"Kembalikan cincinku!"
Di tepi sungai yang dipenuhi batu-batu besar, tiga orang anak laki-laki sedang bermain lempar-tangkap. Seorang gadis kecil merengek sambil berjinjit dan merentangkannya ke atas. Semenit pun berlalu. Rengekan itu berubah menjadi isak tangis. Kedua tangannya sedikit lemas. Sepasang kaki yang berlari ke sana ke mari pun diam di tempat.
"Ah, dia menangis. Tidak seru nih!"
Seorang anak berbadan besar menangkap objek kecil keemasan berbentuk bundar yang dilempar kawannya. Sebuah ide iseng muncul di kepalanya. Tanpa ragu, ia lemparkan benda yang ada di telapak tangannya yang gendut ke arah sungai.
"Cari saja sendiri sana!" Mereka berseru seraya menunjuk tempat cincin itu mencemplung ke dalam sungai. Anak-anak itu pun pergi. "Hahahaha!"
Si gadis cilik terduduk di atas bebatuan berwarna putih. Warna jingga sudah berasimilasi dengan warna merah, diikuti warna lembayung, pertanda hari akan segera berakhir dan berganti dengan kelamnya malam. Kedua matanya yang basah oleh air mata meratapi aliran sungai. Bagaimana ini? Cincin itu merupakan hadiah dari kedua orang tuanya untuk ulang tahunnya yang kesembilan. Walaupun sederhana, kenangannya bersama benda mungil tersebut tak tergantikan.
"Kau kenapa?"
Anak perempuan berambut hitam lurus sebahu itu menoleh ke samping kanan. Ada seorang anak laki-laki sedang memanggul tas punggung hijau tua polos di bahu kanannya. Kulitnya sedikit cokelat, mirip kulit sawo yang belum terlalu matang. Rambut hitamnya kusut dan awut-awutan, banyak helaian rambut berdiri tegak ke atas. Raut kebingungan menghiasi wajah lugu itu.
"Cincinku … hiks … hilang …," lirih si gadis kecil seraya menunjuk ke sungai.
Meskipun belum sempurna, isyarat itu dipahami dengan baik oleh si bocah lelaki. Dia meletakkan tasnya di samping si anak perempuan. Sepasang sendal jepit biru pudar bermerek burung walet pun dilepas. Dengan kaki telanjang, ia meniti batu-batu besar yang basah, berhati-hati agar tidak terpeleset dan terempas di atas batu kali yang keras. Setibanya di tepi aliran sungai, ia mencebur tanpa memedulikan pakaiannya yang basah.
Gadis mungil tersebut memejamkan matanya. Kedua tangannya bertautan. Hatinya memanjatkan harapan kepada Tuhan agar cincinnya bisa kembali tanpa mengalami kerusakan.
Sungai itu tak terlalu dalam, hanya sebatas pertengahan paha orang dewasa. Airnya amat jernih. Dengan mata telanjang pun orang bisa melihat dasarnya yang dipenuhi berbagai bentuk batu. Namun, alirannya cukup deras juga menghanyutkan jika tidak berhati-hati. Si bocah lelaki timbul-tenggelam di atas permukaan air. Meskipun mulut, hidung, dan telinganya kemasukan air, matanya pun perih karena banyaknya air yang menimpa, ia pantang mundur. Kedua tangannya membolak-balik bebatuan di dasar sungai.
Sementara itu, si anak perempuan menjadi cemas dan merasa bersalah. Dia memang tidak ingin benda berharganya hilang, tetapi orang lain juga tidak perlu ikut mengalami kesusahannya. Sungguh, si gadis kecil bingung.
Namun, keresahannya sirna. Bocah lelaki itu muncul ke permukaan sambil mengangkat tangan kanannya ke atas setinggi-tingginya. Cincin keemasan itu tergenggam erat di sana. Betapa girangnya si gadis mungil. Tanpa sadar, air matanya kembali turun membasahi kedua pipi putih yang merona. Mulutnya terkatup rapat, mencoba menahan isak haru.
Anak laki-laki itu berjalan kepayahan. Selain tenaganya terkuras, pakaian basah yang melekat di tubuhnya itu memberatkan langkahnya. Namun, ia masih berusaha untuk melemparkan seulas senyuman kepada si pemilik benda yang digenggamnya ini.
"Benar ini cincinmu?"
Ada ukiran huruf "M" di permukaan benda bundar tersebut. Tak salah lagi, ini memang cincin si gadis. Tanpa ragu, ia memeluk sang penolong. Mana peduli ia dengan bajunya yang ikut basah. Sementara itu, bocah laki-laki dengan mata sewarna kayu ulin tersebut terkejut. Sepasang tangannya tergantung di sisi badan. Lidahnya kelu, sulit untuk mengucapkan sepatah kata.
"Rumahmu di mana?" Anak laki-laki itu, menjauhkan tubuh si gadis kecil perlahan, memungut tasnya, dan mengenakan sepasang sendal jepitnya. "Ayo kuantar!"
Sepanjang jalan, mereka berjalan berdampingan dengan tangan yang bertautan. Ada saja yang mereka bicarakan, mulai dari pengalaman lucu, konyol, atau memalukan. Si gadis kecil itu tak lagi bersedih. Gelak tawa yang merdu keluar dari mulutnya. Wajah ayunya dipenuhi raut suka cita.
"Kita sampai," ujar sang anak perempuan.
Mereka berhenti di sebuah hunian megah. Pagar beton putih yang tebal dan deretan besi-besi hitam itu amat mengintimidasi. Rumah itu terdiri atas dua lantai. Tinggi sekali. Deretan bambu yang berada di pojok kiri pagar saling bergesekan karena ditiup oleh angin yang berembus pelan. Ada air mancur di tengah-tengah taman yang menampung aneka tanaman hias.
"Non Tia, kok pulang telat?"
Seorang laki-laki dewasa berpakaian biru gelap keluar dari pos di gerbang rumah. Lipatan keriput menghiasi dahi cokelatnya. Tahi lalat sebesar kelereng bertengger di pipi kirinya. Ia mengenakan sebuah topi bundar bertuliskan "security".
"Ah, maaf, Pak Gani." Si gadis mungil tersipu malu. "Saya main kesorean."
"Kalau Non Tia masih belum pulang, saya tadi mau disuruh nyonya buat cari Non." Ekspresi kelegaan keluar dari lelaki itu. Ia mengelus-elus dada yang terlihat sedikit tenggelam akibat perut buncitnya yang menonjol. Matanya memicing pada sosok di samping sang majikan. "Ini siapa, Non?"
"Oh iya, aku belum tahu namamu …."
"Andi." Sang bocah lelaki membalikkan badannya. Ia pun berjalan tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.
"Terima kasih, Andi!" seru anak perempuan itu sambil melambaikan tangannya.
Si gadis kecil tidak tahu bahwa sang bocah lelaki sengaja pulang tanpa kata untuk menyembunyikan derai air mata, air mata yang tumpah untuk sesuatu yang tak pernah ia dapatkan.
.
.
.
SHINING HOPES
GUNDAM BUILD DIVERS belongs to SUNRISE & BANDAI NAMCO
Warning: Kesamaan nama tokoh maupun tempat merupakan unsur ketidaksengajaan
Chap 2
.
.
.
"Semua sudah kamu catat?"
Seorang gadis merapikan lembaran kertas yang berserakan di atas meja. Keringat membasahi sebagian kecil dari dahinya. Dengan tangan lentiknya, ia ambil sebuah map berwarna hitam dari rak di samping satu unit komputer dan meletakkan tumpukan kertas tersebut ke dalamnya. Ia sisir rambut hitam lurus sebahu itu ke belakang menggunakan sepuluh jarinya.
"Sudah, Mut."
Gadis lain menutup bolpoin dengan tinta hitam dan meletakkannya di saku baju. Binar kepuasan terpantul di sepasang netra cokelat madunya kala menatap deretan aksara rapi yang tergurat di atas beberapa carik kertas.
"Kalau begitu, tolong simpan yang rapi di arsip OSIS, ya, Na," pinta dara dengan rambut hitam itu saat ia berdiri di depan pintu ruangan. "Biar kita gampang nyarinya."
"Oce."
Si gadis berambut hitam menutup pintu dan melangkah pergi. Dalam benaknya masih berseliweran gagasan, ide, dan pemikiran mengenai pokok pembahasan rapat OSIS tadi, yaitu menghapuskan perundungan dari sekolah ini. Ada yang setuju, ada juga yang tidak. Masing-masing memiliki argumen yang kuat.
Kubu yang kontra misalnya, mereka mengatakan bahwa hal tersebut sulit untuk diwujudkan karena kebanyakan wali dari para perundung itu merupakan donatur sekolah. Mereka memanfaatkan celah itu untuk bertindak sewenang-wenang. Dewan guru pun tak mampu berbuat banyak jika memang demikian adanya.
Sementara itu, kubu yang pro menganggap bahwa ini merupakan revolusi dan langkah besar untuk mengembangkan sekolah swasta ini menjadi yang terdepan. Itu karena, selain mencerdaskan akal, sekolah juga berfungsi membentuk pribadi yang luhur dan santun. Dengan begitu, para calon siswa baru juga tertarik untuk mendaftar di sini.
Gadis berkulit putih segar itu memijat pangkal hidungnya. Mendadak, kepalanya menjadi pening. Masih belum ia pahami alasan anak-anak itu melakukan perundungan. Orang tuanya juga donatur di sekolah ini, tetapi ia juga tidak lupa daratan. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung;'masing-masing daerah punya aturan sendiri. Kita pun harus menghormati dan melaksanakan aturan tersebut.' Itulah prinsip yang ia pegang.
Ketika melewati taman di belakang sekolah, kedua matanya membelalang. Putra dan kawan-kawan kembali berulah. Di bawah naungan pohon mangga, mereka memukuli seseorang. Lihat wajah mereka, sama sekali tidak ada sedikit pun rasa penyesalan. Para berandal itu justru menikmati ekspresi kesakitan dan luka yang timbul pada korban mereka.
"Berhenti!"
Teriakannya berhasil menarik perhatian anak-anak tersebut. Mereka membuka posisi sehingga penampakan si korban menjadi lebih jelas. Sang dara terdiam membisu saat menyadari siapa gerangan. Pemuda dengan lebam dan darah di muka tersebut adalah orang yang mereka siksa kemarin di kantin, Andi Gumelar Wijaya.
"Tak perlu memberitahuku, Ketua Kelas …!"
Mata dingin dan nada kasar itu masih terekam jelas dalam benaknya. Niat untuk menolong pun sedikit memudar. Kedua tangannya tanpa sadar bergetar. Hatinya menciut karena takut. Butir-butir keringat timbul di dahinya. Akan tetapi, ia beranikan diri untuk membantu.
"Tidak puaskah kalian sudah memukulinya kemarin?" Gadis itu berdiri di depan anak-anak yang jauh lebih tinggi darinya. "Memangnya dia salah apa?"
Putra menyuruh kawan-kawannya mundur. Kedua tangannya dimasukan ke saku celana. Matanya memandang rendah perempuan yang selalu mencoba untuk menghentikan aksi mereka memalak uang juga menindas para siswa di sini. Sebuah seringai terbentuk di kedua bibirnya.
"Kalau kau jadi kekasihku, kau akan tahu alasan kami, Mutia," ujar anak berjaket tengkorak itu santai. Tangannya terulur ke depan, mencoba membelai muka gadis yang ia idamkan.
"Aku tidak mau!" Gayung tak bersambut, Mutia menepis tangan tersebut secara kasar.
Sang berandal menatap tangannya yang sedikit memerah. Seringai di bibirnya makin melebar.
"Jangan salahkan kami, Mutia. Kami bisa bertindak kasar kepada siapa pun, termasuk dirimu."
Telapak tangan kanan Putra terayun dengan cepat. Gadis itu tak sempat menghindar. Ia hanya bisa memejamkan mata. Beberapa detik berlalu, tidak ada suara atau rasa sakit. Kelopak matanya yang dihiasi bulu-bulu lentik terbuka. Dengan tangan yang bergetar, Andi menangkap pergelangan tangan Putra.
"Oh, masih bisa melawan? Luar biasa."
Namun, satu bogem mentah kembali terarah ke pipinya yang sudah membiru. Pemuda itu kembali tersungkur ke tanah. Putra mendehem sejenak dan memuntahkan ludahnya tepat di atas kepala Andi. Jejaka berjaket tengkorak tersebut berlalu dari sana tanpa mengucap sepatah kata.
Mutia beralih pada Andi. Sepasang netranya berkaca-kaca kala tubuh itu ia balik. Luka di bibir yang belum sembuh itu semakin parah. Kedua pipi cokelat sawo muda tersebut menjadi kebiruan. Ada jejak darah yang mengering di bawah hidung. Telah melekat di pakaian putih sang remaja noda-noda kecokelatan dan merah gelap.
"Mut, kamu gak papa?"
Ada orang lain menghampiri mereka berdua. Gadis berkaca mata pastel itu adalah orang yang duduk bersamanya di ruang OSIS, Nada.
"Syukurlah." Mutia mengembuskan napas kelegaan. "Tolong bantu aku, Na."
~o0o~
"Dia gak kenapa-kenapa, 'kan, Bu?"
Nada dan Mutia baru saja memapah Andi dari taman belakang menuju UKS. Pemuda itu kini terbaring di atas kasur dengan sprei biru muda. Ibu Jihan, guru yang bertugas di UKS, telah selesai memberikan pertolongan pertama.
"Untuk saat ini tidak masalah." Guru cantik tersebut melepaskan kacamatanya. "Tapi, kalau dalam seminggu dia begini terus, ibu takut akan ada efek samping lain yang timbul."
Keadaan ruangan menjadi hening.
"Jadi, ini sebabnya kamu gigih memperjuangkan penghapusan perundungan itu, Mut?"
Kepala Mutia bergoyang dari atas ke bawah.
"Ibu sebenarnya senang dan kasihan sama Andi," timpal Bu Jihan. "Senang karena ibu ada kerjaan dan teman mengobrol di sini; kasihan karena anak itu tak punya siapa-siapa untuk berbagi."
"Dia emang gitu, Bu," ujar Nada. "Di kelas aja gak pernah ngobrol sama kami."
"Itu karena hanya dia satu-satunya lelaki di kelas kalian, 'kan?"
Sekolah ini menetapkan aturan penempatan murid yang unik. Mereka memakai nilai akhir seorang siswa sebagai acuan. Yang duduk di kelas 11A, misalnya, hanyalah orang dengan rata-rata nilai 10 hingga 9. Karena sistem ini juga, Andi terpaksa ditempatkan sendirian di antara 30 orang siswi.
"Sulit dipercaya anak seperti ini bisa konsisten berada di peringkat sepuluh besar di kelas, Mut."
"Nada!" Mutia memukul pelan lengan temannya.
"Awalnya, dia sulit terbuka sama ibu." Bu Jihan menyodorkan dua gelas air putih untuk kedua siswi di hadapannya. "Lama-kelamaan, mungkin karena merasa nyaman, dia mulai bercerita sedikit demi sedikit. Kalian tahu, anak itu pernah bilang bahwa perlakuan yang ia terima di rumah tidak jauh berbeda dengan sekolah."
Gelas yang dipegang Mutia nyaris terlepas dari genggaman. Dengan kata lain, Andi juga dipukuli oleh keluarganya sendiri? Keluarga macam apa itu?
"Maksud Ibu?"
"Entahlah." Guru yang mengenakan sendal jepit itu mengendikkan bahu. "Dia cuma bilang begitu, tak pernah menyebutkan detailnya."
"Kalau kamu, Mut?" Nada juga penasaran. Yang paling sering berinteraksi dengan pemuda itu di kelas hanyalah Mutia. "Kalian pernah kerja kelompok bareng di rumahmu, 'kan? Orangnya gimana?"
Gadis berambut hitam tersebut mengingat bahwa sebulan yang lalu ….
~o0o~
"Kita sudah sampai!"
Dua insan berbeda jenis kelamin itu berdiri di hadapan sebuah rumah mewah. Raut wajah si gadis berbinar cerah, sedangkan si pemuda memasang ekspresi datar.
"Tidak berubah sama sekali …."
Mutia menoleh. "Kau bilang sesuatu?"
"Non Tia?" Satpam dengan nama Abdul Gani yang tertera di bajunya datang menyapa. "Tumben pulang bawa cowok, Non. Pacarnya, ya?"
"Bukan, Pak Gani!" sergah si gadis. "Kenalkan teman saya, Andi."
Mata sehitam jelaga milik si satpam mewawas sang pemuda saksama, dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. "Den Andi, pernah ke sini sebelumnya?"
Pertanyaan itu menimbulkan rasa ingin tahu bagi Mutia. Pak Gani ini ingatannya cukup kuat. Beliau bisa mengingat beberapa tamu, kolega-kolega ayahnya atau teman arisan ibunya, yang pernah mengunjungi rumah ini meskipun cuma sekali. Si gadis juga pernah mengundang teman-temannya, perempuan. Andi adalah teman laki-laki pertama yang pernah ke mari. Jadi, mengapa beliau bisa berkata begitu?
"Mungkin Anda salah orang, Pak." Sang jejaka menggelengkan kepalanya.
"Oh, iya, ya." Lelaki berkulit cokelat itu tertawa seraya mengusap belakang kepalanya. "Ya sudah, silakan masuk, Non Tia, Den Andi!"
Awalnya, tidak ada yang mau sekelompok dengan Andi. Selalu begitu, apa pun mata pelajarannya. Hanya Mutialah yang bersedia menawarkan diri untuk menjadi teman grupnya. Mungkin itu juga dipengaruhi fakta bahwa dia sering terlibat perkelahian dengan kelompok Putra yang merupakan idola para gadis di sekolah. Bisa juga karena dia jarang bercengkerama dengan teman-teman sekelasnya yang berbeda golongan, yakni perempuan.
Tugas yang diberikan oleh Pak Hartanto, guru sejarah mereka, adalah membuat mind mapping mengenai peristiwa-peristiwa sekitar kemerdekaan Indonesia. Si gadis akan membuat bagian tentang kejadian Rengasdengklok[1], sedangkan sang pemuda akan menulis seputar persiapan upacara kemerdekaan.
Mutia sempat mengusulkan untuk mengerjakan tugas di kamarnya saja. Namun, ide tersebut ditolak oleh Andi. Oleh karena itu, mereka pun mengerjakan tugas di ruang tengah. Guratan pena mereka di atas secarik kertas menghiasi suasana ruangan yang sepi.
"Kau suka gunpla juga?"
"Eh?"
Gadis dengan kulit putih berseri itu terkejut saat Andi mendekati sebuah rak kaca yang dibingkai dengan rangka kayu. Di rak paling atas bersemayam satu-satunya gunpla yang Mutia miliki, Reginglaze Julia. Ia menyukai kit tersebut karena mewakili semangat seorang perempuan.
Sejak kapan dia berdiri di sana?
"Iya." Sang dara mengangguk. Ia menghampiri teman sekelasnya itu. "Aku sudah menonton serial IBO. Meskipun mengikuti pemimpin yang sedikit salah, menurutku Julieta Juris[2] adalah perempuan yang punya resolusi dan kemantapan hati."
Andi mematut dahi. "Bagaimana dengan Kudelia Aina Bernstein[3]? Bukankah dia juga wanita yang luar biasa?"
Kekehan merdu keluar dari mulut Mutia. "Benar juga, Kudelia jauh lebih mantap. Dia berjuang membebaskan penduduk Mars dari belenggu Gjallarhorn bersama anak-anak seusia dengan dia dari bawah, tanpa ada dukungan lain."
"Untuk seorang Ketua OSIS, kau tahu banyak soal tokoh-tokoh Gundam."
"Bagaimana denganmu?" Mata sebening kristal topaz itu mengerling pada sang lawan bicara. "Kau bilang juga, berarti kau suka gunpla?"
Tak ada jawaban atas pertanyaan Mutia itu. Sang pemuda kembali menggeluti kerjaannya.
Si gadis melipat kedua tangannya di depan dada. Pipi putih mulus itu menggembung, seperti dua buah balon dipompa dengan udara. Sepasang alis hitam nan rapi miliknya tertekuk ke bawah. Netranya yang penuh akan kekesalan tersebut diarahkan kepada tamunya.
"Dasar menyebalkan …," cibirnya lirih.
~o0o~
"Mutia?"
Sang dara tersadar dari lamunannya. Bu Jihan dan Nada menatapnya penasaran.
"Dia juga tidak bercerita banyak." Embusan napas keluar dari dara cerdas itu. "Tapi, Andi tanggung jawab kok sama tugasnya. Aku pikir pekerjaan kelompok kami bakal berat sebelah. Nyatanya nggak lho."
"Tapi, kenapa sih Putra dan kawan-kawan suka sekali memukuli Andi?"
Guru yang bertugas di UKS memperhatikan jam yang tergantung di dinding. "Kalian harus masuk kelas. Biar ibu yang menjaga Andi. Jangan khawatir."
Dengan berat hati, kedua gadis itu meninggalkan UKS. Mutia sempat melirik sejenak kepada teman sekelasnya yang tengah terpejam di atas kasur.
Semoga cepat sembuh, Andi ….
~o0o~
"Halo, selamat datang, Mutia!"
Suara menggelegar tersebut menyambut Mutia di Toko Hobi Unicorn Tiga Bersaudara. Pemiliknya adalah seorang pria tambun dengan bulu lebat yang menghiasi kedua tangan gempalnya, Santoso. Ia juga mendirikan Kafe Haro di samping kanan toko. Pada akhir pekan, orang banyak mengunjungi kafe tersebut. Selain karena tempatnya asyik untuk berfoto, bermain, atau berkumpul bersama orang tercinta, makanan yang disediakan pun lezat dan nikmat.
"Paman Santoso, aku mau membeli gunpla."
Sepasang alis yang hampir bersentuhan milik lelaki itu tertekuk ke bawah. "Bukankah kau sudah punya?"
"Julia Blazer belum cukup kuat, Paman." Mutia memandangi ratusan kotak gunpla dari atas hingga bawah. "Aku perlu unit yang tangguh dan juga cepat untuk serangan jarak dekat."
"Bagaimana dengan salah satu dari Unicorn bersaudara[4]?"
Si gadis menggeleng pelan. "Kalau bisa dari seri IBO, Paman."
"Ada sesuatu yang terjadi?"
Sang dara tersenyum miris. Ia jadi teringat perkataan mentornya, Mr. Magee, kemarin.
~o0o~
"Duh, tolong jangan menertawakanku, Mr. Magee."
Mutia, dengan avatar kucingnya, memanyunkan bibir. Dia merasa kesal karena pembimbingnya ini tidak memberitahunya hal dasar yang penting seperti ini.
"Ah, itu juga kesalahanku, Tiana-chan." Lelaki bertubuh kekar itu mematut dagunya. "Tapi, itu memang benar. Masing-masing gunpla di sini mewakili teknologi masing-masing dari serial mereka. Contohnya, Gundam Hajiroboshi milik rekanmu, Rigel-chan. Unit itu dilengkapi dengan nanolaminate armor. Oleh karena itu, serangan laser seperti apa pun tidak akan mempan, tapi serangan fisik masih bisa menghancurkannya."
Jadi, namanya Rigel, ya ….
"Selain itu, ada satu hal yang lebih penting, yaitu kepercayaanmu terhadap rekan bertarungmu. Gunplamu sendiri."
Gadis itu tersadar. Dia memang sempat ragu saat mengerahkan sword bit Julia Blazer. Alhasil, pedang melayang tersebut tak mampu menggores pelindung para Rodi.
"Dalam pertarungan …," ujar Magee, "yang menentukan keberhasilan adalah persiapan sebelum bertempur dan saat menghadapi musuh. Ini adalah wawasan dasar bagi seorang diver."
~o0o~
"Tidak, Paman, aku hanya ingin ganti suasana."
"Ah, mungkin gunpla itu cocok untukmu."
Santoso pergi ke ruangan tepat di belakang meja kasir. Tempat itu merupakan gudang penyimpanan gunpla. Beberapa saat kemudian, lelaki tambun tersebut keluar. Sebuah kotak gunpla tergenggam di tangannya yang gemuk.
"Barang ini baru saja datang dua hari yang lalu, Mutia." Kotak itu disodorkan kepada sang gadis. "Aku bingung mau menempatkan di mana. Kau tahu, orang lebih suka membeli kit Barbatos dari yang lain. Hahaha …!"
Seperti biasa, di depan kotak pembungkus tersebut dicantumkan gambar unit yang bersangkutan. Dengan senjata semacam sabit besar yang terayun ke tanah dan membuat bongkahan bebatuan terbang ke udara, gundam yang mirip algojo abad pertengahan itu sungguh menawan sekaligus menakutkan.
"Gundam Gremory[5] …."
Saat sang dara masih terbius dengan gambar karismatik Gremory, Santoso diam-diam menyelinap ke rak lain. Lelaki itu mengambil sebuah kotak dan menyerahkannya kepada pelanggannya.
"Gunpla ini juga menarik. Warnanya juga sesuai dengan Gremory."
"Exia … Dark Matter[6] …."
Tanpa ragu, gadis berkulit putih itu membawa dua kotak yang ada dalam dekapannya dan mulai merakit di tempat yang disediakan. Toko Unicorn Tiga Bersaudara ini memiliki alat-alat untuk merakit, seperti pen cutter, tang pemotong mini nan tajam, dan pena khusus untuk menambahkan detail pada gunpla. Santoso tidak membebankan biaya tambahan untuk penggunaan alat-alat tersebut. Akan tetapi, jika pelanggan ingin menggunakan jasa perakitan, maka dia wajib membayar sebesar lima persen dari harga gunpla yang ingin dirakit.
Sekitar sepuluh menit kemudian, sebuah gunpla perpaduan antara Gremory dan Exia Dark Matter pun berhasil berdiri tegak. Mutia menggunakan pena penanda berwarna hitam untuk mewarnai bagian-bagian bercelah. Ia melapisi seluruh tubuh gunpla dengan coating spray. Terakhir, sepotong kain hitam dililitkan di leher kit.
"Malaikat … pencabut nyawa, ya …."
"Aku ingin merestorasi jangkar ini ke bentuk aslinya." Sang dara menempelkan dua bilah pedang hitam dengan gagang berwarna fusia di pinggang kanan dan juga kiri gunplanya. "Tapi, untuk saat ini, aku cukup puas dengan penampilan Gremory Verdugo."
Mohon bantuannya, ya, Gremory …, batin Mutia seraya tersenyum.
.
.
.
Tsudzuku ….
.
.
.
[1] Rengasdengklok adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Pada tanggal 16 Agustus 1945 dini hari, beberapa orang dari golongan pemuda, seperti Soekarni, Wikana, Chaerul Saleh, menculik Ir. Soekarno dan Hatta agar bisa merumuskan rancangan dasar Negara Indonesia tanpa dipengaruhi oleh pemerintah Jepang.
[2] Salah satu perwira tinggi dari pasukan Arianrhod yang dipimpin oleh Rustal Elion. Pada akhir serial Gundam IBO, dia akan ditunjuk sebagai pemimpin pasukan tersebut. Perempuan ini awalnya hanya fokus untuk menjadi kuat, tanpa mengerti apa itu esensi sebuah kekuatan. Namun, setelah menyaksikan kematian McGillis, Amida, dan para anggota Tekkadan yang mengorbankan diri, ia jadi paham apa itu hakikat kekuatan.
[3] Pemimpin dari Mars Union. Dia adalah anak dari pemimpin daerah otonomi Chrsye di Mars, Norman Bernstein. Ia berjuang untuk membebaskan Mars dari belenggu pemerintahan Bumi (Gjallarhorn) dengan bekerja sama bersama para anggota Tekkadan. Kehilangan banyak orang yang disayanginya membuat gadis ini memiliki keteguhan hati dan resolusi yang tak tergoyahkan.
[4] Yang dimaksud adalah RX-0 01 Gundam Unicorn, RX-0 02 Gundam Banshee, dan RX-0 03 Gundam Phenex. Ketiga gundam ini menggunakan psyco-frame armor (baju pelindung yang membuat gundam bisa dikendalikan cukup dengan menggunakan pikiran) di seluruh tubuhnya.
[5] ASW-G-56 Gundam Gremory, salah satu gundam frame yang diciptakan untuk menghadapi para mobile armor dalam Perang Bencana (Calamity War) 300 tahun lalu. Unit dengan baju pelindung yang kuat (Nanolaminate coat) ini merupakan hak milik keluarga Nadira (sekarang dipiloti oleh Deira Nadira). Gremory dilengkapi dengan Battle Anchor (jangkar), tetapi setengahnya rusak sewaktu Perang Bencana dan tak pernah diperbaiki, membuatnya terlihat seperti sabit.
[6] PPGN-001 Gundam Exia Dark Matter. Unit ini merupakan versi gelap dari Amazing Exia, dipiloti oleh Meijin Kawaguchi III (Tatsuya Yuuki).
Fusia: magenta.
Verdugo (Spanyol): algojo.
.
Halo, apa kabar? Semoga kalian selalu sehat lahir dan batin, ya.
Saya persembahkan chap 2 ini kepada pembaca sekalian. Jika ada kekurangan, silakan tuliskan keluhan kalian di kolom ulasan (review). Saya senang jika kita bisa berdiskusi dan tukar pendapat secara sehat.
Ada yang sudah menonton Gundam Build Divers Re: Rise battlelogue? Saya sempat berasumsi bahwa tiap gunpla memiliki karakteristik tersendiri. Ternyata, itu memang benar. Hahaha ….
Dalam cerita ini, saya ingin menonjolkan penggunaan unit-unit dari serial IBO (Iron Blooded Orphans). Saya suka sekali teknologi yang terkesan "primitif". Fakta-fakta, seperti kekuasaan absolut Gjallarhorn, human debris, diskriminasi gender, dsb. yang ada di serial IBO masih layak untuk dikupas. Ngomong-ngomong, ada yang sudah membaca IBO: Gekko? Tolong kasih tahu saya via DM, ya.
Sampai jumpa.
.
~sincerely
Hasan Kabar
