Reset This Rain Someday
Disclaimer: DMM.
Warning: OOC, typo, gaje parah, sequel metornom, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, dan untuk event bunalember 2020.
Day 19: Flower
Day 20: Rain
Dazai Osamu akan pergi setiap langit mengubah wajahnya menjadi abu-abu kusut yang muram, seperti sekarang ini yang hari serta tanggalnya sudah berhenti Dazai hitung.
Nada denyit dari pintu yang dibuka adalah lagu sebelum hujan menjadi irama. Dazai tak disambut apa pun, kecuali jalanan kosong yang debu-debunya beterbangan. Tanpa berpamitan kepada siapa pun yang seperti hilang arah, Dazai siap berangkat menjemput destinasi yang sudah dihafalnya. Ia menginginkan toko bunga. Ia akan mengharapkannya setiap lara memberikan abu-abunya kepada langit, dan kini hampir setiap hari terjadi.
"Oi, Dazai. Kalo udah mau berangkat, kenapa gak bilang-bilang? Kami bisa mengantarmu seenggaknya."
Netra yang mula-mula warna emasnya kusam dan kosong itu, kini terisi oleh suara yang memanggilnya dengan tergesa-gesa. Dazai menatap kaget pada Sakaguchi Ango yang terengah-engah. Di belakangnya Oda Sakunosuke mengekori yang juga kehabisan napas. Dazai mengerjap-ngerjap yang belum memahami apa yang menimpanya, pada kedua sahabatnya.
"Odasaku? Ango?"
"Mau diantar enggak? Minimal bawa payung harusnya," balas Oda yang sudah menyejajarkan posisi berdirinya dengan Ango. Langit makin mengkhawatirkan mereka. Bukankah sebaiknya Dazai menundanya sehari saja?
"Diantar, eh? Diantar, ya."
"Gimana kalo besok-besok aja? Bunganya gak bakal ke mana-mana, kok." Saran dari Ango disetujui oleh Oda. Bingung masih memandangi keduanya, membuat baik Oda maupun Ango meneguk ludah terbayangkan skenario terburuknya.
"Tapi langitnya mendung."
"Justru karena langitnya mendung, belinya besok-besok aja. Daripada Dazai-kun kehujanan."
Rasa-rasanya Dazai terlihat tidak memahami perkataan Oda. Pada akhirnya Dazai sekadar memaksakan seulas senyum, dan berlari menuju gerbang yang tertutup. Ango dan Oda masih mengejar. Namun terlambat ketika Dazai menjadi kejauhan lebih cepat. Payung di tangannya Oda remas. Seruan bahwa nasib mereka begitu payah Ango utarakan penuh amarah.
"Kali ini ayo kita kejar. Jika begini terus bisa-bisa Dazai–" Usulan yang menggebu-gebu dihentikan oleh kelembutan yang menepuk pundak Ango. Mereka mengenali kimono itu, juga senyumannya yang akhir-akhir ini melemah akibat sakit-nya semakin lebih.
"Akutagawa-san?" panggil Oda yang tidak kalah terkejut. Ia menggeleng-geleng. Mata Ango membeliak seolah-olah ingin menumpahkan darahnya yang sudah mendidih. Giginya pun menggelutuk keras.
"Dazai-kun hanya membeli bunga, bukan? Kenapa harus dihentikan?"
"Hanya membeli bunga apanya?! Kalo sesekali emang gak masalah, tapi ini ... lupakan. Kami enggak akan ikut campur. Itu, kan, yang kau inginkan? Jangan menyesal."
Melalui isyarat tangan Ango mengajak Oda kembali ke perpustakaan, sementara Akutagawa masih terpaku di tempatnya berdiri. Membayangkan punggung Dazai yang entah berada di mana sekarang. Tiba-tiba Akutagawa merasa seseorang menggenggam pergelangan tangannya. Menarik ia pergi yang ternyata adalah Ango. Bahkan Oda menunggu di depan pintu agar ketiganya masuk bersamaan.
"Dikira kami gak tau apa? Meski kau bilang gak perlu khawatir, sebenernya di sini kaulah yang paling cemas sama Dazai."
Penulis Rashomon itu sudah tidak bisa berkata-kata. Namun, senyumannya yang berhenti membayangkan Dazai kini lebih memiliki bentuk, seolah-olah sosok yang hanya mengemari Akutagawa tersebut merupakan alasan dari sakit yang Akutagawa eja selama ini. Lalu itu benar dan menjadi masalah bagi Akutagawa.
Memang benar Dazai telah menyakitinya, tetapi setiap Akutagawa berhenti sejenak di luar gerbang untuk membayangkan Dazai yang beberapa waktu belakangan selalu berlari, dibandingkan menginginkan Dazai pergi Akutagawa justru menunggu Dazai kembali, dan melukainya saja.
Keramaian kota justru terasa menyilaukan Dazai. Kesadarannya bukanlah apa-apa di tengah hiruk pikuk yang berdiri sendiri-sendiri ini, tetapi bagi sebuah top hat yang disodorkan kepada Dazai, ia yang mengawang pun begitu berarti.
Wajah memelas anak itu mendorong Dazai untuk menyedekhkan sekelumit uangnya, tetapi bukan semata-mata karena Dazai kasihan, melainkan akhir-akhir ini ia selalu berharap orang yang tak dikenalinya tersenyum. Tanpa mengunjungi tempat di mana harum roti menguar, atau membeli minum di kafe yang halaman depannya tengah disapu seorang gadis, Dazai langsung menuju toko bunga yang dijaga ibu-ibu beranak dua.
"Permisi! Aku mau membeli bunga yang biasa."
Permintaan tersebut dibalas hening yang rasa-rasanya jernih, seperti belum disentuh cukup lama. Penjaganya mungkin ada urusan. Dazai memutuskan berkeliling, sampai anak lelakinya yang seumuran Dazai meminta maaf atas keterlambatannya. Menawarkan untuk merangkaikan bunga yang biasa Dazai beli.
"Bagaimana perasaanmu hari ini?" tanya anak lelaki berparas manis tersebut. Dazai hanya memperlihatkan senyumannya yang biasa, dan itu memang biasa yang artinya bukanlah yang selalu terlihat dalam keseharian, melainkan
"Baik, kok."
"Setiap hari membelikannya bunga apa tidak terlalu melelahkan? Wajahmu pucat."
"Eh ... masa? Tubuhku segar gini padahal. Kurang berotot aja."
Dazai bersikap seolah-olah memperagakan ototnya. Sulung dari ibu beranak dua itu tertawa. Satu mendung berhasil Dazai ubah menjadi sinar matahari, dan ia juga senang telah mendapatkan bunga yang dimaksud. Kegembiraan yang tampaknya kurang berarti banyak, karena di luar toko bunga tersebut semua-muanya luntur menuju kehilangan masing-masing.
Kesenangan pertama dijemput oleh kehilangan yang pertama. Kedua, ketiga, begitu pun seterusnya, tetapi belum melihat yang kesepuluh pun, Dazai sudah harus selesai menatap kebahagiaannya yang sedikit sekali.
Di tengah perjalanannya Dazai membantu seorang kakek-kakek menyeberang. Beliau juga tersenyum sebagai tanda terima kasih, tetapi belum cukup.
Anak kecil yang tersesat dan menangis kencang. Remaja berseragam SMA yang ban sepedanya kempis. Pria dewasa yang kehilangan dompet kulitnya. Siapa pun yang kesulitan Dazai bantu sambil membawa-bawa buket bunga ini. Mereka semua juga tersenyum, walau akhirnya sekadar terasa menghampakan Dazai. Bukan ini yang Dazai inginkan atau cari, tetapi Dazai tak tahu yang ia inginkan atau ia cari.
Dia sendiri ingin ke mana? Buket lily putih di genggamannya bertanya seperti itu kepada Dazai. Langkahnya yang menyongsong arah baru sayang sekali belum menjawab keheranan tersebut. Apa yang bisa dimaknai dari pandangan yang melihat sebuah kejauhan
Selama berjalan sekiranya Dazai berpikir, ia kurang banyak membuat orang-orang tersenyum hari ini. Aktivitas baru Dazai, semenjak sebenarnya ia tahu apa yang ia cari serta inginkan, tetapi kedua hal tersebut seolah-olah hilang sebelum Dazai temukan, sehingga apa yang ia inginkan dan cari seperti ketiadaan semata.
"Ingat? Kau delving ke buku ... dan terluka parah. Serangan taint mempengaruhi ingatanmu."
Beberapa bulan lalu kepala Dazai pernah sangat pusing. Tadi itu adalah suara dari Ango yang baru berkenalan dengannya tadi pagi. Ango orangnya berisik, tetapi dia baik dan asyik diajak mengobrol.
"Tenang aja, Dazai-kun. Bener kata Ango. Kau pasti bisa mengingat ..."
Lalu yang satu ini milik Oda. Lebih kalem dibandingkan Ango yang membara. Rasa-rasanya seperti memiliki sosok ibu yang lembut, dan pandai memanjakan rasa.
"Aneh sekali melihatmu melupakanku. Cuma lebih aneh lagi menemukanmu melupakan ..."
Ingatan-ingatan itu tidak memiliki waktu yang jelas, kapan mereka lahir dari mulut Ango dan Oda, atau kapan menyelesaikan dirinya yang rumpang? Siapa yang bilang Dazai begitu aneh ia lupa, mungkin karena Dazai belum berkenalan dengannya. Baru-baru ini dirinya paham bahwa ia hanya akan belajar mengingat, apabila orang-orang di perpustakaan tersebut menyebutkan sebuah nama.
Nama itulah yang Dazai cari dan inginkan. Lama-kelamaan pula Dazai mengingat dengan sendirinya ia pernah memiliki halte bus, pemakaman yang terbengkalai, batu-batu yang melukai kepalanya, sampai toko musik di mana ia membeli metronom.
"Mungkin aku harus pergi ke sana agar tau, bunganya harus diletakkan di mana."
Akan tetapi di halte itu dan ketika Dazai menaiki bus-nya, jendela yang ia perhatikan ini memperlihatkan dirinya yang mempertanyakan nasib. Nasib yang banyak sekali yang semuanya terasa asing, tetapi yang paling kontras adalah dua orang yang tak boleh berada dalan satu naungan, karena satunya lagi merupakan taint.
"Jadi aku mencari taint, begitu? Buat apaan, ya? Taint pasti udah dibasmi."
Hanya saja Dazai tetap menjelajah. Lelaki harus berani, ucap seorang wanita yang juga menanti seperti Dazai. Menunggu suaminya pulang ke kampung halaman mereka. Kuburan terdekat adalah belok kanan, dan jalannya terlalu sempit untuk dilewati bus. Dazai masuk ke dalam. Ia merasa jiwa yang pergi maka pulangnya ke sini. Mungkin pada akhirnya bukan senyuman yang harus Dazai cari, karena darahnya benar yang Dazai cari dan inginkan sudah meninggal.
"Di sini aku pernah memanggil namanya, ya. Gimana rupa taint itu sampai aku akrab sama dia?"
Satu per satu nama yang tercatat di atas nisan Dazai perhatikan. Namun, saking luasnya kuburan ini Dazai tersesat. Benaknya mengalami dejavu yang berat, seolah-olah semua ingatan tentang ia yang menangis dalam bisu, lalu ada suara-suara aneh yang berkata Dazai iri? Dendam? Dia bingung sekaligus takut sekali. Semua sangat pepet dan berebut agar menjadi yang pertama Dazai ingat, tetapi Dazai justru merasa "mereka" tak penting.
"PERGI, PERGI, PERGI! AKU YAKIN ORANG ITU GAK ADA DI TEMPAT INI. DIA PASTI BERADA DI SEBUAH TEMPAT, DI MANA PAS AKU BERADA DI SANA INGATANKU TENANG."
Semua itu tidak penting karena terlalu banyak. Jika perasaan terlampau melimpah justru tiada artinya. Lama-kelamaan semua sebatas kehilangan makna. Untuk apa diciptakan jika akan Dazai buang? Lebih baik hanya satu yang ada dan jelas, bukan, apakah baik atau buruk?
Hanya satu hal yang harus ia mengerti, bahwa tujuannya hanyalah mencari rumah di mana orang tersebut bisa pulang, dan Dazai akan meletakkan bunga ini. Ia benar-benar menemukan kota yang merupakan asal dari metronom di kamarnya. Berjalan begitu saja menuju suatu padang rumput. Matanya berkeliaran mencari tempat yang sekiranya baik, tetapi lagi-lagi sekadar bising yang melihat Dazai.
"Kenapa selalu berisik, sih ...?" batin Dazai memperkuat cengkeramannya pada buket bunga lily. Apa arti dari perasaan-perasaan ini sebenarnya? Kenapa di padang yang sepi pun Dazai tetap mendengar berisik di dalam kepalanya?
Selalu saja Dazai mengingat orang yang ia cari dan inginkan itu ada dua. Satunya lagi taint. Satunya memang yang asli. Begitulah yang tertanam sejak Dazai mampu mengenang. Mereka bukanlah kembar. Dia yang sungguhan tersebut, menciptakan dirinya yang lain untuk menerima dan memahaminya, tetapi Dazai tetap gagal mengartikan apa yang ia katakan.
Dazai menjabarkan seperti itu, sebab kata-kata yang ia terima dan menerima Dazai ini sehingga kembali menyinggahi benaknya, berbentuk demikian tanpa Dazai sentuh-sentuh lagi.
Rasa-rasanya seperti menuliskan cerita yang disukainya sejak lama, tetapi ketika selesai dan dibaca ulang, Dazai tak mengerti kenapa kata-katanya begini, atau benarkah harus begitu? Pandangan Dazai tahu-tahu sesak. Air matanya serak menyebabkannya tertahan dalam kepedihan. Tidak bisa keluar. Meronta-ronta ingin pergi, dan semakin sakit kian Dazai berharap untuk meneteskan beberapa kesedihan; sesekali saja, ia mohon.
Dazai memohon. Memohon, dan hanya memohon. Atau sekiranya biarkan pertanyaannya dijawab, mengapa ia tak boleh menangis?
Apakah dia yang Dazai lupakan tersebut jahat? Jika benar baik, kenapa orang ini membuatnya ingin menangis, tetapi dia juga yang menahannya supaya mata Dazai tegar?
Ketika benci memekikkan hatinya, hanya Dazai yang kesakitan. Saat Dazai kasar terhadap ingatan-ingatan tentang taint itu yang mengejar-ngejarnya, tetap Dazai yang kepayahan. Apa pun hal buruk yang Dazai katakan mengenainya pasti melukai Dazai. Namun, jika begini bagaimana Dazai mau mengatakan hal-hal baik? Salah dia yang menyiksa Dazai, setiap Dazai memiliki perasaan terhadap sang taint.
"Dazai-kun ..."
Seulas kelembutan memanggilnya perlahan. Kedua tangan Dazai yang menutupi telinganya dilepas oleh pengunjung putus asa itu; Akutagawa Ryuunosuke yang asli yang juga pernah menemukan Dazai di sini. Tanpa susah payah Akutagawa mengajaknya pulang. Suka atau benci mereka harus menaiki bus, lalu di sepanjang perjalanan hujan seolah-olah mengantar keduanya pulang, atau lebih tepatnya Akutagawa saja yang tahu ia pulang.
"Untunglah belum hujan. Bisa-bisa kamu sakit."
Ujung-ujungnya justru Akutagawa yang tidak tahan untuk menyusul Dazai. Sekarang Akutagawa pun mencoba mengulurkan tangannya. Bertahan dalam keramahan yang tak boleh lelah itu walau ingin luruh, hingga Dazai beralih dari jendela. Kembali mendapati Akutagawa sebagai si wajah samar yang menakutinya.
"Namaku Akutagawa Ryuunosuke. Salam kenal, ya. Semoga untuk seterusnya ... kau mengingatku ... kita bisa berteman baik."
Meski bagi telinga Dazai ia tidak mendengar apa-apa, sehingga mengira dirinya berhalusinasi. Mengabaikan uluran tangan Akutagawa yang tak pernah terbiasa dicampakkan. Setibanya di perpustakaan Dazai langsung berlari menuju sebuah meja kosong. Meletakkan buket bunga yang ia beli di atas sana, entah kenapa, tetapi Dazai merasa harus melakukannya dan ia benar-benar tersenyum.
"Di sini enggak terlalu berisik. Artinya selama ini kau pulang ke sini, dong? Buat apa aku muter-muter kota, ya, hahaha ..."
Ango dan Oda yang melihat Akutagawa ditinggalkan langsung begitu saja mengajak Dazai ke ruang makan. Bahunya sempat ditepuk Kikuchi Kan, tetapi tidak ada semangat yang menyalakan hati Akutagawa, dan semakin redup meredup tatkala membawa bunga dari Dazai ke kamarnya. Ia ditemukan lagi oleh bunga lily yang rata-rata layu, walau tersisa yang masih segar.
"Memang benar dia sudah meninggal, tetapi aku belum, lho. Namun, dukamu kuterima, Dazai-kun."
Setiap Dazai keluar dan mendadak membeli bunga, ia pasti menaruhnya di atas meja yang biasa dipakainya dengan Akutagawa taint untuk membahas Rashomon. Sekarang tempat tersebut adalah favorit Akutagawa, sekaligus untuk mengenang sahabat baiknya, dan jika Dazai tetap meletakkannya di sana … bukankah wajar Akutagawa sakit? Bukankah wajar jika Akutagawa merasa, dialah yang Dazai anggap telah meninggal?
"Selalu hujan, ya, di sini. Semoga suatu hari nanti cerah, Dazai-kun."
Apabila Dazai ingin tahu pula, kenapa tangisannya tidak sanggup menangis? Sebab di kamar Akutagawa hujan tiada pernah reda, dan hujan ini menggambarkan air mata Dazai yang diam; tertinggal di sini dalam lily. Sebelum menutup pintu kamarnya menuju ruang makan, Akutagawa tersenyum sekilas. Semoga suatu hari nanti Dazai menjemput semua ini, menangis sepuas-puasnya karena Dazai pun berhak lega.
Lega, sekalipun ia tidak pernah menemukan Akutagawa taint lagi atau mengingat siapakah Akutagawa Ryuunosuke.
Pemikiran Akutagawa hanyalah sesederhana dan serumit, bahwa jika sekarang-sekarang ini Dazai mulai mengingat perasaan-perasaannya di masa lalu untuk Akutagawa taint, andaikata ia menangis nantinya, bukankah perasaan-perasaan itu akan hilang sepenuhnya sebab dibuang melalui air mata?
Maka, Akutagawa ingin memimpikannya mulai sekarang. Sebelum segalanya utuh Dazai akan menangis. Pasti menangis. Mengalami sebuah reset, macam ingatannya yang reset setiap hari. Karena jika tidak …
Sekali pernah melupakan dan mengingatnya lagi, tidak akan ada lupa yang kedua kalinya. Menyakitkan sekali harus memercayai itu.
Tamat.
A/N: Ah ya ... aku juga tau fic ini sangat gaje wkwkw. entah gimana mendadak pen bikin sequel metronom, tapi kurasa ini bukan sequel yang diharapkan deh. harusnya dzi move on dr aktgw, tapi dia malah kek org sakit jiwa gini wakaka. soal ingatan yang setiap hari reset itu aku masih terinspirasi dari doujin DaAku BSD buatan niboshi. itu ide yang selalu enak buat dipake, meski ya aku udah mulai jarang make juga. ide buat tema flower emang terbatas banget sih kuakui. terus juga daripada susah, aku gabungin aja sama prompt buat besok.
Thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. mari bertemu lagi di fic hbd kume (kalo aku slse bikin).
