ikut.

Sesampainya di ruang kepala sekolah, para siswa segera menceritakan tentang tas Shinwu yang tiba-tiba kembali. Kepala sekolah memberikan saran untuk sementara Shinwu tidak pulang ke rumah dahulu. Pemuda bersurai merah menyetujui hal tersebut dan berkata sementara akan menginap di rumah Ikhan.

"Pak, bukankah lebih baik kita melaporkan hal ini ke polisi." Ikhan memberi saran.

"Kurasa itu percuma."

Semua kepala berpaling ke sosok pemuda bersurai hitam yang sejak tadi diam. Shinwu dan kawan-kawan hampir saja melupakan kehadiran Uchiha Sasuke di ruangan.

"Apa maksudmu itu Sasuke? Jika ini mengarah ke kriminal kita bisa lapor ke pihak polisi." Jawab Ikhan untuk menyanggah jawaban Sasuke.

"Aku tidak bermaksud mengatakan laporanmu percuma tapi kau tidak punya bukti kuat. Melaporkan kejadian tentang tas Shinwu yang kembali, kemungkinan besar hanya akan diminta menceritakan ciri-ciri pelaku. Tidak akan ada penjagaan pada Shinwu karena hal yang kau laporkan belum pasti."

Frankenstein tersenyum miring mendengar ucapan Sasuke. Muridnya yang satu ini cukup pintar dalam menganalisis. Mata biru Frankstein memandang Sasuke sebentar karena tertarik.

"Ucapan Sasuke ada benarnya juga," jawab Yuna dengan ekspresi sedih. Jika bukan karena dirinya temannya tidak mungkin dalam posisi berbahaya. Gadis bersurai coklat sungguh merasa bersalah.

"Tenanglah semua. Bapak akan tetap melapor pada polisi kenalan Bapak, jadi jangan terlalu khawatir," kata Frankenstein untuk menenangkan murid-muridnya. Bagaimanapun keselamatan mereka adalah hal utama mengingat mereka juga teman dari Sang Tuan.

"Terimakasih pak," jawab semuanya kompak kecuali Raizel.

"Tidak masalah, Bapak akan memastikan kalian tetap aman. Oh, ya Sasuke tentang penawaran yang Bapak berikan, apa kamu menyetujui jadi tutor Raizel?" Melihat Sasuke juga datang ke ruang ini membuat Frankenstein sekaligus ingin melakukan konfirmasi.

"Tidak masalah, selama Bapak menepati janji."

Pria pirang itu bertepuk bahagia. "Janji adalah janji." Senyumnya merekah, bagi Frankenstein memenuhi keinginan sang Tuan adalah nomor satu.

"Ehhhhhhhh, Sasuke jadi tutor belajar Raizel. Ini kejahatan!" Shinwu berteriak kaget.

Dia langsung memandang Rai untuk memohon. "Makhluk pelit ini tidak pernah mengajariku. Izinkan aku bergabung denganmu."

Ikhan mengangguk setuju. "Pak Kepala Sekolah izinkan kami bergabung juga."

"Itu ide yang bagus, bukankah akan lebih baik jika sering belajar bersama," ucap Yuna menambahi.

Dahi Sasuke berkedut karena kesal. Astaga, mereka ini benar-benar suka seenaknya sendiri.

Satu-satunya perempuan memandang Raizel penuh harap. "Raizel, kamu tidak keberatan bukan?"

Pemuda tampan itu mengangguk.

"Yosh! Dengan ini nilai kita akan membaik!" Shinwu menjadi orang yang tampak paling semangat.

Berbanding terbalik dengan mereka yang gembira, Sasuke tampak pasrah. Dari belakang punggungnya ditepuk pelan oleh si kepala sekolah pirang. "Jangan khawatir, Bapak akan memberikan uang saku lebih padamu."

Tawaran yang cukup menghibur, sayangnya suasana hati Sasuke menjadi jelek. Dia tahu betul tabiat Shinwu.

"Kalau boleh tahu kapan ini bisa dimulai?" Sasuke bertanya pada kepala sekolah.

Diskusi mereka kemudian berlanjut ke pengaturan jam belajar Raizel. Diputuskan mentoring belajar dilakukan setiap hari Senin sampai Kamis. Untuk waktu akan diatur lebih lanjut. Frankenstein tahu, sang tuan juga sangat menikmati kebersamaan sepulang sekolah dengan Ikhan, Shinwu dan Yuna. Jadi dia tidak mau menganggu hal itu. Sasuke tidak masalah selama ada yang menjemputnya dari panti, bukan masalah dia pemalas atau apa tapi dari panti dia tidak diberi uang transport lebih.

Setelah urusan selesai, semua siswa segera kembali ke kelas. Hari itu mereka langsung pulang tanpa mampir kemanapun. Shinwu pulang ke rumah Ikhan setelah mengantar Yuna pulang.

Semua normal kecuali Raizel yang anehnya jalan mengekor di belakang Sasuke. Mood Sasuke masih jelek dan tanpa sadar mendiamkan Raizel yang berjalan dalam diam.

"Hei! Kenapa kau berjalan mengikutiku!" Sasuke lama-lama jengkel diikuti seperti induk ayam. Tanpa ekspresi bersalah Raizel memiringkan kepala. Tanpa menjawab, pemuda yang lebih tinggi dari Sasuke mengambil secarik kertas lalu menyerahkan pada sang Uchiha.

Pemilik mata onix mengernyit heran saat melihat foto Kepala Sekolah di secarik kertas. Sasuke menahan tawa melihat pose foto Bapak Kepsek, tampangnya memang tampan tapi posenya menyaingi ABG puber. Dia lalu membalik dan menemukan tulisan disana.

Aku tersesat. Hubungi xxxxxx.

Eh!?

...

...

...

...

...

...

...

Sasuke menghela napas, ternyata ada juga orang macam Raizel di dunia ini. "Ternyata kau lebih payah dari yang kukira."

Aura Raizel langsung suram. Lagi-lagi karena ucapan manusia Raizel merasa tidak berguna. Untuk kesekian kali, Cadis Etrama Di Raizel bangsawan terkuat merasa sedih karena kemampuannya lebih payah dari manusia-manusia muda di sekolah.

Sasuke melirik wajah Raizel yang frustasi. "Dasar anak satu ini!"

"Kau ini, walau banyak diam tapi wajahmu benar-benar tidak bisa bohong. Aku hanya bercanda. Siapa aku yang berhak menilai seseorang." Ucap Sasuke pada sang teman. "Bagaimana kalau kau ikut aku pulang sebentar ke panti. Begitu sampai aku akan menghubungi Pak Kepsek. Kau setuju?"

Dirinya sampai saat ini belum memiliki telephone seluler pribadi, itulah mengapa sebabnya Sasuke mengajak ke panti lebih dahulu untuk menelpon.

Usulan Sasuke berbalas anggukan dari pemilik mata merah. Berjalan bersama Raizel anehnya tidak yang secanggung yang Sasuke pikirkan. Sebagai Uchiha dirinya bukan tipe yang banyak bicara, tapi cara berkomunikasi dengan Raizel ada dilevel lain. Tanpa satu kata anehnya Sasuke bisa melihat berbagai macam emosi di wajah datar itu. Mata Sasuke masih cukup jeli untuk membaca emosi Raizel lewat mata.

Keduanya berjalan beriringan tanpa sepatah kata akibatnya Sasuke baru sadar sampingnya kosong. Dia segera melihat ke segala arah dan mendapati Raizel berdiri terdiam memandangi deretan street food .

Ah! Tidak! Lebih tepatnya memandangi kedai Ramyeon, kalau dipikir-pikir setiap ke kantin pilihan makanan selalu sama. Sasuke berjalan mendekat ke Rai.

"Aku ingin makan itu."

Entah kenapa kalimat singkat itu berhasil menaikkan urat saraf Sasuke seketika. Tadi ditanya tidak menjawab sekarang minta makan.

"Ini sudah hampir malam, kita harus segera pulang." Sayangnya kata-kata Sasuke tidak didengarkan. Menembus kerumunan siswa berseragam putih masuk ke kedai.

Mulai dari kejadian ini Sasuke seperti menjadi pengasuh. Raizel tidak tahu cara memesan, Sasuke yang memesankan. Raizel tidak cara membayar, Sasuke yang membantu membayarkan. Raizel tidak tahu cara menelpon, Sasuke yang membantu menelpon. Pada titik ini, Sasuke serius mempertanyakan bagaimana dia bisa bertahan hidup bila tidak tahu apa-apa.

Satu jam telah berlalu setelah dari kedai ramyeon, Raizel kemudian segera dijemput di panti. Sasuke menepati janjinya untuk segera menghubungi kepala sekolah begitu sampai di panti. Setelah mandi dan bersih-bersih pemuda Uchiha bisa berbaring rileks di kasurnya. Kamar itu dihuni oleh enam orang yang kebetulan usianya masih dibawahnya. Saat ini semua teman sekamar sudah tidur jadi dia bisa merenung tanpa gangguan.

Pikirannya masih melayang seputar Raizel, anak baru aneh yang seperti baru saja melihat peradaban baru. Mata merah itu memancar polos penuh rasa ingin tahu terhadap berbagai hal. Bagaimana Raizel tampak senang dibelikan ramyeon, takjub saat mie-nya mengembang, menikmati makan di kedai, senang saat Bibi Kim pengasuhnya menyapa, wajah datar itu benar-benar menikmati semua hal. Terlepas hal itu, Sasuke juga menyadari ada aura aneh pada Raizel. Seperti bukan manusia pada umumnya yang pernah ditemui di dunia ini.

"Siapa kau Rai?"

Tidak mau memikirkan lebih lanjut, Sasuke memilih untuk tidur.

XXX

Satu hari berlalu dengan lancar keesokan paginya aktivitas sekolah berlangsung lancar sampai pulang sekolah. Shinwu, Ikhan dan Yuna langsung pulang, Sasuke bersama Raizel diantar Frankenstein menuju rumah sang kepala sekolah. Sasuke baru sadar jika kepala sekolahnya tampak begitu melayani Rai. Hubungan mereka semacam atasan dan bawahan, walau hal itu bukan urusannya Sasuke tetap saja heran.

Ini kali pertama Sasuke masuk ke kediaman milik kepala sekolah. Sasuke takjub, rumah itu besar dan cukup mewah untuk ukuran negara ini.

"Nah, kalian bisa memulai belajar di sini." Frankenstein menunjuk ruang tengah dengan meja kayu besar yang tampak nyaman. "Aku akan menyiapkan sesuatu untuk kalian."

Pria pirang itu segera meninggalkan mereka berdua. Rai tanpa canggung segera duduk nyaman dengan kaki disilangkan di kursi yang di depannya disiapkan pensil dan buku. Benar-benar gambaran sosok yang dilayani.

"Baiklah, kita mulai belajarnya." Sasuke segera ambil kursi di sebelah Rai. Dia segera mengambil buku matematika dan alat tulis. "Darimana kau ingin memulai, Rai?"

Pemilik mata merah itu berpikir sejenak. "Dari awal."

Rupanya dari awal yang dimaksud Rai benar-benar dari awal. Konsep dasar trigonometri untuk sekolah menengah atas yang sedang dipelajari di sekolah, Rai tidak mengerti. Jadilah Sasuke bekerja keras mengulangi materi dari konsep awal yang seharusnya untuk menengah pertama. Satu jam pertama digunakan Sasuke untuk menjelaskan konsep awal dan berlatih beberapa soal.

Pemuda Uchiha cukup terkejut, Rai dengan lancar menjawab soal dengan benar meskipun beberapa kali Rai harus dipaksa untuk fokus belajar. Rai memang diam selama belajar tapi rupanya dia sama saja dengan anak lain yang benci matematika. Terburu-buru mengerjakan, beberapa jawaban salah dan saat Sasuke mengoreksi Rai mencuri kesempatan untuk minum teh.

Selesai materi dasar, Sasuke melanjutkan dengan menjelaskan materi yang ada di buku yang dilanjut dengan latihan soal. Sasuke kemudian mengoreksi jawaban Rai, dari lima soal dia menjawab tiga jawaban betul. Sambil mengoreksi dia menjelaskan letak kesalahan yang dilakukan sang teman. "Masih ada yang salah, coba kau kerjakan kembali." Sasuke menyerahkan kembali buku pada temannya.

Iris onix itu menyipit saat Rai justru kembali mencuri kesempatan untuk meminum teh dan makan biskuit. Aura permusuhan segera terpancar, beraninya dia mengabaikan saat Sasuke menjelaskan dengan meminum teh.

"Cadis Etrama Di Raizel." Panggil Sasuke dengan nada bermusuhan.

Pandangan Rai tidak kalah sengit seolah mengatakan "Apa lagi yang salah?Aku sudah menjawab sesuai yang kau jelaskan."

Keduanya saling menatap sengit dan keduanya tidak mau mengalah. Sasuke meminta Rai mengerjakan kembali sementara Rai menunjukkan keengganannya mengerjakan soal itu kembali. Kontes menatap berlangsung cukup lama dan untungnya segera berhenti setelah kepala sekolah datang memanggil Rai.

"Ehem." Pria pirang menyela kedua pemuda, lucunya Sasuke dan Rai balas memelototi sang kepala sekolah.

"Ehe! Kenapa Tuan jadi ikut marah padaku!" Batin Frankestein menjerit pilu. Tapi dia segera fokus. Dia memilih komunikasi telepati pada sang Noblesse. "Tuan, saya baru saja mendapat telepone dari Ikhan, bahwa Yuna diculik."

Bersambung

Raizel : Frankenstein.

Frankenstein : Ya, Tuan?

Raizel : Bisakah kamu menghapus Matematika dari sekolah?

Frankenstein : EHEEEEE! Tidak boleh begitu Tuan, Matematika diperlukan untuk kehidupan.

Raizel : *angguk-angguk* Frankenstein, kata Shinwu Sasuke suka tomat. Bisakah kamu berikan dia tomat?

Frankenstein : Kenapa Tuan ingin memberi Sasuke tomat?

Raizel : Shinwu memberi Sasuke tomat supaya dipinjami PR, dia memarahiku terus saat belajar. Aku tidak mau dimarahi, jadi bisakah aku memberinya tomat?

Frankenstein : ITU NAMANYA MENYOGOK TUAN! SIAPA YANG MENGAJARI TUAN SEPERTI ITU?

Raizel : Shinwu

Selamat membaca! Silahkan tinggalkan review, fav dan follow untuk membaca kelanjutannya!