Memiliki Tanpa Pernah Memiliki

Disclaimer: Asagiri Kafka & Harukawa Sango.

Warning: OOC, typo, gaje, dll.

Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini, dan semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi.


Happy DaKyou day!


Hari ini, pemuda yang duduk di sampingnya itu memiliki mata yang setengah terpejam. Mulutnya sesekali lebar dan mengeluarkan uap yang lelahnya pekat. Kepalanya pun bergoyang-goyang dengan dagu nyaris menabrak laptop. Tersentak, tatkala menyadari ia nyaris tertidur.

Atensinya itu ia jabarkan dengan saksama, seolah-olah Izumi Kyouka menemukan pemandangan menarik yang menyegarkan hati dari setumpuk laporan. Pemuda yang menjadi ceritanya ini adalah Dazai Osamu. Tampaknya semalam ia kekurangan tidur, sengaja begadang untuk bermain gim atau mengobrol santai, mungkin? Meski bisa jadi murni insomnia. Namun yang pasti, kondisi Dazai jelas memprihatinkan.

"Ada apa, Kyouka-chan? Daritadi melihat ke arahku terus."

Usai merekahkan kata-kata, bibirnya turut mengembangkan seulas senyum. Menjadi satu-satunya bagian yang justru paling letih. Kyouka menggeleng gugup. Pikiran-pikirannya mengenai apa yang sekiranya menyebabkan Dazai begitu berat, terhempas entah ke mana. Ia sudah begini sejak kemarin. Selalu saja terhenti setiap Dazai yang menanyakan kabar mendahului Kyouka.

"Lagian aku mengantuk, karena semalaman bermain gim. Seru banget, lho, kayak tembak-tembakan~ Kyouka-chan mau ikut bermain? Sebenarnya aku ingin mengajak Kunikida-kun, tetapi dia mana mau, ya, hahaha ... lupakan saja ideku barusan."

Dalam satu kali berbicara Dazai langsung menaruh kalimat yang sangat banyak. Kedua tangan Kyouka mengepal merasa tak berdaya. Kembali bersandiwara dengan laporannya. Berpura-pura, selama ia terus memikirkan semua kata-kata ini agar tetap berada di dalam kepalanya: mengenai Dazai, dirinya sendiri, juga agensi tempat mereka bernaung.

Sebenarnya Kyouka tahu penyebab Dazai tampak menyedihkan. Sebenar-benarnya pula Kyouka tahu, Kunikida Doppo yang Dazai maksud sudah tiada. Demi menyelamatkan rekan-rekannya ia terjun dari helikopter, guna mencegah musuh mengejar. Yang terjadi sudah menumpuk di sana-sini. Maka wajar Kyouka banyak pikiran, ditambah lagi ia teringat, bagaimanakah Dazai menolongnya ketika ujian masuknya.

Sebelum menjadi anggota Agensi Detektif Bersenjata seperti sekarang, dulu sekali Kyouka pernah bimbang yang semua-muanya teramat gelap. Kehidupannya limbung, di mana ia pasrah untuk menerima hukuman matinya dalam helikopter. Tidak apa-apa, Kyouka pikir, jika itu dapat menebus dosanya yang telah membunuh 35 orang.

Pada akhirnya cahaya yang Nakajima Atsushi berikan tidak cocok dengannya. Setiap terang yang Kyouka lihat pasti menjadi hitam, jika putih itu menyala-nyala di hadapannya. Bahwa Kyouka mendapatkan kegelapan ini, sebab dirinya tak pantas memiliki apa-apa. Apa pun yang diberikan kepadanya pasti dihilangkannya, tetapi lebih banyak yang menghilang saat Kyouka akan menjaganya. Enggan menjadi kepunyaan Kyouka daripada lenyap dalam kekelaman tanpa sadar, kah?

Tiada yang memercayainya. Yang Kyouka dengar hanyalah gemercik bisunya yang kata-katanya mengalami kekeringan. Yang Kyouka lihat adalah pemandangan yang gelap dan terasa muram. Tatkala ia menarik napasnya jua, bukan kehidupannya yang dirasakannya, melainkan sesak yang membakarnya dengan bara api–bukan semangat, kepercayaan diri, atau apa pun untuk hidup itu sendiri.

Tidak ada yang ingin menjadi milik Kyouka, kecuali Dazai yang tahu-tahu mengulurkan kata-katanya begitu saja agar Kyouka berjuang. Banyak yang belum Kyouka ketahui tentang dirinya sendiri, agensi. Manusia hanya memiliki hak untuk bimbang. Kenapa jika pernah membunuh 35 orang? Kyouka membuktikan dirinya mampu menyelamatkan Yokohama. Semua dari Dazai itu masih Kyouka punyai secara utuh.

Oleh karenanya, sekarang ini Kyouka ingin menolong Dazai. Membalas budi atas apa yang pernah ia perbuat, sehingga dapat membantu mempertahankan agensi. Namun terjadi kebalikannya. Permen yang biasa Edogawa Ranpo bawa ke mana-mana, Dazai berikan kepada Kyouka. Bahkan Dazai membukakan bungkusnya gara-gara Kyouka diam terus. Menyuapi kembang gula rasa stroberi yang akhirnya Kyouka terima, walau agak segan.

"Hehehe~ Begitu, dong. Kalau Kyouka-chan tersenyum, kan, jadi lebih cantik."

Mungkin bentuknya aneh, sehingga Dazai tertawa agak lepas, tetapi ia bahagia telah diberikan permen yang enak. Kyouka ingin berterima kasih. Berkata pada Dazai, ia terlihat lebih baik, sebab ketika bergerak begitu manis, dibanding diam saja yang terkesan kecut. Namun, mengapa suaranya tetap hilang? Padahal kali ini Kyouka benar-benar memiliki sesuatu.

"KYOUKA-CHAN! BERTAHANLAH, KYOUKA-CHAN!"

Suara Dazai berubah menjadi teriakan yang memecah senyuman Kyouka. Kenapa bertahan? Padahal ia tengah memakan permennya, dan seharusnya Dazai menanyakan rasanya. Mungkin Kyouka salah dengar. Lagi pula ia sudah bahagia, walau tersisa mereka berdua saja di agensi. Mana mungkin Kyouka mendengar Dazai putus asa. Tak perlu baginya menjadi sesak atau seorang diri kesepian, karena mulai sekarang Kyouka-lah yang melindungi Dazai.

Kyouka akan melindungi Dazai, seperti Atsushi pernah menjaga Kyouka di masa lalu. Atsushi yang tetap tegap demi Kyouka, sekalipun tubuhnya bolong-bolong oleh peluru.

Menggunakan semua yang Kyouka miliki yang ditemukan olehnya, atau diberikan orang-orang, ia akan membuktikan dirinya selalu pantas bersama cahaya.

"Permennya sudah habis? Bagaimana kalau kita pergi?"

Tangan Dazai terulur mengajak Kyouka. Begini baru benar, menilik jam menunjukkan pukul dua belas siang. Awal-awal Kyouka ingin bercerita, ia mendengar Dazai memanggil-manggil nama Kyouka sebagai kehilangan. Entah kenapa suaranya tidak kunjung keluar. Celotehan Dazai pun kian samar. Malah rasa-rasanya Kyouka-lah yang mengantuk di sini.

Ketika kantor pintu dibuka dan yang Kyouka temukan adalah kegelapan menyelimutinya, sekejap Kyouka bertekuk lutut seorang diri. Menangis dalam bisu, tanpa Dazai berada di mana pun bahkan tanpa sempat Kyouka lihat, bagaimana Dazai pergi.

"Pasien kehilangan terlalu banyak darah. Kesadarannya semakin menurun."

"Sudah kubilang pakai saja darahku! Jika kalian tidak bisa menyelamatkannya, aku ... aku akan sangat ... marah ... akan kukutuk kalian satu per satu. Bakal kusumpahi agar tidak pernah tenang."

Di dalam kegelapan ini sama seperti ketika Kyouka kehilangan jati dirinya di helikopter itu. Tiada yang ingin melihat Kyouka, mendengar matanya, menyentuh suaranya, bahkan kali ini Kyouka tak merasa terbakar saat bernapas. Tergesa-gesa berlari untuk mencari Dazai pun, ia tidak kenapa-kenapa atau bagaimana, selain segala-galanya kosong tanpa kata lain untuk menggantikan kosong.

Karena kata-kata yang lain juga hilang, seolah-olah Kyouka bahkan tidak berhak membaca, menulis, lebih-lebih berbicara lagi.

Tetap saja hilang pada akhirnya. Senyuman ayah dan ibu, permen dari Dazai, memakan crepes bersama Atsushi, kenang-kenangannya tentang teman lainnya juga terasa hampa, membuatnya bertanya-tanya kenapa ia bisa dikatakan hidup. Benarkah Kyouka hidup, juga bertemu mereka semua di sebuah tempat yang dinamakan kenyataan?

Jika itu benar setidaknya Kyouka akan menangis, terutama karena ia telah menghilangkan Dazai yang berharga, yang sudah membiarkan Kyouka memiliki kata-kata Dazai. Namun tiada satu pun air mata yang terpatri. Memukul wajahnya sendiri pun tak berarti apa-apa. Jangan-jangan tangan, kaki, tubuh ini juga tak pernah Kyouka punyai. Dia siapa jika sudah begini?

"Maaf, Tuan. Kondisinya memang sudah tidak tertolong la–", "KALAU BEGITU BIARKAN AKU YANG MENGGANTIKANNYA MATI! MEMANGNYA KALIAN TIDAK TAKUT AKU KUTUK APA?! KALIAN ... kalian harusnya takut, dong. Aku saja ketakutan sekarang. Aku semakin dikutuk oleh kehidupanku."

Dazai memotong dengan parau. Dokter yang menangani Kyouka habis kata-kata. Mereka masih muda, tetapi yang mati itu kondisinya amat mengenaskan, sedangkan yang hidup ini bahkan rasa-rasanya sudah kehilangan hidupnya, terlebih semenjak Izumi Kyouka memang meninggal.

Padahal jika ada yang harus dilindungi maka itu adalah Kyouka, karena Dazai pun tahu untuk memiliki sebuah hal saja Kyouka harus jutaan kali kehilangan, sehingga biarkan Dazai yang mati akibat lebam dan kepalanya dipukul hingga melebur. Tolong kabulkan ...


Tamat.


A/N: Duh jujur sih ga punya ide, tapi pengen ikutan eventnya (ini cuma aku yang ikutan sih wkwkw). DaKyou day itu bukan event mana2 kok. sekadar event yang dibuat sama anak bsr yang sempet kulupain (parah emang). aku makasih aja sama kunikida derai karena udah bikinin event ini. aku sengaja bikin yang pendek2 juga, soalnya masih masa2 ujian dan udah ada feeling kamis bakal sibuk bgt (dan bener aja). awalnya mau pake prompt "intertwined" cuma ga jadi. ini lebih kayak ke "memiliki" sih ya. kyouka yang gak punya apa2 sampe akhirnya dikasih cahaya sama atsushi, dihilangkan sama dia, dazai kasih lagi, dan tetep hilang pada akhirnya. buat keadaan ADA kalian bebas interpretasi, tapi yang pasti di sini ADA emang gak baik2 aja.

Thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. lain waktu aku bakal bawain sesuatu yang lebih jelas dan panjang wkwkw.