[A/N]: Hanya sekedar informasi, kalau ini hanyalah hasil remake dari cerita sebelumnya yang berjudul [Side Story from "A Havoc": Hyoudou Issei] pada tanggal 3 Juli 2020 kemarin, yang sekarang sudah aku ubah di beberapa bagian dialog, monolog, dan tentu saja ending ceritanya juga. Selamat menikmati cerita ini, dan terima kasih.
20/November/2020
—Cinta yang Singkat—
By: Abidin Ren
Summary: Kehilangan seseorang yang sangat kau cintai, memanglah suatu hal yang sangat menyakitkan. Dan … itulah yang Issei rasakan. Saat dunia sedang dalam keadaan "hancur", dia harus kehilangan kekasihnya, Rias. Ini benar-benar pukulan telak bagi dirinya, dan entah apakah dia masih memiliki keinginan untuk hidup dalam keadaan seperti ini atau tidak ….
Disclaimer: [Naruto] © Masashi Kishimoto | [High School DxD] © Ichie Ishibumi.
Saya tidak mengakui kepemilikan atas semua karakter yang muncul dalam cerita ini. Saya hanya meminjamnya, tanpa ada niat sedikit pun untuk merugikan pihak mana pun.
This Story Created by Me
Genre: Hurt/Comfort — Romance — Sci-Fi
Characters: [H. Issei x Rias G. & Asia A.] U. Naruto
Rated: T+
Warning: Mengandung banyak sekali unsur spoiler untuk cerita utama "A Havoc?". Mengambil alur dari salah satu chapter yang akan datang dari cerita utama "A Havoc?". Semua sifat karakter mengacu pada cerita utama "A Havoc?".
Menggunakan sudut pandang Hyoudou Issei!
#Hurt/ComfortFI2020 ( 3 Juli 2020)
Happy Reading, Minna-san! ^_^
.
.
.
"Sampai kapan pun, tidak akan ada yang bisa menggantikan posisimu, Rias Gremory-chan."—Hyoudou Issei.
Aku tidak tahu, sudah berapa hari berlalu sejak peristiwa kiamat ini terjadi. Tidak, kurasa penggunaan kata "hari" sangat tidak cocok sekarang. Entahlah, ini karena aku yang memang sudah lupa, atau akibat dari pikiranku saat ini yang sedang kacau. Aku tidak peduli akan hal itu dan aku tidak terlalu memper-masalah-kannya. Lagipula, kenapa aku harus memikirkan hari-hari yang telah kulalui? Tidak ada gunanya. Aku merasa, kalau aku sudah tidak memiliki semangat hidup lagi dikarenakan peristiwa yang terjadi beberapa hari terakhir ini. Benar-benar peristiwa yang tidak akan mudah untuk aku lupakan.
Ah, kepalaku kembali pusing saat mengingat kejadian dua hari terakhir kemarin. Aku menggeleng pelan, mencoba mengusir pikiran-pikiran tadi. Tapi, tetap saja sangat susah untuk kusingkirkan.
Kuembuskan napas dengan kasar lewat mulutku, lalu kusandarkan kepalaku pada kursi bis sekolah yang saat ini kami tumpangi. Aku dapat melihat semua teman-temanku di barisan depan sana. Aku tidak peduli tentang apa saja yang tengah mereka lakukan, dan aku lebih memilih fokus kepada diriku yang hanya duduk diam sendirian di kursi bagian paling belakang bis.
Ya, yang kubutuhkan saat ini hanyalah menenangkan pikiranku akibat tekanan mental yang kudapatkan dua hari terakhir. Coba kalian bayangkan, bagaimana perasaan kalian, saat melihat orang yang kalian cintai, dibunuh … di depan mata kalian sendiri?! Perasaanku? Tidak jelas sama sekali. Marah? Senang? Sedih? Kecewa? Dendam? Entahlah, karena semua perasaan itulah yang kurasakan secara bersamaan pada daat itu, dan semuanya bercampur menjadi satu. Emosi yang sangat ambigu. Aku tertawa miris mengingat kembali diriku pada saat tersebut.
Terasa banyak sekali jutaan kupu-kupu yang tengah beterbangan dengan riang di dalam dadaku, ketika aku kembali mengingat wajah tersenyum orang yang kucintai dahulu. Rias Gremory-chan, gadis yang kukenal saat pertama kali aku masuk ke Akademi Tokyo. Gadis berambut merah tua itu benar-benar telah berhasil merebut hatiku, saat kedua mata kami bertemu untuk yang pertama kalinya. Cinta pada pandangan pertama? Terserah kalian mau menyebutnya apa, atau bahkan menertawakanku. Aku tak akan memedulikannya. Lagipula, itu bukanlah hal yang berharga lagi sekarang. Perasaan seperti disayat tepat di hatiku ini terasa menyakitkan, ketika pikiran bahwa aku tak 'kan bisa bertemu dengannya lagi kini memenuhi kepalaku. Ugh~
Semua waktu yang kami habiskan bersama, susah-senang kami lewati berdua. Selama beberapa menit, aku terus mengingat kembali semua kejadian yang telah kami berdua lakukan. Kenangan indah yang kembali muncul di dalam ingatanku, berhasil mengukir sebuah senyum di bibir pucatku. Pucat. Ahaha, mungkin wajahku juga seperti itu. Aku sendiri tidak tahu bagaimana rona mukaku sekarang ini. Tapi saat kulihat teman-temanku menatap khawatir padaku dua hari ini, mungkin aku bisa menebak bagaimana keadaanku.
—Menyedihkan.
Ya, mungkin satu kata itulah yang cocok untuk menggambarkan keadaanku saat ini.
"Ise-san, mari makan!"
Aku terkesiap, tatkala mendengar sebuah suara lembut dari sisi kiriku. Aku menoleh, dan kudapati bahwa seorang gadis berambut kuning panjang tergerai dengan memakai pakaian kasual, kini tengah berdiri di sampingku dengan sebuah kantong plastik di tangan kanannya—yang tak kuketahui apa isinya.
Aku kenal dia. Ya, ia adalah teman semasa kecilku, namanya Asia Argento-chan.
Dia mengangkat kantong plastik itu sambil memasang senyuman di bibirnya. "Mari makan, Ise-san. Yang lain juga sedang makan." Tangannya menunjuk ke luar jendela bis.
Aku mengikuti arah jarinya dan kulihat kalau semua temanku kini sedang mengisi perut mereka di sebuah tempat makan yang sudah hancur—ini mungkin karena serangan dari para Zombie itu. Hmm, aku baru sadar …, ternyata bis ini sudah berhenti. Mungkin, karena aku terlalut dalam pikiran kesedihanku, aku tidak sadar akan apa saja yang sudah terjadi tadi.
Kutatap kembali Asia-chan, lalu menggeleng pelan. "Tidak usah, Asia-chan, kau saja yang makan. Aku tidak lapar."
"Ta-Tapi, kamu belum makan hampir dua hari ini, 'kan?" Dia bertanya dengan memasang ekspresi khawatir. Nada cemas juga dapat kutangkap darinya.
Memang itu benar, tetapi aku tak peduli. Aku sama sekali tidak memiliki nafsu makan dua hari ini. Aku terus kepikiran kepada Rias-chan yang sudah pergi meninggalkanku jauh, sangat jauh. Bahkan, sampai tidak bisa kugapai lagi. Karena itu, mungkin ini juga sudah memengaruhi kehidupanku.
Terserah. Aku tak peduli walau aku harus mati kelaparan atau apa, mungkin saja … aku bisa bertemu lagi dengannya di alam sana nantinya, 'kan?
Ah, kembali mengingat kepergiannya, membuat dadaku menjadi sesak. Aku sedikit meremas dada kiriku sambil meringis pelan. Mungkin, aku memang belum bisa merelakan kepergiannya yang sangat mendadak ini. Aku kembali teringat, bagaimana raut wajahnya saat itu yang benar-benar dalam keputus-asaan. Aku meratapi kelemahanku pada saat itu yang tidak bisa menolongnya. Aku benar-benar lemah, dan aku membenci diriku sendiri pada saat itu!
Aku dapat merasakan adanya cairan yang membasahi kedua pipiku. Tunggu, aku … menangis?! Kupegang pipi kananku, dan ternyata … aku memang menangis dalam diam. Ha~ah, aku merasa, kalau setelah kepergian Rias-chan ini telah membuatku semakin lemah saja.
—"Ise … -san?"
Aku menghapus kedua air mataku dengan kasar. Sial, aku baru sadar kalau Asia-chan masih ada di sini! Dia pasti melihat kalau aku menangis tadi! Tidak, aku tidak boleh memperlihatkan sisi lemahku di hadapannya. Padahal, aku sendirilah yang terus memberi Asia-chan semangat selama ini, dan jika ia melihatku begini, bukankah itu akan terlihat aneh?
Aku menoleh, kembali menatapnya dengan senyum yang aku yakin terkesan dipaksakan.
Raut wajah gadis itu … entahlah, aku tidak terlalu bisa menggambarkan ekspresi orang-orang. Aku bukan seorang psikolog, kau tahu?
"Kamu … tak apa?" tanya Asia-chan yang tampak ragu.
Aku menunduk dalam, hanya diam, tidak bisa menjawab pertanyaannya barusan.
"Aku …."
—Ah, entahlah. Aku bingung harus berkata seperti apa kepadanya. Tidak ada kalimat yang tepat untuk bisa kuucapkan, kalian mengerti?
Aku meliriknya sesaat yang kini sedang duduk di samping kiriku, di kursi bis ini. Dia meletakkan kantong plastik tadi di antara aku dan dirinya. Aku kembali menatap lantai bis di bawahku. Dapat kudengar embusan pelan napasnya, sangat tenang. Aku tak tahu bagaimana ekspresinya sekarang karena aku masih menunduk.
"Ise-san, aku tahu …, kalau kamu masih memikirkan Rias-san. Aku juga tahu, kalau kamu masih belum bisa merelakan kepergiannya …." Aku hanya diam mendengarkan perkataan Asia-chan. Tidak menyela ucapannya, dan membiarkannya terus berbicara tanpa menanggapi sedikitpun. Ha~ah, menyinggung masalah Rias-chan saat ini benar-benar membuatku sedikit emosional, kalian paham? Kehilangan orang yang kau cintai, bukanlah perkara mudah yang bisa kau lupakan begitu saja, 'kan?
"Eh?!" Aku tersentak, saat kurasakan ada yang menggenggam tangan kiriku. Aku menatap wajah Asia-chan yang sedang tertekuk dengan raut wajah yang tidak kumengerti sama sekali.
"Jangan seperti ini, Ise-san. Kalau kamu seperti ini terus, kamu bisa sakit." Suaranya terdengar lirih. Dan dapat kutangkap sorot mata sedih dari kedua mata hijaunya itu.
Aku sebenarnya senang karena kau masih memperhatikanku, Asia-chan. Terima kasih—
"Relakanlah Rias-san pergi, Ise-san."
Ya—tunggu, apa?! Tidak, tidak, tidak! Kau tidak bisa berkata seperti itu dengan mudahnya saja, Asia-chan!
"Apa maksudmu, Asia-chan?" Setelah sekian lama, aku kembali membuka suara. "Kau tahu, 'kan, kalau aku sangat mencintai Rias-chan?! Kau pikir … mudah untuk melupakan hal semacam ini?!" Aku mengatupkan rahangku erat-erat. Emosiku kembali tidak stabil jika menyinggung hal ini lagi. Aku sedari kemarin sudah mencoba untuk mengalihkan pikiranku tentang Rias-chan, tapi selalu saja ada yang mengungkitnya. Aku mencoba untuk menenangkan pikiranku selama ini!
Tatapanku tajam saat melihatnya hanya terdiam. Dia menggigit bibir bawahnya sesaat, kemudian berkata, "Karena itulah, kamu harus mencoba melupakannya."
"Dengan apa?!"
"Tentu saja dengan mencoba untuk membuka hatimu kepada gadis yang lain!"
Aku bergeming saat mendengar beberapa kata yang dengan mulus keluar dari mulutnya. Aku melepaskan tangan kiriku yang digenggamnya, lalu menutup wajahku. Aku terkekeh pelan. Sungguh lucu sekali ….
"Kenapa ...?"
Aku menatap raut bingungnya. "Ah, bukan apa-apa. Hanya saja …, terima kasih karena kau sudah mau menghiburku, Asia-chan."
"Tunggu dulu, kamu pikir aku bercanda? Aku serius mengatakan hal tadi, Ise-san!" bentaknya.
Aku mengelus surai kuningnya. "Ya, ya. Tak apa, aku senang karena kau sudah berusaha untuk membuatku menjadi lebih baik dari sebelumnya, Asia-chan." Aku menatapnya lembut, juga memberikan sebuah senyum dari bibir pucatku ini.
—Plak!
"Eh?!" Aku tentu terkejut saat tanganku tiba-tiba ditepis kasar olehnya. Dia berdiri dari acara duduknya.
"Sudah kubilang, a-ku se-ri-us …." Dia berkata dengan memberi penekanan di akhir suaranya. Raut wajahnya kembali tertekuk seperti sebelumnya, ekspresi yang sulit kujabarkan kembali muncul disana. "Kamu …, kenapa kamu tidak bisa mengerti ucapanku, Ise-san?!"
"Kenapa kamu masih tetap mempertahankan Rias-san?!" Dia menggeleng lemah. Dapat kulihat satu cairan mengalir dari pelupuk mata kanannya. "Dia sudah tiada. Rias-san sudah mendapat tempat yang indah di atas sana."
Kepalaku menunduk, kemudian menggeleng. Tidak, Asia-chan. Kumohon hentikan, tidak perlu melanjutkannya.
"Aku yakin, Rias-san juga tidak ingin melihatmu dalam keadaan yang seperti ini."
Ah, dadaku kembali terasa sesak. Haah! Napasku terasa berat sekali sekarang. Kurasa, aku harus menghentikan pembicaraan ini. Ini terasa tidak bagus untukku jika terus berlanjut.
"Kenapa kamu terus terpaku pada Rias-san?! Memangnya, apa yang membuatnya begitu spesial di matamu?!"
Tidak, kurasa pembicaraan ini sudah semakin jauh!
"Aku—"
"CUKUP, ASIA-CHAN!" Ah, sial. Aku membentaknya. Aku benar-benar tidak menyangka ini, mungkin … ini pertama kalinya aku membentaknya sekeras itu. Sudah kubilang, 'kan, kalau aku sekarang ini sedikit emosional jika membahas soal Rias-chan? Kepalan tanganku mengerat, menyesali perbuatanku tadi kepada Asia-chan.
Aku mendongak, menatapnya yang juga menatapku dengan kedua mata membola lebar. Tubuhnya kulihat sedikit bergetar—aku tahu, dia pasti terkejut tadi. Kuembuskan napas pelan sebelum berucap, "Maaf, Asia-chan. Aku tak bermaksud …."
"Tak apa, aku mengerti." Dia berpaling ke arah lain sambil mengusap lelehan air matanya yang mengalir di pipi putihnya.
Aku melanjutkan, "Kau tak akan bisa mengerti perasaanku saat ini. Kau tak tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat kau cintai."
"Ak-ku …." Suaranya tercekat.
"Lihat, 'kan? Kau belum pernah merasa kehilangan sepertiku—"
"Aku mengerti perasaanmu—"
"Kau tidak mengerti—"
"AKU PAHAM!"
—Entah sudah keberapa kali aku dibuat tertegun karenanya. Dia menggeleng, raut wajahnya sedih, dan air sungai kecil kembali mengalir keluar dari kedua matanya. Ah, aku tidak suka melihat ekspresinya yang seperti ini. Itu menyakitkan hatiku, mengerti? Seperti, ada sesuatu yang tengah menusuk-nusukku di dalam dadaku ini, ketika aku melihatmu bersedih, Asia-chan.
Dengan kepala yang terus menggeleng, dia bergumam, "Aku paham perasaanmu; ditinggal orang yang kamu sayangi, pasti sangat berat rasanya. Tapi, kumohon … jangan seperti ini terus …." Suaranya kembali lirih, terasa menyayat hatiku. Aku tak tega melihat ekspresinya. "Masih banyak gadis di luar sana dan aku yakin, kamu mungkin bisa menemukan pengganti Rias-san."
Kenapa kau bisa bicara seperti itu dengan mudahnya, Asia-chan?! Sudah kubilang, 'kan? Dia memang tidak mengerti diriku!
"Oke, kita hentikan pembicaraan ini. Aku butuh istirahat dan …" aku berkata dengan pelan. Aku tahu sedari awal pembicaraan ini memang percuma dan pasti tidak akan ada habisnya. Ku-urut pelipisku yang terasa berdenyut-denyut, "… silakan, kalau kau mau melanjutkan makan malammu, aku akan tetap di sini saja."
…. Dia menunduk. Aku tak tahu bagaimana ekspresinya, karena matanya tertutupi oleh poni kuningnya. "Baiklah. Maaf, sudah mengganggu istirahatmu." Dia berjalan pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
Kusandarkan kepalaku ke kursi bis. Pikiranku berkecamuk saat pembicaraanku dan Asia-chan tadi kembali muncul di otakku. Mencari pengganti? Lucu sekali. Memangnya ada yang mau denganku? Aku tidak bisa melupakan Rias-chan karena dialah yang sangat mengerti diriku. Gadis crimson itu … ah, aku kembali menangis saat mengingat wajah kesedihannya kala itu.
Kuusap air mataku, kemudian menatap langit malam lewat jendela bis. Melihat taburan bintang indah di langit membuat suasana hatiku sedikit lebih baik, dibandingkan dengan saat perdebatanku tadi bersama Asia-chan.
Aku menatap kosong langit gelap, menerawang jauh ke atas sana, seakan-akan … aku bisa melihat Rias-chan yang tengah tersenyum ke arahku saat ini. Bagaimana keadaanmu disana, Rias-chan? Apa kau bisa melihat keadaan menyedihkanku saat ini dari atas sana? Aku minta maaf, kalau aku membuatmu harus melihatku yang sedang dalam keadaan seperti ini. Aku merasa bersalah karena belum sempat meminta maaf kepadamu, bahkan sampai di akhir hayatmu. Aku benar-benar kekasih yang buruk, 'kan?
"Haha … ha ha." Aku tidak bisa untuk tidak berhenti tertawa miris. Hidupku benar-benar menyedihkan. Ditinggalkan orang yang sangat kucintai di saat dunia dalam kehancurannya. Kuusap linangan air mataku yang entah kenapa tidak bisa kukontrol agar tidak keluar.
Aku menatap terkejut pada kantong plastik yang tidak sengaja tersenggol tangan kiriku. Aku tersenyum lemah, lalu bergumam, "Dasar. Kenapa Asia-chan lupa membawa makanannya?"
Oh, benar. Dia membawakan ini untukku, 'kan? Aku merasa bersalah karena telah membentaknya tadi, bahkan menyuruhnya pergi. Sebenarnya, apa yang dia katakan tadi itu benar. Aku tidak seharusnya terlarut dalam kesedihan, hingga mengabaikan kesehatanku sendiri. Pasti, Rias-chan juga tidak ingin melihat keadaanku yang seperti ini. Aaah, Asia-chan, maafkan perbuatanku tadi. Apa dia marah kepadaku, ya? Mungkin dengan memakan makanan yang sudah dibawakan olehnya ini, itu bisa membuat Asia-chan sedikit terhibur nanti. Yah, aku berterima kasih karena kebaikannya ini.
Kuambil kantong plastik tadi dan mengeluarkan makanannya. Aku memakannya, mengisi kembali perutku yang sudah kosong sejak dua hari kemarin ini. Aku menyunggingkan sebuah senyum kecil karena memikirkan kebaikan teman masa kecilku itu.
"Terima kasih, Asia-chan. Kau memanglah teman yang baik."
.
.
.
"Aku akan terus mengingatmu, meskipun kita berdua sudah berada di dunia yang berbeda sekali pun, Rias Gremory-chan."—Hyoudou Issei.
"Enggh~" Aku terbangun dari mimpiku ketika gendang telingaku mendengar suara ribut di sekelilingku. Menggeleng pelan adalah apa yang aku lakukan untuk menghilangkan rasa pusingku saat ini.
Kukumpulkan kesadaranku, hingga pandangan buramku tadi berubah menjadi jelas. Aku melihat sekitar, ternyata saat ini kami sedang … dikepung oleh … Zombie?! Tunggu, tunggu, tunggu! Kenapa tidak ada yang membangunkanku?! Aku segera bangkit dari dudukku, lalu berjalan cepat ke bagian depan bis ini. Semua temanku sudah berada di luar.
Kulihat ada banyak Zombie yang tumbang di tanah. Aku tidak tahu sudah berapa lama mereka melawan kumpulan Zombie ini. Aku terus memperhatikan sekitar, hingga netra coklatku terkunci kepada dua Zombie ….
—Yang pertama, memiliki sebuah senjata api di tangan kirinya dan itu menyambung dengan tubuhnya, tercipta dari tubuhnya sendiri. Sedangkan yang kedua, memiliki setangah wajah bagian kiri berbentuk serigala, dan tangan kanannya yang terdapat cakar besar hewan, sementara bagian tubuh lainnya berbentuk manusia normal. Ya, aku tahu jenis mereka, Gunner Zombie dan Animal-Mutant Zombie.
Gigiku bergetak, dan mataku menggelap. Aku sangat membenci jenis keduanya karena gara-gara mereka, Rias-chan … jadi pergi meninggalkanku selamanya …!
Aku merogoh saku celanaku dan mengeluarkan sebuah benda seperti kelereng. Aku mulai berjalan keluar bis dengan amarah yang membuncah. Aku pastikan, akan membunuh kedua jenis Zombie itu!
Kuremas benda seperti kelereng tadi menggunakan tangan kananku. Kepalan tanganku bersinar, sesaat sebelum sebuah Gauntlet Mekanik menutupi keseluruhan tangan kananku, dari ujung jari sampai bahuku. Ini adalah salah satu alat ciptaan terbaru para Ilmuan Jepang, sebuah alat canggih yang bisa digunakan untuk menyimpan senjata Modern-Sihir serta mengeluarkan serangan sihir milik penggunanya, dan alat ini adalah senjata canggih yang pertama kali diciptakan oleh Negara Jepang. Dapat kurasakan ada beberapa kabel kecil yang menancap di pelipis kananku. Ya, kabel ini tersambung dengan Gauntlet Mekanik tadi yang ada di tanganku.
"Hoi, Issei! Apa yang kau lakukan?!"
"Cepat kembali ke dalam bis, Issei-kun!"
"Kenapa tidak ada yang menjaganya di dalam bis?!"
"Maaf, Naruto-san, karena tadi dia masih tertidur, jadi kami …."
"Sudahlah, cepat bawa dia kembali! Ini berbahaya, kau tahu?!"
Aku terus melangkah, mengabaikan teriakan khawatir dari teman-temanku. Tujuanku saat ini adalah untuk menghancurkan kedua jenis Zombie yang telah membuat Rias-chan meninggal. Rias-chan … ah, aku tak sanggup melanjutkannya.
Aku memencet beberapa tombol di layar hologram mengambang yang ada di atas Gauntlet-ku. Tak berselang lama, tercipta sebuah pedang modern di tangan kananku, yang terbentuk dari serpihan-serpihan hologram rusak. Pedang ini merupakan salah satu senjata canggih, yang bisa digunakan juga sebagai sarana untuk menyalurkan dan menyerang menggunakan mana atau energi sihir.
Aku berlari cepat menuju kedua Zombie tadi. Kutebaskan pedangku pada si Zombie setengah serigala, tapi dapat si Animal-Mutant Zombie itu tahan menggunakan cakarnya yang besar.
Mataku semakin menggelap, kabut amarah sudah menutupi kedua penglihatanku. Aku terus menyerangnya secara membabi buta, tidak peduli bagaimana pola seranganku, dan apapun luka yang kudapatkan darinya. Terus menyerangnya tanpa mengurusi di mana titik lemahnya seharusnya berada, ataupun letak serangga yang seharusnya mengendalikan Zombie ini. Aku tak peduli semua itu, yang terpenting adalah, aku bisa menghancurkan kedua jenis Zombie ini!
"Argh!" Sial, aku lupa dengan Zombie satunya. Aku menggeram saat merasakan sebuah timah panas menembus kaki kiriku. Sialan kau, Gunner Zombie!
Duagh!
Aku jatuh terjengkang karena mendapat tendangan dari Animal-Mutant Zombie. Tenagaku terasa habis karena aku mengeluarkan staminaku yang terlalu berlebihan …, dan inilah akhirku. Mungkin aku akan segera menyusulmu, Rias-chan.
Aku menutup mataku, menunggu Zombie itu untuk menusukku—
Jraash!
—tapi aku tidak merasakan apapun. Tunggu dulu ….
"Kau baik-baik saja, Issei?" Aku menatap datar Naruto yang mengulurkan tangannya kepadaku. Kedua Zombie tadi sudah dibunuh oleh Naruto dan Sasuke ternyata.
Aku menepis tangannya. "Pergilah! Aku tak butuh bantuanmu. Dan ingatlah, kalau aku masih dendam kepadamu," ucapku dingin. "Jangan lupa, bahwa kau juga ikut andil dalam kematian Rias-chan, Naruto!"
Naruto mundur perlahan, menjauhiku setelah mendengar deklarasiku barusan. Dia menunduk, dan secara sekilas dapat kulihat bahwa genggaman tangannya mengerat. Tidak perlu menyesali perbuatanmu, Sialan! Percuma, karena itu juga tidak akan mengembalikan Rias-chan untuk hidup lagi.
Aku pun berniat berdiri, tapi tidak bisa. Aku mengerang, merasakan sakitnya luka di kaki kiriku. Kalau begini, aku cuma akan duduk di sini terus! Menyebalkan!
Grep!
"Eh?!" Aku terkejut karena tiba-tiba ada seseorang yang memelukku. "Siapa ini? Cepat menyingkir!"
Bukannya lepas, aku malah merasa dia semakin erat memelukku dan aku merasakan kalau punggungku terasa basah. Tunggu, apa dia menangis?
—"Bodoh!" Suara ini … Asia-chan!
"Kamu memang bodoh, Ise-san! Apa kau berniat mati, hah?!" Ia terisak, dan kurasakan kalau tubuhnya bergetar.
"Memangnya kenapa? Apa itu salah?" jawabku sambil menunduk. "Ini hidupku, terserah aku mau apa." Aku berkata acuh tak acuh.
Aku terkejut saat tubuhku tiba-tiba diputar ke belakang—
Plak!
—dan mataku melebar saat suara tadi masuk ke gendang telingaku, lalu diikuti rasa panas yang muncul di pipi kiriku. Aku … ditampar, dan yang melakukannya adalah … Asia-chan ….
Mulutku terkunci saat melihat raut sedihnya. Kedua mata indahnya … sembab. Terdapat bekas air mata di kedua pipinya. Apa dia menangis semalaman? Apa karena kejadian semalam? Aku tak bisa memaafkan diriku, jika memang karena akulah yang membuatnya jadi seperti ini.
"Asia—"
"Kamu bilang 'kenapa?', hah?! Kamu tidak memikirkan perasaan teman-teman kita yang lain?!" Air matanya kembali turun. "Sudah cukup kami kehilangan banyak teman, dan kamu juga ingin pergi?! Kamu egois, Ise-san!" Dia duduk bersimpuh di depanku, dan mulai memukuli dadaku secara lambat.
"Aku memang egois, jadi biarkan keegoisanku ini untuk yang terakhir kalinya," lirihku. Kupegang kedua pundaknya lalu kudorong, menjauhkannya dariku. "Aku sudah kehilangan kedua orang tuaku di bencana ini, lalu Rias-chan juga. Aku …, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi, Asia-chan!"
Aku menangis, mengeluarkan semua beban yang kurasakan selama ini dalam bentuk lelehan kesedihan yang selalu kupendam sendiri selama ini. Aku tidak peduli bagaimana tanggapan teman-teman kami yang lain, saat mereka melihat kami berdua tengah berada dalam keadaan seperti ini.
"Kamu tidak sendiri …." Aku terkejut tatkala tanganku digenggam olehnya. Pandanganku beralih kepadanya yang tersenyum kecil. "Kamu masih memiliki kami. Kita semua adalah teman."
Aku menatap dalam pada mata indahnya. "Kau benar, kita semua 'hanya' teman …." Aku melepaskan genggamannya, kemudian memaksakan diriku untuk berdiri—tidak peduli pada kaki kiriku yang terasa amat nyeri sekali. Aku menatap semua teman-temanku dengan serius. "Jadi, kalian tidak berhak mengatur hidupku!" Aku berteriak keras, mengabaikan ekspresi mereka semua yang berbeda-beda ketika menatapku.
"Ise-san!"
"Walaupun aku mati juga tidak akan ada yang menangisiku. Aku sudah kehilangan orang-orang yang mencintaiku!" Keluargaku, Rias-chan juga …. Aku tak punya siapa-siapa lagi sekarang. Aku sudah memikirkan hal ini dari kemarin-kemarin. Ya, lebih baik aku mati untuk menemui orang-orang berhargaku disana.
"Tentu saja ada yang sedih!"
Aku diam sesaat. "Siapa?"
"Aku!" Aku menatap Asia-chan yang mendongak. Matanya menunjukkan ketegasan. Tatapannya seperti bisa meruntuhkan pertahanan hatiku kapan saja.
Aku menggeleng lemah. Kakiku terasa lemas yang kemudian membuatku terduduk kembali. "Kenapa?"
"Kita sudah berteman sejak kecil, Ise-san. Aku mengerti seperti apa kamu ini. Aku tahu, mungkin berat bagimu untuk merelakan kepergian Rias-san. Tapi percayalah …" aku menatap wajah Asia-chan yang tersenyum cerah. Aku kembali tertegun dibuatnya, "… Rias-san juga menginginkan yang terbaik untukmu!"
Deg!
Untuk sesaat, aku merasa kalau jantungku berhenti berdetak. Tubuhku menegang mendengar perkataannya barusan. Pikiranku kembali melayang jauh …, tepat beberapa hari yang lalu, saat aku dan Rias-chan mengucapkan janji itu ….
.
..
"Ise-kun, mari berjanji …, kalau ada salah satu di antara kita yang meninggal dalam bencana ini, maka kita tidak boleh ada yang terlarut dalam kesedihan dan harus terus maju ke depan, kamu setuju?"
"Tidak, tidak, tidak! Tidak akan ada yang meninggal. Kita semua akan selamat, percayalah!"
"Ise-kun, kita tidak tahu bagaimana takdir kita ke depannya. Jadi, mari berjanji!"
"Ta-Tapi, Rias-chan …."
"Issei!
"Ha~ah, baiklah. Aku berjanji!"
"Baguslah, aku juga berjanji!"
..
.
…. Beberapa untaian kalimat itu, adalah kenangan yang aku dan Rias-chan miliki. Benar, aku sudah berjanji kepadanya. Dia pasti akan sedih melihatku yang ingin mengingkari janji kami berdua.
"Terima kasih, Asia-chan." Aku merasa, kalau beban di hatiku sedikit berkurang berkat kenangan milikku dan Rias-chan tadi yang kembali muncul di ingatanku. Tapi ….
—"Maaf, tetap saja, aku merasa …, kalau aku tidak pantas untuk terus hidup."
"Kenapa?" Wajah Asia-chan yang awalnya senang, kini berubah ingin menangis. "Kenapa kamu sampai bersikeras seperti ini?!"
"Aku tadi kan sudah bilang, 'Sudah tak ada lagi orang yang menyangiku di dunia ini'! Mereka semua telah meninggal, pergi jauh ke sisi lain dari duniaku sekarang." Aku menggeleng lemah, tak sanggup berbicara lagi.
"Kamulah yang salah, Ise-san." Asia-chan menangkup kedua pipiku. Senyuman tulusnya membuat hatiku bergetar. "Masih ada aku di sini. Aku menyayangimu, dan aku mencintaimu. Aku … akan terus berusaha, agar aku bisa selalu di sisimu, Ise-san."
Mataku melebar saat mendengar itu. "A … -Apa? Kena ... pa?" Aku tidak mengerti, kenapa dia bisa berbicara seperti itu? Maksudku, bagian apa dari diriku ini yang bisa membuatnya tertarik kepadaku?
"Kita sudah berteman lama sejak kecil. Aku mengenal dirimu, bahkan melebihi dari siapa pun juga. Aku mengerti, kamu sangat mencintai Rias-san, dan aku sangat senang saat aku melihatmu bahagia. Tapi melihatmu belakangan ini yang terus bersedih, itu juga membuat hatiku sakit. Terasa menyayat di dalam sini, katika aku melihatmu bagaikan boneka tanpa kehidupan karena keterpurukanmu ini, yang diakibatkan oleh meninggalnya Rias-san."
Asia-chan …, aku tak pernah tahu, kalau kau punya perasaan seperti ini terhadapku. Tadi malam, Asia-chan berkata kalau aku harus mencoba membuka hatiku kepada gadis lain. Jadi, apa dia bermaksud untuk mengisi kekosongan hatiku saat ini? Aku kembali tersadar saat Asia-chan kembali bersuara ….
"Mungkin, aku tidak akan bisa menggantikan posisi Rias-san yang berada di urutan pertama hatimu. Tapi, aku akan berusaha agar aku bisa terus tetap berada di sampingmu, Ise-san!" Hatiku kembali bergetar saat mendengar perkataan tegasnya. "Jadi, izinkanlah aku untuk mendampingi hidupmu di kemudian hari, dan kumohon dengan ini … bisakah kamu menjadi Ise-san yang seperti biasanya?"
Mendengar perkataannya yang penuh akan makna tersirat itu, benar-benar membuatku bergeming; tak bisa berkata dan tak bisa melakukan apa-apa.
"Sekali lagi, terima kasih, Asia-chan."
Mungkin hanya satu baris kalimat itulah yang dapat kuucapkan. Beban yang kubawa tiga hari ini terasa menguap begitu saja, dan … ah, entahlah. Intinya, aku merasa, kalau tubuhku menjadi sedikit lebih ringan dari sebelumnya. Pernyataan secara tidak langsungnya itu, benar-benar sudah membuka pikiranku yang kacau selama beberapa hari terakhir ini.
Kuciptakan senyuman kecil untuk Asia-chan. "Mungkin, aku bisa mencobanya terlebih dahulu," kataku kepada Asia-chan. Gadis kuning itu tersenyum lebar setelah mendengar balasanku.
"Tunggu dulu!"
"Hm?" Aku bingung kenapa Asia-chan menghentikanku ketika aku mau bangkit berdiri.
"Aku akan mengobati lukamu dulu."
Ah, benar! Aku bahkan hampir melupakan luka di kaki kiriku akibat terkena timah panas tadi. Aku hanya diam, membiarkan Asia-chan yang menyembuhkan luka-ku menggunakan Healing Magic miliknya. Aku mendongak, menatap langit pagi hari. Cahaya mentari pagi menyelimuti kami dalam kehangatan, saat hati kami semua telah membeku karena hidup di dunia yang telah berakhir ini, yang diakibatkan oleh wabah Zombie mematikan.
Aku menerawang jauh ke atas sana.
Maaf, Rias-chan, untuk sesaat, aku bahkan hampir melupakan janji kita. Aku memang bodoh, 'kan? Tapi berkat Asia-chan, aku kembali mengingatnya. Aku memang tidak akan bisa melupakanmu, sampai kapan pun itu. Tidak peduli meskipun kita sudah berbeda dunia sekalipun, aku akan tetap mengingat semua hal yang telah kita lalui bersama selama satu tahun terakhir ini.
Cinta kita memanglah cinta yang singkat, tapi perasaanku ini kepadamu akan terus mengalir selamanya.
Aku akan berusaha untuk terus hidup di sini, bersama teman-teman yang lain, terutama bersama Asia-chan yang sepertinya memiliki perasaan yang sama sepertimu terhadap diriku.
Aku tersenyum mengingat semua kegiatan yang aku dan Rias-chan miliki. Aku juga kembali mengingat kejadian ketika aku dan Asia-chan masih kecil dulu. Semua kenangan itu sangat berharga bagiku. Segala memori yang tidak akan pernah tergantikan.
Terima kasih, karena sudah membiarkan diriku ini masuk ke dalam duniamu. Kaulah gadis yang sangat aku cintai, Rias Gremory. Dan untuk Asia Argento, mungkin dengan keberadaanmu yang semakin dekat denganku nanti, lembar-lembar baru indah itulah yang akan mengisi kehidupan kosongku saat ini.
Terima kasih kepada kalian berdua, Gadis-gadis yang sangat berharga di hidupku ….
END!
[Author Note]:
Cerita ini hanyalah hasil remake dari cerita sebelumnya yang berjudul [Side Story From "A Havoc": Hyoudou Issei], yang dibuat untuk mengikuti event #Hurt/ComfortFI2020 tanggal 1 sampai 7 Juli kemarin. Yah, sebenernya udah lama aku ingin me-remake cerita ini karena aku sendiri kurang puas dengan hasil yang pertama, dan akhirnya baru kesampean sekarang. Kenapa aku remake? Karena versi sebelumnya bukanlah ide asli yang seharusnya aku buat untuk aku masukkan ke cerita ini. Yah, anggep aja kalau itu cuma ide dadakan dikarenakan tuntutan word yang tidak boleh lebih 3k. Begitulah, ahaha.
Sebelum aku akhiri, silakan bagi reader atau author yang berminat untuk gabung grup WA Fanfiction Indonesia. Kami selalu mengadakan event-event kepenulisan seperti ini dan tentu saja ada hadiahnya, serta di sini kami juga memberi materi-materi tentang kepenulisan.
Bagi yang berminat bisa hubungi saya lewat PM, atau mungkin bisa langsung PM ke Pak Bos Besar FI, [FI. Eins-Zwei/FI. BijiBapakMu].
Tertanda. [Abidin Ren]. (3/Juli/2020).
[Remake!] (20/November/2020).
