Summary: Di dalam mata Dazai, Akutagawa (Shinshokusha) melihat hujan.

Bungou to Alchemist belong to DMM Games

"Di dalam bukunya ... hujan, ya." Ango bergumam. Dia dan Oda sedang tiduran di ruang perawatan, istirahat karena luka-luka saat bertarung melawan Dazai yang sedang dikuasai shinshokusha.

"Iya." Oda mengiyakan. "Hujannya deras, dan malamnya gelap, pula," lanjutnya mendeskripsikan.

Main hujan-hujanan sebenarnya lumayan seru. Baik Oda maupun Ango tidak keberatan dengan cipratan lumpur dari tanah becek. Masalahnya tentu saja, main hujan sambil bertarung itu beda lagi ceritanya.

Ango tidak tahu Dazai bisa seterampil itu menggunakan pisau. Mungkin kapan-kapan anak itu mesti diajak masak juga, meskipun sepertinya mustahil. Karena daripada main di dapur, kemungkinan besar dia lebih berminat mengikuti daftar kegiatan Akutagawa.

Saat pencemaran sedang parah-parahnya, langit di buku biasanya akan memerah, dengan kalimat-kalimat yang terurai, siap untuk memudar dan lenyap. Namun, sejauh pengalamannya sejak dipanggil, Oda sangat jarang menemui hujan dalam buku yang sedang dibersihkan.

Mungkin sepanjang hidupnya Dazai itu adalah mendung, adalah malam. Kemudian, setelah kabar kematian Akutagawa sampai padanya, semua berubah menjadi hujan. Hujan deras yang dinginnya menusuk tulang, dan tidak pernah berhenti sampai membuatnya tenggelam.

Gemuruh dan petirnya tidak pernah sampai kepada orang lain, karena Dazai selalu menutupinya dengan senyum secerah musim panas. Selalu menggunakan topeng, yang dari sudut pandangnya semua orang pun memakai.

Srek,

Dazai tahu-tahu muncul, menyibak tirai. Ekspresi wajahnya kusut, dipenuhi banyak pikiran dan kentara lelah. Bisa dibilang sebabnya adalah para bungou yang baru transmigrate bareng. Terutama soal Akutagawa Ryuunosuke yang ada dua. Otomatis memunculkan istilah lama dan baru, asli dan palsu. Padahal Dazai tidak masalah kalau keduanya nyata. Sama-sama ada dan bisa dibuktikan keberadaannya dengan panca indra.

Mereka yang tiba-tiba mencegatnya di aula itu, sekarang mengambil alih Akutagawa yang pertama Dazai temui sejak dipanggil ke pustaka ini. Mereka membawanya ke tahanan, yang karena sudah duluan dijebol karena mulutnya Shimazaki, terpaksa harus ada yang mengawasi si terdakwa yang sama sekali bukan tersandung kasus korupsi.

"Dazai-kun, sini, sini."

"Eh? Aku enggak--"

Ango sudah keburu menarik tangannya, membuat Dazai jadi jatuh ke kasur pula. "Kau juga capek, kan? Tidur dulu, ayo."

Dazai awalnya menolak, tapi menurut ketika Ango menyuruhnya memejamkan mata sepuluh hitungan saja, setelahnya boleh pergi. Alhasil, setelah tujuh hitungan, pemuda berambut merah itu sudah sepenuhnya lelap.

Ketika Dan yang baru balik dari nyari-nyari kamar bareng Shuusei itu mendatangi ruang perawatan, dia melihat tiga rekannya itu tertidur semua.

"Tidak ikutan?" komentar Shuusei.

"Haha ..." Dan menggaruk pipinya, canggung. Dia itu memang selalu ditinggal. Tidak hanya masalah umur atau urutan transmigrate saja, tidur siang pun mereka tidak ajak-ajak.

Shuusei mengambil kursi dari pojok ruangan, meletakkannya di depan Dan. Semacam alternatif kalau dia tidak mau turut naik ke kasur, yang karena dirapatkan jadinya masih tersisa tempat cukup lebar.

"Aku pergi dulu. Urusan menyiapkan kamar pasti lagi-lagi diserahkan padaku," ucapnya setengah menggerutu. Neko bilang ada empat bungou yang baru muncul. Shuusei belum tahu siapa saja, tapi dia harap mereka tidak mengajukan kriteria macam-macam seperti Mushanokouji.

"Iya, terima kasih banyak."

"Santai saja. Senang bisa membantumu, kok."


Dazai terbangun saat jam sudah menunjukkan pukul empat sore. "Haah, salahnya Ango, nih!" gerutunya begitu sadar sudah melewatkan waktu beberapa jam.

"Mau ke mana?" tanya Dan, memperhatikan Dazai yang buru-buru turun dari tempat tidur.

"Ruangannya Neko!" Dazai keluar dengan langkah cepat-cepat, yang sesampainya di luar kedengaran seperti berlari.

Dan mengerjap, tetapi membiarkan saja. Dia membangunkan Oda dan Ango terlebih dahulu, mengingatkan mereka untuk makan siang. "Dazai barusan pergi," katanya menanggapi tatapan dua orang itu yang mencari-cari.

Ketika Dazai sampai di ruangan direktur, Neko dan Kan sepertinya baru selesai berbicara. Kume dan Hori sudah tidak ada. Mereka sudah duluan ke penjara, memastikan Akutagawa shinshokusha tidak macam-macam.

"Kebetulan sekali kau datang, kami baru saja mau mencarimu," kata Neko, memberi isyarat agar Dazai mendekat.

Kan menghela napas. Tatapan mata yang kurang bersahabat dari Dazai itu mungkin bakal dia peroleh dari penghuni pustaka lainnya dalam waktu singkat. Seberapa baikkah sebenarnya shinshokusha itu memerankan teman baiknya? Dia jadi tambah ingin tahu. "Ceritakan padaku, tentang bagaimana Akutagawa yang itu."


"Tolong hentikan ini, Akutagawa-sensei!"

Setelah kursi yang dijadikan senjata dadakan Kan patah, Hori terlempar menabrak rak dan Chuuya terkena serangan, Dazai maju ke hadapan. Dia tidak terindimidasi oleh pedang yang menguarkan aura gelap itu. Bungou lain memperhatikan dengan tegang, tidak sempat mengingatkan Dazai untuk mundur, dan kelihatannya tidak akan ngaruh juga.

"Jangan menghalangiku." Akutagawa berkata dingin.

Dazai menahan ujung pedang yang hanya beberapa senti dari kepala, membiarkan noda menjalar juga ke tangannya yang langsung terkontaminasi gelap.

"Akutagawa-sensei, aku ... aku ...!"

Dazai bicara menggantung karena tidak tahu harus mulai menjelaskan dirinya dari mana. Karena biar bagaimana, Akutagawa yang sekarang mungkin tidak menganggapnya sebagai apa-apa.

Tapi dia berhenti.

Sering menghabiskan waktu bersama Dazai pun, ini pertama kalinya Akutagawa melihat mata pemuda itu dari dekat. Di dalam netra keemasan itu, dia melihat hujan. Hujan siklus pendek, karena di bawah awan yang hitam itu, ada gulungan ombak lautan.


"Hentikan."

Dazai memohon dengan suara diwarnai emosi dan kemarahan. Akutagawa baru saja melenyapkan Dan, setelah sebelumnya dikepung tiga arah oleh Oda dan Ango juga. Dia menoleh, bertanya-tanya seberapa parah hujan kali ini.

"Tolong hentikan."

Suara itu berubah dari amukan yang dipendam, menjadi kesedihan yang gagal ditahan untuk muncul ke permukaan. Akutagawa lagi-lagi melihat hujan. Terlampau deras, layaknya cuaca ekstrim yang menyebabkan banjir dini hari di Jakarta hanya dalam beberapa jam, pada malam 1 Januari 2020.

Dia tiba-tiba membenci hujan di mata Dazai. Luapan air dari sana terasa seperti akan membuatnya tenggelam. Dia tidak bisa bergerak maju atau apapun itu jika terus terjebak dalam genangan air. Karena itu, satu-satunya yang mesti dia lakukan adalah menghentikan hujan.

Tapi mungkin karena terlalu banyak berinteraksi dengan Dazai, Akutagawa tanpa sadar ikut-ikutan jadi manusia gagal.

Ah, tapi dia shinshokusha, ya. Bukan penulis novel, bukan rekan mereka, dan bukan manusia.

Ketika Dazai menjatuhkan sabitnya, yang jelas-jelas merupakan penolakan untuk melakukan serangan penghabisan, Akutagawa masih melihat hujan itu.

Bahkan pada saat-saat terakhirnya yang mulai menghilang bersama cahaya, Akutagawa menyempatkan diri untuk memeriksa langit di mata Dazai, dan tidak lagi merasa kesal.

Hujannya masih belum berhenti. Namun, kali ini Akutagawa tidak membenci. Karena bagi dirinya yang sejak awal tidak ada itu, hujan di mata Dazai sudah cukup untuk semacam bukti. Bahwa meski dia lenyap pun, bukan berarti hadirnya selama 13 episode itu tanpa makna.

Dazai bilang kalau dia menyelamatkan, meski kemudian dia juga yang menghancurkan. Dia menangis untuk rasa haru, untuk rasa sedih, dan untuk rasa marah. Dia disebut sebagai teman, dibela mati-matian. Dia juga yang membantai mereka semua dalam satu malam. Semua itu, bisa dia lihat kilas baliknya dari pantulan mata Dazai. Yang meski tidak berkaca-kaca, rasa ibanya terlalu mudah dibaca.

Namun, kalau mau jujur, dari hatinya yang paling dalam, Akutagawa ingin juga melihat hujan itu berhenti.


End.


Serius, maaf karena ini sembilan puluh persennya cuma ceritakan ulang adegan yang sudah ada. Membosankan bukan? Ingin coba serius dengan diksi pun, pikiranku selalu gagal untuk serius. Ah, jadi begitulah ...