Bum!
Ledakan itu amat memekakkan telinga. Asap kelabu membumbung tinggi ke udara. Tebing batu cadas yang berada di barat daya gurun ini hancur setengahnya. Beberapa unit robot yang berbentuk seperti manusia mengitari tebing tersebut sambil mengobservasi keadaan. Debu-debu liar hinggap di permukaan pelindung rangka juga senjata laras pendek yang tertenteng di lengan mereka.
"Bos, mereka sudah tiada."
Helaan napas mengalun dari radio robot di depan. Meskipun suara roket pendorong itu cukup nyaring, ditambah deru angin gurun yang kencang, mereka masih mampu untuk berkomunikasi satu sama lain melalui radio.
"Raid boss untuk misi kali ini terlalu sulit," keluhnya. "Kita bisa bertahan sampai detik ini pun sudah merupakan suatu keajaiban."
"Goto-san, kau bertarung untuk pasukan garis depan saat A.I. bernama Alus itu datang, 'kan?" tanya pilot robot yang berada di samping kiri. "Bagaimana kesulitannya jika dibandingkan dengan …."
"Mereka cukup tangguh," selanya, "tapi misi ini benar-benar gila. Lihat, Force Avalon saja memilih mundur!"
Kedua rekan Goto memerika daftar peserta atau grup yang mengikuti misi ini. Benar apa yang dikatakan oleh pemimpin mereka, para peserta yang digadang-gadang akan menjadi pemenang malah mengundurkan diri. Kyoya Kujo, Kaptain Rommel, Tiger Wolf, Shahryar, dan sebagainya. Akankah misi ini berlalu begitu saja tanpa ada yang berhasil memenangkannya?
"Goto-san, sebaiknya kita juga …."
Drak!
Tiba-tiba, di hadapan mereka sebuah robot raksasa berbentuk naga berdiri angkuh. Kuku-kuku berwarna abu-abu kusam itu tampak mengintimidasi. Sinar mata merah itu menghunjam hingga ke palung jiwa, membuat bulu kuduk meremang, merangsang titik-titik peluh berlomba-lomba untuk keluar dari pori-pori tubuh. Sepasang sayap secokelat pohon ek terentang lebar, seolah-olah berkata bahwa tiada yang bisa lari dari ancamannya. Tiga ekornya meliuk-liuk liar, sesekali menghantam batuan keras, menerbangkan pasir ke udara.
"Vagan Gear Hashmal …."
Itulah nama musuh utama yang harus dikalahkan para peserta. Robot ini merupakan perpaduan antara Mobile Armor Hashmal[1] dan Mobile Armor Vagan Gear[2] yang sedikit dimodifikasi oleh pihak penyelenggara. Tanpa digabung pun, masing-masing unit memiliki reputasi yang mengerikan. Sekarang, keduanya dipadukan menjadi satu. Sungguh keterlaluan.
Tiga unit robot yang dipimpin Goto bergeming. Habis sudah riwayat mereka. Tadinya, mereka ingin mengendap ke pinggir area misi dan berdiam diri di sana hingga misi ini berakhir. Akan tetapi sepertinya dewi fortuna tidak berbaik hati kali ini. Sang naga mengibaskan tangan kanannya. Namun ….
Duar!
Dentuman kembali terdengar. Sang Naga Angkuh sedikit mundur ke belakang. Kesempatan singkat itu dimanfaatkan baik oleh Goto dan kawan-kawan untuk kabur. Seraya memacu mesin, mereka mendapati ada sebuah robot di atas tebing berjarak tiga ratus meter dari posisi Hashmal. Mereka berhasil bersembunyi di tumpukan batu yang berserakan tidak jauh dari sana.
"Goto-san, bukankah itu …."
Dengan tangan kanan, ia raih sesuatu yang tersemat di belakang roket punggung. Seketika benda persegi panjang itu berubah menjadi pedang dengan panjang melebih tinggi tubuhnya. Senjata berwarna hitam itu mengilat saat tertimpa sinar terik mentari.
"Demolition Knife … Astaroth[3] kah?"
"Bukan," sanggah rekannya, coba lihat keseluruhan gunpla[4] itu!"
Baju pelindung berwarna putih polos itu membungkus rangka berwarna abu-abu gelap. Empat buah tanduk emas menyiratkan sifat elegan. Meskipun terlihat kecil, perisai hitam di lengan kiri itu terlihat efisien dan memberikan rasa aman. Sepasang mata sebiru lautan miliknya berkilau terang, seolah-olah memancarkan optimisme dan ketenangan.
"Unit itu baru saja dirilis satu bulan yang lalu, 'kan?"
"Secara fisik, yang membedakan unit itu dengan aslinya hanyalah cat. Tapi, apakah sang diver juga meningkatkan performa gunpla-nya?"
Hashmal mengeluarkan suara seperti kicauan burung gagak bercampur dengan burung pemakan bangkai. Goto dan kawan-kawan sampai merinding dibuatnya. Sepasang sayap lebar itu terentang. Detik berikutnya, puluhan roket meluncur, siap menghujani gunpla putih yang berani menentang keperkasaannya.
Sang gunpla putih memegang pedangnya erat-erat, memasang sikap seperti hendak memukul bola kasti. Dibantu tenaga roket pendorong di bagian punggung dan kaki, ia melompat dan berputar amat cepat layaknya sebuah gasing. Roket yang mendekatinya meledak. Bunga-bunga api bermekaran di udara.
Pedang itu tertancap di leher Hashmal, sayang tidak terlalu dalam. Gunpla itu melepaskan pedangnya sebelum tangan sang Naga merobek badannya. Mendarat di tanah, ia disambut dengan kibasan ekor liar. Buru-buru ia menghindar ke sana kemari. Belum sempat ia menarik napas lega, robot naga tersebut kembali menembakkan laser dari mulutnya. Asap pekat disertai pasir membumbung tinggi ke udara akibat serangan itu.
"Percuma saja," desah Goto, "tampaknya misi ini …."
Mereka bertiga terperangah saat gunpla putih itu kembali melesat maju sambil berusaha mengelak hujan roket dan laser. Saking cepatnya, gunpla itu terlihat seperti komet putih yang meluncur melintasi luar angkasa.
"Hajiroboshi … Bintang Putih …."
Hajiroboshi[5] melompat setinggi-tingginya saat Hashmal memutar badan dan menyabetkan ketiga ekornya sekaligus. Gunpla putih tersebut bersalto sekali dan mendarat di punggung sang Naga. Ia keluarkan sebuah gada kecil di pinggang kanannya dan menyabet sayap itu. Besi berdentang seiring pukulan yang dilancarkan.
Hashmal marah. Ia goyangkan badannya secara liar. Namun, Hajiroboshi gigih bertahan dan terus memukuli sayap sang Naga dengan gadanya. Ia hantam sepasang sayap itu bergantian, kiri dan kanan. Terakhir, si gunpla putih menancapkan peledak yang ada pada senjata mungilnya ke dalam besi pelindung yang terkoyak seraya meloncat turun. Ledakan besar pun terjadi. Mobile armor tersebut kini tak bersayap lagi.
Raungan keras sang Naga membahana di gurun ini. Batu-batu cadas berderak nyaring. Goto dan kawan-kawan terpaksa menutup telinga yang pengang gara-gara teriakan itu. Si penantang bergeming menyaksikan musuhnya mendekat. Sepuluh cakar dan tiga ekor yang berliuk-liuk itu tak cukup untuk membuatnya gentar. Ia meluncur ke atas seraya mencabut Demoliton Knife yang masih tertancap di leher Hashmal. Namun, sebelum menapak daratan, ia tersembam ke arah pilar-pilar batu akibat kibasan tangan kiri sang musuh. Tak hanya itu, belasan laser turut menghujaninya.
"Sia-sia," lirih Goto, "dia memang petarung yang cukup hebat. Tapi, seorang pro saja tak mampu mengalahkan raid boss ini, apalagi dia yang cuma seorang amatiran."
Asap pekat pun tersibak. Sang bintang putih keluar dari puing-puing batu berat dalam keadaan menyedihkan: lengan kanan putus, kaki kiri rusak parah, dan tubuh bagian atas terkikis setengah. Walaupun begitu, Hajiroboshi kembali maju ke abah musuh.
Ia lemparkan Demolition Knife sekencang-kencangnya sambil melompat dengan kaki kanan. Pedang hitam yang tinggal separuh itu menembus pangkal leher Hashmal. Ia jepit rangka kepala sang Naga dengan perisai kecil yang menjelma menjadi capit. Jeritan pilu robot naga tersebut memenuhi indra pendengaran. Akhirnya, Hajiroboshi berhasil mencabut kepala musuhnya. Mobile armor itu pun tergeletak di tanah.
"Kuralat pernyataanku tadi. Dia petarung paling gila yang pernah kulihat selama ini."
.
.
.
Shining Hopes
GUNDAM BUILD DIVERS belongs to BANDAI & SUNRISE
Chap 1
.
.
.
Riuh para siswa dan bunyi kunyahan mewarnai suasana kantin pada jam makan siang seperti ini. aneka makanan tersedia, mulai dari soto ayam, bakso, nasi goreng, siomay, dan sebagainya. Murid-murid sekolah menengah atas ini duduk di atas bangku yang disediakan, ada yang berkumpul, ada juga yang menyendiri.
Pintu kantin dipukul keras. Semua pasang mata tertuju pada sumber suara. Seketika semua langsung terdiam, melanjutkan aktivitas mereka dalam kesunyian. Sementara itu, anak-anak yang baru saja memasuki kantin acuh tak acuh. Mereka menuju suatu bangku, tempat seorang anak yang, tidak kurus dan tidak gemuk, sedang asyik memamah sepotong roti lapis.
Anak itu tetap tenang meskipun mejanya digebrak dengan tenang. Tak ada wajah gentar atau kilat mata ketakutan yang terpantul di netranya. Setelah menghabiskan bekalnya, ia tutup wadah bekal itu perlahan.
"Roti lapis selai kacang lagi?" cibir seorang pemuda berambut jabrik. "Kau tidak bosan makan hal yang sama setiap hari, ya?"
"Padahal dia kaya lho," timpal temannya. "Buktinya kita bisa memeras uang dari dia. Seperti sapi."
Para jejaka itu tertawa terbahak-bahak. Suara mereka menggema hingga di sudut-sudut kantin karena keadaan saat ini amatlah sunyi. Siswa-siswi lain terpaksa berdiam diri, pun dengan para penjual di kantin. Mereka ingin sekali menghentikan ulah grup yang bertingkah sok jagoan ini. Akan tetapi, impian itu hanya sekadar angan-angan belaka, sulit sekali diwujudkan.
"Uang!" hardik pemuda yang mengenakan jaket bergambar tengkorak.
Sang target pemalakan menggeleng. Detik berikutnya, ia ditarik ke belakang dan keempat anggota geraknya dikunci. Tak ada ubahnya anak itu dengan seorang tahanan yang dipasung oleh rantai besi. Grup berandal tersebut menghujaninya dengan pukulan dan tendangan bertubi-tubi. Semua orang di sana ingin membantu, tetapi hanya bisa mendongkol dalam hati.
Kasihan remaja itu. Pembuluh darah hidungnya pecah, darah keluar setetes demi setetes dari sana. Mata kanannya bengkak dan sedikit membiru. Pipi kirinya lebam. Bibir kanannya terluka. Ia keluarkan cairan merah yang bercampur dengan air ludah.
"Aku ulangi sekali lagi." Anak berjaket tengkorak itu memperhatikan kepalan tangan kanannya yang ternoda oleh bercak darah. "Beri kami uang, Andi!"
Anak yang dipanggil Andi itu tetap menggeleng.
"Baiklah kalau itu maumu. Bersiaplah …."
"Tunggu!"
Pekikan nyaring seorang perempuan menghentikan tinju yang terarah ke wajah malang Andi. Semua pasang mata kembali tertuju pada sosok yang berdiri di depan pintu kantin. Kedua tangan gadis itu terlipat di depan dada. Sorot matanya tajam. Garis-garis di wajahnya sedikit mengeras. Kakinya menghentak mantap dan nyaring. Ia menghampiri para remaja yang tak sadar diri itu.
"Ada alasan mengapa kalian harus memukuli seseorang di kantin, Putra?"
Dua orang yang mengekang Andi melepaskan kuncian mereka. Sama sekali tidak ada raut penyesalan yang tergambar di wajah mereka, begitu pula dengan teman-teman mereka.
"Ah, ini hanya salah paham saja, Sayang," jawab anak berjaket tengkorak. "Kami cuma ingin dia melunasi hutang minggu lalu. Dia terlambat membayar, jadi kami beri dia sedikit peringatan."
"Sampai melakukan tindakan kekerasan?" Gadis itu bertanya, "Kalian ini anak sekolahan atau penagih hutang?"
"Kami janji tidak akan berbuat begini lagi, Sayang." Putra menyuruh kawan-kawannya untuk pergi terlebih dahulu. Ia pun beranjak sambil berujar, "Tapi, itu tergantung sikap mereka terhadap kami. Hahaha!"
Sang dara geram. Ia ingin menghentikan segala jenis perundungan di sekolah ini. Namun, jika hanya ia seorang yang berusaha, maka sampai kapan pun tak akan ada anak yang bebas dari perisakan selama anak tersebut memakai seragam sekolah ini.
"Kamu tidak apa-apa?"
Saat tangan mulus itu terulur, Andi buru-buru menepisnya kasar. Dengan mata kirinya, ia lemparkan sorot mata menusuk. Ia tertunduk sejenak, mengambil napas, dan bangkit meskipun badannya sempoyongan ke sana ke mari. Berdiri pun ia sampai harus bertumpu pada meja.
Sang pemilik tangan tanpa sadar mundur selangkah. Ada sedikit ketakutan merasuk dalam kalbunya. Mengapa anak ini selalu memasang aura tak bersahabat kala ia berusaha mengikis jarak? Apa ia pernah berbuat kesalahan?
"Andi, kamu harus pergi ke …."
"Tak perlu memberitahuku, Ketua Kelas …!" Suara itu parau dan sedikit samar, tetapi si gadis berhasil merinding dibuatnya.
Sambil membawa kotak bekal yang telah kosong, pemuda itu berjalan terseok-seok meninggalkan kantin. Tanpa ia sadari, kepergiannya membuat seorang gadis merasa tak keruan, antara sedih, bingung, dan merasa bersalah.
~o0o~
"Ah! Akhirnya, kamu datang juga, Andi!" sahut seorang pria berbadan tambun di sebuah toko gunpla. "Tumben te … wajahmu kenapa?"
Si empunya nama meringis malu. "Ini bukan apa-apa, Paman! Hanya luka kecil kok!"
Lelaki itu menggerutu. "Kenapa kamu tidak lapor saja kepada guru? Aku kasihan melihatmu nyaris setiap hari diperlakukan begini."
Andi merenung. Seandainya memang semudah itu. Kenyataannya, jejak buruk Putra dan kawan-kawan selalu tak terdeteksi oleh para guru. Bisa jadi mereka tahu, tetapi memilih untuk tutup mulut. Mengapa ia bisa menyimpulkan begitu? Sederhana, yang dihukum justru malah korban-korban anak-anak sok jagoan itu, termasuk dirinya sendiri.
"Kau tidak mau beristirahat dulu?"
"Tidak, Paman," sergah pemuda berambut cepak itu seraya mengeluarkan sebuah gunpla dari dalam tasnya. "Bagiku, bertualang bersama Hajiroboshi merupakan relaksasi."
Alih-alih Demolition Knife, tersemat di punggung gunpla itu sebuah Sword Mace, senjata dari unit Barbatos Lupus[6]. Tak hanya itu, Smart Mace yang berada di pinggang berganti dengan Twin Mace.
"Tak punya senjata jarak menengah atau jauh, ya?" Lelaki gempal itu mengelus-elus dahi. "Kau pernah menghadapi seorang diver yang menggunakan rifle? Bagaimana kau mengatasinya?"
"Sederhana, Paman Santoso," sahut Andi, "aku hanya perlu menghindari serangannya dan mendekatinya."
"Dasar kau ini …!"
Andi memang tergolong seorang diver baru, sebutan bagi pemain Gunpla Battle Nexus atau sering disingkat GBN. Ia baru bermain sekitar sebulan yang lalu. Syarat memainkannya mudah. Diver cukup meletakkan gunpla-nya di atas sebuah cakram berbentuk segitiga, memasang kacamata VR (Virtual Reality), dan ia pun akan langsung masuk ke dunia daring GBN. Di sana, mereka bisa mengambil misi, bersosialisasi dengan pemain dari berbagai belahan dunia, dan membentuk grup atau lebih akrab disebut force.
~o0o~
Welcome to GBN, Dani Rigel.
Pemuda itu tersenyum simpul. Meskipun hanya sebuah basa-basi biasa, sebuah program otomatis yang akan disampaikan kepada para diver ketika memasuki GBN, ucapan itu amat membekas baginya. Di sini, ia diterima sepenuhnya, tak perlu bersandiwara, dan bisa mengeksplorasi jati diri. Ia bisa berekspresi sebebas-bebasnya.
Remaja dengan bola mata secokelat kayu ulin itu mendekati lobi. Ia hendak menjalankan sebuah misi. Setelah melihat-lihat dengan teliti, ia memilih misi yang cocok. Saat hendak mengonfirmasi ….
"Apa aku boleh ikut?"
Suara seorang gadis menginterupsi Andi. Belum pernah ia perhatikan gadis itu sebelumnya. Sepasang mata biru kehijauan itu begitu jernih, sebening samudra. Helaian rambut toska tersebut amatlah halus dan mengilat saat terkena sinar mentari, layaknya benang sutra. Telinga dan ekor kucing itu menandakan bahwa ia bukanlah manusia biasa. Namun, itu bisa dimaklumi. Dalam GBN, diver bisa memilih penampilan avatar sesuai yang mereka mau. Andi pernah melihat orang menggunakan avatar ogre, buto ijo jika merujuk pada istilah orang Indonesia.
"Aku pemain solo, Nona," ujarnya ketus. "Aku tidak butuh teman."
"Ah, dicoba saja dulu." Opsi pemain tambahan ditekan gadis itu tanpa permisi. "Aku ini cukup jago lho!"
Pemuda itu mengembuskan napas kasar. Tadinya, ia hanya ingin melepaskan penat yang merambati tubuhnya dan kekesalan yang menggelegak dalam jiwa. Namun, dara yang tak ia kenali ini malah bertindak seenaknya. Andi hendak memarahi orang asing ini, tetapi dalam dunia maya yang luas ini menjaga etika jauh lebih baik.
Pemandangan berubah. Jejaka itu sudah berada di dalam kokpit Hajiroboshi. Ia menggerakan sepasang tuas yang digenggam kedua tangannya. Tak lupa keluwesan dan kelancaran gerakan gunpla juga patut diperiksa jika hadiah dari misi hendak diraih. Sepasang mata secokelat kayu ulin miliknya terarah pada gunpla sang rekan.
Didasarkan dari Reginglaze Julia[7], gunpla sewarna rambut gadis itu terlihat anggun dan indah. Ekor dari Ghirarga[8] dan beberapa Sword Bit dari Qan-T[9] yang melekat di bagian bahu dan rok unit tersebut menambah kesan elegan. Benar-benar sebuah gunpla yang amat cocok untuk seorang perempuan.
"Gunpla-mu sederhana, tetapi kelihatannya … kuat."
Andi sedikit tersinggung dengan pujian itu. Keadaannya saat ini tak memungkinkan untuk memperbarui Hajiroboshi. Senjata dari Barbatos Lupus yang ia pakai saat ini pun merupakan barang rongsokan yang dipoles sehingga layak untuk digunakan. Meskipun begitu, ia tetap berjuang untuk menjadi diver nomor wahid.
Musuh yang mereka hadapi sekarang adalah 20 unit robot Man Rodi[10] dan Landman Rodi, serta satu unit Gusion[11]. Semua robot tersebut merupakan gunpla yang mempunyai baju pelindung yang tebal dan keras, seperti cangkang kura-kura yang sulit untuk ditembus. Misi ini tidak ada batas waktu. Mereka dianggap gagal apabila desa di belakang mereka musnah menjadi abu.
"Oi, Nona …." Andi memanggil rekan misinya melalui sistem komunikasi khas GBN. "Sword Bit milikmu itu bukan pajangan, 'kan? Kau bisa menghancurkan armor mereka?"
Agak lama sang lawan bicara terdiam. "Entahlah … baru kali ini aku menghadapi gunpla bertipe tanker."
Walaupun sempat ragu, sepuluh Sword Bit pun melayang dari singgasana mereka menuju target. Tepat seperti dugaan si pemuda, senjata-senjata terbang itu tidak sanggup menggores permukaan baju pelindung lawan.
"Maaf, tapi bisakah kau menjaga di gerbang desa?" pinta remaja itu halus. "Biar aku yang menghadapi mereka."
Tepat setelah itu, mereka melesat berlainan arah. Hajiroboshi merangsek pasukan Rodi yang berbaris rapi. Dalam jarak sedekat ini, Twin Mace alias sepasang gada kecil yang tergantung di pinggang adalah senjata yang tepat. Tanpa ampun ia hajar robot-robot tanpa awak ini. Tebasan-tebasan dari golok Rodi berseliweran, tetapi tak satu pun yang mengenai baju pelindungnya.
Setelah meremukan badan sebuah Rodi, Andi spontan mundur ke belakang saat palu raksasa berbentuk kotak tersebut terayun. Tiga unit Rodi yang tak sempat menghindar menjadi korban. Rangka mereka kontan hancur dan rata dengan tanah layaknya tahu yang terempas dengan keras ke bawah. Sang pemilik martil, Gusion, menyandarkan senjatanya di bahu kanan. Meskipun terlihat amat berat, ia mengayunkan palu raksasanya seperti mengayun ranting. Ringan sekali.
Sword Mace alias gada berbentuk pedang ditarik. Waktunya serius. Sang kesatria putih meluncur sambil menyabet gadanya. Serangan itu diterima dengan baik oleh martil Gusion. Suara besi yang berdentang membahana, diikuti dengan bunyi retakan kecil.
"Yah, namanya juga barang tak layak pakai." Andi terkekeh. Ia sadar bahwa senjatanya mengalami kerusakan. "Bersiaplah, serangan berikutnya pasti akan mengenai tubuhmu!"
Tersisa tiga unit Rodi dan Gusion seorang. Hajiroboshi maju secara kilat. Ia hindari tebasan golok dari Rodi di sebelah kanan. Berputar sejenak, ia balas serangan itu dengan sabetan gada ke atas. Namun, si bintang putih lengah. Sepasang tangannya dibelenggu oleh dua unit Rodi. Dari arah depan, Gusion melesat dengan kecepatan penuh. Palu abu-abu itu siap menghantam tubuhnya. Namun ….
Bum!
Mata Andi terbelalang. Gunpla rekannya sedikit remuk dan terpental ke udara. Meskipun begitu, Sword Bit milik si gadis berhasil mengalihkan mengempaskan para Rodi. Hajiroboshi terlepas.
Sang diver khawatir. Ia tangkap robot kawannya dan meletakkannya secara hati-hati di tanah. Syukurlah gadis itu baik-baik saja. Ia hanya pingsan. Entah mengapa Andi merasa bersalah dan marah. Belum pernah sebelumnya ia seperti ini. Mungkinkah ini rasanya punya rekan misi? Kedua tangan pemuda itu terkepal erat pada tuas. Gigi-giginya gemeletuk menahan panas yang membakar kalbu.
Pihak musuh terkejut ketika si kesatria muncul mendadak di tengah-tengah mereka. Gusion refleks mengayunkan martilnya. Akan tetapi, hanya dua Rodilah yang hancur. Tiba-tiba, tubuh beratnya tersembam ke depan, ke kanan, ke kiri, dan ke atas. Tepat saat hendak memijak tanah, Hajiroboshi menusuk rangka lehernya. Capit sang lawan menarik kepalanya dengan tenaga penuh. Ia pun tumbang, tak mampu bergerak lagi.
Winner: Dani Rigel and Tiana Himawari!
Panorama kembali berubah. Kali ini mereka berdua ada di lobi GBN. Andi merasa aneh saat memangku gadis yang tak sadarkan diri ini. Apakah mereka pernah bertemu sebelumnya?
"Ah, Tiana-chan!"
Seorang laki-laki dengan pakaian ketat menghampiri. Tubuhnya kekar, tetapi tindak-tanduknya tak ada beda dengan seorang perempuan. Gincu ungu pudar yang terpoles di bibirnya serta tato bintang yang berkelap-kelip di pipi kirinya itu cukup menjadi bukti bahwa dia adalah seorang banci.
"Apa dia akan baik-baik saja?" Tanpa disadari, terselip nada cemas dalam pertanyaan sang pemuda. "Aku tidak tahu kalau kita bisa pingsan di GBN."
"Cuma kelelahan dan syok mungkin." Lelaki itu mengambil alih tubuh Tiana dari kedua lengan Andi. "Jangan khawatir. Setelah beristirahat di force nest milikku, dia akan kembali seperti semula."
"Syukurlah …." Napas lega keluar dari mulut remaja berambut hitam itu. "Ehm, Maaf … perkenalkan nama saya …."
"Namaku Magee," sergah pria banci itu. "Pertarungan yang luar biasa, Dani Rigel."
"Anda tahu siapa saya?"
"Seorang diri melawan raid boss yang bahkan tak mampu dihadapi oleh Champion? Bukankah itu prestasi yang luar biasa?" Magee melemparkan kedipan genit ke arah Andi. Si penerima sedikit merinding dan merasa tidak keruan. "Sebagai seorang diver, kemampuanmu cukup hebat. Aku akan menantikan aksi-aksimu yang lain, Rigel-chan!"
Jendela pemberitahuan muncul di depan badan si jejaka, info bahwa ia mendapatkan hadiah misi. Ingin ia mengklaim semuanya, tetapi gadis dengan mata terpejam itu juga punya andil dalam kesuksesan misi, bahkan lebih besar dari dirinya sendiri. Setelah menimbang-nimbang, ia memilih untuk menyerahkan semua hadiah ini kepada rekan pertamanya.
"Kau yakin?"
"Haha saya juga tidak mengerti, Mr. Magee." Andi membuka jendela lain, opsi untuk keluar dari GBN alias log out. "Tolong sampaikan salam saya untuknya saat ia sadar nanti."
~o0o~
"Baru pulang, Den?"
Andi mencoba menyunggingkan seulas senyum. Rasa nyeri tanpa ampun menjalar di bagian bibir kanan dan sekitarnya. Ia meringis seraya memegang bagian yang ditutupi oleh perban itu.
Paham akan rasa sakit sang majikan, wanita itu berkata,"Bibi ambilkan kompres dulu, ya, Den."
Sepeninggal pembantunya, pemuda berambut kusut tersebut kembali merenung. Untuk pertama kalinya, ia menjalankan sebuah misi dengan orang lain. Sulit dipercaya, seorang introver seperti dirinya bisa berkenalan dengan gadis secantik itu. Walaupun belum tahu identitas asli sang dara, ia cukup senang. Pengalaman hari ini ia akan rekam dalam ingatan sebaik mungkin.
"Ada apa, Den, senyam-senyum?" goda pembantunya. "Ketemu gadis cantik di jalan, ya?"
"Ih, Bi Unah apaan sih?" Remaja itu terkekeh.
Rasa nyaman menghampiri wajah Andi saat luka-luka itu bertemu dengan kompres air dingin, mengingatkan ia ketika berada di unit kesehatan sekolah alias UKS. Guru yang bertugas di sana pun menyapukan kapas yang dibasahi alkohol di mukanya. Nikmat sekali.
"Di ruang tengah ada Tuan, Nyonya, dan Den Fajar. Aden mau makan …."
"Di sini saja, Bi," sergah si pemuda. "Makanan yang Bibi makan juga gak masalah."
Tak lama kemudian, sepiring nasi dengan oseng buncis tempe dan telur orak-arik tersedia di meja dapur. Andi menyantap masakan itu dengan lahap. Setelah piring itu bersih, segelas air ia teguk hingga tandas.
"Bi, saya pergi ke kamar dulu, ya."
Remaja dengan wajah babak belur itu mencangklongkan tas di bahu kirinya. Ia berjalan dengan hati-hati, berharap tidak didengar siapa pun yang sedang makan di ruang tengah. Akan tetapi ….
"Baru pulang?"
Suara Bariton itu menghentikan langkah si jejaka. Tatapan datar yang merendahkan pun terarah kepadanya. Bunyi denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring mendominasi suasana.
"Berkelahi lagi, ya?" Lelaki yang mengenakan kaus polo itu menyesap cairan berwarna jingga, jus jeruk. "Dasar, Anak tidak Berguna."
"Pasti dia telat karena bermain di toko tidak jelas itu lagi," timpal wanita yang duduk di sampingnya. "Coba tirulah adikmu ini. Ia ditunjuk sebagai perwakilan sekolah untuk lomba … lomba apa, Sayang?"
"Lomba Cerdas Cermat, Ma …," cicit anak laki-laki yang sedang tertunduk itu.
Andi ingin sekali melampiaskan rasa sakitnya kepada dua orang yang baru saja mencibir dirinya itu. Namun, ia tak bisa menyangkal bahwa secara biologis mereka adalah orang tua kandungnya. Mereka adalah "orang tua" secara nama dan raga, tetapi tidak memiliki kedekatan emosional atau jiwa dengannya.
Sang pemuda mengabaikan semua sindiran itu dan memilih untuk pergi tanpa kata. Setibanya di kamar, ia melepas seragam dan meletakkan tas pada tempatnya. Ia empaskan diri di atas kasur. Ranjang dari kayu jati tersebut mengeluarkan derak protes saat ada beban yang menimpanya.
"Hei, Hajiroboshi …."
Si kesatria putih berdiri di atas meja di samping ranjang itu. Andi menatap lekat-lekat gunpla-nya. Otaknya memutar rekaman memori hari ini. Rintik-rintik hujan turun membasahi bumi, menimbulkan suara yang menyebabkan badan dan pikiran serasa diterapi.
"Selanjutnya … apa yang harus kulakukan?"
.
.
.
Tsudzuku ….
.
.
.
[1] Mobile Armor (unit yang besarnya hampir menyamai atau melebihi kapal induk) dari serial Gundam Iron Blooded Orphans (IBO), berbentuk seperti burung unta, memiliki ratusan anak buah bernama Pluma. Dalam sejarah Perang Bencana (Calamity War), mobile armor merupakan penyebab hampir punahnya umat manusia.
[2] Mobile Armor dari serial Gundam AGE, berbentuk seperti Naga dengan dua pasang anggota gerak dan sepasang sayap. Pada akhir serial, unit ini memakan banyak korban jiwa dari sisi Federasi (pemerintah Bumi) maupun sisi Vagan (kelompok manusia yang terpaksa hidup di Mars).
[3] ASW-G-29 Gundam Astaroth, salah satu gundam frame yang diciptakan untuk menghadapi para mobile armor dalam Perang Bencana (Calamity War) 300 tahun lalu, sempat dijual di pasar gelap sehingga baju pelindung (armor) aslinya hilang. Sekarang unit ini mengenakan armor asimetris. Unit ini dipiloti Argi Mirage.
[4] Gundam plastik, sebuah mainan yang perlu dirakit, memiliki aneka skala dan tingkat kerumitan perakitan.
[5] ASW-G-35 Gundam Hajiroboshi, nama aslinya adalah Gundam Marchosias, salah satu gundam frame yang diciptakan untuk menghadapi para mobile armor dalam Perang Bencana (Calamity War) 300 tahun lalu, baju pelindungnya diubah menyesuaikan zaman (dari bentuk iblis bersayap menjadi bentuk kesatria). Unit ini dipiloti oleh Wistario Afam.
[6] ASW-G-08 Gundam Barbatos, salah satu gundam frame yang diciptakan untuk menghadapi para mobile armor dalam Perang Bencana (Calamity War) 300 tahun lalu, digunakan oleh Mikazuki Augus, telah mengalami berbagai pemutakhiran, seperti Barbatos Lupus (Wolf) dan, terakhir, Barbatos Lupus Rex (Wolf King).
[7] EB-08jjc Reginglaze Julia, unit yang dikembangkan dari Glaze dan Graze Ein, digunakan Julieta Juris, memiliki mobilitas yang luar biasa untuk petarung jarak dekat.
[8] XVT-ZGC Ghirarga, unit yang dipakai oleh Zeheart Galette, komandan pasukan Vagan. Unit ini amat cepat dan lincah, senjatanya pun cukup lengkap.
[9] GNT-0000 00 Qan-T (Double O Quanta), gundam generasi kelima yang diciptakan Organisasi Celestial Being, dipiloti oleh Soran Ibrahim alias Setsuna F. Seiei. Unit ini memiliki mobilitas dan daya serang yang hebat. Selain itu, ia juga bisa digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi dengan makhluk asing seperti ELS (Extraterrestrial Living-metal Shape-shifter).
[10] UGY-R41 Man Rodi, salah satu unit dari serial Gundam IBO, Robot ini memiliki armor luar yang tebal dan keras, mirip seperti kura-kura.
[11] ASW-G-11 Gundam Gusion, salah satu gundam frame yang diciptakan untuk menghadapi para mobile armor dalam Perang Bencana (Calamity War) 300 tahun lalu, unit ini pada awalnya diciptakan dengan baju pelindung (armor) yang berat dan tebal, tetapi seiring pemutakhiran yang dilakukan oleh para teknisi Teiwaz (Rebake dan Rebake Full City) ia menjadi gundam yang unggul dalam pertarungan jarak jauh maupun dekat.
.
Halo! Apa kabar, Minna-san? Bagaimana keadaan kalian? Semoga selalu sehat lahir dan batin, ya!
Sebelumnya, saya minta maaf. "Quo Vadis", dari akun Zahid Akbar, akan saya tarik karena melanggar guideliness yang telah ditetapkan di situs ini. Sebagai gantinya, "Shining Hopes" akan menemani kalian di rumah. Saya akan tetap berusaha menghadirkan pertarungan yang epik tetapi minus darah. Hehehe … ditunggu saja kelanjutannya.
Saya juga minta maaf juga karena nama-nama kit yang dilibatkan di sini banyak sekali. Jangan khawatir, saya selipkan penjelasannya di bawah jika kalian ingin mencari gambarannya. Dalam fic ini, saya akan menyebutkan kit-kit dari serial IBO, baik itu manga (Gekko), anime, maupun game yang belum dirilis (Urdr Hunt). Namun, tak menutup kemungkinan kit-kit dari serial lain juga turut terlibat.
Sampai jumpa!
.
.
.
~Sincerely,
Hasan Kabar
