Summary: Meski kelihatannya selalu santai, Ango diam-diam juga menyimpan rasa takut dan rasa bersalah. Yang malam itu, Akutagawa hadir untuk mendengarkannya.

(latar waktu: episode 6)

Bungou to Alchemist belong to DMM Games.

Malam itu Dazai susah tidur. Mungkin karena udara yang memang panas, mungkin pula karena dia terlalu memikirkan soal perlombaannya dengan Shiga.

Setelah lewat tengah malam dan matanya masih tidak mau diajak kompromi, Dazai akhirnya keluar kamar. Berjalan di koridor tanpa jubah merahnya, Dazai berencana untuk pergi ke ladang. Mungkin dia bisa agak tenang setelah memastikan padi yang mereka tanam benar-benar tumbuh.

"... Aku benar-benar takut ..."

Dazai memelankan langkah ketika mendengar suara yang familiar tetapi tidak seperti biasanya itu. Suara Ango, seperti sedang mengobrol dengan seseorang. Dazai sempat ragu karena sebelumnya Ango tidak pernah bicara dengan nada serendah itu, dengan suara yang bergetar begitu. Dan lagi, takut? Apa yang rekannya itu takutkan? Dia benar-benar tidak memiliki gambaran.

"Tapi kamu tidak melakukannya."

Yang itu adalah suara Akutagawa. Tenang dan berwibawa seperti biasa, setidaknya menurut Dazai.

"Aku benar-benar akan melakukannya, kalau Sensei tidak ada di sana dan menghalang." Ango menyangkal.

Dazai yang menguping jadi tambah penasaran. Jadi dia pelan-pelan duduk, menyandar ke dinding, dan nyaris memekik ketika baru sadar bahwa beberapa meter di sampingnya, ada seseorang juga yang sedang melakukan hal serupa.

"Psst ...!"

Oda meletakkan telunjuk di bibir, mengisyaratkan pada Dazai agar tidak bersuara. Beda kasus dengan Dazai yang kesulitan tidur, dia bisa sampai di sini karena terbangun dan kehausan. Ketika balik dari mengambil air minum, dia tidak sengaja melihat pintu depan tidak tertutup rapat, yang rupanya Ango sedang duduk-duduk di teras bareng Akutagawa.

Dazai mengangguk buru-buru, membekap mulutnya sendiri dengan telapak tangan. Setelah ini dia berencana akan memarahi Oda, karena mata merahnya yang nampak dari sela-sela rambut yang diurai berantakan itu, lumayan bikin ngeri. Apalagi pakaian yang sedang dipakainya itu putih polos. Siapa yang tidak bakal kaget, coba?

"Tapi kan, Sakaguchi-kun sedang tidak ingat apa-apa waktu itu. Kamu terjebak sebagai tokoh utama yang memang perannya demikian."

'Ango! Kau tidak mengenaliku? Ango!'

Padahal Dazai memanggilnya dengan sepanik itu. Namun, dia tetap saja mengangkat pedang tinggi-tinggi, mengayunkannya tanpa perasaan. Kalau Akutagawa tidak datang tepat waktu, maka Dazai, dengan tangannya sendiri ...

"Mereka tidak akan menyalahkanmu karena hal seperti itu." Akutagawa menghela napas. "Oda-kun bahkan kabur dari ruang perawatan karena benar-benar mengkhawatirkanmu." Dia agak terkejut sebenarnya dengan kemunculan Oda yang mendadak sekaligus pada waktu yang tepat.

"Ah ... Bahkan aku sampai bikin Odasaku terluka separah itu ..." Ango memukulkan telapak tangannya ke wajah, malah jadi lebih frustrasi, padahal bukan begitu niatnya Akutagawa.

"Nakahara-kun juga benar-benar kesal karena tidak bisa melakukan apa-apa." Akutagawa akhirnya lanjut saja bicara.

"Chuuya?" ulang Ango. Dia ingat sih, Chuuya yang menyambutnya begitu transmigrated, seperti sudah lama menunggu di ruangan itu.

"Hm, lalu Dazai-kun juga unik." Akutagawa tercenung untuk sesaat. "Dia baru saja marah-marah soal 'kenapa bungou harus bertarung?', atau 'kenapa kita harus menuruti Neko!'. Tapi, begitu tahu bukumu terkena shinshokusha, dia langsung minta dibiarkan masuk."

Padahal, kucing itu sudah mengira bakal sulit meminta Dazai untuk bekerja. Rupanya, lebih mudah dari yang dikhawatirkan.

"Setelah balik ke sini, kalian langsung merayakannya, kan?" Akutagawa tersenyum, menatap Ango yang masih saja menutupi mukanya dengan tangan.

"Aku cuma membuatkan mereka nabe," sahut Ango datar.

"Tapi itu kayaknya meriah sekali. Hebohnya sampai ke lantai atas, soalnya."

"Itu salahnya Odasaku yang berisik, cuma gegara aku masak tanpa nyalain lampu." Ango menjelaskan, seolah yang aneh di sini adalah Oda, bukan dianya. "Dazai juga random bener, padahal dia lagi keenakan makannya, tapi bersuara kayak lagi keracunan."

"Begitu, ya ..."

"Aah ... waktu itu, aku merasa kangen sekali, pada kebersamaan yang singkat dulu."

Odasaku pergi, lalu dua tahun setelahnya Dazai menyusul. Ango berusaha untuk melanjutkan hidup seperti biasa, tetapi nyatanya tetap saja ada kekosongan yang tidak bisa terisi, selama apapun waktu berlalu.

"Sekarang, kalian bisa bareng lagi, kan. Syukurlah."

"Hmm ... tapi tetap saja aku merasa bersalah soal yang kemarin. Mereka berdua pasti tidak, tapi akunya yang tidak bisa tidak enak."

Ango tidak menunjukkannya, makanya Dazai dan Oda tidak menyangka kalau pemuda yang selalu kelihatan enteng itu, rupanya juga bisa kepikiran masalah begituan.

"Kalau begitu, bagaimana kalau situasinya berbeda?" Akutagawa bertanya. "Kalau misalnya mereka yang kena shinshokusha dan menyerangmu, apa Sakaguchi-kun akan terganggu?"

"Kalau itu terjadi, aku pasti akan melakukan apapun untuk menyelamatkan mereka!"

"Nah, aku yakin mereka juga berpikir begitu tentangmu."

"Ugh, tapi jangan sampai mereka kena, deh. Itu sama sekali bukan pengalaman bagus."

Akutagawa mengangguk. "Aku sudah sensho ke beberapa buku, tapi shinshokusha di bukunya Dazai-kun memang ukurannya tidak kira-kira."

"Tidak mengejutkan, kalau dipikir-pikir."

Emosi negatif dari seseorang yang berulang kali melakukan percobaan bunuh diri, yang cara mengekspresikan putus asanya sungguh niat sekali, yang karya-karyanya memang mayoritas bertema kehancuran, sepertinya memang tidak mungkin bisa dilenyapkan dengan gampang.

"Haha, begitu ya. Aku tidak tahu banyak tentang Dazai-kun." Tentang dirinya sendiri saja, dia belum benar-benar mendapatkan kembali ingatan sebagai Akutagawa Ryuunosuke.

"Itu juga wajar, kok. Tapi, dia itu benar-benar fans fanatik Sensei." Ango menyimpulkan dengan kalimat yang sudah diketahui secara umum.

Akutagawa juga sudah lihat sendiri bagaimana sikap Dazai padanya. Dan diam-diam bingung bagaimana harus menanggapi perhatian dan rasa hormat yang dia sendiri tidak menganggap dirinya layak untuk terima.

"Sakaguchi-kun tidak kembali ke dalam?" tanya Akutagawa, mulai mengantuk. Jam tidurnya memang biasa larut, makanya bangun pun kesiangan. Dia cukup takjub ketika Dazai mendukung penuh kilahnya soal, 'kapanpun aku bangun, saat itulah pagi bagiku'.

"Sensei duluan saja, terima kasih sudah menemaniku ngobrol. Tiba-tiba aku pengen bikin kare." Ango bangkit dari duduknya. "Mungkin kubuat agak pedas saja? Odasaku pasti bakalan suka."

Akutagawa tersenyum ketika menonton punggung Ango yang semakin jauh. Pria berkacamata itu benar-benar akan pergi panen dini hari begini, sungguh sesukanya sendiri.

Ketika masuk ke dalam, Akutagawa berkedip bingung pada dua orang yang dilihatnya duduk menyandar di sisi kiri dan kanan pintu. Serius, bagaimana bisa mereka berdua tidur di tempat seperti ini? Sebentar. Ini benar-benar tidur atau bagaimana?


"Jangan pergi sebelum aku, lho ya. Jadinya sepi, kan."

Sambil mengatakan itu, sosok Ango lenyap jadi kelopak-kelopak sakura, terbang dan menyebar seiring kembalinya jiwa si penulis ke toshokan.

"Ini akhir yang bagus," komentar Akutagawa.

"Ango keren banget, jadi bunga!" Dazai tergelak.

"Tapi di sini pemandangannya emang bagus, enggak mau sekalian piknik?" cetus Oda.

Akutagawa geleng-geleng kepala. "Kita harus segera balik." Dia mengingatkan, sebagai yang paling berkompeten untuk sekarang ini.

'Tapi, memang indah, sih.'


End.
Btw, sebenarnya ide ini sudah ada sejak episode 10, dari Ango yang bilang, "Kalau memikirkan apa yang akan terjadi kalau Akutagawa dan Dazai tidak datang waktu itu, aku tidak bisa berhenti menggigil. Makanya, tidak kupikirkan."